کمالوندی

کمالوندی

 

Militer rezim Zionis Israel dilaporkan menangkap tiga perempuan Palestina di barat laut Tepi Barat Sungai Jordan.

Seperti dilaporkan laman Maan News, militer Zionis menangkap ketiga perempuan Palestina tersebut Minggu (21/8/2022) dini hari di pos pemeriksaan Eliyahu di dekat Qalqilya.

Media-media Zionis mengklaim bahwa ketiga perempuan Palestina ini berencana menyerang aparat keamanan Israel dan penyelidikan terkait tuduhan ini tengah dilakukan.

Selama beberapa bulan terakhir, serangan militer Zionis terhadap warga Palestina dan operasi gugur syahid terhadap Zionis meningkat drastis.

Sementara itu, sejumlah tentara rezim Zionis Jumat dini hari dilaporkan menyerang kota Tubas untuk menangkap sejumlah warga Palestina yang berujung pada bentrokan antara warga Palestina dengan militer rezim ilegal tersebut. Selama bentrokan ini, lima warga Palestina ditangkap.

Militer rezim Zionis Minggu pekan lalu dengan puluhan kendaraan militer menyerang sekitar daerah kota lama di Nablus, Tepi Barat dan terlibat bentrokan dengan pejuang Palestina.

Minggu, 21 Agustus 2022 20:17

Militer Zionis Serbu Ramallah Timur

 

Militer rezim Zionis Israel dilaporkan menyerang distrik Silwad, timur Ramallah Tepi Barat Sungai Jordan.

Militer Zionis dengan berbagai alasan setiap hari membunuh, melukai dan menangkap warga tertindas Palestina. Sementara rakyat Palestina membalas brutalitas Zionis dengan melancarkan operasi anti-Zionis.

Seperti dilaporkan Palestina al-Youm, Minggu (21/8/2022) pagi, menyusul insiden penembakan pejuang muqawama ke sebuah bus yang membawa Zionis di dekat distrik Silwad, sejumlah militer rezim ilegal ini menyerang distrik tersebut, dan kemudian memblokir jalan ke arah Silwad serta mencegah keluar-masuk kendaraan.

Bus yang mengangkut pemukim Zionis kemarin malam menjadi target serangan pejuang muqawama Palestina di dekat distrik Silwad yang terletak di timur Ramallah.

Berbagai sumber Zionis mengumumkan, delapan peluru mengenai bus tersebut, tapi tidak ada korban jiwa.

Minggu pekan lalu, seorang pemuda Palestina menembaki Zionis di sebuah halte bus di Quds pendudukan yang menurut sumber rumah sakit Israel, sedikitnya delapan Zionis terluka.

Berbagai lembaga HAM Palestina baru-baru ini di laporannya menyatakan, di bulan lalu terjadi 649 operasi muqawama di bumi Palestina pendudukan, di mana 26 warga Zionis terluka.

 

17 tahun telah berlalu sejak rezim Zionis Israel meninggalkan Jalur Gaza dan mengosongkan distrik-distrik Zionis dari wilayah Palestina ini.

Pada tanggal 15 Agustus 2005, Israel mengosongkan 21 distrik Zionis di Gaza. Distrik ini memiliki total penduduk 8000 jiwa. Pemukiman Zionis tersebut juga menempati 36 kilometer persegi Gaza.

Gaza memiliki luas 360 kilometer persegi dan pemukiman ini menempati sepersepuluh dari luas wilayah tersebut. Pencapaian besar sangat penting dalam beberapa hal.

Pertama, setelah 38 tahun, rakyat Palestina berhasil mengusir pemukim Zionis dari Gaza, yang diduduki Israel pada tahun 1967. Prestasi ini juga menunjukkan bahwa perlawanan bukanlah strategi dengan hasil langsung, tetapi strategi dengan hasil jangka panjang, dan pencapaiannya pun akan jangka panjang.

Kedua, pencapaian ini sangat penting dari segi waktu. Pada tahun 2000, pasukan Zionis terpaksa mundur dari Lebanon selatan, dan 5 tahun kemudian kekalahan lain terjadi untuk rezim ini, yaitu di Gaza.

Tiga distrik dari 21 distrik Zionis yang dikosongkan dibangun pada tahun 2001. Artinya, rezim Zionis terpaksa menyerahkan tiga permukiman itu kepada rakyat Palestina empat tahun setelah pendiriannnya.

Ketiga, keluarnya Zionis dari Gaza merupakan salah satu pencapaian penting Intifadah Kedua. Intifadah Kedua dimulai pada tahun 2000 dan berakhir pada tahun 2005.

Intifada Kedua adalah salah satu manifestasi praktis dari perlawanan, dan penarikan militer Zionis dari Gaza juga merupakan salah satu pencapaian perlawanan. Perang terowongan dan tekanan terhadap Israel menyebabkan Zionis meninggalkan Gaza.

Keempat, penarikan militer Zionis dari Gaza menunjukkan sifat kriminal rezim ini. Pasalnya, ketika pemukim Zionis mulai meninggalkan Gaza, mereka menghancurkan semua rumah, bangunan, prasasti dan barak, yang setara dengan lebih dari 3000 rumah dan 26 prasasti.

Dan kelima adalah bahwa setahun setelah pencapaian besar ini, rezim Zionis memulai blokade menyeluruh terhadap Gaza, yang berlanjut hingga sekarang. Sehingga Gaza berubah menjadi penjara terbuka terbesar di dunia.

Blokade komprehensif Gaza menunjukkan kemarahan rezim Zionis atas keberhasilan besar perlawanan pada tahun 2005. 

 

Presiden Republik Islam Iran, Sayid Ebrahim Raisi mengatakan, kami tidak akan mundur di perundingan mengenai hak bangsa Iran, dan pemerintah akan terus berusaha keras untuk memajukan negara dan menghapus kendala.

Seperti dilaporkan IRNA, Sayid Ebrahim Raisi Minggu (21/8/2022) di Konferensi ke-17 Hari Masjid Sedunia menekankan bahwa meski ada sanksi dan ancaman, pemerintah terus melanjutkan kinerjanya dengan serius.

"Kami tidak akan mengabaikan hak bangsa dalam setiap pertemuan dan negosiasi, pemerintah akan melanjutkan upayanya untuk memperbaiki negara dan menyelesaikan masalah," papar Presiden Raisi.

Presiden Iran lebih lanjut menyinggung aktivitas dan langkah pemerintah selama satu tahun lalu di bidang penanganan pandemi Corona, pengembangan kebijakan bertetangga, membangun keseimbangan di kebijakan luar negeri, peningkatan perdagangan luar negeri, meningkatkan cadangan strategis barang kebutuhan pokok sekaligus mengupayakan swasembada dan diversifikasi sumber masuknya barang kebutuhan pokok.

"Negara kita memiliki kekuatan yang bersandar pada seluruh laporan masyarakat, daupaya pemerintahan rakyat bertumpu pada hal ini, di mana memanfaatkan dengan baik kekuatan seperti ini untuk menjamin kepentingan bangsa," ungkap Raisi.

Presiden Raisi juga merujuk kinerja masjid dalam menyebarkan pengetahuan dan meningkatkan wawasan. "Masjid di samping tempat ibadah, juga senantiasa menjadi benteng dan memiliki posisi untuk perjuangan budaya serta mengenal musuh dan melawannya," ungkap presiden Iran.

 

Prakarsa Republik Islam Iran untuk menyelesaikan krisis di Palestina dalam bentuk referendum nasional pada dasarnya diboikot oleh media-media Barat dan Zionis serta media rezim Arab di kawasan.

Hal ini karena menilai prakarsa ini sangat berbahaya bagi opini publik, oleh karena itu, media-media tersebut menilai boikot sebagai langkah terbaik dan sebuah prioritas. Meski demikian, prakarsa yang selaras dengan strategi muqawama ini disusun berdasarkan aturan hukum internasional dan dicatat di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai sebuah dokumen resmi.


Meski ada upaya dari poros Ibrani-Barat- Arab untuk memboikot prakarsa ini, banyak pengamat isu Palestina optimis akan prakarsa ini di masa depan, karena dari satu sisi transformasi Palestina dan berlanjutnya kejahatan rezim Zionis serta dukungan Amerika Serikat menunjukkan bahwa selama strategi perlawanan sampai rezim Zionis dan sekutunya dipaksa untuk menerima rencana demokrasi ini adalah satu-satunya solusi. Di sisi lain, dengan meluasnya komunikasi dan keakraban opini publik dunia dengan rencana referendum nasional di Palestina, dukungan global terhadap rencana ini semakin meningkat.

Hossein Kanani Moghaddam, pengamat isu Palestina di Iran meyakini, prakarsa ini menciptakan peluang politik-hukum bagi arus muqawama. Alasannya, pertama prakarsa ini menjinakkan pendekatan arus pro perdamaian dan kedua membuat muqawama sebagai landasan utama prakarsa ini dan perlawanan bersenjata melawan rezim Zionis Israel diakui secara resmi. Oleh karena itu, melalui prakarsaini, muqawama juga memiliki solusi politik dan juga miilter, serta tidak memiliki batasan dalam berjuang. Dengan demikian rencana ekspansif seperti Kesepakatan Abad dan isu aneksasi Tepi Barat tertolak serta integritas bumi Palestina mulai dari wilayah laut dan darat menjadi acuan.

Terkait urgensitas implementasi prakarsa ini mengingat rencana ekspansif kesepakatan abad dan aneksasi Tepi Barat, Kanani Moghaddam meyakni bahwa rencana kesepakatan abad sebuah prakarsa yang benar-benar gagal, sebuah kesepakatan yang digagas oleh dua pihak, AS dan Israel, serta pihak utama absen, yakni Palestina. Namun prakarsa Iran, menyatakan pemain utama dan terpenting adalah pemilih asli bumi Palestina, yakni rakyat negara ini.

Ahmad Soroush Nejad, pengamat isu Palestina lainnya di Iran meyakini, prakarsa referendum nasional di Palestina akan melegitimasi senjata muqawama. Senjata perlawanan adalah kebutuhan lain dari rencana ini. Dalam hal muqawama, terutama perlawanan bersenjata dan perjuangan yang sedang berlangsung melawan rezim Zionis, bagian dari strategi ini adalah bekerja di media dan propaganda. Karena jika perlawanan tidak dapat membenarkan tindakan dan senjatanya di mata opini publik di seluruh dunia dan meningkatkan kebutuhan akan pertahanan yang sah di arena internasional, itu akan kekurangan legitimasi dan akan menemui kegagalan. Jika perlawanan dapat menawarkan solusi politik dan hukum untuk mengakhiri pendudukan di arena internasional, tentu saja akan disambut oleh opini publik. Tentu saja, di arena internasional, karena berbagai alasan, serta dukungan Barat untuk Israel, tidak mungkin untuk melaksanakan rencana ini tanpa kemenangan perlawanan. Oleh karena itu, satu-satunya solusi adalah perlawanan dan pertahanan bersenjata untuk merebut kembali wilayah pendudukan dan memaksa rezim Zionis untuk mengadakan referendum nasional.

Nasser Abu Sharif, wakil Gerakan Jihad Islam Palestina di Iran terkait prakarsa referendum nasional di Palestina dan hubungannya dengan strategi muqawama meyakini, "Prakarsa ini tidak bertentangan dengan strategi muqawama bersenjata, perlawanan bersenjata hal yang langgeng dan selama penjajah dan pendudukan tetap membayangi kehidupan warga Palestina, dan selama ada rezim zionis yang dipaksakan dan selama Gaza dan Quds dijajah, serta tembok pemisah masih berdiri di Gaza, maka muqawama akan terus berlanjut. Seluruhnya ini berarti bahwa rezim ilegal tidak ingin menerapkan keadilan, karena nafas pemeritahan ini adalah destruktif dan menghancurkan independensi serta kebebasan bangsa Palestina. Meski sejumlah rakyat Palestina dan sejumlah faksi sepakat atas pelaksanaan referendum, tapi tidak optimis dengan pembentukan sebuah pemeritnahan yang adil dengan mempertahankan hak bangsa Palestina. Karena Israel dibentuk untuk merampas Palestina. Oleh karena itu, penjajah tidak akan memberlakukan undang-undang yang menguntungkan rakyat Palestina, sehingga perlawanan harus terus dilakukan hingga tujuan pembebasan Palestina tercapai.

Omar Rahman, anggota Brookings Institution Doha Center, mengutip kegagalan rencana kompromi, kelanjutan dan konsolidasi pemukiman melalui apa yang disebut alat legislatif oleh rezim Zionis sebagai bukti bahwa rezim Tel Aviv tidak bersedia menghormati hak-hak dasar bangsa Palestina. Dia percaya bahwa dalam menghadapi apartheid Zionis terhadap orang-orang Palestina, membebaskan orang-orang Palestina dengan memberikan mereka hak-hak politik dan sosial dalam sebuah negara demokratis adalah alternatif terbaik dari upaya yang gagal selama beberapa dekade terakhir.

Tanpa menyebutkan rencana referendum nasional Palestina, Omar Rehman mengakui bahwa pemberian hak-hak politik dan sosial kepada orang-orang Palestina membebaskan mereka dari realitas penindasan yang tak terkendali saat ini, mencegah mereka dari tergusur dari tanah mereka, dan merampas hak mereka untuk menentukan nasib sendiri serta menjawab harapan dan keginginan mereka secara praktis.

Khalid Qadomi, perwakilan dari gerakan Hamas di Iran, sementara sepenuhnya menyetujui rencana referendum nasional di Palestina, menekankan pada kelanjutan dari perlawanan bersenjata dan pertahanan sipil terhadap Quds, dan berkata: Iran adalah pendukung paling penting dari perlawanan dan semua orang mengetahuinya. Prakarsa Iran juga didukung oleh Hamas dalam hal moralitas dan hak asasi manusia. Tetapi kita harus tahu bahwa demokrasi dan hak asasi manusia hanya ditekankan dalam kata-kata oleh para pemimpin Barat. Untuk alasan ini, rakyat Palestina bersikeras pada pilihan perlawanan sampai kebebasan penuh. Karena perlawanan terhadap pendudukan rezim Zionis adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dicabut dari rakyat Palestina dan kelompok bersenjata Palestina; Tentu saja, perlawanan rakyat Palestina dan kelompok bersenjata Palestina juga mempengaruhi dimensi politik, diplomatik, dan media. Alasan mendukung prakarsa Iran adalah sejarah Republik Islam dalam mendukung hak membela diri rakyat Palestina dan kelompok bersenjata Palestina.


Sayed Hossein Mousavian, seorang peneliti di Universitas Princeton, tentang situasi di Palestina, pendekatan Republik Islam Iran dan rencana referendum meyakini, Iran menekankan poin ini bahwa bukan Palestina, bukan Arab dan bukan Muslimin yang bertanggung jawab atas pembantaian yang diklaim terhadap warga Yahudi oleh rezim Nazi di Jerman. Iran meyakini bahwa korban atau ahli waris kejahatan tersebut harus menerima ganti rugi dari pejabat yang bertanggung jawab atas kejahatan ini di Eropa. Menurut Iran, ini tidak adil bahwa jutaan manusia dari satu bangsa lain, di benua lain diusir dari rumah mereka dan harta serta kehidupan mereka dirampas untuk ganti rugi kejahatan Nazi. Menciptakan jutaan korban baru untuk mengkompensasi kejahatan di masa lalu bertentangan dengan akal, moral, aturan internasional dan prinsip kemanusiaan. Hasil dari pandangan Iran ini adalah bangsa Palestina harus mendapat ijin kembali ke tanah air mereka, dan di bentuk sebuah pemerintahan dan demokratis dengan keragaman etnis dan agama.

Mosadegh Mosadeghpour, pengamat isu-isu dunia Arab di Iran meyakini,"Peluang penting dari pengguliran prakarsa referendum nasional adalah menentukan sebuah tujuan serius dan strategis bagi arus muqawama dan jihad. Muqawama dengan motivasi lebih kuat harus terus dilanjutkan hingga musuh kalah dan memaksa mereka untuk menyelenggarakan referendum dan menerima hasilnya. Kekuatan militer muqawama harus ditingkatkan sehingga peluang untuk melaksanakan prakarsa ini semakin besar..."

"...Selain itu, muqawama dengan menggulirkan prakarsa politik ini, akan menciptakan legalitas politik dan internasionalnya, serta tudingan bahwa mereka adalah kelompok teroris tidak akan berarti. Prakarsa referendum nasional di Palestina jika digulirkan di tingkat politik dan juga akademik serta komunitas cendikiwan seperti lembaga think tank, maka kemampuan lobi dan tawar menawar arus muqawama akan meningkat. Kesempatan referendum bagi gerakan perlawanan adalah untuk dapat menggunakan semua kelompok Palestina dan non-Palestina yang berbeda yang percaya pada demokrasi dan hak untuk menentukan nasib sendiri untuk membantu rakyat Palestina."

 

Inisiatif referendum nasional di Palestina ditekankan dengan disertai jihad dan muqawama. Rencana ini adalah sisi lain dari muqawama. Dengan kata lain, strategi perlawanan terus berlanjut di wilayah Palestina, dan Republik Islam Iran, untuk menyatakan kepada negara lain bahwa ia juga mendukung solusi damai, telah mengajukan rencana referendum untuk menyempurnakan alasan terkait isu Palestina bagi seluruh negara yang mengklaim sebagai pembela HAM.

Oleh karena itu, rezim Zionis Israel yang dikenal sebagai penjajah oleh seluruh resolusi Dewan Keamanan PBB, harus harus membuka diri pada referendum dengan semua penduduk utama Palestina di dalam dan di luar Palestina, atau menunggu bertahun-tahun untuk diusir dalam ketakutan dan ketidakamanan dari Paletina pendudukan. Prinsip-prinsip utama dari rencana tersebut telah dijelaskan oleh Ayatullah Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, dan faktanya, indeks referendum sejalan dengan wacana muqawama menurut beliau.

Misalnya di inisiatif ini telah dicantumkan syarat untuk penyelenggaraan referendum, dan salah satunya adalah kepulangan seluruh warga Palestina ke bumi pendudukan. Syarat ini justru selaras dengan tujuan dari muqawama.

Muqawama sebuah wacana besar dan memiliki banyak sub wacana; Ekonomi muqawama, melawan kubu hegemoni dan muqawama bersenjata adalah tiga konsep dari tiga bidang politik, ekonomi dan militer. Oleh karena itu, dapat dikatakan isu referendum sebagai salah satu sub-wacana muqawama di sektor politik yang tidak bertentangan dengan wacana muqawama itu sendiri.

Upaya media front hegemoni untuk mendistorsi prakarsa Iran termasuk aktivitas lain yang dilaksanakan dengan serius selama beberapa tahun terakhir. Pendistorsian prakarsa Iran dengan nama "Rencana Referendum Nasional di Palestina" dan representasinya dengan judul "Usaha Iran untuk memusnahkan orang-orang Yahudi dan membuang mereka ke laut" dan "menyerupakan rencana Iran dengan Nazi selama Perang Dunia II" adalah upaya orang bayaran dan menggelikan media Barat. Menggambarkan kebijakan Iran terhadap hak-hak rakyat Palestina dengan istilah-istilah seperti "kebencian anti-Semit dan kebencian anti-Israel" adalah salah satu kebijakan media dominasi untuk mendistorsi rencana tersebut.


Misalnya, menjelang peringatan Hari Quds Sedunia tahun 1399 Hs (2020), kantor Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam merancang poster untuk merujuk pada nasib akhir Palestina, dengan slogan "Solusi akhir: Perlawanan sampai kemenangan. . " . Media Israel segera mendistorsi slogan tersebut, menggambarkannya sebagai Holocaust baru terhadap orang-orang Yahudi oleh Republik Islam. Bahkan Perdana Menteri Netanyahu saat itu bereaksi terhadap masalah ini.

Dia secara keliru mengklaim bahwa penggunaan istilah "solusi akhir" dalam rencana ini mengingatkan pada "solusi akhir" Nazi dan Hitler untuk memusnahkan orang-orang Yahudi. Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo juga tak ketinggalan dan mengatakan Amerika berdiri di samping Israel dan Jerman, serta tidak akan membiarkan genosida kembali terulang. Faktanya dengan mendistorsi prakarsa demokratis Iran, ia menyebutnya sebagai bukti genosida. Mantan menlu AS ini pada Jumat 23 Mei 2020 di cuitan Twitternya mengklaim, "Sangat mencengangkan bahwa Javad Zarif dan pemimpin Iran mengulang seruan Hitler untuk memusnahkan sebuah etnis."

Sementera Koran Jerusalem Post menyebut poster ini sebagai anti-Yahudi dan seraya mendistorsi fakta dan menebar kebohongan, koran ini mengklaim bahwa para pemimpin Iran menggunakan istilah Nazi Jerman untuk memusnahkan Yahudi Eropa. Media Barat untuk menyimpangkan opini publik dari prakarsa demokratis Iran guna menyelesaikan isu Palestina menyebut slogan poster tersebut sebagai slogan paling jahat sepanjang sejarah yang mencerminkan kebijakan Republik Islam Iran.

Media ini yang berubah menjadi profesioan dalam berbohong berusaha menyamakan antara pendekatan anti-Yahudi Nazi Jerman dan kebijakan anti-Zionis Iran. Mereka menuding pemerintah Iran berusaha menyiapkan peluang untuk menghapus Yahudi dengan kedok referendum. Namun faktanya adalah ada dua poin yang ditekankan Kantor Rahbar yang digali dari pidato pemimpin besar Revolusi Islam Iran, pertama adalah muqawama dan resistensi dan kedua, referendum.

Yakni untuk menggapai referendum dan memaksa musuh Zionis serta sponsor internasionalnya untuk menggelar referendum dan menghormati tuntutan bangsa Palestina, perlawanan bersenjata harus menjadi agenda kerja. Hal ini karena musuh tidak memahami kecuali kekerasan. Kedua poin tersebut dan upaya transparansi sikap prinsipal Republik Islam Iran sangat jelas di cuitan Twitter Menlu Iran saat itu, Mohammad Javad Zarif.

Mohammad Javad Zarif di cuitannya pada 21 Mei 2020 seraya memasang poster menulis, "Sangat menjijikkan mereka yang menemukan peradabannya "Solusi Akhir" di kamar-kamar gas menyerang mereka yang ingin mencari solusi sejati melalui kotak suara dan referendum. Karena Amerika Serikat dan Barat takut akan demokrasi seperti ini ? Bangsa Palestina tidak boleh membayar kejahatan atau perasaan bersalah kalian."

Tentu saja, dalam proyek serangan media terhadap rencana demokrasi Iran dan distorsinya, media berbahasa Persia yang berafiliasi dengan sistem ember tidak boleh diabaikan. BBC Persia, Radio Farda, Iran International termasuk di antara media pemberontak yang mencoba meminggirkan rencana demokrasi Iran dan menyoroti masalah pembunuhan orang Yahudi.

Tetapi halaman Twitter yang dikaitkan dengan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam dalam menanggapi proyeksi Netanyahu, media Barat dan media afiliasi berbahasa Persia, merilis pidato Ayatullah Khamenei saat bertemu dengan pejabat militer, peserta Konferensi Internasional Persatuan Islam, dubes negara-negara Islam serta sejumlah lapisan masyarakat yang digelar 15 November 2019. Rahbar di pertemuan ini mengatakan, "Pemusnahan pemerintah Israel bukan berarti pemusnahan Yahudi. Kita tidak ada hubungannya dengan orang-orang Yahudi. Pemusnahan Israel yakni warga Muslim, Kristen dan Yahudi Palestina yang memilih pemerintahan mereka, dan orang asing serta penjahat seperti Netanyahu diusir."

Masalah ini kembali mengingatkan kebijakan mendasar Iran. Sejatinya media arus hegemoni bermanuver di istilah solusi Nazi Hitler ketimbang penekanan terhadap istilah referendum usulan Iran, supaya mereka berhasil menyimpangkan opini audiens dari prakarsa demokratis Iran ke arah pendekatan anti-Yahudi Nazi Jerman guna mempersiapkan peluang pendistorsian dan pelabelan prakarsa Iran.

Hossein Kanani Moghaddam, pengamat isu-isu Palestina di Iran meyakini, penentangan negara-negara seperti AS dan sekutunya di kawasan seperti Israel, mengingat kekuatan finansial, politik dan media mereka serta kehadiran AS, Inggris dan Prancis sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, merupakan salah satu kendala serius prakarsa ini. Tantangan lain adalah kerumitan implementasi rencana ini di praktek; Hal ini muncul akibat kerumitan kondisi dan kezaliman yang dialami bangsa Palestina.

Republik Islam Iran, dalam kerangka aturan hukum internasional, menekankan bahwa semua penyelidikan harus dilakukan dan syarat utama untuk tindakan ini adalah bahwa pemilik asli tanah kembali ke Palestina dan memutuskannya. Poin penting dari kondisi ini adalah masalah pengungsi, baik mereka yang berada di Yordania, Suriah dan Lebanon atau mereka yang mampu pergi ke negara lain.

Meski ada tantangan ini dan upaya media kubu hegemoni untuk mengalahkan prakarsa ini, tapi sambutan opini publik dunia atas prakarsa demokratis Iran guna menyelesaikan isu Palestina terus meningkat.

Jumat, 19 Agustus 2022 18:18

Sayid Abdullah Shubbar

 

Pada kesempatan kali ini kami akan mengenalkan salah satu ulama besar Syiah lainnya yang memiliki kontribusi besar bagi umat Islam, Sayid Abdullah Allawi Husseini Mousavi.

Sayid Abdullah salah satu ulama besar Syiah di abad ke-13 H dan pakar hadis dan pakar tafsir al-Quran. Ia dikenal dengan nama Shubbar.

Sayid Abdullah Shubbar dari keturunan Imam keempat Syiah, Ali bin Hussein as dan dilahirkan di kota Najaf pada tahun 1188 H. Ayahnya bernama Mohammad Ridha Shubbar, salah satu ulama terkenal kota Najaf dan warga menjulukinya dengan sebutan Sahib al-Da'wa al-Mustajabah yang berarti doanya mustajab dan dikabulkan.

Kisah tentang doa Mohammad Ridha Shubbar yang mustajab ini terjadi saat kekeringan melanda Baghdad di zaman Utsmaniyah (Ottoman). Saat itu, Said Pasha, agen pemerintah Ottoman di Baghdad meminta masyarakat berpuasa tiga hari dan mengikuti shalat meminta hujan (Istisqa) di padang pasir di luar kota. Masyarakat pun mengikuti perintah ini dan bersama Said Pasha hadir di padang pasir yang kering dan menunaikan shalat istisqa. Tapi hari itu dan hari setelahnya, hujan tidak juga turun, sementara masyarakat bersedih dan khawatir.

Sayid Mohammad Ridha yang menyaksikan kondisi seperti ini, kali ini ia menunaikan shalat istisqa dan meminta warga Kadhimain untuk berpuasa tiga hari dan bersama dirinya menunaikan shalat istisqa di luar kota. Masyarakat berpuasa tiga hari dan kali menunaikan shalat istisqa di bawah bimbingan ulama dan faqih terkenal di kotanya. Bibir Sayid Mohammad Ridha belum juga selesai mengucapkan doa, tiba-tiba mendung berkumpul di langit dan tetesan hujan turun bercampur dengan air mata warga. Peristiwa ini tidak pernah dilupakan dan masyarakat menjuluki keluarga Shubbar sebagai Sahib al-Dakwah al-Mustajabah, serta posisi mereka sangat dihormati masyarakat.

Sayid Abdullah Shubbar tumbuh besar di bawah didikan seorang ayah seperti ini, dan juga belajar kepadanya. Sayid Mohammad Ridha senantiasa mendorong anaknya memanfaatkan waktunya dengan baik, takwa dan menuntut ilmu, serta memberi fasilitas kepada anaknya untuk tujuan ini. Sayid Ridha juga memberi syarat kepada anaknya, jika kamu gagal belajar atau mengajarkannya kepada orang lain, bahkan untuk satu hari, aku tidak rela denganmu atas apa yang aku berikan kepadamu.

Sementara itu, Sayid Abdullah Shubbar berusaha keras mengerjakan ajaran ayahnya tersebut, bahkan jika satu hari ia tidak dapat belajar karena sakit, maka ia tidak menggunakan fasilitas yang diberikan ayahnya. Keseriusannya dalam menuntut ilmu telah membuatnya menjadi seorang ulama mumpuni dan pakar fikih yang diakui semua orang.

Setelah kematian ayahnya pada tahun 1208 H, Sayid  Abdullah menghadiri ceramah dari ulama terkenal Baghdad, Sayid Mohsen Aarji, dan di bawah ajaran ulama saleh itu, ia menjadi ahli hukum yang luar biasa dan terkenal. Pengetahuan, ketakwaan, dan penelitian putra bangsawan keluarga Shubbar begitu mengesankan sehingga para ahli hukum terkemuka seperti Sayid Ali Tabatabaei (penulis Riad al-Masail), Mirza Mohammad Mahdi Shahrashtani, Mirza Abul Qasim Qomi (penulis buku Qawanin al-Usul), Sheikh Asadullah Kazemi dan Sheikh Mohammad Jaafar Najafi, Kashif al-Ghita memujinya sebagai ahli hukum yang layak dan mengizinkannya untuk meriwayatkan hadis. Reputasi ilmu dan pengetahuan Sayid Abdullah Shubbar menyebar ke seluruh Irak dan tidak hanya ulama dan ahli fikih, tetapi juga orang-orang jalanan dan pasar percaya pada kebesarannya. Dengan cara ini, setelah kematian Allamah Kashif al-Ghita, hati orang-orang beriman Irak berbalik ke arahnya, dan Sayuid Abdullah Shubbar mencapai Marjaiyah (marja) pada usia empat puluh tiga tahun.

Ulama saleh Kadhimain ini bukan hanya pemimpin zaman dalam ilmu dan fikih (yurisprudensi), tapi ia juga model moralitas dan kesalehan bagi murid-murid dan pengikutnya. Sikap dan kefasihan Sayidd Abdullah menarik orang-orang di sekitarnya kepadanya. Salah satu muridnya menggambarkan gurunya berkata: "Ketika seorang penonton melihat wajahnya dan mendengar pidatonya yang menghangatkan hati, dia tidak dapat dipisahkan darinya." Sayid Abdullah memberikan perhatian khusus pada doa dan ibadah. Diskusi, pelajaran, dan ibadah tidak mengabaikan urusan umat Islam. Dia memberikan perhatian khusus untuk memenuhi kebutuhan orang miskin, mengunjungi orang sakit dan bekerja keras untuk membebaskan para budak.

Ulama besar Syiah ini di usia 54 tahun telah meninggalkan lebih dari 70 karya fikih dan tafsir al-Quran. Ulama dan mujtahid menyatakan bahwa banyaknya karya tulis Sayid Abdullah hanya dapat dibandingkan dengan Allamah Mohammad Baqir Majlisi. Oleh karena itu, Sayid Shubbar juga dikenal dengan Majlisi Kedua. Kecepatannya dalam menulis risalah dan buku serta ketelitiannya senantiasa membangkitkan rasa takjub dan pujian para ulama. Terkadang hanya dalam waktu beberapa jam atau setengah hari, ia menulis sebuah risalah penting.

Salah satu murid Sayid Abdullah Shubbar terkait hal ini mengatakan, "Suatu hari guru setelah berziarah ke makam Imam Jawad as, kemudian berziarah ke makam Sheikh Mufid dan aku memanfaatkan waktu tersebut untuk bertanya kepada guru. Aku bertanya, guru bagaimana kamu dapat menulis buku tebal ini dalam waktu sesingkat ini ? Guru diam dan kemudian menjawab, Menulis cepat bukan seniku, tapi hadiah dari Abu Abdillah, Imam Husein as. Aku menemui Imam Husein di mimpiku dan beliau berkata kepadaku, Menulislah dan keluarkan buku ! Sesungguhnya penamu tidak akan kering sampai kamu mati."

Salah satu karya penting ulama besar ini adalah tiga tafsir al-Quran. Ketiga kitab tafsir tersebut adalah Safwah al-Tafsir (Tafsir Kabir), al-Jauhar al-Tsamin (Tafsir Wasit) dan Tafsir Wajiz. Tafsir Kabir tulisan tangan dalam dua jilid, tapi sangat disayangkan meski buku ini termasuk salah satu tafsir terbaik Syiah, tapi sampai saat ini belum dicetak. Metode tafsir ini adalah tafsir dengan riwayat atau hadis dari para imam maksum as, dan jarang dibawakan pendapat dari yang lain. Selain itu, tafsir kabir juga membahas masalah fikih dan teologi sesuai dengan ayat dan tentunya pembahasannya juga sangat teliti dan detail. Tafsir ini seperti namanya,  adalah pilihan dari tafsir-tafsir sebelum dirinya.

Al-Jauhar al-Tsamin atau Tafsir Wasit adalah tafsir lain Sayid Abullah Shubbar dan ditulis dalam enam jilid. Di tafsir wasit, penulis pertama-tama membahas asbab al-nuzul surat dan kemudian menukil pahala membaca surat tersebut dan bersandar pada riwayat dan sejumlah pendapat mufasir, mulai menjelaskan ayat-ayatnya. Poin penting di tafsir ini adalah perhatian penulis terhadap pendapat seluruh mufasir Syiah dan Sunni, yang terkadang disertai dengan kritikan dan analisa penulis. Poin penting dari tafsir ini adalah pembahasannya yang sederhana dan mudah dicerna.

Para ahli percaya bahwa tafsir al-Jauhar al-Tsamin menempati urutan kedua setelah Majma' al-Bayan karya Tabarsi. Tafsir ini juga memberhatikan sisi pembahasan rasional, dan memilih penjelasan yang mudah yang dapat membantu pembaca mencerna isinya.

Buku tafsir ketiga Allamah Shubbar yang ditulis secara ringkas namun ekspresif, adalah tafsir wajiz. Penulisan singkat dalam tafsir adalah metode yang telah digunakan oleh banyak tetua dunia Islam, dan tujuannya adalah untuk membiasakan siswa dengan konsep-konsep Al-Qur'an pada tahap pertama pendidikan, dan di dalamnya, mereka telah mencoba menyajikan interpretasi yang paling penting dalam buku-buku tafsir, istilah terpendek dan paling ekspresif untuk para pelajar, menempatkan Al-Qur'an dan tulisan-tulisan para ulama ini sangat berharga dan selalu disambut baik oleh masyarakat. Salah satu yang terbaik dan paling fasih dari mereka adalah tafsir wajiz dari Allamah Sayid Abdullah Shubbar, yang dengan tepat mencuri perhatian dari semua orang di bidang ini.

Sayid Mohammad Ma'sum, salah satu ulama dan ahli fikih abad-13 di pendahuluan (mukadimah) Tafsir Subbar menulis, "Imam Shubbar adalah sosok penuh kebaikan dan berkah, di mana sejarah hidupnya akan kekal. Ia memiliki kedalaman ilmu, ingatan yang tak ada bandingannya dan ilmu yang luas. Kami hanya dapat tunduk di hadapan sosok besar beliau."

Akhirnya marja besar Syiah ini, Sayid Abdullah Shubbar setelah 54 tahun hidup penuh berkah meninggal dunia di salah satu hari bulan Rajab 1242 H. Anaknya, Sayid Hasan yang juga ulama fikih, menshalati jenazah ayahnya bersama masyarakat Syiah saat itu, dan jenazah ulama besar ini dimakamkan di Haram Suci Imam Musa Kadhim as. Kami akhiri program kami kali ini dengan sebuah hadis dari Imam Ali as, "Ulama tetap hidup, meski ia telah mati, dan orang bodoh mati meski ia hidup."

Jumat, 19 Agustus 2022 18:17

Sayid Mohammad Tabatabai

 

Di kesempatan kali ini kami akan mengajak Anda mengenal salah satu ulama terkemuka dan marja' Syiah abad 13 Hijriah, Sayid Mohammad Tabatabai.

Fatwa Sayid Mohammad Tabatabai terkait kewajiban jihad melawan agresi Rusia ke Iran sangat terkenal dan oleh karena itu di sejarah beliau dikenal dengan sebutan Sayid Mujahid.

Sayid Mohammad Tabatabai dilahirkan pada tahun 1180 H di kota Karbala, Irak. Ayahnya Sayid Ali Tabatabi dikenal dengan Sahib Riyad, salah satu ulama terkenal dan marja taqlid Syiah. Ibunya adalah cucu dari Allamah Vahid Behbahani yang dikenal sebagai ulama mumpuni dan terkenal di zamannya karena ketinggian ilmunya.

Sayid Mohammad Tabatabai
Sayid Mohammad dilahirkan ketika Karbala menjadi pusat dunia Syiah berkat upaya Allamah Behbahani. Sehingga pelajar dari maktab Karbala dianggap sebagai penggerak ilmu dan fiqih di seluruh dunia Syi'ah dan telah membentuk seminari ilmiah di berbagai belahan dunia Islam seperti Mashhad, Kashan, Qom, Kadhimaian, Najaf, Karbala, Tabriz dan India. Sayid Mohammad juga mulai belajar di tempat ini di bawah pendidikan ayahnya Sayidd Ali Tabatabai.

Sayid Mohammad tidak memiliki kesempatan belajar di kelas kakeknya, Allamah Vahid Behbahani, tapi ia belajar dari murid kakekhnya. Selain belajar dari ayahnya, Sayid Mohammad juga belajar di bawah asuhan Allamah Bahrul Ulum di Najaf. Selain belajar, ia juga menyerap banyak dari kezuhudan dan karamah Allamah dan akhirnya diambil menantu oleh gurunya ini.

Sayid Mohammad di kota Najaf juga belajar kepada Ulama besar, Sheikh Kashif al-Ghita'. Sheikh Ja'far Kashif al-Ghita' dikenal mengusai ilmu fiqih dan ushul fiqih. Selain menjadi pemuka agama, Sheikh Kashif al-Ghita' juga dikenal keberaniannya. Salah satu karakteristik Sheikh adalah pemahamannya akan zaman dan kebutuhannya. Sayid Mohammad Tabatabai bukan saja belajar ilmu fiqih dari gurunya ini, tapi juga belajar akan rasa tanggung jawab atas masalah sosial dan keberanian.

Dengan usaha keras Sayid Mohammad Mujahid dalam mempelajari ilmu-ilmu seperti ushul dan fiqih, dia dengan cepat mencapai otoritas ilmiah, sedemikian rupa sehingga ayahnya mengenalinya sebagai lebih berpengetahuan daripada dirinya sendiri dan seorang ilmuwan, dan dia tidak lagi mengeluarkan fatwa. Adalah umum di kalangan ulama Syi'ah bahwa mereka tidak menganggap diri mereka berwenang untuk mengeluarkan fatwa di hadapan ulama yang lebih bijaksana. Untuk alasan ini, Sayid Muhammad beremigrasi dari Karbala ke Isfahan untuk menghormati ayahnya. Sayid Mohammad Mojahid tinggal di Isfahan selama sekitar sepuluh tahun. Isfahan merupakan pusat penting ilmu-ilmu agama pada masa itu. Selama periode ini, banyak cendekiawan dari seminari (hauzah ilmiah) itu menghadiri kuliahnya dan menganggapnya sebagai profesor terkemuka di seminari Karbala dan Isfahan.

Setelah kematian ayahnya yang mulia, Sayid Ali Tabatabai, Sayid Mohammad kembali ke Karbala dari Isfahan dan mengambil alih otoritas dan kepemimpinan Syiah setelahnya. Setelah serangan brutal Wahabi di Karbala dan pembantaian beberapa ribu orang dan ulama di kota ini, Sayid Mohammad bermigrasi ke Kadhimain dan aktif mengajar, berdiskusi dan mengelola komunitas Syiah di dekat kompleks makam suci Imam Askari (as).

Pada masa marjaiyah Ayatullah Sayid Mohammad Tabatabai, periode kedua perang Iran-Rusia dimulai dan ulama yang dipimpin oleh ahli hukum yang terhormat ini memainkan peran yang efektif di dalamnya, dan karena alasan ini, ia dikenal sebagai Ayatullah Mujahid. Pemerintahan Fath Ali Shah, yang sebagian sezaman dengan kehidupan Ayatullah Mujahidin, adalah salah satu tahap paling sensitif dan kritis dalam sejarah Iran dan dunia. Saat itu, terjadi persaingan sengit antara kekuatan besar dunia untuk akses ke Asia dan Afrika atas nama kolonialisme. Iran sangat penting bagi penjajah karena lokasi geografisnya.

Setelah perang Iran-Rusia pertama dan kekalahan Iran pada 1228 H, sebuah perjanjian memalukan yang disebut "Perjanjian Golestan" ditandatangani antara Iran dan Rusia, yang menyebutkan wilayah Iran dipisahkan dan dianeksasi ke Rusia. Namun, karena tidak adanya garis demarkasi antara kedua negara, terjadi perselisihan lagi dari Rusia dan pasukan Rusia menduduki bagian lain Iran. Fath Ali Shah Qajar juga tidak memiliki kemauan dan strategi yang diperlukan untuk menghadapi Rusia di medan perang dan Rusia menyadari kelemahannya.

Pada tahun 1241 H, kabar buruk datang ke Tehran dari daerah-daerah yang diduduki Rusia. Tentara Rusia merampok hasil pertanian dari wilayah-wilayah yang mereka duduki, mereka juga melecehkan masjid, al-Quran dan sakralitas umat Muslim, dan memaksa warga Muslim memasukkan anaknya ke sekolah Kristen. Warga wilayah pendudukan mengirim surat kepada marja' saat itu, Ayatullah Sayid Mohammad Tabatabi menjelaskan kondisi mereka dan meminta bantuan.

Komandan pasukan Iran saat itu adalah Abbas Mirza, dan tidak seperti raja, dia ingin melawan agresi Rusia dan meminta bantuan dari pihak berwenang, termasuk Ayatullah Tabatabai, untuk memaksa Fath Ali Shah melawan. Pada saat itu, beberapa ulama Irak dan Iran, termasuk Ayatullah Sayid Mohammad Tabatabai, menanggapi permintaan ini dengan baik, memberikan kehidupan baru kepada pasukan Iran dengan menulis risalah jihad dan mendorong orang-orang untuk melawan pasukan Rusia. Pada saat itu, mata orang-orang tertuju pada otoritas agama dan seminari (Hauzah), sehingga dalam situasi seperti itu, Ayatullah Mujahid memberi tahu ulama lain tentang peristiwa tersebut, dan semua orang setuju untuk mengeluarkan fatwa tentang jihad melawan Rusia. Dia mengirim surat kepada Fath Ali Shah memintanya untuk menghentikan penindasan dan agresi tentara Rusia.

Setelah dikeluarkannya fatwa jihad, Ayatullah Mujahid berhijrah ke Iran bersama sekelompok ulama dan cendekiawan serta mengundang para ulama tersebut ke ibu kota di Tehran. Setelah undangan ini, para ulama berkumpul di Tehran dan menyetujui perang dengan Rusia. Kehadiran ulama yang dipimpin oleh Ayatullah Mujahidin memicu gerakan rakyat di Iran dan memobilisasi kekuatan besar dari seluruh Iran. Setelah mempersiapkan dan mengirim pasukan, Ayatullah Mujahid dan sekelompok ulama pergi ke Tabriz, zona perang antara Iran dan Rusia. Dalam tiga minggu, pasukan Iran mampu merebut kembali sebagian besar wilayah yang telah diserahkan ke Rusia di bawah Perjanjian Golestan dengan bantuan penduduk setempat.

Tetapi Fath Ali Shah, yang sejak awal tidak memiliki kemauan dan upaya untuk melawan, segera setelah kemenangan awal ini, mengulurkan tangan perdamaiannya kepada musuh agresor, tetapi upaya awalnya untuk perdamaian bagi Rusia tidak memiliki pesan bagi Iran selain kelemahan, jadi dia dipermalukan oleh Rusia. Raja juga memerintahkan para pangeran untuk mundur dari garis depan, dan perintah ini menyebabkan keretakan dan keputusasaan di tentara Iran. Kecerobohan raja ini menyebabkan tentara Iran melemah dan kalah serta kehilangan tanah yang telah direbutnya kembali.

Sayid Mohammad Mojahid tetap berada di Tabriz, tetapi setelah beberapa saat dia menjadi sakit parah karena kesulitan yang dia alami dalam pertempuran ini, dan sementara dia sangat kecewa dengan kelemahan pemerintah dalam membela orang-orang yang tertindas dan kebutaan beberapa prajuritnya, dia meninggalkan Tabriz. Dalam situasi ini, pemerintah Qajar yang sangat takut dengan kekuatan ulama dalam memobilisasi rakyat dan sambutan mereka kepada para marja berusaha menghilangkan mereka dari mata rakyat dengan berbagai cara. Beberapa pejabat pemerintah dan beberapa orang yang membenci agama dan ulama mencoba untuk menyalahkan semua kekalahan pada ulama yang memberikan fatwa jihad, dan dalam pidato dan tulisannya, mereka berusaha menutupi kelemahan dan kecerobohan raja dan komandan tentara dan malah menuding para ulama pejuang.

Itu wajar di kondisi sulit akibat kekalahan yang ditanggung rakyat, sejumlah orang yang tidak mengetahui cerita di balik layak, mempercayai desas desus ini.  Dengan demikian, dalam perjalanan kembali dari Tabriz, Sayid Mujahid ditindas oleh literatur bodoh di kota Qazvin dan menjadi sasaran untuk menghina dan mengolok-olok orang yang tidak kompeten. Dia meninggal pada tanggal 13 Jamadi Thani 1242 H di kota Qazvin karena penyakit yang sama, pada puncak penindasan dan kesedihan, dan tubuh sucinya dipindahkan ke Karbala dan dimakamkan di sana.

Meskipun pada waktu itu dalam sejarah, upaya para ulama untuk melindungi persatuan umat Islam dari agresor tidak memuaskan akibat sabotase yang kami sebutkan, tetapi sisi lain mata uang, membuktikan kekuatan ulama dan marja agama dalam memobilisasi orang untuk menyadari hak dan perjuangan melawan kebatilan. Sebuah kekuatan yang berlangsung sampai kemenangan atas lawan yang kuat seperti Rusia dan merupakan pengalaman yang baik dalam mengidentifikasi kelemahan dan resiko kehadiran ulama dan pemuka agama di lapangan dan manajemen masyarakat.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, pengalaman-pengalaman ini akan menciptakan epik besar kehadiran ulama di bidang sensitif masyarakat yang mengatur dan memotong tangan para agresor, yang akan kita bahas dalam program-program mendatang sesuai dengan tema program.

 

Memiliki industri helikopter terbesar di kawasan, Iran adalah salah satu negara terkemuka di bidang perancangan dan pembuatan helikopter militer dan komersial.

Karena memiliki karakteristik penerbangan khusus seperti kecepatan lebih rendah dari kecepatan suara, kemampuan untuk terbang di ketinggian rendah dan waktu persiapan penerbangan yang lebih sedikit daripada pesawat terbang, helikopter selalu menjadi salah satu alat terbang paling efektif di dunia militer, sebagaimana nilai helikopter telah terbuki dengan jelas dalam perang yang dipaksakan di bidang militer dan transportasi.

Salah satu cara penting untuk mencapai teknologi militer dan pertahanan yang maju adalah rekayasa ulang peralatan dan senjata modern sehingga sukses. Pengembangan dan produksi helikopter baru berdasarkan helikopter yang ada adalah praktik umum, karena selain mengurangi biaya desain, juga mengurangi biaya perawatan dan mudah untuk mengganti suku cadang satu helikopter dengan anggota lain dari keluarga itu.

Pembuatan helikopter Shahed 278 menunjukkan bahwa dimungkinkan untuk memproduksi helikopter menggunakan model dan platform yang sesuai seperti helikopter Bell 206 JetRanger, yang memiliki banyak keunggulan seperti mengurangi biaya desain dan konstruksi, perawatan, dan kemungkinan mengganti suku cadang dari satu helikopter ke helikopter lainnya.

Helikopter Shahed 278 adalah hasil buatan dalam negeri Bell 206 dan keunggulan terbesarnya dibandingkan 206 adalah bodinya yang lebih ringan. Bell 206 JetRanger, dari mana helikopter Shahed 278 diadaptasi, dibangun pada tahun 1962 oleh American Bell Helicopter Company untuk berpartisipasi dalam kompetisi untuk memilih helikopter pengintai ringan baru untuk Angkatan Udara AS, dan telah beroperasi di Angkatan Darat AS sejak 1967. Iran juga membeli helikopter ini pada tahun yang sama dan telah menerima sekitar 130 unit sebelum Revolusi Islam.

Gambaran Umum

Shahed 278 dikembangkan di Shahed Aviation Industries Research Center Iran, siap diuji pada 1380 HS dan sertifikat TC dikeluarkan pada 1391 HS dan kemudian beberapa di antaranya diproduksi di Iran Aircraft Industries (HESA). Pada bulan Mehr 1398 HS bersamaan dengan Pekan Pertahanan Suci, beberapa helikopter Shahed 278 dan 285 diserahkan kepada Angkatan Darat IRGC di hadapan Wakil Menteri Pertahanan, Komandan Angkatan Darat IRGC dan CEO Organisasi Industri Udara Kementerian Pertahanan.

Helikopter ini adalah helikopter kelas serangan/pengintaian pertama yang dibuat secara keseluruhan oleh Iran, yang memiliki lima tempat duduk, bermesin tunggal, dengan penggunaan militer dan komersial dengan misi seperti patroli, pengawalan udara di kelas ringan. Shahed 278 sangat mirip dengan helikopter Shahed 285, yang diluncurkan pada 1395 HS dalam dua model pengintaian/ofensif ringan dan patroli maritim. Baling-baling utama dan baling-baling ekor, bagian tubuh utama dan ekor serupa pada dua helikopter Shahed 278 dan 285, dan menurut informasi yang dipublikasikan tentang tenaga mesin dan berat lepas landas maksimum kedua helikopter ini, juga seharusnya sama. Shahed 278 panjangnya sekitar 12 meter, lebar lebih dari 2 meter dan tinggi hampir 3 meter, berat kosongnya 682 kg dan berat lepas landasnya adalah 1450 kg.

Poin yang sangat penting dalam helikopter Iran ini adalah penggunaan mesin 420 tenaga kuda, yang membuat Shahed 278 bergerak dengan kecepatan 230 km/jam. Meskipun helikopter Shahed 278 sangat mirip dengan helikopter Bell 206 JetRanger, namun setelah diteliti dengan seksama, terlihat ada perbedaan. Helikopter Iran memiliki hidung yang lebih tajam dan jendela yang lebih besar daripada model Amerika, dan ada dua pintu di setiap sisi helikopter untuk penumpang dan pilot. Namun yang penting adalah Shahed lebih ringan dari helikopter Amerika.

Peningkatan kinerja dibandingkan dengan helikopter serupa di dunia, pengurangan biaya perbaikan dan pemeliharaan, dan pembuatan di dalam negeri sistem mekanik, hidrolik, elektro-avionic dan seluruh tubuh helikopter adalah beberapa fitur lain dari Shahed 278. Helikopter Shahed 278 untuk keperluan militer dan komersial merupakan helikopter pertama Iran yang berhasil memperoleh Type Certificate dan Production Line Certificate (POA) dari Civil Aviation Organization sesuai dengan semua persyaratan internasional dan lini produksinya masih aktif.

Shahed 278 adalah helikopter dengan berbagai misi, termasuk patroli, pengintaian, memindahkan para komandan, pasukan darat pendukung, pembuatan film, pelatihan dan penyelamatan udara serta mengangkut yang terluka, taksi udara, patroli perlindungan lingkungan, mengunjungi jalur minyak, gas dan listrik, yang mampu untuk pelaksanaan yang optimal dari semua misi ini.

Helikopter Shahed 278 dibuat dengan menggunakan teknologi desain terkini dan bahan baku canggih pada bagian-bagian seperti bodi, baling-baling utama, dan baling-baling ekor, yang selain mengurangi bobot helikopter, mencegah korosi dan karat, serta dapat terbang di berbagai lingkungan tanpa masalah. Helikopter ini dibuat dengan struktur modular dan menggunakan metode desain modern dan material komposit non-logam canggih pada bodi dan bilah utama.

Bahan ini dan pengurangan berat helikopter telah meningkatkan kapasitas membawa kargo lebih banyak, dan di sisi lain, penggunaan permukaan kaca besar di Shahed 278 telah sangat meningkatkan visibilitas semua penumpang, termasuk 2 awak helikopter, yang dapat digunakan dengan sangat efektif di medan tempur. Helikopter ini mampu terbang terus menerus selama 4 jam di udara dengan mesinnya yang bertenaga, yang bersama dengan jarak tempuhnya yang jauh, membuat helikopter Iran yang gesit ini  membutuhkan bahan bakar yang sangat sedikit untuk mencakup wilayah yang di bawah misinya, dan di sisi lain, melengkapi helikopter ini dengan sistem kontrol penerbangan ganda dan tampilan multi-fungsi warna besar (MFD) di kabin, meningkatkan keandalan dan secara signifikan mengurangi biaya perawatan.

Jenis Bersenjata Shahed 278

Dalam beberapa tahun terakhir, pembahasan mempersenjatai helikopter buatan dalam negeri telah mengemuka di kalangan angkatan bersenjata, dan hingga saat ini, sebagian besar helikopter dilengkapi dengan senjata buatan lokal seperti roket, rudal, dan senapan otomatis dalam bentuk berbagai desain sehingga dapat digunakan ketika dibutuhkan. Dalam hal ini, helikopter Shahed 278 juga dipersenjatai dengan berbagai senjata dalam proyek "OH 78". Saat ini, helikopter ini dilengkapi dengan senjata ofensif ringan, termasuk satu atau dua peluncur tujuh roket 2,75 inci (Roket 70 mm), yang memiliki jangkauan 500 hingga 5.000 meter, dan satu senapan otomatis 12,7 mm yang dilengkapi kamera di bawah bodi.

Selain peralatan ini, Shahed 278 dilengkapi sistem optik penglihatan siang dan malam yang memiliki dua derajat kebebasan untuk pengawasan udara dan sistem penyimpanan informasi. Akibatnya, dengan bantuan peralatan dan senjata di atas, helikopter ini akan menjadi helikopter pengintai bersenjata yang dapat diandalkan, sebuah misi di mana berbagai helikopter dalam kategori yang sama telah dibangun di dunia, beberapa di antaranya juga mampu menembakkan rudal untuk menghancurkan kendaraan lapis baja.

Bahkan dalam beberapa gambar yang dipublikasikan dari helikopter ini, telah terungkap bahwa Shahed 278 dapat membawa semua jenis rudal anti-kapal dan menembak sasaran. Ketika rudal ini dipasang di helikopter, jangkauannya meningkat secara signifikan.

Senapan otomatis yang digunakan pada helikopter OH-78 adalah NSV buatan Rusia yang memiliki berat 25 kg, memiliki jangkauan efektif 1.500 meter terhadap target udara dan 2 kilometer terhadap target darat saat ditembakkan dari darat, dan laju tembakan 700- 800 putaran per menit. Meskipun lokasi pemasangan senjata ini di bawah hidung akan memaksa pilot untuk lebih berhati-hati saat mendarat dan lepas landas, tetapi metode pemasangan ini bukannya belum pernah terjadi sebelumnya, seperti pada helikopter tempur Apache Amerika, senjata di pasang di bagian depan dengan cara yang sama persis. Selain itu, metode pemasangan senjata yang sama telah digunakan dalam prototipe helikopter serang Shahed 285.

Hal yang menarik dari senapan Shahed 278 adalah kameranya memiliki optical zoom dan perbesaran gambar target yang dapat dilihat dari monitor di kabin, yang memungkinkan untuk membidik lebih akurat dan mengenai lebih banyak peluru pada target atau mengenai target dengan lebih sedikit jumlah tembakan dan mengurangi waktu untuk membidik target.

Sistem elektro-optik yang dipasang di helikopter ini, selain memiliki visibilitas siang dan malam serta zoom optik dan digital serta mengirim gambar ke unit darat dan udara lainnya secara real time, juga memiliki pengukur jarak laser, yang dalam hal ini meningkatkan akurasi tembakan roketnya secara signifikan.

Spesifikasi آelikopter Shahid 278

Penumpang: 5 orang (satu pilot dan 4 penumpang)

Batas ketinggian terbang: 4.115 meter di atas permukaan laut

Batas ketinggian terbang (IGE): 3.960 meter di atas permukaan laut

Batas ketinggian terbang statis (OGE): 2.740 meter di atas permukaan laut

Tingkat pendakian maksimum: 6,5 meter per detik

Kecepatan maksimum: 226 km/jam

Jangkauan operasional maksimum (terbang pada ketinggian 1500 meter): 655 km

Durasi penerbangan: lebih dari 4 jam

Panjang: 11,84 meter

Lebar: 1,92 meter

Tinggi: 2,98 meter

Diameter baling-baling utama helikopter: 10.160 meter

Diameter baling-baling ekor helikopter: 1,57 meter

Berat kosong: 750 kg

Berat lepas landas maksimum: 1450 kg

Tenaga mesin maksimum: 420 tenaga kuda

Senjata

Senapan otomatis NSV 12,7 mm

14 Roket Hydra 70 mm.

 

Setahun telah berlalu sejak penarikan diam-diam pasukan Amerika dari Afghanistan. Meskipun Washington mengklaim telah mengakhiri pendudukan Afghanistan dan meninggalkan negara ini, tetapi perilaku dan kinerja Gedung Putih menunjukkan bahwa AS masih menyandera Afghanistan dengan menciptakan masalah baru bagi negara Asia selatan ini.

Langkah AS memblokir properti dan aset negara Afghanistan yang tertindas dalam situasi ketika mereka membutuhkan bantuan keuangan dan ekonomi melebihi sebelumnya, dianggap sebagai pencurian terbuka terhadap Afghanistan, yang menghadapi banyak masalah ekonomi. Dengan dalih menghukum Taliban, yang diklaim melanggar Perjanjian Doha, Amerika Serikat menyita sekitar 10 miliar dolar aset Afghanistan dan tidak mengizinkannya  ditarik.

Sebenarnya, setahun setelah penarikan pasukan Amerika dari Afghanistan, negara ini masih menjadi sandera Washington. Perubahan politik secara tiba-tiba di Afghanistan menimbulkan kekhawatiran di berbagai kalangan rakyat Afghanistan yang menyebabkan perpindahan jutaan orang Afghanistan mengungsi ke berbagai negara. Hal ini berarti bahwa klaim Amerika  menciptakan negara yang aman di Afghanistan pada tahun 2001 hanya sekedar isapan jempol belaka. Sebab faktanya, pendudukan Afghanistan bukan hanya membuatnya tidak aman, tetapi juga membuat orang Afghanistan mengungsi dari rumah mereka sendiri ke negara lain.

Sementara itu, masalah yang kurang mendapat perhatian dari kalangan media mengenai perilaku penjajah yang tidak manusiawi terhadap rakyat Afganistan. Aksi penyiksaan sewenang-wenang dan penangkapan secara membabi buta oleh pasukan AS, yang disebut oleh mantan Presiden Afghanistan, Hamid Karzai sebagai bandit, hanya sebagian kecil dari kejahatan pasukan Amerika di Afghanistan. Kondisi malang dan menyedihkan rakyat Afghanistan saat ini adalah hasil dari pendudukan Amerika selama bertahun-tahun di negara ini.

Amerika menghancurkan struktur negara itu sedemikian rupa, sehingga orang-orang Afghanistan tidak akan dapat membangun kembali negara mereka dan memecahkan masalah mereka selama beberapa dekade, terutama karena kerusakan sosial, psikologis dan medis yang menimpa rakyat Afghanistan menjadi masalah selama beberapa generasi. Selama pendudukan Amerika di Afghanistan, militer Amerika menggunakan amunisi dan bom, yang efeknya diperkirakan akan berlangsung selama beberapa dekade, termasuk cacat mental dan fisik. Sementara Amerika Serikat mengklaim telah menghabiskan ratusan miliar dolar untuk mendanai kehadiran militernya di Afghanistan selama dua dekade, dan tentara Amerika juga menderita kerugian yang signifikan dalam memecahkan masalah Afghanistan, termasuk membangun keamanan.

Pada saat yang sama, kinerja pasukan Amerika selama dua dekade pendudukan Afghanistan menunjukkan bahwa mereka menjadi penyebab ketidakamanan dengan membunuh orang-orang di negara ini. Bahkan mereka bersenang-senang dengan memutilasi jenazah orang Afghanistan.

Salah satu alat Amerika untuk memperkuat kehadiran dan pengaruhnya di Afganistan dan negara-negara lain adalah dengan membentuk dan memperkuat kelompok teroris yang menjadi landasan bagi kehadiran militer Amerika di Afganistan. AS memanfaatkan kehadiran sekitar 20 kelompok teroris seperti Al Qaeda dan Daesh yang aktif dan menjadi ancaman keamanan negara ini. Pada saat yang sama, AS ikut campur dalam terjadinya ledakan dahsyat dan pembunuhan rakyat Afghanistan selama dua dekade pendudukan di negara ini dengan tujuan untuk mencegah protes anti-Amerika.

Ali Wahedi, seorang ahli Afghanistan, mengatakan, "Amerika telah menghancurkan infrastruktur ekonomi dan industri negara ini dalam dua dekade pendudukan Afghanistan, sehingga bantuan masyarakat internasional diperlukan selama bertahun-tahun untuk memulihkannya."

Di sisi lain, beberapa negara regional seperti Turki dan Uni Emirat Arab (UEA) berusaha untuk memanfaatkan kondisi Afghanistan untuk kepentingan mereka sendiri. Bahkan, mereka membuka jalan bagi rezim Zionis ke Afghanistan dengan mengklaim membantu menyelesaikan masalah navigasi udara Afghanistan, termasuk penguasaan bandara. Oleh karena itu, risiko kehadiran pasukan dari luar kawasan di Afghanistan tidak kurang dari selama pendudukan oleh Amerika dan NATO.

Mengenai masalah ini, Pakar Afghanistan Seyed Hosseini menjelaskan, "Kekosongan yang disebabkan oleh penarikan pasukan Amerika yang tidak bertanggung jawab dari Afghanistan menyebabkan beberapa negara dengan rakus datang ke Afghanistan untuk mengambil keuntungan dari ketidakmampuan Taliban untuk memecahkan masalah."

Namun beberapa negara tetangga Afganistan, termasuk Republik Islam Iran yang selalu berdiri di sisi rakyat Afganistan, terus membantu menyelesaikan permasalahan rakyat Afganistan.

Abol Fazl Zahrawand, pakar masalah Afghanistan, mengungkapkan, “Republik Islam Iran telah bersama rakyat Afghanistan selama lebih dari empat dekade dan tidak pernah meninggalkan mereka sendirian. Setelah penarikan pasukan Amerika dari Afghanistan dan munculnya banyak masalah, Republik Islam Iran tetap membantu orang-orang Afghanistan." 

Bagaimanapun, meskipun AS secara fisik mengklaim telah meninggalkan Afghanistan, tapi plot AS untuk terus mencampuri urusan dalam negeri negara ini melalui metode proksi, dan kehadiran pasukan intelijen AS yang berkelanjutan di Afghanistan tidak boleh diabaikan. 

Isu ini penting bagi Amerika, karena upaya Washington selama dua dekade pendudukan Afghanistan untuk mengubah budaya publik gagal. Padahal mereka telah menghabiskan jutaan dolar dan mendirikan puluhan lembaga budaya Barat, tapi tetap gagal membangun posisi yang solid di tengah masyarakat Afghanistan, dan keamanan untuk keberlanjutannya di negara ini. Oleh karena itu, bersama dengan langkah-langkah intelijennya, AS menempuh kebijakan belah bambu, dan hasutan antara kelompok etnis dan agama di Afghanistan.