Mengejar Berkah Ramadhan (18)

Rate this item
(0 votes)
Mengejar Berkah Ramadhan (18)

 

Bulan Ramadhan sudah melewati batas pertengahannya dan mendekati malam-malam Lailatul Qadar. Ibadah, doa dan munajat perlu ditingkatkan demi memperoleh rahmat dan pengampunan Allah Swt.

Malam pertama dari Lailatul Qadar adalah malam ke-19 Ramadhan dan ia adalah sebuah malam yang penuh kemuliaan dan malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Menurut banyak riwayat, malam Lailatul Qadar terjadi pada bulan Ramadhan dan kemungkinan besar jatuh pada salah satu malam dari malam-malam yang ganjil yaitu 19, 21 atau 23. Kaum Syiah meyakini Lailatul Qadar kemungkinan besar jatuh pada malam 23 Ramadhan, sementara Ahlu Sunah percaya malam mulia itu lebih mungkin jatuh pada malam 27 Ramadhan.

Para pemuka agama senantiasa menjalankan tradisi mulia ini dan mereka berebut berkah malam Lailatul Qadar. Rasulullah Saw tidak hanya pada malam Lailatul Qadar, tapi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan beliau menyibukkan diri dengan ibadah dan melipat tempat tidurnya.

Di malam 19 Ramadhan, sebuah peristiwa getir terjadi dalam sejarah Islam yaitu penikaman Imam Ali as saat sedang sujud di Masjid Kufah pada waktu sahur. Kepala Imam Ali ditebas dengan pedang beracun oleh Ibnu Muljam Muradi, dan beliau gugur syahid pada 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah.

Pada malam itu, Imam Ali as menjadi tamu di rumah putrinya, Ummu Kultsum al-Kubra di kota Kufah. Amirul Mukminin hanya menyantap tiga suap makanan dan kemudian menyibukkan dirinya dengan ibadah. Imam Ali tampak tidak tenang pada malam itu dan sesekali menatap ke langit. Ia mengelus jenggotnya sambil berkata, “Ya Allah! Janji kekasih-Mu Rasulullah sudah dekat. Ya Allah! Jadikan kematian sebagai keberkahan bagi Ali."

Di tengah kegelapan malam setelah sahur, Imam Ali as keluar dari rumah untuk memimpin shalat subuh di Masjid Kufah. Angsa-angsa di halaman rumah mengerumuninya dan berteriak-teriak. Orang-orang ingin mengusir kerumunan angsa itu, namun Imam berkata, "Biarkan saja, karena angsa-angsa itu tengah meratapi kematianku.”

Mendengar ucapan itu, Ummu Kultsum mulai khawatir dan berkata, "Biarkan Ja'dah yang pergi ke masjid untuk mengimami shalat." Imam menjawab, "Tidak ada yang bisa lari dari takdir Tuhan." Imam Ali kemudian mengencangkan ikat pinggangnya dan melangkah menuju masjid.

Mihrab tempat Imam Ali as ditikam oleh Ibnu Muljam di Masjid Kufah.
Saat sedang mendirikan shalat di mihrab Masjid Kufah, Ibnu Muljam datang mendekat dan mengayunkan pukulan pedangnya ke kepala Imam Ali, tepat ketika ia hendak bangun dari sujudnya. Darah mengucur deras dari kepala suci itu dan dengan suara lengking, Imam Ali berteriak, “Fuztu wa Rabbil Ka’bah…Demi Tuhan Ka’bah, sungguh aku telah beruntung."

Setelah salam, dia mengusapkan tanah sujud ke dahinya sembari mengucapkan firman Allah Swt dalam surat Thaha ayat 55; "Dari tanah itulah Kami jadikan kalian dan kepadanya Kami akan mengembalikan kalian dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kalian pada kali yang lain."

Shalat merupakan ikatan terindah antara Ali as dengan Tuhan dan dalam kondisi itu, ia tidak memikirkan apapun selain Allah Swt. Dalam kondisi kritis, Imam as masih mewasiatkan anak-anaknya dengan shalat sambil berkata, "Allah, Allah, dirikanlah shalat, karena ia adalah tiang agama."

Syeikh Abu Bakr Shirazi dalam Risalah Etikad menulis, "Ayat 17 dan 18 surat Adh-Dhariyat yang berbunyi 'Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar,' adalah berkenaan dengan Imam Ali as. Karena ia tidur di sepertiga malam dan melakukan ibadah di dua pertiga malam yang tersisa. Dalam sebuah riwayat yang dinukil oleh ratusan ulama, Ali as berkata, 'Sebelum satu orang pun menjadi muslim atau mendirikan shalat, aku sudah mendirikan shalat bersama Rasulullah di usia tujuh tahun.'"

Imam Ali as dalam shalat terakhirnya di Masjid Kufah mengucapkan kalimat “Fuztu wa Rabbil Ka’bah." Dengan ucapan ini, ia ingin mengekspresikan kerinduannya akan mati syahid dan pertemuan dengan Sang Kekasih.

Ketika masyarakat Kufah mengkhawatirkan kondisinya, Ali as dalam sebuah kalimat yang indah berkata, "Demi Allah, tidak ada sesuatu yang terjadi atasku di luar penantian, seperti orang yang mencari air di padang pasir saat gelap gulita dan kemudian tiba-tiba menemukan sumur atau mata air. Perumpamaanku adalah ibarat pencari air yang akhirnya menemukan apa yang dicari."

Manusia membutuhkan rahmat dan kasih sayang dari Allah Swt. Orang-orang mukmin selain bersyukur atas karunia Allah, mereka juga menyampaikan keinginan-keinginannya dalam doa dan munajat.

Kegiatan membaca al-Quran di Masjid Kufah selama Ramadhan. (dok)
Allah Swt juga berjanji akan mengabulkan doa-doa mereka dan berfirman, "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS: Al-Baqarah ayat 186)

Doa adalah cara yang paling intim untuk berkomunikasi dengan Tuhan, setiap orang dengan leluasa bisa bercengkrama dengan-Nya, memohon sesuatu dari-Nya atau meminta ampunan atas dosa-dosanya.

Secara umum doa berarti menyampaikan kebutuhan. Artinya, manusia secara fitrah percaya pada kekuatan luar biasa yang bisa melindunginya, memenuhi kebutuhannya, dan membantunya mencapai tujuan-tujuannya.

Tetapi, doa juga memiliki makna lain dan ia adalah sebuah dialog yang bersumber dari makrifat dan pengenalan batin kepada Allah Swt seperti, doa Kumail dari Imam Ali as atau doa-doa Nabi Ibrahim as yang diabadikan dalam al-Quran. Semua doa ini bersumber dari sebuah makrifat dan pengenalan batin. Demikian juga dengan doa-doa yang terdapat dalam buku Shahifah Sajjadiyah dari Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad as.

Doa sama seperti kunci untuk membuka pintu bagi manusia dan tidak ada perantara dalam hal ini. Dengan kata lain, doa adalah sebuah saluran khusus yang disediakan Allah untuk hamba-Nya sehingga dalam kondisi apapun dan dimana pun, mereka dapat menghubunginya dan menyelamatkan dirinya dari himpitan masalah.

Ketika kita mengucapkan kalimat "Ya Rabbi" atau "Ya Allah" dalam kesendirian, suara kita langsung didengar oleh Tuhan tanpa jarak sama sekali.

Imam Ali as dalam kitab Nahjul Balaghah berkata, "Ketika engkau menyeru-Nya, Dia mendengar seruanmu, ketika engkau bermunajat kepada-Nya, Dia mengetahui ucapanmu, engkau menyampaikan hajatmu kepada-Nya, menunjukkan dirimu apa adanya di hadapan Tuhan, dan setiap kali engkau ingin, engkau berkeluh kesah dengan-Nya dan menyampaikan seluruh masalah dan keluh kesahmu."

Allah Swt adalah Dzat yang memiliki kekuatan mutlak serta pencipta dan pengatur semua urusan di alam semesta. Dia menciptakan apapun yang dikehendaki dalam sekejap, meskipun harus menciptakan jutaan matahari seperti matahari yang menerangi bumi kita.

Ketika seseorang membangun hubungan dengan Dzat seperti itu dan berkeluh-kesah di hadapan-Nya, bersujud di hadapan-Nya, dan mencucurkan air mata atas masalah yang dihadapinya, tentu saja cahaya harapan akan menerangi lubuk hatinya. 

Read 1155 times