Tantangan Imigran Muslim di Eropa (7)

Rate this item
(0 votes)
Tantangan Imigran Muslim di Eropa (7)

 

Salah satu alasan negara-negara Eropa mengadopsi pendekatan negatif terhadap imigran Muslim adalah karena perbedaan identitas dan budaya mereka dengan budaya Eropa.

Kebanyakan warga Muslim di Eropa tidak menerima secara penuh budaya Barat dan belum terintegrasi secara utuh di tengah masyarakat Eropa. Realitas ini bertentangan dengan keinginan para pemimpin Eropa.

Ada dua pendekatan yang berbeda dalam memperlakukan komunitas Muslim di Eropa. Pertama, penekanan pada multikulturalisme dan pendekatan ini tampaknya diterapkan di negara-negara Eropa seperti Inggris. Masyarakat Muslim dipandang sebagai minoritas dengan identitas sendiri dan totalitas yang terintegrasi.

Dan kedua, pendekatan integratif (pembauran/penyatuan) di mana mendapat dukungan dari beberapa negara Eropa seperti Perancis. Pendekatan ini menginginkan pemberian hak-hak yang kelihatan setara dengan warga asli Eropa kepada minoritas agama termasuk Muslim dan meng-eropakan mereka (eropaisasi).

Para pendukung pendekatan integratif ingin menyatukan masyarakat Muslim ke dalam struktur budaya dan peradaban Eropa. Dalam pandangan pemerintah Eropa khususnya Perancis dan Inggris, Islam dapat dibagi menjadi Islam radikal dan moderat.

Pendekatan ini berusaha mengelompokkan Muslim ke dalam istilah moderat dan radikal, dan kemudian mendukung kelompok Islam moderat. Para pemimpin Islam moderat juga akan menerima pendidikan untuk menyesuaikan diri dengan nilai-nilai Eropa.

Dalam upaya eropaisasi imigran Muslim, media-media dan think tank (wadah pemikiran) Eropa melakukan propaganda luas untuk menunjukkan bahwa Islam radikal itu benar-benar nyata dan menjadi lawan dari Islam moderat.

Barat menyebut kelompok-kelompok teroris yang berafiliasi dengan Arab Saudi seperti Al Qaeda, Daesh, dan Front al-Nusra sebagai kubu Islam radikal, sementara Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan para politisi Arab jebolan Barat diperkenalkan sebagai kelompok Islam moderat.

Di Eropa sendiri, pemerintah mendirikan lembaga-lembaga budaya dan Islamic Center untuk membuktikan keberadaan Islam moderat. Pembangunan Islamic Cultural Center di Belgia dan Dewan Pusat Muslim di Jerman adalah contoh dari kebijakan Eropa untuk menyatukan masyarakat Muslim dengan peradaban Eropa.

Dewan Agama Islam Perancis (CFCM) juga didirikan sebagai perwakilan masyarakat Muslim dalam berinteraksi dengan pemerintah Perancis. Lembaga dengan fungsi yang sama juga dibentuk di Inggris.

Negara-negara Eropa yang pro-integrasi imigran Muslim juga mengalokasikan dana riset untuk lembaga-lembaga, yang bertugas menjelaskan masalah pembauran imigran Muslim ke dalam masyarakat Eropa.

Di Perancis, setiap individu Muslim harus menerima prinsip-prinsip sekuler dan dalam mendefinisikan identitasnya, ia harus memperkenalkan dirinya sebagai warga Perancis, dan setelah itu baru berbicara tentang identitasnya sebagai Muslim.

Di negara itu, program integrasi meminta imigran Muslim untuk berkomitmen dengan nilai-nilai republik. Di Jerman, mereka diminta untuk setia pada nilai-nilai Jerman atau nilai-nilai liberal.

Sementara itu, negara-negara seperti Inggris dan Belanda menerapkan pendekatan multikulturalisme. Pemerintah tampaknya menerima keberagaman identitas ketimbang mengupayakan pembauran identitas.

Meski beberapa negara Barat seperti Inggris dan Amerika Serikat menerima multikulturalisme, namun saat ini banyak pihak di Barat mengkritik pendekatan tersebut. Dosen Universitas Harvard, Robert Putnam menuturkan, "Dispersi budaya menyebabkan tidak terbentuknya komunitarianisme (gagasan yang meyakini bahwa individu bukan aktor yang lepas dari lingkungannya) dan perpecahan di antara masyarakat Muslim dan Inggris meningkat."

Banyak riset mencatat bahwa pendekatan integrasi dan asimilasi pendatang Muslim di masyarakat Eropa telah gagal dalam banyak kasus. Kajian yang dilakukan Profesor Maria Haberfeld menunjukkan bahwa ada penolakan terhadap identitas Eropa di antara seluruh lapisan sosial dan ekonomi Muslim dan hanya tujuh persen dari Muslim di Inggris yang memperkenalkan dirinya sebagai warga Inggris, sementara 81 persen dari mereka lebih memilih menyebut dirinya Muslim.

Menurut sebuah survei tentang Muslim Inggris pada 2016, semakin banyak warga Muslim yang merasa dirinya tidak terkait dengan masyarakat Eropa. Sepertiga responden mengatakan bahwa mereka merasa memiliki banyak kesamaan dan ikatan yang lebih besar dengan Muslim di negara-negara lain ketimbang dengan masyarakat non-Muslim Inggris.

Jadi, peningkatan sentimen anti-imigran di antara pemerintah-pemerintah Eropa akan memperkuat rasa keterasingan dan ketidakcocokan imigran Muslim dengan masyarakat Eropa.

Penelitian menunjukkan bahwa kelompok sayap kanan dan anti-imigran memainkan peran utama dalam memperbesar pendekatan negatif terhadap imigran Muslim di Eropa.

Kelompok sayap kanan ekstrem Inggris dalam sebuah aksi protes. (Dok)
Sayap kanan ekstrem biasanya menguasai 10 persen suara di Austria, Belgia, Denmark, Perancis, dan Italia, dan sekitar 20 persen suara di Finlandia dan Norwegia. Angka ini meningkat dalam beberapa tahun terakhir di sebagian negara Eropa.

Dalam situasi seperti ini, rasa keterasingan warga Muslim dengan masyarakat Eropa merupakan reaksi alami mereka yang hidup di tengah sebuah budaya yang berlawanan.

Imigran Muslim di Perancis, Jerman, Belgia, dan negara-negara Eropa lainnya telah menciptakan "masyarakat paralel" dan lebih tertarik pada praktik-praktik keagamaan dan norma-norma budaya di negara asal mereka daripada budaya dan adat-istiadat negara-negara Eropa.

Pendekatan diskriminatif pemerintah Eropa dan pengucilan komunitas paralel ini telah membuat mereka rentan terhadap perekrutan oleh kelompok-kelompok radikal.

Pendekatan diskriminatif ikut mempersulit proses integrasi sosial-budaya Muslim di tengah masyarakat Eropa, dan rasa keterasingan ini telah meningkatkan kerentanan imigran Muslim dari propaganda sa

Read 94 times

Add comment


Security code
Refresh