Surat Adh-Dhariyat 47-53

Rate this item
(0 votes)
Surat Adh-Dhariyat 47-53

 

Surat Adh-Dhariyat 47-53

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ (47) وَالْأَرْضَ فَرَشْنَاهَا فَنِعْمَ الْمَاهِدُونَ (48) وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (49)

Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa (51: 47)

Dan bumi itu Kami hamparkan, maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami). (51: 48)

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah. (51: 49)

Ayat ini kembali mengisyaratkan kekuasaan Tuhan di penciptaan langit dan bumi serta makhluk hidup, sehingga para pengingkar maad tidak lagi memiliki keraguan. Oleh karena itu, pertama-tama ayat ini menyinggung keagungan langit dan menyatakan, "Bintang-bintang di atas kepala kalian dan yang kalian saksikan, serta galaksi yang tengah berputar dan kalian tidak mampu menyaksikan awal dan akhirnya adalah saksi kekuasaan besar Tuhan."

Ayat ini dengan jelas menyebutkan bahwa Tuhan menciptakan langit dan terus memperluasnya. Penemuan para ilmuwan juga menjelaskan bahwa dunia tidak diam dan terus berkembang. Berdasarkan teori ini, bintang-bintang yang berada di sebuah galaksi dengan cepat keluar dari pusatnya.

Tentu saja, para ilmuwan percaya bahwa perluasan alam semesta mengharuskan alam semesta memiliki titik awal di mana ia menyusut dan dari mana ia mulai berkembang ke keadaan sekarang.

Bukan saja langit di atas kalian, bahkan Tuhan menciptakan bumi di bawah kaki kalian serta memperluas dataran sehingga bumi akan siap untuk tempat tinggal kalian, untuk pertanian, peternakan, dan kebutuhan lainnya. Dengan kata lain, semua kondisi kehidupan disediakan oleh Tuhan untuk menerima manusia, yang merupakan tamu Tuhan di planet ini.

Untuk memperjelas hal ini, kami akan memberi contoh peran atmosfer bagi kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Atmosfer bumi, yang mengelilinginya, menahan panas matahari. Oleh karena itu, ini mencegah bumi menjadi sangat dingin di malam hari atau terlalu panas di siang hari. Selain itu, atmosfer Bumi, sebagai perisai yang kuat, melindungi Bumi dan penghuninya dari serangan meteor; Sedemikian rupa sehingga begitu meteor menghantam atmosfer, ia membakar dan menghancurkannya.

Setelah berbicara mengenai penciptaan langit dan bumi, mulai dibahas mengenai berbagai makhluk hidup. Tuhan menetapkan hukum berpasangan sehingga menjamin kelangsungan setiap makhluk hidup, dan secara alami generasi manusia dan seluruh makhluk hidip lainnya tetap berlanjut. Sistem dan hukum berpasangan ini mencakup seluruh makhluk hidup.

Memperhatikan hal ini sudah cukup bagi manusia untuk memahami kekuasaan sang pencipta menetapkan Hari Kiamat dan mereka tidak akan lagi keras kepala menolaknya.

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin penting yang dapat dipetik:

1. Dunia tidak statis, ia terus bergerak dan berkembang.

2. Hukum berpasangan tidak terbatas pada manusia, hewan dan tumbuhan, tetapi juga mencakup benda mati.

3. Al-Quran bukan kitab untuk mengenal fenomena alam, tapi untuk menyingkap tirai kebodohan dan kelalaian dari pandangan manusia, mengisyaratkan sebagian hukum alam yang menunjukkan kekuasaan pencipta alam semesta.

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ (50) وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ (51)

Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. (51: 50)

Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. (51: 51)

Melanjutkan ayat sebelumnya, ayat ini memerintahkan Rasulullah Saw memberi peringatan kepada orang musyrik dan kafir. Ayat ini menyatakan,"Dari pada kalian menetapkan pembantu bagi Allah Swt dalam mengurus sistem penciptaan atau mengatur urusan dunia, lebih baik kalian hentikan penyembahan terhadap berhala batu atau sesembahan lain serta berlindung kepada Tuhan sehingga kalian menemukan jalan yang benar bagi kehidupan dan tidak tertimpa azab serta nasib buruk orang kafir."

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin penting yang dapat dipetik:

1. Kekayaan dan kekuasaan serta sahabat dan kenalan, bukan jaminan yang menjanjikan bagi manusia. Hanya Tuhan tempat berlindung yang aman bagi manusia, oleh karena itu, sudah selayaknya kita bertawakkal kepada-Nya.

2. Para nabi selain menyeru kepada tauhid dan memberi petunjuk kepada manusia untuk berbuat baik, juga berkewajiban untuk memperingatkan mereka akan akibat pemikiran dan keyakintan keliru serta perbuatan buruk.

كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ (52) أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ (53)

Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila". (51: 52)

Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (51: 53)

Dipembahasan sebelumnya dijelaskan bahwa Firaun menuding Nabi Musa as sebagai penyihir atau orang gila, supaya masyarakat menjahuinya. Ayat ini menyatakan, bukan hanya Nabi Musa yang difitnah seperti ini, tapi seluruh utusan Tuhan sepanjang sejarah juga mendapat fitnahan serupa.

Perbuatan seperti ini sepertinya marak di berbagai kaum, seakan-akan setiap kaum merekomendasikan kaum yang lain untuk melakukan fitnahan seperti ini dan jangan segan-segan melakukannya. Padahal yang benar bukan demikian, tapi semangat penentangan dan penyimpangan dari kebenaran telah mendorong mereka melakukan hal ini untuk mengusir utusan Tuhan dari tengah masyarakat. Jika mereka gagal, mereka langsung menghapus para nabi tersebut dengan menerornya.

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin penting yang dapat dipetik:

1. Janganlah kita takut dengan lidah tajam dan fitnah lawan dan janganlah kita mundur, karena para nabi ilahi selalu dihadapkan pada segala macam fitnah dan tudingan palsu.

2. Para taghut dan orang lalim melawan para nabi, menempatkan manusia di depan para nabi ilahi sampai-sampai ia bersedia menyebut mereka penyihir atau gila.

Read 128 times

Add comment


Security code
Refresh