Mengapa Barat Ingin Merundingkan Kehadiran Iran di Timteng?

Rate this item
(0 votes)
Mengapa Barat Ingin Merundingkan Kehadiran Iran di Timteng?

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, menyatakan bahwa bangsa Iran selalu siap memberikan pelajaran kepada para agresor, dan menekankan bahwa kehadiran Iran di kawasan tidak ada urusannya dengan Amerika Serikat dan Eropa.

Menurut Kantor Berita ABNA, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, menyatakan bahwa bangsa Iran selalu siap memberikan pelajaran kepada para agresor, dan menekankan bahwa kehadiran Iran di kawasan tidak ada urusannya dengan Amerika Serikat dan Eropa.

Rahbar mengemukakan hal itu pada hari Kamis (08/3/2018) dalam pertemuan dengan para penyair dan pelantun puisi Ahlul Bait as, di Tehran. 

Menyinggung tuntutan para pejabat Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk berdialog dengan Republik Islam soal kehadirannya di kawasan, Rahbar mengatakan, di saat Amerika Serikat hadir di semua wilayah  dalam rangka menebar fitnah dan menimbulkan  kerusakan, mereka kini bersikeras menciptakan keraguan soal kehadiran Iran di kawasan.

Menjawab permintaan sejumlah pejabat Eropa soal perundingan dengan Iran untuk membicarakan kehadirannya di kawasan, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran ini balik melontarkan pertanyaan, "Apa urusan orang-orang Eropa dengan kehadiran Iran di kawasan? Kawasan (Timur Tengah) ini milik kami atau kalian?"

Republik Islam Iran pasca kemenangan Revolusi Islam tampil sebagai pemain independen dan di luar jangkauan pengaruh Amerika Serikat atau Eropa. Selama itu, Iran aktif menindaklanjuti kepentingan strategisnya dan juga bangsa-bangsa wilayah Asia Barat. Dengan bersandarkan pada asas kerukunan bertetangga dan itikad baik, Iran merangkul bangsa-bagnsa di kawasan untuk berdialog membicarakan transformasi politik dan keamanan regional. 

Dialog regional itu digelar dalam kerangka perwujudan keamanan permanen tanpa campur tangan negara-negara transregional. Ini telah menjadi pedoman utama dalam politik luar negeri Republik Islam Iran. Usulan Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif untuk membentuk dewan dialog regional, juga dikemukakan untuk menyelesaikan berbagai masalah dan krisis di kawasan. Ini merefleksikan kehadiran konstruktif dan positif Iran di wilayah Asia Barat.

Kegagalan kelompok teroris Daesh untuk membangun rezim khilafah di Irak dan Suriah, juga merupakan berkat kehadiran bertanggungjawab dan berpengaruh Republik Islam di Asia Barat. Sementara itu, kerjasama dan dialog dengan pemerintah Irak dan Suriah, juga menggagalkan makar dan propaganda Barat khususnya Amerika Serikat terealisasi.

Perhatian kepada bangsa-bangsa regional dan bantuan kepada mereka menghadapi barisan musuh, merupakan tanggungjawab esensial Iran sebagai negara berpengaruh di kawasan. Keberhasilan front muqawama dari mulai di Lebanon, Suriah, Irak hingga Yaman, merupakan contoh baik kerjasama progresif regional.

Tampaknya kerjasama tersebut telah membuat Amerika Serika dan Eropa gusar karena kepentingan regional mereka di kawasa terancam. Karena itu pula, mereka sekarang menuntut perundingan dengan Republik Islam.

Barat khususnya Perancis, Inggris dan Amerika Serikat, sekarang mengklaim bahwa peran Iran di kawasan destruktif, di saat kelompok-kelompok teroris yang aktif di Irak dan Suriah, mendapat dukungan finansial dan senjata dari mereka. Tidak hanya itu, perang dan perusakan berkepanjangan di Yaman juga berlanjut karena lampu hijau dari Barat. 

Yang jelas kehadiran Republik Islam Iran di kawasan benar-benar efektif dalam mewujudkan keamanan sehingga negara-negara "pebisnis krisis" Barat merasa eksploitasi mereka di kawasan sedang terancam.

Read 151 times

Add comment


Security code
Refresh