Mimpi Amerika Wujudkan Timur Tengah Baru (1)

Rate this item
(0 votes)
Mimpi Amerika Wujudkan Timur Tengah Baru (1)

Seiring dengan berakhirnya Perang Dingin, era baru perubahan kebijakan Amerika Serikat di Asia Barat, dimulai. Kubu neo-konservatif dan Zionis ekstrem di Gedung Putih, mendesak dilakukannya revisi terhadap rencana strategis di Timur Tengah, sehingga terbuka peluang untuk memperkuat posisi Amerika di kawasan ini.  

Atas maksud inilah, ide Timur Tengah Raya di kawasan digulirkan. Realisasi ide ini ditandai dengan kehadiran militer dan pengaruh politik Amerika dalam selubung proses demokratisasi dan reformasi politik versi Amerika.

Akan tetapi, kegagalan proyek Timur Tengah Raya menyebabkan Amerika harus melupakan rencana menjaga wilayah di Timur Tengah dan proses demokratisasi, dan beralih pada upaya memecah belah wilayah geografis Timur Tengah dengan meniru model penjajahan berdasarkan perjanjian Sykes Picot.

Proses pecah belah kawasan Timur Tengah yang dilakukan, berpusat pada poros pertentangan mazhab, etnis dan ras dari masyarakat majemuk Timur Tengah dan merestrukturisasi proyek Sykes Picot. Amerika yang punya rekam jejak cukup lama di Timur Tengah, berkesimpulan bahwa memanfaatkan konflik internal dan menciptakan kekacauan di Timur Tengah, lebih menguntungkan.

Daesh
Pasalnya, kekacauan di Timur Tengah diyakini dapat menekan kemungkinan lahirnya model-model demokrasi dan kebangkitan Islam yang secara substantif, bertentangan dengan kebijakan Amerika.

Mantan pegawai dinas intelijen Amerika, CIA, Edward Snowden pernah mengatakan, badan intelijen Amerika bekerjasama dengan dinas intelijen Inggris, MI6 dan intelijen rezim Zionis Israel, Mossad untuk membentuk kelompok teroris Daesh.

Dalam dokumen rahasia yang dibocorkannya, Snowden menunjukkan sejumlah bukti bahwa Amerika dengan kerja sama Israel dan Inggris, dalam salah satu operasinya berusaha membentuk sebuah kelompok teroris yang menghimpun seluruh ekstremis dunia, dan operasi itu diberi sandi "Sarang Lebah Hornet", The Hornet Nest Operation.

Menurut keterangan Snowden dan bukti-bukti yang ditunjukkannya, operasi Sarang Lebah Hornet sebelumnya pernah dirancang Inggris untuk membantu Israel, dan operasi ini berusaha membentuk sebuah kelompok berjubah Islam dan menerapkan aturan ekstrem, namun menolak semua keyakinan lain.

Snowden menuturkan, satu-satunya jalan untuk membantu Israel adalah menciptakan musuh di dekat perbatasan yang mengarahkan moncong senjatanya bukan ke Israel tapi ke negara-negara Muslim.

Dalam kerangka proyek Timur Tengah Baru yang di dalamnya Israel memainkan peran kunci untuk menjaga kepentingan ekonomi dan militer Amerika, Gedung Putih berupaya menumpas perlawanan terhadap hegemoninya di kawasan.

Secara ekonomi, target terpenting Amerika di kawasan adalah akses mudah dan murah terhadap sumber energi melimpah di Teluk Persia yang diduga memiliki cadangan lebih dari 60 persen minyak dunia. Untuk mewujudkan keinginannya itu, kekuatan militer menjadi salah satu prioritas pemerintah Amerika.

Enam bulan sebelum dimulainya operasi militer Amerika di Irak, mantan deputi menteri pertahanan negara itu pernah berusaha membujuk Turki untuk bergabung dalam agresi militer ke Irak. Ia mengatakan, demokrasi di negara-negara kawasan akan dimulai dari Irak.

Amerika dan Daesh
Sebagai kelanjutan dari langkah itu, dibuatlah Doktrin Powell. Tujuan utama doktrin ini mempersiapkan bangunan masyarakat, pemerintah, kalangan intelektual dan kebudayaan di Timur Tengah baru. Langkah semacam ini dianggap oleh sejumlah pihak lumrah dalam dunia diplomasi dan membawa pesan yang jelas, namun biasanya kebijakan yang diumumkan ke publik berbeda dari yang diterapkan.

Amerika karena terlanjur diketahui punya rekam jejak dalam pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan kemanusiaan yang tak terhitung jumlahnya, terpaksa kembali menampakkan diri sebagai negara pendukung demokrasi, perdamaian dan HAM. Di kawasan, Gedung Putih mengklaim diri tengah membangun iklim demokrasi, namun dalam dua dekade terakhir berusaha menaikkan boneka pendukung Barat ke tampuk kekuasaan.

Penggunaan isu terorisme sebagai alat, setelah proyek Al Qaeda dan perubahan strategi Amerika pasca peristiwa 11 September, dipusatkan pada aksi Daesh. Kenyataannya, Daesh adalah kata kunci baru Amerika untuk membongkar proyek Timur Tengah Baru. Dalam hal ini, jika pendudukan Daesh di Irak dan Suriah berlanjut, maka bisa mengubah konstelasi politik kawasan yang dianggap mustahil terjadi sebelum munculnya Daesh.

Perekrutan para ekstremis dari Eropa, Afrika dan Asia, membuka peluang penggabungan seluruh kelompok teroris dari berbagai negara dunia. Salah satu kelompok teroris itu adalah Salafi Takfiri yang lahir dan tumbuh di Timur Tengah. Dengan memanfaatkan jaringan komunikasi modern, mereka berhasil menghimpun teroris dan kelompok tertentu dari seluruh penjuru dunia.

Aksi pertama Daesh pada Maret 2013 adalah merebut dan menduduki kota Raqqa di Suriah. Kota ini adalah ibukota provinsi pertama Suriah yang jatuh ke tangan teroris. Pada Januari 2014, Daesh berhasil merebut kota Fallujah di Provinsi Al Anbar, Irak, disusul dengan Ramadi dan beberapa wilayah di timur laut Irak dekat perbatasan Turki dan Suriah. Terakhir Daesh berhasil menduduki kota Mosul, kota terbesar kedua di Irak, pada Juni 2014 dan memperlebar cakupan wilayah pertempuran hingga ke sekitar Samarra, Baqubah, bahkan ke Jalula.

Langkah Daesh berikutnya adalah mengorganisir pasukan bersamaan dengan penyebaran pemikiran Takfiri dan perekrutan anggota untuk melancarkan aksi teror yang lebih luas di Irak. Langkah ini dimulai dengan serangan Daesh ke markas-markas dan pangkalan militer Irak di Provinsi Ninawa dan Salahuddin. Selanjutnya diikuti dengan pengumuman berdirinya kekhalifahan Daesh.

Kekhalifahan Daesh semakin kokoh karena mendapat dukungan mencurigakan dari dalam kawasan sendiri dan luar kawasan. Proyek ini sebenarnya adalah skenario lama yang dirancang kekuatan imperialis untuk menciptakan krisis di Timur Tengah sehingga bisa mewujudkan ambisinya memecah belah dan melemahkan negara-negara independen di kawasan.

Jika diperhatikan, skenario-skenario yang dijalankan Barat di Timur Tengah ternyata saling terkait satu dengan lainnya. Dalam perang 33 hari Lebanon, serangan Israel ke Lebanon diharapkan bisa menumpas Hizbullah dan menghapus masalah Palestina untuk selamanya. Proyek ini dinamai, lahirnya Timur Tengah Baru, dan masyarakat internasional diminta menderita sementara akibat kelahiran sistem baru ini.

Timur Tengah
Namun menyusul kegagalan operasi militer Israel, Henry Kissinger mengaku yakin, selama Hizbullah masih kuat, penyelesaian masalah Palestina tidak mungkin terwujud, baik dengan cara damai ataupun perang. Ia percaya, untuk mengalahkan Hizbullah, pertama harus dibuka saluran komunikasi dengan Iran dan memutus jalur utama penyaluran bantuan Iran ke Lebanon, dan jalur utama itu adalah Homs, Suriah. Oleh karena itu, proyek ini mungkin dapat disebut sebagai proyek "memutus rantai".

Realitasnya, tujuan Amerika dan beberapa negara kawasan khususnya Arab Saudi mendukung Daesh adalah mengembalikan dominasi militer Amerika di kawasan, melemahkan poros perlawanan demi melindungi Israel dan menyingkirkan negara-negara yang secara nyata berada di garis depan perang melawan terorisme.

Selama berjalannya proyek itu di kawasan, terjadi beberapa peristiwa menentukan dan transformasi penting yang menunjukkan bahwa Amerika berusaha memaksakan strategi keamanan dan politiknya di kawasan.

Salah satu staf pengajar di jurusan ilmu politik, Bluefield State College, Virginia, Amerika, Dr. Colin S. Cavell mengatakan, ekspor lebih dari sepertiga senjata ke seluruh penjuru dunia, menjadikan Amerika sebagai pemasok senjata terbesar dunia.

Penjualan senjata Amerika ke Timur Tengah dan Afrika Utara dalam lima tahun terakhir mencapai lebih dari 100 juta dolar. Di sisi lain, ekspor senjata Amerika ke Timur Tengah dan Afrika Utara meningkat seiring dengan meningkatnya instabilitas dan ketidakamanan di kawasan itu.

Amerika berkesimpulan, meluasnya perang internal, pergantian pemerintahan kuat menjadi semi pemerintahan lemah, dan kemungkinan terpecahnya kawasan, lebih mengutungkan kepentingannya. Oleh karena itu, perang saudara dan konflik etnis atau mazhab, yang sudah terpatri di Timur Tengah sejak ditandatanganinya perjanjian Sykes Picot, sekarang didukung penuh oleh Amerika.

Read 13 times

Add comment


Security code
Refresh