Perihal Syahadah Imam Ali as, Pertama Orang Mazlum di Seluruh Dunia

Rate this item
(0 votes)
Perihal Syahadah Imam Ali as, Pertama Orang Mazlum di Seluruh Dunia


Di gulita malam, seorang pria bernama Ibnu Muljam keluar menghunus pedang dan bergegas menuju masjid meski digelayuti oleh kantuknya. Sementara itu, Imam Ali bin Abi Thalib as sedang mengundangkan azan seusai melakukan munajat malamnya. Dan dengan llangkahnya yang berat beliau memasuki Masjid, beliau lalu membangunkan para sahabat. Kemudian beliau menuju ke Mihrab dan berdiri untuk melakukan sholat. Sholat merupakan suatu hubungan fertikal terindah antara Ali bin Abi Thalib as dengan Allah swt, diwaktu sholat dan munajat inilah Ali as telah merasakan sebuah ibadah termanis, dan telah mencapai puncaknya yang terindah, beliau tenggelam dalam gaya tarik Ilahi swt. Pada saat-saat sahar dan dini hari inilah, beliau setelah Ruku’ dan dengan segala kerendahan beliau bersujud kepada Allah swt, dan sewaktu beliau mengangkat kepala dari sujudnya, maka Ibnu Muljam dengan pedangnya yang sudah terhunus, langsung menimpahkan sebuah pukulan telak terhadap kepala Imam Ali as.

Secara langsung terdengar suara Ali bin Abi Thalib as yang memenuhi seluruh relung masjid Kufa : Demi Allah Tuhan Ka’bah aku telah terbebas. Pada saat-saat yang genting inilah Imam Ali as menyatakan sebuah kalimat pendek yang dalam, beliau mengatakan : Demi Allah ! tidak ada perkara yang harus menungguku, aku dengan harapanku telah memperoleh syahadah. Seperti aku juga, bagaikan seseorang yang mencari air dimalam gelap gulita dipadang pasir, namun tiba-tiba orang itu menemukan sumur air atau sebuah sumber mata air. Seperti aku, bagaikan seseorang yang mencari-cari itu telah menemukan apa yang dicarinya itu.

Dua hari setelah peristiwa tersebut, Ali bin Abi Thalib as telah gugur sebagai syahid menuju kesisi Allah, sehingga melenyapkan kedengkian dan rasa permusuhan dikalangan kaum munafiqin kepada beliau. Beliau as telah bertemu dengan dzat yang Haq, sekaligus pergi bersama keadilan, penjaga yang jujur, dan pelaksana Islam yang tegas. Setelah perginya Imam Ali bin Abi Thalib as, para penjahat yang suka menginjak-injak keadilan tetap saja dengan aksinya, maka saat itu kejahatan pun merajalelah.

Setelah itu Imam Ali as dikebumikan, dan Imam Hasan bin Ali putra beliau naik mimbar, dan berkata : wahai manusia ! seseorang pemimpin telah meninggalkan kalian semua, dan tidak akan ada lagi orang-orang sekarang dan yang akan datang dapat mencapai seperti kedudukan beliau. Rasulullah saww telah mempercayakan panji-panji Islam ditangannya, dan diutus dengan simbol-simbolnya, dia tidak akan kembali kecuali membawa kemenangan. Malaikat Wahyu berada disisi kanannya, sedang Malaikat yang lainnya disisi sebelah kirinya. Beliau telah mengeluarkan 700 dirham dari sisinya.

Hasan Shamiti seorang doktor Linguistik, mengatakan : Imam Ali bin Abi Thalib adalah seorang manusia sempurna, dan terkenal dalam segala segi. Keberasan Ali bin Abi Thalib as bagiku merupakan sebuah kehormatan, dimana beliau telah meninggalkan pernyataan bagi kehidupan manusia. Disisi beliau seorang manusia dapat menjadi mulia dan pecinta haq. Pandangan beliau terhadap manusia, khususnya kaum faqir miskin merupakan penghormatan dan kemuliaan. Beliau disaat pemerintahannya lebih banyak mengupayakan penegakkan hak-hak masyarakat, beliau lebih banyak mempercayai mereka, dan beliau menentang penghinaan dan kehinaan dalam menghadapi orang-orang lain. Karena itulah Imam Ali as mengatakan kepada orang yang berlari menyambut dan mengikuti jalannya : janganlah kalian ikuti jalan hidupku, dan janganlah kalian terhina dalam menghadapiku.

Beliau as dengan segala kelayakannya tentu tidak menanggung kepada setiap individu dan masyarakat, yang dengan demikian pemerintahan yang menjadi haq Imam Ali, beliau diam selama 25 tahun namun masyarakat tetap menuju kepada beliau. Beliau as mengatakan : Perhatikanlah, apabila kalian tidak menyaksikan haq, tentu kalian tidak bisa menerima, dan apabila kalian menyaksikan haq, kalian pasti akan membantu. Puncak kemuliaan dan lapang dada Imam Ali as pada point ini dapat kita saksikan, betapa beliau memesankan agar pembunuhnya yang telah ditangkap tidak dianiaya dan disiksa.

Sudah barang tentu Ali bin Abi Thalib as adalah sosok manusia yang cinta Allah, yang senantiasa menjadi ilham dan petunjuk abadi terhadap sebuah hakikat sepanjang masa. Gelegar ombak samudra yang diciptakan oleh Imam Ali as dalam kehidupan manusia, hingga menembus kedalaman relung hati ummat manusia. Beliau as senantiasa menekankan pentingnya Ilmu Pengetahuan, sehingga beliau menyatakan mengenai peranan para Ilmuwan dengan kata-katanya : para pengumpul harta meski saat ini hidup, mereka sudah mati, namun para Cendekiawan atau Ulama Rabbani yang senantiasa kokoh hingga saat ini tetap resistensi, dan meskipun jasad-jasad mereka telah lenyap, namun peranan-peranan mereka tetap exist dalam lembaran-lembaran hati.

 

 

Read 169 times

Add comment


Security code
Refresh