Keagungan Hari Arafah

Rate this item
(0 votes)
Keagungan Hari Arafah

Salah satu amalan haji yang dilakukan pada hari ke-9 bulan Dzulhijjah adalah wukuf di Arafah. Para haji setelah selesai melaksanakan umrah tamattu, bergerak ke Arafah. Arafah adalah sebuah gurun yang rata dan terletak di kaki sebuah gunung bernama Jabal Al Rahmah, 25 kilometer dari kota Mekah.

Tanah Arafah terletak di Tenggara Mekah. Para haji setelah mengenakan ihram dan menyelesaikan umrah tamattu bergerak ke tempat itu. Pada Hari Arafah atau tanggal 9 Dzulhijjah, para haji melakukan wukuf di Arafah, dan melantunkan doa dan munajatnya untuk mendapat rahmat Allah Swt. 

Pada kenyataannya, haji, di antara ibadah-ibadah lainnya adalah ibadah yang paling penuh rahasia dalam hubungan antara Tuhan dengan hamba-Nya. Sebuah ibadah yang setiap amalannya memiliki aspek lahir dan batin. Arafah, salah satunya. Setiap orang yang telah melewati wukuf Arafah akan merasakan makrifat hubungan antara dirinya dengan alam malakut. 

Arafah berarti pemahaman, pengetahuan dan pengenalan terhadap sesuatu disertai dengan perenungan akan dampak-dampaknya. Tanah Arafah disebut Arafah karena ia adalah sebuah wilayah yang jelas dan dikenal di antara gunung-gunung. Gurun Arafah sepanjang sejarahnya menjadi lokasi keberadaan nabi-nabi besar, seperti Nabi Adam as, Nabi Ibrahim as, Nabi Muhammad Saw dan Imam Husein as.

Nabi Adam as dan Siti Hawa setelah keluar dari surga dan tiba di muka bumi, dan setelah terpisah sekian lama, bertemu kembali di tempat ini. Oleh karena itu, wilayah ini disebut Arafah dan harinya sebagai Hari Arafah. Sebagian kalangan mengatakan, Arafah berarti pengenalan, dan Nabi Ibrahim as di tempat ini dikenalkan tentang manasik haji oleh malaikat Jibril.

Dalam sebuah hadis, Imam Shadiq as terkait penamaan Arafah berkata, Jibril mengajarkan tentang Hari Arafah kepada Nabi Ibrahim as. Jibril berkata, akuilah dosa-dosamu dan kenalilah manasik, dan karena beliau mengakuinya, maka tempat itu dinamai Arafah. Nabi Muhammad Saw setelah menunaikan haji wada di tahun ke-10 Hijriah, menyampaikan khutbah bersejarah yang menghasilkan sebuah piagam Islam global dan menjelaskan garis pemisah dari seluruh ajaran-ajaran masa jahiliyah di hadapan para haji di Hari Arafah. 

Imam Husein as sore Hari Arafah, ketika bergerak keluar dari Mekah ke arah Karbala bersama Ahlul Bait as dan sahabat-sahabatnya, beliau keluar dari Gurun Arafah kemudian menuju Jabal Rahmah untuk memanjatkan doanya. Sebuah munajat yang sarat dengan kata-kata indah dalam dialognya dengan Tuhan. Kata-kata yang penuh dengan rasa cinta kepada Tuhan, sehingga bau wangi penghambaan akan selalu tercium di tempat ini hingga akhir masa. 

Kata Arafah dan doa saling bercampur serta berkaitan erat, sehingga semua orang mengenal Arafah sebagai doa dan munajat, dan waktu terbaik untuk berdoa adalah Hari Arafah. Di dalam doa terdapat pintu yang luas dan terbuka serupa dengan seluruh pintu kebahagiaan dan kebaikan. 

Membuka pintu itu lebih mudah dibandingkan dengan membuka pintu-pintu lainnya. Dari seluruh pintu kebahagiaan, hanya pintu doa saja yang bisa mengantarkan manusia ke seluruh tujuan, baik yang khusus maupun umum, tujuan duniawi maupun ukhrawi dan semua harapan serta cita-cita manusia. Arafah adalah sebuah hari ketika doa sangat dekat dengan ijabah.

Diriwayatkan, Imam Ali Zainal Abidin as di Hari Arafah mendengar suara seorang pengemis yang tengah meminta bantuan kepada masyarakat dan kepadanya beliau berkata, celakalah kamu, apakah kamu meminta sesuatu selain kepada Tuhan di hari ini, di saat harapan akan rahmat Tuhan meliputi bayi-bayi di dalam perut ibunya sehingga mereka berbahagia.

Oleh karena itu kewajiban terpenting seorang Mukmin di Hari Arafah, selain harus memperhatikan kasih sayang Tuhan, ia juga harus mengajak orang lain untuk memusatkan perhatiannya pada rahmat, pengampunan dan kasih Tuhan di hari penuh berkah ini, dan mintalah mereka untuk terus berdoa dan memohon kepada Tuhan.

Doa adalah hadiah Ilahi yang dianugerahkan kepada manusia. Sungguh indah ketika berdoa di Hari Arafah, kita lebih dahulu mendoakan orang lain sebelum kita sendiri. Imam Shadiq as terkait dampak luar biasa lebih dulu mendoakan orang lain berkata, barangsiapa yang mendoakan saudaranya, malaikat berseru dari langit, Hai hamba Tuhan 200 ribu kali lipat dari apa yang engkau inginkan akan menjadi milikmu. 

Malaikat yang lain dari langit ketiga berseru, Hai hamba Tuhan 300 ribu kali lipat dari apa yang engkau inginkan akan menjadi milikmu. Malaikat yang lain dari langit keempat berseru, Hai hamba Tuhan 400 ribu kali lipat dari apa yang engkau inginkan akan menjadi milikmu, begitu seterusnya hingga malaikat dari langit ketujuh.

Saat itu, Allah Swt berfirman, Aku tidak membutuhkan sesuatu apapun dan tidak akan pernah membutuhkan, wahai hamba Tuhan, ribuan dari apa yang engkau inginkan akan menjadi milikmu.

Poin penting yang perlu diperhatikan secara seksama di sini adalah, ketika Anda berdoa untuk orang lain, berarti Anda betul-betul menyayanginya dan siap memenuhi hak-haknya yang lain. Karena, jika tidak demikian, maka doa Anda tidak seperti yang dijelaskan dalam riwayat tersebut.

Pentingnya doa di Hari Arafah sedemikian tingginya sehingga Nabi Muhammad Saw yang kerap melaksanakan shalat Zuhur dan Asar dengan jeda waktu, di Hari Arafah melaksanakan kedua shalat itu tanpa jeda sehingga tersedia waktu yang lebih banyak untuk berdoa dan bermunajat. 

Salah satu doa yang paling indah dan mengandung makna yang dalam dan dibaca di Hari Arafah adalah Munajat Imam Husein as. Imam Husein as di dalam doa penuh makna itu, menjelaskan Tauhid dengan kalimat-kalimat luhur dan indah. Semangat irfan dan makrifat mencapai puncaknya di setiap baris doa ini. 

Imam Husein as di dalam doanya menjelaskan salah satu sisi dari nikmat tanpa akhir Tuhan untuk manusia di seluruh kehidupannya. Salah satu di antaranya, Imam Husein as mengatakan bahwa kasih sayang dan kesabaran seorang ibu adalah percikan kasih sayang Tuhan.

Setelah itu Imam Husein as menjelaskan tentang pentingnya bersyukur atas segala nikmat Ilahi dan menganggap dirinya tidak mampu bersyukur bahkan satu kalipun. Setiap baris doa ini adalah pintu dari cinta dan kasih sayang Tuhan yang dibuka bagi manusia. Makna terdalam doa ini menunjukkan bahwa Imam Husein as dengan seluruh wujudnya mencintai Allah Swt dan beliau merasakan kehadiran Tuhan di seluruh wujudnya.

Di salah satu bagian doanya, Imam Husein as bermunajat, Ya Tuhanku Engkaulah yang memberikan nikmat, Engkaulah yang berbuat baik, Engkaulah yang bersikap baik, Engkaulah yang memuliakan, Engkaulah yang membuatku mampu, Engkaulah yang memberikan kemuliaan, Engkaulah menyempurnakan rahmat-Mu, Engkaulah yang memberi rizki, Engkaulah yang bertindak atas kemuliaan-Mu. 

Engkaulah yang menjauhkanku dari dosa, Engkaulah yang menutup dosa-dosa, Engkaulah yang mengampuni dosa-dosa, Engkaulah yang menerima kekurangan, Engkaulah yang mencegahku berbuat dosa, Engkaulah yang memberikan kemuliaan, Engkaulah yang mendukung, Engkaulah yang meneguhkan sikapku, Engkaulah yang memberi kesempatan, Engkaulah yang memberi kesehatan, Engkaulah berderma, Maha Agung Engkau Tuhanku, segala puji selamanya bagi-Mu.  

Akan tetapi aku, Wahai Tuhanku, mengakui seluruh kesalahanku, maka ampunilah aku. Akulah yang berbuat dosa, akulah yang berbuat salah, akulah yang berbuat bodoh, akulah yang berjanji, aku pula yang tidak menepatinya, akulah yang melanggar janji, akulah yang berikrar atas kejahatanku sendiri. Aku mengakui seluruh nikmat yang Engkau berikan kepadaku, aku mengakui semua dosa-dosaku dan tidak akan mengulanginya, maka ampunilah aku.

Read 34 times

Add comment


Security code
Refresh