Pahala Melayani Jemaah Haji

Rate this item
(0 votes)
Pahala Melayani Jemaah Haji

Suatu hari, para sahabat Khaja Abu Sa'id berkumpul di sekitarnya. Dia sedang menjelaskan hadis Rasulullah Saw kepada para sahabatnya dan mereka juga menyimaknya dengan serius. Sebuah kafilah tiba-tiba mendatangi majlis Abu Sa'id dan mereka duduk dengan wajah sedih di majlis itu. Abu Sa'id kemudian menanyakan kondisi mereka.

Kafilah tersebut menjawab, "Kami baru kembali dari perjalanan haji. Rombongan kami diserang oleh perampok dan apa yang kami miliki telah dibawa lari. Sekarang kami tidak memiliki bekal apapun, tidak punya kemampuan untuk meneruskan perjalanan dan tidak mampu kembali ke kampung halaman kami." Abu Sa'id berkata, "Berapa jumlah harta kalian yang dirampok?" "Apa yang kami miliki telah dijarah," jawab kafilah itu.

Abu Sa'id kemudian bertanya kepada para sahabatnya, "Siapa di antara kalian yang bisa membantu kafilah ini dan memberi mereka bekal perjalanan, dan menyediakan apa yang telah hilang dari mereka." Dari arah belakang majlis terdengar suara seorang wanita berkata, "Wahai Syeikh, aku akan membantu kafilah ini dan mengganti rugi harta mereka." Semua orang terkejut dan memuji pengorbanan wanita itu.

Wanita tersebut kemudian meninggalkan majlis dan kembali dengan sebuah kotak kecil. Dia membawa semua emas dan perhiasannya dan menyerahkannya kepada Abu Sa'id. Abu Sa'id menyimpan perhiasan itu selama tiga hari penuh. Dia berkata kepada dirinya, "Wanita ini mungkin melakukannya karena terbawa perasaan dan emosi. Emas dan perhiasan ini sangat bernilai. Wanita ini mungkin akan menyesal dan meminta kembali barang-barangnya."

Tiga hari kemudian wanita tersebut mendatangi Abu Sa'id. Dia meletakkan gelangnya di depan Abu Sa'id dan berkata kepadanya, "Mengapa engkau menyimpan emas dan perhiasan yang aku berikan padamu?" Dia menjawab, "Aku khawatir engkau akan menyesal atas pemberianmu." Wanita itu berkata, "Aku berlindung kepada Allah, tidak demikian. Berikan emas dan perhiasan bersama gelang ini kepada kafilah haji untuk memenuhi janji yang pernah aku ucapkan."

Wanita itu menatap ke bawah dan dengan tenang berkata, "Gelang ini adalah kenangan dari almarhumah ibuku. Semua emas dan perhiasan ini tidak bernilai bagiku. Tadi malam aku bermimpi bahwa aku berada di surga dan wajahku berseri-seri. Aku mulai mengerti bahwa Tuhan Yang Maha Penyayang telah memberi pahala kepadaku karena membantu kafilah haji. Dalam mimpi, aku melihat semua emas dan perhiasan yang aku berikan ada di leherku, tetapi aku tidak menemukan gelang ini di tanganku. Aku bertanya, 'mengapa kenangan dari ibuku tidak ada?'"

Seorang malaikat berkata, "Apa yang telah engkau kirim, telah dikembalikan kepadamu dan apa yang engkau infakkan di dunia, ia ada di surga dan kami kembalikan kepadamu. Jika seluruh isi dunia menjadi milikmu, apa yang telah engkau kirim kemari, ia akan kembali kepadamu dan ia akan tetap menjadi milikmu di akhirat."

Para jemaah haji adalah tamu Allah Swt dan mereka memiliki kedudukan dan kemuliaan di sisi-Nya. Rasulullah Saw dalam sebuah hadis bersabda, "Jemaah haji berada dalam jaminan dan perlindungan Allah, baik ketika ia berangkat maupun kembali. Jika ia menanggung kesulitan dan penderitaan dalam perjalanannya, Allah akan mengampuni dosa-dosanya karena itu, dan setiap langkah yang ia ayunkan, Dia akan meninggikan derajatnya di surga sampai seribu derajat dan setiap tetesan hujan yang membasahinya, pahala mati syahid akan ditulis untuknya."

Dikisahkan bahwa sebuah kafilah Muslim yang ingin menunaikan ibadah haji tiba di kota Madinah. Mereka menetap selama beberapa hari di Madinah untuk menghilangkan rasa lelah. Kafilah tersebut kemudian mempersiapkan hewan tunggangannya dan bergerak ke arah Mekkah. Mereka didatangi oleh seorang laki-laki di tengah jalan antara Madinah dan Mekkah. Para anggota kafilah mengenal lelaki tersebut.

Laki-laki itu kemudian bercerita panjang lebar dengan anggota kafilah. Di tengah pembicaraan, dia melihat seseorang di tengah kafilah yang melayani orang lain dengan penuh semangat dan antusias. Lelaki itu menatap wajah pria tersebut dengan seksama. Wajahnya memancarkan cahaya dan dari raut mukanya, bisa ditebak bahwa ia orang yang saleh dan bertakwa. Lelaki ini mengenal pria tersebut dan berkata dalam hatinya, "Ya Tuhan, apa yang telah dilakukan oleh kafilah ini."

Lelaki tersebut berbalik ke arah kafilah dan berkata, "Apakah kalian mengenal siapa pria yang sedang melayani dan melakukan pekerjaan untuk kalian?" Mereka menjawab, "Tidak, kami tidak mengenalnya. Pria itu bergabung dengan rombongan kami di Madinah. Dia orang yang saleh dan bertakwa. Kami tidak meminta dia untuk melakukan apapun buat kami, tetapi dia sendiri ingin membantu orang lain dan meringankan pekerjaan mereka."

"Jelas kalian tidak mengenalnya, jika kalian tahu, kalian pasti tidak akan bersikap tidak sopan kepadanya dan membiarkan dia melayani kalian," ujar lelaki itu. Kafilah kemudian bertanya, "Siapa gerangan pria tersebut?" "Dia adalah putra Husein bin Ali as, cucu baginda Rasulullah Saw. Dia adalah Ali Zainal Abidin bin Husein as," jawabnya.

Para anggota kafilah bergegas bangkit dari tempatnya. Dengan terburu-buru dan rasa malu, mereka mendatangi Imam Ali Zainal Abidin as. Mereka berkata, "Kami benar-benar merasa malu, mengapa engkau tidak memperkenalkan dirimu kepada kami? Mungkin saja kami telah merendahkan kamu karena ketidaktahuan kami dan kami akan menanggung dosa besar di sisi Allah."

Imam Ali Zainal Abidin as berkata, "Aku sengaja memilih kafilah kalian dan melakukan perjalanan bersama kalian. Ketika aku memilih kafilah yang mengenaliku, mereka akan mencurahkan kebaikan dan kasih sayang untukku karena rasa hormatnya kepada Rasulullah Saw, dan mereka tidak akan membiarkanku melakukan pekerjaan apapun. Oleh karena itu, aku ingin memilih kafilah yang tidak mengenaliku dan aku juga tidak memperkenalkan diri kepada mereka sehingga aku bisa dengan senang hati melayani teman-teman seperjalanan."

Kemuliaan akhlak dan perilaku Imam yang demikian bijak itu membuat siapa pun mengagumi beliau. Sejarawan Muslim terkenal, Ibnu Syahr Asyub menuturkan, "Suatu ketika Imam Ali Zainal Abidin as menghadiri sebuah pertemuan yang digelar Khalifah Umayah, Umar bin Abdul Aziz. Saat Imam meninggalkan pertemuan itu, Umar bin Abdul Aziz bertanya kepada orang-orang di sekitarnya dan berkata, ‘Siapakah orang yang paling mulia di sisi kalian? Semuanya berkata, "Anda wahai khalifah!" Namun ia balik menjawab, "Bukan sama sekali! Orang yang paling mulia adalah sosok yang baru saja meninggalkan pertemuan kita. Semua kalbu dibuat terpesona olehnya hingga siapa pun ingin menjadi seperti dia."

Imam Ali Zainal Abidin sangat menekankan pentingnya pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian terhadap masyarakat bukan diukur dari seberapa besar pekerjaan itu, tapi kualitas layanan dan ketulusan niatlah yang menjadi parameter dari bernilai atau tidaknya sebuah pekerjaan. Selain itu, pengabdian juga menumbuhkan sebuah ketenangan spiritual bagi seseorang yang bisa berbuat kebaikan kepada orang lain.

Dalam sebuah riwayat Rasulullah Saw bersabda, "Sungguh beruntung orang yang berlaku baik dengan masyarakat dan tidak pernah ragu dalam membantu mereka, dan menjauhkan keburukannya dari orang lain."

Read 49 times
More in this category: « Keagungan Hari Arafah

Add comment


Security code
Refresh