Imam Khomeini ra dalam Perspektif Rahbar

Rate this item
(0 votes)
Imam Khomeini ra dalam Perspektif Rahbar

 

14 Khordad kembali tiba dan atmosfer umum di Iran diwarnai kesedihan dan memori akan sosok dan tokoh besar, Bapak Pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini ra.

32 tahun telah berlalu dari kepergian Imam Khomeini dan 32 tahun sudah, Ayatullah Ali Khamenei menggantikan beliau memimpin Repubik Islam Iran. Ayatullah Khamenei tarkait gurunya, Imam Khomeini mengatakan bahwa ia sangat menghormatinya dan bangga melanjutkan jalan serta ajaran guru besar ini.

Di peringatan haul ke-32 Imam Khomeini ra, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei memulai pidatonya sebagai berikut:

"14 Khordad lain telah tiba dan atmosfer di Iran diwarnai memori akan sosok dan tokoh besar, pria besar, pemimpin yang sulit digantikan, hati yang welas asih, sosok dengan tekad baja, iman yang mendalam dan jelas, sosok bijak dan memiliki pandangan jauh. Bangsa kami dan negara kami hari ini hingga kedepan butuh untuk menjaga memori berharga ini."

Imam Khomeini ra
Ayatullah Khamenei menilai "Republik Islam", yakni pembentukan pemerintahan berdasarkan ajaran Islam dan bersandar pada demokrasi yang muncul dari ajaran Islam (demokrasi religius) sebagai inovasi terbesar Imam Khomeini ra. Sebuah pemerintahan yang tidak ada seorang pun yang menyakini akan tetap eksis dan kekal, dan dari waktu ke waktu pihak atau kelompok atau individu menjanjikan keruntuhannya. Di era Imam, ketegasan dan sikap baja beliau serta kemenangan berulang di medan perang, berhasil menenggelamkan bisikan ini. Namun dengan kepergian Imam, bisikan ini kembali muncul dan mencapai puncaknya, bahkan di beberapa waktu terakhir John Bolton, salah satu petinggi Amerika di era Donald Trump dengan tegas menyatakan bahwa Republik Islam Iran tidak akan berumur 40 tahun.

Dari sudut pandang Rahbar, banyak dari analis ini melihat revolusi dan sistem yang muncul dari revolusi yang terjadi di dunia dan mereda dengan sangat cepat, seperti Revolusi Besar Prancis - yang hampir lima belas tahun setelah awal, memiliki monarki otoriter dan menghilang; Revolusi yang memiliki awal yang menarik dan akhir yang beracun. Bahkan di dalam Iran, dua gerakan konstitusional dan gerakan nasional, beberapa tahun setelah pembentukannya, gagal dengan berkuasanya kediktatoran Reza Khan dan kudeta yang kompleks dan mendalam dari Mohammad Reza Pahlavi.

Ayatullah Khamenei terkait bahwa mengapa Republik Islam, dengan banyaknya musuh, tidak jatuh ke nasib pemerintah dan revolusi lainnya? Mengatakan, "Rahasia  keagungan dan kebanggaan pemerintah ini dan eksistensinya terkumpul di dua kalimat: Republik dan Islami." Kebersamaan dua kalimat ini serta keberadaan yang terbentuk dari dua kalimat ini, harus kekal, baik Republik maupun Islami, rakyat dan Islam, republik yakni rakyat, Islami yakni Islam; Demokrasi Religius."

Merujuk pada karya besar Imam, ia mengingatkan bahwa teori Republik Islam menghadapi lawan yang keras kepala. Bahwa sistem negara dan sistem kehidupan harus diatur oleh norma dan aturan Islam; Ditolak oleh orang-orang sekuler dan non-agama. Mereka tidak menganggap agama dapat terlibat dalam masalah sosial dan mengambil alih politik negara, sistem sosial negara dan manajemen negara; Beberapa juga menganggap agama sebagai candu masyarakat dan mengatakan bahwa agama berbahaya bagi masyarakat; Sekelompok orang yang beragama dan dari posisi membela agama mengatakan bahwa agama tidak boleh terlibat politik, orang-orang ini sebenarnya sekularis agama yang menentang kedaulatan Islam.

Ayatullah Khamenei juga membagi oposisi terhadap Republik Islam menjadi dua kelompok, mengatakan bahwa beberapa dari mereka adalah liberal sekuler yang mengatakan bahwa demokrasi harus diciptakan oleh kaum liberal dan teknokrat dan ini tidak ada hubungannya dengan agama. Kelompok kedua meyakini agama, tapi mengatakan bahwa rakyat tidak ada hubungannya dengan aturan agama, dan bahwa agama harus membentuk pemerintahan tanpa ketergantungan rakyat, sebuah bentuk yang telah muncul dalam beberapa tahun terakhir dalam pembentukan ISIS. Tetapi Imam, yang mengandalkan Tuhan, percaya kepada rakyat dan mengutip pengetahuannya yang mendalam tentang agama, berdiri teguh dan memajukan teori ini serta mewujudkan inovasi besar ini di masyarakat.

Rahbar menyebut supremasi agama berdasarkan pada partisipasi rakyat sebagai sebuah inferensi bijak dari agama dan mengatakan, "Supremasi agama telah dipaparkan secara jelas oleh al-Quran; Jika seseorang mengingkari hal ini maka hal ini benar-benar menunjukkan bahwa ia tidak merenungkan dengan benar al-Quran. Dari satu sisi, al-Quran menyatakan, ayat Surah An-Nisa «مٰا اَرسَلنا مِن رَسولٍ اِلّا لِیُطاعَ بِاِذنِ الله») "Kami tidak mengutus para nabi kecuali supaya rakyat mentaati mereka; Lantas dalam hal-hal apa saja mereka harus ditaati? Apa yang dimaksud dengan ketaatan kepada Nabi? Ratusan ayat al-Quran menjelaskan masalah ini; Misalnya ayat Jihad; Ayat yang berkaitan dengan menegakkan keadilan; Ayat yang berkaitan dengan hukum dan hukuman, ayat yang berkaitan dengan perdagangan dan kontrak, ayat yang berkaitan dengan perjanjian internasional  (QS: At-Tawba:12)   وَ اِن نَکَثوا اَیمٰنَهُم- hingga akhir; Yang dimaksud adalah pemerintahan; Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa di kasus ini harus taat kepada Rasul."

Rahbar mengingatkan bahwa berdasarkan ayat-ayat ini, ketika Rasul Saw memasuki Madinah, ia membentuk pemerintahan Islami dan menciptakan supremasi; Setelah meninggalnya Rasul, meski ada beragam friksi terkait pengganti beliau, tapi tidak ada yang ragu bahwa pemerintahan yang harus dibentuk harus berdasarkan agama dan al-Quran. Setelah menjelaskan supremasi Islam, beliau membicarakan isu republik dan demokrasi serta menjelaskannya dari dua sisi. Pertama dari sisi agama dan keyakinan serta dalam koridor tanggung jawab dan hak. Dan kedua, bahwa perealisasian kedaulatan agama tanpa rakyat tidak mungkin.

Rahbar, Ayatullah Khamenei di makam gurunya, Imam Khomeini
Dengan bersandar pada ayat-ayat al-Quran dan riwayat, beliau mengingatkan bahwa seluruh lapisan masyarakat bertanggung jawab atas kondisi sebuah masyarakat. Seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah Saw di sebuah hadis, کُلُّکُم راعٍ وَ کُلُّکُم مَسئولٌ عَن رَعِیَّتِه, di berbagai riwayat juga dijelaskan hak Tuhan paling mendasar adalah bahwa setiap orang bekerja sama sehingga hak itu ditegakkan dalam masyarakat. Di satu sisi, di masyarakat agama, rakyat berkewajiban menjalankan amar makruf dan nahi munkar, di mana salah satu amar makruf adalah mengajak untuk membentuk pemerintahan yang benar dan adil.

Rahbar berkata, "Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib as di khutbah Syiqsyiqiyah, salah satu alasan menerima kekuasaan (pemerintah) adalah وَ ما اَخَذَ اللهُ عَلَی العُلَماءِ اَلّا یُقارّوا عَلیٰ کِظَّةِ ظالِمٍ وَ لا سَغَبِ مَظلوم؛( نهج‌البلاغه، خطبه‌ی ۳) Artinya, Allah SWT telah mengambil perjanjian ini dari para ulama - yang sekarang saya bicarakan tentang ulama - bahwa mereka tidak menerima kesenjangan sosial, jarak sosial, dan tidak menerima jarak sosial yang mengarah pada kematian, satu kelaparan.

Mengenai dukungan dan kebutuhan akan dukungan rakyat, Ayatullah Khamenei menekankan bahwa pemerintah tanpa dukungan rakyat tidak akan punya pilihan selain menggunakan kekuatan dan penindasan, dan karena penindasan tidak diperbolehkan dalam pemerintahan Islam, maka realisasi pemerintahan Islam dan kelanjutannya, hanya mungkin dengan dukungan rakyat.

Dia menyebut demokrasi religius sebagai rencana agama murni dan menambahkan: "Imam agung melakukan inovasi religius ini. Mereka mempresentasikan aliran baru dan progresif ini, konsepsi Islam yang indah dan menakjubkan ini, yang didasarkan pada pemikiran yang jernih dan pengetahuan yang mendalam, dan dengan rencana yang kokoh dan logis ini, mereka mampu membawa bangsa Iran yang telah terbiasa dengan tirani selama berabad-abad, ke tengah panggung, menjadikan mereka pemilik negara dan berusaha supaya bangsa Iran percaya diri.

Ayatullah Khamenei mencatat bahwa Imam, yang membuka semua masalah negara, tahu bahwa kita harus menjalankan Islam dan orang-orang harus hadir di tempat kejadian; Islam yang diyakini Imam Khomeini adalah anti arogansi; Anti-korupsi, anti-dominasi asing dan campur tangan kekuatan asing dalam urusan internal negara.

Rahbar berkata, "Islam adalah Islam yang memerangi kerusakan dan korupsi, pemerintah Islami adalah pemerintahan yang memerangi korupsi. Anti-kejumudan adalah anti-pemikiran keterbelakangan yang usang, kejumudan dan keterbelakangan yang dimasukkan ke dalam kehidupan, menjauhkan masyarakat dari ideologi baru Islam dan pemikiran baru Imam Khomeini. Islam anti-aristokrasi; Islam pendukung orang tertindas. Imam di salah satu suratnya kepada seorang pejabat –yang berkaitan dengan akhir umur beliau, beberapa bulan sebelum beliau wafat- menulis, "Anda harus menunjukkan bahwa rakyat kita bangkit menentang kezaliman, kejumudan dan kemunduran, serta menjadikan ideologi Islam murni Muhammadi sebagai ganti dari Islam monarki, Islam Kapitalis, Islam eklektisisme atau lebih tepatnya, Islam ala Amerika."

Ayatullah Khamenei di bagian lain pidatonya menyinggung pemilu presiden di Iran dan mengatakan, Imam Khomeini ra menilai pemilu sebagai kewajiban agama dan di surat wasiatnya Imam mengatakan, "Menolak berpartisipasi, memiliki dampak duniawi dan bahkan hingga generasi mendatang yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan."

Ayatullah Khamenei
Rahbar seraya puas bahwa dengan kemurahan Tuhan, saat ini karunia ilahi demokrasi religius, kehormatan dan kekuatan pemerintah Republik Islam tetap terjaga, meminta masyarakat melalui partisipasinya menambah semaraknya pemilu dan mereka harus waspada bahwa absen di pemilu dengan alasan palsu sebenarnya sesuai dengan keinginan musuh, dan jika dua pilar ini yakni demokrasi dan agama semakin lemah, maka Islam dan Iran akan mengalami kerusakan.

“Jika terjadi kekacauan, inefisiensi, dan kelemahan dalam pengelolaan, maka harus dikompensasikan dengan membuat pilihan yang tepat dan baik serta mengefisienkan pengelolaan kerakyatan dan Islami, bukan dengan tidak ikut serta dalam pemilu,” tambah Ayatullah Khamenei.

Ayatullah Khamenei lebih lanjut mengingatkan sejumlah poin kepada para kandidat pemilu dan meminta mereka jujur kepada rakyat dan jangan mengumbar janji yang tidak diyakini. Harapan lain beliau dari para kandidat adalah jika menang, maka ia harus komitmen menerapkan keadilan sosial, memperpendek jarak antara kaya dan miskin, memerangi korupsi, memperkokoh produksi dalam negeri dan melawan penyelundupan serta impor tak perlu serta menghapus kendala produksi dalam negeri.

Read 226 times

Add comment


Security code
Refresh