کمالوندی
Ramadan di TV Iran: "Ngaji Qur'an" ala "Mahfel" dan "Sahuri"
Wakil Bidang Televisi Organisasi Penyiaran Republik Islam Iran mengumumkan persiapan serangkaian program spiritual, budaya, dan hiburan untuk bulan Ramadhan.
Melaporkan dari IRNA, ParsToday pada Senin, 16 Februari 2026, memberitakan Wakil Bidang Televisi Organisasi Penyiaran Republik Islam Iran mengumumkan bahwa program-program khusus sahur dan berbuka, pembacaan tartil Al-Qur'an, doa, dan program-program keagamaan akan menjadi poros utama jadwal siaran televisi selama bulan suci Ramadhan.
Program-program seperti "Mahfel," "Sahuri," "Quran dan Masyarakat," dan "Nasim-e Astan" akan tayang selama periode ini.
Berdasarkan laporan ini, berbagai jaringan televisi dengan memproduksi program beragam berupaya menyediakan suasana spiritual dan budaya yang sesuai dengan bulan ini bagi pemirsa.
Di jaringan tiga, program "Mahfel" dengan kehadiran para qari dan pembawa acara internasional akan ditayangkan saat waktu berbuka. Program "Mah-e Man" juga akan membahas isu-isu keagamaan dan budaya pada waktu sahur.
Kanal Empat akan menayangkan program khusus "Sahuri" dengan fokus pada sastra dan doa-doa spiritual di waktu sahur. Sementara itu, Kanal Satu dengan program "Mah-e Khoda" dan pembacaan tartil Al-Qur'an harian akan menemani pemirsa yang berpuasa.
Di samping program-program keagamaan, serial drama dan kompetisi juga masuk dalam jadwal siaran. Serial "Asbab-e Zahmat" akan tayang setiap malam di jaringan satu. Kompetisi "Perang Robot" dengan partisipasi remaja dan pemuda juga akan mengudara.
Beragam program seperti "Nasim-e Astan," "Sarzamin-e Sher," dan program-program khusus malam-malam Lailatul Qadar juga diumumkan sebagai bagian dari persiapan media nasional untuk bulan ini.
Wakil Bidang Televisi Organisasi Penyiaran Republik Islam Iran menegaskan bahwa tujuan program-program ini adalah "memperkuat suasana spiritual, meningkatkan kesadaran keagamaan, dan menciptakan kegembiraan budaya" di kalangan pemirsa selama bulan suci Ramadhan.
Iran Kukuh di Puncak Nano Dunia: Cetak 13 Standar Internasional
Iran dengan mencatatkan 13 standar internasional di bidang nano, meraih peringkat keempat global dalam penyusunan standar.
Melaporkan dari IRNA, ParsToday pada Senin, 16 Februari 2026, memberitakan Emad Ahmadvand, Sekretaris Staf Pengembangan Teknologi Nano dan Mikro di Wakil Presiden Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Ekonomi Berbasis Pengetahuan, mengumumkan Iran telah berhasil mencatatkan 13 standar internasional di bidang teknologi nano dan menempati peringkat keempat dunia setelah Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Tiongkok.
Emad Ahmadvand merujuk pada pentingnya standardisasi dan mengatakan pencapaian ini memainkan peran penting dalam "memfasilitasi perdagangan internasional, transfer teknologi, dan peningkatan kualitas serta keamanan produk".
Berdasarkan laporan ini, standar-standar yang dicatatkan Iran mencakup spektrum luas bidang teknologi nano, termasuk "metodologi klasifikasi nanomaterial", "metode uji efektivitas nanopartikel perak terhadap bakteri", "glosarium dan indikator ilmu dan teknologi nano", serta "metode evaluasi toksisitas nanomaterial di lingkungan perairan",
Standar juga disusun untuk "spesifikasi nanomaterial lempung berlapis", "film polimer nanokomposit dalam kemasan makanan", dan "protokol kajian pengaruh nanomaterial terhadap struktur protein".
Di antara standar penting lainnya adalah "evaluasi kinerja antimikroba tekstil nano", "metode pengukuran toksisitas nanomaterial dalam sel hidup", "pengukuran karakteristik hidrofobik super pada tekstil dan pelapis", serta "metode deteksi nanopartikel yang terlepas dari masker".
Standar-standar ini disusun dalam kerangka Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO). Menurut Ahmadvand, pencapaian ini telah memperkuat posisi Iran dalam pengembangan dan pengaturan regulasi global teknologi nano.
Larijani: "Tak Punya Bom Nuklir" Jadi Titik Temu Iran-AS
Ali Larijani dalam wawancara dengan Al Jazeera menjelaskan sikap Iran mengenai negosiasi nuklir, perkembangan regional, dan situasi poros perlawanan. Ia menegaskan Tehran tidak menginginkan perang, tetapi secara bersamaan menempuh jalur negosiasi yang adil dan memperkuat daya tangkal.
Melaporkan dari Tasnim, ParsToday pada Senin, 16 Februari 2026, memberitakan Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, dalam wawancara dengan jaringan Al Jazeera Qatar menyatakan bahwa Tehran siap memasuki negosiasi nuklir yang adil guna mengatasi kekhawatiran, tanpa merugikan keamanan nasional negara. Ia pada saat yang sama menegaskan bahwa celah-celah internal telah diatasi dan Poros Perlawanan telah melewati guncangan akibat teror terkini.
Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran mengenai negosiasi terkini di Muscat mengatakan tidak membawa tanggapan tertulis apa pun atas tuntutan Amerika, dan apa yang dilakukan hanyalah pertukaran pandangan. Sebuah proses yang masih berlangsung. Ia menambahkan bahwa negara-negara kawasan juga mendukung pencapaian solusi politik untuk program nuklir Iran.
Larijani menegaskan bahwa Tehran memandang positif negosiasi, dengan syarat negosiasi tersebut adil dan masuk akal, serta tidak menjadi alat untuk membuang-buang waktu atau memaksakan isu di luar kerangka nuklir. Ia menyebut pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir sebagai titik temu potensial untuk terbentuknya kesepakatan.
Ia juga menegaskan bahwa Iran menerima pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam kerangka Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), tetapi menganggap pembicaraan tentang "pengayaan nol" sebagai sesuatu yang tidak realistis. Ia mengatakan pengetahuan nuklir tidak dapat dihilangkan dengan keputusan politik, dan Iran memiliki kebutuhan medis dan riset yang sah.
Larijani mengatakan program rudal Iran tidak dibahas dalam negosiasi terkini, dan isu ini merupakan bagian dari sistem keamanan nasional dan daya tangkal pertahanan negara yang tidak dapat dinegosiasikan.
Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran merujuk pada infiltrasi rezim Zionis dan mengatakan apa yang terjadi bukan akibat "infiltrasi luar biasa", melainkan hasil dari menurunnya tingkat kewaspadaan di sejumlah lembaga.
Ia melanjutkan bahwa pemerintah telah mengatasi kekurangan ini secara kelembagaan, menghancurkan jaringan-jaringan mata-mata, serta meningkatkan tingkat kesiapan dan kewaspadaan.
Larijani, seraya mengakui bahwa Hizbullah Lebanon menderita kerugian besar dan sekitar tiga ribu orang gugur dalam pertempuran terkini, menegaskan bahwa gerakan ini telah memulihkan kemampuannya dan kini memiliki kapasitas tinggi untuk menghadapi Israel.
Ia mengatakan bahwa satu pukulan tidak berarti akhir perang, dan perang pada dasarnya adalah pertukaran pukulan.
Ia menegaskan bahwa Israel juga terkena serangan rudal dan terpaksa mundur, serta tolok ukur ketahanan bukanlah jumlah korban, melainkan kemampuan untuk terus bertahan.
Mengenai Gaza, Larijani menyatakan bahwa Israel telah menghancurkan wilayah ini dan melakukan kejahatan besar, tetapi tidak mampu melenyapkan keberadaan Hamas. Gerakan ini, meskipun lebih dari dua tahun dibombardir berat, masih memegang kendali administrasi Gaza.
Larijani menilai kemungkinan terjadinya perang besar sebagai hal yang kecil, dan mengatakan pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa eskalasi ketegangan tidak menguntungkan para pemrakarsanya. Ia menegaskan Iran siap menghadapi semua skenario, tanpa menginginkan menyulutnya konflik.
Ia menilai sikap negara-negara seperti Arab Saudi, Turki, dan Mesir yang menentang aksi militer sebagai tanda pemahaman akan bahaya ledakan regional, dan mengumumkan kesiapan Iran untuk memperkuat hubungan berdasarkan rasa saling menghormat. Larijani juga memuji peran Qatar dalam mediasi.
Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran mengatakan kerja sama dengan Tiongkok dan Rusia didasarkan pada kepentingan bersama, dan dukungan mereka terhadap Iran di Dewan Keamanan mencerminkan kemitraan politik. Pergeseran Iran ke Timur adalah akibat ingkar janji Barat.
Di akhir, Larijani sekali lagi menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang, tetapi tidak akan menyerah terhadap ancaman, dan mengandalkan kombinasi negosiasi dan daya tangkal.
Ramadan 1447 HQ: Awal Puasa Hari Kamis 19 Februari
Pengamat hilal mengumumkan bahwa hilal Ramadan 1447 HQ pada senja 29 Bahman (18 Februari) di Iran dapat diamati dengan mata telanjang. Meskipun bertepatan dengan gerhana matahari cincin, diperkirakan Ramadan akan dimulai pada Kamis 30 Bahman (19 Februari) di sebagian besar negara yang menjadikan rukyat sebagai patokan.
Ali Ebrahimi Seraji, pengamat hilal dan anggota Komite Amatir Astronomi Iran serta penanggung jawab Observatorium Mahani, dalam wawancara dengan ISNA, Selasa, 17 Februari 2026, membahas visibilitas hilal Ramadan.
Ia menjelaskan bahwa kalender lunar adalah salah satu kalender tertua manusia, yang awalnya ditentukan dengan mengamati hilal pertama setelah matahari terbenam.
Kata "pekan" dan pembentukan konsepnya berasal dari empat posisi utama bulan (bulan baru, kuartal pertama, purnama, kuartal akhir) dalam orbitnya mengelilingi bumi. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya satelit alami bumi dalam kehidupan manusia.
Ebrahimi Seraji menambahkan bahwa pada masa ketika manusia membutuhkan penentuan waktu untuk bercocok tanam dan beternak, meskipun tanpa tulisan dan catatan, mereka dapat mengetahui awal bulan melalui pengamatan hilal dan memahami berapa hari telah berlalu sejak awal bulan.
Anggota Komite Amatir Astronomi Iran melanjutkan bahwa untuk menentukan awal bulan lunar, diperlukan rukyatul hilal, dan awal bulan lunar harus ditentukan dengan melihat hilal.
Meskipun teknologi telah berkembang pesat dan posisi bulan diketahui secara akurat, faktor orbit, kondisi atmosfer, dan cahaya matahari masih menyebabkan tantangan dalam melihat hilal di beberapa waktu. Oleh karena itu, rukyatul hilal terkadang menarik dan melibatkan banyak orang di Iran dan berbagai belahan dunia untuk mengamati fenomena astronomi ini.
Ebrahimi Seraji menjelaskan situasi dan kondisi hilal Ramadan 1447 HQ. Ia menyatakan bahwa untuk memeriksa visibilitas hilal ini, pertama-tama harus dihitung waktu konjungsi (ijtimak) bulan dan matahari; saat ketika pusat bulan, bumi, dan matahari berada dalam satu garis lurus, dan sejak saat itu bulan lunar baru dimulai.
Waktu konjungsi adalah pukul 15.31, Selasa, 16 Februari 2026. Bersamaan dengan itu, di sebagian Antartika akan terjadi gerhana matahari cincin.
Anggota Komite Amatir Astronomi Iran mencatat bahwa sebelumnya beredar rumor di beberapa kantor berita tentang terjadinya gerhana matahari pada 17 Februari, yang tidak benar. Namun, gerhana matahari yang dimaksud terkait dengan tanggal 18 Februari.
Ia melanjutkan bahwa setelah waktu konjungsi, bulan berangsur-angsur menjauh dari matahari. Tetapi karena kedekatan sudut akibat terjadinya gerhana matahari, pada senja hari yang sama, kecuali di sebagian Samudra Pasifik, hilal tidak akan terlihat di belahan dunia lain.
Penanggung jawab Observatorium Mahani menambahkan bahwa pada senja Rabu, 18 Maret, hilal dapat diamati dengan mata telanjang di sebagian besar dunia.
Ebrahimi Seraji menambahkan bahwa hanya di sebagian benua Australia, rukyatul hilal dapat dilakukan dengan alat bantu optik, dan Selandia Baru adalah satu-satunya kawasan yang tidak dapat melihat hilal pada hari itu. Di belahan dunia lain, hilal mudah terlihat dengan mata telanjang.
Pengamat hilal menjelaskan kondisi orbit hilal: kondisi orbit bulan dan bumi sedemikian rupa sehingga sekitar 24 jam setelah gerhana matahari, bulan dapat mencapai ketinggian signifikan dari ufuk.
Ia menyatakan bahwa di Iran, ketinggian hilal saat matahari terbenam sekitar 11-12 derajat, ketinggian yang baik untuk pengamatan. Pada waktu itu, planet Merkurius berada di atas bulan dan Venus di bawahnya, yang dapat membantu pengamat menemukan hilal.
Ebrahimi Seraji mencatat bahwa diperkirakan sekitar setengah jam setelah matahari terbenam, jika kondisi atmosfer mendukung, hilal dapat diamati dengan mata telanjang di Iran.
Berdasarkan ini, tampaknya Ramadan akan dimulai pada Kamis, 19 Februari, di sebagian besar dunia yang menjadikan rukyatul hilal dengan mata telanjang sebagai patokan.
Anggota Komite Amatir Astronomi Iran menambahkan bahwa di negara-negara seperti Arab Saudi yang menentukan kalender lunar secara hisab, kemungkinan awal bulan lunar diumumkan sehari lebih cepat karena bulan terbenam tiga menit lebih awal dari matahari. Negara-negara yang mengikuti prosedur ini juga mungkin mengumumkan awal Ramadan sehari sebelum 18 Maret.
Menjawab pertanyaan kapan tim rukyat akan dikerahkan, ia mengatakan bahwa tim pengamat hilal biasanya mulai ditempatkan di berbagai lokasi di Iran pada senja Rabu, 18 Februari, untuk melakukan pengamatan. Karena malam tanggal 29 bulan lunar adalah waktu utama rukyatul hilal Ramadan, berbagai kelompok hadir di area yang ditentukan untuk melakukan pengamatan.
Mengapa Iran Bisa Lebih Unggul dalam Perundingan Jenewa?
Menjelang putaran baru dialog nuklir antara Iran dan Amerika Serikat, Tehran memasuki medan perundingan dengan agenda yang jelas: pencabutan sanksi, pemertahanan hak pengayaan uranium, dan ketergantungan pada kesabaran strategis
Dengan menguasai inisiatif waktu dan kerangka negosiasi, Iran telah menempatkan pihak Amerika pada pilihan antara kesepakatan yang berimbang atau kelanjutan kebuntuan.
Putaran kedua dialog tidak langsung nuklir antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat, yang dimediasi oleh Oman di Jenewa, berlangsung di tengah penetapan prioritas utama tim negosiator Iran yang dipimpin Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araghchi, yakni pencabutan sanksi secara efektif dan pengamanan kepentingan nasional. Pendekatan ini mencerminkan fokus Tehran pada hasil nyata yang dapat diverifikasi.
Berdasarkan jadwal yang diumumkan, konsultasi akan berlanjut di Kedutaan Besar Oman di Jenewa; jalur yang sebelumnya dimulai di Muskat dan digambarkan "baik" oleh kedua belah pihak, membuka jalan bagi kelanjutan dialog. Dalam kerangka ini, Menteri Luar Negeri Iran, sebelum memulai negosiasi, bertemu dengan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, untuk memaparkan pandangan teknis Iran dan menegaskan kerja sama profesional dalam kerangka perjanjian safeguards.
Pertemuan Araghchi dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad Al Busaidi, menunjukkan peran aktif mediasi Muskat dan dukungan terhadap jalur diplomasi yang berorientasi hasil. Pihak Oman memuji pendekatan Iran dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan, serta menegaskan keberlanjutan upaya untuk mencapai kesepakatan yang mengakomodasi kepentingan semua pihak.
Tehran memasuki putaran negosiasi ini dengan dua syarat tegas: dialog terbatas pada masalah nuklir dan pengakuan hak pengayaan uranium. Kerangka kerja ini, yang juga diperhatikan oleh pihak lawan, menunjukkan bahwa Republik Islam, dengan mempertahankan garis merah strategis dan tanpa memasuki area di luar Kesepakatan Nuklir 2015 (JCPOA), memegang inisiatif dalam mengelola proses negosiasi.
Para pakar berpendapat bahwa kohesi internal, kemajuan teknis nuklir, dan kemampuan pertahanan yang deterrent telah memperkuat posisi Iran dalam persamaan negosiasi dan mendorong pihak Amerika untuk memilih jalur diplomasi sebagai opsi yang lebih murah. Sebaliknya, pesan-pesan yang kontradiktif dan terbatasnya kehadiran tim negosiator AS di lokasi dialog dinilai sebagai indikasi tidak adanya keputusan final di Washington.
Sementara itu, tim negosiator Iran, dengan menekankan kesabaran strategis dan manajemen waktu, berupaya mengarahkan proses negosiasi menuju kesepakatan yang adil dan berimbang; kesepakatan yang mencakup pencabutan sanksi secara nyata, manfaat ekonomi bagi negara, dan jaminan hak nuklir bangsa Iran.
Menurut Menteri Luar Negeri Iran, Tehran hadir di Jenewa dengan inisiatif dan kesiapan untuk mencapai kesepakatan yang adil, dan menggantungkan hasil positif pada kemauan politik serta realisme pihak lawan. Dalam kondisi demikian, semua mata tertuju pada keputusan Washington; di mana ia harus memilih antara melanjutkan tekanan yang tidak efektif atau menerima kesepakatan yang berimbang.
Iran: "Negosiasi Jalan, Rudal-Hormuz Opsi"
Dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, Tehran meskipun melanjutkan negosiasi, menegaskan bahwa semua opsi masih terbuka.
Melaporkan dari ParsToday, Senin, 16 Februari 2026, dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS serta meningkatnya tingkat ancaman militer Washington, Tehran meskipun melanjutkan negosiasi, menegaskan bahwa semua opsi, dari rudal hingga penutupan Selat Hormuz, masih terbuka.
Letnan Jenderal Sayid Abdolrahim Mousavi, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, pada 1 Februari merujuk pada ancaman musuh dan mengatakan, "Kesalahan sekecil apa pun akan membuka tangan kami untuk bertindak, dan dunia akan menyaksikan wajah berbeda dari Iran yang kuat. Saat itu, tak ada seorang Amerika pun yang akan aman, dan api kawasan akan membakar Amerika serta para pengikutnya."
Sayid Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, juga pada 16 Februari merujuk pada kedatangannya di Jenewa dengan membawa inisiatif nyata untuk mencapai kesepakatan yang adil dan berimbang, menegaskan, "Apa yang sama sekali tidak dalam agenda adalah takluk terhadap ancaman."
Sikap Iran yang melanjutkan negosiasi tetapi tetap membuka semua opsi dapat dipahami sebagai kombinasi dari penangkalan militer, pembentukan pengaruh geopolitik, dan manajemen ruang diplomatik. Pernyataan ini pada dasarnya adalah pesan berlapis kepada berbagai aktor: kepada rakyat Iran untuk kohesi internal, kepada Amerika untuk mengukur tekad dan biaya, serta kepada aktor regional dan pasar energi untuk mengingatkan sensitivitas keseimbangan di Teluk Persia.
Lapisan pertama adalah penangkalan militer. Penyebutan "rudal" dalam literatur resmi berarti penekanan pada kemampuan domestik di bidang rudal dan drone yang selama beberapa tahun terakhir didefinisikan sebagai pilar utama doktrin pertahanan. Kemampuan ini, meskipun memiliki kegunaan militer luar biasa, fungsi utamanya adalah menciptakan ketidakpastian bagi pihak lawan dan meningkatkan biaya setiap tindakan militer langsung.
Dalam kerangka doktrin penangkalan, demonstrasi kapasitas respons balasan yang cepat dan multi-level dapat mengubah kalkulasi lawan dan mengarahkan situasi menuju manajemen krisis. Dalam Perang 12 Hari rezim Zionis melawan Iran, Tehran menunjukkan bahwa beberapa rudal hipersonik "Fattah" dan "Khaibar Shekan" mampu menghancurkan pusat penelitian militer, kilang minyak, dan infrastruktur ekonomi Israel.
Meskipun baru-baru ini Letnan Jenderal Mousavi, dalam menyatakan perubahan doktrin militer Iran, mengatakan, "Setelah Perang 12 Hari dan kelanjutan tindakan licik Amerika-Zionis, kami merevisi doktrin pertahanan negara dan mengubahnya menjadi doktrin ofensif angkatan bersenjata, berdasarkan pendekatan operasi kilat dan luas, dengan mengadopsi strategi militer yang tidak konvensional dan menghancurkan. Berdasarkan ini, tindakan kami akan cepat, tegas, dan di luar perhitungan Amerika."
Lapisan kedua adalah pengaruh geopolitik, yang ditonjolkan dengan penyebutan Selat Hormuz. Jalur ini adalah salah satu arteri energi terpenting dunia, dan setiap ancaman terhadap keamanannya memiliki konsekuensi langsung bagi pasar minyak, asuransi pelayaran, dan keamanan pasokan global. Penyebutan titik sensitif ini lebih merupakan alat tawar-menawar dan pengingat "kemampuan pengaruh tidak langsung" daripada indikasi niat untuk bertindak. Dalam lingkungan di mana keamanan energi sangat bergantung pada stabilitas Teluk Persia, bahkan peningkatan risiko persepsi dapat menggeser harga dan meningkatkan tekanan politik di tingkat internasional.
Oleh karena itu, jika situasi menjadi sulit bagi Iran, ada opsi bahwa jalur pertukaran dan transit barang bagi negara-negara dunia juga akan berlangsung dengan kesulitan, dan hal ini dapat diwujudkan dengan menutup Selat Hormuz. Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, dengan memiliki rudal pantai-ke-laut dan menggunakan taktik tiga serangkai "rudal anti-kapal, ranjau laut, kapal patroli", dapat melaksanakan hal ini.
Lapisan ketiga adalah manajemen simultan medan dan diplomasi. Penekanan pada kelanjutan negosiasi di samping mengemukakan opsi-opsi keras adalah upaya untuk menjaga saluran komunikasi tanpa melepaskan pengaruh. Pendekatan ini menunjukkan Tehran berusaha di satu sisi membuka pintu dialog untuk mencegah akumulasi ketegangan, dan di sisi lain dengan menonjolkan opsi-opsi mahal, memperkuat posisi tawarnya. Dalam kerangka seperti ini, bahasa ancaman belum tentu indikasi keinginan untuk konfrontasi, tetapi merupakan bagian dari "bahasa kekuatan" dalam negosiasi yang sulit.
Secara keseluruhan, sikap Iran dapat dipahami sebagai upaya membangun "payung penangkalan multidimensi" sambil tetap membuka jalur diplomasi. Pesan utamanya adalah: negosiasi bermakna ketika biaya kegagalannya nyata bagi semua pihak. Pada saat yang sama, sikap Tehran mengandung pesan bahwa Iran siap sepenuhnya merespons semua skenario yang mungkin terjadi dari musuh, terutama Amerika dan rezim Zionis.
Bagaimana Ribuan Warga Palestina Menguap Menjadi Abu di Gaza?
Investigasi Al Jazeera mengungkap tentara Israel menggunakan bom termobarik buatan Amerika yang membuat 2.842 warga Palestina di Gaza menguap tanpa sisa.
Jaringan televisi Al Jazeera dalam laporan investigasi berjudul "Mereka yang Menguap", Jumat, 13 Februari 2026, mendokumentasikan penggunaan senjata termobarik, yang dilarang secara internasional, secara sistematis oleh militer Israel selama perang genosida di Jalur Gaza. Berdasarkan data tim Pertahanan Sipil Gaza, sedikitnya 2.842 warga Palestina tercatat "menguap" sejak perang meletus Oktober 2023. Korban tak meninggalkan sisa jenazah selain percikan darah atau fragmen jaringan kecil di lokasi kejadian.
Dimensi Bencana Kemanusiaan di Gaza
Menurut data yang dipublikasikan, sejak 7 Oktober 2023 rezim Zionis dengan dukungan Amerika Serikat melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Gaza yang berlangsung lebih dari dua tahun. Akibat genosida ini, lebih dari 72 ribu warga Palestina gugur dan lebih dari 171 ribu lainnya terluka, sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil hancur dan PBB memperkirakan biaya rekonstruksi mendekati 70 miliar dolar AS.
Ledakan Termobarik
Dalam bagian teknis investigasi ini disebutkan bahwa sejumlah serangan dilakukan menggunakan bahan peledak termobarik dan amunisi yang diperkuat dengan sebaran luas. Senjata ini mampu menciptakan suhu hingga sekitar 3.500 derajat Celsius dan dengan menghasilkan gelombang tekanan dahsyat, menguapkan cairan dalam tubuh manusia serta mengubah jaringan menjadi abu.
Rafiq Badran, salah satu saksi, menuturkan keempat anaknya lenyap dalam pemboman yang menghancurkan puluhan rumah. Dari mereka hanya tersisa zat berwarna hitam dan sisa-sisa yang berserakan.
Kesaksian Petugas Penyelamat dan Saksi Mata
Mahmoud Basal, Juru Bicara Pertahanan Sipil Gaza, dalam laporan ini menegaskan bahwa dalam banyak kasus jumlah penghuni suatu bangunan diketahui pasti, Tapi jumlah jenazah yang ditemukan lebih sedikit dari data tercatat. Menurutnya, sejumlah jenazah menguap sepenuhnya, fenomena yang belum pernah terjadi dalam operasi lapangan sebelum perang ini.
Yasmin, saksi lainnya, menceritakan pencarian sia-sia untuk menemukan jenazah putranya Saad setelah pemboman sekolah Al-Tabin pada 10 Agustus 2024. Dalam serangan yang menewaskan lebih dari 100 orang itu, tiga keluarga lenyap tanpa jejak.
Pandangan Pakar: Penghancuran Total Sel Manusia
Yusri Abushadi, mantan inspektur senior Badan Tenaga Atom Internasional, menjelaskan kombinasi suhu sangat tinggi dan tekanan dahsyat dapat menghancurkan sel-sel manusia sepenuhnya. Menurutnya, fenomena penguapan jenazah sebelumnya juga tercatat dalam sejumlah perang, termasuk invasi Amerika ke Irak, khususnya dalam pertempuran Fallujah tahun 2004 dan 2005.
Munir Al-Bursh, Dirjen Kementerian Kesehatan Gaza, merujuk pada fakta bahwa sekitar 80 persen tubuh manusia terdiri atas air. Ia menjelaskan paparan panas ekstrem, tekanan tinggi, dan oksidasi masif dapat menyebabkan penguapan total tubuh manusia.
Amunisi Buatan Amerika dalam Daftar Tuduhan
Investigasi ini menelusuri jenis amunisi yang diduga digunakan dalam serangan-serangan tersebut, termasuk bom buatan Amerika seperti MK-84 dan BLU-109, bom berpandu presisi GBU-39, serta rudal Hellfire. Amunisi ini mampu menciptakan ledakan bersuhu tinggi di ruang tertutup.
Berdasarkan studi ilmiah, bahan peledak termobarik hingga lima kali lebih kuat daripada bom konvensional dan bekerja melalui gelombang termal sangat intens, gelombang tekanan dahsyat, serta bola api.
Konsekuensi Hukum dan Upaya Internasional
Laporan ini menekankan bahwa penggunaan senjata semacam itu di kawasan padat penduduk memunculkan pertanyaan serius tentang pelanggaran prinsip dasar hukum humaniter internasional. Mahkamah Pidana Internasional pada November 2024 mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu dan Yoav Gallant, mantan Menteri Perang rezim Zionis, atas tuduhan kejahatan perang.
Raed Al-Dahshan, direktur Pertahanan Sipil Gaza, menyatakan sekitar 10 ribu jenazah masih tertimbun reruntuhan. Keterbatasan masuknya alat berat menjadi kendala serius dalam proses evakuasi.
Laporan "Mereka yang Menguap" pada akhirnya mengajukan pertanyaan: jika senjata terlarang tidak digunakan, faktor apa yang dapat menjelaskan pola berulang dari lenyapnya jenazah secara total ini?
Genosida Zionis Meluas dari Gaza Hingga Tepi Barat
Sumber-sumber berita melaporkan 54 warga Palestina terluka dalam serangan pasukan Zionis di Nablus, Tepi Barat.
Dalam serangan pasukan pendudukan Zionis dan pemukim di lingkungan Telfit, Kegubernuran Nablus, Tepi Barat, sebanyak 54 warga Palestina terluka. Menurut laporan ParsToday, Sabtu, 14 Februari 2026, sumber-sumber Palestina melaporkan terjadinya bentrokan antara pasukan Zionis dan pemuda Palestina di lingkungan tersebut. Pasukan Zionis menggunakan gas air mata untuk membubarkan para pemuda Palestina.
Koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa pasukan pendudukan Israel menembakkan gas air mata dan peluru tajam secara langsung ke arah tim media Al Jazeera di Talfit, Nablus.
Tembakan Gas Air Mata ke Arah Jemaah di Timur Laut Ramallah
Sementara itu, sumber-sumber lokal melaporkan pasukan militer rezim Israel menembakkan gas air mata ke arah jemaah saat menggerebek lingkungan Kafr Malik di timur laut Ramallah.
Sumber-sumber Palestina menyatakan, bertepatan dengan pelaksanaan salat Jumat di Masjid Al-Aqsa, sekelompok pemukim bersenjata Zionis menyerbu area Al-Ghali di depan Bab Al-Asbath, salah satu gerbang Masjid.
Hamas: Netanyahu Lakukan Pembersihan Etnis terhadap Bangsa Palestina
Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) dalam sebuah pernyataan menyatakan serangan brutal pemukim dan pasukan militer Zionis terhadap desa Talfit di selatan Nablus dan berbagai wilayah Tepi Barat, yang disertai perusakan properti, peneror warga Palestina, dan penembakan langsung hingga melukai sejumlah warga, merupakan agresi kriminal dan kelanjutan dari aksi terorisme terorganisir yang dikelola rezim Zionis.
Pernyataan tersebut menegaskan Benjamin Netanyahu secara sistematis menjalankan kebijakan pembersihan etnis terhadap bangsa Palestina. Dengan membiarkan pemukim bersenjata bertindak leluasa di bawah perlindungan militer Zionis, ia menciptakan ruang bagi aksi kekerasan di kota-kota, desa-desa, dan kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat.
Hamas menyeru masyarakat internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Liga Arab, dan Organisasi Kerja Sama Islam untuk mengutuk kejahatan rezim pendudukan di Tepi Barat dan mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap proyek-proyek Yahudisasi, pemindahan paksa, dan aneksasi yang dijalankan rezim Zionis.
Gerakan ini juga meminta bangsa Palestina di Tepi Barat serta seluruh kelompok dan arus politik untuk bersatu menghadapi kebijakan-kebijakan tersebut, mengaktifkan segala bentuk perjuangan dan perlawanan, serta menegaskan hak mereka untuk mengakhiri pendudukan dan mendirikan negara Palestina merdeka dengan Quds sebagai ibu kotanya.
Tepi Barat di Ambang Ledakan
Majalah Foreign Policy dalam artikel analitis karya Shira Efron, peneliti kebijakan Israel di RAND Corporation, memperingatkan bahwa Tepi Barat berpotensi menjadi front ledakan berikutnya di Asia Barat di tengah percepatan perubahan yang dilakukan pemerintahan Benjamin Netanyahu.
Menurut analisis ini, sementara kawasan dilanda krisis seperti ketegangan dengan Iran, kekerasan berkelanjutan di Gaza, Hizbullah Lebanon kembali mempersenjatai diri, dan dinamika internal Suriah, perkembangan di Tepi Barat kurang mendapat perhatian, padahal faktor-faktor ketidakstabilan politik dan keamanan tengah terakumulasi di sana.
Sejak 7 Oktober 2023, bertepatan dengan dimulainya Badai Al-Aqsa, kehadiran militer rezim Zionis di Tepi Barat meningkat, pos pemeriksaan meluas, dan operasi militer mengalami intensifikasi, khususnya di kamp-kamp pengungsi. Bersamaan dengan itu, laju pembangunan pemukiman dan legalisasi pos-pos ilegal semakin cepat, sementara kekerasan pemukim menjadi peristiwa hampir setiap hari.
Foreign Policy melaporkan kabinet keamanan rezim Zionis telah mengesahkan sejumlah langkah yang membawa aneksasi praktis ke tingkat legal, termasuk memudahkan penjualan tanah kepada pemukim dan memperluas kewenangan di Area A dan B. Menteri Keuangan Rezim Zionis, Bezalel Smotrich, menyatakan tujuan kebijakan ini adalah menghancurkan gagasan pendirian negara Palestina.
Al-Bassa 1938. Ketika Inggris Bakar Desa Palestina
Fajar 7 September 1938, ketika matahari terbit dari balik perbukitan Al-Jalil, desa Al-Bassa berbau mesiu dan asap. Tentara Inggris dengan senyum puas membakar rumah-rumah satu per satu, dan jeritan perempuan yang anak-anaknya lenyap di dalam kobaran api menghilang di langit Palestina yang acuh tak acuh.
Al-Bassa, di barat laut Palestina, berubah menjadi neraka di bumi pada 7 September. Dua hari sebelumnya, sebuah ranjau darat merenggut nyawa dua tentara Inggris di jalan, dan para komandan di markas mereka sedang merancang "pelajaran berharga" yang akan abadi dalam ingatan Palestina.
Melaporkan dari ParsToday, Sabtu, 14 Februari 2026, saat fajar 7 September, kendaraan lapis baja Hussars ke-11 muncul dari cakrawala.
Selama dua puluh menit, peluru-peluru senapan mesin menghujani rumah-rumah tanah liat desa. Penduduk yang terbangun dari tidur dihujani tembakan di lorong-lorong. Namun, yang lebih mengerikan dari peluru adalah tungku api yang dibawa tentara yang turun dari kendaraan. Mereka mendobrak pintu dan membakar rumah-rumah. Dalam beberapa kasus, perempuan dan anak-anak masih berada di dalam rumah. Suara ledakan amunisi bercampur dengan jeritan manusia yang terbakar.
Desmond Woods, perwira Resimen Ulster, bertahun-tahun kemudian dalam memoarnya menggambarkan adegan itu sebagai berikut: "Aku tak akan pernah melupakan hari itu. Kami tiba di Al-Bassa dan melihat kendaraan lapis baja menembaki desa dengan senapan mesin. Berlangsung dua puluh menit. Lalu kami masuk dan membakar rumah-rumah dengan tungku api. Desa itu rata dengan tanah."
Namun, tragedi tak berhenti pada api. Tentara mengeluarkan sekitar 50 pria desa dari rumah-rumah mereka dan menggiring mereka ke dalam sebuah bus. Mereka mengarahkan bus ke jalan yang belum dibersihkan dari ranjau, melindas ranjau, dan meledakkannya. Mereka yang melompat keluar sebelum ledakan ditembaki. Penduduk yang tersisa dipaksa, di bawah todongan senjata, mengubur jenazah dalam kuburan massal.
Statistik resmi mencatat 20 korban jiwa, tetapi para penyintas mengatakan setengah dari desa, antara 50 hingga 100 orang, dibantai hari itu. Empat penyintas juga dibawa ke kamp militer dan disiksa di depan mata kerabat mereka.
Komandan resimen, ketika dipanggil menghadap Jenderal Montgomery, dengan tenang mengatakan bahwa dia telah memperingatkan para kepala desa bahwa jika perwiranya terbunuh, dia akan melakukan "tindakan hukuman". Jawab sang jenderal: "Baiklah, tapi lain kali berjalanlah sedikit lebih lambat."
Di Al-Bassa, tak ada yang tersisa untuk berjalan lebih lambat. Al-Bassa menjadi abu hari itu, dan hingga kini, tak pernah dibangun kembali. Tak ada penyelidikan, tak ada permintaan maaf. Satu-satunya yang tersisa adalah kenangan akan api dan asap yang dibawa tentara Inggris ke tanah ini.
Ketika Tentara Pelaku Genosida Mengancam Masyarakat Mana Pun
Laporan Channel 12 rezim Zionis menunjukkan bahwa kekerasan yang dilembagakan di kalangan militer rezim Zionis kini telah berubah menjadi ancaman bagi keamanan dunia.
Berdasarkan laporan yang dipublikasikan di situs mako, afiliasi Channel 12 rezim Zionis, kejaksaan rezim pendudukan telah mengeluarkan dakwaan pembunuhan berencana terhadap seorang tentara.
Menurut laporan tersebut, terdakwa dalam sebuah insiden penembakan di Jalan Raya 6 turun dari kendaraannya dengan senapan serbu M16, awalnya memukuli pihak lawan, kemudian menembaknya dari jarak dekat. Selanjutnya, ia berusaha menghilangkan barang bukti dengan mengumpulkan selongsong peluru dan mengganti magazen.
Insiden ini menunjukkan bahwa kekerasan dan pandangan memusuhi orang lain telah tertanam dalam diri militer rezim Zionis sehingga mereka membawanya ke dalam kehidupan sipil sehari-hari. Seseorang yang dilatih untuk menetralisir ancaman dengan kekuatan mematikan, dalam situasi sipil pun kembali menggunakan pola perilaku yang sama.
Penggunaan senjata api secara instan dalam sengketa lalu lintas menunjukkan bahwa kekerasan mematikan telah berubah dari instrumen luar biasa menjadi respons yang terbayangkan dan bahkan permanen.
Dalam konteks dua tahun genosida di Gaza, yang disertai dengan tingkat kekerasan dan pembantaian yang belum pernah terjadi sebelumnya, proses ini semakin intensif. Pengalaman terus-menerus menggunakan kekuatan mematikan dan normalisasinya telah mengarah pada pembentukan mentalitas di mana penggunaan kekerasan bukanlah pengecualian, melainkan respons yang terbayangkan terhadap konflik.
Dalam konteks historis dan pengalaman hidup seperti ini, militer rezim Zionis, di mana pun mereka berada di dunia, dapat menjadi ancaman bagi masyarakat tersebut; karena mereka telah belajar untuk merespons konflik sekecil apa pun dengan reaksi paling keras dan merepresentasikan tindakan ini sebagai tindakan yang sah dengan dalih membela diri.




























