Larijani: "Tak Punya Bom Nuklir" Jadi Titik Temu Iran-AS

Rate this item
(0 votes)
Larijani: "Tak Punya Bom Nuklir" Jadi Titik Temu Iran-AS

 

Ali Larijani dalam wawancara dengan Al Jazeera menjelaskan sikap Iran mengenai negosiasi nuklir, perkembangan regional, dan situasi poros perlawanan. Ia menegaskan Tehran tidak menginginkan perang, tetapi secara bersamaan menempuh jalur negosiasi yang adil dan memperkuat daya tangkal.

Melaporkan dari Tasnim, ParsToday pada Senin, 16 Februari 2026, memberitakan Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, dalam wawancara dengan jaringan Al Jazeera Qatar menyatakan bahwa Tehran siap memasuki negosiasi nuklir yang adil guna mengatasi kekhawatiran, tanpa merugikan keamanan nasional negara. Ia pada saat yang sama menegaskan bahwa celah-celah internal telah diatasi dan Poros Perlawanan telah melewati guncangan akibat teror terkini.

Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran mengenai negosiasi terkini di Muscat mengatakan tidak membawa tanggapan tertulis apa pun atas tuntutan Amerika, dan apa yang dilakukan hanyalah pertukaran pandangan. Sebuah proses yang masih berlangsung. Ia menambahkan bahwa negara-negara kawasan juga mendukung pencapaian solusi politik untuk program nuklir Iran.

Larijani menegaskan bahwa Tehran memandang positif negosiasi, dengan syarat negosiasi tersebut adil dan masuk akal, serta tidak menjadi alat untuk membuang-buang waktu atau memaksakan isu di luar kerangka nuklir. Ia menyebut pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir sebagai titik temu potensial untuk terbentuknya kesepakatan.

Ia juga menegaskan bahwa Iran menerima pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam kerangka Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), tetapi menganggap pembicaraan tentang "pengayaan nol" sebagai sesuatu yang tidak realistis. Ia mengatakan pengetahuan nuklir tidak dapat dihilangkan dengan keputusan politik, dan Iran memiliki kebutuhan medis dan riset yang sah.

Larijani mengatakan program rudal Iran tidak dibahas dalam negosiasi terkini, dan isu ini merupakan bagian dari sistem keamanan nasional dan daya tangkal pertahanan negara yang tidak dapat dinegosiasikan.

Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran merujuk pada infiltrasi rezim Zionis dan mengatakan apa yang terjadi bukan akibat "infiltrasi luar biasa", melainkan hasil dari menurunnya tingkat kewaspadaan di sejumlah lembaga.

Ia melanjutkan bahwa pemerintah telah mengatasi kekurangan ini secara kelembagaan, menghancurkan jaringan-jaringan mata-mata, serta meningkatkan tingkat kesiapan dan kewaspadaan.

Larijani, seraya mengakui bahwa Hizbullah Lebanon menderita kerugian besar dan sekitar tiga ribu orang gugur dalam pertempuran terkini, menegaskan bahwa gerakan ini telah memulihkan kemampuannya dan kini memiliki kapasitas tinggi untuk menghadapi Israel.

Ia mengatakan bahwa satu pukulan tidak berarti akhir perang, dan perang pada dasarnya adalah pertukaran pukulan.

Ia menegaskan bahwa Israel juga terkena serangan rudal dan terpaksa mundur, serta tolok ukur ketahanan bukanlah jumlah korban, melainkan kemampuan untuk terus bertahan.

Mengenai Gaza, Larijani menyatakan bahwa Israel telah menghancurkan wilayah ini dan melakukan kejahatan besar, tetapi tidak mampu melenyapkan keberadaan Hamas. Gerakan ini, meskipun lebih dari dua tahun dibombardir berat, masih memegang kendali administrasi Gaza.

Larijani menilai kemungkinan terjadinya perang besar sebagai hal yang kecil, dan mengatakan pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa eskalasi ketegangan tidak menguntungkan para pemrakarsanya. Ia menegaskan Iran siap menghadapi semua skenario, tanpa menginginkan menyulutnya konflik.

Ia menilai sikap negara-negara seperti Arab Saudi, Turki, dan Mesir yang menentang aksi militer sebagai tanda pemahaman akan bahaya ledakan regional, dan mengumumkan kesiapan Iran untuk memperkuat hubungan berdasarkan rasa saling menghormat. Larijani juga memuji peran Qatar dalam mediasi.

Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran mengatakan kerja sama dengan Tiongkok dan Rusia didasarkan pada kepentingan bersama, dan dukungan mereka terhadap Iran di Dewan Keamanan mencerminkan kemitraan politik. Pergeseran Iran ke Timur adalah akibat ingkar janji Barat.

Di akhir, Larijani sekali lagi menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang, tetapi tidak akan menyerah terhadap ancaman, dan mengandalkan kombinasi negosiasi dan daya tangkal.

Read 19 times