کمالوندی

کمالوندی

Minggu, 27 Oktober 2019 17:28

Satu Kisah Jelaskan Keistimewaan Air Zamzam

 

Air Zam-zam selalu memukau para pendengarnya. Ia memancar dari zaman Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim as. Sudah beribu tahun usianya tapi ia masih memancarkan air sucinya. Tak pernah kering walupun hidup di padang pasir.

“Sebaik-baiknya air di muka bumi adalah air Zamzam. Air tersebut bisa menjadi minuman yang mengenyangkan dan penawar rasa sakit.” (HR Thabrani).

Nu Online mengabarkan bahwa air zamzam adalah air yang sangat istimewa. Banyak nash, hadits, atsar, ataupun khabar yang menjelaskan tentang keutamaan dan keistimewaan air zamzam. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan Thabrani di atas. Di situ dijelaskan bahwa air zamzam bisa menjadi pengganti makanan karena ia mengenyangkan. Dia juga bisa menjadi obat yang menyembuhkan.

Selain itu, air zamzam juga memiliki keistimewaan lain. Yakni tetap steril meski tercemar. Terkait hal ini, ada kisah menarik dari seorang insinyur kimia, Yahya Kausyak. Pada tahun 1980-an, Yahya Kusyak menjadi salah satu orang yang terlibat dalam penataan dan renovasi sumur zamzam setelah terjadi pencemaran.

Dalam buku Air Zamzam Mukjizat yang Masih Terjaga (Said Bakdasy, 2015) dijelaskan, bersamaan dengan itu Yahya bin Kusyak juga melakukan penelitian terhadap air zamzam. Dia meyakini bahwa hasil risetnya akan menunjukkan kalau air zamzam mengalami pencemaran dalam skala besar. Oleh karena itu, ia meminta agar penggunaan air zamzam harus dilarang. Ia juga menyarankan agar air zamzam disedot, dinding sumur harus dicuci dan disterilisasi dengan menggunakan bahan-bahan yang bersih.

Ketika itu Sami Anqawi dan Abdul Hafidh Salamah, anggota lain dalam tim penataan dan renovasi sumur zamzam, tetap meminum air zamzam sebelum hasil riset Yahya Kusyak keluar. Benar saja, hasil penelitian Yahya Kusyak menunjukkan bahwa saat itu terjadi pencemaran terhadap air zamzam dalam skala besar.

Akan tetapi, Anqawi dan Salamah yang meminum air zamzam –pada saat air zamzam dinyatakan tercemar- tetap baik-baik saja. Keduanya tidak mengalami masalah kesehatan apapun. Begitupun dengan para jamaah haji dan para pekerja yang tetap meminum air zamzam bersama dengan dua orang tersebut. Itulah keistimewaan air zamzam yang bersifat inderawi dan nyata.

Begitupun dengan orang-orang pada zaman dulu. Mereka dari luar Makkah datang ke sumur zamzam dengan unta yang tidak bersih. Selama perjalanan itu pula, mereka bisa saja terkena bakteri, penyakit, dan kotoran. Ketika sampai di sumur, mereka kemudian mengambil air zamzam dengan menggunakan timba. Para dokter berpendapat bahwa penyakit menyebar melalui air dengan cara pengambilan seperti itu. Namun nyatanya, tidak ada dari mereka yang terkena penyakit. Malah mereka menjadi sembuh oleh air zamzam.

“Air zamzam adalah sesuai dengan tujuan orang yang meminumnya.” Kata Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits riwayat Ahmad.

Demikian keistimewaan air zamzam. Ia tetap steril, sehat, dan menyehatkan, meski ‘divonis’ sedang tercemar. Tidak lain, ini adalah bentuk perhatian khusus dan penjagaan Allah terhadap air yang diberkahi-Nya itu. Bukankah penjagaan Allah di atas segalanya. Waallahu ‘Alam

Minggu, 27 Oktober 2019 17:28

Rezeki Agung Yang Dipatok Ayam

 

Bangun pagi telat, rezeki dipatok ayam. Sepenggal peribahasa yang sering diulang-ulang oleh orangtua khususunya Sang Ibu karena tidak inginkan anaknya punyai kebiasaan bangun pagi telat.

Bagi penulis sepenggal peribahasa ini punyai makna sendiri. Itu semua karena;

Jika aku tidak bangun pagi maka waktu untuk menatap wajah Bapakku akan lenyap karena dia harus berangkat kerja dan baru pulang nanti sore.

Jika aku tidak bangun pagi maka aku pun tidak bisa mencium tangan ibu tatkala pergi sekolah karena setelah siapkan sarapan pagi, dia pergi ke kebun atau bukit untuk cari rumput.

Jika aku tidak bangun pagi maka aku tidak akan bisa menepuk bahu adik-adikku untuk berikan semangat walaupun kadang bertengkar kecil tanda saling menyayangi.

Yang paling penting, jika aku tak bangun pagi, aku akan kehilangan waktu untuk bercakap-cakap memohon ampunan pada Yang Maha Kuasa saat fajar menyingsing.

 

Rezeki tidak selalu berupa duit, menatap wajah Bapak, mencium tangan Ibu, bercanda gurau dengan Adik, berdoa di pagi hari pada Yang Maha Kuasa adalah rezeki besar nan agung. Jangan sampai rezeki itu dipatok ayam karena telat bangun pagi.

Minggu, 27 Oktober 2019 17:27

Cerita Hikmah; Petani Tiongkok Yang Bijak

 

Suatu ketika ada seorang petani Tiongkok kehilangan seekor kuda.

Lalu malam harinya semua tetangga datang dan berkata, “Sangat disayangkan sekali”.

Dan sang Petangi menjawab, “Mungkin!”

 

Keesokan  harinya, kuda itu kembali dan membawa tujuh kuda liar.

Dan semua tetangga datang dan berkata, “Wow itu hebat! Bukankah begitu?”

Dan dia menjawab, “Mungkin!”.

 

Keesokan harinya, putranya sedang berusaha menjinakan salah satu kuda. Namun dia terjatuh dan kakinya patah.

Malam harinya semua tetangga datang dan berkata, “Kasihan sekali putramu!”

Dan dia menjawab, “Mungkin!”

 

Keesokan harinya, Petugas Wajib Militer datang mencari orang untuk direkrut jadi tentara. Dan mereka menolak putranya karena kaki putranya patah.

Malam harinya para tetangga datang dan berkata, “Bukankah itu luar biasa?!”

Dan dia menjawab, “Mungkin”

 

Kadang kita tidak tahu ada apa dibalik setiap peristiwa yang menimpa kita. Yang harus kita lakukan adalah berusaha untuk berprasangka Bangka kepada Allah swt Yang Maha Hakim. Jikalau kita berada di jalan-Nya, inshaAllah semuanya adalah yang terbaik dari-Nya untuk kita.

 

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap wujud yang ada di alam semesta ini mempunyai peran masing-masing. Hanya saja kadang peran tersebut sudah ada yang ditemukan dan karena keterbatasan ilmu kita, ada yang masih menjadi rahasia. Seperti peran semut yang akan kita baca sekarang.

NuOnline mengabarkan bahwa Ibnu Abu Hatim berkata, ayahku bercerita kepadaku, Muhammad bin Basysyar bercerita, Yazid bin Harun bercerita, Mis’ar bercerita, dari Zaid al-‘Ama, dari Abu al-Shiddiq al-Naji, ia berkata:

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam keluar (dari istananya) untuk meminta hujan. Tiba-tiba ia menjumpai seekor semut yang berbaring dengan punggungnya (terlentang), (dan) semua kakinya diangkat menghadap langit. Semut itu berdoa:

“Ya Allah, sesungguhnya kami adalah salah satu dari makhluk-Mu. Kami sangat memerlukan guyuran air (hujan)-Mu. Jika Kau tidak mengguyuri kami (dengan air hujan-Mu), Kau akan membuat kami binasa.”

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata: “Pulanglah, sudah ada (makhluk lain) selain kalian yang berdoa meminta hujan.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, Riyadh: Dar Thayyibah, 1999, juz 6, h. 184)

Kisah di atas cukup menarik, karena menjelaskan banyak hal, terutama soal pengaruh tasbih dan doa makhluk Allah lainnya kepada alam semesta. Untuk lebih mudah memahaminya, kita perlu menengok riwayat lain yang membicarakan kisah di atas.

Perkataan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam menunjukkan bahwa peran makhluk Allah non-manusia sangat besar untuk alam semesta. Selama ini kita mengabaikan peran mereka, baik dalam keseimbangan alam maupun keseimbangan lainnya. Keseimbangan alam yang dimaksud di sini adalah, misalnya populasi cicak, ikan, atau kadal berkurang secara drastis, maka populasi nyamuk akan semakin besar, karena keseimbangan telah berubah dengan semakin berkurangnya binatang pemakan jentik nyamuk. Ini sekedar contoh.

Dengan membaca perkataan Nabi Sulaiman, kita jadi tahu peran lain mereka yang tidak kalah dengan manusia. Bisa jadi, merujuk kisah di atas, hujan yang turun di lingkungan kita hasil dari doa mereka, ibadah mereka dan tasbih mereka.

Minggu, 27 Oktober 2019 17:25

Kisah Abu Nawas; Tidak Tahu Jalan Ke Neraka

 

Ada seorang yang hendak melecehkan Abu Nawas dengan satu pertanyaan sebagai berikut;

“Kapan Anda meninggal dunia?” Tanyanya kepada Abu Nawas.

“Kenapa kamu tanya seperti itu?” Kata Abu Nawas sedikit tersinggung.

“Ah, tidak apa-apa. Saya hanya mau titip surat pada Anda untuk mendiang ayah saya.” Jawabnya.

“Aduuh! sayang sekali. Kebetulan aku tidak tahu jalan ke Neraka Jahannam. Jadi sebaiknya kamu titipkan pada orang lain saja!” Kata Abu Nawas.

Mendengar jawaban Abu Nawas itu, orang tadi merasa malu sendiri. Kemudian ia pergi dengan kesal.

Minggu, 27 Oktober 2019 17:24

Renungan Untuk Kalian Yang Malas Beribadah

 

Ibadah adalah menunjukan kerendahan diri dan mengagungkan Allah swt. Saking pentingnya ibadah, Allah swt menjadikannya sebagai tujuan dari penciptaan alam semesta dan pengutusan para Nabi Allah.

وَ ما خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الْإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ (56)

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” Surah Adz-Dzaariyyat {51}:(56).

Begitu pun surat tugas para Nabi as adalah mengajak manusia untuk menyambah Allah swt.

وَ لَقَدْ بَعَثْنا في‏ كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَ اجْتَنِبُوا الطَّاغُوت (36)

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut.” Surah An-Nahl {16}:(36).

Maka tujuan dari penciptaan semesta dan pengutusan para Nabi adalah ibadah kepada Allah swt. Bukankah ibadah merupakan sesuatu yang sangat besar?!

Sangatlah jelas, Allah swt tidak membutuhkan ibadah kita. Manfaat dari ibadah kembali lagi pada manusia. Seperti murid yang belajar, manfaatnya kembali pada dirinya sendiri bukan pada gurunya.

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُم (7)

“Jika kalian kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan kalian.” Surah Az-Zumar {39}: (7).

Setelah mengetahui hal ini, masihkah kita malas untuk beribadah?! Padahal manfaat dari ibadah adalah murni untuk manusia.

 

Seandainya saja ibu kalian masih hidup, kalian akan beruntung karena berkhidmat pada beliau mampu gugurkan dosa-dosa besar.

Seseorang datang menghampiri Baginda Rasul saw dan berkata,

“Ya Rasulallah! Aku begitu banyak melakuka dosa. Setiap jenis dosa aku telah lakukan. Setiap perbuatan buruk yang engkau larang, aku melakukannya. Apakah tidak ada lagi cara yang bisa menolongku?”

Baginda Nabi bertanya,

“Apakah kamu punya ayah dan ibu?”

“Aku masih punya ayah.” jawabnya.

“Berkhidmatlah pada ayahmu!” sabda Baginda Nabi.

Ketika Baginda Nabi pergi beranjan dan berpapasan dengannya, Beliau bersabda;

“Aduhai! Seandainya saja ibu mu masih hidup, maka engkau akan dengan cepat bisa menghapuskan dosa-dosa mu!”

Berkhidmat pada kedua orangtua, terutama ibu mampu menghapuskan dosa-dosa kita dan berkhidmat kepada Ibu lebih penting dari pada ayah.

Minggu, 27 Oktober 2019 17:23

Kisah Abu Nawas; Mencari Cincin

 

Suatu hari, Abu nawas sibuk mondar-mandir mencari sesuatu di sekitar rumahnya. Ia terus mencari-cari namun tetap saja tidak menemukannya. Waktu pun terus berjalan hingga sudah berjalan setengah hari.

Karena sudah terlalu lama mencari namun tetap saja tidak menemukan, akhirnya banyak diantara tetangga-tetangganya yang bertanya-tanya padanya karena penasaran. Akhirnya, mereka pun bergabung untuk membantu Abu Nawas.

“Hai Abu Nawas, apa yang sedang engkau lakukan?” tanya seorang tetangga.

“Mencari cincin!” jawab Abu Nawas santai.

Para tetangga yang bergabung pun turut serta membantu sebisanya. Ikut mondar-mandir kesana-kemari. Mereka pun kelelahan dan bosan.

“Memangnya cincinmu itu kira-kira jatuhnya di mana?” tanya salah satu tetangga yang lain.

“Seingatku cincin itu jatuh di dalam rumahku” jawab Abu Nawas dengan santai tanpa merasa bersalah.

Mendengar jawaban Abu Nawas, para tetangga yang ikut membantu langsung berhenti dari pencariannya. Sebagian ada yang marah dan sebagian ada yang langsung pergi. Sedangkan sebagiannya tetap tinggal.

“Jika jatuhnya di dalam rumah, mengapa engkau mencarinya di luar rumah?” tanya salah satu dari mereka yang tinggal.

Sejenak menghela nafas, Abu Nawas pun memberikan alasan.

“Bukankah kita sering melakukan itu, wahai saudara-saudaraku? Seringkali kita mencari penyebab di luar kita atas berbagai persoalan yang kita hadapi.”

Abu Nawas kemudian menambahkan,

“Bahkan, kita menyalahkan pihak lain saat ditimpa masalah. Dan menjadikan orang-orang di luar kita sebagai penyebab utama atas persoalan yang melilit kita sendiri?”

 

Suatu hari Abu Nawas melarang karib setianya untuk rukuk dan sujud dalam salat. Hal ini sampai pada telinga Khalifah Harun Al-Rasyid sehingga ia marah besar pada Abu Nawas. Harun Al-Rasyid ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa tidak mau rukuk dan sujud dalam salat.

 

Terlebih, Harun Al-Rasyid juga mendengar bahwa Abu Nawas mengatakan bahwa dirinya khalifah yang suka fitnah. Khalifah Harun Al-Rasyid mulai terpancing saat para pengikutnya mengatakan bahwa Abu Nawas layak dipancung karena telah melanggar syari’at Islam dan menyebar fitnah. Pasa saat itu Khalifah Harun Al-Rasyid mulai gelisah, ia ingin bertemu Abu Nawas untuk klarifikasi.

 

Abu Nawas pun dibawa ke istana untuk menghadap Khalifah Harun Al-Rasyid. Pada saat itulah Khalifah bertanya tentang kebenaran kabar yang didengarnya.

 

“Hai Abu Nawas, benarkah kamu berpendapat bahwa tidak ada rukuk dan sujud dalam salat?” tanya Khalifah Harun Al-Rasyid ketus.

Setelah pertanyaan itu dilontarkan, Abu Nawas pun langsung menjawab dengan tenang “Benar, saudaraku.”

 

Mendengar jawaban Abu Nawas, Khalifah kembali bertanya dengan suara yang lebih tinggi.

 

“Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun Al-Rasyid adalah khalifah yang suka fitnah?” tanya Harun Al-Rasyid.

 

Abu Nawas menjawab, “Benar, saudaraku.”

 

Mendengar jawaban Abu Nawas itu Harun Al-Rasyid berteriak dengan suara yang menggelegar.

“Kamu memang pantas dihukum mati karena melanggar syari’at Islam dan menebarkan fitnah tentang khalifah!” ujar Harun Al-Rasyid dengan nada tinggi.

 

Abu Nawas tersenyum seraya berkata, “Saudaraku, memang aku tidak mengelak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap. Kata-kataku dipelintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah.”

 

Khalifah berkata ketus, “Apa maksudmu? Jangan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan bahwa kabar itu adalah benar.”

 

Abu Nawas kemudian beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang, “Saudaraku, aku memang berkata rukuk dan sujud tidak perlu dalam salat, tapi dalam salat apa? Waktu itu aku menjelaskan tata cara salat jenazah yang memang tak perlu rukuk dan sujud.”

 

“Bagaimana soal aku yang suka fitnah?” tanya Khalifah Harun Al-Rasyid.

 

Abu Nawas menjawab dengan senyum, “Kalau itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 surat Al-Anfal, yang berbunyi ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu. Sebagai seorang khalifah dan seorang ayah, anda sangat menyukai kekayaan dan anak-anak, berarti anda suka ‘fitnah’ (ujian) itu.”

 

Mendengar penjelasan Abu Nawas yang sekaligus bernada kritikan, Khalifah Harun Al-Rasyid tertunduk malu. Ia lantas menyesal dan sadar. Rupanya, kedekatan Abu Nawas dengan Harun Al-Rasyid menyulut iri dan dengki di antara pengikut-pengikutnya.

 

Abu Nawas memanggil Khalifah dengan “Ya Akhi” (saudaraku). Hubungan di antara mereka bukan antara tuan dan hamba. Pengikut-pengikut khalifah yang menghasut, ingin memisahkan hubungan akrab tersebut dengan memutarbalikkan berita.

 

Suatu hari di masa pemerintahannya, Sayidina Ali berjalan mengelilingi kota. Tiba-tiba beliau melihat seorang yang sedang meminta-minta. Lalu beliau bertanya pada para sahabatnya.

“Siapa laki-laki tersebut, mengapa dia menjulurkan tangannya untuk meminta-minta?” tanya Sayidina Ali.

“Lelaki tua itu adalah mantan seorang kuli dan juga seorang pengikut Masehi!” jawab mereka.

Setelah mendengar hal ini, Sayidina Ali bin Abi Thalib kwz menegur dan menasihati para sahabatnya.

“Mengapa kalian menelantarkannya. Kalian menggunakan tenaganya ketika ia masih muda kemudian menelantarkannya ketika ia sudah tua. Cepat, berikan padanya bantuan dari Baitul Mal!” Tegur Sayidina Ali.

Saudara-saudaraku, inilah perwujudan Islam yang sebenarnya. Islam hadir di alam semesta ini untuk menjadikan manusia sebagai manusia yang seutuhnya. Jika Islam yang ada sekarang adalah Islam yang radikal maka niscayanya dia bukanlah Islam. Tapi pemikiran sebuah kelompok yang dibalut dengan Islam.