کمالوندی
Hakikat Segala Sesuatu: Bentuk dan Makna
Alam yang tampak secara inderawi ini adalah jelas. Siapapun akan mengakui wujud alam yang tampak ini. Namun penampakan alam lahir ini tak memberi keluasan makna apa-apa selain dari pada yang tampak belaka. Kemenampakan realitas memunculkan sifat keberagaman yang masing-masing memiliki keunikan-keunikan tersendiri. Di samping itu, apa yang nampak selalu berubah. Sehingga dengan begitu, ia bukanlah bersifat hakiki secara eksistensial. Karenanya pula ia bukan sandaran ontologis untuk menjadi dasar bagi prinsip-prinsip kehidupan.
Maulana Rumi menyebut apa yang nampak di seantero alam raya ini hanyalah bentuk-bentuk, dan barang siapa terpesona dengannya tak akan menemui hakikat sejati dan tentunya tak akan menemukan kebahagian abadi. Rumi berdendang:
“Lupakanlah yang tampak, masuklah ke dalam yang tak tampak. Di sana kalian akan menemukan perbendaharaan yang tiada tara” (Mastnawi)
Sementara di balik bentuk-bentuk ini ada Makna, yaitu perbendaharaan yang memiliki nilai sejati, dan di hadapan Makna ini sang bentuk tak memiliki nilai apa-apa. Manusia sering terpukau oleh deburan ombak yang saling mengiringi, namun sering abai terhadap luasnya lautan. Dunia yang serba nampak ini ibarat debu, dan angin adalah maknanya. Seiring menguatnya getar-getar cinta seorang hamba maka dunia tampak kerdil baginya. Rumi kembali berdendang:
“Di hadapan makna, apalah arti bentuk? Sangat tak sepadan. Makna langit tetap tersembunyi di tempat persemayamnya”
“Makna angin menjadikannya mengembara bagai roda yang berputar, tawanan bagi air yang mengalir”
” Ketahuilah, bahwa segala yang kasatmata adalah fana, tapi dunia Makna tak akan pernah sirna”
Makna sebagai Dasar Bagi Bentuk
Dalam al Quran, ditegaskan bahwa segala sesuatu adalah milikNya belaka (wa lillahil masyriqu wal maghrib / wa lillahi ma fissamawati wal ard). Untuk itu tiada jalan untuk kembali kecuali kepadaNya (inna lillahi wa inna ilaihi roji’un). Karenanya apapun yang ada di dunia ini berupa kebesaran, kemuliaan, kedigdayaan, kekuasaan, keindahan hanyalah bentuk-bentuk yang relatif, dapat berganti, berubah, mewujud dan sirna. Lalu Rumi bertanya:
“Sampai kapankah engkau akan terpikat oleh bejana? Tinggalkanlah ia; Pergi, airlah yang harus engkau cari!”
“Maka hanya melihat bentuk, makna tak akan engkau temukan. Jika engkau seorang yang bijak, ambillah mutiara dari dalan kerang”
Apa yang memungkinkan hadirnya bentuk-bentuk di jagat semesta alam ini adalah dunia makna yang universal, dimana dunia makna adalah pengetahuanNya. Dan jika pengetahuanNya adalah pula wujudNya, maka segala yang maujud tiada lain adalah WujudNya pula. Para filsuf muslim meyakini bahwa setiap yang ada adalah bermula dari pengetahuanNya yang kemudian mendapat limpahan wujud dariNya sehingga ia mewujud. Karenanya hanya wujud yang nyata, dan wujud tiada lain adalah DiriNya.
Tapi dunia adalah kenyataan hidup manusia, tak mungkin meninggalkannya atau menafikannya. Bukan sekedar bahwa dunia adalah kenyataan yang berdampingan dengan hidup manusia bahkan manusia membutuhkannya guna keberlangsungan kehidupannya. Maka, meninggalkan dunia tak mungkin dimengerti sebagai tak lagi membutuhkannya, melainkan tak memposisikannya dalam ruang terdalam di hati: Cinta. Hati harus membersihkan dirinya dari citra-citra duniawi yang berserakan tanpa nilai. Cinta harus meraih makna sejati dengan melampaui dunia.
“Lampauilah bentuk, lepaskan nama-nama dan segala sebutan, temukan makna” (Matsnawi)
Hubungan manusia dengan dunia realitas memiliki kompatibilitasnya masing-masing. Struktur realitas: Alam Ruhani, Alam Mitsal, Alam Dunia-materi memiliki kesesuaiannya dengan daya tampung jiwa manusia. Jiwa manusia mampu menerima gambaran akan obyek-obyek indrawi di alam kasat mata ini. Lalu dengan kemampuan rasionalnya dapat menghasilkan konsep-konsep baru. Namun tidak semua pemahaman dapat dihasilkan dengan kerja-kerja rasional diskursif. Jiwa membutuhkan kehadiran langsung, bukan tentang apa yang dipikirkan namun apa yang tampak dalam batin. Hanya hakikat-Dunia Makna yang dapat memenuhi dahaga jiwa terdalam manusia. Sejauh jiwa manusia hanya terpaut dengan segi-segi material duniawi saja, maka Sang Jiwa terdalam akan selamanya menderita.
Bagi jiwa, dunia hanya jalan untuk kembali bukan untuk menetap. Alam raya ini meskipun ia wujud namun wujudnya adalah pantulan wujud sang makna. Alam sebagai dirinya tak bermakna, ia menjadi bermakna jika dikaitkan kepada sang makna itu sendiri. Maka Jalaluddin Rumi meyakini hakikat ilmu yang sejati adalah yang berasal dari sang makna yang ketahui oleh Tuhan. Yang itu berarti ilmu sejati adalah ilmu yang dihadirkan oleh Tuhan langsung (hudhuri) sebagaimana ilmunya para Nabi.
Akal memang mampu menangkap ilmu dan mengembangkannya. Tapi ia hanya berupa gambaran-gambaran, sementara sang makna harus disingkap dengan cara yang lain, yakni hati yang penuh cinta. Hati dan cinta menjadi alat epistemologis yang khas bagi kaum sufi. Karena pada mulanya adalah Tuhan yang Maha Cinta. Dan semua terjadi karena Cinta. Karena bagi Tuhan segala sesuatu terjadi di bawah kuasa dan izinNya sehingga tidak mungkin terjadi suatu hal yang dibenciNya sendiri.
Sementara kebaikan dan keburukan sebagaimana berlaku dalam kategori etis yang berkaitan dengan kemaslahatan manusia sendiri. Karena kebaikan manusia tak menambah apa-apa pada kekuasaan Tuhan yang secara hakikat sempurna, begitu pula keburukan manusia pun tak mengurangi apa-apa dari kekuasaanNya.
Tujuan Penciptaan
Jika semua berasal dariNya, dan tiada ruang dan waktu kecuali semua adalah dalam genggamanNya, maka tidak ada jalan menuju akhir bagi segala sesuatu kecuali padaNya jua. Al Quran secara gamblang menyatakan bahwa manusia dan seluruh alam ini adalah milikNya dan akan kembali padaNya (Inna Lillahi wa Inna ilaihi rojiun). Keyakinan akan asal kehidupan, merupakan salah satu fondasi penting bagi pandangan seseorang akan tujuan kehidupan. Keyakinan akan yang transenden sebagai asal kehidupan secara logis akan membawa pandangan mengenai alam pasca-akhir kehidupan.
Sebaliknya, bagi mereka yang meyakini bahwa alam semata gerak material dan menafikan aspek-aspek transendental, tentu akan meyakini bahwa alam tak sedang menuju kemana-mana, kecuali suatu gerak mengada (muncul) dan meniada (lenyap). Bahkan mereka meyakini bahwa tiada akhir bagi dunia, yang ada adalah selalu pembaharuan, aktualitas dari potensi-potensi yang terkandung sebelumnya. Dunia dipandang sebagai organisme fisikal-biologis belaka tanpa ada makna batin-spiritual apapun.
Spiritualisme Islam, sebagaimana diungkapkan oleh Rumi, mendasarkan penciptaan pada pengejawantahan Asma-asma Tuhan. Alam adalah citra asma dan sifatNya. Dalam suatu hadist qudsi dikemukakan bahwa “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, aku ingin dikenal, maka kuciptakan dunia agar aku dikenal”. Dengan mengacu pada pemahaman ini, maka Rumi menafsir ayat suci al Quran “wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduni” bahwa menyembahnya sebagai alasan penciptaan adalah mengenalNya (ma’rifatullah).
Liya’buduni adalah Makrifatullah
Ma’rifatullah merupakan kesadaran yang juga bagian dari asmaNya sebagai al ‘alim. Maka sesungguhnya fungsi kesadaran tiada lain juga sebagai jalan (shirot) untuk mengenalNya. Apa yang pasti dalam kesadaran manusia adalah pertama-tama fitrahnya untuk selalu bergantung (al faqir). Manusia dalam kesadarannya selalu menghendaki kesempurnaan dan bahkan keabadian. Dengan kesadaran fitrawi yang demikian, manusia selalu mencari cara untuk mewujudkannya. Meski kebahagiaan duniawi bersifat sementara tapi setiap manusia dalam inti kesadarannya tetap menghendaki kebahagiaan yang abadi.
Kesadaran akan keberbutuhannya tersebut sejatinya merupakan jalan untuk kembali kepada dzat yang abadi. Hanya saja, tingkat kesadaran yang berbeda membuat pola berpikir yang berbeda pula dalam memahami apa itu kebahagiaan. Kesadaran yang hanya terpaut oleh dunia akan kehilangan cahaya di dalam dirinya sendiri. Cahaya diri dimana ia merupakan gerbang membuka kasyaf ilahi. Manusia seringkali terpesona oleh alam, namun lupa pesona cahaya dalam dirinya sendiri.
Filsuf Barat kenamaan, Immanuel Kant, pernah berseloroh, “di langit ada keindahan bintang gemintang, di dalam diriku ada keindahan moral”. Bagaimana moral dapat muncul dalam diri? Maka manusia mesti berpikir apa sumber ontologis dari moral. Bagi Kant, moral bersifat imperatif, ia merupakan suatu dorongan jiwa yang tak terikat oleh alam. Dalam Islam, itulah fitrah-batin yang bersifat spiritual, dan alam spiritual adalah perintahNya (Amrullah). Dengan begitu, Tuhan tengah selalu hadir dalam jiwa setiap manusia melalui dorongan-dorongan spiritual yang terejawantahkan melalui prinsip-prinsip moral yang membuat dunia manusia adalah dunia makna, bukan sekedar dunia organis-mekanis.
Bentuk yang Fatamorgana, dan Makna yang Hakiki
Secara mendasar Rumi menegaskan suatu tesis bahwa alam dunia merupakan bentuk-bentuk, sebagai bentuk alam ini tiada lain adalah implikasi dari hakikat makna-makna. Bentuk mengemuka dalam pluralitas yang berserakan di alam, tapi semua adalah gaung dari suatu makna-makna yang tunggal di sisiNya. Tanpa makna, tiada bentuk. Dan pada manusia, sisi maknawi (kesadaran) dan sisi bentuknya (fisik-biologis) menyatu dalam wujudnya. Oleh sebab itu, manusia memiliki potensi yang amat tinggi untuk mengerti keduanya yang itu juga menjadikannya sebagai makhluk tertinggi dalam hierakhi kosmos.
Persoalan bagi manusia adalah bagaimana menempatkan kesadarannya di dalam kerangka eksistensial alam semesta sebagai tanda akan WujudNya yang hakiki. Maka Islam, dalam kesadaran spiritualistasnya, berada dalam struktur realisme, yang mengacu pada hakikat realitas dan menempatkan sisi ruhaniah sebagai inti realitas itu sendiri. Maka, spiritualisme Islam bukanlah imajinasi rekayasa mental belaka tapi justru ia berangkat dari kenyataan yang mendasar dari alam yang nampak ini. Alam bukanlah ketiadaan, sebagaimana anasir kaum idealis, ia adalah kenyataan, justru karena Tuhan adalah Maha Nyata (kontra-materialisme). Bahkan penemuan sains modern (fisika kuantum), materi tak lagi dipahami sebagai suatu wujud yang sepenuhnya fisikal. Fisikawan quantum menemukan bukti bahwa ternyata atom-atom terdiri dari pusaran energi yang memiliki vibrasi. Setiap atom seperti gasing yang bergoyang-goyang memancarkan energi. Pusaran energi yang sangat kecil dan tak kasat mata ini disebut quark dan proton, yang secara kolektif membentuk atom.
Dari jarak kejauhan, atom terlihat bulat seperti bola kelereng. Tetapi jika fokus mikroskopis diperdekat, wujud atom menjadi lebih samar dan buram. Makin dekat penglihatan kia, makin tak terlihat dan bahkan ia tak terlihat sama sekali. Artinya, apakah atom yang dipercaya sebagai inti materi adalah juga suatu materi? Fakta ilmiah membuktikan pada kita bahwa pada keseluruhan struktur atom, terdapat apa yang disebut “kehampaan fisik” (physical void). Ibarat fatamorgana, dari kejauhan terlihat ia nampak mewujud, namun pada hakikatnya ia hanya vibrasi dari suatu gelombang-gelombang belaka.
Persis demikian, bagi kaum sufi, dunia pun pada hakikatnya hanyalah bayangan-bayangan. Meskipun ia suatu kenyataan tapi bukan kenyataan hakiki pada dirinya. Alam ada sejauh ia adalah manifestasi dari hakikat keberadaan Sang Maha Ada. Keseluruhan energi dan potensi yang dimilikinya berasal dari sang Ada Mutlak. Maka, tiada pilihan bagi manusia terkait hubungannya dengan Tuhan Sang Maha Ada, kecuali ketundukan dan ketaatan.(Fardiana Fikria Qurani, M.Ud)
Tarekat Fatimah
Dalam kamus besar bahasa Indonesia tarekat dimaknai sebagai jalan, jalan menuju kebenaran (dalam tasawuf); cara atau aturan hidup (dalam keagamaan atau ilmu kebatinan); persekutuan para penuntut ilmu tasawuf. Tarekat dalam tasawuf berarti jalan menuju Allah SWT untuk meraih rida-Nya dengan menaati segala ajaran-Nya. Menurut Al Jurjani `Ali bin Muhammad bin `Ali (740-816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah SWT melalui tahapan-tahapan atau maqamat.
Tarekat mulai berkembang sekitar abad ke-6 H. Adalah Tarekat Kadiriyah yag pertama kali berdiri. Tarekat ini diajarkan Abdul Qadir bin Abdullah Al Jili seorang sufi tersohor di Baghdad. Menurut legenda, sufi kelahiran Jilan, Persia 471 H itu adalah orang saleh yang memiliki keajaiban.
Tulisan singkat ini tidak sedang membahas tarekat tertentu tapi sekadar membuka wawasan dan ruang diskusi atas pertanyaan: Apakah mungkin salik (pejalan spiritual yang menginginkan maqam qurb atau kedekatan Ilahiah) mampu berjalan menuju maqam “inda Allah” (di sisi Allah) tanpa jalan dan tarekat Siti Fatimah? Dengan kata lain, apakah salik mampu melalui suluk ilallah (jalan menuju Allah) yang terjal, licin dan berbahaya tanpa mengenal dan mencintai Siti Fatimah? Apa keunggulan salik yang mencintai Fatimah dibandingkan dengan salik yang kurang mengenalnya? Apakah mahabbah dan makrifat kepada Siti Fatimah akan menawarkan kecepatan, keberkahan dan kedudukan istimewa bagi salikin (para penempuh suluk)? Sehebat apa maqam Siti Fatimah hingga salikin perlu bertawasul kepada beliau dalam suluk mereka? Apakah ada salik yang dalam mukasyafah-nya (penyingkapan alam gaib) mampu melihat maqam Siti Fatimah di sisi Allah hingga mengundang ghibtah (kecemburuan) bagi ‘arifin (ahli makrifat)?
Sebagian ‘urafa berpandangan bahwa salik dapat mencapai maqam dalam suluk bila ia bersandar pada Siti Fatimah Az-Zahra. Cinta kepada Fatimah inilah yang akan membimbing salik ke jalan yang mesti dilaluinya. Tanpa tarekat dan cinta Fatimah, tak ada suluk dan perjalanan ini.
Sekarang, kita intip sedikit maqam spiritual Siti Fatimah. Dalam hadis disebutkan bahwa saat Fatimah binti Rasulullah Saw lewat di Padang Mahsyar, ada suara yang memanggil:
«غُضّوا أبصارکم»
Tutup mata kalian!
Hadis lengkapnya sebagai berikut:
قال رسول اللّه صلى الله علیه وآله: «إذا كانَ یَوْمُ القیامَةِ نادى مُنادٍ: یا أَهْلَ الجَمْعِ غُضُّوا أَبْصارَكُمْ حَتى تَمُرَّ فاطِمَة»
Rasulullah saw bersabda: Pada hari kiamat ada suara yang memanggil: Wahai penduduk Mahsyar, pejamkan mata kalian hingga Fatimah lewat.
Maknanya bukan karena kalian bukan muhrim maka tutuplah mata kalian atau palingkan wajah kalian hingga kalian tidak bisa melihatnya!
Hari itu taklif (hukum fikih) tidak berlaku karena itu hari kiamat dan tidak ada pembicaraan soal muhrim dan non-muhrim. Perintah ini adalah perintah takwini (terkait dengan perintah dan kehendak Allah tanpa memperhatikan ikhtiar dan kemauan manusia), bukan perintah tasyri’i (perintah/hukum yang memperhatikan ikhtiar dan kemampuan manusia). Yakni, kalian tidak akan pernah mampu memandang Nur Siti Fatimah. Maka, tundukkan kepalamu karena kamu tidak akan mampu menatap cahaya wajah Fatimah!
Hadis lain yang menjelaskan maqam Siti Fatimah di surga ialah
قال رسول اللّه صلى الله علیه وآله: سیّدَةُ نِساءِ أَهْلِ الجَنَّةِ فاطِمَة
Rasulullah Saw bersabda: Fatimah pemimpin para wanita ahli surga.
Fatimah bukan hanya sekadar masuk surga bahkan beliau menjadi pemimpin para wanita di surga. Surga adalah tajalli (manisfestasi) rahmat Allah dan Fatimah adalah tajalli tam (perwujudan sempurna) dari rahmat Ilahiah hingga beliau layak termasuk di antara yang pertama masuk surga bersama Rasulullah saw dan menjadi pimpinan penduduk surga.
Jadi, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa parameter dan timbangan iman adalah cinta pada Fatimah Az-Zahra. Dan tarekat yang bertawasul kepada Siti Fatimah tentu tarekat yang sah (mu’tabarah) karena Fatimah sebagaimana Rasulullah saw yang kakinya bengkak karena saking lamanya beribadah kepada Allah SWT adalah sebaik-baik idola dan teladan dalam suluk, zuhud dan warak.
(Syekh Muhammad Ghazali)
Referensi:
https://republika.co.id/berita/q6zkbw320/sekilas-soal-tarekat-sufi-definisi-makna-dan-asal-usulnya. Diakses tanggal 27/1/2022.
Sumber hadis tentang Fatimah yang melewati jembatan:
منابع: كنز العمّال ج 13 ص 91 و 93/ منتخب كنز العمّال بهامش المسند ج 5 ص 96/ الصواعق المحرقة ص 190/ أسد الغابة ج 5 ص 523/ تذكرة الخواص ص 279/ ذخائر العقبى ص 48/ مناقب الإمام علی لابن المغازلی ص 356/ نور الأبصار ص 51 و 52/ ینابیع المودّة ج 2 باب 56 ص 136
Sumber hadis yang menjelaskan maqam Fatimah di surga
منابع: كنز العمّال ج13 ص94/ صحیح البخاری، كتاب الفضائل، باب مناقب فاطمة/ البدایة والنهایة ج 2 ص61
Tiga Hadis Sahih: Argumen atas Kepemimpinan Imam Ali setelah Nabi
Tidak semua isu klasik itu usang. Ada fakta lama tapi tetap baru dan relevan dibahas. Apalagi manusia selalu haus kebenaran. Kecenderungan mencari kebenaran tidak akan berhenti dan akan tetap segar. Sabda Nabi, “Kebijaksanaan adalah barang hilang orang beriman. Dia akan mengambilnya dari manapun itu berasal.”
Satu di antaranya adalah perbincangan seputar kepemimpinan Imam Ali setelah Nabi SAW. Keputusan apa pun tentangnya akan berdampak secara langsung pada pola pikir dan pola hidup. Setidaknya, bagi yang merasa nyaman dengan argumen-argumen atas kepemimpinan dan kekhalifahan Imam Ali langsung setelah Nabi SAW tentu akan menjadikan orang muslim pertama ini sebagai referensi utama dalam menjalani hidupnya.
Hadis Wilayah
Argumen atas wilayah atau kepemimpinan Imam Ali bin Abi Thalib as tampaknya sudah sangat jelas dan gamblang dalam hadis-hadis suci Nabi SAW, baik dalam kitab-kitab hadis Syiah maupun Ahlussunnah. Metode argumentasi hadis ini merupakan salah satu metode kredibel dan terkuat mengingat kesahihan hadis-hadis tersebut diakui oleh kedua kedua mazhab besar Islam ini.
Ulama Ahlussunnah telah menukil dengan sanad yang sahih bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Ali adalah bagian dariku dan Aku bagian darinya, dan dia adalah pemimpin (wali) setiap oang mukmin setelah aku.”
Segera setelah mencatatkan hadis ini, al-Hakim al-Naishaburi menulis, “Hadis ini sahih berdasarkan syarat kesahihan hadis Muslim” (Al-Mustadrak ala al-Shahihayn, jil. 3, hal. 110).
Begitupula Syamsuddin al-Dzahabi dalam Talkhis Al-Mustadrak menguatkan hadis di atas sebagai hadis sahih. Muhammad Nasiruddin Albani juga mengatakan hal yang sama akan kesahihan hadis ini dan menegaskan bahwa hadis tersebut sahih menurut al-Hakim dan al-Dzahabi (Silsilah al-Ahadits al-Shahihah, jil. 5, hal. 222).
Analisis atas Arti dari Kata “Wali”
Agar dapat memahami secara akurat makna dari kata wali dalam hadis di atas, perlu kiranya merujuk perkataan-perkataan mengenai kata itu yang dinyatakan oleh para khalifah Ahlussunnah di era awal Islam.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah menuliskan:
قال ابوبكر: قد وُلِّيتُ أمركم ولست بخيركم. إسناد صحيح
“Abu Bakar berkata, “Saya sudah menjadi wali (pemimpin) kalian, namun saya tidak lebih baik dari kalian.” Sanadnya sahih (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa Al-Nihayah, jil. 6, hal. 333).
Demikian Imam Muslim dalam sahihnya menukil dari Umar bin Khaththab bahwa ia mengatakan:
فلمّا توفّي رسول اللّه قال أبو بكر: أنا وليّ رسول اللّه (ص)… ثُمَّ تُوُفِّيَ أَبُو بَكْر وَأَنَا وَلِيُّ رَسُولِ اللَّهِ (ص) وَوَلِيُّ أَبِي بَكْر
“Tatkala Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar berkata, ‘Saya adalah wali (pengganti) Rasulullah (SAW) …. kemudian Abu Bakar wafat, maka saya adalah wali (pengganti) Rasulullah dan pengganti Abu Bakar.” (Shahih Muslim, jil. 5, hal. 152, hadis no. 4468).
Dari dua dokumen ini, tampak bagaimana kata “wali” yang digunakan dua sahabat: Umar dan Abu Bakar, tidak bisa diartikan sebagai teman, penolong atau makna serupa lainnya, tetapi bermakna pemimpin [umat] dan pengganti [Nabi].
Justru, jika kata “wali” itu diartikan sebagai teman, maka kandungan Hadis Wilayah di atas itu menyatakan bahwa di masa hidup Nabi SAW, Umar dan Abu Bakar belum menjadi teman, dan mereka baru menjadi teman Nabi setelah beliau wafat. Konsekuensi ini tentu bertentangan dengan fakta sejarah dan keyakinan Ahlussunnah sendiri.
Hadis Khilafah
Ibnu Abi Ashim dalam Kitab al-Sunnah (hal. 551) menuliskan, “Rasulullah SAW berkata kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.:
“Engkau adalah khalifahku bagi seluruh orang beriman setelah aku.”
Albani membubuhkan catatan bahwa hadis ini termasuk hadis dengan sanad hasan.
Sementara itu, al-Hakim al-Naishaburi ((Al-Mustadrak ala al-Shahihayn, jil. 3, hal. 133) membawakan sebuah riwayat bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Ali bin Abi Thalib:
إِنَّهُ لا يَنْبَغِي أَنْ أَذْهَبَ إِلا وَأَنْتَ خَلِيفَتِي
“Sesungguhnya tidak semestinya aku pergi (wafat) kecuali engkau adalah khalifahku.”
Berkenaan dengan sanad hadis ini, Albani mengatakan, “Hadis ini disahihkan oleh al-Hakim dan al-Dzahabi” (Albani, Silsilah al-Ahadits al-Shahihah, jil. 5, hal. 222).
Hadis Imamah
Abu Nuaim Isfahani dengan sanad terpercaya (muktabar) meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
.انْتَهَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي إِلَي السِّدْرَةِ الْمُنْتَهَي، فَأُوحِيَ إِلَيَّ فِي عَلِيٍّ بِثَلاثٍ: أَنَّهُ إِمَامُ الْمُتَّقِينَ، وَسَيِّدُ الْمُسْلِمِينَ، وَقَائِدُ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِينَ إِلَي جَنَّاتِ النَّعِيمِ
“Di malam Isra’-Mikraj, ketika aku sampai di Sidratul Muntaha, Allah mewahyukan tiga hal kepadaku mengenai Ali: ‘Sesungguhnya dia adalah imam orang-orang bertakwa, penghulu kaum Muslimin dan panglima orang-orang yang bersinar wajahnya menuju surga-surga kenikmatan.'” (Abu Nuaim Ishfahani, Ma’rifat al-Shahabah, jil. 3, hal. 1587).
Hadis ini termasuk riwayat yang muktabar dan sahih sebagaimana ditegaskan oleh al-Hakim al-Naishaburi dalam Al-Mustadrak ala al-Shahihayn, jil. 3, hal. 138).
*Kuliah Ayatullah Qazvini pada program Wilayah, diterjemahkan oleh Sayyed Chairi Fitriyan.
Pengantar Konsepsi Teologi Feminisme Islam
Teologi Islam di era kontemporer memiliki fokus yang berbeda dengan teologi di masa klasik. Perbedaan itu dapat dilihat melalui karya-karya pemikiran tokoh muslim yang menuliskan isu-isu teologis dalam karya-karyanya. Ciri khas dari teologi Islam Kontemporer ialah, mencari keterhubungan tauhid dengan konteks kehidupan sosial. Dengan kata lain, teologi dituntut untuk memberikan solusi atas problematika umat manusia di atas muka bumi ini. Tauhid harus memiliki dampak pada kehidupan manusia itu sendiri, karena membahas teologi bukan saja diskursus wacana tapi dia berhubungan dengan sisi primordial manusia sendiri, jiwa itu sendiri.
Salah satu isu pemikiran yang berkembang di tengah masyarakat modern hingga kontemporer adalah isu kesetaraan gender. Isu ini hadir dikarenakan di beberapa negara terjadi ketertindasan terhadap perempuan dan gerakan feminisme hadir untuk menjawab kegelisahan perempuan atas nasib ketertindasan itu baik di rumah maupun di ranah publik.
Islam sebagai agama yang dikenal sifat komprehensifnya harus merespon isu tersebut dengan pendekatan teologis. Dalam artikel ini, kita coba mendudukkan konsepsi teologi feminisme menurut Islam agar kita tahu apakah Islam punya perhatian khusus pada perempuan dan peran-perannya.
Feminisme dan Islam
Feminisme adalah susunan kata yang terdiri dari arti paham (isme) dan feminin (feminitas), kemudian jika disatukan ia menghasilkan satu makna baru bahkan menjadi sesuatu isu di era modern yaitu, paham yang mendasari sebuah gerakan untuk merespon ketertindsan kaum perempuan. Dalam sejarahnya, feminisme memiliki varian yang cukup banyak dengan misi yang sama namun penekanan pada apa yang diperjuangkannya berbeda-beda. Ada paham feminis yang memperjuangkan hak di wilayah domestik dan ada di wilayah publik. Ada paham feminisme yang hanya memperjuangkan kesetaraan hingga memperjuangkan kesamaan.
Feminisme jika diartikan sebagai paham untuk memperjuangkan kaum perempuan, maka Islam sejak awal sudah memiliki paham ini. Nabi Muhammad SAW adalah orang pertama yang menentang tindakan mengubur hidup-hidup anak perempuan. Selain itu, banyak ajaran Islam yang mengoreksi aturan-aturan di masa Arab Jahiliyah seperti mengembalikan kemuliaan perempuan dengan tidak menyamakannya dengan barang dan budak, memberikannya waris bukan diwarisi, memiliki hak sebagai saksi dan dibolehkan untuk menggugat cerai suami.
Jika kita melihat feminisme sebagai semangat memperjuangkan hak-hak perempuan, sebelum gerakan feminisme Barat, Islam sudah lebih dulu melakukan reformasi atas hak-hak perempuan sejak awal diutusnya Muhammad SAW di atas muka bumi. Akan tetapi semangat memperjuangkan hak-hak perempuan di dalam Islam memiliki pijakan dan dasar kepada tauhid. Nilai kemanusiaan tidak dibebaskan begitu saja, tapi memiliki landasan tauhid dan tidak boleh bertentangan dengan keimanan kita sebagai penganut agama Islam.
Oleh karena itu, secara spirit Islam juga memiliki hal yang sama dengan gerakan feminisme di Barat namun memiliki sandaran dan pijakan gerak yang berbeda.
Problem Kesetaraan Gender dalam Islam
Islam dengan visi dan misi yang dimilikinya tidak serta merta menghasilkan satu masyarakat ideal yang selalu mengindahkan kesetaraan gender. Harus dipahami sejak awal yang dimaksud gender adalah peran sosial masyarakat laki-laki maupun perempuan, bukan mengacu kepada jenis kelamin (sex). Faktanya, sampai hari ini masih banyak perempuan yang mendapatkan perilaku diskriminatif dalam peran sosialnya dari orang-orang dengan mengatasnamakan agama (Islam). Kita perlu melacak akar dari masih langgengnya ketertindasan kaum perempuan di kalangan umat Islam.
Pertama, budaya patriarkhis adalah budaya yang menganggap bahwa laki-laki superior dan perempuan inferior. Budaya ini berpijak pada asas kuasa satu jenis kelamin kepada yang lain dan melihat perempuan adalah makhluk yang lemah. Problem pertama ini adalah problem pemahaman yang dihasilkan dari satu konstruksi budaya tertentu.
Dalam kajian Hermeneutika, pemahaman dan pengalaman seorang subjek sangat memengaruhi interpretasinya. Ketika membaca teks agama baik al-Qur’an maupun hadis, maka interpretasi atas keduanya akan sangat berpengaruh.
Kedua, teks agama yang cenderung global dan multitafsirpun menjadi salah satu faktor penting. Banyak dari teks agama, khususnya ayat al-Quran yan bersifat mutasyabih, sehingga siapapun dengan perspektif apapun dapat menginterpretasikan teks dengan beragam penafsiran. Sifat terbukanya al-Qur’an di satu sisi adalah positif, karena ia bisa dipahami oleh berbagai tingkatan pemahaman, tetapi di sisi lain adalah negatif yaitu, penafsiran apapun dapat menunggangi kepentingannya pada ayat tersebut.
Sebagai contoh, ayat “arrijalu qawwamuna ala nisa” yang bisa diartikan laki-laki (Suami) itu pelindung bagi perempuan (isterinya) bisa memiliki interpretasi yang berbeda-beda. Ada yang memahami ayat ini menunjukkan bahwa laki-laki adalah superior dan perempuan inferior, tetapi ada juga yang menginterpretasikan ayat ini tidak menegasi posisi perempuan sebagai manusia seutuhnya yang sama tercipta seperti laki-laki. Oleh karena itu, setidaknya ada dua faktor mendasar mengapa sampai hari ini masih ada ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan karena faktor konstruksi budaya yang memengaruhi pemahaman seorang pembaca atau penafsir dan teks agama itu sendiri.
Konstruksi Pemahaman atas Teks
Teks-teks agama, khususnya al-Qur’an yang menjadi dalil naqliyah dalam teologi perlu dipahami dengan cara yang tidak tekstualis. Pemahaman atas teks harus didasari dengan objektivitas berpikir yang matang dan tidak berdasarkan subjektivitas semata. Meskipun kita dapat katakan bahwa akan sulit melepas sisi paradigma dan kacamata yang tidak lepas dari sisi subjektif pembaca atau penafsir.
Terkait dengan teologi Islam, isu-isu yang dibahas bukan hanya sekedar pada tataran praktis melainkan berpijak pada tataran teoretis terlebih dahulu yang membangun konstruk berpikir teologis tentang perempuan itu sendiri.
Konstruksi pemahaman harus dibangun dari dimensi ontologi, epistemologis dan aksiologis. Untuk mengetahui tentang pandangan Islam terkait perempuan, maka kita perlu mengetahui bagaimana perempuan sebagai satu entitas yang sama dengan laki-laki sebagai manusia. Dengan kata lain, kita perlu tahu manusia dalam perspektif al-Qur’an, sehingga kita akan memperoleh pengetahuan apakah secara ontologis, hakikat manusia itu berhubungan dengan jenis kelamin tertentu atau tidak.
Secara teologis, Islam harus menjawab hal ini terlebih dahulu sebelum berbicaea tentang peran-peran sosial lainnya. Karena pemahaman tentang manusia inilah yang akan menjadi pijakan kita dalam menilai perempuan dalam Islam dengan beragam kewajibannya baik secara fiqhiyah (hukum Islam) maupun akhlaqiy (moralitas).
Kesimpulannya, kesetaraan gender adalah hal yang sangat mungkin untuk diperjuangkan dalam Islam melalui cara pandang teologisnya dan teologi sebagai basis ilmu tentang ketuhanan akan mampu mengkonstruk pemahaman awal (teoretis) hingga akhir (praktis) untuk menghasilkan satu makna baru relasi laki-laki dengan perempuan.
Jihad Islam Palestina: Teror Tidak akan Bisa Hentikan Perlawanan !
Gerakan Jihad Islam Palestina mengeluarkan pernyataan yang menekankan bahwa pembunuhan pemimpin perlawanan oleh rezim Zionis tidak akan menghentikan jalan jihad dan perang melawan musuh.
Gerakan Jihad Islam Palestina dalam statemen yang dikeluarkan pada peringatan ulang tahun pertama kesyahidan Jamil Mahmoud al-Ammouri, salah satu komandan Pasukan Quds, hari Sabtu (11/6/2022) mengatakan: "Kesyahidan Al-Ammouri merupakan titik balik dalam perlawanan dan perjuangan menghadapi rezim pendudukan di Tepi Barat, khususnya di Jenin,".
"Kesyahidan Al-Ammouri tidak akan menghentikan perjuangan melawan musuh Zionis dan saudara-saudara Mujahidin tidak akan menghentikannya untuk melanjutkan jalan suci ini," kata pernyataan terbaru Jihad Islam Palestina.
Pasukan keamanan Israel (Shin Bet) berusaha menyusup ke wilayah Palestina pada Juni tahun lalu dan menculik komandan Perlawanan Islam, yang memicu reaksi dari kubu perlawanan Palestina.
Bentrokan itu terjadi di Jalan Al-Nusra di kota Jenin, setelah itu tiga personel intelijen Palestina gugur.
Ketiga orang yang gugur ini adalah Al-Ammouri, bersama Adham Yasir Tawfiq Alivi dari Nablus dan Tisir Mahmoud Osman Isa.
Setelah bentrokan ini, seorang perwira Zionis juga tewas.
Media Israel: Militer Rezim Zionis Tak Berani Serang Jenin
Sumber media Palestina mengabarkan uji coba rudal baru kelompok perlawanan di pesisir pantai Gaza, dan keputusan militer Rezim Zionis membatalkan serangan ke Jenin, karena takut diserang Gaza.
"Kelompok perlawanan Palestina, di Jalur Gaza kembali melakukan uji coba rudal dengan maksud untuk memperkuat kemampuan rudalnya," tulis media Palestina, Sabtu (11/6/2022).
Kelompok-kelompok perlawanan Palestina, dalam uji coba ini menembakan beberapa rudal ke arah laut, namun detail uji coba rudal tersebut dan kelompok perlawanan mana yang ikut serta, masih belum dipublikasikan.
Media Rezim Zionis mengumumkan, Angkatan Bersenjata Rezim Israel dalam beberapa minggu terakhir sudah membahas opsi serangan militer ke Jenin, tapi prediksi mereka menunjukan bahwa serangan ini akan memicu pertempuran luas, dan menyeluruh melawan Gaza.
Menurut media Rezim Zionis, pasukan Israel batal melancarkan serangan militer ke Jenin, karena takut terlibat pertempuran dengan kelompok perlawanan Palestina di Gaza.
Rezim Zionis Israel dalam beberapa bulan terakhir menyaksikan sejumlah banyak operasi di wilayah pendudukan, dan Tepi Barat, dan sumber awalnya adalah Jenin.
Mantan Direktur Mossad: Rezim Zionis akan Hancurkan Diri Sendiri
Mantan Direktur Dinas Intelijen Rezim Zionis Israel, Mossad menyoroti tidak adanya sebuah strategis yang jelas di Rezim Zionis sejak tahun 1967 sampai sekarang, dan mengungkap ancaman terbesar bagi rezim ini.
Surat kabar Yedioth Ahronoth, Kamis (9/6/2022) melaporkan, mantan Direktur Mossad, Tamir Pardo membantah bahwa bahaya terbesar bagi Rezim Zionis adalah orang-orang Palestina, menurutnya bahaya terbesar adalah Israel dan orang-orang Israel sendiri.
"Menurut saya kita sendiri adalah bahaya terbesar yang dihadapi Israel, karena kecenderungan kita untuk menghancurkan diri sendiri, dan itu telah kita sempurnakan dalam beberapa tahun terakhir," kata Pardo.
Ia menambahkan, "Israel sejak perang bulan Juni 1967, tidak punya strategi, dan tidak ada seorang pun pejabat Israel yang bisa memberikan pendapatnya tentang pendirian sebuah negara bagi orang-orang Yahudi, dalam 30 tahun ke depan."
Mantan Direktur Mossad menegaskan, "Sistem penghancuran diri sendiri yang sejak beberapa tahun lalu sudah dimulai dan meluas di Israel, adalah bahaya terbesar bagi Tel Aviv. Israel sedang runtuh, dan mengalami masa sensitif serta bersejarah yang terkait dengan konflik internal."
"Israel sudah memutuskan untuk mengaktifkan sistem penghancuran diri sendiri," pungkasnya.
Membandingkan Sikap Barat terkait Program Nuklir Iran dan Rezim Zionis
Sebuah studi komparatif terkait kinerja masyarakat internasional, khususnya Barat, dalam kaitannya dengan kegiatan nuklir Iran dan Israel, mengungkapkan manifestasi lain dari apartheid nuklir.
Sekaitan dengan ini, meski Iran penggagas rencana pelucutan senjata nuklir di Timur Tengah, dan juga anggota Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) serta memiliki kerja sama luas dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan bahkan di sejumlah kasus bersedia melakukan komitmen di luar perjanjian untuk menunjukkan niat baiknya, tapi demikian pendekatan politik dan pemberitaan Barat terkait hal ini sepenuhnya menutupi sikap Iran tersebut. Barat juga mencitrakan Iran sebagai pemain bersalah dan pelanggar komitmen nuklir dengan fokus pada pembatasan kerja sama nuklir Iran dan membuat skandal media tentangnya.
Senjata nukler Israel (ilustrasi)
Di sisi lain, terlepas dari kenyataan bahwa dasar kebijakan nuklir Israel didasarkan pada kerahasiaan, rezim ini belum menandatangani NPT dan tidak mengizinkan inspeksi lokasi dan fasilitas nuklirnya, tetapi kasus-kasus ini tidak tidak pernah diungkapkan dalam pernyataan pejabat dan petinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Barat, dan bahkan media negara-negara ini. Sebaliknya citra yang diangkat media ini terkait rezim Zionis adalah seolah-olah Tel Aviv menjalankan seluruh komitmen dan tanggung jawab nuklirnya dan kini menganggap dirinya dalam posisi memiliki wewenang mengawasi aktivitas nuklir negara lain serta bertindak seolah-olah menjadi tangan kanan IAEA.
Faktanya, dengan melakukan itu, forum-forum ini telah berkontribusi pada kelanjutan kebijakan kerahasiaan nuklir Israel dan promosi apartheid nuklir, sedangkan jika mereka memiliki sikap yang sama terhadap kegiatan nuklir damai Iran, mereka akan menanggapi kebijakan kerahasiaan rezim Zionis yang sejak awal memiliki tujuan nuklir, maka saat ini kita tidak melihat begitu banyak ketidakstabilan dan ketidakamanan di wilayah ini, yang domainnya melampaui kawasan ini dan telah menyebar ke seluruh dunia.
Jika kebijakan nukilr Israel memiliki tujuan damai, maka tidak ada alasan untuk menyembunyikannya dan sikap rezim Zionis selama beberapa dekade lalu yang menyembunyikan program nuklirnya, dengan sendirinya menjadi bukti jelas akan esensi militer dan non-sipil aktivitas nuklir rezim Zionis yang pura-pura dipropagandakan dan dibenarkan, bukan saja tidak memiliki fungsi defensif, tetapi telah menjadi pendukung kebijakan agresif rezim ini, dan dapat dikatakan tanpa ragu sebagai salah satu penyebab rezim ini melanggar prinsip-prinsip internasional dan hukum serta menghindari berbagai resolusi PBB terkait Palestina adalah pencapaian kemampuan nuklir yang tidak mungkin diraih Tel Aviv tanpa bantuan pemerintah Barat.
Dengan demikian, kebijakan apartheid nuklir komunitas global dan Barat terhadap rezim Zionis Israel bukan saja tidak terbatas pada sektor nuklir, tapi dampaknya semakin luas. Salah satu efeknya adalah berlarut-larutnya krisis Palestina dan kegagalan upaya internasional, bahkan usaha negara-negara Barat untuk menyelesaikan krisis ini yang dampaknya juga menimpa mereka.
Raisi: Strategi Iran dan Venezuela adalah Melawan Musuh
Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC menyarankan negara-negara kawasan Teluk Persia untuk tidak menjalin hubungan dengan Rezim Zionis.
Pemerintah Iran sejak beberapa tahun terakhir sudah memperingatkan dampak normalisasi hubungan negara-negara kawasan Asia Barat dan pesisir Teluk Persia, dengan Rezim Zionis.
Laksamana Muda Alireza Tangsiri, Komandan AL IRGC, Sabtu (11/6/2022), dalam kunjungan ke unit-unit militer yang ditempatkan di Pulau Tunb-e Bozorg, selatan Iran menuturkan, "Saya sarankan kepada negara-negara kawasan Teluk Persia untuk tidak menjalin hubungan dengan Rezim Zionis, jika melakukannya maka mereka merusak keamanan kawasan."
Ia menambahkan, "Hari ini keamanan ideal di wilayah geografis Teluk Persia berhasil diwujudkan berkat kerja sama negara-negara kawasan, jika ada orang dengan alasan apa pun membuka jalan bagi Rezim Zionis masuk ke kawasan, maka dirinya dan kawasan ini akan tidak aman, tidak tenteram dan tidak stabil."




























