کمالوندی

کمالوندی

 

Gerakan Hamas mengutuk keras serangan yang dilakukan pemukim Zionis di sebuah gereja di Al Quds.

Sejumlah pemukim Zionis hari Selasa (7/6/2022) menyerang Gereja Roh Kudus di kota Quds yang menyebabkan kerusakan di tempat ibadah umat Kristen Palestina.

Pusat Informasi Palestina melaporkan, gerakan Hamas dalam sebuah pernyataan hari Selasa mengungkapkan bahwa perilaku brutal pemukim Zionis ini mencerminkan kebencian Zionis terhadap agama lain dan tempat suci Islam dan Kristen.

Hamas meminta masyarakat internasional untuk mengutuk kejahatan keji tersebut.

Gerakan Palestina menekankan bahwa rakyat Palestina akan menghadapi kejahatan ini untuk mempertahankan tempat-tempat suci dan kebebasan beribadah di dalamnya.

Pemukim Zionis terus-menerus menyerang Masjid Al-Aqsa dan Masjid Ibrahim meskipun diprotes Kantor Wakaf Islam Quds, dan tindakan ini memicu reaksi rakyat dan kelompok Palestina.

 

Komandan Angkatan Darat Militer Iran mengatakan, atas perintah Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, jika musuh melakukan kesalahan apa pun, Tel Aviv dan Haifa akan rata dengan tanah.

Brigadir Jenderal Kiumars Heidari, Selasa (7/6/2022) dalam acara apel gabungan Militer Iran di markas tentara Imam Ridha menuturkan, "Seluruh peralatan militer ini adalah untuk membalas agresi-agresi bodoh musuh-musuh Revolusi Islam."

Ia menambahkan, "Atas perintah Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, setiap kesalahan yang dilakukan musuh akan kami balas dengan meratakan Tel Aviv dan Haifa dengan tanah."

Brigjen Heidari menegaskan, "Rezim Zionis menduduki wilayah-wilayah umat Islam, tapi kurang dari 25 tahun ke depan wilayah-wilayah itu akan kembali ke pangkuan Islam."

"Hari ini kemajuan-kemajuan militer, pertahanan, dan fasilitas militer Republik Islam Iran, telah menjadi ancaman bagi musuh-musuh," imbuhnya.

Komandan AD Militer Iran menandaskan, "Senjata-senjata ringan Angkatan Darat Militer Iran, sedang mengalami perubahan, modernisasi dan nasionalisasi." 

 

Ketua Majelis Syura Islam Iran (parlemen) mengatakan, Amerika Serikat tidak akan pernah berkompromi dengan Iran, dan Tehran tidak akan pernah mentransaksikan tujuan-tujuan Revolusi Islam dengan siapa pun.

Mohammad Bagher Ghalibaf, Selasa (7/6/2022) dalam pertemuan internasional pegiat Mahdawi di Tehran menuturkan, "Dengan memperhatikan penjelasan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar seputar Langkah Kedua Revolusi, beliau menganggap revolusi ini sebagai pionir sebuah jalan baru di dunia."

Ia menambahkan, "Revolusi ini tanpa nama Imam Khomeini tidak akan dikenal di mana pun di dunia ini, dan Revolusi Islam Iranlah yang hari ini telah menghidupkan kembali Islam, kemuliaan dan kebanggaan Muslim."

Menurut Ghalibaf, "Di masa Perang Pertahanan Suci, harapan Rezim Zionis adalah melawan kami di dekat perbatasan negara kami, tapi hari ini kita menyaksikan umat Islam, di Dataran Tinggi Golan bangkit melawan Rezim Zionis, dan inilah budaya Mahdawi yang mampu menghadapi hegemoni Amerika Serikat yang telah menganggarkan ribuan miliar dolar di kawasan Asia Barat, dan mengancam hegemoni AS."

Ketua Parlemen Iran menegaskan, "Pemerintahan Islam harus menjadi teladan negara-negara Muslim, dan seluruh penuntut kebebasan dunia harus merasa bahwa kebahagiaan dunia dan akhirat mereka tergantung pada upayanya meneladani sistem suci."

 

Juru bicara Badan Energi Atom Iran, AEOI dalam catatannya menjelaskan sanggahan-sanggahan teknis Iran atas laporan terkait Tindakan Pengamanan yang disampaikan Dirjen Badan Energi Atom Internasional, IAEA.

Behrouz Kamalvandi, Selasa (7/6/2022) mengatakan, "Laporan terbaru IAEA tidak memperhatikan interaksi konstruktif, dan kerja sama-kerja sama luas sukarela Iran dengan IAEA dalam rangka membuka akses kepada para inspektur IAEA ke lokasi-lokasi yang disebutkan, menyampaikan informasi awal dan penyempurna, menyelenggarakan pertemuan-pertemuan teknis dan hukum bersama, dengan maksud mengkaji dan menyelesaikan masalah-masalah yang disebutkan."

Ia menambahkan, poin pentingnya adalah IAEA bersandar pada informasi-informasi tidak kredibel dan palsu yang diberikan oleh Rezim Zionis kepada mereka, lalu menindaklanjuti masalah-masalah ini.

Jubir AEOI melanjutkan, IAEA bertumpu pada foto-foto satelit tidak kredibel yang bertentangan dengan kondisi terkini lokasi-lokasi yang disebutkan.

"Jika informasi-informasi IAEA bersumber dari pihak ketiga atau sumber bebas, maka harus dikatakan bahwa secara umum metode pengumpulan data, dan penyampaian informasi ke IAEA dari berbagai sumber terkait negara-negara, dapat membuka peluang penyalahgunaan oleh beberapa pihak ketiga dengan maksud politis untuk menyerang negara-negara target," paparnya. 

 

Pengadilan pidana Mesir menjatuhkan hukuman mati kepada tiga anggota Ikhwanul Muslimin dan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada 18 orang lainnya.

Pemerintah Mesir memandang Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris, dan menyatakan kegiatannya ilegal setelah kudeta militer terhadap pemerintah Mohamed Morsi.

Abdel Fattah El Sisi menggulingkan mantan Presiden Mohamed Morsi dalam kudeta militer pada 2013.

Pengadilan pidana Mesir Selasa (7/6/2022) malam menjatuhkan vonis hukuman berat kepada para anggota Ikhwanul Muslimin dalam 18 kasus pidana antara 2014 dan 2015.

Pengadilan pidana Mesir juga menghukum mati Mohammad Abdullah Khamis Idris, Mohammad Saleh Riyadh dan Halil Abdullah Ali Rahil.

Para anggota Ikhwanul Muslimin tersebut dituduh berusaha membunuh Tariq Abu Zayd, kepala Pengadilan Pidana Fayum saat itu, menembaki polisi dan mengebom daerah-daerah sensitif, mengintimidasi Rakyat dan menciptakan kekacauan di negara itu.

Banyak anggota Ikhwanul Muslimin ditangkap dan dipenjarakan dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah pemimpinnya meninggal di penjara dan menjalani hukuman penjara.

 

Sebuah ledakan besar terjadi di daerah selatan ibu kota Irak, Baghdad hari ini.

Sumber Irak melaporkan, ledakan bom terjadi Rabu (7/6/2022) pagi  di kota Nahrawan, yang terletak di wilayah selatan Baghdad.

Sebagian sumber di Irak menyebut ledakan terjadi dari mobil tanki bahan bakar.

Belum ada rincian lebih lanjut yang dilaporkan saat ini.

Sekitar 10 hari yang lalu, sumber berita Irak melaporkan ledakan besar di daerah Al-Jadriya di Baghdad utara.

Serangan terhadap konvoi dukungan dan kepentingan dan pasukan AS di Irak yang meningkat selama dua tahun terakhir.

Minggu, 05 Juni 2022 16:45

Sayid Ali Tabatabai

 

Sayid Ali Tabataba'i ulama dan faqih terkenal di abad 13 Hijriah. Ia dilahirkan pada bulan Rabiul Awwal 1161 H di kota Kadhimiya, Irak.

Kakeknya adalah Abu al-Ma'ali Kabir dari Sadat (Sayid) Hasani Isfahan yang berhijrah ke Karbala dan memiliki jasa besar terhadap komunitas Syiah. Ibunya adalah saudari Allamah Vahid Behbahani dan mendapat didikan di keluarga yang terkenal keilmuan dan akhlaknya.

Di masa mudanya, Sayid Ali memulai pelajaran agamanya dan dalam waktu singkat kecerdasannya menarik perhatian Allamah Vahid Behbahani. Allamah yang termasuk paman dari Sayid Ali meminta anaknya Mohammad Ali Behbahani yang menjadi salah salah satu guru Hauzah untuk bertanggung jawab mendidik Sayid Ali dan mengajarinya pelajaran fiqih. Setelah beberapa waktu, pemuda yang rajin dan bertakwa ini menjadi yang terbaik dari teman-teman sekelasnya dan menghadiri pelajaran Allamah Vahid Behbahani, dan dalam waktu singkat, ia mencapai tingkat ijtihad.

Sayid Ali mengalami banyak kesulitan dan kepahitan dalam menuntut ilmu, tetapi dia tidak menyerah dan diriwayatkan bahwa dia sangat tertarik untuk memperoleh pengetahuan sehingga dia terus-menerus berdoa kepada Tuhan untuk kesuksesan dalam pendidikan. Para sesepuh percaya bahwa banyak kesuksesan Sayid Ali adalah hasil dari doanya yang tulus kepada Tuhan, karena ternyata masa studinya tidak cukup lama untuk mencapai peringkat setinggi itu dalam waktu yang singkat. Namun dengan segala kendala dan hambatan tersebut, beliau mencapai derajat yang tinggi dalam ilmu pengetahuan dan menjadi terkenal pada umumnya dan khususnya, dan ini adalah buah dari jerih payah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa.

Sayid Ali Tabatabai memiliki keahlian yang cukup dalam bidang fiqih, usul fiqih dan hadits, tetapi ia lebih mahir dalam ilmu usul daripada ilmu-ilmu lainnya. Namun, karena penulis buku Riyad, yang memiliki konten yurisprudensi, ia dikenal sebagai "Sahib Riyad" dan dengan demikian menjadi lebih dikenal sebagai ahli hukum (Faqih).

Sayid Ali Tabatabai, seperti ulama besar Islam lainnya, melakukan upaya besar untuk menjelaskan dan menyebarkan agama Islam dan memperkuatnya. Dia mempromosikan agama dengan sekuat tenaga dan menggunakan semua cara yang diperlukan dengan cara ini. Kegiatan terpentingnya di bidang ini adalah mendidik para ulama besar Islam. Di bawah komando gurunya, Vahid Behbahani, ia mengajar di Karbala dan mendidik para siswa secara ilmiah dan akhlak. Di hadapan ulama Syi'ah ini, dibesarkan banyak ilmuwan dan sesepuh yang terkenal dengan ilmu, kesempurnaan dan keutamaannya.

Di antara murid-muridnya adalah Syekh Abu Ali, penulis buku "Muntaha al-Maqal", Syekh Assadollah Dezfuli, penulis buku "Miqbas al-Anwar", Hojjatul Islam Rashti, Pendiri Masjid Sayid Isfahan, Javad bin Mohammad Hosseini Ameli, penulis buku “Miftah al-Karamah fi Sharh-i Qawaid al-Allamah” dan Mohammad Taqi Shahid Barghani Qazvini penulis buku “Al-Majalis”.

Sayid Ali Tabatabai selain mendidik para mubaligh, ahli hadis dan ahli fiqih, juga meninggalkan banyak karya tulis. Kitab karya terkenal Sayid Ali adalah Riyad al-Masail fi Bayan al-Ahkam bi al-Dalail, yang ringkasnya disebut Riyad al-Masail. Karya besar dan penting ini ditulis untuk menjelaskan kitab Mukhtasar al-Nafi', karya Muhaqqiq Awal. Kitab ini dalam bentuk buku lengkap fiqih argumentatif (Fiqih Istidlali) dan mencakup pendapat paraulama besar seperti Sheikh Tusi, Sheikh Saduq, Allamah Hilli, Syahid Awal, Syahid Tsani, Qadi Saiduddin, Kulaini, Mohammad Baqir Sabzewari, Tabarsi, Rawandi, Fadhil Meghdad, Fakh al-Muhaqqiqin, Moghadas Ardabeli dan ulama besar lainnya.

Sayid Ali di kitabnya ini pertama-tama mengajukan pertanyaan berkaitan hukum (fiqih) dan menjelaskan maksud dari materi dengan menyebutkan berbagai pendapat dan argumentasi. Ia dengan penjelasan yang natural dan sederhana tapi argumentatif dan kuat, mulai mengkritiknya dan kemudian untuk membuktikan fatwanya, ia bersandar pada argemuntasi syar'i. Gaya dan urutan penulisan kitab ini membuat pembaca tidak akan mudah lelah atau bosan. Oleh karena itu, selama bertahun-tahun, kitab ini menjadi kurikulum utama Hauzah Ilmuah dan saat ini termasuk kitab rujukan dan banyak diteliti oleh para ulama dan faqih. Urgensi kitab ini membuat Sayid Ali diberi gelar Sahib Riyad.

Karya penting lain Sayid Ali adalah kitab al-Risalah al-Bahiyyah. Buku ini ditulis untuk menolak ideologi dan pandangan Akhbari. Sayid Ali berjuang melawan ideologi radikal dan menyimpang yang muncul di tengah masyarakat Islam seperti Akhbari dengan ucapan, pelajaran dan karya tulisnya. Terkadang Sayid Ali juga tak segan-segan berdialog dan berdebat dengan pemilik berbagai ideologi dan menyadarkan mereka akan kesalahan pemikiran mereka.

Kitab al-Risalah al-Bahiyyah yang ditulis Sayid Ali untuk menghadapi ideologi semacam ini. Kaum Akhbari meyakini hanya dengan merujuk al-Quran dan Hadis dalam mempelajari hukum dan meyakini tafsir dan pemahaman al-Quran hanya dapat diraih melalui penjelasan para Imam Maksum. Oleh karena itu, sumber hukum menurut mereka hanya al-Quran dan Hadis. Berlebihan di pemikiran ini, dikenal dengan anti-akal yang kemudian membangkitkan penentangan dari ulama ushuli.

Ulama Ushuli meyakini bahwa di masa ghaib Imam Maksum as, upaya untuk mengupas dan memahami hukum agama harus melalui sumber lain termasuk akal yang sehat, dan dengan bantuan ushul dan kaidah, maka hukum agama dapat dikeluarkan dan dipahami. Proses ini disebut ijtihad yang ditentang oleh kelompok Akhbari. Sejumlah ulama besar Syiah seperti Allamah Majlisi, Shekh Hurr Amili dan Faiz Kashani termasuk ulama Akhbari moderat, di mana sisi moderatnya membuat mereka tidak masuk ke dalam kelompok yang berlebihan, bahkan mereka memberi jasa besar bagi dunia Syiah.

Sahib Riyad memiliki jasa besar di bidang sosial dan kemasyarakatan. Ia pada tahun 1217 H membangun tembok besar di sekeliling kota Karbala untuk bertahan menghadapi serbuan kaum Wahabi. Ia juga membentuk pasukan dan menempatkan kabilah Syiah yang memiliki fisik kuat dan spirit bertempur, di kota Karbala sehingga memiliki kemampuan untuk membela kota dari para penyerbu Wahabi.

Wahabi yang dikenal sebagai sebuah kelompok sesat dan menyimpang di antara umat Islam, menyebut kafir kelompok Muslim lainnya baik itu Syiah maupun Sunni. Mereka juga menganggap selain mereka sebagai kelompok di luar agama. Dengan pemikiran dan ideologi keliru dan di luar kemanusiaan ini, Wahabi melakukan kejahatan besar terhadap Muslimin. Contoh dari ideologi ini kini dapat disaksikan di teroris Daesh (ISIS).

Ulama Islam dari Sunni dan Syiah sejak awal kemunculan Wahabi melawan kelompok ini dan ideologinya dengan keras, namun mengingat ideologi non-Islam ini mendapat dukungan finansial dan politik besar-besaran dari musuh Islam, khususnya penjajah Barat, maka kelompok ini mampu mempertahankan eksistensinya sepanjang zaman dan memberi pukulan keras terhadap masyarakat Muslim. Salah satu kejahatan sadis Wahabi adalah menyerang Karbala tahun 1216 H di mana ribuan orang Syiah baik perempuan, pria dan anak-anak gugur syahid.

Ketika Sahib Riyad mencapai posisi marja Syiah, khumus dan zakat kaum Syiah diserahkan kepada beliau. Khumus dan zakat adalah kewajiban finansial yang ditetapkan Islam kepada umat Muslim, sehingga dengan ini urusan Muslimin dikelola dengan lebih baik. Sahib Riyad memanfaatkan dana ini untuk kemaslahan sosial dan hal-hal umum umat Islam. Dengan dana ini Sayid Ali juga membeli banyak rumah dan kebun serta diserahkan kepada mereka yang membutuhkan. Di antara pelayanan sosial beliau adalah membangun tempat-tempat keagamaan, memberbaiki dan mengembangkannya. Contoh nyata dari jasa ini adalah membangun Masjid Jami' Karbala. Masjid ini dibangun di dekat pasar besar Karbala dan di tahun 1220 H proses pembangunannya selesai.

Sahib Riyad memiliki akhlak dan sifat terpuji dan membuatkan unggul dari yang lain. Ulama zaman itu, menyebut Sayid Ali tak ada duanya dari sisi akhlak dan spiritual. Mereka juga banyak memujinya. Salah satu karakteristik akhlak beliau adalah teliti dalam menjaga hak manusia dan mendorong masyarakat untuk berbuat serupa. Diriwayatkan bahwa suatu hari Sayid Ali menolak untuk mengerjakan shalat berjamaah. Para jamaah kemudian mendatangi beliau dan bertanya mengenai alasannya.

Sayid Ali saat menjawab pertanyaan ini berkata, "Hari ini saya ragu terkait keadilanku. Oleh karena itu, aku tidak dapat menjadi imam shalat." Kemudian masyarakat bertanya, mengapa Anda meragukan keadilanmu sendiri? Sayid Ali berkata, putri guruku Vahid (istri Sayid Ali Tabatabi) berkata kepadaku sehingga aku kehilangan kontrol diriku dan aku berkata kepadanya, apa yang kamu katakan tentangku akan kembali kepadamu. Oleh karena itu, aku meragukan keadilanku. Dengan demikian aku tidak dapat menjadi imam shalat jamaah kalian.


Sahib Riyad tidak menjadi imam jamaah untuk beberapa waktu, sampai istrinya meridhainya dan memaafkannya. Berdasarkan hukum Islam, imam shalat jamaah harus memiliki syarat seperti baligh, berakal, dan adil. Adil adalah ia menjauhkan diri dari dosa dan kemungkaran (tidak fasiq). Di kisah ini terpendam keindahan akhlak mazhab Ahlul Bait as.

Akhirnya ulama besar Syiah, Sayid Ali Tabatabai setelah hidup penuh berkah selama 70 tahun, akhirnya memenuhi panggilan sang Pencipta tahun 1231 H di Karbala. Jenazah ulama besar ini dikebumikan di dekat makam Allamah Vahid Behbahani di serambi komplek Haram Imam Husein as.

"ولَن یَهْلِکَ عالِمٌ إلّا بَقِیَ مِن بَعدِهِ مَن یَعلَمُ عِلمَهُ أو ما شاءَ اللّه ُ"

"Seorang ulama (alim) tidak akan meninggal, kecuali setelahnya ada seseorang yang mengetahui ilmunya atau apa yang Tuhan kehendaki."

Minggu, 05 Juni 2022 16:44

Mirza Abolghasem Gilani (2)

 

Mirza Abolghasem Gilani atau dikenal dengan Mirza-ye Qomi penulis buku Qawanin al-Usul yang selama bertahun-tahun menjadi mata pelajaran utama hauzah ilmiah Syiah.

Mirza Qomi memiliki sifat-sifat dan akhlak mulia seperti berusaha keras dalam menuntut ilmu, sangat perhatian terhadap urusan umat muslim serta berani dalam menjelaskan kebenaran dan membelanya. Ilmu dan perilaku mulianya juga sangat berpengaruh dalam membimbing masyarakat dan pemerintah.

Salah satu karya penting Mirza Qomi adalah Ershade Nameh (Surat Bimbingan). Ulama besar Syiah ini dikenal sebagai sosok yang tak kenal lelah dalam memberi nasehat dan petunjuk serta amar makruf nahi munkar. Tanpa kenal takut kekuasaan dan dominasi para penguasa Qajar, beliau kerap memberi nasehat para raja dan memperingatkan supaya mereka tidak tenggelam dalam kezaliman dan bergelut dengan kekafiran dan penyimpangan agama. Ulama besar ini memiliku dua karya surat nasehat yang ditujukan kepada para penguasa Qajar yang sampai ke tangan kita saat ini. Salah satu surat tersebut ditulis ketika Mirza Qomi berusia 50 tahun dan ditujukan kepada Agha Mohammad Khan Qajar dan yang lain ditulis ketika ia berusia 80 tahun dan ditujukan kepada Fath Ali Shah Qajar. Kedua surat tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Ershad Nameh Mirza-e Qomi. Dan dicetak dengan nama ini.

Sepertinya surat pertama Ershad Nameh ditujukan kepada Agha Mohammad Khan Qajar, raja pertama dan pendiri Dinasti Qajar. Agha Mohammad Khan, seorang raja yang berhati dingin, meski ia memiliki kecenderungan terhadap agama, tapi mengingat kekurangan dan penyimpangan keyakinan serta tidak mendapat pendidikan yang benar terkait agama, ia menganggap dirinya layak untuk melakukan kezaliman.

Image Caption
Untuk membuat suratnya lebih efektif dan berpengaruh, di bagian pertama suratnya, Mirza Qomi menulis, "Surat ini bukan nasehat dari orang pintar kepada mereka yang bodoh, dan juga bukan untuk memberi petunjuk orang yang tersesat, tapi sekedar pembahasan dan musyawarah dua orang pintar, tanpa memandang dirinya seorang yang pintar atau marja."

Melalui retorikanya ini, marja Syiah ini sejatinya menghapus penentangan raja untuk menolak nasehat. Ia menyebutkan dirinya sebagai seorang hampa yang bersalah dihadapan Tuhan, dan ia serta raja adalah hamba yang memiliki kewajiban dihadapan Tuhan semesta alam. Ia kemudian mulai membahas masalah utama dengan mengingatkan dirinya tidak ada kesengajaan dalam menulis surat ini.

Setelah menulis pembukaan seperti ini, Mirza Qomi dengan berani dan transparan menyebutkan poin-poin sangat penting yang sejatinya dimaksudkan untuk menghilangkan kesesatan sang raja. Kesesatan yang mengijinkan benak raja untuk melakukan kezaliman dan despotisme.

Di antara kesalahan disengaja dan tidak disengaja raja muslim adalah ketika mendengar sebuah hadis yang menyebut raja adalah «ظل اللّه» (bayangan Tuhan), ia menganggap dirinya dapat melakukan apa saja dan tidak memiliki tanggung jawab dihadapan Tuhan dan makhluk Tuhan. Teks asli hadis yang diisyaratkan tersebut adalah Rasulullah Saw bersabda yang artinya, "Raja adalah bayangan Tuhan di bumi, di mana orang-orang yang tertindas berlindung kepadanya. Jika ia adil maka akan mendapat pahala dan terima kasih kepada orang-orang, tapi jika ia keluar dari keadilan, maka ia berdosa." Tapi masyarakat awam tidak mengetahui kelanjutan dari hadis tersebut dan hanya mendengar jumlah raja adalah bayangan Tuhan. Mirza Qomi di Ershad Namehnya menyebutkan makna sebenarnya dari jumlah "Bayangan Tuhan" supaya menyelamatkan pikiran raja dari penafsiran keliru dan memberi pelajaran kepada raja bahwa ia akan bertanggung jawab dihadapan Tuhan atas setiap perbuatannya.

Arti pertama dari raja bayangan Tuhan yang disebutkan Mirza Qomi adalah seperti ketika manusia berlindung di bawah rindangnya pohon saat matahari bersinar terik supaya aman dari suhu panas, karakter dan metode raja juga harus membuat hamba Tuhan berlindung kepadanya dari kezaliman. Arti kedua adalah mengingat bayangan setiap sesuatu memiliki kesamaan dengan pemilik bayangan meski tidak stabil, maka raja ketika sedang terpolusi dengan kepentingan fisik, harus menjadikan dirinya seperti Tuhan agar ia dapat disebut sebagai bayangan Tuhan. Dalam pengertian ketiga, Mirza mengatakan bahwa sebagaimana segala sesuatu dapat dipahami dari bayang-bayang segala sesuatu, raja harus bersikap dan bertindak sedemikian rupa sehingga keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan pencipta agama dapat dipahami darinya. Terakhir Mirza menjelaskan bahwa "Raja adalah manifestasi supremasi kebenaran dan hukum, maksud beliau adalah raja yang taat agama, adil dan penuh kasih sayang bukan setiap raja zalim, kejam dan tidak beragama.

Keyakinan keliru yang ada saat itu dan sumber banyak kezaliman ketika itu adalah keyakinan ini bahwa karena Tuhan membuat raja kuat, maka apa yang ia lakukan adalah benar, jika sebaliknya, maka Tuhan yang Maha Kuat tidak akan menjadikan orang tersebut sebagai raja. Mirza Qomi dengan penjelasan ilmiah dan rasional serta sederhana telah membatalkan pemahaman keliru ini. Ia menulis, “Jika seseorang mengatakan bahwa karena sebuah kerajaan ditakdirkan, maka perlu bahwa perbuatan raja juga ditentukan (oleh Tuhan) dan Tuhan senang dengan semua perbuatannya.” Saya mengatakan kepadanya bahwa karena itu Firaun juga tidak boleh disalahkan, karena kerajaannya juga ditakdirkan, dan ini jelas bertentangan dengan agama."

Surat kedua yang dikenal dengan Shad Nameh (Surat Kesenangan) dari Mirza Qomi ditujukan kepada Fath-Ali Shah Qajar. Di zaman itu, kaum sufi berusaha keras untuk memasuki istana dan menebar pengaruhnya serta menyeret raja ke kubunya. Salah satu penyair terkenal sufi seraya mengirim buku dan catatan kepada raja berusaha menarik perhatiannya kepada aliran ini. Fath-Ali Shah memberi risalah (buku) tersebut kepada Mirza Qomi. Kemudian raja ingin Mirza memeritahu kepadanya hal-hal yang benar dan salah di risalah tersebut, karena ia mengenal Mirza sebagai seorang ulama yang pintar dan bertakwa.

Mirza yang saat itu telah berusia lanjut dan karena merasa bertanggung jawab atas masuknya pengaruh sufi ke istana dengan bersungguh-sunggung membalas permintaan raja tersebut dalam sebuah surat.

Tasawuf muncul di komunitas Muslim di akhir abad kedua hijriyah dan ditolak para Imam Maksum dan para ulama saat itu, karena pemikiran dan akidahnya yang menyimpang dari prinsip dan keyakinan Islam. Salah satu keyakinan keliru kelompok ini adalah manusia ketika sampai di satu titik derajat khusus irfan, maka ia tidak lagi membutuhkan untuk melakukan kewajiban agama seperti shalat dan puasa, atau memperhatikan hal-hal haram atau halal yang pada akhirnya ia dibebaskan untuk melakukan segala bentuk kesalahan dan kemunkaran. Keyakinan kaum sufi ini membuat mereka secara praktis keluar dari lingkaran agama. Dengan demikian, ulama Syiah sangat sensitif untuk memberi pencerahan kepada masyarakat atas penyimpangan ini.

Dalam surat ini, Mirza Qomi telah secara eksplisit menulis kepada Shah bahwa Anda tidak mengetahui masalah mistik, filosofis, dan yurisprudensi yang sebenarnya dan dikhawatirkan bahwa bergaul dengan orang-orang ini akan mengalihkan Anda dari mazhab Ahlul Bait as yang asli. Mirza mendorong raja untuk mempelajari kitab Haq al-Yaqin dan Ain al-Hayat tulisan Allamah Majlisi untuk membangun keyakinan agama yang benar, dan menekankan bahwa para sufi harus mendiskusikan masalah tersebut dengan orang seperti saya yang fasih dalam masalah mistik dan filosofis. Dalam kelanjutan suratnya, ulama besar ini memperingatkan raja untuk berhati-hati dalam hal ini, karena penyimpangan raja juga dapat menyebabkan orang menyimpang dari agama.

Di bagian lain surat Mirza Qomi, dia memperingatkan Shah untuk menentang kelompok yang mencoba secara tidak adil menyebut raja "Ulil Amri" dan tidak mengizinkan hal seperti itu. Penafsiran "Ulil Amri" diambil dari ayat 59 Surat An-Nisa' di mana Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu." Beberapa ahli tafsir Sunni menganggap "ulil amri" berarti penguasa dan pemimpin. Namun, ulama Syi'ah, mengutip hadits otentik dari Imam Baqir as dan Imam Ja'far as, menganggap arti "ulil amri" dalam ayat ini sebagai Imam maksum dari keluarga Nabi (Saw). Mirza Qomi meminta raja untuk tidak membiarkannya disebut ulil amri, karena ini akan menyebabkan kerusakan di masyarakat dan keyakinan rakyat.

Imam Hadi (as) mengatakan: "Jika bukan karena keghaiban Qaim (Imam Mahdi) yang jujur, akan ada ulama yang akan menyeru (orang-orang) dan membawanya ke keberadaannya dan membela agamanya dengan argumen ilahi, dan membebaskan hamba-hamba Allah yang tak berdaya dari cengkeraman setan dan pengikutnya, maka tak diragukan lagi seluruh manusia akan keluar dari agama Tuhan. "

Mirza Qomi adalah salah satu ulama yang menyeru manusia kepada Tuhan dan membela agama kebenaran. Setelah delapan puluh tahun menjalani kehidupan yang keras dan penuh berkah pada tahun 1231 H, ia menerima panggilan Tuhan dan kembali ke sisi-Nya. Acara tasyi jenazah ulama besar ini dihadiri sejumlah besar orang Syi'ah dan akhirnya dimakamkan di kota Qom dan dekat Haram Sayidah Ma'sumah.

Minggu, 05 Juni 2022 16:42

Mirza Abolghasem Gilani

 

Mirza Abolghasem Gilani atau dikenal dengan Mirza-ye Qomi. Di zamannya, ia kenal sebagai ulama Syiah terpandai dan terbesar.

Metode dan padangannya untuk beberapa waktu mendominasi Hauzah Ilmiah Isfahan, Najaf, Mashad dan Tehran. Ia menulis kitab Qavanin yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu mata pelajaran wajib di Hauzah Ilmiah Syiah.

Di Islam, ulama menempati posisi penting dan tinggi setelah Rasulullah Saw dan para Imam Maksum as. Terkait kedudukan ulama, Imam Shadiq as berkata, "Keutamaan ulama atas hamba seperti malam keempa belas di atas bintang-bintang yang lain dan menurut para ilmuwan, mereka adalah pewaris para nabi ilahi."

Jika kita melihat hadis dan riwayat serta ayat Alquran, kita menyaksikan derajat dan posisi seperti ini yakni pewaris nabi hanya milik ulama yang menggunakan ilmunya untuk melayani Tuhan dan membimbing masyarakat ke arah kebahagian abadi.

Mirza Abolghasem Gilani, yang dikenal sebagai Mirza-ye Qomi, lahir pada tahun 1739 M di Distrik Japelaq, Kabupaten Azna, Provinsi Lorestan, Iran. Ia dibesarkan di Japelaq. Ia juga dikenal sebagai Mirza-ye Qomi karena tempat tinggalnya di Qom.

Mirza Abolghasem Gilani, putra Mullah Mohsen (Mohammad Hassan), berasal dari Shaft, Provinsi Gilan. Ayahnya pergi dari Shaft ke Japelaq, di mana ia menikah dan Mirza Abolghasem lahir pada pertengahan abad kedua belas tahun 1151 H (1739 M). Ayah Mirza, Hassan ibn Nazar Ali Keikhi Rashti, adalah orang yang berbudi luhur dan menulis buku "Kas al-Sa'ilin" (Arab: السائلین, artinya: Piala Penanya) dengan gaya Kashkul. Ibu Mirza juga putri dari guru ayahnya Mirza Hedayatullah dan berasal dari keluarga ulama.

Mirza-ye Qomi untuk melanjutkan jenjang pendidikiannya di tahun 1174 H pergi ke Karbala dan belajar di Hauzah Ilimah Imam Husein as. Selama menempuh pendidikan di Karbala, ia belajar di bawah Ayatullah Wahid Behbahani, ulama terkenal di zaman itu. Dari ulama ini, Mirza-ye Qomi mendapat ijin ijtihad dan meriwayatkan hadis. Kemudian Mirza-ye Qomi kembali ke Iran dan tinggal di kota Qom. Selama di Qom untuk waktu yang singkat, Mirza-ye Qomi meraih kemajuan besar dan sedikit-demi sedikit keutamaan akhlak dan ketinggian ilmunya semakin terkenal di kalangan masyarakat dan menyebar ke berbagai kota lain.

Saat itu, dengan dukungan ulama dan guru besar hauzah ilmuah Iran dan Irak, Mirza Abolghasem Gilani dipercaya sebagai marja Syiah, dan kemudian ia dikenal dengan sebutan Mirza-ye Qomi. Selama di Qoma, Mirza aktif mengajar dan menulis buku, mengeluarkan fatwa dan berdakwa serta memimpin shalat Jumat di Masjid Jami' Qom. Berkat kerja keras Mirza-ye Qomi, kota Qom sedikit demi sedikit mulai maju di bidang keilmuan yang sebelumnya pernah hancur akibat serangan bangsa Afghanistan. Seiring dengan semakin maraknya Hauzah Ilmiah Qom, pusat keilmuan dan fikih di Iran pindah dari Isfahan ke Qom.

Mirza-ye Qomi sangat gigih dan berusaha keras dalam menimbal ilmu. Selama masa belajar, ia belajar dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras. Ia memiliki jadwal bagi aktivitas hariannya dan tidak melalaikan belajar. Kecintaannya akan belajar sampai membuat dirinya mengurangi waktu tidur. Bahkan dikatakan bahwa dia meletakkan piring tembaga di atas lampu minyak yang dia gunakan untuk belajar, dan setiap kali dia tertidur, dia akan meletakkan tangannya di piring tembaga dan tidur, dan segera setelah itu berlalu, piring itu akan menjadi panas dan Mirza akan kepanasan dari tangannya, dia akan bangun dan melanjutkan studinya. Jumlah kerja keras Mirza dalam mencari ilmu ini mungkin tampak berlebihan bagi sebagian orang, namun bagi Mirza, karena keinginannya yang besar atas pengetahuan, kesenangan menuntut ilmu lebih tinggi dari kesenangan lainnya.

Mirza-ye Qomi mulai menulis sejak muda saat belajar di Khansar dan mulai menulis dan menyusun buku, namun sebagian besar karyanya ia tulis selama tinggal di Qom. Dia memiliki tulisan-tulisan yang berharga di sebagian besar ilmu-ilmu Islam seperti yurisprudensi, prinsip-prinsip, teologi, semantik, ilmu ma'ani dan bayan. Karya terpenting Mirza-ye Qomi adalah buku "Qawanin al-Usul" dalam bahasa Arab. Buku ini adalah kursus lengkap tentang ilmu usul fiqih. Ilmu usul fiqih adalah ilmu di mana metode yang benar untuk mencapai aturan syari'at dan dengan menggunakan dalil rasional.

Jilid pertama kitab Qawanin al-Usul berisi topik kata-kata (al-alfadh) dan volume kedua berisi topik rasional (aqli). Buku ini sudah lama menjadi buku ajar seminari-seminari Syi'ah. Selain menguasai berbagai ilmu keislaman, Mirza juga sangat berbakat dalam puisi dan kaligrafi, dan ia memiliki lebih dari lima ribu karya bait puisi dalam bahasa Persia dan Arab serta tulisan-tulisan indah dalam bahasa Arab dalam bentuk kaligrafi Naskhi dan Nastaliq.

Mirza-ye Qomi, selain sebagai tokoh ilmu fiqih, usul fiqih dan ilmu-ilmu agama lainnya, juga merupakan teladan yang terpuji dari para pengikut Ali bin Abi Thalib (as) dalam etika dan moral. Kerendahan hati, hidup sederhana, keberanian, disiplin dan ketekunan, bahasa yang baik dan jauh dari segala keburukan dan berlebihan, ketekunan dalam urusan umat Islam dan menyelesaikan masalah mereka adalah beberapa karakteristik yang tertanam dalam diri orang besar ini. Semua ini adalah cahaya matahari ketulusan yang bersinar di dadanya. Dunia besar ini memberikan perhatian khusus untuk memenuhi kebutuhan orang miskin dan membutuhkan, sehingga selama hidupnya ia mendedikasikan hartanya dengan cara ini.

Mirza-ye Qomi sezaman dengan dua raja Qajar bernama Agha Mohammad Khan dan Fath Ali Shah. Perlakuannya terhadap Fath Ali Shah Qajar sangat menarik dan instruktif. Ulama besar ini tidak memutuskan hubungan dengan raja dan terkadang terjadi pertemuan di antara mereka, namun hubungan ini tidak pernah membuat Mirza-ye Qomi mengundurkan diri dari tugasnya sebagai ulama. Mirza, yang bagaimanapun juga tidak meninggalkan amar makruf dan nahi munkar, berbicara kepada raja dalam bahasa petunjuk dan tidak ragu-ragu untuk memperingatkannya terlepas dari semua kekuatannya. Diriwayatkan bahwa dalam salah satu pertemuannya dengan Shah, di tengah percakapan, dia berbicara kepada Shah: O Shah! Perlakukan orang dengan adil karena saya takut saya akan dihukum oleh Tuhan karena pergaulan saya dengan Anda! Dan dalam pertemuan lain dia menyentuh janggut panjang raja dan berkata: "Wahai Shah! Jangan biarkan janggut ini terbakar dengan api neraka pada hari setelah kebangkitan!"

Dikatakan bahwa Fath Ali Shah Qajar melakukan perjalanan ke kota Qom dan karena dia tidak memiliki istana dan tempat peristirahatan di Qom, dia pergi ke pemandian kota pada suatu pagi untuk mandi. Pada saat itu, pemandian Iran adalah perbendaharaan, artinya pemandian tersebut memiliki beberapa kolam air yang masing-masing digunakan untuk tahap pencucian. Ketika Fath Ali Shah memasuki perbendaharaan, dia memperhatikan bahwa ada orang lain di sudut perbendaharaan. Dia bertanya kepada teman-temannya, "Siapa orang ini?" Mereka menjawab bahwa dia adalah Mirza-ye Qomi, marja taklid Syi'ah yang agung. Raja pergi ke depan. Mirza sangat biasa. Shah berkata kepada Mirza: Apakah Anda mengenal saya? Saya Shah, Fath Ali Shah Qajar!! Mirza, yang menggunakan setiap kesempatan untuk membimbing orang-orang, memanfaatkan kesempatan itu dan berkata: Tidak, saya tidak tahu. Raja memiliki mahkota, takhta, kain halus, gaun kasmir dan ikat pinggang emas di pinggangnya. Tuan-tuan, Anda tidak memiliki semua ini. Anda sekarang adalah Fath Ali! Tapi saya Mirza-ye Qomi, karena semua modal saya ada pada saya: ilmu, pengetahuan, makrifat, tafsir, fiqih dan usul fiqih. Jadi saya Mirza-ye Qomi, marja taklid, tetapi Anda menjadi raja ketika memakai pakaian kebesaran dan berada di istana. Jika kita berdua dibiarkan di padang pasir seperti kita sekarang, saya tidak kehilangan apa-apa, tetapi Anda kehilangan segalanya, jadi berhati-hatilah. Dengan cara ini, Mirza Qomi ingin mengingatkan Fath Ali Shah bahwa apa yang berharga “ Itu adalah keberadaan manusia dan kesempurnaannya, bukan pakaian dan harta benda dan bahkan takhta kerajaan."

Seperti yang telah kami katakan, poin terpenting dalam karakter moral Mirza-ye Qomi adalah ketekunannya dalam menasehati dan membimbing dan menganjurkan kebaikan dan melarang kejahatan. Ulama saleh ini, tanpa rasa takut sedikit pun terhadap kekuasaan dan hegemoni raja-raja Qajar, menasihati dan memperingatkan mereka agar tidak melakukan penindasan dan pengembaraan di lembah kekafiran dan penyimpangan dari agama. Kami telah mendapatkan dua surat dari Mirza-ye Qomi dengan tema ini yang ditujukan kepada raja-raja Qajar, salah satunya tampaknya ditulis kepada Agha Mohammad Khan Qajar pada usia 50 tahun dan yang lainnya kepada Fath Ali Shah Qajar pada usia 80 tahun. Surat-surat ini, yang dikenal sebagai surat bimbingan Mirza-ye Qomi, diterbitkan dengan nama yang sama. Karena pentingnya isi surat instruksi, kami akan mendedikasikan program berikutnya untuk berkenalan dengan teks yang berharga ini.

Minggu, 05 Juni 2022 16:41

Syeikh Ja'far Kashif al-Ghita' (2)

 

Syeikh Ja'far Kashif al-Ghita' adalah seorang ulama sosial dan politik. Selain aktif di bidang ilmiah, ia juga memiliki perhatian serius terhadap urusan muslimin.

Ia bahkan memakai pakaian perang untuk keselamatan kaum Muslim dan menjaga nyawa serta kehormatan mereka. Beliau juga tidak enggan menjalin hubungan konstruktif dan efektif dengan para penguasa. Oleh karena itu, ia berulang kali berhasil mencegah terjadinya perang dan pertumpahan darah di antara penguasa Islam.

Salah satu langkah efektif Syeikh Ja'afr Kashif al-Ghita' dalam membela ajaran Syiah adalah ketika kaum Wahabi menyerang kota Najaf tahun 1215 H. Kaum Wahabi pengikut Mohammad bin Abdul Wahab meyakini bahwa banyak amalan umat mulism, baik Sunni maupun Syiah adalah syirik. Dengan ideologi rusak ini, mereka menyebut mayoritas muslim, khususnya Syiah sebagai kafir dan melalui interprestasi keliru dan sesuai dengan hawa nafsunya atas agama dan al-Quran, kaum Wahabi mulai membantai dan merampok muslimin.

Kaum Wahabi di tahun 1215 H menyerang Karbala dan Najaf. Selain merusak haram dan kubah makam Imam Husein as, mereka juga membantai ratusan pria dan wanita yang tengah berada di kompleks makam suci cucu Rasulullah Saw ini. Kemudian mereka merampok kota Karbala dan mereka membantai ribuan warta tak berdosa Karbala yang tidak menyadari serangan ini dengan dosa karena mereka Syiah.

Berita pembantaian ini sampai ke kota Najaf dan warga kota mulai khawatir dan ketakutan. Syeikh Ja'far Kashif al-Ghita' saat itu tinggal di Najaf dan mengajak warga membela kota. Syeikh Ja'far sendiri memakai pakaian perang dan mempersenjatai ulama, santri dan warga lainnya. Rumah Syeikh Ja'far saat itu menjadi gudang senjata dan tempat berkumpulnya para pejuang bersenjata.

Melalui arahan dan manajemen Syeikh Kashif al-Ghita', warga Syiah di kota Najaf melawan serbuan kaum Wahabi selama empat bulan. Pada akhirnya musuh gagal memasuki kota Najaf. Setelah peristiwa ini, Syeikh Kashif al-Ghita' menginstruksikan pembangunan tembok yang kuat dan tinggi di sekitar kota Najaf, sehingga kota beserta warganya akan tetap aman ketika kaum Wahabi menyerang.

Sensitifitas dan perhatian khusus marja besar Syiah ini untuk melindungi nyawa dan harta umat muslim dihadapan serangan dan agresi musuh, membuat penduduk Najaf dan sekitarnya merujuk ke rumah Syeikh saat ada peristiwa penting atau serangan musuh. Syeikh Kashif al-Ghita' menulis kitab Manhaj al-Rashad Liman Arada al-Sadad dalam melawan akidah sesat Wahabi dan mengkritik ideologi kelompok ini. Sepertinya ini tercatat sebagai kitab pertama yang melawan ideologi Wahabi.

Syeikh Ja'far Kashif al-Ghita' berkunjung ke Iran tahun 1222 H dan disambut warga serta ulama negara ini. Selama kunjungannya tersebut, Syeikh menggelar kuliah umum berisi wejangan dan pembahasan ilmiah di berbagai wilayah Iran. Ia berusaha keras menyebarkan ajaran Syiah dan menjawab setiap pertanyaan dan keraguan.

Syeikh Ja'far saat itu berada di puncak popularitasnya dan kuat dalam bidang agama serta politik bertemu dengan Fath-Ali Shah Qajar di Tehran. Di pertemuan tersebut, ia memberi hadiah Kitab Kashif al-Ghita kepada Shah Qajar. Kashif al-Ghita' merupakan karya terpenting Syeikh Ja'far yang membuatnya dijuluki Syeikh Kashif al-Ghita'. Saaa itu, Iran tengah terlibat perang dengan Rusia dan Syeikh Kashif al-Ghita yang sangat memperhatian upaya untuk menjaga persatuan umat Muslim, sebagai marja agama mengijinkan Fath-Ali Shah untuk mengumpulkan pasukan. Bahkan ia bersedia mengabulkan permintaan Fath-Ali Shah untuk mengeluarkan fatwa jihad.

Syekh sangat dihormati oleh pemerintah Iran dan Ottoman, dan dalam beberapa kasus pengaruh kata-katanya efektif dalam menyelesaikan perbedaan antara kedua negara. Pada tahun 1219 H, ketika tentara Iran pindah ke Baghdad untuk memulai perang, "Ali Pasha", penguasa Baghdad, meminta Syeikh Kashif al-Ghita' untuk mengunjungi komandan tentara Iran dan menghentikan perang. Syeikh Ja'far, yang menganggap usulan Ali Pasha menguntungkan kaum Muslim, melakukannya, dan sebagai hasil pertemuannya dengan komandan korps Iran, perang dihentikan dan tahanan Turki dan Arab dibebaskan. Pada tahun 1221 H, ketika perang kembali pecah antara kedua negara, Syeikh Ja'far menengahi antara penguasa Baghdad dan komandan tentara Iran, dan mampu mencegah perang dan pertumpahan darah di antara umat Islam untuk kedua kalinya.

Syeikh Ja'far Kashif al-Ghita' menghadiri Konferensi Islam di Yerusalem yang dihadiri oleh para ulama dari berbagai agama, dan atas permintaan para ulama Palestina, ia pergi ke mimbar di depan 50.000 orang setelah shalat Maghrib di tempat tinggi di mana dia telah memberikan pidatonya. Mimbarnya berlangsung lebih dari satu setengah jam. Pada pertemuan itu, dia sangat mempesona semua orang sehingga setelah mimbar ditutup, para hadirin menjadi makmum di shalat Isya. Dia menerima dan semua ulama dari empat agama menjadi makmumnya. Selama tinggal di Yerusalem, semua peserta konferensi selalu menjadi makmum di shalat lima waktu.

Ada banyak pelajaran dalam kehidupan para ulama besar Syiah yang dapat mengungkapkan rahasia kesuksesan mereka kepada kita sampai batas tertentu. Bagaimana manusia dapat menggunakan kemampuan dan bakat yang telah Tuhan Yang Maha Kuasa berikan dalam dirinya dengan cara yang terbaik, tidak terjebak oleh rutinitas sehari-hari, kegelapan dan tabir dunia, dan dengan demikian menguasai dirinya dan keberadaannya dari waktu ke waktu, sehingga keberadaannya menerima cahaya keabadian dan menerangi jalan kebahagiaan bagi para pencarinya.

Mereka yang duduk dengan sopan di kelas Kashif al-Ghita', dan mereka yang melihat dan mengenalnya setiap hari di jalan-jalan, pasar, masjid dan mimbar, dan menghormati kebesarannya, tidak hanya menilainya sebagai orang besar hanya karena derajat ilmunya dan kecerdasan politisinya, tetapi dia dianggap sebagai manusia ilahi yang tidak menyimpang dari jalan penghambaan kepada Tuhan.

Syekh Ja'far Kashif al-Ghita' adalah orang yang saleh, dermawan, rendah hati dan mujahid, dan dia peka dan rajin terhadap orang miskin dan memenuhi kebutuhan mereka. Dia berusaha dengan segala cara yang dia bisa untuk memenuhi kebutuhan orang miskin. Kadang-kadang, dalam pertemuan, dia secara pribadi akan berdiri dan mengumpulkan sumbangan uang tunai di jubahnya dan membagikannya di antara orang miskin dan membutuhkan. Dia sangat mementingkan shalat berjamaah dan mendorong orang untuk melakukannya.

Marja terkenal dan berpengaruh Syiah ini di saat darurat mengangkat senjata untuk menyelamatkan nyawa dan kehormatan umat Muslim, dan mengorganisir perlawanan serta berperang dengan gagah berani melawan musuh agama dan mazhab. Sementara di malam hari, ia menangis dan bergetar seluruh tubuhnya saat beribadah dihadapan Tuhannya. Kebiasaan Syeikh Ja'far adalah di awal malam ia menghitung pekerjaan dan amalannya (Muhasabah Nafsaniyah), ia memperhitungkan amalan dan perkataannya serta meminta ampunan kepada Tuhan akan kesalahannya. Ia meminta bantuan Tuhan untuk melakukan pekerjaan dan amalan lebih baik di hari berikutnya. Setelah tidur sejenak, ia memanfaatkan waktu sahar untuk beribadah dan bermunajat hingga pagi hari. Setelah waktu pagi tiba, ia mulai mempersiapkan jam pelajarannya dan menyelesaikan urusan masyarakat.

Syeikh Ja'far Kashif al-Ghita', meskipun ia menaruh minat yang serius dalam urusan sosial dan politik komunitas Muslim pada saat yang sama dengan karya ilmiah dan administrasi seminari dan kuliah dan komposisi, tidak mengabaikan rumah, keluarga dan mendidik anak-anaknya. Di hadapan ilmu dan akhlak bapak yang mulia ini, ketiga anaknya mencapai kedudukan ijtihad dan menjadi fuqaha dan mujtahid terkemuka atas nama zamannya. Syeikh Ja'far juga memiliki lima menantu laki-laki, yang semuanya adalah ahli hukum terkenal pada masanya. Diriwayatkan bahwa Syeikh Ja'far, saat bepergian ke Mekah, berdoa ketika memasuki Masjidil Haram: "Ya Tuhan, jangan tinggalkan keluargaku tanpa ahli hukum." Menarik bahwa keluarga Kashif al-Ghita' sejak saat itu hingga kini telah mengeluarkan banyak ulama besar dan ahli hukum, dan dikenal sebagai keluarga fuqaha dan ulama.

Syeikh Ja'far Kashif al-Ghita' setelah bertahun-tahun berjuang dan menyebarkan ajaran Ahlul Bait as serta melayani umat Islam, akhirnya pada bulan Rajab tahun 1228 H memenuhi panggilan sang pencipta dan bertemu dengan kekasihnya (Allah Swt). Jenazah beliau dikebumikan di kota Najaf di Hauzah Ilmiah yang ia dirikan. Meski tubuh suci ulama ini ditutupi tanah, tapi karyanya yang beredar di dunia Syiah tidak pernah tertutup debu atau dilupakan.