کمالوندی
Yedioth Ahronoth: Hamas Bisa Diktekan Kehendaknya pada Israel
Surat kabar Rezim Zionis Israel menyoroti krisis politik di tubuh kabinet Zionis, dan mengakui bahwa Hamas punya kekuatan untuk mendiktekan kemauannya pada Tel Aviv.
Yedioth Ahronoth, Minggu (29/5/2022) mengakui bahwa pemerintah Rezim Zionis sedang berhadapan dengan sebuah masalah nyata, dan dihadapkan pada dua pilihan, memilih sebuah pemikiran rasional untuk mengubah jalur Pawai Bendera, atau perang di seluruh kawasan.
"Perubahan jalur Pawai Bendera berarti menyerah di hadapan syarat Hamas, sama dengan sebuah bahaya strategis, pasalnya jika Hamas berhasil pada masalah ini, maka akan muncul syarat-syarat berikutnya yang mungkin saja akan memaksa Israel mencabut benderanya dari Knesset," tulis Yedioth Ahronoth.
Koran Israel itu menambahkan, "Selama setahun terakhir, terjadi sejumlah perubahan serius yang menunjukan peningkatan kebangkitan nasional di Al Quds, dan warga Palestina yang merasa bahwa Hamas mendukung mereka."
"Menuntaskan masalah bukan aib, tapi Hamas tidak ingin menuntaskan masalah, mereka berusaha mendiktekan syarat dan tuntutannya kepada Israel. Jika Israel mematuhinya, maka Hamas akan meminta tuntutan yang lebih banyak," imbuhnya.
Brigade Nasser Salahuddin Bersiaga Antisipasi Serangan ke Masjid Al Aqsa
Sayap militer Komite-Komite Perlawanan Rakyat Palestina, mengabarkan kesiapan pejuang kelompok ini untuk mengantisipasi kemungkinan tindakan bodoh Rezim Zionis terhadap Masjid Al Aqsa.
Meski sudah diperingatkan oleh kelompok-kelompok perlawanan Palestina, para pemukim Zionis yang mengikuti Pawai Bendera, hari ini, Minggu (29/5/2022), memasuki pelataran Masjid Al Aqsa.
Menanggapi hal ini, Brigade Nasser Salahuddin mengumumkan, "Kami tidak akan diam, dan menyaksikan pelecehan terhadap Masjid Al Aqsa oleh para pemukim Zionis, jari kami siap menarik pelatuk senjata jika sampai terjadi peristiwa yang tak diharapkan."
Ditambahkannya, "Kami adalah benteng rakyat Palestina, dan pedang untuk menghadapi musuh-musuh, serta para pendukung mereka."
Di sisi lain Rezim Zionis juga sudah menyiagakan pasukannya seiring dengan masuknya para pemukim Zionis ke pelataran Masjid Al Aqsa, dan bentrokan dengan warga Palestina.
Rezim Zionis sangat mencemaskan ancaman kelompok perlawanan Palestina, dan kemungkinan serangan rudal ke Israel, jika peserta Pawai Bendera melewati lokasi-lokasi tempat suci Islam di Al Quds.
Bela Masjid Al Aqsa, Hizbullah Bekerja Sama dengan Perlawanan Palestina
Anggota Dewan Pusat Hizbullah Lebanon, menyebut rezim-rezim Arab yang melakukan normalisasi dengan Rezim Zionis, ikut terlibat dalam kejahatan Zionis terhadap Masjid Al Aqsa.
Syeikh Nabik Kaouk, Minggu (29/5/2022) seperti dikutip situs Al Ahed mengatakan, untuk membela Al Quds dan tempat-tempat sucinya, Hizbullah menjalin kerja sama yang erat dengan Palestina.
Pada saat yang sama, Syeikh Kaouk menilai kebijakan Arab Saudi sebagai penghalang nyata terciptanya kesepakatan nasional di Lebanon, dan ancaman langsung terhadap perdamaian internal negara ini.
"Saudi memberi dukungan finansial untuk aksi-aksi provokatif di Lebanon, dan setelah pemilu legislatif meminta para pendukung dan orang-orang bayarannya untuk melanjutkan serangan ke Hizbullah, dan menolak kesepakatan di antara rakyat Lebanon," imbuhnya.
Menurut Syeikh Kaouk, lebih buruk dari itu adalah kebijakan Saudi yang mendekat ke Rezim Zionis, dan itu adalah ancaman nyata bagi keamanan nasional Lebanon dan Palestina.
"Hizbullah seperti kemarin, hari ini dan esok akan tetap memiliki kerja sama paling erat dengan perlawanan Palestina, sehingga semua yang diperlukan dalam melindungi Masjid Al Aqsa dan Al Quds, dapat dilakukan," ujarnya.
Hari ini, lebih dari seribu pemukim Zionis, tanpa izin, memasuki pelataran Masjid Al Aqsa untuk menggelar ritual Talmud.
Iran Pamerkan Drone dan Rudal Cruise Haider
Dua prestasi baru angkatan bersenjata Iran, drone dan rudal cruise Haider dipamerkan hari ini, Sabtu (28/4/2022).
Kemajuan drone Republik Islam Iran selama beberapa dekade lalu senantiasa gemilang dan drone buatan negara ini, mengingat konflik di kawasan, dengan baik menunjukkan nilai tingginya di bidang pengawasan, identifikasi, pencarian target dan pelaksanaan operasi ofensif jarak menengah di kawasan.
Republik Islam Iran sampai saat ini termasuk sejumlah negara terbatas di dunia yang terus mengalami kemajuan di bidang desain, pengembangan dan produksi berbagai drone.
Rudal cruise Haider
Menurut laporan IRNA, selama kunjungan Kepala Staf Umum Militer Iran, Mayjen. Mohammad Bagheri ke pangkalan strategis drone 313 militer, dua produk baru untuk pertama kalinya dipamerkan.
Produk pertama adalah rudal cruise Haider-1 yang dapat dibawa dan ditembakkan oleh Drone Kaman-22 milik angkatan udara Iran dan Drone Fotros.
Menurut informasi yang diumumkan, rudal ini memiliki jangkauan 200 kilometer dan kecepatannya saat mengenai target adalah 1000 kilometer per jam.
Rudal cruise Haidar merupakan rudal cruise Iran pertama yang dapat dibawa drone.
Produk kedua adalah Haider-2 yang merupakan drone kargo. Mayjen. Bagheri Sabtu (28/5/2022) meninjau pangkalan drone bawah tanah milik militer Iran.
Mayjen Bagheri di kunjungan ini mendapat penjelasan mengenai kemampuan produksi berbagai drone militer, ofensif dan jarak jauh militer Republik Islam Iran.
Dengan dioperasikannya pangkalan rahasia yang berada di kedalamaan ratusan meter di bawah tanah, Republik Islam Iran berubah menjadi kekuatan drone di kawasan.
Jubir Kemenlu Iran: Awak Tanker Yunani dalam Kondisi Aman
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan bahwa para awak dua kapal tanker Yunani, saat ini berada dalam kondisi aman dan sehat.
Khatib Jumat Tehran: Perlawanan Lebanon Patahkan Tanduk AS
Khatib Salat Jumat Tehran mengucapkan selamat atas peringatan kemenangan Hizbullah Lebanon atas Rezim Zionis Israel.
Hujatulislam Kazem Sedighi, Jumat (27/5/2022) dalam khutbah Jumatnya mengatakan, "Rasa pahit kekalahan pertama dirasakan oleh Zionis, dan tanduk Amerika Serikat patah, bersamaan dengan kemenangan Hizbullah Lebanon."
Kelompok perlawanan Hizbullah, Lebanon pada 25 Mei 2000 berhasil mengalahkan Rezim Zionis Israel, dan mengusir rezim penjajah itu dari wilayah selatan Lebanon, setelah mendudukinya selama 18 tahun.
Khatib Jumat Tehran mengenang peringatan kemenangan Hizbullah atas Rezim Zionis ke-23, dan mengucapkan selamat kepada Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrullah, pahlawan perlawanan, seluruh rakyat Lebanon, dan poros perlawanan.
Hujatulislam Kazem Sedighi menambahkan, "Arab Saudi supaya bisa menaikan orang-orangnya dalam pemilu legislatif terbaru Lebanon yang merupakan boneka-boneka Amerika Serikat, harus membayar mahal."
Ia menegaskan, "Akan tetapi rakyat Lebanon meski harus menanggung beban biaya harga-harga barang kebutuhan yang mahal di negaranya, dan derasnya propaganda serta politik uang, mengabaikan orang-orang dukungan Saudi, dan memilih calon-calon dukungan Hizbullah, dan kelompok perlawanan akhirnya memenangkan pemilu Lebanon."
Komandan IRGC: Kami akan Balas Aksi Teroris Rezim Zionis !
Komandan Korps Gerda Revolusi Islam Iran (IRGC) menekankan bahwa kejahatan teroris baru-baru ini yang dilakukan rezim Zionis akan balas.
Syahid Kolonel Hassan Sayyad Khodai, menjadi sasaran serangan teroris di Tehran pada hari Minggu yang dilakukan oleh elemen-elemen yang berafiliasi dengan kekuatan arogansi global.
Mayjen Hossein Salami, Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran dalam acara mengenang kesyahidan Sayyad Khodai hari Kamis (26/5/2022) mengatakan, "Amerika Serikat dan Israel adalah dua rezim teror. Sebagaimana kejahatan di Hiroshima dan Nagasaki yang menggunakan senjata pemusnah massal, mereka membunuh dan meneror bangsa lain,".
"Ketika Amerika dan Israel dikalahkan di arena, mereka menggunakan metode rumit dan misterius dengan membunuh dan meneror pihak lain," ujar Mayjen Salami.
"Aksi teror baru-baru ini yang menyebabkan kesyahidan Sayyad Khodai akan dibalas. Musuh-musuh Iran mengetahui hal ini, dan telah menerima banyak pukulan sebelumnya," tegasnya.
Upacara mengenang kesyahidan Kolonel Hassan Sayyad Khodai digelar hari Kamis di Institut Budaya dan Seni Syuhada Sarcheshmeh di Tehran.
Mengapa Rezim Zionis Meneror Syahid Khodai?
Surat kabar Amerika Serikat, The New York Times menurunkan sebuah laporan yang mengungkapkan bahwa serangan teror terhadap Syahid Sayyad Khodai dilakukan oleh rezim Zionis
The New York Times mengutip sumber informasi yang mengatakan bahwa juru bicara perdana menteri rezim Zionis menolak untuk mengomentari pembunuhan Sayyad Khodai, tetapi menurut seorang pejabat intelijen, rezim Zionis memberi tahu pejabat AS bahwa pembunuhan tersebut dilakukan agennya.
Israel adalah pusat 'peternakan' teroris. Terorisme melekat dengan rezim Zionis, dan cara-cara terorisme memainkan peran utama dalam perkembangan rezim agresor ini. Banyak pemimpin Palestina dan Lebanon diteror oleh rezim Zionis. Bahkan baru-baru ini, pejabat Zionis mengancam akan membunuh pemimpin Hamas di Jalur Gaza, Yahya Sinwar.
Selain para pemimpin Palestina dan Lebanon, sejumlah besar ilmuwan, terutama ilmuwan Iran, serta para jurnalis juga menjadi target tim pembunuh rezim Zionis. Fakta terbaru adalah Shireen Abu Akleh, jurnalis Palestina yang bekerja untuk Al Jazeera Qatar menjadi sasaran aksi penembakkan tentara Israel. Setidaknya 45 wartawan telah dibunuh oleh rezim Zionis sejak tahun 2000.
Tidak diragukan lagi, pembunuhan Syahid Sayyad Khodai, yang memainkan peran penting dalam perang melawan teroris di Suriah, bukanlah kasus terakhir pembunuhan yang dilakukan agen rezim Zionis.
Aksi terorisme yang dijalankan rezim Zionis setidaknya disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, terorisme adalah produk agresi dan pendudukan Zionis. Kedua, terorisme yang dijalankan Israel merupakan hasil dari dukungan penuh kekuatan Barat, khususnya Amerika Serikat terhadap Tel Aviv. Salah satu tanda dukungan ini adalah laporan otoritas Zionis untuk memberitahu pemerintah AS bahwa mereka telah membunuh Syahid Sayyad Khodai.
Informasi ini menunjukkan dukungan pemerintah AS atas kejahatan Israel, sebagaimana ditegaskan Juru Bicara Kemenlu Iran, Saeed Khatibzadeh, "Kejahatan tidak manusiawi ini dilakukan oleh elemen teroris yang berafiliasi dengan arogansi global, yang sayangnya, disertai dengan dukungan dan sikap diam negara-negara yang mengklaim memerangi terorisme," .
Selain itu, Menteri Perang Rezim Zionis, Benny Gantz melakukan perjalanan ke Amerika Serikat sebelum pembunuhan Syahid Khodai dan bertemu dengan pejabat keamanan dan intelijennya. Selama perjalanan ini, Gantz menyampaikan beberapa statemen mengenai Iran dan tampaknya telah memberitahu pihak berwenang AS tentang rencana pembunuhan Syahid Khodai, sebelum aksinya dijalankan.
Kini, muncul pertanyaan mengapa rezim Zionis membunuh Syahid Sayyad Khodai? Meskipun rezim Zionis membuat klaim bahwa Syahid Khodai berperan penting dalam mentransfer teknologi rudal canggih dan akurat ke Hizbullah, maupun posisi Syahid Khodaei sebagai pihak yang merencanakan operasi terhadap Israel. Tapi tampaknya ada faktor lain yang menjadi motif utamanya.
Selama beberapa hari terakhir berlangsung kunjungan penting tokoh dunia ke Tehran, terutama Enrique Mora, Kepala Perunding Uni Eropa, dan Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Emir Qatar, yang menunjukkan tanda-tanda upaya pemulihan pembicaraan Wina, yang dipandang oleh Israel tidak sejalan dengan kepentingannya. Oleh karena itu, Tel Aviv berupaya menggagalkan negosiasi tersebut.
Di sisi lain, Republik Islam Iran telah menegaskan masalah penghapusan nama Korps Garda Revolusi Islam dari daftar teroris AS sebagai syarat dalam perundingan JCPOA
The New York Times mengutip beberapa analis yang mengatakan bahwa langkah itu bertujuan untuk mencegah Amerika Serikat mencapai kesepakatan dengan Iran selama pembicaraan nuklir JCPOA di Wina dan menjegal upaya Iran untuk menghapus IRGC dari daftar teroris AS.
Di sisi lain, aksi teror terhadap Syahid Khodai tampaknya juga terkait dengan latihan militer rezim Zionis saat ini, termasuk melatih operasi teror terhadap target-targetnya, terutama Iran.
Perlawanan Warga Palestina Paksa Tentara Israel Lari dari Jenin
Pasukan Rezim Zionis Israel yang menyerbu Jenin, mendapat perlawanan sengit dari warga Palestina di kamp pengungsian itu, dan akhirnya terpaksa meninggalkan kota tersebut.
Situs berita Maan, Jumat (27/5/2022) melaporkan, pasukan Israel menyerang kota Jenin, namun mendapat perlawanan sengit dari warga Palestina.
Setelah terlibat kontak senjata, dan menjadi sasaran serangan tembakan warga Palestina, akhirnya tanpa berhasil meraih tujuannya, pasukan Israel melarikan diri dari Jenin.
Sumber media lokal mengabarkan, puluhan kendaraan lapis baja Rezim Zionis Israel yang membawa pasukan, memasuki kota Jenin. Kontak senjata terjadi antara pasukan Israel, dan penduduk kota Jenin, dan para pemuda kota ini bangkit melawan serangan pasukan Rezim Zionis.
Baru-baru ini, Jenin berubah menjadi pusat perlawanan terhadap Rezim Zionis Israel di Tepi Barat, dan Israel mengumumkan kemungkinan operasi militer luas di kota itu.
Al Jazeera Bawa Kasus Teror Abu Akleh ke Mahkamah Pidana Internasional
Stasiun televisi Al Jazeera, Qatar akan membawa kasus teror jurnalisnya di Palestina, Shereean Abu Akleh, yang dilakukan Rezim Zionis Israel, ke Mahkamah Pidana Internasional, ICC.
TV Al Jazeera, Jumat (27/5/2022) mengumumkan, kasus teror Shereen Abu Akleh, wartawan stasiun televisi ini akan dilimpahkan ke Mahkamah Pidana Internasional, dan sebuah kampanye hukum sudah dibentuk di beberapa organisasi hukum internasional untuk mengusut kejahatan ini.
Al Jazeera menambahkan, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum, seluruh pelaku dan mereka yang terlibat dalam teror Abu Akleh akan diseret ke pengadilan internasional.
Menurut stasiun televisi Qatar ini, pelimpahan kasus ke Mahkamah Pidana Internasional ini meliputi kejahatan Israel yang dilakukan dengan mengebom kantor Al Jazeera di Gaza, pada Mei 2021, dan teror Abu Akleh.




























