کمالوندی
Mengenal Kepribadian Mulia Sayidah Khadijah
Hari kesepuluh Ramadhan bertepatan dengan peringatan wafatnya seorang wanita terbaik yang berperan penting mendampingi Rasulullah Saw dalam perjuangannya menyampaikan risalah Ilahi.
Kepergian beliau tepat di tahun yang sama dengan meninggalnya paman Rasulullah Saw, Abu Thalib yang terjadi tiga tahun sebelum Hijrah dari Mekah ke Madinah. Kehilangan dua orang yang sangat dicintai itu, membuat Rasulullah Saw tenggelam dalam duka yang sangat berat. Oleh karena itu, tahun itu dikenal dengan nama Aamul Huzn atau Tahun Kesedihan.
Sayidah Khadijah dipanggil dengan nama Thahirah yang berarti suci. Kepribadian sucinya dan kedermawanannya membuat beliau dihormati masyarakat umum dan para tokoh di zamannya, sehingga dipanggil Sayidah an-Niswan yang berarti junjungan para wanita.
Ahli hadis al-Qommi menulis, "Sayidah Khadijah as memiliki posisi yang tinggi di sisi Allah, sehingga sebelum kelahirannya ada pesan kepada Isa al-Masih dari sisi Allah bahwa beliau disebut "Mubarakah" dan bersama Sayidah Maryam di surga. Karena dalam Injil ketika menggambarkan ciri khas disebutkan, keturunannya berasal dari seorang wanita agung "Mubarakah".
Pada hari pertama setelah Muhammad diutus sebagai Rasulullah dan sedang turun dari goa Hira, Sayidah Khadijah langsung menyambutnya dan menjadi wanita pertama yang memenuhi seruan risalah Nabi Muhammad Saw dan memeluk agama Islam. Ketika Rasulullah Saw menyampaikan Islam kepada istri tercinta beliau, Sayyidah Khadijah berkata: “Aku beriman, aku meyakini kenabianmu, aku menerima agama Islam dan aku berserah diri.” (Bihar al-Anwar jilid 18). Sejak awal, Sayyidah Khadijah mampu mengenali kebenaran, menerimanya dengan sepenuh hati serta menyuarakannya dengan lantang.
Ketika Rasulullah dituduh pendusta oleh kaum musyrik dan munafik serta menerima penghinaan dari mereka, Allah Swt meringankan kesedihan dan kekhawatiran utusan-Nya itu melalui Khadijah. Keimanan dan dukungan sang istri membuat Rasulullah Saw optimis dengan masa depan dakwahnya.
Doktor Bint al-Shati' berkata, "Apakah ada istri lain selain Khadijah dengan kapasitas seperti ini; menerima seruan suaminya ketika keluar dari Gua Hira' dengan iman yang kuat, lapang dada, kelembutan, dan kasih sayang, tanpa sedikit pun meragukan kejujurannya dan yakin Tuhan tidak akan meninggalkannya sendirian. Apakah ada wanita lain selain Khadijah yang mampu dengan penuh keikhlasan menutup mata dari kehidupan mewah, harta yang berlimpah, dan kemapaman, untuk mendampingi suaminya dalam kondisi kehidupan yang paling sulit dan membantunya dalam berbagai tantangan demi merealisasikan tujuan yang ia yakini kebenarannya. Tentu saja tidak! Hanya Sayidah Khadijah yang demikian."
Sayidah Khadijah as, adalah wanita bijaksana yang lahir di kota Mekkah, 68 tahun sebelum Hijrah. Dari sisi nasab, kehormatan, status sosial dan keluarga, beliau memiliki posisi yang istimewa di antara kaum perempuan Jazirah Arab dan Quraish. Dari sisi kesempurnaan, kepribadian dan kebijaksanaan, Sayyidah Khadijah as adalah yang paling utama di antara semua wanita di masa itu. Sejak usia belia, beliau adalah salah satu wanita tersohor di Hijaz dan Arab. Karena beliau adalah wanita pedagang pertama dan merupakan salah satu saudagar terkemuka di Hijaz.
Di samping berdagang, beliau juga sangat meningkatkan kepribadian dan nilai-nilai kemanusiaan dalam dirinya. Sayyidah Khadijah as, tidak mengejar keuntungan membabi-buta. Oleh karena itu, dalam berdagang beliau berusaha menjauhkan diri dari keuntungan tidak benar yang marak di masa itu seperti riba dan lain sebagainya.
Hal ini menjadi faktor pemikat kepercayaan dari banyak kelompok dan lapisan masyarakat serta meningkatkan keberhasilan dan keuntungan yang diperoleh Sayyidah Khadijah as, melalui perdagangan yang halal. Dalam sejarah disebutkan, “Ribuan onta berada di tangan pembantu dan pekerja Khadijah yang melintasi berbagai negeri seperti Mesir, Sham dan Habasyah untuk berdagang dan mengangkut barang dagangan.”
Selain dikenal sebagai seorang pengusaha besar dan sukses, Sayidah Khadijah juga dikenal sebagai sosok spiritual, lembut, suci, dermawan, serta memiliki pemikiran tinggi dan pandangan jauh ke depan. Bahkan di era Jahiliyah, di mana kesucian tidak berarti sama sekali, Sayidah Khadijah juga dikenal dengan nama Thahirah, karena kesuciannya.
Berbagai keutamaan tersebut disandingkan dengan status keluarga dan kekayaannya yang melimpah, membuat banyak pembesar Mekkah yang melamar beliau. Namun, Sayidah Khadijah as adalah wanita dengan pandangan dan kesadaran yang tinggi, hanya mencari keutamaan akhlak dan spiritual. Oleh karena itu, beliau menolak semua lamaran tersebut.
Akan tetapi ketika beliau mengenal seorang sosok terkenal menjaga amanat dan berhati bersih seperti Muhammad, Sayidah Khadijah sendiri yang melangkah maju dan mengajukan permintaan pernikahan. Dalam pertemuannya dengan Nabi Muhammad Saw, Sayidah Khadijah berkata, “Wahai Muhammad! Aku mendapati dirimu sebagai sosok mulia, penjaga amanat dan seorang manusia di puncak kemurnian, kejujuran, kesucian dan kebenaran, di mana kau menjaga dirimu tetap suci dan tidak ada sedikit pun noda di pangkuanmu. Kau berakhlak baik, terpercaya dan jujur, kau tidak takut untuk berkata jujur dan kau tidak melepaskan nilai-nilai kemanusiaanmu di hadapan apapun. Karakter dan kepribadian muliamu ini telah sedemikian mempesonaku sehingga sekarang aku ingin mengemukakan permintaan pernikahan dan juga perkenalan denganmu. Jika kau menyetujui permintaanku, aku siap untuk melaksanakan acara pernikahan kapan pun waktu yang tepat.”
Selama hidup bersama Nabi Muhammad Saw, Sayidah Khadijah telah memberikan pengorbanan besar kepada beliau dan Islam. Dukungan finansial, mental dan emosional kepada Rasulullah Saw, keyakinan dan pembenaran atas kenabian beliau di saat orang-orang mendustakannya, serta pertolongan beliau kepada Nabi Saw dalam menghadapi orang-orang musrik adalah bagian dari pengorbanan besar beliau kepada Rasulullah Saw dan Islam.
Ketika Nabi Muhammad Saw menjalankan tugas beliau sebagai utusan Allah Saw untuk memberikan hidayah kepada umat manusia, orang-orang musyrik mengganggu dan memusuhi beliau. Di saat-saat seperti itu, istri yang mengerti dan penuh kasih sayang seperti Khadijah adalah penenang hati terbaik yang meredakan kesusahan tersebut.
Ibnu Ishaq, seorang sejarawan terkenal menulis, "Nabi tidak mendengar perkataan kaum yang menolak dan mendustakan, di mana menyebabkan kesedihan dan mengganggu pemikirannya, kecuali Allah Swt telah menghilangkan kesedihan itu melalui Khadijah. Khadijah telah meringankan dampak berat dari ucapan-ucapan kasar yang dilontarkan kepada Rasulullah Saw dan membenarkan beliau. Beliau juga menganggap tidak bernilai terhadap perilaku dan kelancangan orang-orang kepada Rasulullah Saw.
Hari kesepuluh dari bulan Ramadhan adalah hari terakhir bagi seorang perempuan yang selama bertahun-tahun senantiasa mengiringi langkah utusan terakhir Allah Swtitu. Nabi Muhammad Saw di hari semacam ini harus merelakan istri tercintanya untuk kembali kepada Yang Maha Kuasa. Sebuah peristiwa yang menyayat jiwa beliau setelah beberapa waktu sebelumnya harus kehilangan pamannya Abu Thalib.
Wafatnya Sayidah Khadijah begitu mempengaruhi beliau, sehingga tahun itu disebut sebagai "tahun kesedihan" (Am al-Huzn). Ketika Sayidah Khadijah as wafat, Nabi Muhammad Saw menangis. Nabi mengusap air matanya yang bercucuran dengan kedua tangannya ketika memakamkan isteri tercintanya itu. Pada waktu itu beliau berkata, "Tidak ada yang dapat menyamai Khadijah. Ketika semua mendustakanku, ia membenarkanku. Ia menjadi penolongku dalam mendakwahkan agama Allah Swt dan dengan hartanya, ia membantuku."
Salam untukmu Sayidah Khadijah, ibu seluruh kebaikan !
Salam atasmu wahai perempuan dermawan yang mengajarkan derma dan kebaikan tanpa pamrih !
Salam untumu wahai wanita agung yang mengorbankan seluruh dijawa dan raganya untuk tegaknya agama Islam ! (
Hamas: Kami Akan Melawan Penuh Segala Aneksasi Tepi Barat
Hisam Badran, anggota biro politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina Hamas, mengatakan gerakan itu tidak akan berdiam diri dari segala bentuk pendudukan, dan akan mengoptimalkan perlawanan untuk mencegah aneksasi Tepi Barat kepada Israel.
Menurut situs web Quds Press, ketika mengumumkan bahwa Tepi Barat dalam bahaya nyata, ia menambahkan: “Tidak ada waktu atau bahkan apa pun untuk dinegosiasikan, saatnya telah tiba untuk mewujudkan persatuan nasional berdasarkan pada program perjuangan yang disepakati oleh segenap elemen Palestina.”
Badran melanjutkan bahwa AS untuk mewujudkan aneksasi Tepi Barat, mereka memulai untuk bernegosiasi dengan Palestina, dan menyamakan aksi AS ini dengan sirkus di mana Amerika Serikat telah menunjukkan wajah aslinya dengan koordinasi penuh pada kabinet rezim Zionis.
Dia melanjutkan pembahasan mengenai tahanan Palestina yang ada di penjara Israel, dengan mengatakan bahwa semua opsi Hamas untuk membebaskan tahanan sudah ada di atas meja, dan gerakannya siap untuk melakukan pengorbanan untuk tujuan itu.
Mengenai perjanjian pertukaran tahanan, Badran mengatakan bahwa Hamas berusaha untuk mencapai aksi nyata jauh dari ekspos pemberitaan di media, dan bahwa apa yang kurang diberitakan di media mengenai hal ini maka akan lebih menghasilkan hasil yang optimal.
Anggota terkemuka Hamas kemudian menekankan penolakan penuh terhadap normalisasi hubungan dengan rezim Zionis, menyebutnya sebagai belati yang akan menusuk di belakang rakyat Palestina.
Pekan lalu, Abu Ahmad Fouad, wakil sekretaris jenderal Front Rakyat, menekankan perlunya tindakan bersenjata lanjutan di wilayah Palestina, khususnya di Tepi Barat.
Dia mengatakan kepada situs web Palestina Al-Rasalah: “Tidak mungkin untuk menghentikan perjuangan bersenjata di Tepi Barat … aksi bersenjata adalah hak warga dari negara yang terjajah dan tertindas.
Kementerian luar negeri Otoritas Palestina juga telah mengumumkan dan menghubungi pihak-pihak internasional untuk mencegah aneksasi teritorial Tepi Barat lebih lanjut.
Deklarasi Perang vs Hizbullah dalam Wayang Demo
Tripoli, kota besar di utara Lebanon minggu ini menjadi saksi demo krisis moneter dan ekonomi. Namun sedikit melenceng pasca kerusuhan marak. Puluhan pasukan keamanan Beirut terluka demi memadamkan api.
Al Akhbar dalam hal ini melaporkan, “Antara penunggang dan pendemo, yang hanya meminta sekepal roti, ada lampu hijau untuk menyerang Hizbullah. Nama rumus sangatlah jelas, namun game sama bahaya dengan instabilitas global satu negara.”
Mungkin termasuk negative thinking ketika berkata kepulangan Saad Hariri, mantan PM Lebanon minggu lalu dari kunjungan ke Paris, adalah satu pengumuman atas kesiapan perang dengan pemerintah sekarang. Tetapi harus dilihat bahwa kepulangan ini dilakukan ketika Corona mengamuk dan krisis ekonomi menyemarak, hal di luar kebiasaan Hariri.
“Adalah hak rakyat untuk protes dan kritik pemerintah, akan tetapi kembalinya instabilitas dalam negeri Lebanon, pasca 3 bulan redam karena pandemi COVID-19, beserta dukungan media Arab adalah satu pertanda bahwa insiden ini adalah deklarasi perang antara pro dan kontra pemerintah… (Mungkin) tema aslinya adalah perang versus Hizbullah,” lanjut Al Akhbar menganalisa.
Untuk membangun analisanya tersebut, Al Akhbar mengajukan beberapa alasan:
Pertama: Benar bahwa pemerintah Amerika berkecamuk dengan Corona dan krisis ekonomi. Ini adalah fokus utamanya. Akan tetapi tim keamanan dan diplomatis Washington tidak melupakan file-file kepentingannya. Lebanon masih diintai sebagai salah satu rantai bersambung Timur Tengah.
Skenario Amerika melawan Hizbullah, termasuk Lebanon, belum berubah. Begitu pula metode AS di hadapan Lebanon di tengah krisis ekonomi dan krisis politik, seperti blokade Hizbullah, juga belum berubah. Takkan pernah berhenti sebelum Hizbullah menyerah atau hancur. Ini adalah deklarasi tahun 90-an yang masih terngiang.
Skenario Amerika dalam situasi Lebanon ini menekankan bahwa kunci pintu keluar tidak akan pernah diserahkan ke pihak Lebanon, kecuali hanya sebatas kesepakatan dengan Amerika atau masih dalam kerangka perwayangan Gedung Putih.
Kedua: Tak perlu diragukan lagi bahwa nama Hizbullah semakin harum sedari tanggal 17 Oktober hingga krisis sekarang. Ini tak luput dari perannya memimpin ekspedisi jalan terobosan krisis. Bahkan nama itu lebih berat dari hitung-hitungan yang telah diprediksi.
Hizbullah adalah salah satu pendukung kembalinya Saad Hariri ke kursi Perdana Menteri, baik sebelum dan sesudah pengunduran diri.
Hizbullah sadar bahwa ada angin topan yang akan segera melanda sehingga Mukawamah Lebanon tersebut lebih memilih untuk berhadapan dengan poros sebelumnya yang telah terlibat, dari pada harus bertahan sendirian mengucurkan keringat menjaga pemerintah dari keruntuhan ekonomi dan kehidupan sosial.
Hizbullah mengamini peran semua pihak di pemerintahan dan tidak melayangkan veto dalam hal ini, karena Hizbullah tahu benar apa makna dari kesendirian (berjuang sendiri) dan sadar atas skenario yang telah di bangun di Kawasan maupun internasional.
Tapi meskipun Saad Hariri pergi dari Lebanon dan berlangsung gencatan senjata oposisi Hizbullah dan pemerintah, represi belum juga terkurangi. Tekanan terus mengalir di dalam negeri Lebanon. Hal ini dikarenakan, koalisi al-Ahd dan partai al-Tayyar al-Watani al Hur belum melepas jerat Hizbullah.
Gebran Bassil, Ketua partai al-Tayyar al-Watani al-Hur, tidak menganalisa penuh periode sebelum keruntuhan pemerintahan Saad Hariri atau belum mengkritisi setengah periode kepemimpinan Michel Aoun. Gebran Bassil berjalan alami dan hanya menunjuk ini dan itu sebagai penanggung jawab. Yaitu Gebran Bassil bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, tidak ada Corona, tidak ada krisis ekonomi dan lainnya.
“Dan sekarang, partai ini kebingungan menghadapi situasi dan itu sangat jelas terlihat dalam kebijakan politiknya,” demikian Al Akhbar menganalisa.
Ketiga: Kerusuhan Tripoli, kota terbesar kedua Lebanon yang terletak di utara Beirut, dan tempat-tempat lainnya tidak bisa disebut sebagai aksi partai oposisi Hizbullah, meskipun para penunggang menggunakan metode bermacam-macam dalam manipulasi kelaparan dan kemiskinan warga.
Demo ini adalah murni buah dari gerakan rakyat. Tetapi yang perlu diperhatikan, para banker, politikus dan militer tahu bahwa ketika larangan diangkat, warga akan menggeruduk bank dan apapun yang menjadi duri dalam kehidupan mereka.
“Pembahasan ini sudah bergulir terus di meja-meja perundingan politik dan perbankan”, hemat Al Akhbar.
Lampu hijau yang dihidupkan saat ini berbeda dengan yang kemaren, yaitu lampu hijau yang diberikan kepada partai dan poros politik.
Partai, yang menggulingkan pemerintahan Saad Hariri kemaren, satu meja dengan Hizbullah. Hal lainnya adalah, sekarang Timur Tengah dan internasional ikut terjun melawan Hizbullah. Unsur-unsur konfrontasi ini masih belum tampak jelas, karena keruntuhan rakyat tidak akan terbatas pada kelaparan, kemiskinan dan pengabaian senjata.
Hal yang membahayakan adalah turunnya militer ke jalan. Kesalahan-kesalahan militeris, keamanan dan media di al-Jabal, Tripoli, Beirut dan al-Beqaa, setelah berbulan-bulan latihan, adalah hal yang sangat memalukan. Jadi, militer termasuk dalam skenario untuk meledakkan stabilitas Lebanon.
Berkaitan dengan ini, beberapa sumber di Lebanon mengatakan bahwa Dorothy Shea, Duta AS di Beirut, pergi menemui Hassan Diab, PM Lebanon. Utusan AS menyerahkan sebuah surat dan mengungkapkan kekhawatirannya melihat demo rusuh. Di sela-sela pengajuan tawarannya (intervensi), Duta AS juga menyayangkan keterlibatan militer dalam penanganan demo.
Demonstran Bersenjata Menyerbu Gedung Kongres AS di Michigan
Ratusan pengunjuk rasa, beberapa dari mereka bersenjata, memprotes di depan gedung kongres negara bagian di Michigan untuk memprotes aturan perpanjangan karantina.
Menurut Guardian, sementara anggota parlemen Michigan sedang mempertimbangkan permintaan gubernur untuk memperpanjang undang-undang karantina, pengunjuk rasa mencoba untuk memasuki gedung legislatif.
Para pengunjuk rasa, yang memiliki beberapa senapan mesin di tangan mereka, berhasil memasuki lobi kompleks, tetapi ditentang oleh polisi dan staf dan dipaksa untuk meninggalkan gedung.
Para pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan menentang pemerintah setempat, menyamakan Gubernur Michigan Gretchen Whitmer dengan Hilter.
“Tepat di atas kepala saya, orang-orang dengan senapan mesin meneriaki di depan kami,” kata Diana Poulanki yang menulis di akun Twitter-nya, dia adalah seorang senator Negara Bagian Michigan yang hadir pada saat itu di gedung kongres negara bagian tersebut.
Sebelumnya, para pendukung Presiden Donald Trump melakukan protes di berbagai kota terhadap perpanjangan undang-undang karantina.
Hari Kamis, Trump telah mengatakan pemerintah federal tidak akan memperbarui undang-undang karantina dan menyerahkannya kepada gubernur negara bagian.
Al-Hashd Al-Shaabi Menghadang dan Mengusir ISIS yang Menyusup ke Gurun Karbala
Brigadir Jenderal Haidar al-Musawi, komandan Brigade Al-Hashd al-Shaabi ke-26, mengatakan bahwa pasukan mereka semalam berhasil mencegah kelompok ISIS menyusup ke gurun Al-Nakhib dan memaksa mereka melarikan diri.
Al-Musawi mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Al-Ma’lumah bahwa gerakan teroris dipantau oleh kamera termal, dan setelahpasukan Al-Hashd al-Shaabi ikut serta dalam pemantauan ini, segera bergerak untuk memaksa mereka melarikan diri ke padang pasir ke daerah barat.
Di sisi lain, komando Operasi Samarra Al-Hashd al-Shaabi hari ini (Minggu, 3 Mei) memperingatkan upaya ISIS untuk mencapai tempat-tempat suci di daerah tersebut dan meminta pasukannya untuk mempertahankan tempat makam suci di Samarra.”
Sebuah pernyataan dari komandan Al-Hashd Al-Shaabi mengatakan: “Abu Hassan al-Halafi, komandan Komando Operasi Samarra, mengadakan dua pertemuan terpisah dengan komandan Brigade ke-313 dan 314 dan para pejabat yang bertugas menyelidiki perkembangan terakhir.”
Dalam beberapa hari terakhir, sel-sel ISIS yang didukung AS telah melakukan beberapa serangan teroris di provinsi Salahudin, Dhi Qar dan Diyala, yang mengakibatkan syahid dan cedera sejumlah anggota al-Hashd al-Shaabi dan pasukan keamanan.
OKI Menyambut Keputusan Jaksa ICC soal Warga Palestina
Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), menyambut laporan Jaksa Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC) Fatou Bensouda, mengenai hak warga Palestina untuk menuntut Israel di pengadilan.
Dilansir kantor berita ISNA, Ahad (3/5/2020), OKI mendukung laporan Bensouda tentang hak warga Palestina untuk mengajukan tuntutan hukum terhadap rezim Zionis di ICC dan menuntut keadilan berdasarkan hukum internasional.
OKI menekankan pentingnya langkah itu karena perannya dalam melindungi hak-hak rakyat Palestina serta memperkuat kredibilitas sistem peradilan internasional dan hak asasi manusia.
Menurut organisasi itu, langkah tersebut juga berperan dalam mengakhiri kejahatan rezim Zionis terhadap rakyat Palestina.
Setiap upaya untuk membawa kasus kejahatan rezim Zionis ke ICC selalu mengundang kemarahan para pejabat Israel dan Amerika Serikat.
Hamas: Arab Menikam Palestina dari Belakang
Juru bicara Hamas, Hazem Qasem mengatakan normalisasi hubungan beberapa negara Arab dengan rezim penjajah Israel merupakan kejahatan dan mereka menikam bangsa Palestina dari belakang.
"Hamas mendukung semua proposal yang bertujuan menciptakan persatuan di antara Palestina dan menggagalkan rencana-rencana rezim penjajah," ujarnya seperti dikutip kantor berita IRIB, Ahad (3/5/2020).
Sementara itu, anggota Biro Politik Hamas, Husam Badran mengatakan prioritas Hamas dan semua warga Palestina adalah melawan rencana Zionis untuk mencaplok sejumlah daerah di Tepi Barat.
"Hamas mengikuti dari dekat setiap ide dan langkah-langkah dari beberapa pihak di Palestina serta menyambut segala hal yang akan memperkuat kepentingan rakyat Palestina dan perlawanan mereka," tegasnya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa ia akan mencaplok sejumlah daerah di Tepi Barat untuk digabungkan dengan wilayah pendudukan pada Juli 2020.
Peran AS dalam Gelombang Baru Kebangkitan Daesh di Irak
Milisi teroris Daesh menyerang pasukan Al-Hashd Al-Shaabi dan sejumlah fasilitas publik di Irak yang menandai gelombang baru kebangkitan kelompok teroris tersebut di negara Arab ini.
Serangan yang dilancarkan milisi teroris terhadap pasukan Al-Hashd Al-Shaabi Sabtu dini hari di wilayah selatan Tikrit dan utara Samarra di provinsi Salahuddin menewaskan 10 anggota pasukan relawan rakyat Irak, dan melukai empat lainnya.
Milisi teroris Daesh terus melanjutkan aksinya dengan menyerang pos keamanan polisi di timur laut Diyala yang menyebabkan 13 orang petugas keamanan Irak tewas dan terluka.
Tidak hanya itu, Daesh juga melancarkan serangan terhadap fasilitas publik Irak seperti menara listrik. Hatem al-Tamimi, Wakil Gubernur al-Maqdadiyah di provinsi Diyala hari Jumat (1/5/2020) mengatakan kelompok teroris Daesh meledakkan dan menghancurkan tower transmisi listrik di sekitar daerah al-Maqdadiyah, Jawad al-Bashu dan Wadi Salab di provinsi Diyala.
Eskalasi serangan yang dilancarkan Daesh di Irak menunjukkan gelombang baru kebangkitan kelompok teroris ini berkaitan dengan tiga faktor penting.
Pertama, milisi teroris Daesh menargetkan desa-desa terlantar yang ditinggalkan penghuninya di perbatasan antara Diyala dan Salahuddin untuk melancarkan operasi barunya. Di satu sisi, desa-desa ini tidak berpenghuni, dan di sisi lain, pasukan keamanan Irak kurang memperhatikan desa-desa tersebut, sehingga Daesh dengan mudah menguasainya. Oleh karena itu, komandan mobilisasi pasukan suku Irak mengumumkan bahwa desa-desa tersebut harus dibersihkan dari keberadaan milisi teroris Daesh.
Kedua, gelombang baru serangan Daesh di Irak meningkat ketika rakyat negara ini mendesak penarikan pasukan AS. Parlemen Irak mengesahkan undang-undang penarikan pasukan AS pada 5 Januari 2020, yang terjadi tepat dua hari setelah militer AS melancarkan serangan pengecut terhadap Syahid Solaemani dan Abu Mahdi Al Muhandis bersama sejumlah pejuang lainnya.
Selama beberapa bulan terakhir, rakyat dan berbagai kelompok di Irak menyuarakan penarikan pasukan AS dan mengimplementasikan keputusan parlemen negaranya.
Berbagai kalangan di Irak meyakini gelombang baru kebangkitan Daesh di Irak dikoordinasikan oleh Amerika Serikat. Washington berupaya mengirim pesan kepada rakyat, militer dan pemerintah Irak bahwa serangan kelompok teroris akan meningkat, jika pasukan AS ditarik dari negara Arab ini.
Ali Al Husseini, Komandan Al-Hashd al-Shaabi Irak baru-baru ini mengatakan gelombang serangan terbaru Daesh didukung AS demi membalas rencana pengusiran pasukannya dari negara ini.
Fakta di lapangan menunjukkan penemuan senjata dan amunisi buatan AS di markas kelompok teroris Daesh yang berhasil dibersihkan oleh pasukan Irak dan Al Hashd Al-Shaabi.
Ketiga, gelombang baru kebangkitan Daesh di Irak secara langsung berkaitan dengan situasi politik yang rapuh di negara Arab ini. Hingga kini kabinet yang dipimpin oleh Perdana Menteri Mustafa al-Kazemi belum terbentuk. Kekosongan politik menjadi peluang terbaik bagi kelompok teroris Daesh untuk tumbuh dan berkembang.
Pada saat yang sama, pemerintah Irak juga disibukkan dengan pandemi global virus corona yang menjalar di negara ini. Lebih dari semua itu, AS menjadi pihak yang sedang mengail ikan di air keruh atas terjadinya gelombang baru kebangkitan Daesh di Irak yang didukung langsung Washington.(PH)
Ayatullah Khamenei akan Berpidato pada Peringatan Hari Quds Sedunia
Ketua Badan Urusan Quds dan Intifadah di Dewan Koordinasi Dakwah Islam Iran, mengatakan Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah Sayid Ali Khamenei akan menyampaikan pidato pada peringatan Hari Quds Sedunia tahun ini.
Bapak Pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini ra menetapkan hari Jumat terakhir setiap bulan Ramadhan sebagai Hari Quds Sedunia.
Peringatan Hari Quds tahun ini akan jatuh pada 22 Mei 2020 bertepatan dengan 28 Ramadhan 1441 H.
Ketua Badan Urusan Quds dan Intifadah, Brigadir Jenderal Ramazan Sharif dalam konferensi pers di Tehran, Ahad (3/5/2020), menuturkan Ayatullah Sayid Ali Khamenei akan menyampaikan pidato mengenai Quds.
Di Iran, pawai Hari Quds Sedunia akan dilaksanakan sesuai dengan perkembangan penanganan wabah virus Corona. Aksi turun ke jalan-jalan kemungkinan besar tidak akan dilakukan di kota Tehran.
"Peringatan Hari Quds bisa dilakukan lewat cara-cara lain di tingkat nasional dan internasional, dan untuk tujuan ini, kita bisa memanfaatkan dunia maya dengan baik," ujar Brigjen Sharif.
Iran Kecam Kejahatan Daesh terhadap Hashd al-Shaabi
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Sayid Abbas Mousavi mengecam keras serangan teroris Daesh terhadap pasukan Hashd al-Shaabi di bulan suci Ramadhan.
Dalam sebuah pernyataan hari Ahad (3/5/2020), Mousavi menyampaikan belasungkawa dan rasa simpati kepada pemerintah dan bangsa Irak atas gugurnya sejumlah anggota pasukan Hashd al-Shaabi.
"Republik Islam Iran mendukung upaya Irak untuk memerangi terorisme serta menciptakan perdamaian dan stabilitas. Iran mengecam tindakan apapun yang bertujuan mengganggu stabilitas dan ketenangan di Irak," tegasnya.
Mousavi menyatakan harapan bahwa pemerintah dan rakyat Irak dengan persatuan dan kerja keras, akan menyingkirkan sisa-sisa teroris Daesh yang diciptakan dan didukung oleh beberapa negara.
Setidaknya 10 anggota pasukan Hashd al-Shaabi Irak, gugur syahid dan empat lainnya terluka dalam serangan yang dilakukan oleh Daesh di Provinsi Salahuddin pada Sabtu malam.
Daesh telah meningkatkan serangannya di Irak di tengah desakan pemerintah Baghdad kepada Washington agar menarik pasukannya dari negara itu.




























