کمالوندی
Berusahalah Semaksimal Mungkin, Allah SWT tidak akan pernah Menyia-nyiakan Usaha Anda!
Suatu hari Nabi Sulaiman (as) melihat semut di kaki gunung yang sibuk memindahkan tanah dasar gunung. Dia bertanya, “Mengapa kamu menanggung semua ini dengan susah payah?” Semut itu berkata: “Kekasihku mengatakan kepadaku jika aku berusaha memindahkan gunung ini, maka aku dapat bertemu dengan Anda dan aku sangat menginginkan hal itu walau harus memindahkan gunung ini.” Nabi Sulaiman berkata: “Kamu tidak akan dapat melakukan hal ini, bahkan jika kamu memiliki umur seperti nabi Nuh (as). “Si semut menjawab: “Aku akan terus berusaha semampuku,” Akhirnya Nabi Sulaiman (as) yang sangat menyukai kegigihan dan ketekunan semut tersebut, memindahkan gunung untuknya. Semut menghadap ke langit dan berkata: “Aku bersyukur kepada Allah SWT, bahwa di jalan cinta, telah mengutus Nabi untuk melayani semut …”
Mari kita berusaha sekuat tenaga, karena pasti selalu ada penolong disisi kita.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
اُدعُوا اللهَ وَ اَنتم مُوقِنونَ بِالاِجابَهِ وَاعلَموا اَنَّ اللهَ لا یَستَجِیبُ دُعاءَ مِن قَلبِ غافِلٍ لاه؛
Berdo’alah kepada Tuhan dan percayalah pada doa-doa Anda dan ketahuilah bahwa Tuhan tidak menerima doa dari hati yang lalai dan tidak sadar.
Janganlah Bersedih, Tuhan Memiliki Semua yang Kita Butuhkan
Alkisah, di sebuah desa terjadi musibah paceklik dan kelaparan, semua penduduk pun dirundung kesedihan.
Pada suatu hari seorang arif sedang melewati gang di desa tersbut dan melihat seorang budak yang sangat bahagia dan ceria. Dia pun bertanya kepadanya bagaimana budak tersebut masih bisa tertawa dan bersukacita dalam situasi seperti itu?
Dia menjawab bahwa dia adalah seorang budak dari seorang tuan yang memiliki beberapa peternakan, dan selama dia bekerja untuknya, dia yang memberinya penghidupan, jadi mengapa dia harus bersedih ketika dia sudah mempercayainya?
Arif tersebut pun berkata: “Saya merasa malu pada diri saya sendiri melihat seorang budak yang menyandarkan penghidupannya kepada tuan yang memiliki beberapa kambing tapi dia tidak bersedih, sedangkan saya yang mempunyai Tuhan penguasa seluruh alam masih merasa khawatir akan penghidupan saya.”
Kisah Penuh Hikmah di balik Bacaan Basmallah
Alkisah seorang suami munafik memiliki seorang istri mukmin yang dalam semua urusannya selalu memohon pertolongan dengan nama Allah SWT, dan di setiap pekerjaannya selalu membaca”Bismillahirrohmanirrohim”. Suaminya sangat marah dan tidak senang terhadap keyakinan dan tawasul istrinya tersebut, dan dia tidak punya cara untuk menghentikannya, sehingga suatu hari dia memberikan kepada istrinya kantong kecil berisi emas dan dia berkata lihatlah kantong itu!
Istrinya pun mengambil kantong itu seraya membaca basmallah, membungkusnya dengan kain dengan membaca basmallah, mengikatnya dengan membaca basmallah, dan akhirnya menyimpannya pada suatu tempat dengan membacanya lagi. Keesokan harinya, suaminya mencuri kantong kecil itu dan melemparkannya ke laut untuk membuatnya malu dan melepaskan keyakinannya. setelah melempar tas ke laut, dia kembali ke toko tempat dia bekerja. Di pertenghan hari seorang nelayan membawa dua ikan dan menjual kepadanya. Suami tersebut membeli dua ikan itu dan membawa ke rumahnya untuk di masak istrinya.
Saat istrinya merobek perut salah satu ikan itu, dia melihat sebuah kantong di perutnya! Dengan membaca basmallah dia mengambilnya dan meletakkannya di tempat semula. Menjelang malam suaminya datang ke rumah dan istri menyajikan ikan panggang untuk suaminya dan memakannya. Tiba-tiba sang suami berkata: “Ambilkan kantong yang telah saya amanatkan kepadamu!” Sang istri pun bangun dari tempat duduknya dengan membaca basmallah dan meletakkan kantong itu disamping suaminya. Suaminya sangat terkejut saat melihat kantong itu kemudian bersujud dan akhirnya menjadi seorang mukmin sejati.
Kisah Pria Pencari Jalan Kebenaran
Alkisah, hiduplah seorang pria terhormat yang selama delapan tahun dia sangat ingin menemukan jalan Tuhan. Setiap hari dia selalu mengasingkan diri dengan yang lainnya dan berdoa dengan harapan suatu hari nanti bisa bertemu dengan salah satu waliyullah atau orang yang bisa membimbingnya.
Suatu hari, saat dia berdoa, sebuah suara menyuruhnya pergi untuk menemui seorang pria yang akan menunjukkan jalan menuju Tuhan.
Ketika dia mendengar suara ini, pria itu sangat senang dan pergi ke tempat di mana dia diberitahu. Di sana dia terkejut melihat seorang pria sederhana, rendah hati dan miskin dengan pakaian kotor dan kaki kotor.
Pria itu melihat sekelilingnya dengan saksama, tapi dia tidak melihat orang lain. Jadi dia berpaling dari orang miskin itu dan berkata: “Semoga harimu bahagia.”
Pria malang itu menjawab dengan perlahan: “Saya tidak pernah memiliki hari yang buruk!”
Kemudian pria itu berkata, “Semoga Tuhan memberkatimu!”
Orang miskin itu menjawab: “Saya tidak pernah menderita!”
Pria itu dengan keheranan berkata: “Semoga selalu bahagia …”
Orang malang itu menjawab: “Saya tidak pernah sedih!”
Pria terhormat itu berkata: “Saya tidak mengerti, tolong jelaskan lebih banyak!”
Orang miskin itu berkata: “Dengan senang hati saya akan melakukannya.
Anda mengharap hari yang baik untuk saya, sementara saya tidak pernah memiliki hari buruk, karena saya memuji Tuhan dalam segala keadaan. Baik hujan atau salju, jika cuaca baik atau buruk, saya tetap menyembah Tuhan. Jika saya direndahkan dan tidak ada manusia yang menjadi teman saya, saya akan memuji Tuhan dan saya akan memohon pertolongan darinya, jadi saya tidak pernah memiliki hari yang buruk.
Anda mengharapkan kebahagiaan untuk saya, sementara saya tidak pernah menderita karena saya selalu berpegang teguh kepada Tuhan, dan saya tahu bahwa kapan pun Tuhan mengirimkan sesuatu kepada saya, itu adalah yang terbaik dan saya dengan senang hati akan menerima apapun yang terjadi kepada saya. Kesehatan atau penyakit, kebahagiaan atau permusuhan, kebahagiaan atau kesedihan adalah semua pemberian dari Tuhan.”
Anda menginginkan saya bahagia, sementara saya tidak pernah sedih, karena keinginan terdalam hati saya adalah hidup sesuai dengan kehendak dan keinginan Tuhan.”
Ibadah Kepada Allah SWT, Berharap Imbalan Surga atau Takut Azab Neraka?
Alkisah, seorang Sufi membawa kayu dengan api yang menyala. Dia hendak menuju ke suatu tempat. Melihat kejadian yang tak lazim ini sontak membuat orang-orang keheranan dan bertanya kepadanya: “Kemanakah Anda akan pergi dengan membawa api ini?” Dia menjawab: “Saya akan membakar surga dan neraka sehingga semua makhluk beribadah hanya dan untuk Tuhan saja.”
Dari sedikit kisah Sufi diatas dapat kita ambil pelajaran bahwa kebanyakan manusia menyembah Allah SWT karena mereka takut akan neraka dan inilah yang disebut sebagai ibadah layaknya seorang budak. Dan sebagian lainya beribadah karena mengharapkan surga, mereka layaknya seorang pedagang yang sedang bertransaksi kepada Allah SWT dengan imbalan surga. Dan ada sebagian yang lain juga yang beribadah dengan cara merdeka bukan karena surga atau neraka tapi hanya semata karena Allah SWT.
Kisah Hikmah Seorang Ahli Ibadah yang Dikalahkan Iblis
Alkisah, ada seorang ahli ibadah (abid) yang hidup diantara bani Israil. Suatu hari dia mendengar orang sedang ramai membicarakan tentang sebuah pohon yang ada di suatu tempat yang disembah oleh sebuah kaum.
Mendengar hal itu dia pun naik pitam, lalu dia bangkit dan mengambil kapak dan segera pergi untuk menebang pohon tersebut.
Iblis pun muncul dengan berwujudkan orang tua dan berkata: “Hai abid, kembalilah dan sibukkanlah dirimu dengan ibadah”
Abid berkata: “Tidak, memotong pohon itu lebih wajib bagiku.”
Perdebatanpun semakin memanas hingga terjadilah perkelahian. Akhirnya abid mampu mengalahkan iblis dan membantingnya ke tanah serta mendudukinya.
Dalam keadaan seperti ini iblis berkata: “Lepaskanlah aku sehingga aku bisa berbicara, Anda bukan seorang Nabi dan Tuhanpun tidak memerintahkan Anda untuk melakukan hal ini, kembalilah ke rumahmu maka aku akan mengirimkan dua dinar dibawah bantalmu setiap harinya, satu dinar Anda bisa membelanjakannya dan satu dinar lagi bisa Anda sedekahkan, dan ini lebih baik dan lebih berpahala daripada menebang pohon.”
Abid pun mulai ragu dan berbicara pada dirinya sendiri: “Benar apa katanya, satu dinar bisa saya belanjakan dan satunya lagi disedekahkan.” Akhirnya dia pun pergi dan tidak jadi melaksanakan tujuan intinya untuk menebang pohon.
Pada kemudian hari, setelah dia tidak menemukan dinar lagi di bawah bantalnya, dia pun bertekad lagi untuk kembali ke pohon tersebut untuk menebangnya. Sekali lagi di tempat yang sama, iblis muncul dan berkata: “Mau kemana kamu?!”
Abid berkata: “Aku ingin pergi menebang pohon itu.”
Iblis berkata: “Jangan bermimpi, kamu tidak akan bisa.”
Iblis dan Abid itu pun berkelahi lagi, dan kali ini iblis mengalahkan Abid dan membantingnya.
Abid berkata: “Lepaskanlah aku dan aku akan kembali, tapi katakan padaku sebelumnya, kenapa sebelumnya aku bisa mengalahkanmu, namun sekarang aku tak berdaya di hadapanmu.”
Iblis berkata: “Saat itu Anda marah karena Tuhan, karena itu Tuhan menyerahkanku kepadamu, dan barangsiapa melakukan sesuatu karena Tuhan, aku tidak akan mampu mengalahkannya, tapi kali ini Anda marah karena dunia dan dinar, sehingga saya bisa mengalahkan Anda.”
Kisah Cinta Sejati Sang Pemuda Penggila Anak Raja
Alkisah seorang pemuda tak dikenal mencintai putri seorang Raja. Beban Perasaan cinta ini membuatnya menderita dan dia tidak menemukan cara untuk mencapai kekasihnya. Seorang pria cerdik dari kalangan pembantu raja, saat melihat begitu besar cintanya dan melihat bahwa dia adalah seorang pemuda sederhana dan baik hati, dia mengatakan kepadanya bahwa raja adalah orang yang taat beragama, jika dia melihat bahwa Anda adalah seorang hamba Tuhan yang taat, dia akan mencari Anda sendiri.
Pemuda itu, dengan harapan bisa mendapatkan orang yang dicintai, dia menyendiri sibuk dengan ibadah dan doa, sehingga sang raja sedikit demi sedikit terpesona dengan penyembahan dan jejak ikhlas yang terpancar di dalam dirinya.
Suatu hari, raja turun dari tahtanya, dan menanyakan kondisi pemuda tersebut dan saat mengetahui bahwa pemuda itu adalah salah seorang hamba Tuhan yang ikhlas, pada saat itu juga dia memintanya untuk datang dan meminang putrinya. Pemuda meminta waktu untuk berpikir dan raja memberikan waktu kepadanya.
Ketika raja pergi dari tempat itu, pemuda itu mengumpulkan barang-barangnya dan pergi ke tempat yang tidak diketahui. Pelayan raja terkejut dengan perilaku pemuda tersebut dan mencari pemuda itu untuk mengetahui mengapa dia membuat keputusan seperti itu. Setelah lama mencari, akhirnya dia menemukannya. Dia pun berkata: “Sebelumnya Anda sangat tersiksa karena mendambakan putri raja, mengapa sekarang ketika raja datang mencari dan meminta Anda untuk menikahi putrinya Anda melarikan diri darinya?
Pemuda itu menjawab: “Jika penghambaan palsu untuk mendapatkan kekasih, telah menyebabkan Raja datang ke pintu rumahku, lalu kenapa saya tidak melangkahkan kaki menuju penghambaan sejati sehingga saya bisa melihat Raja pemilik dunia di rumah-Nya sendiri?”
Allah SWT Mengampuni Dosa Orang Tua yang Memiliki Anak Sholeh
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Suatu hari Isa ibn Maryam (as) melewati sebuah kuburan yang penghuninya sedang disiksa, setahun kemudian nabi Isa kembali melewati kuburan tersebut, namun kali ini penghuni kuburan itu tidak lagi disiksa, lantas Nabi Isa (as) bertanya kepada Allah SWT: “Tahun pertama saya melewati kuburan ini, saya melihat penghuninya mengalami siksa kubur, tapi setahun kemudian dia sudah tidak disiksa.
Kemudian Allah SWT mewahyukan kepadanya: Wahai Ruhullah! Dia memiliki seorang anak yang sudah tumbuh besar yang melakukan perbaikan jalan hidup dan melindungi anak yatim, dan dikarenakan amal perbuatan anaknya itulah Aku mengampuni dosa-dosanya.”
Kisah Cinta Sejati Seorang Pria Tua
Alkisah seorang pria tua keluar dari rumahnya pagi-pagi. Dalam perjalanannya dia tertabrak mobil hingga terluka. Orang-orang yang lewat dengan cepat mengantarnya ke klinik terdekat.
Perawat pertama-tama membalut luka pria tua itu, kemudian berkata: “Harus diambil foto scan dari Anda, sehingga terlihat dimana yang bermasalah dari badan Anda …” ia pun sedih dan berkata bahwa ia sedang terburu-buru dan tidak perlu difoto.
Perawat bertanya kepadanya alasan mengapa dia terburu-buru. Pria tua itu berkata: “Istri saya berada di panti jompo, setiap pagi saya pergi kesana dan sarapan pagi dengannya dan saya tidak ingin terlambat.”
Perawat mengatakan kepadanya bahwa dia akan memberitahukan keadaanya kepada istrinya, dengan raut muka sedih pria tua itu berkata: “Saya sangat menyesal karena dia adalah penderita Alzheimer, dia tidak mengerti apa-apa, dia bahkan tidak mengenal saya.” Dengan nada sedih dan keheranan perawat itu bertanya: “Saat dia tidak mengetahui Anda, lalu mengapa setiap pagi Anda menemuinya untuk sarapan bersama?” Dengan suara berat pria tua itu pun perlahan menjawab: “Tapi aku tahu siapa dia.
Makna Hidup Gaya Sufi yang Sebenarnya
Alkisah, dahulu kala hiduplah seorang Arif yang berteman dengan seorang Darwis (penganut sufi yang sengaja hidup miskin). Si Arif adalah orang yang sangat kaya, tapi Darwis tidak memiliki apa-apa dari harta dunia kecuali sebuah mangkok, dan dengan mangkok inilah dia menjalankan kezuhudannya.
Suatu hari, Darwis mengunjungi temannya untuk mengutarakan masalah kezuhudannya. Dia mengatakan kepada sang Arif bahwa apakah dia bersedia untuk meninggalkan semua kekayaannya saat ini juga dan pergi dengannya ke tempat ibadah untuk menghabiskan hidupnya hanya untuk beribadah?
Arif pun menjawab: “Sudah tentu saya bersedia, mari kita pergi sekarang juga.” Si Darwis pun keheranan dan tidak percaya apa yang dikatakan sang Arif , lalu dia berkata: “Berarti Anda akan meninggalkan semua kekayaan dan istana Anda?”
Sang Arif berkata: “Iya, jika Anda telah siap kita pergi sekarang juga”.
Keduanya berjalan, ditengah perjalanan tiba-tiba Darwis berkata: “Celaka…mangkokku ketinggalan.”
Sang Arif berkata: “Sahabat, lihatlah Anda masih memiliki keterikatan dalam hidup… memiliki tidaklah masalah. Semakin Anda memiliki kekayaan, semakin baik. Yang terpenting adalah tidak memiliki keterikatan dan Anda tidak bisa melakukannya, bahkan untuk melepaskan sebuah mangkok sekalipun.”




























