کمالوندی

کمالوندی

Kamis, 23 Januari 2020 16:20

3 Kesalahan Besar dalam Berburuk Sangka

 

Pada masa kekhalifahannya, Umar bin Khatab selalu berjalan pada tengah malam untuk berkeliling melihat keadaan masyarakat sekitar Madinah sehingga jika ada yang membutuhkan, ia biasa langsung membantunya. Dengan terjun langsung ke masyarakat, Umar bin Khatab biasa merasakan kebutuhan dan penderitaan masyarakatnya. suatu hari, khalifah kedua ini melewati sebuah rumah yang dari luar terdengar seorang pria di dalam rumah yang sedang tertawa terbahak-bahak. Semakin beliau mendekat, beliau juga mendengar suara gelak tawa wanita.

Khalifah Umar bin Khatab mengintip rumah tersebut lalu memanjat jendela dan masuk ke rumah tersebut. Beliau menghardik pria tersebut dengan berucap:

“Hai hamba Allah! Apakah kamu mengira jika Allah akan menutup aib dirimu sedangkan kamu berbuat maksiat!!”

Pria yang dihardik tersebut tetap tenang dengan lalu menjawab tuduhan Umar dengan berkata:

“Wahai Umar, jangan terburu-buru, mungkin hamba melakukan satu kesalahan, tapi anda melakukan tiga kesalahan,” jawab pria itu. Umar bin Khatab hanya terpaku, si pria meneruskan bicara.

“Yang pertama, Allah berfirman: jangan kamu (mengintip) mencari-carai kesalahan orang lain (Al Hujurat:12) dan anda telah melakukan hal tersebut dengan mengintip ke dalam rumah hamba,” kata pria tersebut.

“Yang kedua, Allah berfirman: masuklah ke rumah-rumah dari pintunya (Al Baqarah: 189) dan anda tadi menyelinap masuk ke dalam rumah hamba melalui jendela,” papar pria tersebut.

“Dan yang ketiga, anda sudah memasuki rumah hamba tanpa ijin, padahal Allah berfirman: jangan kamu masuk ke rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin (An-Nur: 27),” lanjut si pria

Menyadari bahwa dirinya juga salah, Umar lantas berkata, “apakah lebih baik disisimu jika aku memaafkanmu?” lantas pria tersebut menjawab, “Ya, amirul mukminin”. Umar pun memaafkan pria tersebut dan berpamitan pergi dari rumah tersebut.

Dari cerita diatas, dapat kita tengok bahwa seorang imam besar, pemimpin umat seperti amirul mukiminin Umar bin Khatab yang tersohor tersebut mau mendengarkan nasehat orang lain, bahkan orang yang bersalah. Nasehat itu tidak perlu dilihat siapa yang berkata, namun harus dilihat apa yang dinasehatkan. Selain itu kita juga harus selalu mengembangkan prasangka baik kepada siapapun, terutama saudara sasama muslim. Janganlah mencari-cari kesalahan mereka.

Misalnya, tidak berjumpa di pengajian, kita sudah berpikir bahwa ia lalai dari mengingat Allah, tidak jumpa di shalat Jum’at, ia kita anggap mementingkan dunia. Bahkan ketika kita melihat pria sedang bersenda gurau dengan lawan jenis, kita anggap bahwa dia telah terkunci mata hatinya. Dengan prasangka seperti itu, bisa jadi kita telah melakukan kesalahan yang lebih besar dibandingkan saudara kita tersebut. Oleh karen itu mari kita kembangkan sikap berprasangka baik kepada siapapun.

Kamis, 23 Januari 2020 16:19

Kisah Pemabuk dan Orang Sholeh

 

Suatu hari, nabi Musa as hendak menemui Allah di bukit Sinai. Seorang hamba yang sangat saleh mengetahui niat nabi Musa as dan bermaksud menemuinya  untuk memohonkan hajat kepada Allah swt untuknya. “Wahai nabi Allah, selama hidup ini saya telah berusaha menjadi orang yanga baik dengan shalat, puasa, haji dan kewajiban beragama lainnya. Saya banyak menderita karenanya, namun itu tak masalah. Saya hanya ingin tahu apa yang Allah akan berikan kepadaku nanti. Tolong tanyakan kepadaNya” Kata orang shaleh seraya menundukkan kepalanya.

Nabi Musa menerima pasannya dan menyangguinya, beliaupun melanjutkan perjalanannya menuju bukit Sinai. Di tengah perjalanan, beliau terhenti karena ada seorang pemuda yang sedang mabuk  di pinggir jalan. Pemuda itu bertanya akan kemana nabi Musa as.  dan etika nabi Musa menjawab akan bertemu Allah swt di bukit Sinai, pemabuk itu berkata:

“Aku adalah peminum, aku tidak pernah shalat, tidak puasa, atau amalan shaleh lainnya, tolong tanyakan kepada Allah apa yang dipersiapkan untukku oleh-Nya nanti.”

Nabi Musa menyanggupi permintaannya yang cukup aneh tersebut untuk menyampaikannya kepada Allah. Sekembalinya dari Sinai, beliau menyampaikan jawaban Allah untuk orang saleh tersebut. “Allah memberikan pahala besar dan hal yang indah-indah” tutur nabi Musa as. Si orang saleh tersebut menanggapi biasa saja dan ia mengatakan bahwa ia telah menduga hal tersebut. Sedangkan ketika bertemu si pemabuk, nabi Musa menyampaikan bahwa pemuda itu akan diberikan tempat yang paling buruk. Ketika mendengar ucapan nabi Musa, pemabuk itu berdiri dan justru menari-nari dengan riang gembira.

Nabi Musa pun heran, kenapa pemabuk itu justru gembira, padahal ia dijanjikan tempat yang paling buruk. Beliau bertanya kepada pemabuk itu, ada apa gerangan hingga segembira itu.

“Alhamdulillah. Saya tidak peduli tempat mana yang telah Tuhan persiapkan bagiku. Aku senang karena Tuhan masih ingat kepadaku. Aku pendosa yang hina-dina. Aku dikenal Tuhan! Aku kira tidak seorang pun yang mengenalku,” jawab pemabuk itu dengan rasa bahagia yang terpancar di wajahnya.

Namun setelah beberapa waktu, nasib keduanya pun berubah, justru orang yang saleh berada di neraka dan si pemabuk berada di surga. Nabi Musa yang takjub bertanya kepada Allah, demikian jawaban Allah:

“Orang yang pertama dengan segala amal salehnya tidak layak memperoleh anugerah-Ku karena anugerah tidak dapat dibeli dengan amal saleh. Orang kedua itu membuatKu senang karena ia senang dengan apapun yang Aku berikan kepadanya. Senangnya karena pemberian-Ku menyebabkan Aku senang kepadanya”

Dari kisah tersebut kita bias memetic sebuah pesan bahwa jangan pernah sekali-kali kita bangga terhadap kebaikkan yang kita lakukan, karena hal tersebut merupakan bagian dari kesombongan yang akan membakar seluruh kebaikan kita. Ingatlah selalu bahwa ketika kita mampu berbuat kebaikan, maka itu adalah nikmat dari Allah swt yang harus senantiasa kita syukuri.

 

Dikisahkan bahwa pada suatu hari Khosrow Anushirvan (kelahiran 501, kematian 579 AD) putra Ghobad I, yang merupakan raja Sasania selama 22 tahun dijamu masyarakat dengan panggang daging sapi, namun garam tidak ada di sana karena kebetulan mereka telah kehabisan garam, salah satu budak pergi ke desa untuk membeli garam. Anoushirvan berkata kepada si budak: (Beli garam dengan harga tidak kurang dari harga pasaran (jangan ditawar), sehingga tidak menjadi awal mula dari kebohongan-kebohongan dan dengan demikian desa tidak akan hancur.)

Mereka berkata kepada Anoushirvan, “Apa masalahnya jika kita menawar harga lebih murah?”

Anooshirovan menjawab: “Penindasan dan kedzaliman yang besar dimulai dari waktu yang singkat dan sesuatu yang kecil kemudian berulang kali meningkat dan meningkat.”

Orang bijak akan selalu menghindari kedzoliman sekecil apapun sehingga tidak menjadi awal mula dari kedzaliman yang lebih besar. Oleh karena itu, marilah kita menjaga diri kita untuk senantiasa menjauhi segala kedzoliman sekecil apapun.

Kamis, 23 Januari 2020 16:17

Maafkanlah Kesalahan Orang Lain Padamu

 

Salah satu putra Harun al-Rashid (khalifah Abbasiyah kelima), ketika sangat marah, datang kepada ayahnya dan berkata:

‘Ayah, putra fulan (Salah satu petinggi kerajaan) menghina ibuku.”

Harun memanggil para tetua pemerintah dan berkata kepada mereka: “Apa hukuman bagi orang seperti itu yang telah menodai kehormatan istriku?”

Seseorang berkata: “Hukumannya adalah eksekusi mati.” Yang lain berkata: “Hukumannya adalah potong lidah.” Ketiga, dia berkata: “Adalah lbih baik jika hukumannya disita hartanya.” Keempat berkata: “Lebih baik diasingkan saja.”.

Harun menoleh ke putranya dan berkata: “Wahai anakku! Kemuliaan bagi dirimu adalah jika kamu memaafkannya, dan jika tidak bisa, berarti kamu juga menghina ibunya, tetapi tidak setara dengan balas dendam,”

Pesan yang disampaikan oleh raja Harun Ar-Rasyid ini bagi kita adalah untuk senantiasa memaafkan kesalahan orang lain karena kemuliaan ada pada memaafkan kesalahan orang lain kepada kita ukan membalas keburukannya.

Kamis, 23 Januari 2020 16:17

Hasil tidak Akan Membohongi Usaha

 

Dikisahkan bahwa salah satu raja Arab mengatakan kepada pengikutnya: “Bayar gaji si fulan dua kali lipat, karena dia selalu berjaga di depan pintu dan siap siaga untuk melaksanakan perintah, tetapi para pelayan lainnya hanya bias berleha-leha dan menyepelekan perintah.”

Ketika dia mendengar perintah ini, pengikut tersebut berteriak dan menjerit sehingga suaranya memenuhi istana.

Mereka bertanya: Kenapa kamu marah? Apa maksud dari kemarahan ini?

Dia menjawab: “Pangkat hamba di jalan Tuhan yang agung adalah sama. Lalu kenapa raja berani membedakan gaji pelayannya?”

Raja bijak pun menjawab: Orang yang gagal mematuhi perintah tuannya akan memiliki upah yang lebih rendah, tetapi dia akan dihargai ketika dia bersungguh-sungguh melaksanakan perintah tuannya.

 

Kali ini, cerita hikmah hadir membawakan kisah nyata dari seorang gubernur yang benar-benar melayani serta berkhidmat pada masyarakat dan gubernur tersebut adalah seorang muslim. Ia adalah Salman Al-Farisi. Bagaimana kisahnya, mari kita baca bersama-sama!

Pada suatu siang yang terik, seorang pedagang dari Syam sedang kerepotan mengurus barang bawaannya. Tiba-tiba ia melihat seorang pria bertubuh kekar dengan pakaian lusuh. Orang itu segera dipanggilnya.

“Hai kuli, kemari! Tolong bawakan barang ini ke kedai di seberang jalan itu.”

Tanpa membantah sedikitpun, dengan patuh pria berpakaian lusuh itu mengangkut bungkusan berat dan besar tersebut ke kedai yang dituju.

Saat sedang menyeberang jalan, seseorang mengenali kuli tadi. Ia segera menyapa dengan hormat, “Wahai, Amir! Biarlah saya yang mengangkatnya.” Si pedagang terperanjat seraya bertanya pada orang itu, “Siapa dia?, mengapa seorang kuli kau panggil Amir?

Ia menjawab, “Tidak tahukah Tuan, kalau orang itu adalah gubernur kami?”

Dengan tubuh lemas seraya membungkuk-bungkuk ia memohon maaf pada “kuli upahannya” yang ternyata adalah Salman al Farisi.

“Ampunilah saya, Tuan. Sungguh saya tidak tahu. Tuan adalah amir negeri Mada’in” ucap si pedagang.

“Letakkanlah barang itu, Tuan. Biarlah saya yang mengangkutnya sendiri.”

Salman menggeleng, “Tidak, pekerjaan ini sudah aku sanggupi, dan aku akan membawanya sampai ke kedai yang kau maksudkan.”

Setelah sekujur badannya penuh dengan keringat, Salman menaruh barang bawaannya di kedai itu, ia lantas berkata, “Kerja ini tidak ada hubungannya dengan ke-gubernuran-ku. Aku sudah menerima dengan rela perintahmu untuk mengangkat barang ini kemari. Aku wajib melaksanakannya hingga selesai. Bukankah merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meringankan beban saudaranya?”

Pedagang itu hanya menggeleng. Ia tidak mengerti bagaimana seorang berpangkat tinggi bersedia disuruh sebagai kuli. Mengapa tidak ada pengawal atau tanda kebesaran yang menunjukkan kalau ia seorang gubernur?

 

Islam memandang semua manusia mempunyai derajat yang sama baik laki-laki maupun perempuan. Dalam Islam hanya ketakwaannya saja yang membedakan antara satu sama lain. Selebih itu baik laki-laki maupun perempuan semuanya sama di hadapan Allah swt.

Perempuan Dalam Al-Quran

Al-Quran sendiri menjelaskan bahwasanya perempuan dan laki-laki itu sama yakni dalam penciptaan pun Allah tidak membedakan mereka.

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا

“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya” (Surah Al-Araf, ayat 189)

Dari sini Allah swt hendak menjelaskan bahwa wanita dan laki-laki itu diciptakan dari bahan yang sama. Jika laki-laki diciptakan dari tanah maka begitu pun dengan perempuan, mereka diciptakan juga dari tanah.

Selanjutnya adalah di dalam al-Quran kita menemukan bahwa yang menjadi lawan bicara al-Quran bukan hanya laki-laki saja akan tetapi umum antara laki-laki dan perempuan. Misalnya saja al-Quran menggunakan kata An-Nas (Manusia), Bani Adam (Anak Adam), atau juga Insan (manusia).

Kemudia Allah berfirman secara jelas bahwa laki-laki dan perempuan itu sama di sisi-Nya dan yang membedakan adalah ketakwaan mereka.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Surah Al-Hujurrat, ayat 13).

Sampai di sini kita telah buktikan bahwasanya perempuan dan laki-laki itu sama dalam agama Islam tidak ada perbedaannya sama sekali.

 

Baginda Nabi Muhammad saw terkenal dengan seorang pribadi yang tidak pernah terdahului dalam berucap salam. Yakni baginda Nabi Muhammad saw selalu menjadi orang yang pertama dalam menyampaikan salam.

Namun suatu hari ada seorang dari sahabat Nabi ingin menyampaikan salam sebelum Nabi mengucapkan salam padanya. Kemudian sang Sahabat bersembunyi di belakang dinding.

Setelah itu ketika Nabi Muhammad saw berjalan mendekati dinding tersebut turun Malaikat Jibril as dan memberitahu Nabi bahwa ada seseorang yang menunggunya di belakang dinding.

Kemudian ketika hampir mendekati dinding, beliau mengucapkan salam padanya.

یا من اختفیت وراء  الحائط: سلام علیکم

“Wahai engkau yang bersembunyi di belakang dinding, Assalmaualaikum.”

Sahabatpun terkejut dan menjawab salam Nabi Muhammad saw.

Saudara-saudaraku inilah akhlak Nabi Muhammad saw yang sangat agung. Beliau adalah cerminan agama Islam yang rahmah bukan agama Islam yang marah.

Nabi saw tidak pernah terdahului dalam berucap salam dan juga selalu menjadi orang pertama yang berucap salam pada yang lainnya.

 

Suatu hari Hasan bin Jiyad bercerita tentang seorang laki-laki yang datang menghampiri Imam Fiqih Abu Hanifah. Laki-laki tersebut datang dan berkata padanya, “Bertahun-tahun aku mengumpulkan uang dan harta. Lalu aku menyimpannya di sebuah tempat tapi aku lupa di mana uang dan hartaku berada. Bisakah engkau membantuku?”

“Permasalahanmu bukan permasalahan ahli Fiqih.” Jawab Abu Hanifah. Lalu setelah itu beliau berpikir sejenak dan berkata pada laki-laki tersebut.

“Shalatlah kamu dari malam sampai subuh tiba! InshaAllah engkau akan mengingat tempat kamu menyimpan uang dan harta-harta mu.”

Laki-laki tersebut pergi dan di malam harinya ia mendirikan shalat. Lalu tanpa waktu lama, tiba-tiba dia mengingat tempat tersebut dan pergi mengambil uang dan harta-hartanya.

Keesokan harinya, laki-laki tersebut pergi menuju Abu Hanifah untuk berterimakasih dan berkata padanya, “Bagaimana bisa engkau  mengetahui bahwa dengan perantara hal ini, aku bisa mengingat tempat menyimpan uang-uangku?”

“Karena aku mengetahui bahwa setan tidak akan membiarkanmu shalat dari malam sampai menjelang subuh. Setan akan mengganggumu dengan mengingatkanmu tempat menyimpan uang-uangmu yang terlupa.”

Pembaca yang budiman, dari cerita di atas kita mengetahui bahwasanya setan senantiasa mengganggu kita walaupun kita tengah dalam keadaan shalat. Yang diinginkan setan adalah supaya manusia menjadi temannya di dalam neraka. Yakni manusia menjadi jauh dari Tuhan dan dekat dengan dirinya, itulah tujuan setan. Seperti yang tercantum dalam Al-Quran, surah an-Nisa ayat 118-120 bahwa setan tidak akan pernah berhenti untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah swt sehingga manusia masuk neraka bersamanya.

Maka dari itu penting kiranya kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap langkah hidup kita serta senantiasa berlindung pada Allah swt setiap waktunya supaya tidak terjerumus dalam godaan setan.

Suatu ketika, di hari pernikahan Siti Fathimah az-Zahra dengan sayidina Ali bin Abi Thalib, ketika semua orang berbahagia, datang seorang perempuan faqir meminta bantuan pada hadirin. Namun tidak ada yang memberikan batuan padanya.

Lalu, siti Fathimah az-Zahra melihat peristiwa ini. Kemudian ia pergi dari keramaian ke rumah sayidina Ali, setelah itu dia melepaskan baju pengantinnya dan memakai pakaian lamanya.

Kemudian siti Fathimah datang menghampiri wanita faqir dan memberikan pakaian pengantinnya untuk dijual di pasar sehingga uangnya bisa ia gunakan.

Ketika Baginda Nabi Muhammad saw mendegar hal ini, lalu beliau bertanya pada anak semata wayangnya, Fathimah.

“Wahai anak ku yang tersayang! Kenapa engkau melakukan hal ini, memberikan gaun pengantinmu di hari pernikahan mu?”

Kemudian siti Fathimah menjawab, “Aku ingin mengamalkan apa yang engkau sabdakan untuk menginfakkan apa yang kalian cintai pada yang membutuhkan.”

لَنْ تَنالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَ ما تُنْفِقُوا مِنْ شَيْ‏ءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَليمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang engkau infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. “ (Surah Ali Imran, ayat 92)