کمالوندی

کمالوندی

 

Hari-hari Fatimiyyah adalah sebuah momen yang diisi oleh para pengikut Syiah dengan acara duka untuk mengenang hari kesyahidan Sayidah Fatimah az-Zahra as.

Tanggal kesyahidan Sayidah Fatimah tidak diketahui secara jelas dan ada perbedaan riwayat mengenai hal ini. Di Iran, ada dua hari berkabung untuk memperingati syahadah wanita mulia ini yaitu tanggal 13 Jumadil Awal dan 3 Jumadil Akhir. Hari-hari ini disebut dengan hari-hari Fatimiyah pertama dan Fatimiyah kedua.

Kedudukan Sayidah Fatimah dalam Surat an-Nur

Sosok Sayidah Fatimah az-Zahra disebut sebagai sebuah pelita bagi pecinta Ahlul Bait dalam ayat Misykat (ayat 35 surat an-Nur), sementara para imam maksum yang lahir dari keturunannya adalah pemberi petunjuk kepada umat manusia.

"Allah adalah cahaya seluruh langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah tempat pelita yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu berada dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api (lantaran minyak itu sangat bening berkilau). Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. An-Nur, ayat 35)

Para mufassir telah menafsirkan ayat Nur dengan berbagai metode dan secara khusus menyebutkan beberapa objek mengenai kata misykat (tempat pelita). Muhammad Ali ibn Ibrahim Qummi dalam bukunya, Tafsir al-Qummi menulis, "Maksud dari kata misykat adalah Fatimah az-Zahra dan arti dari kalimat Fiha Misbah al-Misbahu adalah dua putra mulianya, Imam Hasan dan Imam Husein."

Beberapa kitab tafsir dengan mengutip sebagian riwayat, menafsirkan kata zujajah sebagai Imam Ali as dan kalimat Nurun Ala Nur adalah para imam Syiah yang datang silih berganti dan memiliki cahaya ilmu dan hikmah.

Seorang ulama besar Syiah, Allamah al-Majlisi ketika menafsirkan kalimat Nurun Ala Nur, mengutip sebuah riwayat dari Imam Jakfar Shadiq as yang berkata, "Di tengah Ahlul Bait, terdapat para imam yang datang silih berganti dan masing-masing dari mereka adalah pemberi petunjuk ke jalan makrifat."

Iya, Allah adalah pemberi cahaya kepada langit dan bumi. Sosok Sayidah Fatimah as merupakan misykat yang darinya lahir para imam maksum. Semua makrifat Ilahi terpancar dalam wujudnya dan ia adalah penjaga cahaya tauhid, dan mereka semua berasal dari nur (cahaya) yang satu.

Ilustrasi peringatan hari syahadah Sayidah Fatimah az-Zahra as.
Kedudukan Sayidah Fatimah dalam Surat Ibrahim

Sekarang kita akan mengkaji tafsir ayat 24 dan 25 surat Ibrahim, dan secara khusus menafsirkan maksud dari kalimat syajarah thayyibah (pohon yang baik) dalam ayat tersebut.

Allah Swt berfirman, "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat." (QS. Ibrahim, ayat 24-25)

Menurut berbagai riwayat, maksud dari kalimat syajarah thayyibah adalah Rasulullah Saw, Imam Ali, Sayidah Fatimah as, dan kedua putra mereka.

Sallam Ibn Mustanir mengatakan, "Aku bertanya kepada Imam Muhammad al-Baqir as tentang firman Allah, 'seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.'

Imam menjawab, "Pohon itu adalah Rasulullah yang garis keturunannya tertancap kokoh di Bani Hasyem. Batang pohon itu adalah Ali as, dan akarnya adalah Fatimah, cabang-cabangnya adalah para imam maksum, dan daun-daunnya adalah para pengikut Syiah. Jika ada satu orang Syiah meninggal dunia, maka satu daun dari pohon itu akan jatuh, dan jika ada satu kelahiran, maka satu daun baru akan tumbuh."

Kedudukan Sayidah Fatimah dalam Surat al-Baqarah

Allah Swt mengajarkan beberapa kalimat kepada Nabi Adam as dan kalimat tersebut membuat taubatnya diterima.

Setelah termakan godaan syaitan dan turunnya perintah keluar dari surga, Nabi Adam menyadari bahwa ia telah menzalimi dirinya dan dengan penuh penyesalan bertaubat kepada Allah. Dia mendengar permohonan taubat Nabi Adam as dan mengajarkan beberapa kalimat kepadanya sebagai syarat penerimaan taubat.

"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah ayat 37)

Para mufassir berbeda pendapat mengenai "kalimat-kalimat" yang diajarkan Allah kepada Nabi Adam untuk bertaubat. Berbagai riwayat yang dinukil dari Ahlul Bait menyebutkan bahwa maksud dari "kalimat-kalimat" adalah mengajarkan nama-nama manusia yang paling mulia yaitu Muhammad Saw, Ali, Fatimah, Hasan, dan Husein as.

Nabi Adam bertawassul kepada nama-nama tersebut untuk memohon ampunan dari Allah dan Dia pun menerima taubatnya. Kalimat-kalimat tersebut juga membuat Nabi Ya'qub memperoleh kembali penglihatannya setelah menangis terus-menerus karena perpisahan dengan Yusuf, kapal Nabi Nuh as terselamatkan dari badai dan bersandar di sebuah bukit, dan padamnya kobaran api yang dinyalakan untuk membakar Nabi Ibrahim as.


Kedudukan Sayidah Fatimah dalam Surat ar-Rahman

Allah Swt dalam surat ar-Rahman ayat 19-22 berfirman, "Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan."

Dalam sebuah riwayat dari Sa'id Ibn Jubair dari Ibnu Abbas disebutkan, "Makna dari dua lautan asin dan tawar yang keduanya kemudian bertemu adalah Ali dan Fatimah. Maksud dari batas pemisah yang tidak melampaui masing-masing adalah kasih sayang abadi yang terjalin di antara kedua sosok mulia ini, dan maksud dari mutiara dan marjan yang keluar dari lautan tersebut adalah Hasan dan Husein as."

Sebuah riwayat lain dari Ibnu Abbas, telah memperjelas penafsiran dari kalimat, "antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing" yaitu bahwa di antara kedua pribadi mulia tersebut, terdapat cinta dan kasih sayang yang sedemikian rupa sehingga menjauhkan segala bentuk emosi dan dendam.

Samudera kasih sayang Sayidah Fatimah dan suaminya adalah tidak bertepi, demikian juga dengan makrifat dan keutamaan mereka berdua.

Ayat tersebut berbicara tentang keutamaan besar dan kedudukan tinggi Ahlul Bait Nabi as. Allah Swt menjadikan mereka sebagai sumber keberkahan, gudang ilmu pengetahuan, teladan akhlak yang mulia, simbol ketakwaan dan kesucian, serta simbol kedermawanan.

Anak-anak mereka merupakan mutiara yang berharga, yang tumbuh besar di tengah samudera kasih sayang Sayidah Fatimah dan Imam Ali as. Hasan dan Husein as mewarisi keindahan fisik dan batin, ilmu, dan takwa dari kedua orang tuanya. 

 

Ayyam Fatimiyah (hari-hari duka Sayidah Fatimah Az-Zahra as) adalah hari berkabung dan berduka cita yang diperingati untuk mengenang syahadah putri tercinta Rasulullah Saw ini.

Hari kesyahidan Sayidah Fatimah as tidak diketahui secara pasti dan ada perbedaan riwayat mengenai hal ini. Ada dua hari istimewa yang dikenang untuk memperingati syahadah putri Rasulullah Saw ini yaitu tanggal 13 Jumadil Awal dan 3 Jumadil Akhir. Hari-hari itu disebut dengan hari-hari Fatimiyah.

Di sini, kita akan mengupas tentang ayat-ayat al-Quran yang berhubungan dengan kedudukan Sayidah Fatimah az-Zahra as. Ia memiliki kedudukan yang luhur sehingga Allah Swt menurunkan banyak ayat al-Quran tentang istri Imam Ali as ini.

Allah Swt menurunkan surat al-Kautsar untuk menunjukkan kedudukan luhur dan mulia Sayidah Fatimah as, pengorbanan tulusnya diabadikan dalam surat al-Insan, kesucian wanita ini dijelaskan dalam Ayat Tathir (ayat 33 surat al-Ahzab), puncak irfani dan spiritualitasnya digambarkan dalam Ayat Mubahalah (ayat 61 surat Ali Imran).

Keberadaan Sayidah Fatimah disebut sebagai sebuah pelita bagi para pecinta Ahlul Bait dalam Ayat Misykat (ayat 35 surat an-Nur), ia diperkenalkan sebagai sebuah pohon yang suci dalam ayat 24 surat Ibrahim.

Sayidah Fatimah dan Imam Ali as adalah samudera ilmu dan makrifat Ilahi, sementara anak-anak mereka adalah mutiara dalam samudera itu. Ayat Mawaddah (ayat 23 surat al-Syura) menjelaskan bahwa upah atas jerih payah Rasulullah Saw adalah mencintai dan menyayangi Ahlul Baitnya.


Di antara putra-putri Sayidah Khadijah as dan Rasulullah Saw adalah Abdullah. Namun, Abdullah meninggal dunia di usia kanak-kanak. Pada suatu hari, salah satu pemimpin kaum musyrik Makkah, Ash bin Wa'il melihat Rasulullah ketika keluar dari Masjidil Haram dan berbicara singkat dengannya.

Sekelompok pemimpin Quraisy yang menyaksikan pertemuan mereka, bertanya hal itu kepada Ash bin Wa'il. Mereka berkata, "Dengan siapa kamu berbicara tadi?" Dia menjawab, "Dengan dia yang (Abtar) terputus!"

Allah kemudian menurunkan surat al-Kautsar untuk membela dan membesarkan hati Rasulullah. "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus."

Para mufassir menafsirkan al-Kautsar sebagai kebaikan dan nikmat yang banyak yaitu banyaknya keturunan Rasulullah dan ini terwujud melalui anak-anak Sayidah Fatimah, di mana anak keturunannya tidak terhitung jumlah mereka dan ini akan berlanjut sampai hari kiamat.

Mayoritas ulama Syiah menganggap sosok Sayidah Fatimah as sebagai al-Kautsar. Menurut takwil ayat ini, Allah memberikan keturunan yang banyak kepada Rasulullah melalui putrinya ini.

Imam Jakfar Shadiq as berkata, "Barang siapa yang membaca surat al-Kautsar dalam shalat wajib dan sunnahnya, maka Allah akan mengeyangkannya dengan air telaga Kautsar pada hari kiamat."


 Pengorbanan tulus Sayidah Fatimah as dan keluarganya diabadikan oleh Allah dalam surat al-Insan.

Imam Hasan dan Imam Husein as menderita sakit selama beberapa hari. Rasulullah dan beberapa sahabat pergi membesuk cucunya itu di rumah mereka. Di sana, Rasulullah berkata kepada Imam Ali, "Jika engkau bernazar untuk kesembuhan mereka, maka Allah akan mempercepat kesembuhannya."

Imam Ali as menjawab, "Wahai Rasulullah! Aku akan bernazar untuk kesembuhan mereka berdua yaitu melakukan puasa syukur selama tiga hari."

Beberapa hari kemudian, Imam Hasan dan Imam Husein telah sembuh dari sakitnya. Dengan demikian, Imam Ali dan Sayidah Fatimah bersama pelayannya Fidhah menunaikan nazar mereka dengan berpuasa selama tiga hari berturut-turut.

Imam Ali as kemudian meminjam gandum dan Fiddhah membuat lima potong roti dan ketiganya berpuasa. Ketika tiba waktu berbuka, seorang peminta-minta mengetuk pintu rumah dan meminta makanan. Karena tidak ada makanan lain selain beberapa potong roti di rumah, mereka memberikan roti itu kepada pengemis itu dan hanya berbuka dengan air.

Mereka berpuasa di hari kedua dengan perut kosong. Imam Ali kembali meminjam gandum untuk dibuatkan roti lalu berbuka dengannya. Tapi ketika tiba waktu berbuka, giliran seorang anak yatim yang mengetuk pintu rumah mereka dan meminta bantuan. Kali ini juga keluarga Imam Ali harus merelakan roti untuk berbuka puasa diberikan kepada anak yatim itu.

Hari ketiga mereka berpuasa dalam kondisi perut kosong belum diisi apapun selama dua hari. Kejadian hari pertama dan kedua terulang kembali di hari ketiga. Ketika akan berbuka puasa, ada orang lain yang membutuhkan bantuan mengetuk pintu rumah mereka.

Setelah mengetahui bahwa orang yang mengetuk pintu itu adalah seorang hamba sahaya yang tertawan oleh pemiliknya yang kaya raya, keluarga Imam Ali untuk ketiga kalinya harus merelakan roti untuk berbuka puasanya diberikan kepada budak itu.

Di hari keempat, Rasulullah Saw mendatangi rumah Ali untuk mengetahui apa yang terjadi. Beliau melihat keluarga Ali dalam kondisi lemah. Setelah bertanya apa yang terjadi, beliau segera mengangkat tangannya dan berdoa, "Wahai Zat yang segera pertolongannya! Ya Allah, anak-anak Muhammad, Nabi-Mu terlihat lemah akibat lapar. Ya Allah, bantulah mereka..."

Ketika itu, malaikat Jibril datang dan berkata, "Wahai Muhammad! Terimalah ucapan selamat dari Allah!" Nabi Muhammad Saw berkata, "Apa itu?" Malaikat Jibril kemudian membacakan surat al-Insan dan berkata, "Surat itu diturunkan untuk Ali dan keluarganya yang suci."

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih." (QS. Al-Insan: 8-9)

Peringatan hari gugurnya Sayidah Fatimah as di Tehran. (dok)
Kedudukan Sayidah Fatimah dalam Surat al-Qadr

Menurut sabda Rasulullah Saw, Fatimah adalah pemimpin wanita semesta alam dan membutuhkan makrifat yang tinggi untuk memahami kedudukannya. Diriwayatkan dari para imam maksum bahwa ia dinamakan Fatimah karena para hamba tidak mampu memahami kedalaman makrifatnya.

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?"

Imam Jakfar Shadiq berkata, "Lailah (malam) adalah Fatimah dan al-Qadr adalah Allah. Barang siapa yang mengenal Fatimah dengan sebenar-benarnya makrifat, maka dia telah menemukan malam Lailatul Qadr."

Jadi, orang yang memahami kedudukan luhur Sayidah Fatimah as dengan sebenar-benarnya makrifat, maka ia telah merasakan malam Lailatul Qadr. Sebagaimana hakikat keberadaan malam Lailatul Qadr berbalut misteri, maka hakikat Fatimah juga tersembunyi dan tidak semua orang bisa memahami kedudukannya. Kedudukan Fatimah dan Lailatul Qadr adalah dua mutiara yang tersembunyi.

Lailatul Qadr adalah malam diturunkannya al-Quran, sementara Fatimah as adalah tempat diturunkannya al-Quran natiq (yang berbicara) yaitu para imam maksum. 

Kamis, 23 Januari 2020 15:54

Persatuan, Kunci Kemenangan Bangsa Iran

 

Tanggal 26 Dey tahun 1357 Hijriah Syamsiah (16 Januari 1979) diperingati sebagai salah satu hari penting dalam sejarah Revolusi Islam Iran. Pada hari ini pemimpin despotik Shah Reza Pahlevi melarikan diri dari Iran.

Pelarian Shah dari Iran menandai berakhirnya monarki rezim Shah dan dimulainya sebuah babak baru di kancah politik, sosial, dan budaya masyarakat Iran.

Gerakan revolusioner rakyat Iran dalam melawan rezim Shah di penghujung tahun 1357 HS, membuat rezim dan pendukungnya semakin sulit bernafas. Bahkan para pejabat Gedung Putih memandang satu-satunya opsi yang mereka miliki adalah mengevakuasi Shah keluar dari Iran.

Para pendukung asing rezim Pahlevi siap melakukan tindakan apapun untuk memadamkan revolusi bangsa Iran dan mendukung pemerintahan Shah Reza Pahlevi. Namun, kebangkitan revolusioner rakyat Iran pada tahun 1356 – 1357 HS mencapai kemenangan dan konspirasi Amerika Cs untuk memulihkan kekuasaan Shah, mengalami kegagalan berkat perlawanan gigih rakyat Iran.

Pasukan rezim dan pemerintahan militer kehilangan kekuasaan karena kebangkitan yang dipimpin oleh Imam Khomeini ra. Dinasti monarki tumbang kurang dari satu bulan setelah Shah melarikan diri dan era monarki despotik yang telah memerintah di Iran selama 2500 tahun berakhir pada 22 Bahman tahun 1357 HS (1 Februari 1979).

Shah dan istrinya meninggalkan Iran dengan sebuah penerbangan khusus pada 26 Dey 1357 HS. Ketika itu ia berkata, "Saya pergi untuk berobat dan istirahat!"

Ilustrasi Shah Pahlevi dan istrinya melarikan diri meninggalkan Iran.
Imam Khomeini ra dalam sebuah pernyataan, menganggap pelarian Shah sebagai tahap awal untuk mengakhiri kekuasaan despotik rezim Pahlevi selama 50 tahun, dan menyampaikan ucapan selamat kepada bangsa Iran atas kemenangan ini.

Selang 26 hari setelah pelarian Shah, Revolusi Islam mencapai kemenangan pada 22 Bahman 1357 HS.

Kemenangan Revolusi Islam sudah berusia 41 tahun, tapi sisa-sisa rezim monarki masih berangan-angan untuk kembali ke masa lalu. Pada 28 Mordad 1953, AS menciptakan kerusuhan jalanan di Iran untuk menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh dan mengembalikan posisi Mohammad Reza Pahlevi sebagai raja Iran.

AS masih memiliki mimpi untuk mengganti sistem pemerintahan Islam Iran. Beberapa organisasi anti-revolusi dan sisa rezim despotik di AS mengakui keterlibatan mereka dalam kerusuhan terbaru di Iran. Antek-antek mereka di Iran menyusup ke barisan demonstrasi warga untuk memprovokasi protes damai ke arah kerusuhan, perusakan fasilitas publik, dan aksi bakar-bakaran.

Dalam kerusuhan 88, gejolak tahun 96, dan kerusuhan terbaru setelah pengumuman kenaikan harga bensin di Iran, jejak anasir asing semakin terlihat dan mereka menunggangi protes damai warga dengan mengerahkan unsur-unsur terorganisir di dalam Iran.

Para pejabat resmi pemerintahan Barat menyuarakan dukungan terbuka dan bahkan memprovokasi perusuh untuk melakukan perusakan dan pembakaran. Gedung Putih dalam sebuah tindakan konyol, menyatakan dukungan resmi kepada perusuh di Iran dengan dalih "aksi solidaritas dengan rakyat Iran."

Padahal, kebijakan pemerintah AS telah membahayakan keselamatan warga Iran dengan mencegah laju perdagangan, sanksi terhadap sektor perbankan, dan bahkan memblokir akses warga Iran untuk memperoleh obat-obatan dan peralatan medis.

Media-media berbahasa Persia, Arab, dan bahkan Inggris, menyatakan solidaritas dan dukungan kepada para perusuh di Iran. Mereka juga mendukung kelompok anti-revolusi termasuk sisa-sisa rezim despotik di luar negeri.

Namun, kerusuhan itu berhasil diredam berkat kerja keras aparat keamanan dan dukungan masyarakat luas. Anasir-anasir munafik dan perusuh ditangkap atas kerja sama aparat dan lembaga-lembaga keamanan Iran.

Media-media pro-rezim monarki despotik dengan dukungan media milik negara-negara Barat dan kawasan, menyuarakan solidaritas penuh terhadap kerusuhan di Iran. Mereka bahkan mengajari para perusuh tentang teknik-teknik melawan pasukan keamanan.

Dalam propagandanya, media tersebut menekankan bahwa masyarakat yang melakukan aksi di beberapa kota adalah para pendukung rezim monarki dan mereka meminta Iran dikembalikan ke era Pahlevi.

Reza Pahlevi (putra dari Shah Mohammad Reza Pahlevi) bahkan melakukan pertemuan dengan beberapa pejabat pemerintah AS dan secara pribadi meminta AS untuk meningkatkan sanksi terhadap Iran dan para pejabat pemerintah.

Pengalaman menunjukkan bahwa perjalanan waktu akan menyingkap fakta-fakta baru tentang pendukung dan pelaku fitnah dan kerusuhan, yang dikobarkan di Iran dengan tujuan mengganti sistem pemerintahan Islam.

Jutaan warga Tehran menghadiri acara tasyi' jenazah Letjen Soleimani.
Dokumen kudeta yang sudah dirilis ke publik oleh Dinas Intelijen Pusat AS (CIA) menunjukkan bahwa AS-Inggris secara langsung terlibat dalam aksi makar untuk menggulingkan pemerintahan Mosaddegh.

Sejak kemenangan Revolusi Islam pada 22 Februari 1979, kekuatan-kekuatan arogan bangkit menentang Republik Islam Iran demi mempertahankan dominasinya di wilayah Asia Barat (Timur Tengah).

Kudeta 28 Mordad dilakukan oleh Dinas Intelijen Pusat AS (CIA) dengan dukungan langsung Dinas Intelijen Inggris (MI6). Kudeta ini adalah sebuah bukti yang memperlihatkan upaya musuh untuk memisahkan rakyat Iran dari Revolusi Islam melalui berbagai konspirasi. Meski melakukan segala upaya, namun musuh gagal untuk merusak pilar-pilar revolusi dan sistem Republik Islam.

Pasca kemenangan Revolusi Islam, AS selalu menyusun konspirasi dan mendukung anasir-anasir anti-revolusi dengan tujuan memperlemah dan menggerogoti Republik Islam Iran dari dalam.

Pada 3 Januari 2020, pemerintah AS dalam sebuah tindakan terorisme membunuh Komandan Pasukan Quds Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani, dengan tujuan melemahkan pilar-pilar kekuatan bangsa Iran.

Letjen Soleimani dan Wakil Komandan Hashd al-Shaabi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis beserta rekan-rekannya, gugur syahid dalam serangan udara yang dilancarkan oleh pasukan teroris AS di Bandara Internasional Baghdad.

Tindakan ini kembali memperlihatkan bahwa akar permusuhan dan kedengkian AS terhadap Iran, benar-benar sangat dalam. Sikap panik ini menunjukkan bahwa AS dan musuh-musuh Iran telah kehilangan akal sehat dalam menghadapi kekuatan dan persatuan bangsa ini.

Bangsa Iran selalu memelihara sikap waspada dan kearifan, serta selalu menunjukkan bahwa mereka tidak akan pernah membiarkan musuh mencapai tujuannya. 

 

Pemerintahan teroris AS meneror Komandan Pasukan Quds Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani dan Wakil Komandan Hashd al-Shaabi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, dalam serangan udara di dekat Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari lalu.

Aksi teror ini menyebabkan 10 orang gugur syahid, lima warga Iran dan lima warga Irak. Mereaksi kejahatan itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) pada 8 Januari, melakukan serangan rudal ke pangkalan AS, Ain al-Asad di Provinsi Anbar dan pangkalan militer di Arbil, Irak.

Serangan ke Ain al-Asad menjadi bukti atas kekuatan pertahanan Republik Islam Iran. Dalam beberapa tahun terakhir terutama setelah implementasi kesepakatan nuklir JCPOA, kekuatan-kekuatan Barat berusaha menyeret Iran ke meja perundingan untuk membahas masalah kemampuan misilnya, tetapi Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei, menentang keras gagasan itu.

Iran juga pernah melancarkan serangan rudal terhadap posisi kelompok teroris Daesh di Suriah dari wilayahnya. Kemampuan rudal Iran juga terbukti jitu ketika menembak jatuh drone Global Hawk AS pada musim panas 2019.

Para analis percaya bahwa penembakan lebih dari 10 rudal ke pangkalan militer Ain al-Asad, dapat dianggap sebagai pembuktian maksimal atas kemampuan pertahanan Republik Islam, karena tidak hanya tentara AS di Irak yang bersiaga penuh, tetapi juga seluruh tentaranya di wilayah Asia Barat.

Dosen Universitas Allame Tabatabaei Tehran, Sayid Jalal Dehghani Firoozabadi mengatakan, "Serangan ke pangkalan militer AS membuktikan kekuatan pertahanan Iran, karena meskipun adanya ancaman dari Trump, Tehran mengambil tindakan balasan atau pertahanan yang sah. Hal ini telah memperkuat kredibilitas Republik Islam dan kekuatan pertahanannya, dan menunjukkan bahwa Iran memiliki kekuatan untuk membela keamanannya."

Dampak serangan balasan Iran di pangkalan AS, Ain al-Assad.
Dengan aksi balasan itu, Republik Islam Iran memenangi "perang tekad" dalam melawan AS. Dalam kebijakan internasional, "tekad mengalahkan ancaman" kadang lebih penting dari hasil di lapangan. Ini semakin penting ketika lawan Anda adalah sebuah kekuatan militer nomor satu di dunia.

Sejumlah negara yang percaya dengan tindakan balasan Iran, secara terus-menerus memperingatkan tentang potensi pecahnya sebuah perang besar di Asia Barat.

Setelah insiden penembakan jatuh drone AS, serangan rudal ke Ain al-Asad dapat dianggap sebagai contoh kedua dari tekad baja Iran dalam menghadapi AS.

Perlu dicatat bahwa pangkalan Ain al-Asad adalah pangkalan terbesar kedua AS di Irak. Pangkalan ini dapat dianggap sebagai pusat pengarah, pengawas, dan komando tindakan militer dan logistik, dan bahkan kebijakan AS di wilayah Irak.

Jika pangkalan-pangkalan AS di Teluk Persia merupakan simbol kekuatan tradisional negara itu di Asia Barat, maka Ain al-Assad dapat disebut sebagai salah satu simbol kekuatan modern AS di wilayah ini. Para pejabat AS berulang kali melakukan kunjungan ke Irak tanpa memberitahu pemerintah Baghdad, dan kadang-kadang bahkan meminta para pejabat Irak untuk datang ke Ain al-Assad.

Donald Trump dan istrinya berkunjung ke Ain al-Assad pada perayaan Natal tahun lalu tanpa pemberitahuan kepada pemerintah Irak, demikian juga dengan kunjungan Wakil Presiden Mike Pence dan istrinya untuk perayaan Thanksgiving.

Beberapa dampak penting serangan balasan Iran ke pangkalan militer AS antara lain:

Pertama, tindakan balasan Iran telah meruntuhkan wibawa dan hegemoni militer AS. Serangan terakhir yang dilakukan sebuah negara berdaulat ke pangkalan militer AS terjadi sekitar 80 tahun lalu ketika jet-jet tempur Jepang menyerbu pangkalan Pearl Harbor di Hawaii pada 7 Desember 1941. Serangan ini menyebabkan kerugian besar di pihak AS dan peristiwa ini menandai keterlibatan AS dalam Perang Dunia II.

Setelah berakhirnya Perang Dunia II dan kebangkitan kekuatan militer AS, tidak ada pemerintah yang berani secara resmi menyerang pangkalan militer AS kecuali beberapa kelompok bersenjata anti-Amerika. Serangan rudal Pasdaran Iran ke Ain al-Assad – setelah 80 tahun – telah meruntuhkan hegemoni militer AS. Aksi ini menunjukkan bahwa kekuatan militer AS terbukti rapuh dan rentan, meskipun telah membuat beragam klaim selama beberapa tahun terakhir.

Kedua, serangan itu telah meningkatkan penolakan terhadap kehadiran militer AS di Asia Barat dan secara khusus di Irak. Kelompok-kelompok perlawanan di Irak dan kawasan secara resmi menegaskan bahwa pembunuhan Letjen Soleimani akan terbalas dengan mengusir tentara AS dari kawasan.

Seorang pakar Asia Barat, Matthias Brugman, dalam analisis yang diterbitkan oleh surat kabar Jerman Handelsblatt, menggambarkan pembunuhan Letjen Qasem Soleimani sebagai salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan pemerintah AS, di mana kembali membangkitkan kritik terhadap AS dari segala arah.

Saat ini, muncul tekad kuat di tengah kelompok-kelompok perlawanan untuk mengusir pasukan AS dari kawasan. Serangan beruntun terhadap pangkalan militer AS di Irak pasca pembunuhan Letjen Soleimani, telah menciptakan kondisi yang sangat sulit dan tidak aman bagi pasukan AS khususnya di Irak, untuk bertahan. Kubu perlawanan menyatakan tujuan jangka panjang mereka adalah mengusir pasukan AS, sebuah tujuan yang mungkin terwujud.

Ketiga, perang psikologis AS terhadap Iran mengalami kekalahan. Pemerintah teroris AS berusaha mengesankan serangan Iran terhadap pangkalan militer Ain al-Assad sekedar operasi "simbolis" untuk memuaskan tuntutan publik di dalam negeri.

Jutaan warga Tehran menghadiri acara tasyi' jenazah Syahid Soleimani.
Namun, Dara Massicot, seorang pakar senior dalam studi strategis dan keamanan nasional dari US Naval War College dan peneliti politik di RAND Corporation, membagikan gambar satelit yang memperlihatkan kerusakan di pangkalan Ain al-Assad akibat serangan rudal balistik Iran.

"Saya bukan ahli Iran, tapi saya seorang analis militer. Ketika saya melihat efek dari serangan Iran terhadap pangkalan udara Ain al-Assad, saya tidak melihat itu serangan simbolis yang dirancang untuk menghindari jatuhnya korban, seperti spekulasi sebagian orang. Serangan itu tampaknya menargetkan kemampuan militer pangkalan tersebut," ujarnya.

Keempat, aksi teror terhadap Letjen Soleimani dan serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS, telah memperkuat posisi kelompok-kelompok perlawanan di kawasan.

Mantan Duta Besar Iran untuk Inggris, Sayid Jalal Sadatian menuturkan, "Lingkup pengaruh Letjen Soleimani tidak hanya terbatas di Irak, Suriah, Lebanon, Yaman, Palestina dan sejenisnya, tetapi mencakup seluruh wilayah Asia Barat."

Oleh karena itu, kubu perlawanan dan kelompok-kelompok penentang kehadiran AS di kawasan, telah meningkatkan manuvernya di wilayah Asia Barat.

Menurut Jalal Dehghani Firoozabadi, teror komandan Pasukan Quds Iran sebenarnya merupakan sebuah upaya untuk meneror pengaruh dan kehadiran regional Iran, tetapi aksi itu secara praktis gagal.

Tidak diragukan lagi, tindakan pemerintah teroris AS dalam meneror Letjen Soleimani, telah meningkatkan ketegangan dalam hubungan Iran-Amerika. Dari satu sisi, Republik Islam untuk pertama kalinya melancarkan serangan rudal ke pangkalan militer AS, dan dari sisi lain kedua negara berada semakin dekat dengan perang.

Kejahatan itu telah meningkatkan kebencian dan kemarahan rakyat Iran terhadap AS, terutama karena pembunuhan "seorang pahlawan nasional" dan semakin menjauhkan kedua negara untuk menempuh jalur diplomasi, bahkan dengan mediasi pihak ketika untuk mengurangi tensi ketegangan.

Pada dasarnya, kejahatan AS dalam pembunuhan Letjen Soleimani dan rekan-rekannya, telah memaksimalkan permusuhan Iran terhadap AS dan melumpuhkan jalur diplomasi.

Kamis, 23 Januari 2020 15:52

Sejarah Panjang Blokade Jalur Gaza

 

Parlemen Republik Islam Iran dalam sebuah resolusi pada Januari 2010, menetapkan tanggal 29 Dey (19 Januari) sebagai Hari Gaza untuk mengenang perlawanan gigih warga gaza dalam perang 22 hari.

Jalur Gaza, Palestina memiliki luas 365 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 2 juta jiwa. Gaza memiliki 11 km perbatasan bersama dengan Mesir, 51 km perbatasan bersama dengan Palestina pendudukan, dan 40 km dengan pantai Laut Mediterania.

Gaza berada di bawah administrasi Mesir dari tahun 1948-1967, dan kemudian diduduki oleh rezim Zionis Israel dari tahun 1968-2005. Militer Israel menarik diri dari Gaza pada 2005 dan wilayah tersebut berada di bawah kendali Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas).

Rezim Zionis melakukan berbagai jenis kejahatan terhadap warga Gaza sejak 2005 sampai sekarang. Zionis memblokade Jalur Gaza secara total sejak 2006, dan memaksakan berbagai perang terhadap wilayah itu seperti perang tahun 2008, 2012, 2014, 2018, dan 2019.

Pada akhir 2008, rezim Zionis memulai sebuah perang baru dengan tujuan menghancurkan Hamas. Agresi ini dimulai pada 27 Desember 2008 dan berakhir pada 17 Januari 2009. Perang ini dikenal di Israel dengan nama "Operation Cast Lead," dan bangsa Arab menyebutnya sebagai Pembantaian Gaza atau Perang 22 Hari. Perang yang tidak berimbang ini membuat lebih dari 1.450 warga Palestina gugur syahid dan lebih dari 5.000 lainnya terluka.

Pada 2012, rezim Zionis memaksakan sebuah perang baru terhadap Gaza dan serangan mereka menggugurkan 163 orang Palestina dan melukai lebih dari 1.300 lainnya.

Israel kembali melancarkan serangan ke Gaza pada 8 Juli 2014 dan perang ini berlangsung selama 51 hari. Agresi ini membuat 2.158 warga Palestina gugur syahid dan lebih dari 11.000 lainnya cidera, infrastruktur Gaza hancur, dan kondisi kehidupan warga bertambah sulit.

Serangan rutin dan kilat rezim Zionis ke Gaza terus berlanjut setelah tahun 2014, namun perang empat hari pada Oktober 2018 menyebabkan kabinet Benjamin Netanyahu bubar, dan perang empat hari pada Mei 2019 menjadi salah satu penyebab kekalahan Netanyahu dalam pemilu parlemen Israel. Dalam serangan Mei 2019, sekitar 30 orang Palestina termasuk dua wanita dan satu bayi 14 bulan, gugur syahid dan 170 lainnya terluka.

Forum Nasional Keluarga Syuhada Palestina menyatakan bahwa 149 orang Palestina gugur syahid selama 2019, di mana 33 dari mereka adalah anak-anak. Berdasarkan laporan Forum ini, 112 orang Palestina gugur syahid di Jalur Gaza.

Selain agresi militer, rezim Zionis juga memberlakukan blokade penuh Gaza sejak 2006 dan kejahatan yang lebih buruk dari perang ini sudah berlangsung sekitar 14 tahun.

Ekonomi Gaza mengalami kerusakan parah akibat blokade, seperti yang diungkapkan oleh Jamal al-Khudhari, ketua Komite Nasional Anti Blokade Gaza. Dia mengatakan bahwa 2019 adalah tahun terburuk bagi ekonomi Gaza yang dikepung oleh Israel. Dampak blokade rezim Zionis dapat dirasakan di seluruh lini kehidupan warga. "Sutuasi di Gaza sangat memprihatinkan, khususnya di sektor ekonomi," ungkapnya.

Blokade Israel menjadikan para pelaku usaha tidak dapat menjalankan rumah produksi akibat terbatasanya pasokan barang mentah dari luar Gaza. Dengan alasan keamanan, rezim Zionis membatasi dan mengawasi secara ketat setiap barang yang masuk.

Al-Khudhari menyampaikan bahwa saat ini terdapat 2.500 warga Gaza berstatus sebagai pengangguran. Sedangkan angka kemiskinan bahkan mencapai 85 persen. Tingkat produksi turun 20 persen, karena blokade dan pergerakan impor dan ekspor terbatas. Dia juga menyatakan bahwa pabrik dan perusahaan di Gaza saat ini bekerja dengan kapasitas kurang dari 50 persen.

Menurut al-Khudhari, kerugian bulanan secara langsung dan tidak langsung di sektor industri, perdagangan, pertanian, dan konstruksi di Gaza mencapai sekitar 100 juta dolar pada 2019. "Sampai sekarang 20 persen dari pabrik-pabrik yang hancur dalam perang 51 hari pada musim panas 2914, belum diperbaiki dan para pemiliknya benar-benar kesulitan," ujarnya.

Serikat Industri Palestina mengumumkan bahwa lebih dari 520 pabrik di Gaza ditutup pada 2019 karena blokade rezim Zionis dan ribuan orang kehilangan pekerjaannya. Kondisi ini telah menambah angka kemiskinan dan pengangguran di Gaza.

Ketua Serikat Industri Palestina, Muhammed al-Mansi mengatakan blokade Israel terhadap Gaza selama lebih dari 10 tahun telah meruntuhkan sektor industri di wilayah itu. "Daya beli di Gaza sangat rendah sehingga membuat pabrik-pabrik menghentikan produksinya. Industri tekstil dan sektor menjahit paling banyak mengalami kerugian dari penutupan pabrik, di mana ribuan orang bekerja di sektor ini sebelumnya," ungkapnya.

Blokade Gaza menyebabkan kekurangan obat-obatan yang parah dan kematian banyak pasien, mengancam risiko kematian bagi ribuan pasien, serta kekurangan bahan makanan. Sejauh ini banyak lembaga internasional termasuk PBB, memperingatkan bahwa berlanjutnya blokade Gaza oleh rezim Zionis, secara praktis mengubah wilayah tersebut sebagai tempat yang tidak dapat dihuni.

Selain perang dan blokade, rezim Zionis terus meneror para komandan Palestina, termasuk pembunuhan salah satu pemimpin Jihad Islam, Baha Abu al-Ata pada 12 November 2019.

Ada dua poin penting terkait dengan perkembangan Jalur Gaza. Pertama, rezim Zionis melakukan semua kejahatannya dengan dukungan langsung Amerika Serikat. Pemerintahan Donald Trump mendukung Israel lebih dari para penguasa AS lainnya, dan dukungan ini diberikan melalui proposal Kesepakatan Abad.

Dukungan terbaru AS adalah mengakui pembangunan pemukiman Zionis di Quds pendudukan. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo secara resmi mengumumkan kebijakan Washington ini pada November 2019.

Dan kedua, meskipun adanya blokade Gaza, kekuatan pertahanan dan pencegahan kelompok-kelompok perlawanan Palestina meningkat secara signifikan. Dalam membalas agresi Israel pada Mei 2019, kelompok-kelompok perlawanan Palestina menembakkan 650 rudal ke wilayah pendudukan dalam empat hari.

Warga Gaza – meskipun menghadapi banyak kesulitan – memiliki tekad serius untuk melawan rezim Zionis, seperti pelaksanaan aksi pawai yang disebut "Hak Kepulangan" di Gaza. Kegiatan pawai sejauh ini telah menggugurkan 322 orang Palestina dan melukai lebih dari 31.000 lainnya.

Tidak diragukan lagi, jika kelompok-kelompok Palestina mengesampingkan perseteruan politik dan memperkuat persatuan mereka, maka kekuatan pencegahan kubu perlawanan akan meningkat berlipat ganda, sehingga rezim penjajah Israel tidak akan berani lagi menyerang Jalur Gaza. 

 

Tanggal 19 Januari adalah hari yang luar biasa dan membanggakan dalam sejarah negara dan rakyat Republik Azerbaijan. Kenyataannya, hari ini sekali lagi menunjukkan identitas asli rakyat Republik Azerbaijan kepada masyarakat internasional.

Tiga puluh tahun yang lalu pada 19 Januari 1990, di hari-hari terakhir sistem pengambilan keputusan Soviet yang terpusat, peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya terjadi di perbatasan Republik Islam Iran dan Uni Soviet, menjadikan hari ini selamanya abadi. Bahkan, setelah pembongkaran Tembok Berlin dan penyatuan kembali Jerman oleh orang-orang Jerman Timur dan Barat, orang-orang dari Aras Utara juga melakukan langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dengan runtuhnya sistem sosialis Uni Soviet, karena kelemahan pemerintah pusat Moskow, kontrol perbatasan hilang dan ketika orang-orang Republik Azerbaijan merasakan gangguan ini, mereka berbondong-bondong ke perbatasan Republik Islam Iran.

Sebelum peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, orang-orang Muslim, yang terpisah dari tanah air mereka, berdiri di tepi sungai Aras setiap hari, berteriak Allah Akbar dan La Ilaaha Illallah. Faktanya, orang-orang Muslim di Aras Utara, yang hanya "diberi tahu oleh media sistem sosialis Soviet tentang situasi internal di Iran, menyatakan cinta dan emosi dalam bentuk slogan-slogan tentang Iran dan warga Iran, dan bahkan tanah air.

Proses ini berlanjut selama beberapa waktu hingga pagi hari tanggal 9 Januari 1990, ketika pasukan Rusia terpaksa menyerah kepada rakyat karena padat berkumpul. Orang-orang Azerbaijan yang bersemangat, seperti pasukan besar, segera mencabut kawat berduri dan memasuki wilayah Iran. Kenyataannya, tindakan ini menunjukkan cinta dan kasih sayang yang tak berkesudahan dari rakyat Republik Azerbaijan ke Iran dan kembalinya ke identitas sejarah, budaya dan agama leluhur mereka.

Gerakan spontan rakyat Aras Utara memiliki pesan yang jelas bahwa selama 70 tahun pemerintahan Uni Soviet yang tersentralisasi dan dominasi sistem ateis komunis, tidak dapat mengubah identitas historis dan budaya masyarakat Aras Utara. Pada saat yang sama, propaganda anti-Iran dan anti-Islam dari para pemimpin Republik Sosialis Azerbaijan tidak mempengaruhi dan tidak dapat mendominasi lanskap budaya Iran yang kuat.

Faktanya, ikatan agama dan sejarah yang mendalam antara rakyat Iran dan Republik Azerbaijan muncul sebagai faktor penentu, dan dengan runtuhnya Uni Soviet dan kemerdekaan Republik Azerbaijan, proses pemulihan identitas historis dan keagamaan di negara ini telah memasuki fase baru. Poin yang perlu diperhatikan dalam hubungan ini adalah fakta bahwa orang-orang Muslim di Aras utara, yang sadar akan musim dingin yang sangat dingin dan aliran Sungai Aras yang parah, dalam gerakan spontan ini melewati air sungai yang menderu, sehingga sebagian meninggal.

Terlepas dari transparansi gerakan spontan masif dan belum pernah terjadi sebelumnya dari orang-orang Aras utara, beberapa politisi bodoh yang memerintah di wilayah beradab dan budaya Iran di utara Aras masih mencari cara untuk memisahkan populasi etnis di wilayah budaya dan peradaban yang kuat ini.

Tanggal 19 Januari 1990 adalah hari bersejarah dan tak terlupakan dalam sejarah rakyat Republik Azerbaijan. Karena pada hari ini, rakyat Aras Utara telah memilih kewarganegaraan masa depan mereka yang sebenarnya. Banyak orang Republik Azerbaijan yang sangat menyadari identitas asli dan sejati mereka menuju perbatasan bersama dengan Republik Islam Iran. Dan mengumumkan keinginan dan keyakinan mendalamnya untuk kembali pada budaya agama dan sejarah masa lalu mereka. Sejatinya, hubungan mendalam budaya, agama, dan historis yang mendalam dari orang-orang Muslim di kedua sisi Aras telah membuktikan bahwa mereka tidak rusak dan terkoyak.

Namun, dengan berlanjutnya kekuasaan sekuler Republik Azerbaijan dan terbentuknya rintangan besar dalam pencarian identitas sejarah, agama dan budaya, perjuangan serius atas ketidakadilan dan komprehensif dan keinginan mereka akan budaya Iran di utara Aras. Pada saat yang sama, meneliti tindakan dan perilaku para politisi yang memerintah Republik Azerbaijan menunjukkan bahwa proyek memalsukan dan mendistorsi peristiwa dan peristiwa bersejarah dan kesempatan instrumental dan tidak realistis telah menjadi kebijakan formal dan bertarget pemerintah Baku selama hampir tiga tahun dan selama hampir tidak dekade selalu dilakukan oleh pejabat pemerintah.

Pada kesempatan di hari yang penting ini, Ayatullah Sayid Hassan Amoli, Khatib Imam Jumat kota Ardebil dan wakil Pemimpin Besar Revolusi Islam di provinsi itu, menyebut tanggal 19 Januari sebagai Hari "Dunia Muslim Azeri".

Tanggal 19 Januari merupakan hari membanggakan bagi seluruh etni Azeri.

Wakil Rahbar di provinsi Ardebil meyakini bahwa masuknya warga Azeri melintasi perbatasan dan memasuki Iran pada Januari 1990, melintasi kawat berduri dan masuk ke Sungai Aras dan memasuki tanah Iran sebenarnya adalah "rumah bersejarah" dan "Baba Topraqi" dan "Tanah Air".

Jelas, hari seperti itu sangat dibanggakan oleh semua orang Azeri di dunia karena mereka membuktikan bahwa tahun-tahun tekanan, propaganda, pemboman intelektual, cuci otak dan penyiksaan yang mengerikan tidak berpengaruh pada identitas agama dan Islam dan bahwa orang-orang Azeri itu milik Iran dan Iran. Imam Jumat Ardabil menyatakan dalam sambutannya, "Mereka tiba di Iran tanpa visa pada saat itu. Meskipun secara hukum tidak mungkin dalam hubungan internasional, tetapi karena mereka semua berasal dari Iran dan memasuki tanah air mereka, tidak ada masalah."

Berbagai komentar telah disuarakan oleh para ahli di wilayah tersebut mengenai tanggal 19 Januari, yang oleh perwakilan Rahbar di provinsi Ardabil disebut sebagai Hari Muslim Dunia Azeri. Sebagai contoh, Dr. Izadi, Dekan Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial di Universitas Tabriz dan seorang ahli tentang masalah sejarah, mengatakan, "Menurut warisan sejarah dan kuno yang ada di Republik Azerbaijan, wilayah tersebut telah menjadi bagian dari budaya dan peradaban Iran dalam periode sejarah yang berbeda."

Mengacu pada ikatan budaya, sejarah dan agama yang kuat antara Iran dan Republik Azerbaijan selama beberapa abad terakhir, ia berkata, "Ketika kawasan utara Arab terpisah dari Iran, mayoritas orang dan elitnya di 17 kota Kaukasia tidak puas dengan pemisahan tersebut."

Dekan Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Tabriz mengadakan pertemuan ilmiah bertemakan "19 Januari; Latar Belakang, Fakta dan Perspektif" di Universitas Tabriz dan mengatakan:

"Pada periode Islam, beberapa dinasti dibentuk di daerah yang memiliki budaya dan peradaban Iran, Islam dan Syiah. Ini juga merupakan salah satu asal mula puisi dan sastra Persia selama beberapa abad terakhir, dan merupakan contoh hebat penyair besar seperti Nezami Ganjavi dan Khaghani Shervani. Puisi-puisi Farsi Nezami telah diterjemahkan ke dalam bahasa daerah dan kadang-kadang muncul di beberapa daerah seolah-olah terjemahan ini asli."

Akademisi ini melanjutkan dalam sambutannya, merujuk pada periode pemerintahan Tsar di bidang peradaban Iran, menekankan, "Selama periode ini, Rusia mencoba untuk menghilangkan atau membatasi efek dari bahasa dan aksara Persia, budaya dan peradaban, mazhab Syiah dan Islam di wilayah tersebut. Faktanya, selama pemerintahan Komunis, mereka sama-sama memisahkan mazhab dan memusnahkan sisa-sisa alfabet Persia."

Dalam ringkasan umum proses peristiwa penting dan bersejarah tanggal 19 Januari 1990, harus dikatakan bahwa hari ini telah dilestarikan dalam sejarah Republik Azerbaijan. Karena pada hari ini telah terjadi peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang menurutnya umat Islam Republik Azerbaijan menegaskan kembali sejarah, budaya dan agama leluhur mereka. Pada saat yang sama, telah terbukti bahwa Republik Azerbaijan adalah bagian dari peradaban Iran dan budaya historis dan bahwa tidak ada politisi yang dapat mengatasi pikiran rakyat Aras utara dengan mengadopsi kebijakan Iran tentang terorisme dan Islamisme.

 

Peristiwa serangan udara yang dilakukan militer AS terhadap Letjen Qasem Soleimani di sekitar bandara Baghdad, dan aksi balasan Iran dengan menembakkan rudal ke pangkalan militer AS di Irak hingga kini masih menjadi perhatian masyarakat dunia, termasuk di Tanah Air.

Banyak aspek dari peristiwa ini yang menyedot perhatian banyak kalangan, terutama para pengamat Timur Tengah. Zuhairi Misrawi, salah satu cendikiawan Nahdlatul Ulama yang juga pengamat Timur Tengah, melihat insiden ini memiliki dimensi yang penting yang berdampak besar bagi kawasan Asia Barat, bahkan dunia.

Jebolan departemen akidah-filsafat, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo ini mengungkapkan, tindakan militer AS meneror Qasem Soleimani atas instruksi langsung Donald Trump diyakini oleh sebagian masyarakat AS sendiri akan menyebabkan ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.

Direktur The Middle East Institute, Jakarta ini memandang tindakan AS tersebut melanggar hak asasi manusia dan hukum internasional karena melakukan serangan yang sangat brutal dan sadis.

"Kita tahu bahwa haji Qasem Soleimani datang ke Irak atas undangan resmi dari perdana menteri Irak. Oleh karena itu, dalih apapun yang dikatakan oleh presiden Donald Trump sama sekali tidak bisa dibenarkan. Kita melihat kecaman dunia termasuk dari dalam negeri AS sendiri bahwa tindakan yang dilakukan oleh Presiden Trump sangat tidak berdasar, melanggar hak asasi manusia, dan hukum internasional," ujar Zuhairi menjelaskan kepada jurnalis Parstoday.

Gelombang simpati begitu besar kepada martir Qasem Solaemani sebagai sosok terdepan dalam penumpasan teroris Daesh (ISIS) di Irak dan Suriah. Letjen Qasem Solaemani menjadi simbol penumpasan terorisme, sehingga kematiannya menimbulkan kesedihan besar tidak hanya di Iran, tapi juga berbagai negara dunia.

"Kita lihat betapa warga Iran sangat bersimpati ikut mendoakan Qasem Soleimani. Bahkan tidak hanya di Iran saja, tapi juga di Irak, Yaman, Lebanon, di beberapa negara Asia menunjukkan simpatinya yang luar biasa," papar analis Timur Tengah ini. 

"Kami sendiri di Indonesia mengutuk dan mengecam tindak tersebut. Ini memang salah satu bentuk penjajahan Amerika terhadap kedaulatan negara, terutama dalam hal ini adalah Iran yang tentu sangat kehilangan sosok yang tulus dan berdedikasi tinggi terhadap negaranya dan dikenal sebagai sosok yang terdepan melawan ISIS dan Alqaeda," tegas Zuhairi.  

Selengkapnya simak wawancara jurnalis Pastoday Indonesia dengan Zuhairi Misrawi berikut ini:

 

1. Bagaimana pandangan Anda mengenai aksi AS melancarkan serangan drone yang menyebabkan kesyahidan Qasem Soleimani ?

Menurut saya tindakan AS melanggar hak asasi manusia dan hukum internasional karena melakukan serangan yang sangat brutal dan sadis. Kita tahu bahwa haji Qasem Soleimani  datang ke Irak atas undangan resmi dari perdana menteri Irak. Oleh karena itu, dalih apapun yang dikatakan oleh presiden Donald Trump sama sekali tidak bisa dibenarkan. Kita melihat kecaman dunia termasuk dari dalam negeri AS sendiri bahwa tindakan yang dilakukan oleh Presiden Trump sangat tidak berdasar, melanggar hak asasi manusia, dan hukum internasional.

Kami sendiri di Indonesia mengutuk dan mengecam tindak tersebut. Ini memang salah satu bentuk penjajahan Amerika terhadap kedaulatan negara, terutama dalam hal ini adalah Iran yang tentu sangat kehilangan sosok yang tulus dan berdedikasi tinggi terhadap negaranya dan dikenal sebagai sosok yang terdepan melawan ISIS dan Alqaeda.  
2. Apakah ini termasuk terorisme internasional sebagaimana disebut Chomsky?

Ya, kita tahu bahwa ini sudah termasuk tindakan teror sebenarnya yang dilakukan Presiden Trump. Karena itu, kita mendengar bahwa ada upaya-upaya yang dilakukan untuk membawa kasus ini ke mahkamah internasional. Ini bisa menjadi satu kejahatan perang yang sama sekali tidak bisa ditolelir. Oleh karena itu, saya setuju dengan pandangan parlemen Iran yang menyatakan bahwa apa yang dilakukan presiden Trump adalah teror, dan tentara AS harus kita katakan sebagai teroris dengan melakukan pembunuhan terhadap Haji Qasem Solaemani.
3. Ada beberapa kalangan yang menyatakan bahwa aksi yang dilakukan Trump ini untuk menghindari pemakzulannya yang dilakukan DPR AS, bagaimana tanggapan pak Zuhairi?

Kita tahu bahwa memang posisi Presiden Trump di dalam negeri sedang terjepit, karena ada impeachment, penyalahgunaan kekuasaan Presiden Trump. Kita tahu bahwa dia ingin memulihkan posisinya dengan mengambil simpati melakukan tindakan-tindakan kasar terhadap Jenderal Qasem Solaemani. Kita tahu respon sebagian besar warga AS yang memandang tindakan ini menyebabkan Timur Tengah limbung, tidak stabil. Bahkan beberapa pihak menyatakan ini menunjukkan bahwa Presiden Trump tidak mempunyai satu peta politik luar negeri.

Bagaimanapun, kita tahu setelah wafatnya Qasem Solaemani ini wibawa AS semakin merosot, karena apa yang dilakukan Presiden AS sendiri.
4. Kembali ke masalah Iran, apa tanggapan Anda mengenai antusiasme masyarakat Iran dalam prosesi duka mengiringi jenazah martir Soleimani?

Ada dua. Pertama, pada ranah wibawa dan kedaulatan dari Iran. Kita tahu bahwa langkah AS membunuh Qasem Soleimani itu artinya bermakna bahwa seperti yang dikatakan oleh Rahbar bahwa Amerika sedang melampaui garis merah yang sebenarnya tidak boleh disentuh oleh AS. Ketika AS membunuh Qasem Soleimani tentunya Amerika sedang menyerang wibawa dari Iran itu sendiri. Jadi itu konteknya.
Kita lihat bahwa betapa warga Iran sangat bersimpati ikut mendoakan Qasem Soleimani, bahkan tidak hanya di Iran saja, tapi juga di Irak, Yaman, Lebanon, di beberapa negara Asia menunjukkan simpatinya yang luar biasa.

Kedua, terhadap sosok Qasem Soleimani sendiri ini maknanya bahwa Revolusi Islam Iran menemukan momentumnya kembali ketika seluruh warga Iran bersatu padu memberikan dukungan terhadap kepemimpinan Rahbar. Ini tentu berkah yang luar biasa.
Seperti dikatakan dalam al-Quran bahwa dalam kesyahidan selalu akan memunculkan kebangkitan dan kehidupan baru, sebagaimana terjadi di Iran. Jadi Qasem Soleimani dalam hidupnya membuat kebanggaan untuk Iran dan ketika matinya atau martirnya juga mempersatukan warga Iran, dan menunjukkan kepada dunia bahwa Iran terdepan bersatu melawan keangkuhan AS.
 

Warga Iran mengiringi jenazah Letjen Qasem Soleimani sebelum dimakamkan
Jadi kita tahu setelah serangan balasan Iran ke pangkalan AS di Irak, AS secara moral mengalami ketakutan atau kekalahan, karena ternyata Iran begitu kokoh, Iran begitu kuat tidak bisa diremehkan dan disepelekan oleh AS. Qasem Soleimani menjadi pemantik kebangkitan Iran melawan keangkuhan AS dan sekutunya di Timur Tengah.

5. Ada hal yang menarik dari komentar pak Zuhairi yang saya baca di berbagai media mengenai balasan Iran menembakkan rudal ke pangkalan militer AS di Irak tepat pada saat pemakaman Syahid Qasem Soleimani. Anda menyebutnya sebagai "Simbol khas Persia". Mungkin bisa dijelaskan mengenai istilah yang Anda pakai ini?

Orang-orang Iran dan peradaban Persia secara umum menggunakan simbol-simbol yang menyentuh hati, menyentuh perasaan. Ketika rudal-rudal ini ditembakkan ke pangkalan militer AS di Irak yang terjadi bersamaan dengan pemakaman Haji Qasem Soleimani itu maknanya luar biasa bahwa Iran tidak akan pernah takut melawan Amerika Serikat.

Iran akan bangkit, dengan kematian Qasem Soleimani akan lahir jutaan Qasem Soleimani yang siap membela negaranya. Maka kita lihat permainan simbolik dari Iran ini begitu menggetarkan, membangun satu heroisme baru. Kita lihat maknanya ditangkap betul oleh Trump bahwa ada puluhan juta rakyat Iran yang bersimpati dengan Qasem Soleimani. Ada puluhan juta rakyat Iran yang mendukung apa saja keputusan yang akan diambil Rahbar.
Makna-makna simbolik ini dipahami sangat mendalam oleh media-media Barat yang melihat apa yang dilakukan oleh Iran mengirimkan rudalnya di pangkalan militer AS di Irak pada saat prosesi pemakaman Qasem Soleimani. Hal Ini  menegaskan bahwa Iran tidak main-main dan akan melakukan pembalasan, dan akan terus berdiri berdiri tegak untuk melawan AS.

Kita lihat proses penghormatan jenazah Qasem Soleimani dari Karbala, kemudian ke Najaf, kemudian Ahvaz, lalu Mashhad, Tehran, Qom dan Kerman, itukan disiarkan langsung oleh media-media internasional. Iran sekarang jadi idola dunia, terutama dunia Islam. Kalau kita lihat juga di Indonesia, berita tentang Iran itu menjadi viral, youtubenya jutaan. Itu berbeda dengan berita-berita lain di Timur Tengah lainnya. Karena, makna-makna simbolik yang dimainkan Iran ini membangkitkan nasionalisme dan heroisme baru.

Ketika simbol ini digunakan untuk melakukan perlawanan, maka itu tidak hanya menyasar pangkalan militer AS di Irak saja, tetapi juga menyasar hati nurani Presiden Trump sendiri. Maka dalam jumpa pers yang disampaikan Trump setelah balasan rudal Iran, betul-betul kelihatan mengapa Presiden Trump gelagapan, tidak mempunyai moral untuk melakukan tindakan-tindakan balasan terhadap Iran.
6. Pertanyaan selanjutnya mengenai pernyataan dari Ayatullah Khamenei hari Jumat, termasuk yang menarik tentang sebagian dari khutbahnya yang disampaikan dalam Bahasa Arab, apalagi Anda lulusan universitas Kairo, apa pesan yang ingin beliau sampaikan ?

Pesan Rahbar kepada dunia Arab menarik dan menggugah kesadaran kolektif dunia Arab bahwa Amerika yang cenderung memecah-belah Timur Tengah selama ini disebabkan karena negara-negara Arab tidak bersatu, dan tidak memiliki kesadaran kolektif untuk melihat dan memahami peran destruktif Amerika Serikat.

Rahbar meminta dunia Arab sadar bahaya kehadiran AS yang terlalu dalam di kawasan Timur Tengah dan sebenarnya merugikan dunia Arab. Maka strategi atau visi dari Iran mengatakan bahwa Timur Tengah dan dunia Arab akan mengalami kemajuan dan kejayaan kalau mampu mengusir kehadiran dari tentara-tentara dan dominasi politik, bahkan ekonomi AS.
Nah, ini tentu akan menjadi wacana yang terus menggelinding tidak hanya di kalangan elit raja-raja atau pemimpin dunia Arab, tetapi juga masyarakat Arab,karena bagaimanapun pidato yang disampaikan Rahbar yang langsung disiarkan oleh stasiun-stasium televisi berbahasa Arab.

Hal ini akan menjadi satu wacana, satu visi; visi Iran untuk mengakhiri kehadiran pasukan AS di Timur Tengah itu juga harus disambut oleh negara-negara Arab. Sebab, bagaimanapun kesewenang-wenangan AS di Timur tengah sama sekali tidak bisa dibenarkan. Bagaimanapun setiap negara memiliki kedaulatan dan harus menghormati kedaulatan negara lain. Maka dalam prinsip diplomasi ada prinsip "Mutual Respect and mutual interest", saling menghormati, dan saling menguntungkan.
Kalau kita lihat AS tidak menghormati dan tidak menguntungkan dunia Arab. Nah saya kira, Rahbar menyampaikan satu pesan yang penting bagi dunia Arab dan mudah-mudahan para pemimpin dunia Arab punya kesadaran baru untuk memahami bahaya kehadiran AS di Timur Tengah.

Kamis, 23 Januari 2020 15:41

Pidato Rahbar di Jumat Bersejarah

 

Jumat, 17 Januari 2020, menjadi momentum yang yang tak terlupakan. Jutaan orang; tua, muda, laki-laki, perempuan, berkumpul di suatu tempat di bawah cuaca sangat dingin dan salju yang turun. Satu hal yang menjadi motif mereka, mengikuti shalat Jumat diimami Rahbar.

Beberapa hari lalu, sejarah kembali mencatat peristiwa penting yang terjadi dalam dinamika sosial politik Iran kontemporer. Jemaah Shalat Jumat di Tehran pekan ini membludak hingga ke jalan-jalan sekitar Mushalla Besar Imam Khomeini ra. Meskipun suhu berada di bawah 4 derajat celsius karena musim dingin telah masuk hari ke-27, namun tidak menghalangi warga Tehran untuk menunaikan Shalat Jumat.

Warga Tehran antusias hadiri shalat Jumat yang diimami Rahbar
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran membacakan surat Ibrahim ayat 5 yang berbunyi:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآیَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَکَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَکِّرْهُم بِأَیَّامِ اللَّـهِ ۚ إِنَّ فِی ذَٰلِکَ لَآیَاتٍ لِّکُلِّ صَبَّارٍ شَکُورٍ  

yang artinya, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah". Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.

Ayatullah Khamenei menyitir surat Ibrahim ini dan menggambarkan antusiasme puluhan juta orang warga Iran yang mengiringi prosesi duka Syahid Letjen Qasem Soleimani  sebagai tanda dari Ayyamullah, hari-hari Allah. Beliau berkata, "Hari ketika kita menyaksikan melihat tangan kuasa Tuhan dalam berbagai peristiwa. Hari ketika puluhan juta orang di Iran, serta ratusan ribu di Irak dan beberapa negara lain turun ke jalan-jalan untuk memberikan penghormatan terhadap darah komandan pasukan Quds Sepah Pasdaran yang menjadi sambutan terbesar di dunia. Itu adalah salah satu dari Ayamullah. Apa yang terjadi tidak lain dari kuasa Tuhan. Hari ketika rudal Korp Garda Revolusi Islam menghantam pangkalan militer AS juga salah satu dari Ayamullah,".

Beliau menegaskan, "Hari-hari tersebut telah berakhir, tetapi dampaknya masih terasa dalam kehidupan bangsa-bangsa, dalam spirit dan karakter mereka di jalur yang ditempuhnya. Efek-efek yang ditinggalkan hari-hari itu terus melekat dan sebagian akan abadi."

Di bagian lain pidatonya, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran  menyinggung perkembangan terakhir di Iran. Rahbar mengatakan, mereka yang mencoba menunjukkan sesuatu yang lain dari bangsa besar kita kepada masyarakat dan kpublik asing maupun opini publik domestik, tidak jujur kepada masyarakat; lihatlah siapa masyarakat Iran sebenarnya.

"Apakah beberapa ratus orang yang menghina gambar syahid yang kita hormati bersama, ataukah jutaan orang yang sangat besar turun ke jalan? Para juru bicara pemerintah AS yang jahat terus menerus mengulangi klaim 'kami bersama rakyat Iran'. Kalian berbohong! Jika kalian bersama orang-orang Iran mengapa berusaha menusukkan belati beracun ke dada bangsa Iran. Tentu saja tidak akan berhasil melakukannya, dan sampai sekarangpun kalian tidak akan bisa melakukannya."

Jutaan orang mengikuti shalat Jumat
Di bagian lain khutbahnya, Ayatullah Khamenei menyampaikan duka cita mendalam atas insiden jatuhnya pesawat Ukraina dan bersimpati kepada keluarga para korban. Rahbar mengungkapkan, "Sebesar kesedihan mendalam kita atas insiden jatuhnya pesawat ini, musuh kita berbahagianya, karena mereka mengira memiliki sarana untuk mempertanyakan Sepah Pasdaran, mempertanyakan angkatan bersenjata, dan mempertanyakan Republik Islam. Mereka ingin melakukan itu, mungkin supaya bisa mempengaruhi peristiwa besar itu, tapi mereka keliru. 

وَ مَکَروا وَ مَکَرَ اللهُ وَ اللهُ خَیرُ الماکِرین

Mereka melakukan makar, tapi tidak tahu bahwa makar mereka tidak berpengaruh menghadapi kekuasaan Allah, dan mereka tidak bisa melakukannya. Peristiwa Yaumullah persemayaman Syahid Soleimani, dan Yaumullah malapetaka di pangkalan militer AS tidak akan bsia dihapus dari ingatan bangsa ini, dan hari-hari Tuhan itu akan lebih hidup lagi,".

Masalah lain yang disoroti Rahbar dalam pidatonya mengenai sikap tiga negara Eropa; Inggris, Prancis, dan Jerman yang mengancam Iran akan melimpahkan membawa masalah nuklir ke Dewan Keamanan PBB. Ayatullah Khamenei menegaskan, "Ketiga negara ini adalah tiga negara yang pernah membantu Saddam Hossein selama perang yang dipaksakan kepada kita. Pemerintah Jerman memberi Saddam Hussein alat, bahan kimia, dan senjata kimia untuk menargetkan kota dan daerah di Iran dengan senjata tersebut, yang dampaknya masih dirasakan oleh para veteran pejuang kita. Perancis juga menyediakan helikopter tempur super standar kepada Saddam Hussein untuk menyerang kapal tanker minyak kita. Jejak mereka demikian.  Setelah Amerika Serikat keluar dari JCPOA, ketiga negara ini terus berbicara, mereka terus berkicau, ketika itu saya sudah tegaskan tidak mempercayai mereka; mereka tidak akan melakukan apa-apa, mereka akan melayani Amerika hari ini. Kini semua begitu jelas. Setelah berlalu sekitar setahun, sekarang ini benar-benar terbukti bahwa mereka  kaki Amerika, mereka  kaki Amerika." 

Rahbar juga menentang segala bentuk perundingan dengan Amerika Serikat, dengan menyatakan bahwa perundingan yang harus diprioritaskan kepada negara-negara tetangga, Asia Barat dan negara yang memiliki kepentingan bersama, daripada negara-negara Barat dan Amerika Serikat. beliau menegaskan, "Mereka mengajak berunding, tapi perundingan ini  bercampur dengan penipuan, dan tipu daya. Orang-orang yang muncul di meja perundingan,  tidak lain dari teroris di bandara Baghdad, mereka sama, mereka tidak berbeda, mereka berganti pakaian saja. Mereka menarik keluar sarung tangan beludru dan menunjukkan dirinya, tapi batin mereka sama saja, tidak berbeda sedikitpun. Mereka bukan orang yang bisa dipercaya."

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam pidatonya menegaskan bahwa Iran adalah negara kaya yang bisa berdiri dengan tegar menghadapi berbagai serangan, sanksi dan gerakan musuh. Beliau mengatakan, "Bangsa Iran terhormat harus menguatkan tekadnya berusaha menjadi lebih kuat. Sebab satu-satunya jalan ke depan bagi rakyat Iran adalah menjadi kuat. Kita harus berusaha menjadi kuat. Kita juga tidak meninggalkan negosiasi, tapi tidak dengan Amerika Serikat, tapi dnegan yang lain. Tetapi tidak dengan posisi lemah, harus berdiri kuat, ini masalah kekuatan. Alhamdulillah kita memiliki kekuatan, dan dengan taufik ilahi akan lebih kuat lagi. Tentu saja, kekuatan bukan hanya kekuatan militer; kekuatan, kekuatan militer menyelamatkan dari ketergantungan ekonomi kita terhadap minyak. lompatan ilmiah dan teknologi harus berlanjut. Semua ini didukung oleh kehadiran bangsa kita tercinta."

Dalam khotbah kedua shalat Jum'at, Ayatullah Khamenei mengingatkan rakyat supaya senantiasa waspada terhadap musuh yang ingin mempengaruhi kondisi dalam negeri Iran, termasuk dalam masalah pemilu legislatif. Kemudian beliau melanjutkan pidatonya dalam bahasa Arab.

Rahbar dalam khutbahnya menyebut aksi teroris terhadap syahid Soleimani sebagai tindakan pengecut yang dilakukan musuh karena kelemahan dan ketidakmampuannya menghadapi Iran di medan perang. Tetapi IRGC menyerang balik pangkalan AS dengan rudalnya dan mencoreng rezim yang kejam dan arogan dengan hukuman utama pengusirannya dari kawasan.

Beliau juga menyinggung era baru Islam, dengan menekankan bahwa Amerika Serikat harus meninggalkan kawasan Asia Barat. Di Zaman baru ini Palestina akan dibebaskan dari cengkeraman rezim Zionis, dan semua bangsa akan mendekati tujuan luhurnya.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menjelaskan era baru Islam, dengan mengatakan, "Dunia Islam harus menghilangkan faktor-faktor pemicu perpecahan. Persatuan ulama, dan upaya menemukan solusi Islam untuk gaya hidup Islam. Kolaborasi universitas dengan meningkatkan kerja sama sains dan teknologi, akan membangun fondasi peradaban baru. Koordinasi media kita akan mereformasi budaya publik dari akarnya. Angkatan bersenjata kita akan menjauhkan dari potensi perang dan agresi di seluruh wilayah. Pasar kita, ekonomi negara kita akan mengeluarkan dari dominasi perusahaan penjarah. Perjalanan dan lalu lintas orang-orang kita akan menghasilkan persatuan dan persahabatan,".

Setelah Khutbah, momentum bersejarah ini diakhiri dengan shalat Jumat berjamaah yang diikuti jutaan orang warga Iran.


Tak syak, satu dari faktor penting keberhasilan Nabi Saw dalam menyebarkan budaya dan peradaban Islam adalah sikap beliau yang taat kepada hukum. Nabi Muhammad Saw sangat perhatian terkait pelaksanaan hukum-hukum ilahi.

Ketika orang-orang berlaku buruk kepada pribadinya, yang dilakukan adalah memaafkan mereka, tapi ketika ada yang melanggar hukum-hukum ilahi, Nabi Saw tidak akan memaafkannya. Karena hukum adalah pelindung keamanan dan penopang eksistensi masyarakat. Nabi Saw sangat serius dalam menjaga pelaksanaan hukum dan tidak akan mengorbankan masyarakat demi seseorang.

Ayatullah Jakfar Sobhani, marji besar Iran terkait sikap para pemimpin agama menulis, "Pribadi-pribadi langit pasti melaksanakan undang-undang ilahi dengan berani dan tidak mengikutkan perasaan, hubungan keluarga serta kepentingan materi. Nabi Muhammad Saw merupakan pelopor dalam pelaksanaan hukum-hukum Islam." Nabi Saw sebagai pemimpin yang taat undang-undang secara nyata membuktikan bahwa untuk menciptakan masyarakat yang displin, maka itu harus dimulai dari pemimpinnya yang taat kepada hukum.

Sebagaimana telah diketahui bahwa Nabi Muhammad Saw diutus oleh Allah Saw untuk membentuk pemerintah, sementara dalam proses pembentukan pemerintah yang paling penting adalah jaminan pelaksanaan hukum-hukum ilahi. Pemerintahan agama dan ilahi akan memberikan kesucian bagi kehidupan manusia di seluruh dimensinya lewat pelaksanaan hukum-hukum ilahi.

Dari sini, pemerintahan islam pada dasarnya adalah pemerintahan hukum ilahi atas manusia. Yakni, pemerintahan Islam sendiri bukan prinsip, tapi sarana yang tujuannya adalah melaksanakan hukum-hukum ilahi. Penerapan undang-undang yang baik bakal menciptakan keadilan, kesejahteraan, keteraturan, pertumbuhan dan kemajuan di tengah masyarakat. Oleh karenanya, pemerintah berkewajiban untuk melaksanakan hukum tanpa pilih kasih.

Nabi Muhammad Saw berusaha keras untuk mengikis kebiasaan Jahiliah, merasa superior di banding yang lain dan jurang sosial di antara warga Arab yang muslim. Untuk itu sudah banyak langkah yang ditempuh oleh beliau, sehingga jelas bagi semua bahwa antara orang miskin dan budak tidak ada bedanya dari sisi kemanusiaan dengan orang-orang kaya dan tokoh. Rasulullah Saw dalam menjalankan undang-undang hanya memperhatikan kebenaran dan tidak pernah pilih kasih.

Beliau menilai upaya mempertahankan undang-undang sebagai faktor yang menjaga keselamatan rakyat dan pemerintah. Sebaliknya, melawan hukum bakal menjerumuskan masyarakat kepada kehancuran. Itulah mengapa beliau dengan tegas melarang adanya diskriminasi dalam pelaksanaan undang-undang. Beliau bersabda, "Bani Israil binasa dikarenakan satu sebab dimana mereka menjalankan hukum hanya untuk orang kecil, sementara mereka tidak menerapkannya kepada para tokoh dan orang-orang berpengaruh."

Nabi Muhammad Saw tidak pernah mengizinkan seseorang menilai dirinya lebih tinggi dari undang-undang. Dengan dasar ini, Nabi Saw selama masa risalahnya mencegah setiap bentuk penyalahgunaan dari orang-orang terdekatnya. Beliau tidak pernah memberikan kesempatan kepada mereka dengan alasan kekeluargaan atau kedekatan dengannya untuk mendapatkan perlakuan istimewa di tengah-tengah masyarakat.

Diriwayatkan dari Imam Shadiq as bahwa ketika diturunkan ayat zakat, beberapa orang dari Bani Hasyim mendatangi Nabi Saw dan memohon agar mereka diberi tanggung jawab mengumpulkan zakat dengan alasan kedekatan keluarga. Karena mereka tahu bahwa orang yang membagikan zakat termasuk orang-orang yang mendapat bagian zakat. Nabi Saw bersabda, "Sedekah dan Zakat diharamkan kepada saya dan Bani Hasyim." Setelah itu beliau menambahkan, "Apakah kalian berpikir bahwa saya dan kalian lebih baik dari yang lain?"

Sepanjang masa risalahnya, Nabi Muhammad Saw senantiasa menjadikan keadilan sebagai pedoman segala aktivitasnya. Imam Ali as dalam menjelaskan sirah Nabi Saw berkata, "Jalan dan perilaku beliau seimbang, metodenya benar dan kokoh, ucapannya mencerahkan kebenaran dari kebatilan dan hukum yang dikeluarkannya bersifat adil."

Satu dari simbol persamaan dalam sirah Nabi Muhammad Saw adalah kesamaan khumus, zakat dan sedekah yang harus dikeluarkan oleh umat Islam. Model pajak yang diambil dari semua pemasukan dan kekayaan setiap muslim yang lebih dari ketentuan yang ada dan tidak ada yang mendapat keistimewaan dalam hal ini. Sebagian besar pemasukan dari pajak ini dialokasikan untuk orang-orang yang tidak mampu dan miskin. Dengan demikian, kekuasaan dan kekayaan tidak bertumpuk pada sekelompok orang saja, sekaligus mencegah kemiskinan dan menjadi sarana bagi keadilan sosial.

Satu lagi dari kelaziman persamaan dalam sebuah masyarakat adalah tersedianya fasilitas yang sama bagi semua masyarakat untuk tumbuh dan menyempurna. Salah satu contoh pentingnya adalah fasilitas pendidikan. Yakni, dalam sebuah masyarakat, setiap orang tanpa memandang kelompok masyarakat tertentu, hanya dapat melanjutkan pendidikannya berdasarkan kelayakan dan potensi yang dimilikinya. Dengan usaha keras seseorang dapat melewati pelbagai tahapan kesempurnaan dan kelayakan.

Sekaitan dengan hal ini, Rasulullah Saw bersabda, "Menuntut ilmu bagi setiap muslim adalah wajib." Dari hadis ini dapat dipahami bahwa diskriminasi dalam pendidikan dan upaya mendapatkan pendidikan yang layak serta fasilitasnya tidak memiliki tempat dalam sirah Nabi Saw. Gerakan universal ini dan pernyataan Rasulullah tentang persamaan dalam menuntut ilmu akan mendapat tersendiri dengan melihat kondisi waktu itu yang sarat diskriminasi dalam segala bidang. Pada waktu itu hanya orang mampu dan kaya saja yang mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu, tapi di Madinah, kota Nabi Saw tidak terlihat lagi tanda-tanda diskriminasi semacam itu.

Dalam sirah perilaku Nabi Muhammad Saw, keadilan dalam menjalankan hukum dilakukan dengan bentuknya yang paling sempurna. Dinukil dalam peristiwa penaklukan kota Mekah, ada seorang perempuan dari kabilah Bani Makhzum yang melakukan pencurian dan dari sisi pengadilan telah terbukti bahwa ia mencuri. Keluarga perempuan itu yang masih mengikuti pola sistem kelas sosial di masa Jahiliah menilai pelaksanaan hukuman terhadap perempuan itu menjadi noktah hitam bagi keluarga besarnya. Oleh karenanya, mereka berusaha untuk menghentikan pelaksanaan hukuman itu.

Mereka mengirim Usamah bin Zaid yang sama dicintai Rasulullah Saw seperti ayahnya agar Nabi Saw sudi memberikan pengampunan. Tapi ketika Usamah hendaknya membuka mulut meminta pengampunan, wajah Nabi Saw terlihat marah dan dengan keras berkata, "Di mana ada tempat pengampunan? Apakah boleh kita tidak melakukan hukum ilahi?" Usamah mengetahui kesalahan yang diperbuatnya dan langsung meminta maaf kepada Rasulullah.

Sore hari itu juga, Rasulullah Saw menyampaikan pidatonya di hadapan umat Islam demi menghilangkan pikiran diskriminasi dalam pelaksanaan hukum dari benak masyarakat. Beliau berbicara tentang masalah keadilan dalam melaksanakan undang-undang dan bersabda, "Umat-umat terdahulu mengalami kemunduran dan bahkan kehancuran dikarenakan melakukan diskriminasi dalam melaksanakan hukum. Bila ada satu dari kalangan priyayi melakukan kesalahan, mereka tidak menghukuminya, tapi bila orang tidak mampu melakukan kesalahan yang sama, mereka langsung menghukumnya. Demi Allah yang jiwaku berada di tangannya! Saya akan tegar dan tegas dalam melaksanakan keadilan, sekalipun pelaku kejahatan itu adalah dari keluargaku."

Bila diperhatikan,Nabi Muhammad Saw tidak melakukan diskriminasi dalam melaksanakan undang-undang dan tidak menerima wasilah siapapun untuk memaafkan pelaku kejahatan. Nabi Saw begitu keras melarang umat Islam untuk meliburkan hukum ilahi. Beliau melaksanakan semua hukum ilahi secara adil terhadap semua orang, bahkan kepada dirinya sendiri.


Sebagaimana telah disebutkan dalam penjelasan sebelumnya bahwa undang-undang dan supremasi hukum telah menjadi perhatian manusia sejak awal kehidupan sosialnya.

Sepanjang sejarah, banyak orang yang berusaha menyusun undang-undang dan memberikan kekuatan hukum padanya demi mencipakan keteraturan di tengah masyarakat dan atau memiliki tujuan lainnya. Tapi pengalaman manusia menunjukkan bahwa undang-undang manusia ternyata tidak mampu menciptakan masyarakat yang taat hukum. Karena ketaatan terhadap hukum menjamin kebahagiaan manusia di seluruh bidang. Bahkan boleh dikata para pelaksana undang-undang juga tidak menjaga kehormatan undang-undang dan juga tidak mengamalkannya.

Satu-satunya undang-undang yang dapat menciptakan masyarakat yang sehat dan taat hukum adalah undang-undang ilahi. Begitu juga hanya para nabi dan pengganti mereka yang benar-benar taat hukum dan menjadikan hukum sebagai pedoman aktivitas mereka serta mengamalkannya dengan baik dan benar. Hanya mereka yang benar-benar menjaga kehormatan hukum ilahi. Di antara undang-undang ilahi, ajaran Islam yang memberikan kehidupan ini merupakan yang paling sempurna dari sekian undang-undang ilahi yang pernah diturunkan oleh Allah Swt. Ajaran Islam sebagai penyempurna semua undang-undang ilahi dan dibawa oleh pamungkas para nabi.

Hasil pertama dari undang-undang adalah keteraturan dan undang-undang sama dengan menghormati aturan. Menyepelekan undang-undang yang mengawasi perilaku sosial manusia yang paling sederhana sekalipun dapat merusak wajah masyarakat, bahkan bisa menciptakan krisis dan kebuntuan. Dalam sebuah masyarakat yang tidak menghormati supremasi hukum, maka dapat dibayangkan setiap orang dapat melakukan perbuatan apa saja yang diinginkannya. Dan ini merupakan kondisi terburuk yang bisa dibayangkan dalam sebuah masyarakat. Stress, kerusuhan dan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain menjadi hasil alami dari ketiadaan hukum.

Ketika al-Quran diturunkan kepada manusia, masyarakat Arab waktu itu tidak teratur, terpisah dan berpecah belah. Tapi al-Quran berhasil memperbaiki masyarakat terkebelakang masyarakat Arab itu dengan ajaran lahit yang benar seperti disebutkan dalam al-Quran, "... dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya ..." (QS. Ali Imran 103)

Sesuai dengan ayat-ayat al-Quran, ciri khas lain dari masyarakat Arab waktu itu adalah syirik, mengingkari Ma'ad atau hari kebangkitan, percaya hal-hal khurafat, kebobrokan moral, penindasan, menaati setan, kebodohan dan kesesatan. Di tengah-tengah semua kebobrokan, kesulitan dan perpercahan yang ada di masyarakat Arab waktu itu, Allah Swt menurunkan al-Quran. Dengan demikian, al-Quran berhasil mengubah nasib masyarakat Arab waktu itu dengan undang-undang yang komprehensif. Undang-undang ilahi menggantika segala kecemasan dengan ketenangan, kekacauan dengan keteraturan, kebuasan dengan persahabatan dan lain-lain. Kinerja agama dapat terulang kembali di setiap masa. Setiap masyarakat yang ingin berjalan dengan kaidah agama dapat meriah kebahagiaan.

Satu lagi harapan dari supremasi hukum adalah menciptakan keadilan. Yakni, semua menginginkan undang-undang dilaksanakan secara adil. Undang-undang harus tidak berpihak dan menentukan hak setiap orang dengan adil. Sekaitan dengan hal ini, diharapkan undang-undang dilaksanakan sedemikian rupa sehingga akal sehat dan hati nurani manusia dapat menerimanya. Undang-undang yang adil harus berdasarkan akal dan sesuai dengan kebutuhan riil manusia, bukan mengikuti kepentingan kelompok dan hawa nafsu pribadi.

Al-quran menyebut tujuan pengutusan para nabi dan pengiriman kitab langit untuk menegakkan keadilan. Satu prinsip keadilan dalam Islam adalah semua manusia sama di hadapan hukum. Pada dasarnya setiap manusia tidak memiliki kelebihan dibandingkan lainnya. Pencipta dan tujuan penciptaan semua manusia adalah sama. Tidak ada seorang yang diciptakan untuk menjadi hamba bagi lainnya dan tidak ada kelompok tertentu yang menjadi pemimpin bagi lainnya. Berdasarkan undang-undang al-Quran, hanya takwa yang menjadi tolok ukur kelebihan satu orang dengan lainnya, itupun di akhirat.

Undang-undang Islam yang adil dapat ditemukan dalam al-Quran dan Sunnah. Undang-undang ini mengatur seluruh dimensi kehidupan manusia. Dengan kata lain, dengan melaksanakan undang-undang ilahi, maka keadilan akan tercipta di segala bidang. Pemerintah yang berdasarkan undang-undang Islam akan berlaku adil, pengadilan menjadi tempat orang-orang lemah mendapatkan hak-haknya, penyusunan undang-undangpun dilakukan berdasarkan keadilan. Setiap orang sama di hadapan hukum dan semua memiliki hak yang sama. Keadilan sosial dan ekonomi juga akan tercipta.

Hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan hubungan di antara manusia termasuk yang telah diatur dalam al-Quran dan Sunnah Nabi dan Ahli Bait as. Setiap bagian dari hubungan ini memiliki undang-undang yang detil. Mengamalkan undang-undang ini berarti mengatur hubungan ini sesuai dengan takarannya. Demi mengontrol dan menghilangkan faktor-faktor yang menghancurkan manusia, al-Quran telahmenyiapkan undang-undang yang komprehensif dan abadi. Mengamalkannya akan membuat masyarakat selamat dari kegelapan dan meraih kesempurnaan hakikinya. Supremasi hukum dan mengamalkan undang-undang ilahi bakal memekarkan segala potensi yang ada. Undang-undang ilahi juga menentukan batasan kebebasan manusia, mencegah terjadinya penindasan dan mengajak semua manusia untuk bersama-sama menuju kesempurnaan.

Masalah penting lainnya terkait undang-undang adalah jaminan pelaksanaannya. Al-Quran menyebut iman kepada Allah dan percaya akan Ma'ar atau hari kebangkitan sebagai jaminan pelaksanaan undang-undang ilahi. Artinya, jaminan pelaksanaan undang-undang ilahi ada dalam diri manusia sendiri. Pribadi mukmin bukan hanya tidak membutuhkan "polisi" untuk melaksanakan perintah ilahi, tapi dirinya sendiri menjadi motifator bagi orang lain untuk melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan buruk. Iman merupakan modal maknawi paling penting manusia. Iman hakiki memiliki dampak dan hasil yang banyak dan luar biasa seperti tegar dalam menghadapi segala masalah, layak mendapat berkah dunia dan langit dan jelas dan tegas dalam mengambil keputusan.

Manusia beriman dengan penuh keikhlasan serius mengenal hukum dan perintah Allah lalu mengamalkannya. Dengan kata lain, orang beriman adalah orang-orang yang berserah diri di hadapan Allah. Setiap penyerahan diri ini semakin mutlak di hadapan undang-undang ilahi, kesiapan untuk mengamalkannya akan semakin besar. Iman dan amal saleh merupakan dua wajah yang saling memperkuat. Hasilnya, yang paling berpengaruh dalam memperluas undang-undangadalah memperdalam keimanan. Dengan cara ini, setiap orang tanpa ada pengawas tetap akan mengamalkan undang-undang.

Seluruh masalah, penyimpangan dan pelanggaran terhadap undang-undang kembali pada tidak adanya iman yang hakiki kepada Allah Swt. Padahal, seorang mukmin meyakini bahwa Allah mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi. Begitu juga keyakinan ini membuat seorang yang melanggar hukum mendapat dua balasan; dunia dan akhirat. Balasan akhirat lebih penting dan lebih sulit. Jadi, bila seorang yang melanggar hukum dapat meloloskan diri dari hukuman di dunia, maka ia tidak akan pernah bisa selamat dari hukuman akhirat. Melaksanakan ajaran-ajaran agama akan diberikan balasan yang lebih baik di akhirat. Keyakinan seperti ini memiliki dampak luar biasa dalam perilaku individu dan sosial seseorang dan yang lebih penting mereka akan terjaga dari ketergelinciran dan pelanggaran terhadap hukum.

Kehidupan sosial yang sehat akan terwujud bila orang-orang menghormati hukum, batasan dan hak orang lain, menilai keadilan sebagai sesuatu yang suci dan mengasihi sesama. Dalam masyarakat yang semacam ini, setiap orang akan mencintai sesuatu bagi orang seperti ia mencintainya untuk dirinya sendiri. Bila ia tidak menyukai sesuatu, ia tidak akan melakukannya kepada orang lain. Selain itu, sesama anggota masyarakat saling percaya. Penguatan nilai-nilai positif akhlak dalam jiwa manusia dan penghormatan setiap orang akan nilai-nilai akhlak akan memunculkan semangat ketaatan dalam dirinya dan membuatnya lebih komitmen mengikuti undang-undang. Individu dan masyarakat yang komitmen terhadap akhlak tentu lebih memiliki kecenderungan untuk menaati undang-undang.

Banyak perintah akhlak dalam Islam yang memiliki dimensi sosial. Bila perintah akhlak ini dilaksanakan, maka secara alami orang yang melaksanakannya akan melaksanakan undang-undang. Melaksanakan satu prinsip akhlak memiliki dampak positif dan banyak bagi masyarakat. Bila semua tunduk pada hak dan undang-undang, maka kelazimannya adalah semua menghormati supremasi hukum. Setiap orang akan berusaha mendahulukan hak orang lain, bukannya melanggar hak orang lain. Manusia harus belajar bahwa sekalipun di alam pikiran, ia harus tetap menghormati hak orang lain.

Begitu pentingnya akhlak, sehingga Nabi Muhammad Saw menyebut tujuan pengutusan untuk menyempurnakan akhlak mulia. Karena dengan adanya akhlak, dengan sendirinya ada penghormatan terhadap undang-undang dan melaksanakannya. Tak syak bahwa satu dari faktor terpenting kesuksesan Nabi Saw dalam menyebarkan budaya dan peradaban Islam adalah sikap beliau yang taat pada hukum. Bahkan prinsip terpenting dalam sirah kehidupan beliau adalah taat pada undang-undang ilahi. Melindungi kehormatan undang-undang dan hukuman bagi pelanggar kehormatan undang-undang dengan keadilan memiliki posisi penting dalam agama Islam. Rasulullah Saw sendiri sangat memperhatikan masalah ini.