کمالوندی

کمالوندی

Kamis, 13 Juni 2024 22:12

Surat At Talaq 8-12

 

وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهِ فَحَاسَبْنَاهَا حِسَابًا شَدِيدًا وَعَذَّبْنَاهَا عَذَابًا نُكْرًا (8) فَذَاقَتْ وَبَالَ أَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهَا خُسْرًا (9) أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ آَمَنُوا قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا (10)

 

Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan Rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan. (65: 8)

 

Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan adalah akibat perbuatan mereka kerugian yang besar. (65: 9)

 

Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, (65: 10)

 

Di episode sebelumnya dibahas mengenai hukum keluarga terkait talak. Dalam ayat ini Allah Swt memperingatkan muslim bahwa jika kalian tidak bertindak sesuai dengan perintah Tuhan di berbagai urusan pribadi, keluarga dan sosial, maka kalian akan menderita akibat yang parah seperti generasi sebelumnya.

 

Ketidaktaatan kepada Allah mempunyai hukuman berat yang menimpa manusia di dunia dan di akhirat. Tentu saja hukuman ini didasarkan pada keadilan dan perhitungan yang cermat, sehingga di satu sisi tidak ada seorang pun yang dirugikan, dan di sisi lain diperhitungkan perbedaan antara yang baik dan yang buruk.

 

Lanjutan ayat tersebut berbunyi: Ambillah hikmah dari kaum-kaum yang membangkang dan tidak taat di masa lalu dan ketahuilah bahwa nasib orang-orang yang durhaka tidak lain hanyalah kerugian di dunia dan di akhirat. Jangan disangka mereka adalah orang-orang pintar dan cerdas yang meraih kemenangan di dunia ini, karena kehidupan manusia tidak berakhir dengan kematian dan yang terpenting adalah kondisi dan nasibnya di akhirat.

 

Sebagian orang beranggapan bahwa siksa dunia akan menyelamatkan seseorang dari hukuman akhirat, padahal masing-masing siksa itu menimpa seseorang sebanding dengan kemaksiatan kepada Allah. Orang bijaksana yang beriman kepada Tuhan mengetahui bahwa satu-satunya cara untuk lepas dari hukuman dunia dan akhirat adalah dengan bertakwa dan menghindari kemaksiatan kepada Tuhan.

 

Dari tiga ayat tadi terdapat empat pelajaran penting yang dapat dipetik.

1. Ketidaktaatan dan melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya akan mengakibatkan kerugian dan kehancuran dunia serta siksa yang berat di akhirat.

2. Janganlah kita berbangga dengan kesenangan dan kesuksesan sesaat yang datang karena ketidaktaatan dan pembangkangan melawan Tuhan; Sebaliknya, persoalan yang sangat penting adalah nasib dan akhir perbuatan manusia.

3. Akal dan iman tidak terpisah. Mengikuti akal akan membawa manusi kepada keimanan, dan menciptakan spirit takwa dalam dirinya.

4. Akal dan wahyu adalah sarana keselamatan. Keduanya senantiasa mencegah manusia dari hal-hal buruk, dan memperingatkannya sehingga ia akan meraih keselamatan dan kebahagiaan abadi.

 

رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آَيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا قَدْ أَحْسَنَ اللَّهُ لَهُ رِزْقًا (11)

 

(Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya. (65: 11)

 

Bersamaan dengan turunnya Al-Qur'an, Allah mengutus seorang nabi yang berdasarkan ayat-ayat kitab Allah yang jelas, menyeru manusia dari keburukan menuju kebaikan, dan mereka menerima seruan tersebut dengan iman dan amal saleh serta mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Perlu diketahui bahwa segala bentuk kemusyrikan, kekufuran, dan kemunafikan dalam beriman, dan segala bentuk kerusakan, kemungkaran, dan perbuatan dosa merupakan bentuk kegelapan bagi manusia. Oleh karena itu, para nabi datang untuk membawa manusia kepada tauhid dalam pemikiran dan keyakinan serta mengajak berbuat baik. Dalam hal ini manusia dibimbing dari kegelapan menuju terang dan menjadi bahagia.

 

Walaupun berbuat dosa, kerusakan, dan kemungkaran itu ada kenikmatan dan kebahagiaan, namun tentu saja kenikmatan itu hanya sesaat dan tidak stabil. Namun orang yang beramal saleh akan memperoleh kenikmatan yang tetap dan abadi yang tidak dapat diperoleh di dunia yang fana ini, dan hanya di surga akhiratlah seseorang dapat menikmati kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada habisnya itu. Di surga itu, Allah telah menyiapkan rezeki yang terbaik bagi orang-orang yang bertakwa.

 

Dari satu ayat tadi terdapat tiga pelajaran penting yang dapat dipetik.

1. Kitab samawi saja tidak cukup untuk memberi hidayah manusia, harus ada nabi yang membimbing manusi dikehidupan sehari-hari berdasarkan ajaran kitab samawi tersebut, dan para nabi ini menjadi teladan praktis bagi manusia.

2. Jalan yang sesat itu banyak dan tersebar, oleh karena itu kata kegelapan itu dalam bentuk jamak, tetapi jalan yang benar tidak lebih dari satu, oleh karena itu kata terang itu berbentuk tunggal.

3. Tujuan pengutusan para nabi adalah untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan yang mereka ciptakan sendiri, dan menarik manusia ini ke jalan yang terang dan kebenaran.

 

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا (12)

 

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (65: 12)

 

Ayat ini, yang merupakan akhir dari Surat At-Talaq, merujuk pada kebesaran alam semesta dan kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas dalam menciptakan dan merencanakan dunia dan mengatakan: "Tuhan menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi." Angka tujuh dalam ayat ini bisa berarti banyaknya bintang di langit atau banyaknya planet yang kondisinya mirip dengan bumi; Atau bisa juga merujuk pada suatu kenyataan di dunia yang belum diwahyukan kepada umat manusia dan akan menjadi jelas baginya di kemudian hari seiring dengan berkembangnya ruang lingkup ilmu pengetahuan.

 

Namun penciptaan saja tidak cukup, pengelolaan dan perencanaan dunia yang luar biasa ini, yang awal, akhir, dan dimensinya masih belum diketahui manusia meskipun terdapat peralatan dan teleskop yang canggih, adalah hal yang lebih penting yang mengungkapkan pengetahuan dan kekuatan tak terbatas sang Pencipta.

Dari satu ayat tadi terdapat tiga pelajaran penting yang dapat dipetik.

1. Tuhan yang kita percayai adalah Pencipta sekaligus Tuhan; Artinya, penciptaan dunia ada di tangan-Nya dan juga pengelolaan urusannya. Oleh karena itu, dua kata yang lebih banyak digunakan dibandingkan kata lain tentang Tuhan dalam al-Qur'an adalah Pencipta dan Tuhan.

2. Alam semesta merupakan ruang kelas terbesar untuk mengenal Tuhan dan kebesaran-Nya, meski sebagian orang hanya memandang makhluk dan mengabaikan Sang Pencipta.

3. Pengetahuan Tuhan tentang segala sesuatu adalah lengkap, akurat dan tanpa cela.

Kamis, 13 Juni 2024 22:11

Surat At-Talaq 1-7

 

Murtadha Muthahari (1298-1358 Hs) yang dikenal dengan sebutan Ustadz Muthahari dan Syahid Muthahari, adalah seorang pemikir, peneliti, ulama, sastrawan, dosen, dan salah satu ulama terkemuka Iran abad dua puluh.

Ayatullah Muthahari adalah murid Imam Khomeini dan mufasir besar Syi’ah, Allamah Tabataba’i, yang mampu menjadi ijtihad puncak dalam segala bidang kajian Islam, pemikir mendalam dan peneliti teliti, serta dalam beberapa bidang seperti filsafat, fiqih dan ushul fiqh. Syahid Mutahari adalah salah satu guru besar filsafat dan teologi Islam serta tafsir Al-Qur'an yang telah menulis banyak karya tentang berbagai topik menarik.

Selain kegiatan ilmiah, Muthahari memainkan peran penting dalam politik sebelum dan sesudah Revolusi Islam Iran. Beliau adalah salah satu orang berpengaruh dan salah satu pemimpin intelektual Revolusi Islam Iran. Di antara aktivitas Muthahari, kita dapat menyebutkan perjuangan melawan arus Marxisme, pendirian Hosseiniyeh Irshad untuk diskusi para intelektual, dan kepemimpinan di Dewan Revolusi hingga hari kesyahidannya.

Peringatan kesyahidan Ayatullah Muthahari di Iran dinamakan sebagai Hari Guru sebagai bentuk penghormatan terhadap kedudukan guru yang mulia dengan berbagai kiprahnya yang begitu besar.

Gerakan Pencerahan di Universitas

Pada tahun 1333 Hs, Ustadz Muthahari mulai mengajar di Universitas Tehran. Beliau mengajar di Fakultas Teologi dan Studi Islam di Universitas Tehran selama lebih dari dua puluh tahun. Ketika itu, Syahid Muthahari mengajar program di tingkat sarjana hingga doktoral mengenai ilmu-ilmu umum Islam dari logika, filsafat Islam, teologi, tasawuf, fiqih, dan ushul fiqh. Selain itu, beliau melakukan gerakan pencerahan di kampus dengan menyampaikan pandangannya menanggapi berbagai isu kontroversial seperti hubungan antara filsafat dan mistisisme, agama dan sains, sebagai isu lainnya.

Islam sebagai Pijakan

Syahid Mutahhari percaya bahwa Islam adalah agama yang tidak diperkenalkan dengan baik, sehingga seringkali disalahpahami. Faktanya agama ini berangsur-angsur berubah di mata masyarakat, dan alasan utamanya mengenai kehadiran sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam, tapi membawa ajaran yang salah. Dalam pandangannya, agama ini sangat dirugikan oleh sebagian orang yang mengaku mendukungnya. Oleh karena itu, Muthahari melancarkan gerakan pencerahan termasuk di universitas mengenai Islam dengan sudut pandang yang menarik dan dalam.

Menyingkap Penyebab Kecenderungan Materialisme

Buku Penyebab Materialisme merupakan penyelesaian dua kuliah Ustadz Muthahari di universitas Tehran yang diterbitkan pada tahun 1350 Hs. Karya ini ditulis pada saat di kalangan generasi muda sedang terjadi mengalami kecenderungan aliran materialistis, termasuk Marxisme. Dalam buku ini, syahid Motahari mengkaji peran gereja, konsep filosofis, sosial dan politik, dan lainnya dalam mendorong kecenderungan menuju materialisme, dan menjelaskan penyebab kemerosotan dan penyimpangan dalam bidang ini.

Pandangan Dunia Islam

Murthadha Motahari sangat cepat merespon berbagai perkembangan pemikiran ketika itu, termasuk beragam penyimpangannya dan memberikan solusinya dalam publikasi dengan kekhasan pandangan yang dalam dan ketajamannya.

Karya yang diterbitkan

Shahid Motahari menulis lebih dari 50 buku, beberapa di antaranya yang paling penting adalah: Pengantar Pandangan Dunia Islam, keakraban dengan Al-Qur'an, Islam dan tuntutan zaman; manusia sempurna, Revolusi Islam, Republik Islam, Pendidikan dalam Islam, Tauhid, kenabian, Maad, Imam Hosseini, keadilan ilahi, pelajaran dari Nahjul al-Balaghah, penyebab materialisme, alam semesta, filsafat akhlak, filsafat sejarah, masalah jilbab, hak-hak perempuan dalam Islam dan lainnnya.

Penasihat Terpercaya Imam Khomeini

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran dan jatuhnya rezim Pahlevi, Ayatullah Muthahari banyak melakukan aktivitas untuk menstabilkan pemerintahan Islam, termasuk menjadi penasihat Imam Khomeini yang paling penting dan terpercaya.

Kesyahidan

Setelah berakhirnya pertemuan pada tanggal 11 Mei 1358 tentang isu-isu terkini negara, seseorang di gang memanggil namanya dari belakang. Ketika Motahari menoleh ke belakang, dia dibunuh olehnya. Orang tersebut adalah salah satu anggota kelompok Furqan berbahaya bernama "Mohammed Ali Basiri". Kelompok yang mempunyai pandangan ekstrim terhadap agama dan masyarakat. Usai penembakan, Morteza Motahari dilarikan ke rumah sakit, namun pengobatan dokter tidak berhasil dan akhirnya ia syahid.

Sebagian dari pesan Imam Khomeini tentang kesyahidannya

“Meskipun menghadapi tangan orang-orang yang berkeinginan buruk dan suka berpetualang, tapi Revolusi Islam atas kehendak dan bimbingan ilahi telah meraih keberhasilan. Meskipun demikian, kerusakan yang tidak dapat diperbaiki terjadi pada negara ini, terutama di bidang Islam dan ilmu pengetahuan akibat ulah orang-orang munafik anti-Revolusi, seperti pembunuhan berbahaya terhadap mendiang ilmuwan besar dan ahli Islam, Haji Sheikh Murtadha Muthahari (semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian). Apa yang harus saya katakan tentang beliau yang memberikan jasa berharga bagi Islam dan ilmu pengetahuan, dan sangat disayangkan bahwa tangan pengkhianat mengambil pohon yang bermanfaat ini dari bidang ilmu pengetahuan dan Islam dan merampas buah-buahnya yang berharga dari semua orang. Muthahari adalah anak yang saya sayangi dan penopang yang kokoh dalam bidang agama dan ilmu pengetahuan serta pengabdian yang bermanfaat bagi Islam, bangsa dan negara. Semoga Allah swt menganugerahkan rahmat kepadanya."
Pandangan Ayatullah Khamenei mengenai Syahid Muthahari

“Jika upaya syahid [Mutahhari] untuk memenuhi kebutuhan intelektual berbagai lapisan dan mengangkat isu-isu baru tidak berdampak pada masyarakat, kini masyarakat Islam akan berada dalam situasi yang berbeda.”

Beberapa kata-kata terkenal dari syahid Muthahari

Jihad

Al-Qur'an menegaskan, jika ingin memasukkan rasa takut ke dalam hati musuh dan mencegah pikiran mereka untuk menyerang wilayahmu, maka persiapkan kekuatanmu dan jadilah pihak yang kuat. (Jihad hal.28)
Bekerja dalam Islam

Islam adalah musuh pengangguran. Manusia harus melakukan pekerjaan yang bermanfaat karena ia mendapat manfaat dari masyarakat. Pekerjaan adalah faktor konstruktif terbaik bagi individu dan masyarakat, dan pengangguran adalah faktor terbesar penyebab kerusakan. Oleh karena itu bekerjalah dengan baik. (Wahyu dan Nubuwah / hal. 118)
Posisi perekonomian

Mazhab Islam yang realistis dan tidak memandang ekonomi sebagai landasan, namun juga tidak mengabaikan peran pentingnya. (Sepuluh pidato / hal. 309)
Kehidupan Timur

Sudah saatnya Barat belajar falsafah hidup dari Timur, dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan industrinya. (Etika seksual / hal. 28)
Pandangan Dunia Monoteistik

Pandangan dunia monoteistik memiliki daya tarik dan daya pikat, memberikan vitalitas dan dorongan kepada manusia, menyajikan tujuan-tujuan yang luhur dan suci, serta menciptakan manusia yang tidak mementingkan diri sendiri. (Koleksi karya, vol. 2/hal. 84)
Rasulullah saw dan Konsultasi

Meskipun Rasulullah saw adalah seorang Nabi yang tidak mengharapkan masukan maupun pendapat mereka, namun beliau selalu berkonsultasi dengan masyarakat agar dapat memberikan karakter akhlak kepada mereka. (Hikmah dan Nasehat hal. 120)
Nabi Muhammad saw dan Masalah Palestina

Jika Nabi Muhammad saw masih hidup, apa yang akan beliau lakukan hari ini? Aku bersumpah demi Allah, Nabi Muhammad saw di makam sucinya hari ini akan marah terhadap orang-orang Yahudi. Aku bersumpah demi Tuhan, kita lalai. Demi Allah, persoalan yang membuat hati Rasulullah saw berdarah saat ini mengenai persoalan Palestina… Demi Allah, kita bertanggungjawab atas persoalan ini.

 

Menurut seorang analis, “Ayatullah Raisi seorang yang dicintai. Seorang yang tidak menyindur, tidak suka ribut, tidak menjadi oposisi, tidak suka menantang saingan politiknya.”

1. Dalam waktu singkat, Ayatullah Raisi pergi ke berbagai wilayah di Iran untuk mengunjungi dan menindaklanjuti segala pekerjaan, sehingga warga yang dikunjungi merasa seakan-akan dia baru saja datang kemarin.

Salah satu penyebab kerinduan warga Iran adalah karena mereka bisa menyentuhnya dari dekat berkali-kali. Saat puncak virus Corona melanda, dia mengunjungi rumah sakit dan apotek, seluruh masyarakat Iran merasa dia sangat memperhatikan mereka. Nah, wajar jika keakraban ini selalu menyertai, dan Masyarakat Iran pasti merasakan begitu banyak kerinduan dan kesedihan saat ini.

2. Ayatullah Raisi seorang yang dicintai. Seorang yang tidak menyindur, tidak suka ribut, tidak menjadi oposisi, tidak suka menantang saingan politiknya dan tidak pernah membuat masyarakat merasa khawatir. Nah, pribadi tanpa orang seperti itu tanpa batas dan penuh kesalehan pasti akan dicintai dan dicintai.

3. Hari ketika Ayatullah Raisi memimpin tempat suci Imam Reza as, dia menciptakan semangat spiritual di kalangan masyarakat. Hari ketika dia berpartisipasi dalam pemilihan umum presiden tahun 2017, meskipun dirinya kalah, tapi dia menciptakan semangat terhadap nilai-nilai ​​dan religiusitas di kalangan masyarakat umum.

Ketika Syahid Raisi menjadi Ketua Mahkamah Agung, dia melahirkan modal agama dan pada tahun 2021, saat memenangkan pemilihan umum presiden, dirinya meningkatkan semangat religiusitas dan idealisme. Jiwa pencari Tuhan dapat menciptakan gelombang religiusitas dan valueisme dalam masyarakat dalam tiga bidang yang tampaknya berbeda, mulai dari pengelola tempat suci Imam Ridha as dan Mahkamah Agung hingga bidang politik.

4. Meskipun Ayatullah Raisi telah meninggal dunia secara lahiriah, tapi kemenangan besar beliau adalah mempertegas rasa pengabdian pemerintah Republik Islam Iran kepada rakyat, yang diperkuat dan diperdalam dengan berkah kesyahidannya.

Darah syuhada selalu bertindak sebagai lawan dari musuh dan dapat mengganggu rancangan perang media dan ekonomi senilai jutaan dolar untuk mengubah perasaan dan perhitungan rakyat Iran. Jika kesyahidan Qassem Soleimani menyebabkan kebangkitan besar otoritas dan modal sosial Republik Islam, maka kesyahidan Ayatullah Raisi adalah langkah kedua dan selanjutnya, yaitu memperkuat rasa percaya, optimisme, dan pengabdian pemerintah dan Republik Islam Iran kepada rakyat.

 

Menurut Mohammad Ali Ansari, Ahli Tafsir Al-Quran, Allah SWT dalam ayat 35 surah Al-Anbiya berfirman, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”

"کُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوکُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَیْرِ فِتْنَةً وَإِلَیْنَا تُرْجَعونَ"

Dalam ayat tersebut terdapat poin-poin yang dapat diambil hikmahnya sebagai berikut:

Ayat 35 menyatakan hukum umum kematian bagi semua jiwa tanpa kecuali.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati."

"کُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ"

Setelah menyebutkan hukum umum kematian, timbul pertanyaan, apa tujuan dari kehidupan yang tidak berkelanjutan ini dan apa gunanya?

Al-Qur'an melanjutan ucapan ini dengan mengatakan, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”

"وَ نَبْلُوکُمْ بِالشَّرِّ وَ الْخَیْرِ فِتْنَةً وَ إِلَیْنا تُرْجَعُونَ"

Sebenarnya, jawaban Al-Qur'an adalah bahwa tempat utama manusia bukanlah di dunia ini, tetapi di tempat lain. Manusia hanya datang ke sini untuk mengikuti ujian, dan setelah menyelesaikan ujian dan mendapatkan kesempurnaan yang diperlukan, manusia akan pergi ke tempat utamanya, yang merupakan tempat tinggal di akhirat.

 

Mohammad Ali Anshari, salah seorang penafsir Al Quran, sekaligus ahli agama mengatakan, Nabi Muhammad SAW, telah berusaha keras meluruskan pemikiran-pemikiran keliru bangsa Arab, terkait anak perempuan.

Ia mengutip sebuah hadis dari Rasulullah SAW yang bersabda, «نِعمَ الوَلَدُ البَنَاتُ مُلَطِّفَاتٌ مُجَهِّزَاتٌ مُؤمِنَاتٌ مُبَارَکاتٌ مُفَلَّیَاتٌ» "Betapa baiknya anak perempuan, penuh kelembutan dan kasih sayang, siap melayani, membantu dan menghilangkan kesedihan, penuh berkah dan kesucian."
 
Ali Anshari menambahkan, Nabi Muhammad SAW menyebarluaskan budaya ini di tengah masyarakat Arab, sehingga pemikiran keliru terkait anak perempuan bisa disingkirkan, dan pemikiran jahiliyah yang merasuk dalam benak manusia bisa dicerabut.
 
Ia melanjutkan,
 
"Nabi Muhammad SAW bersabda, betapa baiknya anak perempuan, mereka lebih lembut dari anak laki-laki, dan memainkan peran lebih besar dalam mempersiapkan kehidupan, mereka orang yang supel, berkah Tuhan, ada di dalam wujud mereka, dan memiliki kesucian-kesucian yang terkadang tak dimiliki anak laki-laki."
 
Kata-kata indah ini disampaikan Nabi Muhammad SAW, untuk menegaskan kepada masyarakat bahwa anak-anak perempuan kalian punya nilai khusus di sisi Allah SWT.
 
Anshari mengutip hadis lain dari Nabi Muhammad SAW yang bersabda, «رحم الله اب البنات» "Semoga Allah SWT, merahmati mereka yang memiliki anak perempuan." Karena anak perempuan penuh berkah, dan menyenangkan.
 
«و هن الباقیات الصالحات» دختران برای پدر و مادر میراث نیک و صالحی هستند. "Anak perempuan adalah warisan kebaikan dan kesalehan bagi ayah dan ibunya."
 
Pada hadis yang lain, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Siapa pun yang memiliki dua anak perempuan, maka di hari kiamat, ia akan bersamaku."
 
Menurut Mohammad Ali Anshari, ini adalah perkataan yang sangat lembut dari Nabi Muhammad SAW tentang anak perempuan.
 
"Di hadis yang lain Rasululullah SAW bersabda, 'Allah SWT lebih menyayangi anak-anak perempuan kalian, dan setiap manusia yang menciptakan kegembiraan bagi anak perempuan, dan perempuan dewasa, maka hatinya akan gembira'," imbuhnya.
 
Pengajar Al Quran ini juga menyinggung sebuah peristiwa sejarah dan menuturkan, "Nabi Muhammad SAW menerima kabar gembira telah mendapatkan seorang anak perempuan di masjid, dan orang-orang berkata anak beliau perempuan. Nabi Muhammad SAW menyaksikan wajah orang-orang Arab, yang tidak menganggap anak perempuan mulia, dan berkata, «ریحانه اشمها» "Ia adalah seorang anak perempuan seharum bunga yang diberikan Allah SWT kepadaku." 

 

Doa hari ke-8 bulan suci Ramadan, mengandung ajaran-ajaran luhur Islam, terkait kasih sayang terhadap anak-anak yatim, memberi makan orang-orang lapar, memberikan salam, dan bersahabat dengan orang-orang dermawan.

Bulan suci Ramadan, adalah bulan diturunkannya kitab suci Al Quran, dan merupakan salah satu bulan terpenting untuk menjalin hubungan erat dengan Allah SWT.
 
Orang-orang yang berpuasa, karena berjuang menyucikan jiwanya dengan mengikuti perintah Allah SWT, memiliki kedekatan dengan Tuhan, dan kemungkinan terkabulnya doa semakin besar.
 
Oleh karena itu jenis doa, dan cara menyampaikan permohonan kepada Allah SWT, menjadi masalah yang sangat penting.
 
Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW, mereka yang paling sempurna meriwayatkan hadis-hadis Rasulullah SAW, mengajarkan doa-doa bulan suci Ramadan, yang merupakan metode terbaik untuk mewujudkan keinginan di dunia dan akhirat.
 
 

 
 
Syarah doa hari ke-8 bulan suci Ramadan, sebagai berikut,
 
 
Bismillahirahmanirahim
 
«اللهمّ ارْزُقنی فیهِ رحْمَةَ الأیتامِ وإطْعامِ الطّعامِ وإفْشاءِ السّلامِ وصُحْبَةِ الکِرامِ بِطَوْلِکَ یا ملجأ الآمِلین.»
 
"Ya Allah berilah kesempatan kepadaku di bulan ini untuk menyayangi anak yatim, memberi makan orang-orang lapar, menebarkan salam, dan bersahabat dengan orang-orang dermawan atas rahmat dan karunia-Mu Wahai yang melindungi mereka yang berharap."
 
 
Tafsir doa hari ke-8 bulan suci Ramadan,
 
 
1. Perhatian pada anak-anak yatim
 
 «اللَّهُمَّ ارْزُقْنِی فِیهِ رَحْمَهَ الْأَیْتَامِ»
 
Di dalam agama Islam, begitu juga di agama-agama lain di masa lalu, masalah anak yatim, dan berkasih sayang terhadap mereka, merupakan hal yang sangat dianjurkan.
 
Allah SWT dalam Surat Al Baqarah ayat 83 berfirman,
 
«وَإِذْ أَخَذْنَا مِیثَاقَ بَنِی إِسْرَائِیلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَیْنِ إِحْسَانًا وَذِی الْقُرْبَی وَالْیَتَامَی وَالْمَسَاکِینِ»
 
"Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling."
 
 

 
Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam memperlakukan anak yatim,
 
Rasulullah SAW bersabda, کُن لِلیَتیم کَالاَبِ الرّحیم berlakulah terhadap anak-anak yatim seperti ayah yang penuh dengan kasih sayang.
 
اِنّ فی الجَنَّهِ داراً یقالُ لَها دارُ الفَرَحِ لایَدخُلهَا اِلاّ مَن فَرَّحَ یَتامَی المؤمنین
 
"Di surga kelak akan dibangun sebuah rumah yang dikenal sebagai rumah kegembiraan, dan hanya orang-orang Mukmin, yang menggembirakan anak yatim yang bisa memasuki rumah itu."
 
Menggembirakan anak yatim tidak hanya terbatas pada pemberian bantuan finansial semata, ini hanya sebagian saja. Membantu anak yatim untuk melewati beragam krisis di berbagai jenjang usia sehingga dapat mencapai stabilitas kepribadian bermartabat, bernilai dan efektif di tengah masyarakat, merupakan kebutuhan penting anak yatim.
 
 
 
2. Memberi makan orang-orang lapar
 
 «وَ إِطْعَامَ الطَّعَامِ»
 
Orang-orang yang berpuasa merasakan kelaparan, maka dari itu bisa lebih memahami penderitaan yang dirasakan orang-orang lapar. Karenanya agama mengajarkan supaya kita berusaha untuk mengenyangkan orang-orang lapar.
 
Imam Jafar Shadiq as menyebut memberi makan orang-orang lapar sebagai amal terpuji dan menunjukkan keimanan seseorang.
 
«مِن الایمانِ حُسنُ الخُلقِ و اطعامُ الطّعامِ»
 
"Salah satu tanda iman adalah berakhlak mulia, dan mengenyangkan orang-orang lapar."
 
 

 
 
Di dalam hadis Imam Ridha as, mengenyangkan orang-orang lapar disebut dapat mendatangkan pengampunan Allah SWT.
 
«مِن موجباتِ المَغفِرهِ اطعامُ الطّعامِ»
 
"Mengenyangkan orang-orang lapar dapat menyebabkan diampuninya dosa-dosa."
 
 
 
3. Menebarkan salam
 
«وَ إِفْشَاءَ السَّلامِ»
 
Mengucapkan salam adalah satu satu akhlak Islam, dan merupakan sunah Nabi Muhammad SAW, serta menyebabkan terhubungnya hati setiap orang.
 
Mengucapkan salam membawa dua pesan,
 
a. Harapan kesehatan bagi orang yang menerima salam
b. Mengandung pesan bahwa pemberi salam tidak akan menyakiti penerima salam.
 
Maka dari itu dapat dipastikan setiap anggota masyarakat menciptakan ikatan batin di antara mereka, dan memperluasnya dengan mengucapkan salam.
 
Imam Jafar Shadiq as, salah satu cucu Nabi Muhammad SAW berkata, «السَّلامُ قَبلَ الکلام» pertama ucapkan salam sebelum berbicara.
 
Di hadis lain, beliau mengatakan, «البخیلُ مَن بَخِلَ بالسَّلام» orang kikir adalah mereka yang pelit memberikan salam kepada orang lain.
 
Jika seseorang tidak mengucapkan salam maka Imam Jafar Shadiq as menyebutnya sebagai orang kikir, dan kikir adalah salah satu akhlak buruk.
 
Lalu apa yang dimaksud dengan menebarkan salam?
 
Rasulullah SAW bersabda, «افشاءُ السَّلامُ اَن لا یَبخُلَ بالسَّلام علی اَحَدٍ من المسلمین» menebarkan salam adalah tidak kikir dalam memberikan salam.
 
Maka dari itu menebarkan salam bukan berarti mengucapkan salam dengan suara keras, akan tetapi mengucapkan salam kepada semua orang yang ditemuinya.
 
 

 
 
4.  Bersahabat dengan orang-orang baik
 
«وَ صُحْبَهَ الْکِرَامِ»
 
Manusia secara substansi adalah makhluk sosial, dan selalu akan berinteraksi dengan setiap orang di tengah masyarakat tempat ia berada.
 
Menurut hadis-hadis Imam Maksum as, salah satu hal yang dipertanyakan kepada manusia di Hari Kiamat, adalah teman-temannya selama hidup. اِنَّ اوَّلَ ما یُسئَلُ عنه العَبدُ یومَ القیامَهِ عن جُلَسائه
 
Nabi Muhammad SAW bersabda, «المَرءُ عَلی دینِ خَلیلِه و قَرینِه» kawan dalam agama akan menjadi sahabat dan pendamping manusia.
 
Oleh karena itu penting dengan siapa seseorang berkawan dan berinteraksi. Anjuran dan perintah agama dalam hal ini adalah berkawan dengan orang-orang baik.
 
Rasulullah SAW bersabda,  اَسعَدُ النَّاسِ مَن خالَطَ کِرامَ النّاس sebahagia-bahagianya manusia adalah yang berkawan dengan orang-orang baik, dan mulia.
 
Karena hal ini dapat memperindah perilaku seseorang. «بِطَوْلِکَ یَا مَلْجَأَ الْآمِلِینَ» Semua permohonan ini hanya dapat dikabulkan berkat bantuan Ilahi, Tuhan, tempat berlindung orang-orang yang berharap.

 

Sepanjang sejarah, manusia mengerahkan segenap usahanyauntuk memenuhi kebutuhannya, karena manusia pada dasarnya makhluk yang membutuhkan saat diciptakan.

Bahaya fatal yang mengintai manusia, di satu sisi, salah mendiagnosis kebutuhannya, dan di sisi lain, memberikan jawaban yang salah terhadap kebutuhan tersebut.

Karunia para nabi ilahi untuk membimbing orang-orang melewati jalur berbahaya ini tidak lain adalah ajaran wahyu ilahi; Al-Qur'an adalah anugerah unik, berharga, menyembuhkan dan membimbing yang dikirimkan kepada umat manusia oleh Tuhan Yang Maha Esa melalui Nabi Muhammad (SAW).

Manusia tidak akan mencapai tujuan kedamaian, kepastian dan kepuasan di dunia ini kecuali mengacu dan memanfaatkan secara praktis kitab agung ini.

Al-Qur'an mengajarkan kepada manusia kebenaran-kebenaran yang manusia abad ke-21, terlepas dari semua kemajuan material yang telah dicapainya, tidak pernah mempunyai kemampuan atau kemungkinan untuk mengetahuinya. Kebenaran-kebenaran yang jika terungkap kepada manusia dan dia bertindak berdasarkan hal-hal tersebut, akan menyebabkan mereka menjadi kuat dan selamat.

Oleh karena itu, hanya mereka yang telah diajari Kitab Allah yang dapat keluar dari kesesatan yang nyata dan tidak menuju kebinasaan.

Memanfaatkan Al-Qur'an hanya dapat dicapai melalui komunikasi terus menerus dengan sumber cahaya ini.

Selanjutnya apa yang Anda baca di bawah ini diambil dari buku Garis Besar Pemikiran Islam dalam Al-Qur'an karya Ayatullah Khamenei:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِیمِ الر ۚ کِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَیْکَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَی النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَیٰ صِرَاطِ الْعَزِیزِ الْحَمِیدِ

 

Terjemahan bijaksana dan perenungan ayat 1 Surat Ibrahim.

کِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَیۡکَ :

sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu

لِتُخۡرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَی ٱلنُّورِ بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ 

: Sehingga dengan ijin dan bantuan Tuhan manusia in, kamu dapat mengeluarkan mereka dari kegelapan kebodohan dan membimbing mereka ke cahaya. Fungsi dari cahaya adalah memberi penerangan jalan dan hasil dari kegelapan adalah manusia tidak mengetahui apa yang harus diperbuat dan kemana mereka menuju!

Benih dan biji ada di bawah tanah, ada kegelapan di dalam kegelapan. Yang membuat benih-benih ini menjadi hidup dan keluar dari hati dari segala kegelapan dan kesempitan serta mencapai angkasa terang adalah tetesan air hujan yang jatuh dari langit.

Kini kisah kita manusia adalah kisah tentang benih-benih yang sama yang ditawan oleh dunia yang bersahaja dan gelap ini. Dan ayat-ayat Al-Qur'an adalah tetesan air hujan yang sama yang muncul dari lautan ilmu ilahi dan jatuh di hati surgawi Nabi untuk memberi kehidupan pada benih-benih keberadaan manusia dan menariknya keluar dari kegelapan kebodohan, kekafiran, kezaliman, kerusakan, dosa dan ketercerabutan dan membawanya ke dunia cahaya, yakni cahaya ilmu, cahaya keimanan, cahaya kebaikan dan cahaya persatuan dan kesatuan.

Mengapa dia harus seorang nabi? Mengapa seseorang dari Tuhan harus mengikat dirinya untuk membimbing manusia? Tidak bisakah manusia sendiri? Bukankah pengetahuan manusia dan pemikiran manusia saja sudah cukup? Kenapa harus Nabi? Mengapa pesannya berada di antara yang gaib dan intuisi?

Kami tidak banyak bicara tentang filsafat kenabian. Hanya satu kata, dan satu kata itu adalah bahwa indra manusia, naluri manusia, dan kebijaksanaan manusia tidak cukup untuk membimbing manusia.

Serangkaian makhluk dengan indranya mungkin bisa diatur. [Tetapi manusia membutuhkan] kekuatan yang lebih tinggi, bimbingan yang lebih kuat dan lebih dalam daripada bimbingan panca indra, daripada bimbingan naluri, daripada bimbingan akal. Apa fungsi panduan ini? Apakah itu bersaing dengan indra Anda? Apakah itu bertentangan dengan naluri Anda? Apakah akal sehatnya akan terbentur batu? Sama sekali tidak.

Dia datang untuk membimbing akal, untuk memelihara akal, untuk mengeluarkan akal yang terpendam dari bawah debu.

Firaun tidak suka manusia mempunyai akal, mereka tidak suka manusia memahami; Sebab jika mereka mengetahuinya maka keberadaan mereka akan menjadi tidak sah dan melegenda.

Jadi agama datang untuk apa? Untuk membimbing kecerdasan. Ada alasan untuk memanfaatkan akal, tetapi ketika nafsu berada di sisinya, ia tidak dapat menilai dengan benar. Ada alasannya, tetapi ketika keserakahan ada di sisinya, ia tidak dapat melihat dengan baik. Ketika motif menguasainya, dia tidak bisa mengerti dengan baik. Agama datang dan mengambil keinginan, suasana hati, keserakahan, ketakutan dan motif dari akal. Ini memperkuat pikiran sehat yang sempurna, menegaskannya sehingga dapat memahami dengan baik.

 

Hujatulislam Naser Rafiei, salah seorang pakar agama, membahas tafsir ayat-ayat Surah Ar Rum, bertepatan dengan bulan suci Ramadan kali ini.

Ia mengatakan, "Allah SWT, di dalam Al Quran, berfirman sebagian manusia ketika mendapatkan kenikmatan akan melampaui batas, dan membangkang, dan ketika kenikmatan itu dicabut, mereka akan mengingkari Tuhan. Dunia terkadang berpihak kepada kita, dan terkadang merugikan kita, maka tidak benar ketika ia menguntungkan lalu kita tidak bersyukur, dan ketika merugikan, maka kita ingkar."
 
Hujatulislam Rafiei, menerangkan, "Alama semesta ini mengalami naik-turun, dan pasang-surut. Berdasarkan keterangan ayat-ayat suci Al Quran, Nabi Ayub as, Nabi Yahya as, dan Nabi Zakaria as, menanggung derita yang sangat berat, tapi tetap bersabar."
 
Di bagian lain paparannya, Hujatulislam Rafiei, menjelaskan ayat lain dari Al Quran, "Allah SWT berfirman kepada Nabi, Engkau tidak bisa berbicara dengan orang-orang mati, beberapa ahli tafsir meyakini bahwa maksudnya adalah mereka yang mati hati dan nuraninya."
 
Menurutnya, Allah SWT di dalam Al Quran berfirman, setiap orang yang melakukan amal saleh maka ia akan dianugerahi hidup yang bersih yaitu hatinya hidup.
 
"Imam Ali bin Abi Thalib as, berkata, sebagian orang mati, bergerak, wajah mereka, wajah manusia, tapi hati mereka, hati binatang, hidup mereka seperti binatang. Di dalam Al Quran, hidup juga diartikan sebagai kiamat. Al Quran berfirman, di akhirat sebagian manusia berkata, seandainya saja kami mengirim sesuatu untuk hidup," imbuhnya.
 
Hujatulislam Rafiei melanjutkan, sebagian orang memiliki mata tapi tidak melihat, memiliki telinga tapi tidak mendengar, artinya mereka tidak memahami apa yang engkau katakan.
 
Pakar agama ini menuturkan, Allah SWT di dalam Al Quran, mengucapkan salam kepada Nabi Nuh as, dan Nabi Ibrahim as, sementara Tuhan tidak mengucapkan salam kepada orang mati. Ini membuktikan bahwa nabi-nabi hidup di alam barzakh.
 
"Selepas Perang Badar, Nabi Muhammad SAW, berbicara dengan mayat-mayat musuh, dan bersabda, apakah kalian menyaksikan janji Ilahi ? Sebagian orang memprotes dan berkata, tidak mungkin berbicara dengan orang mati. Nabi Muhammad SAW bersabda, saat ini mereka lebih memahami apa yang aku katakan daripada kalian," paparnya.
 
Guru akhlak ini kemudian mengutip Hikmah 130 dari buku Nahjul Balaghah, Imam Ali, dan mengatakan, "Di perang Shifin, saat kembali dari perang, Imam Ali, berdiri di depan pekuburan Kufah, dan di hadapan orang-orang mati berkata, wahai penduduk tanah kesendirian dan ketakutan, jika ingin mendengar kabar dari saya, Ali, saya punya tiga kabar untuk kalian, tidak ada yang tinggal di rumah-rumah kalian, harta kekayaan kalian sudah dibagi-bagi, dan istri-istri kalian menjalani hidupnya masing-masing."
 
Kemudian Imam Ali as, menghadap kepada para sahabatnya, dan berkata, jika Allah SWT, mengizinkan orang-orang mati ini berbicara, maka semua akan berkata, satu-satunya yang bermanfaat bagi kami di sini adalah takwa, dan menahan diri.

 

Dalam pandangan semua agama Tuhan, ibu dianggap memiliki kedudukan tinggi dan agung. Semua orang menghormatinya, dan selalu mengingat keagungan dan keluhurannya. Di dalam agama Islam, hal ini lebih kentara.

Para Nabi, sebelum menyarankan orang lain untuk menghormati ibu, mereka sendiri terlebih dahulu melakukannya, dan mendoakan rahmat serta ampunan Tuhan bagi ibu mereka.
 
Nabi Ibrahim as, mendoakan ayah dan ibunya, beliau memohon kepada Allah SWT, untuk mengampuni dan memaafkan orangtuanya. «ربّنا اغفرلی و لوالدیَّ و للمؤمنین یومَ یَقومُ الحساب» "Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)".
 
 
Nabi Musa, dan Orang yang Bersamanya di Surga
 
Dalam ajaran Nabi Musa as, kedudukan ibu sangat tinggi dan agung. Nabi Musa, ketika bermunajat kepada Tuhan, beliau memohon kepada-Nya, untuk mengenalkan orang-orang yang akan bersamanya di surga kelak. Tuhan berfirman, wahai Musa, pergilah ke tempat dan toko itu, orang yang bekerja di sana, ialah yang akan bersamamu di surga kelak.
 
Setelah mencari tahu tentang anak muda yang bekerja di toko itu, Nabi Musa, memahami bahwa pemuda itu melakukan semua pekerjaan ibunya yang lumpuh, dan ibunya selalu berdoa kepada Tuhan, agar anaknya menjadi orang yang bersama Nabi Musa, di surga.
 
 
Pandangan Nabi Isa terhadap Ibu
 
Kedudukan ibu dalam pandangan Nabi Isa as, begitu tingginya sehingga di awal kehidupannya ia bersyukur kepada Tuhan, mengingatkan masalah ini, dan bersyukur kepada Tuhan, karena telah diberikan kesempatan berbuat baik kepada ibunya. Pasalnya beliau mengetahui perbuatan baik kepada ibu adalah sesuatu yang paling berharga. «و برّا بوالدتی و لم یجعَلنی جبّارا شقِیّا» "dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka."
 
 
Surga Berada di Bawah Telapak Kaki Ibu
 
Meskipun seluruh agama Ilahi, menghormati kedudukan tinggi ibu, tapi Islam, dibandingkan ajaran lain lebih memperhatikan masalah ini, dan sangat menghargai nili luhur seorang ibu.
 
Allah SWT di dalam Al Quran, mengingatkan keagungan dan keluhuruan ibu, dan dalam bentuk tertentu memujinya. Allah SWT, dalam Surah Luqman, dan Al Ahqaf, setelah menasihati untuk berbuat baik kepada kedua orangtua, menjelaskan penderitaan dan susah payah ibu.
 
Di banyak hadis dan ajaran Nabi Muhammad SAW, juga dijelaskan dengan baik pemenuhan hak-hak ibu, kepribadian, dan kedudukannya. Nabi Muhammad SAW, saat menjelaskan kedudukan ibu, bersabda, الجنّةُ تحتَ اقدامِ الامّهات "surga berada di bawah telapak kaki ibu."
 
Hadis Nabi Muhammad SAW ini menunjukkan bahwa tanpa keridhaan ibu, seseorang tidak akan mungkin bisa mendapatkan surga beserta kenikmatan-kenikmatannya.
 
 
Seperti Ini Imam Sajjad Menggambarkan Ibu
 
Imam Ali Zainal Abidin, atau Imam Sajjad, Imam Keempat Syiah, salah satu cucu Nabi Muhammad SAW, terkait hak seorang ibu, dan keagungan serta kedudukannya berkata, "Hak ibu dari Anda, ketahuilah bahwa ia yang mengandungmu, karena tidak ada seorang pun yang mengandung orang lain. Ia memberikan buah hatinya kepadamu karena tidak ada seorang pun yang memberikan itu. Ia memelukmu dengan segenap anggota badan dan jiwanya, ia tidak takut lapar saat melindungimu, tidak peduli ia berada di bawah sengatan sinar matahari supaya engkau terhindar dari panas. Ia meninggalkan kenikmatan tidur demi dirimu, dan melindungimu dari dingin dan panas. Di hadapan semua pelayanan ibu ini di mana engkau bisa membalasnya, selain dengan bantuan, dan pertolongan Tuhan."
 
Perkataan Imam Ali Zainal Abidin yang menjelaskan hak-hak ibu ini menunjukkan keagungan, dan keluhuran kedudukan seorang ibu.
 
Jelas semua cinta dan kasih sayang kepada anak, serta menanggung seluruh kesulitan besar dalam mendidik anak, menyimpan tanggung jawab besar bagi sang anak yang harus berusaha menunaikannya. Oleh karena itu Allah SWT di dalam Al Quran berfirman, فلا تقُل لهما اُفَّ maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah".
 
Jangan sampai engkau melukai hati ibu, dan membuat hatinya tersiksa, karena engkau akan dimurkai Tuhan, murka ibu adalah murka Tuhan.
 
Ajaran Nabi Muhammad SAW dan Ahlul Bait, perilaku mereka terhadap ibu, dan menghormati ibu, menjelaskan keluhuran kedudukan ibu. Kedudukan ibu dalam pandangan agama adalah kedudukan yang tinggi yang disebut Al Quran, setara dengan ketaatan dan ibadah kepada Tuhan.