کمالوندی
Arab Saudi bertanggung jawab atas keamanan jamaah haji
Ketika waktu ritual Ibrahim haji mendekat — waktu ketika orang-orang berangkat ke Mekah untuk melakukan haji — para penyelenggara dan pejabat organisasi haji Iran bertemu dengan Pemimpin Revolusi, Ayatollah Khamenei, pagi ini (Senin) 3 Juli 2019.
Berikut ini adalah kutipan dari pernyataan-pernyataan yang dibuatnya dalam pertemuan ini:
Haji adalah manifestasi dari penyerahan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan; itu juga memiliki faktor sosial persatuan, persaudaraan, dan harmoni. Terlebih lagi itu adalah tampilan dari jemaat dan juga moralitas.
Di antara kesalahan besar adalah bahwa mereka mengatakan tidak mempolitisasi haji! Menciptakan persatuan adalah masalah politik. Mendukung & membela kaum tertindas di Dunia Islam, seperti negara-negara Palestina & Yaman, adalah masalah politik, tepatnya berdasarkan pada ajaran Islam & kewajiban. Atau menyatakan penolakan kepada kaum musyrik adalah kewajiban.
Haji adalah tindakan politik dan tindakan politik ini identik dengan kewajiban agama. Bahwa mereka melarang tindakan-tindakan politis semacam itu sendiri merupakan langkah politis, tetapi tindakan anti-agama. Bahwa mereka mengatakan Anda tidak punya hak untuk berbicara menentang A.S. adalah tindakan politik Setan.
Pemerintah Saudi memikul tanggung jawab utama. Di antara tanggung jawab mereka adalah memberikan keamanan bagi para peziarah, tetapi mereka seharusnya tidak menciptakan suasana keamanan. Sementara para jamaah haji berada di Mekah dan Madinah, mereka harus memperlakukan hujjah dengan benar, penuh hormat, dan dengan hormat; karena mereka adalah tamu-tamu Tuhan, Maha Penyayang.
Ayatollah Al-udzma Salehi Modarres
Bismillahi Rahmani Rahim
Ini adalah jawaban atas pertanyaan yang dikirim ke Ayatollah Besar oleh Seyyed Ali Ghazi Asgar yang bertanggung jawab atas Kantor Haji Iran dan perwakilan pemimpin tertinggi dalam urusan Haji dan Ziarah.
Pertanyaan itu menyangkut pembantaian dan kejahatan yang dilakukan oleh skiap arogan internasional dan agen mereka yang menuduh orang lain sebagai Kafir dan membunuh para Muslimin Syiah dan Sunni. Mereka mencemarkan nama baik Islam di seluruh dunia dan menabur benih-benih perpecahan agama dan rasional yang serius dan perselisihan di antara umat Islam tanpa izin agama. Inilah sebabnya mengapa hari ini Islam dan negara-negara Muslim berada dalam situasi yang sangat sulit.
Setelah perlunya menangkal politeisme, isu kedua yang paling ditekankan dalam Islam adalah persatuan umat Islam.
بني الاسلام على دعامتين کلمة التوحيد و وحدت الکلمه.
"Islam didasarkan pada dua prinsip: Tauhid dan Persatuan".
Oleh karena itu, menyebabkan kerusakan pada kehidupan, harta benda dan kehormatan umat Islam adalah salah satu dosa terbesar dan yaitu terlarang dalam aturan Islam.
Islam tidak mengizinkan penghinaan terhadap kepercayaan agama dari sekte Islam mana pun.
Di sisi lain, serangan bunuh diri terhadap Muslim dan pembantaian mereka di negara mana pun adalah pelangaran hukuman agama Islam. ini adalah dosa yang tak termaafkan yang pada akhirnya akan membawa para pelaku dosa-dosa ini ke dalam api neraka.
Muslim Syiah dan Sunni harus mewaspadai plot konspirasi musuh, yang semakin serius membuat divisi.
Adalah kewajiban atas para Muslimin untuk menunjukkan wajah sebenar-benarnya Islam kepada dunia, Islam yang merupakan agama rahmat, yanga maha keharuan dan kebaikan. Para jamaah Islam dituntut untuk menyebarkan Islam, mempertahankan persaudaraan dan persatuan mereka.
Ayatollah Udzma Seyyed Musa Shobeiri Zanjani
Kecuali Khavarij dan Nawasib, siapa pun yang memberikan kesaksian tentang kesatuan Allah dan Resalatnya nabi Muhammad (SAW) adalah seorang Muslim dan semua peraturan Islam tentang pernikahan, warisan, penghormatan untuk kehidupan dan harta benda dan lain-lain berlaku baginya. Mereka yang menciptakan perpecahan di antara umat Islam dan menuduh denominasi-bidat Islam lainnya mereka adalah orang jahil dan bukan Mukmin, mereka adalah agen langsung rezim dominasi, atau bertindak sejalan dengan upaya jahat para penjajah untuk menghancurkan fondasi Islam. , mencabut agama Nabi Suci, dan menghilangkan dari pikiran nama Yang Mulia. Serangan bunuh diri dari kelompok-kelompok ini hanya menyenangkan para bidat dan musuh bebuyutan Islam.
{قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأَْخْسَرِينَ أَعْمالاً * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَياةِ الدُّنْيا وَ هُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً}
Katakanlah (wahai Muhammad): "Mahukah Kami khabarkan kepada kamu akan orang-orang yang paling rugi amal-amal perbuatannya? * (Iaitu) orang-orang yang telah sia-sia amal usahanya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahawa mereka sentiasa betul dan baik pada apa sahaja yang mereka lakukan".
Insya Allah, para Muslimin, waspada dengan tipu musuh dan konspirasi mereka untuk kontrobusi mereka untuk kemuliaan dan kehormatan Islam.
Seyyed Musa Shobeiri Zanjani
Penjelasan
Seperti yang Anda ketahui, hari ini umat Islam di dunia berada dalam situasi kritis. Di satu sisi, kebangkitan Islam dan jatuhnya diktator di Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman, dan di sisi lain, konspirasi kekuatan global yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan sekutu mereka dalam memunculkan Islamofobia dan hasutan agama dan etnis yang menarik telah menciptakan kondisi yang sangat berbahaya dan sulit.
Muslim Sunni dan Syiah yang tak terhitung banyaknya telah mati syahid oleh orang-orang bodoh dan tertipu yang melakukan serangan bunuh diri, meledak dan menyerang daerah perumahan, menghancurkan bangunan, mencuri dan menjarah properti orang-orang dan dengan demikian telah menyebabkan krisis serius.
Syiah yang tertindas di Irak, Pakistan, Lebanon, Bahrain, Suriah, Afghanistan, Indonesia, dan beberapa negara lain berada dalam bahaya yang lebih serius dan serius. Dalam beberapa minggu terakhir, ratusan dari mereka telah terbunuh atau terluka dalam misi bunuh diri musuh; mereka telah dikeluarkan dari rumah mereka, diusir dari negara mereka, dan dipaksa untuk beremigrasi dari tanah air mereka.
Masalah tuduhan yang ditujukan pada umat Islam sangat penting, karena mereka telah digunakan sebagai dalih bagi mereka yang menuduh yang lain sebagai bidat. Kelompok-kelompok semacam itu sedang dicuci otak untuk melakukan misi-misi bunuh diri ini. Mereka menuduh Syiah mengutuk para sahabat dan menghina benda-benda yang dianggap suci oleh kaum Sunni, dan karenanya menganggap mereka pantas mati. Sayangnya, atas tuduhan ini, mereka telah membunuh ribuan orang Syiah di berbagai negara di dunia, dan tindakan semacam itu yang bertentangan dengan prinsip Islam yang paling mendasar, terus berlanjut. Ini adalah saat revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Grand Ayatollah Khomeini selalu menjadi pelopor persatuan di antara negara-negara Muslim, dan otoritas agama lainnya juga telah mengambil langkah-langkah penting dan menentukan untuk mencapai tujuan ini. Dengan demikian, kami mohon untuk mengetahui pendapat Anda sehubungan dengan penghinaan dan pelanggaran terhadap hal-hal yang dianggap suci bagi umat Islam, termasuk istri dan sahabat Nabi, perselisihan dan perpecahan yang telah mereka sebabkan di antara para pengikut Nabi Suci dan bunuh diri. serangan dan ledakan. Penyebaran ide-ide Anda di seluruh dunia akan membela hak-hak Muslim khususnya Syiah dan mencegah lebih banyak pembantaian dan pertumpahan darah.
Semoga Anda semakin sukses, panjang umur, dan sehat.
Perwakilan pemimpin tertinggi untuk Haji dan kepala jamaah Iran
Doa Nudbah di Madinah al-Munawwarah
Ratusan jemaah calon haji dari Republik Islam Iran membaca Doa Nudbah bersama di sekitar Kompleks Masjid Nabawi dan Pemakaman Baqi', Jumat pagi, 19 Juli 2019.
Doa bersama tersebut dipimpin oleh Haj Ali Farahani dan Wakil Wali Faqih untuk Urusan Haji dan Ziarah di Madinah al-Munawwarah Hujjatul Islam wal Muslimin Sayid Abdul Fattah Navab.
Doa Nudbah merupakan doa yang sangat terkenal yang dinukil dari Imam Shadiq as, cicit Rasulullah Saw.
Doa ini mustahab dibaca pada empat hari raya: Idul Fitri, Idul Adha, Idul Ghadir dan Jumat). Ali bin Thawus memuat doa ini dalam kitab Iqbal al-A'mal.
Lebih dari 86.000 calon jemaah haji dari Republik Islam akan menunaikan ibadah haji di Tanah Suci tahun ini.
Haniyeh: Kami Tunggu Hasil Penting Kunjungan Hamas ke Iran
Ketua Biro Politik Hamas mengabarkan lawatan delegasi Hamas ke Iran dan mengatakan, rudal-rudal kelompok perlawanan Palestina mampu menghantam semua target di wilayah pendudukan.
Fars News (20/7/2019) melaporkan, Ismail Haniyeh, Sabtu (20/7) mengumumkan, sebuah delegasi tingkat tinggi Hamas, hari ini (20/7) melakukan kunjungan beberapa hari ke Iran.
Menurut Haniyeh, kami menanti hasil penting kunjungan delegasi Hamas ke Iran.
Situs berita Palestina, Shehab News mengabarkan, Ketua Biro Politik Hamas menuturkan, kelompok perlawanan Palestina punya rudal yang mampu menyerang target apapun di wilayah pendudukan.
Ia menambahkan, keputusan Hamas untuk keluar dari Suriah adalah sebuah keputusan organisasi dan sudah dikaji secara mendalam. Sebelumnya kami pun tidak pernah mencampuri urusan dalam negeri Suriah dan ke depannya, pada fase apapun kami tidak akan ikut campur, kami berharap Suriah akan kembali kuat.
Menggulung Kain Penutup Ka'bah
Penggulungan sebagian kain penutup Ka'bah dilakukan setiap tahun menjelang musim haji dan sebelum jemaah yang melakukan tawaf mencapai puncaknya.
Tindakan tersebut bertujuan untuk melindungi Kiswah dari kerusakan seperti robek atau hal lainnya.
Berdasarkan kegiatan tahunan menyusul masuknya musim haji, Departemen Urusan Masjidil Haram dan Masjid an-Nabawi menggulung bagian bawah Kiswah sepanjang tiga meter.
Kain penutup Ka'bah yang digulung itu kemudian ditutup dengan kain katun dengan lebar sekitar dua meter dari keempat sisinya.
Menurut para pejabat Arab Saudi, langkah tersebut bertujuan mencegah dan melindungi Kiswah dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti robek dan rusak, sebab, banyak jemaah haji yang ingin menyentuh kain penutup Ka'bah tersebut.
Departemen Urusan Masjidil Haram dan Masjid an-Nabawi bertugas untuk membuat dan menjaga Kiswah.
Menurut pejabat haji Arab Saudi, kondisi kain penutup Ka'bah akan dikembalikan seperti semula usai musim haji.
Memperingati Haul Shah Cheragh, Ahmad bin Musa di Shiraz
Di awal abad ketujuh, Amir Muqarrib al-din Mas'ud membangun kota Shiraz. Ia pribadi yang sangat terhormat dan tahu apa yang harus dilakukannya. Kota Shiraz yang waktu itu menjadi ibukota dinasti Atabeg tampak bersih di tangannya. Ia serius membangun kembali bangunan-bangunan yang rusak.
Saat membersihkan tanah dan puing-puing, para pekerja melihat badan seorang pemuda tinggi dan tampan yang mati akibat kepalanya ditebas pedang. Para pekerja mengeluarkan jasad pemuda itu dari tanah dan memberi kabar kepada Amir Mas'ud. Amir segera pergi ke tempat itu bersama beberapa pejabat yang lain. Setelah melakukan banyak penelitian, terutama terkait sejumlah bukti seperti cincin yang diukir bertuliskan "Al-'Izzah Lillah, Ahmad bin Musa", menjadi jelas bahwa jasad itu adalah Ahmad bin Musa, saudara Imam Ridha as. Akhirnya, sesuai perintah Amir Muqarrib al-Din Mas'ud, mereka yang ada kemudian menyolati jasad tersebut, kemudian memakamkan kembali jasad tersebut di tempat ia ditemukan yang dihadiri oleh para ulama dan tokoh Shiraz dengan penuh penghormatan. Setelah itu mereka membuat bangunan yang luas dan indah di sana, agar para peziarah dan mereka yang melewati tempat itu dapat berziarah ke kuburannya.
Makam suci Ahmad bin Musa as yang dikenal dengan Shah Cheragh di Shiraz
Namun ada riwayat lain yang disebutkan para sejarawan bahwa sebelum ini, kuburan Ahmad bin Musa as sudah ada di masa Adud al-Dawla Dailami, raja paling terkenal dari dinasti Al-e Buyeh (dinasti Buyid), tapi kemudian kuburan beliau tertimbun akibat sejumlah gempa yang terjadi di sana, sehingga kembali ditemukan pada tahun 745 Hijriah Qamariah.
Sayid Amir Ahmad yang lebih dikenal dengan "Shah Cheragh" dan "Sayid al-Sadaat al-A'azhim" adalah putra dari Imam Musa al-Kazhim dan saudara Imam Ridha as. Tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan hari dan tanggal yang detil terkait kelahiran Ahmad bin Musa as, tetapi sebagian sumber menyebut beliau lahir tanggal 6 Zulkaedah di kota Madinah. Ibu beliau dikenal dengan nama "Ummu Ahmad". Ummu Ahmad memiliki tiga orang anak yang bernama Ahmad, Muhammad dan Hamzah, tetapi dikarenakan ketinggian derajat Ahmad bin Musa, Imam Musa al-Kazhim as memanggilkan dengan Ummu Ahmad. Ummu Ahmad begitu dicintai Imam Kazhim as dan sangat dipercaya. Di masa penuh tekanan dan mencekik dinasi Abbasiah, Ummu Ahmad menyimpan banyak rahasia Imam Kazhim as.
Ahmad bin Musa seorang pribadi yang memiliki posisi yang tinggi dan bertakwa, sehingga ayahnya selalu memujinya karena keberanian dan kedermawanannya. Ia pribadi yang dermawan, pemberani, utama, bertakwa dan kaya. Ahmad bin Musa menulis sendiri al-Quran. Beliau juga termasuk ahli hadis dan perawi yang menukil banyak hadis dari ayah dan kakek-kakeknya.
Salah satu ciri periode kekuasaan Bani Abbasiah adalah munculnya berbagai kelompok dan firqah agama. Di masa ini, muncul kelompok utama Syiah. Karena metode yang diterapkan para khalifah Bani Abbasiah sejalan dengan politik adu domba dan selalu berusaha menyebarkan perselisihan politik dan keagamaan. Mereka tetap mengasingkan dan memenjarakan para Imam Syiah untuk memperkuat kekuasaannya dan melemahkan para pecinta Ahlul Bayt.
Pasca syahadah Imam Musa as oleh Harun al-Rasyid, sekelompok orang dengan cara pandang yang salah menjadikan Ahmad bin Musa sebagai imamnya. Sikap mereka ini bukan hanya dipengaruhi cara pandang politik, tapi ada keyakinan lain yang tersebar luas di masa itu, yang menjadikan masalah ini semakin intens. Sekelompok orang-orang Syiah dan pecinta Ahlul Bayt menyaksikan dari dekat keutamaan Ahmad bin Musa dan kecintaan ayahnya kepadanya. Di sisi lain, Ahmad bin Musa termasuk salah satu wakil Imam Kazhim as. Karenanya, mereka beranggapan bahwa Imamah dan pengganti setelah syahadah Imam Musa al-Kazhim as milik Ahmad bin Musa. Keyakinan ini membawa mereka ke rumah Ahmad bin Musa untuk mengikutinya.
Pada awalnya, Ahmad bin Musa secara lahiriah menerima dan kemudian pergi ke masjid lalu mengambil baiat dari mereka. Beliau kemudian naik ke mimbar dan menyampaikan khutbah dengan fasih dan lugas. Kepada masyarakat Ahmad bin Musa berkata, "Wahai masyarakat! Kalian semua tetap dalam baiat kepadaku, sementara aku berbaiat kepada saudaraku Ali bin Musa, Imam dan pengganti setelah ayahku. Beliau adalah wali Allah dan rasul-Nya. Wajib bagi saya dan kalian untuk mengikuti segala perintah yang disampaikannya."
Dengan ucapan Ahmad bin Musa ini, semua yang hadir menaati ucapannya. Mereka mengikuti Ahmad bin Musa keluar dari masjiid dan menjumpai Imam Ridha as lalu membaiatnya. Pada waktu itu, Imam Ali bin Musa as memandang saudaranya dan berkata, "Engkau tetap tidak menyembunyikan kebenaran. Semoga Allah tidak membiarkanmu di dunia dan akhirat."
Seperti yang telah disebutkan, selama periode ini, kekhalifahan Abbasiah, dengan kebijakan mereka, berusaha mendominasi rakyat, terutama para pecinta Ahlul Bayt as. Karena itu, Makmun, putra Harun al-Rasyid, setelah membunuh saudara lelakinya dan merebut kekhalifahan, memutuskan untuk menyerahkan posisi putra mahkota kepada Imam Ridha as, dan memindahkan Imam dari Madinah ke pusat pemerintahannya di Thus. Namun tak lama kemudian, keabsahan kekhalifahan dan putra mahkota Imam Ridha as menjadi lebih jelas bagi rakyat. Makmun tidak tahan dengan kebenaran ini, jadi dia memutuskan untuk membunuh Imam Ridha as.
Sebelum Imam Ridha as gugur syahid, Ahmad bin Musa, pergi ke Khorasan dari Madinah untuk mendukung dan membantu beliau bersama banyak orang. Apa yang dilakukan Ahmad bin Musa ini membuat Makmun merasa ngeri, terutama ketika dia menyadari bahwa setiap kali rombongan Ahmad ibn Musa lewat, para pecinta Ahlul Bayt akan bergabung dengan mereka. Beberapa sejarawan menyebutkan mereka yang menemani Ahmad sebanyak lima belas ribu orang.
Makmun, yang melihat kedatangan saudara Imam ke pusat pemerintahan sebagai ancaman serius bagi posisi sensitifnya, memerintahkan semua bawahannya untuk mencegah gerakan rombongannya, bahkan bila mampu, mereka harus dikembalikan ke Madinah atau membunuh mereka semua. Ketika perintah Makmun sampai di sebuah kota, rombongan Ahmad bin Musa telah melewatinya, kecuali Shiraz, dimana sebelum rombongannnya sampai di sana, perintah Makmun telah sampai ke tangan mereka.
Penguasa Shiraz adalah seorang pria bernama Qatlagh Khan. Dia meninggalkan kota dengan pasukan besar dan berkemah di depan karavan Ahmad bin Musa. Pada saat yang sama, berita tentang kesyahidan Imam Ridha as sampai ke Ahmad. Jadi dia mengumpulkan rekan-rekannya dan memberi kabar apa yang telah terjadi dan berkata, "Tujuan mereka adalah untuk menumpahkan darah putra-putra Ali ibn Abi Thalib as, siapa pun yang ingin kembali atau tahu bagaimana melarikan diri, bisa pergi. Tapi saya tidak punya pilihan lain selain jihad melawan para pembunuh ini." Semua saudara dan sahabat Ahmad bin Musa as mengatakan bahwa mereka akan tetap melakukan jihad dan dia juga berdoa untuk mereka dan berkata, "Jadi bersiaplah untuk berjihad!"
Ahmad bin Musa bersama para sahabat loyalnya memenangi tiga perang secara berturut-turut. Qatlagh Khan menyadari bahwa adanya cinta dan pengorbanan di pasukan Ahmad bin Musa, dan tidak mampu untuk mengalahkan mereka, ia kemudian berendana menarik pasukannya dan mundur. Dengan demikian, ia berhasil peralahan-lahan menarik pasukan Ahmad bin Musa memasuki kota. Ketika pasukannya sudah menguasai kota, mereka kemudian berhasil membunuh semua pasukan Ahmad bin Musa, beliau sendiri menjadi orang terakhir yang gugur syahid akibat pedang yang memukul kepalanya. Setelah itu, mereka merusak rumah yang berada di belakangnya. sehingga jasadnya tertimbun tanah di tempat yang sekarang kuburannya dibangun dengan megah.
Memperingati haul Ahmad bin Musa kita lakukan dengan bersama-sama membaca shalat khusus kepadanya:
اللّهُمّ صَّلِ عِلی أحمَدَ بنِ موُسَی الکاظِمِ سَیِّدِالسَّاداتِ الأعاظِمِ الشَّهیِدِ، المَظلُومِ الَّذِی کانَ کَریماً فِی مَالِهِ وَ وَرِعاً فِی دِینِهِ وَ عَبَدَ الّلهَ مُخلِصاً حَتَّی أَتَاهُ الیَقیِنُ وَ صَلِّ عَلی مُحَمَّدِ بنِ مُوسَی الکاظِمِ العَابِدِ الزَّاهِدِ وَ صَلِ عَلی حُسَینِ بنِ مُوسَی الکاظِمِ الَّذِی قُتِلَ مَظلُوماً وَ صَلِّ عَلَی أخیِهِم عَلِیِّ بنِ مُوسَی الرِّضاَ المُرتَضَی حُجَّتِکَ عَلَی مَن فِی الأرضِ وَ مَن تَحتَ الثَّرَی کَأفضَلِ مَا صَلَّیتَ عَلَی أَحَدٍ مِن أولِیائِکَ.
Penyitaan Tanker Minyak Iran dan Tindakan Ilegal Inggris
Penyitaan kapal tanker Iran di Selat Gibraltar oleh Angkatan Laut Inggris bukan hak hukum berdasarkan Konvensi Hukum Laut dan merupakan tindakan politik.
Angkatan Laut Inggris hari Kamis (5 Juli 2019), mengklaim telah menahan sebuah kapal tanker Iran di Selat Gibraltar, yang telah melanggar sanksi anti-Suriah yang didukung Uni Eropa.
Klaim ini disampaikan ketika Deputi Urusan Politik Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, pada 7 Juli 2019, kepada para wartawan di Tehran mengatakan bahwa tuduhan tentang tujuan kapal tanker Iran yang ditahan di wilayah Gibraltar itu tidak benar.
Deputi Urusan Politik Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi
Abbas Mousavi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran juga menyinggung pemanggilan duta besar Inggris di Tehran ke Kemenlu Iran terkait penahanan kapal tanker Iran di Selat Gibraltal seraya menjelaskan, "Penghentian kapal tanker Iran ilegal, menciptakan ketegangan dan bidah yang berbahaya."
Tindakan ilegal ini lebih spesifik ketika Josep Borrell, Menteri Luar Negeri Spanyol mengatakan, "Angkatan Laut Inggris atas permintaan Amerika Serikat telah menyita sebuah tanker yang membawa minyak Iran di wilayah Gibraltar."
Langkah Ilegal Pasukan AL Inggris
Kapal tanker Iran bergerak ke arah yang benar di Selat Gibraltar dan menurut perintah yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat menunjukkan bahwa tindakan Inggris itu ilegal dan hanya bersifat politis.
Dalam kajian Konvensi Hukum Laut 1982 dengan jelas mengungkapkan bahwa tindakan Inggris ilegal untuk kapal tanker Iran di Selat Gibraltar dan bertentangan dengan Konvensi.
Pasal 87 Konvensi Hukum Laut 1982, tentang kebebasan di laut bebas menyatakan, "Kapal-kapal semua negara, baik dalam perang, negara atau komersial, memiliki hak untuk berlayar di laut bebas dan tidak ada pemerintah yang dapat memerintahkan kapal dagang asing untuk menghormati kapal-kapal perang."
Kapal tanker Iran
Pasal 88 Konvensi Hukum Laut 1982 menyatakan, "Laut bebas adalah untuk tujuan damai. Laut bebas dapat digunakan oleh pasukan angkatan laut, tetapi penggunaannya untuk tujuan ofensif melanggar Pasal 88 Konvensi 1982 dan butir 4, paragraf 2, Piagam PBB."
Pasal 301 Konvensi Hukum Laut 1982 menetapkan, "Negara-negara anggota harus menahan diri dari segala ancaman atau penggunaan kekuatan di laut bebas yang bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa."
Hak untuk melihat dan memeriksa juga memiliki haknya sendiri dan Konvensi Hukum Laut 1982 menyatakan, "Kapal perang di laut bebas untuk untuk penegakan hukum internasional ketika ada pembenaran dapat menghentikan dan memeriksa sebuah kapal (bukan kapal perang dan bukan milik negara) yang melakukan tindakan (pembajakan, perdagangan budak, perdagangan narkoba, siaran radio atau televisi yang tidak sah dan kapal menolak untuk memasang bendera).
Langkah Politis Inggris
Keamanan selat laut terletak pada negara yang bertanggung jawab atas keamanannya dan termasuk perairan teritorialnya. Penyedia keamanan Selat Gibraltal hanya dapat memeriksa kapal di perairan teritorialnya sesuai dengan hukum hak melihat dan inspeksi, bukan untuk menyita kapal tersebut.
Karena kapal tanker Iran hanya membawa minyak mentah, alasan penyitaannya adalah politis dan tidak memiliki masalah dengan pelanggaran kelautan. Pejabat lokal di wilayah Gibraltar pada hari Senin (8 Juli 2019) mengumumkan bahwa kapal tanker Iran, yang disita oleh angkatan laut Inggris, hanya membawa minyak mentah.
langkah politis Inggris ini disambut dengan respons tegas Iran dan duta besar Inggris di Tehran dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran. Kepala direktorat ketiga Eropa barat Republik Islam Iran selama pemanggilan duta besar Inggris untuk Kemenlu Iran menyatakan bahwa kapal tanker Iran yang ditangkap di Selat Gibraltar, setara dengan "pembajakan laut," kapal tanker Iran yang tengah berlayar di perairan internasional.
Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran
Inggris mengklaim kapal tanker Iran telah ditahan karena pelanggaran sanksi Uni Eropa terhadap Suriah, sementara pejabat Republik Islam Iran mengatakan tujuan kapal tanker minyak Iran bukan Suriah.
Meskipun demikian, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif pada Senin (8 Juli 2019) di laman Twitter-nya kembali menyebutkan tentang peristiwa penyitaan kapal tanker minyak di wilayah Gibraltar seraya mengatakan, "Iran bukan anggota Uni Eropa, juga tidak termasuk yang disanksi penjualan minyak Eropa. Sebagaimana yang saya ketahui, Uni Eropa menentang sanksi lintas perbatasan."
Pengenaan sanksi lintas perbatasan adalah tindakan ilegal yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Iran dan penyitaan tanker minyak Iran di wilayah Gibraltar merupakan indikasi kepatuhan Inggris terhadap kebijakan jahat ini.
Langkah Inggris untuk mendukung sanksi lintas perbatasan AS, yang sebelumnya telah ditentang oleh Uni Eropa, mengkonfirmasikan tindakan destruktif dan sepihak yang tidak berkontribusi pada supremasi hukum di dunia dan hanya akan meningkatkan ketegangan.
Langkah Inggris Anti JCPOA
Beberapa pakar internasional percaya bahwa tindakan Inggris menyita tanker Iran dapat dianalisis dan dievaluasi dalam kerangka Kesepakatan nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Iran baru-baru ini mengambil kebijakan untuk mengurangi komitmen JCPOA-nya setelah Eropa gagal untuk mengamankan kepentingan ekonomi Iran.
Gangguan terhadap proses perdagangan minyak Iran tidak sesuai dengan kebijakan Eropa untuk mengamankan manfaat ekonomi Iran dalam kerangka JCPOA. Atas dasar JCPOA, Iran harus dapat menjual minyaknya tanpa kesulitan dan membawa uangnya ke Iran. INSTEX, saluran bisnis Eropa dengan Iran, juga akan beroperasi secara efektif berdasarkan "JCPOA," bukan sanksi AS yang memboikot ekspor minyak Iran.
Dalam keadaan seperti itu, tindakan angkatan laut Inggris dalam penyitaan kapal tanker Iran bertentangan dengan klaim Eropa untuk mempertahankan kesepakatan JCPOA, karena kondisi untuk kelangsungan perjanjian nuklir menjamin manfaat ekonomi Iran, terutama penjualan minyak Iran dan ekspornya ke pasar sasaran.
Pada 6 Juli 2019, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tindakan Inggris untuk menahan kapal tanker Iran di Gibraltar bertentangan dengan klaim Eropa bahwa perlu mempertahankan JCPOA.
JCPOA
Saadallah Zarei, pakar masalah internasional juga mengatakan bahwa penyitaan tanker Iran di wilayah Gibraltar dapat dianalisis dalam konteks JCPOA, karena masalah utamanya adalah minyak dan bank.
Tindakan ilegal Inggris dalam menahan kapal tanker Iran dan upaya untuk mempengaruhi tindakan Iran, tidak dapat mencegah kebijakan yang benar dari Republik Islam Iran dalam kerangka JCPOA.
Dalam proses pengumuman langkah kedua dari penurunan komitmennya Iran sejak 7 Juli 2019 akan melakukan pengayaan uranium sesuai level kebutuhannya. Jika Eropa gagal memenuhi komitmen mereka dalam periode 60 hari kedua, maka langkah ketiga Iran akan dilsakanakan dengan cepat.
Satu-satunya langkah yang dapat membantu untuk mempertahankan JCPOA adalah semua pihak di JCPOA melaksanakan semua komitmennya dan tindakan politik dan ilegal Eropa, termasuk Inggris, tidak menguntungkan JCPOA. Deputi Urusan Politik Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, mengatakan bahwa proses mengurangi komitmen Iran di JCPOA tidak berarti keluar dari JCPOA, tapi ia menyatakan, "Proses mengurangi komitmen JCPOA dapat mengarah pada berakhirnya kehadiran Iran di JCPOA."
Imam Ridha, Wali Allah yang Diridhai
Hari ini bertepatan dengan kelahiran Imam Ali bin Musa Ridha yang dimakamkan di kota Mashhad. Beliau digelari berbagai nama dan sebutan yang menunjukkan keistimewaannya sebagai wali Allah swt.
Sheikh Saduq dalam bukunya "Ayun Akhbar Ar-Ridha" menulis, "Imam Ridha dipanggil dengan beberapa sebutan seperti Ridha, Shadiq, Fadhil, Qurata Ayun al-Mukminin (penyejuk mata kaum Muslimin) dan Ghaidul al-Mulhidin (penyebab kemarahan pengingkar Tuhan),".
Imam Ali Ar-Ridha lahir pada 11 Dzulqa'dah 148 H. di Madinah. Ayah beliau adalah Imam Musa Al-Kadzim dan ibunya seorang wanita mukmin nan saleh, bernama Najmah. Beliau memegang tampuk kepemimpinan umat pada usia 35 tahun setelah kesyahidan ayahnya. Salam atasmu Ali bin Musa Ridha, salam wahai mentari khorasan !
Nama panggilan paling terkenal dari Imam kedelapan Syiah, Ali bin Musa adalah Ridha. Pemimpin umat islam ini menjadi mata air kebajikan, ilmu pengetahuan dan akhlak, karena seluruh tindakan serta ucapannya selalu dilandasi keridhaan kepada Allah swt. Itulah sebabnya Imam Ali bin Musa digelari Ridha, yaitu, orang yang telah mencapai tingkat kesempurnaan akhlak yang tinggi dan menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan. Mengenai makna Ridha sebagai panggilan Imam Ali bin Musa, mufasir terkemuka Ayatullah Javadi Amoli menjelaskan kepada para peziarah Imam Reza dengan mengatakan: "Anda yang datang menziarahi Imam Ridha dari tempat yang jauh maupun dekat mengharapkan beliau sebagai sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. sebagaimana dalam surat Al-Maidah ayat 35, "Kita harus menyediakan sarana untuk membantu mendekatkan diri kepada Allah swt. "
Kelahiran Imam Ridha
Kesucian hati, ketajaman pandangan, keluasan ilmu, keimanan yang kuat kepada Allah Swt, dan perhatiannya yang besar kepada nasib masyarakat merupakan sejumlah sifat mulia yang khas pada diri Imam Ridha. Kurang lebih selama 20 tahun, beliau memikul tanggung jawab sebagai imam dan pemimpin kaum muslimin. Karena itu, salah satu julukan beliau adalah "Rauf" atau penyayang.
Salah seorang sahabat Imam Ridha berkata, "Setelah menyelesaikan tugas dan pekerjaannya, beliau selalu bersikap ramah dan penuh kasih sayang terhadap anggota keluarga dan orang-orang sekitarnya. Setiap kali menyambut hidangan makan, beliau selalu memanggil anak kecil, orang dewasa bahkan para pekerja." Ketika para budak tidak memperoleh hak-hak minimalnya, Imam Ridha as memperlakukan mereka dengan baik dan penuh kasih sayang. Mereka mendapat tempat dan dihormati di rumah sang Imam. Mereka banyak belajar etika dan nilai-nilai kemanusiaan dari Sang Imam. Selain memperlakukan mereka dengan kasih sayang, Imam Ridha senantiasa menasehati bahwa jika kalian tidak memperlakukan manusia dengan seperti ini, maka kalian telah menzalimi mereka.
Salah seorang yang menyertai Imam Ridha mengungkapkan, "Dalam perjalanan ke Khorasan, aku menyertai Imam Ridha. Suatu ketika Imam meminta dihidangkan makanan. Imam mengumpulkan seluruh rombongan di dekat jamuan, termasuk para budak dan orang-orang lain. Aku berkata kepada beliau: "Wahai Imam, sebaiknya mereka makan di tempat lain." Beliau berkata: "Tenanglah! Pencipta kita semua adalah satu, ayah kita adalah Nabi Adam as dan ibu kita semua adalah Hawa. Pahala dan siksa bergantung pada perbuatan masing-masing."
Julukan lain Imam Ridha adalah Alimu Aali Mohammad (cendikiawan Ahlul Bait Nabi). Julukan ini menunjukkan ketinggian ilmu beliau. Terkait hal ini Imam Ridha sendiri berkata, "Aku duduk di komplek makam Rasulullah Saw. Setiap ulama dan cendikiawan Madinah menghadapi kesulitan dan tidak mampu menyelesaikannya, mereka mendatangiku dan mendapatkan jawabannya."
Kala itu Marv merupakan pusat ilmiah di tanah Khorasan. Imam Ali al-Ridha as menggunakan keunggulan tersebut untuk meningkatkan gerakan ilmiah. Di lain pihak, Ma’mun berusaha tampil dekat dengan Imam Ali al-Ridha demi kepentingan politiknya. Namun pada saat yang sama, dia selalu berusaha mencoreng keutamaan ilmu Imam Ali al-Ridha dengan menggelar berbagai acara debat. Akan tetapi Imam dalam setiap sesi perdebatan, selalu menang dan bahkan mempengaruhi para ilmuwan yang hadir, dengan argumentasinya yang kokoh.
Islam adalah agama yang menyambut berbagai pertanyaan dan tidak pernah tercatat dalam sejarah bahwa para imam Ahlul Bait as tidak menjawab pertanyaan yang dikemukakan kepada mereka. Imam Ali al-Ridha, berperan penting dalam perluasan budaya Islam. Dalam berbagai acara debat, Imam selalu mempertimbangkan hidayah dan bimbingan untuk lawan dan tidak berusaha untuk selalu menang. Beliau membuktikan kebenaran keyakinan Islam dengan menggunakan argumentasi logis yang kokoh. Imam berkata, “Jika masyarakat memahami keindahan ungkapan kami maka mereka pasti akan mengikuti kami.” Dan terbukti betapa banyak musuh-musuh yang akhirnya menjadi teman di akhir acara perdebatan.
Meski memiliki tingkat keilmuwan tinggi, akan tetapi Imam tidak merendahkan lawan debat beliau. Imam selalu menjaga kehormatan pihak lawan meskipun sebagiannya tidak beragama. Jika perdebatan sampai pada titik di mana pihak lawan tidak lagi bisa menjawab, beliau membimbingnya atau mengutarakan sebuah pertanyaan sehingga pembahasan mereka menghasilkan. Bahkan terkadang beliau menjawab pertanyaan lawan dengan mengatakan, “Jika kau bertanya seperti ini maka pendapat kamu sendiri akan tertolak.”
Al-Quran memandang kesabaran sebagai faktor sejati dan fondasi kepemimpinan, sebagaimana ditegaskan dalam surat Al-Sajadah ayat 24, yang artinya "Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.". Penyabar adalah nama lain dari Imam Ridha. Para ahli sejarah menyebut Imam Ali bin Musa dikenal sebagai sosok penyabar.
Selamat hari kelahiran Imam Ridha, Salam atasmu wahai Ali bin Musa Ridha, sang imam yang saleh dan mulia.




























