کمالوندی

کمالوندی

Minggu, 25 Februari 2018 16:21

Kisah Tentang Ayatullah Boroujerdi

Almarhum Ayatullah Boroujerdi waktu itu kakinya sakit. Oleh karena itu beliau pergi ke sumber air panas di Mahallat sampai dua kali.

Di salah satu bepergian ini, beliau membantu para fakir miskin dan memerintahkan agar membeli beberapa ekor kambing untuk disembelih dan dagingnya dibagikan kepada fakir miskin.

Perintah beliau dilaksanakan dan ada sisa setengah kilo daging disisihkan buat beliau untuk dibikin sate. Hidangan disiapkan berupa sate sekitar ada tiga tusuk dengan diselingi minuman yogurt campur parutan timun di hadapan beliau.

Beliau berkata, “Sate ini dari mana?”

Dijawab, “Dari daging kambing yang telah disembelih. Kami hanya membuatnya sedikit untuk Anda.”

Beliau berkata, “Saya tidak akan makan sate ini. Bagikan saja kepada fakir miskin. Karena mereka telah mencium baunya.”

Ayatullah Boroujerdi tidak makan sate sama sekali dan beliau hanya minum yogurt. (Dastan-e Dustan, jilid 5, hal 270)

Nasihat Dari Almarhum Haj Moghaddas

Seorang rohaniwan muda yang pergi berziarah ke makam imam maksum as bersama almarhum Haj Moghaddas menceritakan:

“Pada waktu Zuhur saya kembali ke rumah. Sementara Haj Moghaddas tetap melanjutkan ziarah dan ibadahnya di makam imam maksum. Kami berdua tinggal dalam satu ruangan. Hari itu saya agak lelah. Oleh karena itu saya berusaha untuk tidur.

Namun suara ribut-ribut terdengar dari rumah tetangga. Saya bangkit dan melihat ke rumah itu dan melihat beberapa perempuan dan anak-anak perempuan sedang mandi di dalam kolam.

Seketika itu juga saya menyesal setelah melihat ke rumah tetangga dan saya mengutuk para wanita itu. Karena suara keributan merekalah yang menyebabkan saya berbuat dosa.

Satu jam kemudian, almarhum Haj Moghaddas datang dan begitu masuk ke dalam ruangan, beliau memandang saya dengan tajam dan berkata, “Engkau telah berbuat dosa karena melihat rumah tetangga. Tapi mengapa engkau mengutuk mereka. Engkau berbuat dosa karena melihat rumah tetangga. Seharusnya engkaulah yang harus menahan dirimu sendiri.” (Dar Diyar-e Salehan, hal 76)

Tidak Beriman, Orang Yang Suka Mengganggu Tetangganya

Seorang lelaki dari kaum Anshar bertanya kepada Rasulullah Saw, “Saya telah membeli sebuah rumah dari kabilah tertentu, namun saya tidak berharap sama sekali pada tetangga terdekat akan kebaikannya dan saya merasa tidak aman dari keburukan dan kejahatannya. Lalu Rasulullah Saw memerintahkan Ali as, Abu Dzar dan satu orang lainnya, sepertinya Miqdad. Beliau memerintahkan agar mereka mengumumkan dengan suara lantang di masjid:

“Tidak beriman, siapa saja yang tetangganya merasa tidak aman dari kejahatannya”.

Mereka mengumumkan hal ini tiga kali. (Mizanul Hikmah, jildi 2, hal 193)

Syiah Menurut Pandangan Rasulullah Saw

Seseorang datang kepada Rasulullah Saw dan berkata, “Ada seseorang melihat pada keluarga tetangganya. Bila ada kemungkinan baginya, maka dia tidak segan-segan untuk berbuat zina.”

Yang lainnya berkata, “Wahai Rasulullah! Dia adalah syiah [pengikut] Anda dan dia membenci musuh-musuh Anda dan musuh Ali as.”

Rasulullah Saw berkata: “Jangan katakan dia sebagai syiah [pengikut] kami. Karena para syiah [pengikut] kami adalah orang-orang yang mengikuti kami dan melangkah di garis kami. Bila dia memiliki sifat seperti ini [melihat keluarga tetangganya] maka dia telah menyimpang dari garis dan cara kami. 

“Kunjungan ke Kabul akan saya gunakan untuk meneguhkan komitmen Indonesia membantu peace building di Afghanistan sebagaimana diminta oleh Presiden Afghanistan.”

Menurut Kantor Berita ABNA, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan kesiapan Indonesia untuk menjadi tuan rumah penyelenggara pertemuan ulama internasional. Kesiapan Indonesia ini disampaikan Presiden Jokowi saat melakukan pertemuan dengan Ketua Dewan Perdamaian Afghanistan Karim Khalili, di Istana Haram Sarai (Wisma Negara), Kabul, Afghanistan, Senin (29/1) kemarin.

“Indonesia siap menjadi tuan rumah. Saran saya, pertemuan bersifat inklusif,” kata Presiden pada pertemuan yang dilakukan dalam rangkaian kunjungannya ke Afghanistan itu.

Dalam pertemuan itu, Presiden mengawali pembicaraannya dengan menyampaikan rasa duka mendalam atas tragedi yang terjadi di Kabul beberapa waktu belakangan. Kejadian tersebut sampai merenggut setidaknya puluhan jiwa.

“Saya turut mendoakan agar keluarga dan sahabat yang ditinggal diberi ketabahan. Kekejian ini tidak akan melunturkan semangat kita. Namun, hanya akan semakin memperkuat keinginan untuk menciptakan perdamaian,” ucap Presiden Jokowi.

Dirinya juga berterima kasih atas kunjungan yang dilakukan oleh Ketua Dewan Perdamaian Afghanistan beserta delegasi ke Jakarta beberapa waktu lalu. Melalui kunjungan balasan ini, Presiden Joko Widodo hendak meneguhkan komitmen Indonesia dalam membantu upaya perdamaian di Afghanistan.

“Kunjungan ke Kabul akan saya gunakan untuk meneguhkan komitmen Indonesia membantu peace building di Afghanistan sebagaimana diminta oleh Presiden Afghanistan,” ujar Presiden.

Kunjungan ini benar-benar dimanfaatkan oleh Presiden Jokowi untuk melakukan pembicaraan yang lebih detail mengenai langkah yang akan diambil ke depan, termasuk rencana penyelenggaraan pertemuan ulama Internasional tersebut. 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan kekagumannya terhadap sosok almarhum Kiai As’ad Syamsul Arifin, salah satu ulama besar yang menjadi kebanggaan di Tanah Air.

Menurut Kantor Berita ABNA, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan kekagumannya terhadap sosok almarhum Kiai As’ad Syamsul Arifin, salah satu ulama besar yang menjadi kebanggaan di Tanah Air.

Kekaguman Kepala Negara diwujudkan dengan menghadiri langsung Haul Majemuk Masyayikh di Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (3/1).

“Saya datang hari ini ke Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah karena saya ingin merasakan langsung, melihat langsung tempat dan santri-santri yang mewarisi semangat dakwah dan kebangsaan Bopo Syamsul Arifin,” ujar Presiden.

Semangat tersebut lanjut Presiden, tertuang dalam pemikiran-pemikiran Kiai Syamsul Arifin dalam berdakwah untuk bangsa dan negara Indonesia. Maka tak heran jika pemerintah memberikan penghargaan tinggi kepada almarhum Kiai As’ad Syamsul Arifin berupa gelar pahlawan nasional pada tahun 2016 yang lalu.

“Sebuah gelar yang memang sangat pantas diberikan kepada beliau, terutama jika kita ingat perjuangan beliau, jika kita ingat pengorbanan beliau, jika kita mendalami kembali pemikiran-pemikiran beliau di nusantara dan untuk bangsa, negara kita Indonesia,” ungkap Presiden.

Selain itu, keberagaman dan kemajemukan Indonesia yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik juga tak lepas dari peran serta almarhum Kiai As’ad Syamsul Arifin bersama para ulama lainnya. Bahkan, kerukunan tersebut menjadi salah satu ciri khas Indonesia di mata dunia.

“Dunia melihat bagaimana di Indonesia Islam menjadi agama rahmatan lil alamin dan bagaimana umat Islam menjaga ukhuwah islamiyah, wathoniah, dan basariah kita,” ucap Presiden.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga menceritakan kunjungannya ke Afghanistan beberapa waktu yang lalu. Meskipun sempat dilanda perasaan takut, namun berhasil dikalahkan dengan tekad kuat untuk membangun hubungan yang lebih baik antara Indonesia dengan negara-negara lain.

“Ini bukan urusan takut tapi ini urusan membangun ukhuwah kita. Kita juga ingin membangun perdamaian umat, membangun ukhuwah basariah kita ke negara-negara lain,” tutur Presiden.

Oleh karena itu, Presiden tak lupa menitipkan pesan kepada para ulama, kiai, santri, dan masyarakat di seluruh Indonesia untuk terus menjaga dan mensyukuri kodrat bangsa Indonesia yang hidup dalam kemajemukan dan keberagaman.

“Saya mohon Yang Mulia para ulama, kiai, santri, terutama Pondok Pesantren Salafiyah Sukorejo agar kita selalu menyemai nilai-nilai kerukunan dan mempraktekannya,” ucap Presiden.

Turut hadir mendampingi Presiden dan Ibu Iriana dalam acara tersebut adalah Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil, Ketua Umum PPP Romahurmuziy dan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo KH R Achmad Azaim Ibrahimy.

Saat ditanya wartawan tentang kehadiran Ketua Umum PPP Romahurmuziy di acara tersebut, Presiden menjelaskan, ”Karena undangannya kemarin dari Pak Kiai disampaikan ke Pak Romy (Romahurmuziy) makanya saya ajak,” sebagaimana dikutip dalam rilis Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media, Sekretariat Presiden, Bey Machmudin. 

Densus 88 Amankan Tiga Terduga Teroris di Solo dan Karanganyar

Menurut Kantor Berita ABNA, Kapolda Jawa Tengah Irjen Condro Kirono mengatakan, Tim Densus 88 Polri mengamankan tiga orang terduga teroris di Kota Solo dan Kabupaten Karangayar.

"Total ada tiga yang diamankan Tim Densus 88, dua di Karanganyar dan satu di Solo. Dua di Karanganyar berinsial S dan EM, sedangkan di Solo, HS," kata Condro di Solo, Minggu (4/2/2018), seperti dikutipAntara.

Ia mengatakan, ketiganya saling berkaitan dengan pembuatan bom rakitan yang bisa meledak sendiri. "Sebenarnya ini kasus lama, ada kaitannya dengan ledakan bom di Gladak dan Singosaren beberapa waktu lalu," katanya.

Condro mengatakan, untuk terduga teroris dengan inisial HS ditangkap di Semanggi, Pasar Kliwon, Surakarta. Sedangkan dua yang lain, yaitu EM dan S ditangkap di Dukuh Winong RT 01/RW 04, Desa Jatikuwung, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

Proses penangkapan sepenuhnya dilakukan oleh Densus. Sedangkan Polda Jateng hanya membantu pengamaman penangkapan dan penggeledahan. Menurut Condro, saat ini ketiga terduga teroris tersebut dalam pemeriksaan Densus.

"Untuk peranannya, saat ini masih dalam pemeriksaan," katanya.

Minggu, 25 Februari 2018 16:19

Hubungan Dagang Indonesia-Iran Meningkat

Duta Besar Republik Indonesia untuk Tehran mengabarkan pertumbuhan dua kali lipat volume pertukaran perdagangan antara Indonesia dan Republik Islam Iran pada tahun 2017 dan menegaskan bahwa Jakarta bersedia untuk meningkatkan level hubungan dagang dengan Tehran.

Menurut Kantor Berita ABNA, Duta Besar Republik Indonesia untuk Tehran mengabarkan pertumbuhan dua kali lipat volume pertukaran perdagangan antara Indonesia dan Republik Islam Iran pada tahun 2017 dan menegaskan bahwa Jakarta bersedia untuk meningkatkan level hubungan dagang dengan Tehran.

"Hubungan dagang antara Iran dan Indonesia telah meningkat dua kali lipat selama 2017 dibandingkan tahun 2016 dan mungkin juga akan berlanjut" kata Octavino Alimudin dalam sambutannya di acara pembukaan Kantor Asosiasi Persahabatan Indonesia-Iran, Selasa (6/2/2018) seperti dikutip ISNA.

Menurutnya, mengingat adanya kapasitas Indonesia dan Iran maka ada kemungkinan untuk meningkatkan volume pertukaran perdagangan kedua negara hingga sekitar satu miliar dolar.

"Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta memiliki pasar lebih besar daripada Iran sehingga bisa menjadi pasar yang bagus bagi negara ini, dan Iran juga menjadi pasar terbesar di Timur Tengah," imbuhnya.

Dubes Alimudin menjelaskan, hubungan dagang antara kedua negara pada 2017 senilai lebih dari 600 juta dolar, yaitu sekitar dua kali lebih banyak dari tahun 2016.

Dalam acara tersebut, Mojtaba Erfani, Kepala Kantor Asosiasi Persahabatan Iran-Indonesia, mengatakan, hubungan dengan Indonesia sebagai negara Muslim besar adalah penting bagi kami dan kami berusaha untuk meningkatkan hubungan ini.

Menurut Erfani, Republik Islam telah mengerahkan lima delegasi perdagangan ke Indonesia.

"Kamar Dagang Iran-Indonesia juga sedang didirikan dan kami berharap dapat mengembangkan hubungan bilateral dengan mengkoordinasikan perusahaan-perusahaan kedua belah pihak," ujarnya.

Erfani juga mengumumkan pengiriman mahasiswa ke Indonesia sebagai bagian lain dari agenda asosiasi tersebut.

Ia menuturkan, mengingat besarnya aktivitas bisnis di Indonesia, maka kami perlu meningkatkan investasi di bidang perdagangan, dan kami berharap para pedagang bisa saling mengenal melalui seminar-seminar.

Minggu, 25 Februari 2018 16:18

Indonesia Bisa Jadi Pemimpin Negara Muslim

Presiden mengingatkan, Indonesia punya Pancasila sebagai ideologi pemersatu dan rumah bersama. Indonesia juga sudah punya banyak bukti-bukti bahwa Nusantara kokoh bersatu, Bhinneka Tunggal Ika sangat tangguh, dan Indonesia adalah negara muslim yang sukses berdemokrasi serta terbuka untuk kemajuan.

Menurut Kantor Berita ABNA, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mengingatkan, bahwa Indonesia sudah masuk negara dengan ekonomi besar, sudah masuk negara Group 20 (G20). Karena itu, ia minta jangan lagi mencari-cari bantuan tapi justru harus mulai membantu.

“Saya sudah sampaikan kemarin pada Duta-duta Besar, jangan lagi mencari bantuan-bantuan, jangan lagi seperti ini. Kita justru harus mulai membantu, jangan meminta-minta bantuan. Harus memulai seperti itu,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada pembukaan Kongres ke-30 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang digelar di Universitas Pattimura, Ambon, Maluku, Rabu (14/2) pagi.

Kepala Negara menegaskan,  Indonesia sedapat mungkin bisa negara yang membutuhkan. Ia meyakini Indonesia bisa membantu, dan bahkan juga bisa menjadi rujukan kemajuan bagi negara-negara muslim.

“Saya yakin kita bisa menjadi rujukan kemajuan bagi negara-negara muslim. Bahkan saya meyakini, insya Allah  bisa menjadi pemimpin negara-negara muslim apabila ekonomi kita baik dan ekonomi kita kuat. Yakin kita bisa, yakin usaha sampai,” tegas Presiden Jokowi.

Sebagai negara muslim terbesar di dunia dan negara demokratis ketiga terbesar di dunia serta sebagai satu-satunya negara Asean yang masuk ekonomi besar dunia G20, Presiden Jokowi meyakini, Indonesia punya modal besar sebagai pemimpin.

“Saya yakin Indonesia bisa berbuat banyak. Islam Indonesia adalah yang moderat, yang toleran, yang modern, yang terbuka untuk kemajuan,” ujar Presiden.

Presiden mengingatkan, Indonesia punya Pancasila sebagai ideologi pemersatu dan rumah bersama. Indonesia juga sudah punya banyak bukti-bukti bahwa Nusantara kokoh bersatu, Bhinneka Tunggal Ika sangat tangguh, dan Indonesia adalah negara muslim yang sukses berdemokrasi serta terbuka untuk kemajuan.

“Jangan lupa kita punya insan-insan yang hebat, insan akademis, insan pencipta, insan pengabdi, insan yang bernafaskan Islam, insan yang memperjuangkan keadilan,” ucap Presiden seraya menambahkan, Indonesia mempunyai jutaan Kader HMI, kader Insan Cita yang berkualitas.

Tingkatkan Kualitas SDM

Namun Kepala Negara mengingatkan, bahwa upaya mengukuhkan kebangsaan dan membangun Indonesia yang berkeadilan pasti tidak berada dalam ruang yang hampa.

“Kita berada di era globalisasi yang penuh kompetisi, penuh persaingan. Kita tidak bisa membendung inovasi dan teknologi yang terus berkembang. Kita berada di dunia yang bergerak dinamis, bergerak sangat cepat,” terang Kepala Negara.

Ia menunjuk revolusi industri 4.0 yang sedang berlangsung harus diantisipasi secara serius. Digitalisasi, computing power, dan data analytics, diakui Presiden, telah melahirkan terobosan-terobosan yang mengejutkan di berbagai bidang, yang mengubah landskap ekonomi, lanskap politik, dan interaksi sosial budaya, baik di tingkat global, nasional, maupun daerah.

“Inilah perkembangan-perkembangan yang harus kita ikuti dan kita antisipasi. Peluang-peluang  besar tersebut harus juga kita manfaatkan, memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memberantas kemiskinan, mengurangi ketimpangan, menciptakan peluang kerja, mengembangkan wirausaha-wirausaha baru, serta untuk melayani semua warga negara secara berkeadilan di seluruh tanah air,” kata Presiden.

Untuk itu, Presiden Jokowi menegaskan, tidak ada jalan lain, Indonesia harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan meningkatkan kualitas insan-insan Indonesia menjadi insan yang sehat, berakhlak mulia, dan bermoralitas tinggi, yang berdaya juang demi kemanusiaan dan kemajuan Indonesia serta insan pembelajar yang cerdas, inovatif, dan solutif.

Diakui Kepala Negara hal ini bukan tugas ringan. Namun dengan memperkokoh kekuatan nasional dengan meningkatkan sinergi antarpemerintah dan masyarakat, termasuk HMI, Kepala Negara meyakini  Indonesia bisa serta usahanya diridhai dan sampai.

Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Mensesneg Pratikno, Menristekdikti M. Nasir, Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, dan Presidium KAHMI Akbar Tanjung.

Anggota senior Gerakan Muqawama Islam Palestina (Hamas) menyatakan bahwa Iran merupakan pendukung utama Palestina dan negara paling berpengaruh di kawasan ini sejak kemenangan Revolusi Islam.

Menurut Kantor Berita ABNA, Anggota senior Gerakan Muqawama Islam Palestina (Hamas) menyatakan bahwa Iran merupakan pendukung utama Palestina dan negara paling berpengaruh di kawasan ini sejak kemenangan Revolusi Islam.

Osama Hamdan, seorang anggota senior Gerakan Muqawama Islam Palestina (Hamas), kepada IRNA di sela-sela peringatan Revolusi Islam yang ke-39 di Beirut mengatakan bahwa Revolusi Islam Iran adalah pendukung utama bangsa Palestina yang tertindas dan memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina dan semua bangsa tertindas di kawasan dan di seluruh dunia.

Hamdan menyatakan, "Republik Islam Iran membantu bangsa Palestina di segala bidang, termasuk politik, pertahanan, jihad dan keuangan, serta perlawanan mereka, yang memiliki dampak signifikan pada kemajuan perlawanan dan pencapaian kemenangan besar.

Ditegaskannya, Revolusi Islam Iran menang ketika ketika Mesir baru saja menandatangani kesepakatan dengan Israel, dan keluar dari perlawanan terhadap pendudukan Zionis, pada saat itu tampaknya front muqawama anti-rezim Zionis melemah, namun Iran menjadi pasukan penolong dan pendukung terbesar bangsa Palestina.

Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani menekankan, partisipasi besar bangsa Iran di pawai akbar 22 Bahman merupakan jawaban atas konspirasi baru Amerika Serikat terhadap bangsa ini dan pergerakan rezim Zionis di kawasan.

Menurut Kantor Berita ABNA, Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani menekankan, partisipasi besar bangsa Iran di pawai akbar 22 Bahman merupakan jawaban atas konspirasi baru Amerika Serikat terhadap bangsa ini dan pergerakan rezim Zionis di kawasan.

Rouhani Ahad (11/2) saat pawai 22 Bahman di Tehran dan di depan wartawan seraya memuji partisipasi besar warga di acara ini menjelaskan, partisipasi ini merupakan pernyataan persatuan rakyat Iran serta baiat mereka kepada Bapak pendiri Republik Islam, Imam Khomeini untuk melanjutkan cita-cita Revolusi Islam.

Presiden Iran menambahkan, di tahun yang akan datang, keberhasilan semua sektor Iran harus dipertimbangkan oleh musuh-musuh Iran.

Sementara itu, Ketua Mahkamah Agung Iran, Ayatullah Sadeq Amoli Larijani saat mengikuti pawai akbar 22 Bahman di Tehran kepada wartawan mengatakan, partisipasi warga di pawai ini selain menunjukkan kekuatan Republik Islam kepada seluruh dunia, juga menjadi jawaban tegas atas konspirasi musuh.

Ayatullah Jannati, ketua Dewan Ahli Kepemimpinan yang juga turut dalam acara pawai akbar 22 Bahman mengatakan, bangsa Iran bersatu dan slogan mampus Amerika adalah buktinya, karena seluruh rakyat Iran adalah musuh Amerika, kezaliman dan arogansi.

Qasem Soleimani, komandan Brigade al-Quds Sepah Pasdaran (IRGC) saat menyampaikan pidatonya di depan peserta pawai akbar 22 Bahman di Provinsi Kerman mengatakan, Revolusi Islam Iran meletus ketika dunia dikuasai dua kutub kekuatan dan kekuatan yang mendominasi Iran juga berusaha memisahkan negara ini dari umat dan dunia Islam serta menggiring Iran untuk bersatu dengan rezim Zionis Israel. 

"Saya merasa khawatir ketika berkunjung ke Iran dikarenakan penggambaran buruk dan propaganda anti-negara ini. Namun setelah dua pekan mengunjungi berbagai kota di Iran, saya melihat bahwa propaganda itu tidak benar."

Menurut Kantor Berita ABNA, artis populer Malaysia Nur Fazura dalam wawancaranya dengan IRNA menjelaskan pengalaman kunjungannya ke Iran. Ia mengatakan, "Saya merasa khawatir ketika berkunjung ke Iran dikarenakan penggambaran buruk dan propaganda anti-negara ini. Namun setelah dua pekan mengunjungi berbagai kota di Iran, saya melihat bahwa propaganda itu tidak benar."

Kedatangan Nur Fazura ke Iran untuk syuting film berjudul "Lahze-ye Bi Payan (Momen Tak Berujung)" atau "Janji Zehan" (dalam bahasa Melayu) –hasil karya bersama Republik Islam Iran dan Malaysia– Film ini telah ditanyangkan bersamaan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kemenangan Revolusi Islam Iran ke-39 di Kuala Lumpur.

Acara tersebut diselenggarakan di Golden Screen Cinemas di Kuala Lumpur, pada tanggal 23 Bahman atau 12 Februari 2018. Film itu juga telah dilaporkan ditayangkan Astro First Eksklusif di saluran 480 dan platform digital "on demand" 15 Februari 2018.


Dalam Film tersebut, aktris terkemuka, Nur Fazura bergandengan dengan aktor berbakat besar dari Timur Tengah, Amir Rezazadeh. Selain dibintangi oleh Fazura dan Rezazadeh, "Janji Zehan" juga menampilkan aktor yang sedang mencipta nama di Indonesia, Bront Palarae.  

"Lahze-ye Bi Payan" merupakan naskah terbaru arahan sutradara ternama, Bernard Chauly dan Zabrina Fernandez. Film ini menceritakan kisah cinta dua pasangan yang baru menikah namun mempunyai latar belakang, bahasa dan budaya yang berbeda.

Selain itu, "Janji Zehan" juga turut mempertontonkan keindahan panorama Iran dan keunikan budaya masyarakat di negara ini. Keseluruhan sesi pengambilan gambar FTV ini telah dilakukan di Iran dan mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisatan negara ini dan Kedutaan Besar Iran di Malaysia.

Menurut aktris terkemuka Malaysia itu, kunjungannya selama dua pekan ke Iran tersebut sangat berkesan dan dalam kerangka memproduksi Film "Janji Zehan," terutama kunjungan ke tiga kota bersejarah negara ini; Tehran, Shiraz dan Yazd.

 
Nur Fazura menceritakan bahwa sebelum bermain dalam Flm Janji Zehan, ia tidak mengenal sinema Iran dan belum pernah berkunjung ke negara itu, namun kunjungan tersebut telah menghapus propaganda negatif tentang Iran.

Ia menilai monumen bersejarah Iran seperti Hafezieh sebagai pusat inspirasi dan sangat mengagumkan dan menarik. Nur Fazura menuturkan, di kota-kota yang saya kunjungi, terdapat banyak monumen bersejarah yang memiliki pengaruh unik.


Nur Fazura juga menyebut masyarakat Iran sebagai anggota keluarga yang ramah dan hangat, di mana mereka dengan penuh kecintaan menyambut dan menjadi tuan rumah bagi kelompok seniman Malaysia yang sedang menyiapkan pembuatan Film Janji Zehan di berbagai kota di negara ini.

Aktris cantik Malaysia itu juga berharap bisa hadir di Festival Internasional Film Fajr bersama dengan suaminya.

Minggu, 25 Februari 2018 16:14

Bersandar kepada Asing, Berbahaya

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengatakan, kita telah menyaksikan hasil dari penyandaran dan kepecayaan kepada asing dalam kasus perjanjian nuklir JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif), di mana kita mempercayai mereka dalam perundingan nuklir dan kita tidak memperoleh keuntungannya.

Menurut Kantor Berita ABNA, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengatakan, kita telah menyaksikan hasil dari penyandaran dan kepecayaan kepada asing dalam kasus perjanjian nuklir JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif), di mana kita mempercayai mereka dalam perundingan nuklir dan kita tidak memperoleh keuntungannya.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengungkapkan hal itu dalam pidatonya di hadapan ribuan masyarakat religius dan revolusioner Tabriz, barat laut Republik Islam Iran pada hari Minggu (18/2/2018).

 

Rahbar menyinggung bahwa penyandaran dan kepercayaan kepada asing dalam JCPOA dan perundingan nuklir tidak akan membawa keuntungan bagi negara.

 

Ayatullah Khamenei menuturkan, untungnya para pejabat telah menangani dengan baik masalah JCPOA ini dan Menteri Luar Negeri (Mohammad Javad Zarif) –di mana kita harus berterimakasih kepadanya– memiliki penanganan yang baik dan kuat dalam menghadapi kejahatan Amerika Serikat dan kebijakan bias Eropa, sehingga jalur tersebut harus berlanjut.

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, kita harus mengambil manfaat dari asing, namun kita tidak boleh percaya dan bersandar kepadanya, sebab, ia akan mendominasi nasib negara dengan berbagai cara, serta semua pejabat negara harus memperhatikan isu yang sangat penting ini.

 

Rahbar juga mengkritik keras musuh-musuh yang mengancam kemanusiaan dengan peralatan perang mereka, namun menentang kemampuan rudal Iran yang digunakan untuk tujuan defensif.

 

"Apa hubungan masalah ini dengan Anda? Apakah Anda ingin rakyat Republik Islam Iran tidak memiliki rudal dan sarana pertahanan lainnya, lalu Anda bisa memaksa kehendak terhadap mereka dan mengintimidasi mereka? Tentunya kami mengharamkan hal-hal seperti bom nuklir dan senjata pemusnah massal, namun kami akan mengejar dengan kuat setiap hal lainnya yang kami perlukan," tegas Rahbar.

 


Di bagian lain pidatonya, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menilai masalah ekonomi sebagai sangat penting. Menurutnya, bersandar pada kapasitas internal dan rakyat merupakan cara mendasar untuk memecahkan persoalan ekonomi.

 

Ayatullah Khamenei menuturkan, Ekonomi Muqawama tidak bermakna proteksionisme, namun bertumpu pada potensi dalam negeri.

 

Rahbar lebih lanjut menyinggung pawai meriah 22 Bahman untuk memperingati kemenangan Revolusi Islam Iran ke-39. Ia mengatakan, partisipasi luas masyarakat untuk membela Revolusi Islam di ambang 40 tahun kemenangan revolusi ini seperti sebuah keajaiban dan hal seperti ini tidak ada di revolusi manapun.

 

Ayatullah Khamenei juga menyinggung kebesaran dan dimensi eksternal dari pemahaman Revolusi Islam dan berbagai upaya musuh untuk mengingkari pelayanan dan fungsinya. Menurutnya, karya terpenting Revolusi Islam adalah perubahan sistem tirani (taghut) menjadi sistem demokrasi.

 

Rahbar menuturkan, demokrasi adalah masyarakat terlibat dan memiliki suara serta keputusan dalam semua urusan kehidupan, di mana hal ini berkebalikan dengan tidak adanya keterlibatan masyarakat dalam despotisme mutlak para taghut.

 

Menurut Ayatullah Khamenei, keagungan, kemuliaan dan kebesaran bangsa Iran adalah berkat Revolusi Islam. Ia mengatakan, hari ini ada sebuah negara di kawasan yang setiap harinya menjual 10 juta barel minyak dan memiliki perbendaharaan penuh uang, namun negara ini terbelakang dan tertinggal, dan tidak ada pembicaraan dan berita tentang rakyat negara itu di dunia.

 

"Namun karena Demokrasi Religius, dalam pandangan umum negara, orang-orang Iran menonjol dan memimpin revolusi," pungkasnya.