کمالوندی

کمالوندی

Pada tanggal 9 Muharam 61 Hq, Syimr bin Dzil Jausyan mendatangi perkemahan Imam Husein as. Selain memanggil Abbas dan putra-putra Ummul Banin lainnya, ia mengatakan, "Aku telah mengambil surat jaminan untuk kalian dari Ubaidillah bin Ziyad."
 

Secara bersamaan, mereka berkata kepada Syimr, "Allah melaknatmu dan melaknat surat jaminanmu! Kami berada dalam keamanan dan putra dari putri Rasulullah berada dalam ancaman?!"

 

Melalui saudara lelakinya, Abbas, Imam Husein as meminta kesempatan satu malam dari musuh untuk melakukan shalat, berdoa, berkhalwat dengan Tuhan dan membaca al-Quran.

 

Setelah memuji kebesaran Tuhan, Imam Husein mempersilahkan para sahabatnya agar menggunakan kegelapan malam itu untuk menyelamatkan diri dan pergi dari medan peperangan. Karena tidak ada seorangpun yang akan selamat dalam pertempuran melawan tentera Yazid keesokan harinya. Namun, keluarga dan sahabat Imam Husein as bertekad untuk memberi dukungan kepada agama Allah dan cucu Rasulullah selagi hayat dikandung badan. Pada malam  Asyura itu, sahara Karbala menjadi tempat beribadah yang paling indah dan menunjukkan puncak keimanan kafilah Imam Husein as.

 

Para sahabat Imam Husein menggali parit di seputar perkemahan untuk menghadapi musuh dan memutus hubungan musuh dengan perkemahan dari tiga arah. Serangan musuh hanya bisa dilakukan dari satu arah dimana para sahabat Imam Husain as ditempatkan. Ini adalah strategi Imam Husain as yang sangat bermanfaat bagi para sahabat.

 

Di hari itu sekelompok dari pasukan Umar bin Saad bergabung dengan pasukan Imam Husein as.

 

Pidato Imam Husein as kepada musuh, "Celaka kalian! Kerugian apa yang akan kalian peroleh jika mendengarkan perkataanku? Aku mengajak kalian ke jalan yang benar. Akan tetapi kalian menolak seluruh perintahku dan tidak mendengarkan perkataanku, karena perut-perut kalian telah terpenuhi oleh kekayaan haram hingga mengeraskan hati-hati kalian."

Dalam surat al-Maidah ayat 67 disebutkan:

یَا أَیُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَیْکَ مِن رَّبِّکَ

Yang artinya: “Wahai Rasul sampaikanlah (kepada masyarakat) apa yang telah diwahyukan Tuhanmu.” Itu adalah suara malaikat pembawa wahyu yang terdengar di telinga dan kalbu Rasulullah Saw. Pada waktu itu, Nabi Muhammad Saw, Rasul dan penjaga amanat Allah Swt itu gelisah. Tampaknya ada yang beliau khawatirkan. Beliau mengkhawatirkan masa depan Islam. Oleh karena itu, penyampaian pesan tersebut ditangguhkan, sampai pada saat yang tepat. Namun sang pembawa wahyu Allah Swt, malaikat Jibril, kembali turun dan menyampaikan kembali ayat yang telah disebutkan. Kemudian dengan nada lebih serius Jibril berkata:

وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Dan jika tidak kau lakukan maka tidak pula kau sampaikan risalah [agama]-Nya”

 

Selanjutnya untuk menenangkan hati Rasulullah Saw yang telah dengan segenap jiwa dan raga berjuang demi Islam, malaikat Jibril berkata:

وَاللّهُ یَعْصِمُکَ مِنَ النَّاسِ

“Dan Allah [Swt] akan menjagamu dari [gangguan] masyarakat.”

 

Pada tahun ke-10 Hijriah Rasulullah Saw mengumumkan akan menunaikan haji dan mengimbau masyarakat yang mampu untuk menyertai beliau, karena akan ada ketetapan penting dalam hukum Islam yang hingga kini belum disampaikan secara sempurna dan resmi kepada masyarakat. Salah satunya adalah masalah haji dan berikutnya adalah masalah kepemimpinan dan penerus sepeninggal beliau.

 

Setelah pengumuman dari Rasulullah Swt itu, mayoritas umat Islam berduyun-duyun menuju Mekkah untuk mempelajari perincian haji dari Rasulullah Saw. Selain itu, Rasulullah Saw juga menyebutkan bahwa tahun itu adalah tahun terakhir kehidupan beliau. Atas pertimbangan itu pula, jumlah orang yang menyertai haji Rasulullah Saw mencapai 120.000 orang. Rasulullah Saw melaksanakan manasik haji satu per satu dan juga menjelaskan amalan wajib dan mustahabnya kepada masyarakat.

 

Di Mina, Rasulullah Saw menyampaikan khutbah panjang kepada masyarakat. Pada bagian awal khutbah itu, Nabi Muhammad Saw menyinggung keamanan sosial umat Islam dari sisi nyawa, harta dan kehormatan. Kemudian beliau mengampuni darah yang tertumpah dan harta yang terampas di era jahiliyah agar tidak ada lagi dendam dan permusuhan sehingga terwujud keamanan dalam masyarakat Islam. Rasulullah Saw memperingatkan masyarakat soal ancaman perpecahan sepeninggal beliau dan menyampaikan hadis yang terkenal dengan nama hadis Tsaqalain. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Aku akan tinggalkan untuk kalian dua hal, kitab Allah Swt (al-Quran) dan itrahku (Ahlul Bait as), jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan pernah tersesat.”

 

Pada hari ketiga di Mina, kembali Rasulullah Saw menginstruksikan masyarakat berkumpul di masjid Khaif. Di sana, Rasulullah kembali menyampaikan khutbah. Pada khutbah itu beliau menekankan keikhlasan dalam amal, kecintaan kepada imam umat Islam serta menghindari perpecahan serta keseteraan semua orang di hadapan hukum dan ketetapan Allah Swt. Kemudiah beliau memaparkan pentingnya kepemimpinan sepeninggal beliau dengan mengulang hadis Tsaqalain.

 

Rasulullah Saw yang jauh dari tanah kelahirannya, akhirnya setelah 10 tahun menginjakkan kaki di Mekkah. Oleh karena itu, diperkirakan setelah menyelesaikan manasik haji, Rasulullah Saw akan berada di Mekkah selama beberapa waktu. Namun tidak demikian. Setelah semua manasik haji terlaksana, Rasulullah Saw memanggil muadzin beliau yaitu Bilal Habasyi, untuk menyeru kepada masyarakat untuk bergerak meninggalkan kota Mekkah. Masyarakat pun menyertai Rasulullah Saw meninggalkan Mekkah. Bahkan para hujjaj dari Yaman yang jalur perjalanan pulang mereka menuju ke arah utara, tidak meninggalkan Rasulullah.

 

Ketika rombongan Rasulullah Saw sampai di wilayah Kura’ al-Ghamim, di mana Ghadir Khum juga di wilayah itu, Nabi Muhammad Saw bersabda:
 

اَیُّهَا النَّاسُ، أجیبُوا داعِیَ اللَّهِ، اَنَا رَسُولُ اللَّهِ

“Wahai masyarakat! Jawablah penyeru Allah bahwa aku adalah Rasulullah”

Ucapan Rasulullah Saw ini menunjukkan bahwa beliau akan menyampaikan sebuah pesan penting. Kemudian Nabi memerintahkan rombongan untuk berhenti. Mereka yang berjalan terdepan juga kembali, sampai akhirnya  semua berkumpul di Ghadir Khum. Masing-masing mencari tempat. Para sahabat menumpuk batu-batu dan pelana onta agar Rasulullah Saw dapat berdiri lebih tinggi hingga disaksikan semua sahabat dan agar suara beliau terdengar.

 

Para sahabat Nabi menanti beberapa waktu sampai akhirnya adzan dikumandangkan dan bersama-sama menunaikan shalat zuhur diimami Rasulullah. Usai shalat, Rasulullah berdiri di atas tumpukan batu dan pelana itu dan memanggil Ali bin Abi Thalib as serta memerintahkannya untuk berdiri di sebelah kanan dan satu tingkat lebih rendah. Setelah itu, Nabi Muhammad Saw menyampaikan khutbah bersejarahnya. Setelah memanjatkan puja dan puji kepada Allah Swt, beliau bersabda: Allah Swt telah mewahyukan kepadaku demikian: Wahai Rasul sampaikanlah (kepada masyarakat) apa yang telah diwahyukan Tuhanmu, dan jika tidak kau lakukan maka tidak pula kau sampaikan risalah [agama]-Nya, dan Allah [Swt] akan menjagamu dari [gangguan] masyarakat.”

 

Rasulullah Saw melanjutkan khutbahnya dan berkata, “Wahai masyarakat, aku tidak lalai dalam menyampaikan apa yang diwahyukan Allah Swt kepadaku. Aku akan menjelaskan kepada kalian sebab-sebab turunnya ayat ini. Jibril tiga kali menghadapku dan dari sisi Allah Swt dia memerintahkanku untuk mengumumkan kepada kalian semua bahwa Ali bin Abi Thalib, adalah saudaraku, wakilku dan penggantiku untuk umatku dan imam sepeninggalku. Wahai masyarakat! Aku meminta Jibril untuk memohon kepada Allah agar aku dibebaskan dari penyampaian pesan ini, karena aku mengetahui hanya sedikit orang yang bertakwa serta banyaknya orang-orang munafik dan para mufsidin pendosa dan berbagai tipu daya mereka dalam mengolok agama Islam. Akan tetapi Allah Swt pada kali ketiga, memperingatkanku bahwa jika tidak aku sampaikan pesan ini maka aku juga tidak menyampaikan risalah-Nya.” 

 

Rasulullah Saw juga menjelaskan 12 imam yang akan memimpin umat sepeninggal beliau dan bersabda, “Wahai masyarakat! Ini adalah terakhir kalinya aku berbicara dalam perkumpulan seperti ini. Maka dengarkan dan patuhilah dan berserahdirilah kalian di hadapan perintah Allah Swt. Ketahuilah bahwa yang halal dan haram sangat banyak bagiku untuk menjelaskannya satu per satu, oleh karena itu, aku akan mengatakannya sekali bahwa aku memerintahkan [kalian] pada yang halal dan aku melarang [kalian] dari yang haram dan untuk menjelaskannya aku diperintahkan untuk mengambil baiat dari kalian dan berjanji dalam jabat tangan bahwa kalian menerima apa yang datang dari sisi Allah Swt terkait Ali sebagai Amirul Mukminin dan para imam dari keturunanku dan Ali. Dan Mahdi adalah hakim kebenaran hingga hari akhir.”

 

“Wahai masyarakat! Jumlah kalian sedemikian banyak untuk satu per satu berjabat tangan denganku akan tetapi sesuai perintah Allah Swt aku harus mengambil pengakuan kalian satu per satu bahwa kalian telah menerima posisi kepemimpinan atas umat Mukmin yang telah aku tetapkan untuk Ali, dan juga aku diperintahkan untuk mendapat pengakuan dan baiat tentang penerimaan keimaman dan kepemimpinan dari keturunanku dan keturunan Ali. Dengan demikian, katakan secara bersama-sama: kami telah mendengar apa yang telah kau sampaikan dari sisi Allah Swt kepada kami tentang kepemimpinan multak Ali dan para imam setelahnya yang dari keturunannya, dan kami mematuhi, berserah diri serta kami ridho atas perintah tersebut! Sekarang kami menerima kepemimpinanmu dengan berbaiat dengan jiwa, hati, mulut dan tangan kami dan berjanji untuk hidup dan mati dengan keyakinan tersebut sampai kami dibangkitkan.”

 

Lalu para sahabat pun dengan suara lantang mengiyakan seruan Rasulullah Saw. Kemudian para sahabat  mengerumuni Rasulullah Saw dan Amirul Mukminin. Untuk meresmikan baiat, Rasulullah Saw memerintahan kepada para sahabatnya untuk mendirikan dua tenda, yang satu untuk beliau dan lainnya untuk Amirul Mukminin. Dengan demikian para sahabat dapat secara teratur berbaiat kepada Rasulullah Saw kemudian menuju Amirul Mukminin untuk berbaiat dan mengucapkan selamat kepada beliau. 

 

Acara baiat itu belum selesai, Nabi Muhammad Saw kembali menerima wahyu yaitu ayat 3 surat al-Maidah:

 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.”

Senin, 26 Oktober 2015 13:51

Kepribadian Luhur Sayidah Maryam as

Dunia terjebak dalam berbagai krisis, terutama menyangkut urusan perempuan dan ia membutuhkan sebuah teladan luhur untuk membebaskan diri dari krisis tersebut. Dunia memerlukan para teladan yang bergerak di jalan tanggung jawab ilahi-sejarah dan menjadi sosok sukses dengan peran-peran besarnya. Selain itu, mereka juga harus memiliki kapabilitas, daya tarik, dan wibawa bagi masyarakat dunia khususnya kalangan perempuan. Agama langit dengan ajaran-ajarannya memberi posisi dan tempat istimewa kepada perempuan dan dalam hal ini,juga mempersembahkan teladan mulia kepada masyarakat dunia.
 

 

Salah satu teladan langit yang menjadi panduan kesucian, kehormatan, kesabaran, keluhuran, dan keberanian adalah Sayidah Maryam Muqaddas as, ibunda Nabi Isa as. Ia adalah sosok wanita yang sepenuhnya tunduk pada perintah Allah Swt dan tidak memikirkan perkara lain kecuali untuk meraih keridhaan-Nya. Untuk itu, Sayidah Maryam as dinobatkan sebagai wanita paling utama di zamannya. Ia memiliki kedudukan yang tinggi dan malaikat datang bercengkrama dengannya. Pada satu kesempatan, malaikat memberi kabar gembira kepada Sayidah Maryam bahwa Allah Swt telah memilihnya sebagai wanita yang paling utama di antara perempuan dunia.

 

Rasulullah Saw bersabda, “Wanita pilihan penghuni surga ada empat; Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiah binti Muzahim.” Kitab suci al-Quran menyebut nama Maryam sebanyak 34 kali danterdapat sebuah surat atas namannya, di mana dengan indah menjelaskan tentang detail peristiwa kelahiran wanita mulia itu dan Isa al-Masih. Maryam dilahirkan di Kota Nasirah (Nasaret), 16 tahun sebelum kelahiran al-Masih atau 5570 tahun setelah diturunkan Adam as ke bumi. Ibunya, Hannah bernazar bahwa jika Tuhan memberinya seorang anak,ia akan diserahkan kekuil untuk mengabdi.

 

Setelah Maryam lahir dan ketika sudah tiba waktunya, Hannah membungkus putrinya dengan sepotong kain dan membawanya ke kuil. Dia menitipkan putrinya kepada para rahib dan pemuka agama Bani Israil sembari berkata, “Bayi ini sudah dinazarkan untuk mengabdi di Baitul Maqdis, maka ambillah tanggung jawab untuk mengasuhnya.” Mengingat Maryam adalah putri Imran dan berasal dari keluarga terpandang, para rahib berebut untuk menjadi waliyang bertanggungjawab atas pengasuhan dan pemeliharaan Maryam. Karena tidak ada yang mengalah, akhirnya dilakukan undian dan undian itupun keluar atas nama Zakariya.

 

Maryam akhirnya berada di bawah pengasuhan dan pendidikan spiritual Nabi Zakariya as.Ia tinggal di Baitul Maqdis dan tumbuh besar di bawah bimbingan utusan Allah Swt.

 

Al-Quran menyebut Maryam sebagai wanita suci dan terhormat, ia memiliki hati yang bersih dan bercahaya. Ia adalah wanita pilihan Allah untuk sebuah kedudukan dan peranan besar di kemudian hari.Kebesaran pribadi dan keluhuran jiwa Sayidah Maryam semakin tampak seiring usianya yang beranjak dewasa. Ia adalah pribadi yang paling bertakwa dan mencapai puncak makrifatullah, dan ia bahkan menyalip kedudukan para rahib dan ulama Bani Israil. Maryam mencapai sebuah kedudukan yang membuat Nabi Zakariya takjub.

 

Allah Swt dalam surat Ali Imran ayat 37 berfirman, “… Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata, ‘Hai Maryam! Dari mana engkau memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab, ‘Makanan ini dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”Allah juga memuji Maryam dengan ungkapan yang indah seperti tertuang dalam ayat 42 surat Ali Imran, “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).”

 

Maryam mencapai derajat yang tinggi di bawah pengasuhan Zakariya. Ketika sudah menginjak usia sembilan tahun, ia menghabiskan hari-harinya dengan puasa dan melewatkan malam-malamnya dengan ibadah. Ia senantiasa larut dalam ibadah dan berdiam diri di mihrab sehingga Tuhan menyebutnya sebagai orang-orang yang taat. Dalam surat at-Tahrim ayat 12, Allah berfirman, “Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.”

 

Dengan demikian, Maryam memiliki kedudukan dan tempat yang tinggi di sisi Zakariya. Ia benar-benar terperanjat dengan perkembangan dan kesempurnaan spiritual Maryam. Ibadah dan bait-bait doa yang mengalir dari lisan Maryam membuat Zakariya terteguk kagum.

 

Di antara karakteristik utama wanita langit ini adalah kesucian dan kehormatan.Kesucian jiwa dan raga merupakan hal yang dapat ditemukan pada diri perempuan dan laki-laki, namun mengingat penciptaan perempuan sangat teliti dan juga keberadaan sifat-sifat lain dalam dirinya, maka unsur kesucian dan kehormatan lebih banyak disoroti dalam diri perempuan. Untuk itu, pujian dan celaan selalu ditujukan kepada kaum hawa. Sayidah Maryam as sangat populer dengan kesucian dan kehormatan sehingga ia disebut al-Muthahharah. Kesucian ini bukan hanya ia dapatkan dari sisi Allah Swt, tapi juga dari keluarganya yang dikenal suci dan terhormat.

 

Dalam surat Maryam ayat 16-29, Allah Swt mengisahkan tentang kepribadian, kesucian, dan kehormatan sosok agung ini. Maryam senantiasa larut dalam doa dan munajat kepada Allah dan ia mencapai kesempurnaan spiritual lewat ibadah. Ia memilih tempat yang jauh dari khalayak sebagai tempat munajat. Suatu hari ketika ia sedang khusyuk beribadah, sosok asing tiba-tiba muncul di hadapannya. Dalam ayat 16 dan 17 surat Maryam disebutkan, “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.”

 

Para ulama tafsir percaya bahwa ruh dalam ayat tersebut adalah sosok Malaikat Jibril. Ia menjelma dalam bentuk manusia dan muncul di hadapan Maryam. Awalnya, Maryam gemetar ketakutan dan menundukkan kepalanya. Ia bertanya-tanya dalam dirinya, siapa gerangan orang yang berdiri di sana. Kemudian orang asing itu berkata,"Salam kepadamu wahai Maryam." Maryam dibuat terkejut mendengar suara manusia di depannya. Ia berkata sebelum menjawab salamnya,” "Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa."(QS, Maryam: 18)

 

Maryam yang diliputi rasa takut berlindung kepada Allah Swt dan ia menunggu jawaban dari manusia asing tersebut. Kemudian orang itu tersenyum dan berkata, "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS, Maryam: 19). Dalam surat al-Anbiya ayat 91 disebutkan, “Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.”

 

Maryam adalah sosok yang terhormat dan suci sehingga Allah menjadikan rahimnya sebagai wadah untuk kelahiran seorang manusia yang membawa risalah langit.Dia adalah perempuan surga. Kejujuran, kehormatan, dan kesucian adalah di antara sifat utama Sayidah Maryam yang disebut al-Quran.Tuhan menobatkannya sebagai perempuan pilihan dan menjadikannya sebagai ibunda Nabi Isa as. Kesabaran dan sifat tawakkalmerupakan sifat utama lainnya yang disandangnya. Dalam kitab sucinya, Allah Swt telah menjelaskan karekter dan sifat-sifat terpuji Sayidah Maryam kepada seluruh umat manusia.

 

Kaum perempuan Iran juga menaruh perhatian khusus terhadap sifat-sifat dan kepribadian Sayidah Maryam. Beberapa organisasi non-pemerintah yang konsen pada isu perempuan di Iran – seperti Lembaga Budaya Mujtahidah Amin – menggelar acara khusus untuk menyambut kelahiran Sayidah Maryam dengan mengundang perempuan Muslim dan Kristen. Acara itu menghadirkan para pemikir Muslim dan Kristen untuk berbicara tentang kepribadian luhur Sayidah Maryam. Menurut sebuah riwayat, perempuan surga ini meninggal dunia pada usia 63 tahun dan dimakamkan di Yerusalem.

Senin, 26 Oktober 2015 13:50

Hijrah Spiritual ke Tanah Suci

Kita sekarang berada di hari pertama bulan Dzulhijjah dan hari-hari pelaksanaan manasik haji. Sekarang adalah musim haji dan dua kota yaitu Mekkah dan Madinah saat ini sedang menyaksikan pementasan kecintaan dan kerinduan umat Muslim. Para peziarah kiblat datang berduyun-duyun dengan harapan rahmat dan terkabulnya syukur dan taubat mereka.
 

Labbaik allahumma labbaik! Mereka menjawab seruan Allah Swt. Ini adalah untaian kata kesaksian iman mereka kepada Allah Swt. Kehadiran mereka di Ka’bah adalah manifestasi kecintaan dan penghambaan mereka. Dalam ritual agama mana lagi selain Islam, dapat kita saksikan umat berkumpul di satu tempat dan bergerak seirama, sehati dan sekata? Haji adalah pementasan indah partisipasi jutaan manusia untuk membuktikan penghambaan mereka dan juga merupakan gambaran kecil dari umat besar bertauhid.

 

Seluruh urusan ada di tangan Allah Swt Yang Maha Bijaksana. Segala sesuat di alam semesta ini berdasarkan hikmah dalam rahasia yang hanya diketahui Allah Swt. Ajaran dan ketentuan agama diatur sedemikian rupa sehingga membimbing manusia menuju kesempurnaan. Dapat dikatakan bahwa semua ajaran agama dari pandangan secara menyeluruh dan komprehensif, adalah sarana bagi perjalanan transendental menuju kesempurnaan dan juga sebagai pagar agar tidak terjerumus dalam kelalaian dan kekhilafan.

 

Berdasarkan ayat-ayat al-Quran, puncak tujuan penciptaan adalah ibadah. Hubungan manusia dengan Allah Swt akan kokoh melalui ibadah, yang juga akan meningkatkan kualitas jiwa dan spiritualnya. Haji adalah sebuah ibadah yang akan memposisikan manusia dalam sebuah proses perubahan batin. Akan tetapi, proses perubahan batin yang jauh dari kesombongan dan pamrih itu, tidak dalam kesendirian melainkan dalam sebuah gerakan agung dan seirama. Dengan demikian seorang pelaksana haji, merasakan keterikatan batin yang sangat kuat dengan saudara-saudaranya dalam proses tersebut. 

 

Manasik haji, adalah penitian jejak kehidupan manusia-manusia besar seperti Nabi Ibrahim dan Ismail as. Nabi Ibrahim as telah sepenuhnya menyerahkan diri di hadapan kehendak Allah Swt dan telah mencabut ikatan duniawi yang paling dalam dari hatinya, yaitu kecintaan pada anaknya. Hakikat di balik kisah Nabi Ibrahim as adalah pengorbanan seluruh keterikatan dan ketergantungan di jalan Allah. Para hujjaj secara simbolik juga melaksanakannya dalam manasik haji.

 

Mereka meninggalkan keluarga, rumah dan tanah air mereka menuju tanah Mekkah. Mereka bersabar dari kerinduan untuk keluarga sebagai ujian untuk melepas diri dari seluruh ketergantungan dan keterikatan duniawi. Melepaskan semua beban yang memberatkan langkah manusia, akan semakin membuka jalan mencapai Allah Swt. Jika para hujjaj membuang seluruh pesona selain Allah Swt dari hati mereka, maka mereka telah semakin dekat dalam memahami makna sejati haji.

 

Manasik haji sedemikin rupa sehingga dalam setiap tahapannya, akan tercipta perubahan dalam batin manusia. Para hujjaj yang pada awalnya mengenakan baju dengan berbagai warna, harus menggantinya dengan busana putih sederhana bernama ihram. Busana sederhana tersebut, menanggalkan seluruh atribut yang menjadi nilai unggul dan status seseorang. Ihram menanggalkan semua jabatan, posisi, kekayaan bahkan etnis. Semua atribut manusia ditanggalkan dengan busana Ihram sehingga hanya satu nama yang tepat bagi seluruh pemakai Ihram yaitu “hamba”.

 

Hujjaj kemudian memulai bertawaf. Dengan gerakan perlahan dan berkesinambungan, mereka mengelilingi Ka’bah. Semua mengelilingi poros Tauhid dengan ritme gerakan khusus. Salah satu kapasitas besar agama ini adalah kemampuan mengumpulkan kekuatan manusia sebesar ini di sebuah tempat dan mengerahkannya menuju satu tujuan. Para pelaksana tawaf bergerak sesuai ketentuan yang telah ditetapkan dan Ka’bah adalah jantung dunia Islam yang berdetak, menjadi poros gerakan agung itu.

 

Dalam kongres agung ini, para hujjaj akan menyaksikan sebuah fenomena baru hidup mereka. Para hujjaj harus menjauhkan diri mereka dari permusuhan, perang, upaya untuk mencapai keunggulan dan dominasi serta tidak membiarkan dirinya melanggar hak-hak orang lain. Para peziarah rumah Allah, akan berbagi pengalaman spiritualitas tersebut dengan saudara-saudaranya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa hujjaj adalah pembawa pesan perdamaian dan persahabatan untuk seluruh umat manusia serta menyampaikannya kepada seluruh dunia. Pesannya adalah, selama uang, kekuatan, supremasi dan imperialisme menjadi tujuan dan poros politik para penguasa dunia, maka jalan untuk mencapai perdamaian dan kebahagiaan dunia akan sangat sulit.

 

Apa yang akan membebaskan dunia sekarang dari kubangan instabilitas dan kekerasan, adalah penghindaran egoisme dan ketamakan. Caranya adalah dengan menghindari perspektif dominatif dan menjadikan Allah Swt sebagai asas dalam hubungan individu dan sosial. Manasik haji merupakan kesempatan bagi manusia untuk hadir dalam sebuah nuansa damai dan menitinya bersama-sama dengan saudara seagama. Apa yang disaksikan dari perkumpulan besar ini adalah perdamaian dan persahabatan. Para hujjaj menginginkan ketenangan dan kenyamanan bagi semua orang bahkan mereka menunjukkan kasih sayang untuk tumbuh-tumbuhan dan binatang.

 

Dalam kondisi ini, umat Islam dapat merasakan manfaat besar haji di berbagai sektor budaya, sosial, ekonomi dan politik. Ini termasuk di antara tujuan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt dalam haji. Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Haj ayat 27-28 yang artinya: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”

 

Dengan demikian, kehendak Allah Swt adalah bahwa energi terfokus ini bertujuan islah urusan masyarakat. Umat Muslim yang dalam kongres akbar ini dapat bertukar pengalaman dengan saudaranya, maka dia telah dekat dengan makna dan tujuan sejati haji. Dengan harapan kongres akbar umat Islam memperkokoh semangat solidaritas dan partisipasi lebih besar mereka dalam perjuangan menghadapi kekuatan imperialis dan dukungan untuk bangsa-bangsa tertindas.

Senin, 26 Oktober 2015 13:48

Filosofi Bara’ah Dalam Ritual Haji

Saat ini jutaan umat Islam dari seluruh dunia memadatiTanah SuciMekkah untuk melaksanakan manasik haji. Sebuah manasik yang menampilkan persatuan dan solidaritas di tengah umat. Para pengikut semua mazhab-mazhab Islam hadir di Tanah Suci dan berbeda dengan propaganda miring gerakan-gerakan Takfiri dan terorisme, mereka melangkah seirama dan tidak saling mengkafirkan. Sebaliknya, para jamaah sangat kompak untuk menunaikan rukun-rukun haji. Allah Swt telah mewajibkan kaum Muslim yang mampu secara fisik dan materi untuk melaksanakan ibadah haji. Hal ini untuk menjaga manasik haji dari ancaman penyimpangan dan melestarikan persatuandi tengah umat.
 

 

Filosofi dan rahasia kewajiban haji sejauh ini masih sedikit yang tersingkap. Musuh-musuh Islam juga memanfaatkan perbedaan pandangan di antara kaum Muslim untuk menciptakan krisis dan menghancurkan negara-negara Islam. Akan tetapi, kemunculan Sang Juru Selamat (Imam Mahdi as) di akhir zaman akan membuat masyarakat dunia memahami secara utuh tentang filosofi dan rahasia ibadah haji. Pada masa itu, umat manusia akan melakukan tawaf bersama Imam Mahdi as untuk menunaikan kewajiban penghambaan dan ketaatan kepada Allah Swt.

 

Salah satu dari manasik penting haji adalah bara’ah atau berlepas tangan dari orang-orang musyrik. Kegiatan ini termasuk dari ritual yang sudah dilupakan dalam pelaksanaan ibadah haji dan Imam Khomeini ra, pendiri Republik Islam Iran telah menghidupkannya kembali. Para jamaah haji Iran juga harus mengambil risiko besar untuk melestarikan ritual bara’ah. Pada tahun 1986, rezim Al Saud menentang pelaksanaan ritual bara’ah oleh rombongan haji Iran dan ratusan jamaah dari berbagai negara terbunuh di tangan tentara Arab Saudi. Lebih dari 400 jamaah haji Iran meninggal dunia dalam penumpasan itu.

 

Selama tiga dekade lalu, Al Saud dengan segenap upayanya tetap tidak mampu menghapus ritual bara’ah dari manasik haji.Berbeda dengan pandangan para penentang dan pengkritik kegiatan ini, perlu diluruskan bahwa bara’ah dari kaum musyrik adalah bukan sesuatu yang diciptakan oleh Imam Khomeini ra. Bara’ah merupakan ajaran al-Quran yang bermakna pernyataan kebencian dan pemutusan hubungan dengan orang-orang musyrik dan musuh-musuh kaum Muslim. Orang-orang musyrik juga tidak terbatas pada era kemunculan Islam saja.

 

Kemusyrikan dan permusuhan akan tetap ada sejalan dengan penyebaran agama Islam ke seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, ritual bara’ah dan pengenalan terhadap musuh tetap diperlukan oleh umat Islam. Dalam berbagai ayat al-Quran, di samping mencela habis-habisan perbuatan syirik dan kaum musyrik serta menjelaskan akibat buruk perilaku mereka, juga menekankan pentingnya memutus hubungan dengan kaum musyrik dan melawan mereka. Para nabi juga berlepas tangan dari orang-orang musyrik dan menyatakan kebencian mereka terhadap syirik. Al-Quran adalah kitab keabadian dan perintah-perintahnya juga berlaku sampai hari kiamat.

 

Dalam sejarah Islam, deklarasi universal bara’ah untuk pertama kalinya dilakukan setelah kaum musyrik melanggar perjanjian, yang telah mereka ikrarkan dengan Rasulullah Saw pasca penaklukan kota Mekkah pada tahun kedelapan Hijriyah. Sebelumnya, mereka sudah menandatangani perjajian untuk tidak terlibat konfrontasi dan permusuhan. Ayat-ayat di permulaan surat at-Taubahjuga menyinggung kasus pelanggaran perjanjian itu. Imam Ali as atas perintah Rasulullah Saw telah membacakan ayat-ayat bara’ah pada pelaksanaan musim haji tahun kesembilan Hijriyah.

 

Berdasarkan ayat-ayat itu, kaum musyrik tidak berhak lagi memasuki kawasan Baitullah dan tidak dibolehkan mengikuti ritual haji. Selain itu, segala bentuk perjanjian yang pernah dijalin antara kaum kafir dan umat Islam dibatalkan. Pernyataan bara’ah atau pemutusan hubungan dan berlepas tangan atas perbuatan orang-orang kafir adalah sebuah prinsip agama. Dengan kata lain, kaum Mukmin harus bersikap tegas dan jelas serta menentukan posisinya yang jelas di hadapan kaum kafir. Agama Islam memang tidak melarang umatnya menjalin perjanjian dengan kaum kafir, asalkan perjanjian itu tidak membuat mereka terhina.

 

Pengumuman bara’ah merupakan salah satu peristiwa penting sejarah kenabian. Dengan cara ini, pemerintah Islam ditegakkan dan seruan global agama ini dimulai, perwakilan Rasul Saw juga dikirim untuk menemui para pemimpin negara-negara lain. Oleh karena itu, penggagas deklarasi bara’ah dari kaum musyrik adalah pribadi Rasulullah Saw sendiri. Beliau ingin mengajarkan kaum Muslim untuk mandiri dan menolak hegemoni orang-orang kafir, seperti yang diperintahkan oleh al-Quran, “Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang mukmin.”

 

Pengumuman bara’ah dari kaum musyrik pertama kali dilakukan pada musim haji atas perintah Rasulullah Saw. Mengingat sunnah dan sirah Rasul Saw berlaku sepanjang zaman, maka ritual ini tetap dilaksanakan pada musim haji. Meski bara’ah tidak mengenal momen tertentu dan setiap individu Muslim harus senantiasa menyatakan kebencian dan berlepas tangan dari orang-orang musyrik. Namun, pertanyaan di sini adalah mengapa bara’ah ditekankan pada musim haji? Waktu dan momen yang paling tepat untuk mendapatkan hasil yang diharapkan dari bara’ah itu sendiri adalah pada waktu pelaksanaan ibadah haji di Mekkah.

 

Imam Khomeini ra ketika menjelaskan filosofi bara’ah mengatakan, “Syaitan besar, sedang, dan kecil harus diusir dari wilayah suci Islam.Kita harus menghancurkan semua berhala dengan pekikan, jeritan, tuntutan keadilan, dan perkumpulan yang aktif di tengah kaum Muslim di Mekkah al-Mukarramah dan juga melempar syaitan-syaitan khususnya Syaitan Besar (Amerika Serikat).”

 

Lalu, apa yang dimaksud dengan syirik? Syirik adalah lawan dari tauhid. Tauhid ialah keyakinan kepada Tuhan Yang Esa dan tidak ada sumber keberadaan di alam ini kecuali berasal dari-Nya. Sementara syirik adalah kepecayaan kepada kekuatan-kekuatan bayangan. Kekuatan semu ini bisa berupa berhala hawa nafsu atau patung berhala seperti, Hubal, Lata, dan Uzza,yang disembah oleh masyarakat Hijaz sebelum pengutusan Rasulullah Saw. Berhala itu mungkin juga berbentuk kepemimpinan tirani dan rezim-rezim ilegal yang mendominasi umat manusia. Imam Khomeini ra menyebutmodel kekuasaan seperti itu sebagai “berhala modern.”

 

Islam mengajak umatnya untuk menjadi manusia yang tulus dalam mengesankan Allah Swt yakni, tidak menyembah berhala hawa nafsu, patung berhala, dan juga kekuasaan.Kaum Mukmin memandang Tuhan sebagai satu-satunya pemilik kekuasaan dan untuk itu, mereka hanya taat kepada-Nya. Mereka melihat Sang Pencipta sebagai satu-satunya pendatang keberuntungan dan kemudharatan.Oleh sebab itu, mereka hanya memohon bantuan kepada Allah Swt dan juga takut kepada-Nya. Mereka sama sekali tidak bersandar pada kekuatan selain Allah Swt dan juga tidak takut pada kekuatan lain kecuali kekuasaan-Nya.

 

Di era modern, Imam Khomeini ra telah membuktikan hal itu dan beliau tidak gentar untuk menghadapi kekuatan-kekuatan arogan. Imam Khomeini ra – dengan bersandar pada kekuasaan Allah Swt – telah menghancurkan berhala-berhala modern dan bangkit menentang Amerika Serikat. Beliau berhasil mengantarkan Revolusi Islam di Iran ke gerbang kemenangan dan secara tegas menyatakan bahwa AS tidak mampu berbuat apa-apa.

 

Menyembah hawa nafsu atau patung berhala dan sikap tunduk pada kekuatan arogan, merupakan sebuah bahaya besar yang mengancam dunia Islam. Bara’ah dari kaum musyrik jika disuarakan secara serentak oleh kaum Muslim, maka pekikan ini akan membuat mereka terbebas dari kekuatan-kekuatan arogan dan hegemoni adidaya dunia. Sumber semua petaka yang menghancurkan dunia Islam saat ini adalah hegemoni kekuatan arogan, khususnya AS. Hegemoni kekuatan arogan telah menyengsarakan kaum Muslim. Satu-satunya jalan untuk mengakhiri penderitaan ini adalah mewujudkan persatuan dan solidaritas umat.

 

Persatuan tentu saja tidak tercipta lewat slogan, tapi harus diwujudkan dengan mencerabut akar-akar syirik dari tengah masyarakat Islam. Selama berhala hawa nafsu belum dihancurkan dan bara’ah dari kaum musyrik dengan arti yang sebenarnya belum diwujudkan, maka persatuan umat tidak akan tercipta dan masalah dunia Islam tidak akan terpecahkan. Dunia Islam menghadapi masalah yang sangat kompleks, seperti gerakan-gerakan Takfiri dan terorisme yang melakukan kejahatan atas nama Islam. Padahal Islam datang untuk menolak mereka.

 

Kongres haji dan bara’ah merupakan sebuah kesempatan, di mana kaum Muslim bisa mengenal gerakan-gerakan Takfiri dan terorisme yang dibentuk oleh negara-negara arogan dan Barat. Mereka harus memperkenalkan esensi hakiki agama Islam dan berlepas tangan dari gerakan-gerakan Takfiri yang melakukan kejahatan atas nama Islam.

Senin, 26 Oktober 2015 13:47

Keagungan Hari Arafah

Allah Swt menyeru umat manusia untuk berdoa dan menjanjikan ijabah atas doa-doa mereka."Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu.” Ibadah dan doa merupakan media penghubung antara manusia dengan Sang Pencipta yang maha kuasa. Untuk itu, ibadah dan doa tidak hanya dikhususkan pada waktu tertentu saja, tapi kita juga memiliki momen-momen istimewa dan kesempatan emas untuk menjalin hubungan dan berkomunikasi dengan Allah Swt lewat bahasa doa. Pada momen istimewa itu, rahmat khusus Allah Swt tercurahkan kepada para hamba dan mereka perlu berusaha untuk menempatkan dirinya di bawah pancaran nikmat-Nya. Rasul Saw bersabda, “Sesungguhnya bagi Tuhan kalian ada anugerah untuk hari-hari kalian, maka tempatkanlah diri kalian di dalamnya.”
 

 

Salah satu momen istimewa ini adalah hari kesembilan di bulan Dzulhijjah atau hari Arafah. Arafah termasuk salah satu dari hari raya meski tidak disematkan kata eid di depannya. Pada hari itu, Allah Swt menyeru hambanya untuk bermunajat dan membuka lebar pintu rahmatnya kepada mereka, sementara syaitan dihinakan dan diusir. Para jamaah haji setelah shalat subuh di Mina, bertolak menuju Padang Arafah sambil bertalbiyah dan bertakbir.Arafah adalah sebuah daerah di Makkah al-Mukarramah yang menjadi tempat berkumpulnya para jamaah haji dari seluruh dunia.Mereka melakukan wukuf di Arafah mulai azan dzuhur pada hari kesembilan Dzulhijjah sampai waktu shalat magrib. Mereka semua larut dalam doa, munajat, dan tafakkur.

 

Imam Ali as berkata, “Kalian tahu ketika jamaah haji sudah berihram, mengapa mereka pergi ke Arafah dan kemudian kembali lagi ke Ka’bah untuk tawaf? Ini dilakukan karena Arafah telah keluar dari batas haram, dan jika seseorang ingin menjadi tamu Allah, ia pertama kali harus keluar dari gerbang batas dan bermunajat sedemikian rupa sehingga ia layak untuk memasuki wilayah haram.”

 

Pada saat memperkenalkan Arafah, Imam Ali Zainal Abidin as dalam Sahifah Sajjadiyah berkata, “Ya Tuhanku! Ini adalah hari Arafah, sebuah hari di mana Engkau memberikan kemuliaan dan keagungan kepada mereka. Pada hari ini, Engkau membuka lebar-lebar pintu rahmat dan pengampunan untuk hamba-Mu dan Engkau mencurahkan pemberian sebesar-besarnya dan Engkau mengutamakan mereka karena hari ini.”

 

Hari Arafah sungguh sangat agung dan ia hampir menyamai malam Lailatul Qadar. Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Jika seorang pendosa belum memperoleh rahmat dan pengampunan Allah pada malam-malam yang penuh berkah di bulan Ramadhan, dan khususnya di malam-malam Qadar, maka ia tidak akan terampuni sampai tahun depan kecuali ia memahami Arafah dan memanfaatkan keutamaan-keutamaannya.”

 

Pada hari Arafah, Allah Swt membebaskan banyak manusia dari api neraka dan memberi pengampunan kepada mereka. Dia melipatgandakanamal kebajikan yang dilakukan oleh para jamaah haji di Makkah dan melimpahkan rahmat sebesar-besarnya kepada manusia sehingga setan berkecil hati pada hari tersebut.

 

Wukuf di Arafah mengandung arti bahwa manusia sudah sampai pada makrifat Ilahi dan mencapai kearifan. Mereka menyadari bahwa Allah Swt mengetahui semua kebutuhan manusia dan juga maha kuasa untuk memenuhi semua kebutuhan mereka. Pada akhirnya, mereka menyerahkan dirinya kepada Tuhan dan semata-mata taat kepada-Nya. Manusia juga perlu menyadari bahwa Allah Swt mengetahui semua isi hati mereka. Jika seseorang tahu hatinya berada dalam pengawasan Tuhan, maka ia tidak akan berbuat dosa lagi dengan lisan, tangan atau kakinya. Ia bahkan tidak lagi mengotori pikirannya dengan dosa, tidak memelihara angan-angan batil, dan juga menjaga kesucian hatinya dari noda.

 

Batas Arafah telah ditandai dengan rambu-rambu khusus. Imam Ali Zainal Abidin as berkata, “Ketika kalian memasuki Arafah pada hari kesembilan dan saat kalian tiba di sebuah padang yang luas, maka ketahuilah bahwa itu adalah tanah kesaksian, makrifat, dan irfan. Ia tahu siapa saja yang melangkahkan kakinya di tanah itu dan dengan motivasi apa mereka datang dan juga dengan niat apa mereka kembali. Allah menjadikan daerah itu sebagai saksi atas perbuatan kalian, di mana ia mengetahui dengan baik apa yang kalian lakukan.”

 

Arafah adalah hari taubat dan momentum untuk meraih pengampunan Tuhan. Imam Shadiq as berkata, “Pada hari Arafah, barang siapa yang menunaikan shalat dua rakaat di tempat terbuka sebelum mengikuti acara doa Arafah dan mengakui semua dosa-dosanya di hadapan Allah dan tulus memohon ampunannya, maka Allah akan menuliskan untuknya pahala yang diberikan kepada penduduk Arafahdan menghapus semua dosa-dosanya.” Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang paling berdosa di Arafah adalah individu yang kembali dari sana, sementara ia merasa dirinya tidak akan pernah terampuni.”

 

Para pemuka agama telah mengajarkan kita tentang bahasa dan muatan doa. Mereka memohon sesuatu yang paling baik kepada Allah Swt dan juga memberi contoh tentang bagaimana kita meminta kebaikan dan kenikmatan. Pada hari Arafah, Imam Husein as melantunkan bait-bait yang indah dalam doanya dan sekarang doa fenomenal itu tidakhanya menggema di kalangan jamaah haji, tapi juga mengguncang kalbu manusia di sepanjang sejarah. Doa Imam Husein as di hari Arafah merupakan kumpulan kalimat-kalimat penuh makna tentang tauhid, makrifatullah, dan penyucian jiwa.

 

Mutiara doa yang memancar dari kalbu Imam Husein as memuat makrifat yang tinggi dan mendorong manusia untuk bertafakkur. Setiap bait doa itu menanamkan cahaya, kecintaan, dan tauhid dalam sanubari manusia. Imam Husein as ingin mengajarkan pengenalan kepada Tuhan dan kebutuhan manusia kepada-Nya. Munajat pribadi agung ini menjelaskan tentang hubungan paling rasional antara manusia dan Tuhannya. Beliau dengan seluruh eksistensinya, menunjukkan kehadiran Sang Pencipta dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu. Imam Husein as menuangkan apa yang disaksikannya dalam bahasa lisan dan bait-bait doa yang indah.

 

Pada sore hari Arafah, Imam Husein as keluar dari kemahnya bersama keluarga dan sekelompok sahabatnya menuju Padang Arafah. Dengan penuh kerendahan dan kekhusyukan, beliau dan rombongan menghadapkan wajah ke Jabal Rahmah. Imam Husein as kemudian menghadap Ka'bah dan mengangkat kedua tangannya untuk bermunajat kepada Allah Swt. Beliau mementaskan bentuk penghambaan terindah dan pengenalan terdalam lewat bait-bait yang indah dan penuh makna. Imam Husein as memuji Allah Swt dengan pujian yang indah dan menyebut nikmat-nikmat yang dicurahkan kepada manusia di semua jenjang perjalanan hidup mereka. Cucu Rasulullah Saw ini kemudian berbicara tentang masalah mensyukuri nikmat dan menganggap dirinya tidak mampu menunaikan rasa syukur.

 

Dalam lanjutan doanya, Imam Husein as menjerit lirih dan berkata, "Akulah wahai Tuhanku yang mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Akulah yang berbuat kejelekan, akulah yang bersalah, akulah yang menginginkan (maksiat), akulah yang bodoh, akulah yang lalai, akulah yang lupa, akulah yang bersandar (pada-Mu), akulah yang sengaja (berbuat dosa), akulah yang berjanji dan akulah yang mengingkari, akulah yang merusak, akulah yang menetapkan, akulah yang mengakui akan nikmat-Mu atasku, namun aku menghadap-Mu dengan dosa-dosaku. Maka ampunilah aku."

 

Hari Arafah memiliki beberapa amalan khusus yang bisa kita lakukan dan salah satunya adalah puasa. Akan tetapi, jika puasa Arafah justru membuat kita lemah dan tidak mampu melakukan amalan-amalan lain, maka lebih baik kita tidak berpuasa. Bentuk amalan lain di hari istimewa itu adalah bertaubat, bertafakkur, dan memperbanyak pujian kepada Allah Swt. Pada hari Arafah, kita juga dianjurkan untuk mandi, membaca doa ziarah Imam Husein as, menunaikan shalat dua rakaat setelah shalat Ashar, melaksanakan shalat empat rakaat, dan berdoa serta berzikir khususnya membaca doa Arafah Imam Husein as.

 

Doa Arafah tidak hanya sebuah lantunan dan pujian, karena intisari doa tidak hanya terbatas pada sebuah permohonan kepada Tuhan, tetapi dialog dengan Sang Khalik. Dialog ini akan membuat hati manusia damai dan tentram. Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa menjaga pendengaran dan lisannya di hari Arafah, maka Allah akan menjaganya dari Arafah ke Arafah berikutnya.”

Idul Qurban atau Idul Adha adalah hari penyerahan dan penghambaan kepada Allah Swt. Hari besar tersebut merupakan perayaan kedekatan kepada Tuhan Semesta Alam yang memiliki arti pemutusan segala bentuk keterikatan dan ketergantungan kepada dunia. Untuk itu, kami mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha 1436 H.
 

 

Tak diragukan lagi, terdapat banyak rahasia dan poin-poin penting dan informatif yang terkandung dalam hukum-hukum Islam. Ibadah haji juga meliputi serangkaian program, ritual dan manasik khusus, di mana setiap dari mereka memiliki rahasia dan misteri masing-masing.

 

Salah satu amalan haji adalah berkurban di Hari Raya Idul Adha. Terdapat banyak pandangan mengenai filsafat penyembelihan hewan kurban. Mungkin dapat dikatakan bahwa salah satu tujuan berkurban adalah sebagai cara untuk menguji manusia atas harta dan kekayaannya di jalan Tuhan. 

 

Dalam tradisi berkurban, manusia akan mempersembahkan sebuah hadiah berharga kepada sang kekasih dengan penuh keridhaan. Ia akan memutus leher ketamakan dalam dirinya dan mengorbankan kekayaannya untuk dikorbankan. Ketahuilah bahwa daging dan darah kurban tidak akan pernah sampai kepada Allah Swt, namun yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dan kepatuhan orang yang berkurban, dan ketakwaan tersebut yang menyebabkan ia tumbuh dan menjadi sempurna.

 

Dalam Surat Al-Hajj ayat 37, Allah Swt berfirman, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan daripada kalianlah yang dapat mencapai keridhaan-Nya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kalian supaya kalian mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

 

Terkait betapa bernilai dan agungnya berkurban, Imam Ali as berkata, “Jika masyarakat mengetahui apa pahala berkurban di Hari Raya (Idul Adha) maka mereka akan berhutang dan melakukan kurban, sebab dengan tetesan pertama darah kurban, pelaku kurban akan diampuni dosanya.”

 

Hari Raya Qurban datang setelah perolehan makrifat di Arafah, penyadaran di Masy'aril Haram serta munculnya impian dan harapan di tanah Mina. Idul Adha adalah hari pembebasan dari segala jenis keterikatan dan ketergantungan kepada dunia, dan bebas dari segala hal selain Tuhan. Pada hari ini, semua yang berhubungan dengan dunia dikorbankan supaya menjadi ringan untuk meniti jalan kedekatan kepada Allah Swt. Dengan demikian, setiap orang harus mengoreksi dirinya tentang apa yang menyebabkannya bergantung pada dunia dan menjauhkan diri dari Tuhan.

 

Terdapat banyak rintangan, bahaya dan ujian berat dalam menelusuri jalan penghambaan kepada Tuhan. Nabi Ibrahim as yang telah bertahun-tahun menanti kelahiran Ismail as mendapatkan ujian besar dari Allah Swt untuk mengorbankan putranya tersebut. Doa Nabi Ibrahim as untuk memiliki Ismail tertera dalam Surat As-Saffat ayat 100. Allah Swt berfirman, "Ya Rabbku! Anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. "

 

Setelah menunggu selama bertahun-tahun, akhirnya Allah Swt menganugerahkan kepada Ibrahim as seorang putra bernama Ismail as. Namun ketika ia telah tumbuh dewasa dan mencapai usia baligh, Allah Swt memerintahkan Ibrahim as untuk menyembelih Ismail as. Perintah tersebut diperoleh beliau dari mimpi-mimpinya yang berulang kali.

 

Mengingat mimpi para nabi adalah benar, maka Nabi Ibrahim as yakin harus melaksanakan perintah tersebut. Beliau mengutarakan mimpi itu kepada putranya. Ismail as yang disifati dalam al-Quran sebagai seorang penyabar, mengamini apa yang diperintahkan oleh Allah Swt kepada ayahnya, Ibrahim as.

 

Peristiwa tersebut dijelaskan dalam al-Quran Surat As-Saffat ayat 102. Allah Swt berfirman, "Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu!, maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab, "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

 

Meski setan telah mengerahkan segenap upaya dan tipu dayanya untuk menghalangi Nabi Ibrahim as mengerjakan perintah Allah Swt itu, namun setan tetap tidak mampu mencegahnya. Nabi Ibrahim as dan Ismail as memutuskan untuk melaksanakan tugas berat tersebut dan bergegas menuju tempat penyembelihan. Nabi Ibrahim as kemudian menggesekkan pisau tajam ke leher Ismail as. Namun, setiap kali pisau itu digesekkan ke leher Ismail as, dengan izin Allah Swt pisau itu tidak mampu melukai lehernya. Nabi Ibrahim sangat terkejut dengan peristiwa itu.

 

Akhirnya Nabi Ibrahim as lolos atas ujian berat untuk mencapai keridhaan Allah Swt. Berkat upayanya untuk bertekad memenuhi perintah Allah Swt dan tidak menuruti bisikan-bisikan setan, beliau berhasil melalui ujian tersebut dengan sukses dan mencapai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan. Allah Swt memberikan pahala besar kepada Nabi Ibrahim as atas kesuksesan itu. Dalam Surat As-Saffat ayat 109-110, Allah Swt memuji Ibrahim as dan berfirman, "Kesejahteraan (dari Kami) dilimpahkan atas Ibrahim." Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. "

 

Dengan mengingat dan mengenang pengorbanan dua jawara tauhid -Nabi Ibhrahim dan Ismail as- Hari Raya Qurban menjadi simbol ketundukan kepada perintah-perintah Allah Swt yang dipertunjukkan kepada para pencari kebenaran. Hari raya tersebut mengajarkan kepada kita bahwa orang yang beriman tidak hanya cukup membenarkan Keesaan Tuhan dan risalah Nabi-Nya saja, tetapi juga sepenuhnya patuh dan tunduk kepada-Nya.

 

Kalimat indah "Labbaik Allahumma Labbaik" yang dilantunkan oleh para jamaah haji, pada dasarnya adalah pernyataan ketundukan, kepasrahan, penyerahan dan penghambaan kepada Tuhan. Hal tersebut selaras dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. Dalam Surat al-An`am ayat 162, Allah Swt berfirman, "Katakanlah, "Sesungguhnya salatku, ibadahku (amal ibadahku, yaitu ibadah haji dan lain-lainnya), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam."

 

Berkurban memiliki hukum-hukum dan syarat-syarat tertentu. Orang yang melakukan kurban harus Muslim dan memulainya dengan nama Allah Swt. Hewan kurban harus dihadapkan ke kiblat. Semua tata cara tersebut memiliki makna dan simbol, namun hanya mempunyai satu tujuan, yaitu penghambaan kepada Tuhan.

 

Menghadapkan hewan kurban ke kiblat mengajarkan kepada kita bahwa sebelum bergerak di jalan kesempurnaan untuk menuju kedekatan dan keridhaan Allah Swt, kita harus menemukan kiblat terlebih dahulu, yaitu arah kita untuk menghadap-Nya. Artinya kita harus bergerak hanya menuju ke arah Tuhan dan mengabaikan arah lainnya. Kita melepaskan diri dari pusat kekuasaan, ketenaran dan hawa nafsu lainnya.

 

Sementara orang yang melakukan kurban harus Muslim memiliki arti bahwa Muslim adalah orang yang telah sampai pada tahap penyerahan dan ketundukan. Kita harus seperti Nabi Ibrahim as, sehingga kita mampu menyembelih Ismail as sebagai simbol harta dan kekayaan yang paling kita cintai dan paling berharga dalam hidup kita.

 

Jika kita belum sampai pada tahap tunduk dan patuh, kita tidak akan memperoleh manfaat dari berkurban. Sebab kurban tersebut seperti hadiah dan persembahan yang diberikan oleh Habil dan Qabil kepada Allah Swt. Persembahan Habil diterima karena ia sepenuhnya tunduk kepada perintah-Nya dan memilih barang yang paling berharga untuk dikurbankan, sementara hadiah Qabil ditolak.

 

Idul Qurban merupakan peringatan atas epik pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail as dan hari untuk mengenang peristiwa besar itu. Semua manusia di setiap masa harus bergabung di kelas Ibrahim dan Ismail as sebagai pembimbing besar tauhid. Mereka harus mengambil pelajaran dari pengorbanan kedua manusia agung tersebut dalam meniti jalan keridhaan Allah Swt. Sebab, melepaskan ketergantungan kepada dunia dan jihad melawan hawa nafsu lebih sulit dibandingkan dengan menghadapi musuh nyata.

 

Sebagian mufassir menafsirkan arti “membunuh” dalam Surat al-Baqarah Ayat 54 adalah membunuh hawa nafsu. Dengan demikian, berkurban dari pandangan irfan adalah rahasia meninggalkan hawa nafsu dan bergerak menuju keridhaan Allah Swt. 

 

Amalan lain di Hari Raya Idul Adha adalah memberikan makan kepada orang lain. Amalan tersebut juga dalam rangka membenahi diri. Ketika seorang peziarah Baitullah memberikan hadiah kepada sahabatnya dengan penuh ikhlas dan cinta, maka dia sama halnya dengan mengekang hawa nafsunya. Ia akan terbebas dari kecenderungan-kecenderungan hawa nafsu yang merugikan dirinya dan orang lain.(

Senin, 26 Oktober 2015 13:43

Tragedi di Hari Berbahagia Idul Adha

Presiden Iran, Hassan Rouhani, dalam pidatonya di Majelis Umum PBB mengatakan, sangat disayangkan sekali ribuan hujjaj dari Iran dan negara-negara lain di Arab Saudi telah menjadi korban ketidakmampuan dan manajemen buruk para pengelola haji Arab Saudi. Seraya menekankan penanganan  hak-hak para korban jiwa dan luka di Mina, Rouhani menutut pertanggungjawaban para pejabat Arab Saudi untuk mengijinkan akses konsulat Iran untuk mengidentifikasi para hujjaj yang hilang dan pemulangan cepat jenazah mereka kepada keluarga mereka yang sedang berduka.

 
 

Rouhani mengatakan, kerugian dan luka perasaan jutaan Muslim akibat musibah Mina itu sedemikian besar sehingga tidak dapat diganti dengan peritungan materi. Menyusul tragedi tersebut, Presiden Republik Islam Iran, mengakhiri lawatannya ke New York lebih cepat dari yang dijadwalkan dan segera kembali ke Tehran untuk menangani masalah ini serta menghadiri pemakaman para korban.

 

Kamis 24 September 2015 dan hari pertama pelaksanaan manasik lempar jumrah, terjadi tragedi pahit dan getir di Mina. Peristiwa itu terjadi setelah jatuhnya derek bangunan di Masjidul Haram pada 11 September 2015 yang merenggut nyawa 120 hujjaj dan melukai 238 lainnya. Berdasarkan data terbaru, 228 hujjaj Iran meninggal dunia di Mina dan ratusan lainnya hilang. Nigeria, Iran, Maroko dan Mesir mencatat korban terbanyak.

 

Berdasarkan penyelidikan awal musibah Mina, penyebab musibah adalah desak-desakan dan kesulitan bernafas akibat kepadatan hujjaj. Itu terjadi karena penutupan jalur-jalur untuk manasik lempar jumrah pada hari itu.

 

Pasca musibah, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, segera merilis pesan khusus. Seraya menyampaikan simpati dan belasungkawa kepada anggota keluarga korban, beliau menekankan, pemerintah Arab Saudi harus menerima tanggung jawab beratnya dalam peristiwa pahit ini dan bertindak sesuai dengan persyaratan serta prosedur yang benar dan adil. Selain itu manajemen buruk dan langkah-langkah ceroboh yang menjadi penyebab peristiwa ini tidak boleh diabaikan. Beliau juga mengumumkan berkabung selama tiga hari di Iran.

 

Pada kesempatan lain, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar menegaskan, pemerintah Arab Saudi lebih baik bertanggung jawab atas tragedi Mina dan melaksanakan kewajiban terkait, dengan meminta maaf kepada umat Islam dan keluarga korban, daripada lari dari masalah. “Dunia Islam menyimpan banyak pertanyaan terkait insiden berdarah Mina.” Menurut Rahbar, bencana pahit di Mina telah mengubah hari raya Idul Adha menjadi hari duka cita bagi Umat Islam.

 

Jumlah hujjaj untuk musim haji tahun ini lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya; namun pada saat yang sama kita menyaksikan peristiwa berdarah pada pelaksanaan manasik haji. Dengan demikian, manajemen buruk para pejabat Saudi sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Bahkan para pejabat negara-negara Islam juga telah menyebut peristiwa-peristiwa itu sebagai kecerobohan Saudi. Namun Arab Saudi, yang selama beberapa bulan terakhir sibuk berperang dan menumpahkan darah Muslim Yaman, berusaha melalui musibah Mina dengan tenang .

 

Jenderal Mansur al-Turki, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi pasca musibah Mina pada jumpa persnya menjelaskan aspek musibah Mina dan menyinggung peran nasib dan takdir dalam musibah itu. Dia menilai pembludakan jumlah hujjaj, gerakan di jalur yang berlawanan, panas yang menyengat dan juga qadha dan qadar, yang menurutnya termasuk dari bagian keyakinan agama, termasuk di antara faktor-faktor penyebab musibah itu.

 

Di lain pihak, Khaled Abdulaziz al-Faleh, Menteri Kesehatan Arab Saudi, berusaha menjustifikasi musibah Mina dan menilainya sebagai akibat dari ketidaktertiban para hujjaj. Dia mengklaim bahwa penumpukan hujjaj terjadi setelah sebagian hujjaj bergerak tidak sesuai program yang telah diumumkan lembaga-lembaga keamanan dan kementerian urusan haji. Dia juga berusaha segera lepas tangan dari tanggung jawab dan tugas-tugas sebagai pelayan Haramain Syarifain seraya mengaitkan peristiwa itu dengan qadha dan qadar Allah Swt.

 

Media massa Arab Saudi dan yang berafiliasi dengan Riyadh menjustifikasi musibah Mina dengan menyebutkan beberapa faktor seperti cuaca panas, gerakan berlawanan sebagian hujjaj dari jalur yang telah diumumkan dan ketidakpatuhan kelompok-kelompok hujjaj untuk melintasi jalut yang telah ditetapkan.

 

Akan tetapi koran Lebanon al-Diyar, memaparkan kisah berbeda dari musibah tersebut dan menulis, para pejabat Saudi menolak memberitakan melintasnya konvoi kendaraan salah satu pejabat tinggi negara itu di Masy’ar Mina yang mengakibatkan tewasnya ratusan hujjaj. Padahal kenyataannya, kendaraan Muhammad bin Salman, Pengeran Mahkota dan Menteri Perang Arab Saudi, bersama 200 pengawal dan 150  polisi, menerobos barisan hujjaj menuju pusat Mina.

 

Iring-iringan kendaraan pangeran Saudi itu mengubah jalur hujjaj dan bahwa kendaraan pengangkut Muhammad bin Salman melintas dengan cepat dari arah berlawan dengan gerakan hujjaj. Hal itu menimbulkan kepanikan di antara para hujjaj dan dimulailah musibah tragis itu. Setelah musibah terjadi, konvoi Muhammad bin Salmen meninggalkan lokasi dan membatalkan kunjungannya.

 

Hingga kini Muhammad bin Salman tidak muncul di depan publik dan Muhammad bin Nayef yang mengeluarkan instruksi pembentukan komisi pencari fakta musibah Mina. Emir Mekkah juga segera menarik diri dari masalah ini. Di akhir laporannya, al-Diyar menulis, “Apakah Arab Saudi berani mengumumkan penyebab utama musibah Mina di mana faktornya adalah Muhammad bin Salman?”

 

Jatuhnya derek bangunan di Masjidul Haram dan juga musibah Mina menuai gelombang kritikan di tingkat internasional terhadap rezim al-Saud. Kritikan tersebut mengindikasikan adanya masalah serius dalam manajemen haji oleh Arab Saudi, dan perlu pelaksanaan pertemuan internasional guna membahas pelaksanaan haji yang aman dan nyaman.

 

Para tokoh dan pemimpin dari negara-negara Muslim termasuk Presiden Republik Indonesia menuntut peninjauan kembali dan perbaikan manajemen haji oleh Arab Saudi.

 

Sementara itu Komisi VIII DPR RI, menyatakan, pemerintah Arab Saudi harus mencapai kesepahaman dengan negara-negara Islam demi peningkatan keamanan para hujjaj.

 

Dewan Internasional Mendukung Pengadilan Adil dan HAM yang bermarkas di Jenewa juga merilis pesan belasungkawa kepada para keluarga korban musibah Mina dan menuntut masyarakat internasional membentuk komisi penyelidikan multi-nasional guna mengungkap berbagai aspek dan faktor musibah memilukan itu.

 

Di bagian lain pesan itu disebutkan pula bahwa agar masyarakat dunia mengambil sikap-sikap resmi dan segera untuk melindungi nyawa ribuan orang dan mencegah terulangnya kembali musibah seperti itu.

 

Tidak ketinggalan pula Sekjen PBB, Ban Ki-moon  dalam pesan belasungkawanya, meminta para pejabat Arab Saudi untuk segera melaksanakan tugasnya di hadapan para korban jiwa dan luka.

 

Benarkah apa yang terjadi di Mina dapat disebabkan oleh nasib, takdir, qadha dan qadar?

 

Mostafa Pour-mohammadi, Menteri Kehakiman Iran dalam hal ini menyatakan, “Kami memiliki tugas dan adalah masalah kolektif umat Islam, agar kita semua menindaklanjuti hak-hak individu korban, serta berbagai masalah politik terkait, secara serius.”(

Kebangkitan Imam Husein as sedemikian komprehensif sehingga dapat ditafsirkan dan dianalisa dengan berbagai metode. Oleh sebab itu, sepanjang sejarah, para sejarawan, teolog, fuqaha, ilmuwan, seniman, manusia-manusia arif, penyair, politisi dan mereka yang memiliki jiwa bebas, masing-masing memiliki analisa dan pemahaman tersendiri dari kebangkitan Imam Husein as. Meski demikian laporan dan analisa historis terkadang mengalami penyimpangan atau penyembunyian fakta. Penting untuk diperhatikan bahwa analisa dari satu dimensinya seperti hanya terfokus pada dimensi logis, emosional dan afeksi, historis, sosial ataukearifan saja, tanpa mempertimbangkan sisi lain dalam kebangkitan Imam Husein as, akan mengesampingkan berbagai dimensi penting lain. Salah satu yang perlu direnungkan terkait kebangkitan Imam Husein as adalah penyejajaran dimensi  logis di samping dimensi spiritualnya.
 

 

Dalam budaya dan ajaran Islam serta dalam sirah Rasulullah Saw dan Ahlul Bait as, akal, logika, perjuangan, jihad, cinta dan spiritualitas, bukan hanya tidak saling bertentangan, melainkan sebagai pelengkap masing-masing elemen. Karena berasal dari satu sumber dan berdasarkan pada nilai-nilai dan ideologi. Oleh karena itu, dalam gerakan Imam Husein as, dimensi spiritualitas dan perjuangan tertinggi itu dibarengi dengan kesadaran, pengetahuan dan wawasan. Dalam perilaku dan ungkapan Imam Husein as serta para sahabat beliau, disaksikan manifestasi tertinggi penghambaan dan ketertundukan di hadapan Haq, serta keberanian dan perjuangan paling herois dalam memerangi kebatilan. Disaksikan pula, manifestasi cinta, semangat, penyerahan diri, dan hidayah, yang masing-masing pada tingkat yang sangat tinggi pula. 

 

Imam Husein as dengan mempertimbangkan kondisi budaya, politik dan sosial kala itu,  beliau menyadari betapa masyarakat Islam secara gradual bergerak menuju ke arah kematian agama dan nilai-nilai islami. Beliau memahami bahwa masyarakat memerlukan sebuah gerakan fundamental dan mendalam untuk menghidupkan kembali Islam dan meng-islah masyarakat Muslim. Sebuah gerakan yang berdasarkan pada logika dan rasionalitas di satu sisi, dan berasaskan pada pengorbanan di sisi lain.

 

Apa yang memulai kebangkitan ini adalah, ancaman yang dihadapi Islam dan kepentingan umat Islam. Imam Husein as, tidak menerima kekuasaan seorang yang tidak layak seperti Yazid, serta menolak berbaiat dengannya. Oleh karena itu, dengan kondisi sulit akibat paksaan dari Yazid untuk mendapat baiat dari Imam Husein as, beliau terpaksa meninggalkan Madinah. Tekad Imam Husein as sedemikian bulat sehingga ketika mendapat tawaran dari saudaranya, Muhammad bin Hanifah untuk berlindung di Yaman, beliau berkata, “Wahai saudaraku! Demi Allah! Jika aku tidak punya tempat lagi di dunia ini, tidak ada lagi tempat berlindung dan tempat yang aman di dunia ini, aku tidak akan berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah!”

 

Oleh karena itu, Imam Husein as bergerak menuju Mekkah, rumah Allah Swt yang aman dan menjelaskan kepada masyarakat tentang kondisi dan situasi masa kepada mereka. Pada hari Arafah, beliau memanjatkan doa arif dan penuh cintanya kepada Allah Swt dan kemudian bergerak menuju Kufah meninggalkan manasik hajinya yang belum tuntas. Di dekat Kufah, Hur dan pasukannya menghadang jalan Imam Husein as dan sahabat beliau. Akhirnya rombongan Imam Husein as terpaksa menempuh jalur lain melintasi padang Karbala.

 

Di bumi itulah Imam Husein as dikepung oleh musuh. Dalam kondisi sulit dan krisis, keputusan apa yang harus diambil beliau? Menyerah dan berdamai? Tidak mungkin, karena bertentangan dengan tujuan kebangkitan dan gerakan beliau. Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah perlawanan dan perjuangan dibarengi dengan penyampaian hidayah dan penjelasan.

 

Dalam perjalanan dari Mekkah menuju Kufah dan Karbala, Imam Husein as yang mengetahui seluruh aspek kondisi dan situasi pada masa itu berkata, “Apakah kalian tidak menyaksikan kebenaran tidak diamalkan dan kebatilan tidak dicegah? Sunnah-sunnah telah mati dan bid’ah telah dihidupkan kembali.” Beliau mengemukakan itu untuk menjelaskan penyimpangan pemikiran, akhlak, berbagai kekeliruan, ketergelinciran masyarakat dan kelalaian dari menjaga elemen penting yang menjaga agama tetap hidup yaitu amr makruf dan nahyu munkar. Beliau menyebut kebangkitan beliau sebagai gerakan islah dan memperkenalkan dirinya sebagai “muslih”, yang berarti pengislah. Sebagaimana dalam surat wasiat kepada saudaranya Muhammad bin Hanifah, Imam Husein as menyatakan, “Aku bangkit untuk mengislah umat kakekku.”

 

Dalam menjelaskan filsafat kebangkitannya, Imam Husein as menyebutkan islah umat dan pembangkitan sirah Rasulullah Saw. Artinya beliau ingin menyadarkan umat Islam bahwa mereka sedang menjauh dari sunnah Rasulullah Saw. Imam Husein as menyadari dengan baik bahwa penyimpangan tersebut mengancam tegaknya pilar-pilar Islam dan jika dibiarkan berlanjut, maka banyak maarif agama yang akan termarginalkan dan pada akhirnya Islam hanya akan menjadi lapisan lahiriyah masyarakat.

 

Dalam kondisi mengenaskan seperti itu, apa yang dapat membebaskan agama dari  cengkeraman para penguasa zalim? Melihat pada kondisi yang ada, Imam Husein as mengambil keputusan sangat logis dan rasional untuk menyadarkan masyarakat. Karena bukan hanya masalah-masalah ideologi dan spiritual saja yang harus diluruskan kembali, melainkan masalah-masalah sosial dan politik masyarakat Islam saat itu. Maka untuk membebaskan agama dari masalah besar ini, pertama adalah tidak diakuinya pemerintahan Yazid dan kedua, penebusan dari penentangan terhadap rezim zalim Yazid.

 

Imam Husein as dengan menggunakan prinsip-prinsip yang benar beliau menjelaskan sebuah pemerintahan yang dipimpin oleh imam yang adil, serta mengecam perilaku-perilaku tidak adil para penguasa zalim. Pada tahap awal, beliau menjelaskannya dengan teori logis agama Islam dengan mengutip ucapan Rasulullah Saw dan mengatakan, “Barang siapa yang melihat penguasa zalim yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah Swt, dan dia berdiam diri, maka Allah Swt akan menempatkannya di sisi penguasa zalim itu.”

 

Keluarnya Imam Husein as dari Mekkah menuju Kufah juga menjadi peristiwa yang sangat menggemparkan. Tidak menuntaskan seluruh manasik haji di Mekkah, menimbulkan gelombang informasi luas di tengah masyarakat. Di satu sisi, Imam Husein as ingin menyedot perhatian umat Islam dan menginformasikan kepada para hujjaj tentang kebangkitan Imam Husein as untuk disampaikan ketika mereka pulang ke negara mereka. Dan di sisi lain, beliau ingin menekankan betapa pentingnya tujuan yang tengah diperjuangkan beliau.

 

Jika diperhatikan dari penjelasan Imam Husein as dan surat-surat beliau serta pertemuan beliau dengan para pemimpin kabilah di Mekkah, akan kita dapati bahwa gerakan Imam Husein as merupakan hasil dari analisa tingkat tinggi tentang kondisi dan situasi masyarakat Islam kala itu. Mengingat penyimpangan di sektor pemikiran agama merupakan masalah terbesar di masa itu, maka Imam Husein as menggunakan semua kesempatan untuk menjelaskan konsep-konsep hakiki agama dan memaparkan posisi seorang pemimpin dalam masyarakat.

Hari ini adalah hari kelahiran Imam Ali bin Musa al-Ridha as, cucu suci Rasulullah Saw. Seorang pemimpin yang lebih dari 1.000 tahun lalu telah menginjakkan kaki ke Persia dan kehadirannya membanjiri hati hari pecinta Rasulullah Saw dan Ahlul Bait Nabi as dengan suka cita dan kegembiraan.
 

 

Gelombang manusia yang berziarah ke makam Imam Ali al-ridha as, mengingatkan masa-masa ketika beliau bergerak dari Madinah menuju Marv, salah satu wilayah Persia (Iran saat ini). Warga kota Marv telah beberapa hari sebelumnya mempersiapkan diri menyambut kedatangan manusia mulia itu.

 

Ketika rombongan Imam Ali al-ridha as tiba di Marv, suka cita bercampur dengan air mata kerinduan masyarakat tidak dapat terbendung lagi. Masing-masing orang menyampaikan kerinduan dan kecintaan meeka dengan berbagai cara. Sambutan masyarakat sedemikian rupa sehingga membuat rombongan Imam Ali al-ridha as terpaksa berhenti. Semua orang ingin menatap wajah cucu Rasulullah Saw itu dan mendengarkan suaranya. Kesempatan itu pun tidak disia-siakan Imam untuk berpidato.

 

Dalam suasana yang mendadak hening, Imam Ali al-ridha menyampaikan hadis qudsi di mana Allah Swt berfirman kepada Rasulullah Saw, dan berkata: “Kalimat tauhid yaitu tiada tuhan selain Allah (Swt) adalah benteng-ku dan  barang siapa yang memasuki benteng-Ku, maka akan terjaga dari azab-Ku.”

 

Setelah mengutip hadis tersebut, Imam Ridho as memperkenalkan diri sebagai syarat untuk masuk dalam benteng itu dan mengatakan, “Namun dengan memperhatikan syarat-syaratnya dan aku termasuk di antara persyaratan itu.” Dengan demikian, Imam Ali al-ridha as telah menjelaskan peran poros Ahlul Bait as dalam kepemimpinan umat Islam.

 

Imam Ali al-ridha as lahir pada tahun 148 hijriah di kota Madinah. Di bawah binbingan ayah beliau, Imam Musa al-Kadzim as, beliau siap memikul tanggung jawab berat itu. Imam Ali al-ridha as, adalah mata air ilmu dan keutamaan. Amal dan kata-kata beliau penuh dengan keridhoan atas Allah Swt. Oleh karena itu, beliau diberi gelar al-Rhido.

 

Beliau memikul tanggung jawab  imamah selama 20 tahun yang sebagian besarnya dihabiskan di Madinah dan tiga setengah tahun terakhir masa hidupnya di kota Marv, Khurasan (Iran saat ini). Beliau meninggalkan Madinah atas paksaan penguasa Bani Abbasiah kala itu, Ma’mun.

 

Kala itu Marv merupakan pusat ilmiah di tanah Khurasan. Imam Ali al-ridha as menggunakan keunggulan tersebut untuk meningkatkan gerakan ilmiah. Di lain pihak, Ma’mun berusaha tampil dekat dengan Imam Ali al-ridha demi kepentingan politiknya. Namun pada saat yang sama, dia selalu berusaha mencoreng keutamaan ilmu Imam Ali al-ridha as dengan menggelar berbagai acara debat. Akan tetapi Imam dalam setiap sesi perdebatan, selalu menang dan bahkan mempengaruhi para ilmuwan yang hadir, dengan argumentasinya yang kokoh.

 

Islam adalah agama yang menyambut berbagai pertanyaan dan tidak pernah tercatat dalam sejarah bahwa para imam Ahlul Bait as tidak menjawab pertanyaan yang dikemukakan kepada mereka. Imam Ali al-ridha as, berperan penting dalam perluasan budaya Islam. Dalam berbagai acara debat, Imam selalu mempertimbangkan hidayah dan bimbingan untuk lawan dan tidak berusaha untuk selalu menang. Beliau membuktikan kebenaran keyakinan Islam  dengan menggunakan argumentasi logis yang kokoh. Imam berkata, “Jika masyarakat memahami keindahan ungkapan kami maka mereka pasti akan mengikuti kami.” Dan terbukti betapa banyak musuh-musuh yang akhirnya menjadi teman di akhir acara perdebatan.

 

Imam Ali al-ridha as yang menguasai teknik-teknik argumentasi, selalu mempertimbangkan setiap dimensi. Pertimbangan atas tingkat budaya di masa itu dan penyesuaian istilah-istilah yang digunakan, semuanya harus sesuai dengan kemampuan logika dan pemikiran lawan debat.

 

Terkadang dalam berdebat dengan para ilmuwan Imam Ali al-ridha as, menekankan pada berbagai sisi dan argumentasi yang juga diterima oleh lawan debat. Sebagaimana yang tercatat dalam sejarah soal debat antara Imam Ali al-ridha as dan para tokoh Kristen dengan menggunakan argumentasi kitab Injil dan juga dalam pembahasan dengan tokoh Yahudi dan menggunakan argumentasi dari kitab Taurat.

 

Meski memiliki tingkat keilmuwan tinggi, akan tetapi Imam tidak merendahkan lawan debat beliau. Imam selalu menjaga kehormatan pihak seberang meski sebagiannya tidak beragama. Jika perdebatan sampai pada titik di mana pihak lawan tidak lagi bisa menjawab, beliau membimbingnya atau mengutarakan sebuah pertanyaan sehingga pembahasan mereka menghasilkan. Bahkan terkadang beliau menjawab pertanyaan lawan dengan mengatakan, “Jika kau bertanya seperti ini maka pendapat kamu sendiri akan tertolak.”

 

Di antara lawan debat Imam Ali al-ridha as, adalah seseorang bernama Amran Sabi, yang tidak meyakini adanya Allah Swt, di mana setelah menyaksikan sikap dan argumentasi Imam, dia beriman kepada Allah Swt dan memeluk agama Islam. Sepanjang perdebatan, Imam memanggil Amran dengan nama kecilnya sehingga dengan demikian terjalin keakraban dan tercipta suasana santai. Selama tanya jawab berlangsung, Imam ketika menjawab pertanyaan Amran Sabi beliau mengatakan, “Wahai Amran, apakah kau paham?” Sikap itu sedemikian rupa sehingga Amran juga memberikan jawaban secara terhormat dan mengatakan, “Iya, tuanku.”

 

Tujuan dan maksud para pendebat adalah harus sampai pada hakikat yang jelas dan tak tergoyahkan. Itu hanya dapat tercapai ketika perdebatan jauh dari fanatisme dan permusuhan. Imam Ali al-ridha as  dengan akhlak yang mulia, tidak menuding lawan beliau telah berbohong dan juga tidak pernah menistakan atau merendahkan mereka. Melainkan beliau selalu mengingatkan titik kekeliruan dan penyimpangan mereka. Beilau tidak pernah mengkritisi individu melainkan mengkritisi  masalah pembahasan.

 

Perdebatan Imam Ali al-ridha as, membawa banyak berkah untuk dunia Islam termasuk di antaranya adalah menunjukkan citra kebebasan dalam Islam. Imam telah mematahkan klaim dan kebohongan banyak pihak bahwa Islam memaksakan kehendak dan menghunuskan pedang kepada para penentangnya. Namun tampilnya Imam Ali al-ridha as, telah jelas bagi semua orang bahwa Islam menyambut perbedaan pendapat bahkan meski dari pihak yang menafikan tauhid dan menentang Islam.

 

Termasuk di antara berkah dan manfaat perdebatan Imam al-ridha as, adalah membuka lahan yang kondusif bagi penyebaran risalah Islam dan perluasan khazanah ilmu Islam, serta jawaban tegas secara ilmiah kepada para penentang Islam. Metode-metode dakwah Imam Ali al-ridha as dalam berbagai acara perdebatan memiliki  pengaruh yang luar biasa untuk menyingkap penyimpangan anti-Islam dalam masyarakat, sekaligus menjelaskan posisi luhur Ahlul Bait as.

 

Dalam acara-acara perdebatan itu dan di antara para penentang Islam, Imam Ali al-ridha as menggalang sahabat yang setia, seperti Amran Sabi, yang juga pada akhirnya menjadi pembela agama Allah Swt. Sirah perdebatan Imam Ali al-Ridha as merupakan teladan dalam dialog konstruktif yang merefleksikan nilai-nilai akhlak, rasionalitas dan argumentasi untuk mencapai hasil yang lebih baik dan lebih efektif.(