Ayatullah Sayyid Ali Khamanei: Kebisuan Atas Tragedi Mina, Bencana Besar Umat Islam

Rate this item
(0 votes)
Ayatullah Sayyid Ali Khamanei: Kebisuan Atas Tragedi Mina, Bencana Besar Umat Islam

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (7/9) dalam pertemuan dengan keluarga-keluarga syuhada tragedi Mina dan Masjid Al Haram, menilai kelalaian dan ketidakmampuan rezim Al Saud dalam menangani insiden tersebut, sebagai bukti tambahan atas ketidaklayakan dari “Pohon kebengisan yang terlaknat” ini dalam mengatur dan mengelola Haramain Syarifain (Mekah dan Madinah).

 
Rahbar menyinggung kesyahidan sekitar 7000 jemaah haji dalam tragedi Mina dan menyampaikan protes keras kepada pemerintah Arab Saudi, “Kenapa negara-negara dunia tidak menunjukkan reaksinya atas peristiwa besar dan menyedihkan ini ?.”

 
Ia menyebut diamnya negara-negara bahkan ulama, aktivis politik, intelektual dan tokoh-tokoh Dunia Islam menyaksikan gugurnya 7000 jemaah haji tidak berdosa sebagai “Bencana besar Umat Islam”.

“Tidak sensitif atas masalah-masalah seperti tragedi besar dan menyedihkan di Mina adalah musibah terbesar Dunia Islam,” ujar Rahbar.

Ayatullah Khamenei menganggap penolakan penguasa Saudi untuk meminta maaf secara lisan, sebagai puncak dari keburukan dan hilangnya rasa malu mereka.

“Bahkan jika dilakukan tanpa sengaja sekalipun, semua kalalaian dan ketikdabecusan ini adalah kejahatan bagi sebuah pemerintahan,” imbuhnya.

Rahbar menyebut diamnya para pengklaim hak asasi manusia sebagai sisi buruk lain tragedi Mina. Ia juga menyinggung kegaduhan politik dan propaganda lembaga-lembaga pengklaim pembela HAM terkait pelaksanaan hukuman pengadilan di beberapa negara.

Rahbar menuturkan, kebisuan di hadapan kelalaian sebuah pemerintahan dalam melaksanakan tanggung jawabnya dan tewasnya 7000 manusia tertindas dan tidak berdosa, semakin memperjelas wajah asli para pengklaim HAM dunia, dan siapapun yang berharap pada lembaga-lembaga internasional, harus mau menerima realtias pahit ini.

Menurut Ayatullah Khamenei, pembentukan sebuah tim pencari fakta, termasuk pekerjaan wajib dan darurat bagi negara-negara Muslim, serta para pengklaim HAM.

Ia menerangkan, setelah berlalu setahun sejak terjadinya tragedi Mina, pemeriksaan bukti-bukti visual, audio dan dokumen-dokumen tertulis, telah banyak membantu memperjelas realitas.

Rahbar juga menganggap para pendukung rezim Al Saud sebagai sekutu kejahatan-kejahatan rezim itu dalam tragedi Mina.

“Rezim Saudi dengan dukungan Amerika Serikat, terang-terangan berdiri melawan Muslimin dan menumpahkan darah rakyat tidak berdosa di Yaman, Suriah, Irak dan Bahrain, oleh karena itu Amerika dan para pendukung Riyadh lainnya, punya andil besar dalam kejahatan-kejahatan yang dilakukan Saudi.

Read 1365 times

Add comment


Security code
Refresh