Surat as-Saaffat ayat 39-49.

Rate this item
(0 votes)
Surat as-Saaffat ayat 39-49.

Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. (37: 39)

Kajian sebelumnya berbicara tentang celaan kaum musyrik dan kafir terhadap para nabi dan juga azab Ilahi yang mereka terima di hari kiamat. Ayat tersebut menjelaskan bahwa azab Ilahi diberikan bukan atas dasar balas dendam dan dengki, tetapi merupakan hasil dari perbuatan mereka sendiri selama di dunia.

Menurut ajaran Islam, pemikiran, ucapan, dan perilaku manusia memiliki pengaruh pada ruhnya dan membentuk kepribadian hakiki mereka. Di akhirat, parameter pemberian pahala dan azab adalah berdasarkan kepribadian manusia yang terbentuk selama di dunia. Kekufuran, kezaliman, atau arogansi akan membawa dampak yang sangat merusak pada ruh manusia. Sifat-sifat buruk ini mengundang azab dan siksa neraka di hari kiamat kelak.

Perlu dicatat bahwa aturan hukum di dunia disusun atas dasar kesepakatan dan musyawarah, sementara azab akhirat bukan produk dari musyawarah. Sebagai contoh, menerabas garis putih dan zebra cross saat di lampu merah, akan dikenai denda materi dengan angka yang berbeda-beda di setiap negara. Perbuatan ini juga memiliki risiko lain yaitu berpotensi menabrak kendaraan lain. Denda materi adalah sebuah produk kesepakatan, sementara potensi tabrakan merupakan akibat yang harus ditanggung karena perbuatan melanggar hukum.

Jadi, azab akhirat adalah akibat yang harus ditanggung karena dosa-dosa yang dilakukan selama di dunia.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Azab Ilahi berpijak pada keadilan, karena benar-benar sesuai dengan perbuatan manusia itu sendiri.

2. Wujud dari akidah dan perbuatan kita akan tampak pada hari kiamat dan apa yang telah kita tanam akan kita petik hasilnya di sana.

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ (40) أُولَئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَعْلُومٌ (41) فَوَاكِهُ وَهُمْ مُكْرَمُونَ (42) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (43) عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ (44)

Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). (37: 40)

Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu. (37: 41)

Yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan. (37: 42)

Di dalam surga-surga yang penuh nikmat. (37: 43)

Di atas takhta-takhta kebesaran berhadap-hadapan. (37: 44)

Ayat tersebut berbicara tentang sifat para penghuni surga. Manusia yang telah dibersihkan dari dosa akan dijauhkan dari siksa neraka. Mereka memperoleh berbagai kenikmatan di surga serta hidup dalam kesejahteraan dan kedamaian yang hakiki.

Dalam teks al-Quran, kata mukhlis dipakai untuk orang yang melakukan pekerjaannya semata-mata karena Allah Swt dan bergerak meniti kesempurnaan spiritual. Sedangkan kata mukhlas dipakai untuk orang yang telah dibersihkan oleh Allah Swt dan mencapai puncak kesempurnaan spiritual. Mengacu pada kisah Nabi Yusuf as dalam al-Quran, ketika dia selamat dari serangan dan godaan hawa nafsu seorang wanita, Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang telah disucikan."

Jelas, selama manusia tidak ingin membersihkan diri, Allah Swt juga tidak akan memaksa mereka untuk melakukan itu. Namun, manusia yang meniti jalan kesempurnaan dan selalu berbuat karena Allah, Tuhan juga akan membantu mereka di jalan ini dan menuntunnya menuju ke sisi-Nya.

Hamba-hamba seperti ini tidak hanya dijauhkan dari siksa neraka, tapi mereka juga akan menerima pahala yang lebih besar dari perbuatan yang telah mereka lakukan. Niat tulus mereka untuk melakukan pekerjaan tertentu, meskipun belum kesampaian, tetap akan diberikan pahala oleh Allah Swt.

Dari lima ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Penghambaan diri kepada Allah ('Ubudiyyah) akan membersihkan diri manusia dari segala bentuk syirik dan riya'.

2. Azab Ilahi berpijak pada keadilan dan sesuai dengan perbuatan manusia. Namun, pahala orang-orang yang bertakwa diberikan atas dasar kemurahan Tuhan dan balasannya akan lebih besar dari perbuatan baik mereka.

3. Di surga, manusia akan memperoleh kenikmatan materi dan maknawi serta rezeki dengan kadar yang telah ditentukan.

4. Ahli surga akan bertemu dengan para auliya Allah dan duduk bersama mereka. Inilah salah satu dari kenikmatan maknawi penghuni surga.

يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ (45) بَيْضَاءَ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ (46) لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنْزَفُونَ (47) وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ عِينٌ (48) كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَكْنُونٌ (49)

Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir. (37: 45)

(Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. (37: 46)

Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya. (37: 47)

Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya. (37: 48)

Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik. (37: 49)

Ayat sebelumnya menjelaskan bahwa para ahli surga duduk di atas takhta-takhta kebesaran saling berhadap-hadapan. Di sini, al-Quran menerangkan bahwa mereka memiliki pelayan yang selalu siap mengedarkan berbagai jenis minuman dan jamuan. Khamar di surga benar-benar berbeda dengan khamar di dunia, ia adalah minuman yang telah disucikan dan tidak memabukkan sehingga para peminumnya tidak hilang kesadaran.

Nikmat lain surga adalah kehadiran para bidadari yang sama sekali tidak melirik orang lain dan benar-benar tulus mencintai pasangannya. Mereka adalah bidadari yang cantik jelita dan tersembunyi dari lirikan orang lain, ibarat telur burung unta yang tersimpan rapat di bawah sayap-sayap induknya sehingga tidak bisa dilihat oleh orang lain. Bidadari surga juga menyembunyikan fisiknya dengan pakaian laksana sayap dan bulu burung.

Dari lima ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Ma'ad (hari kebangkitan) bersifat jasmani (fisik manusia yang sudah hancur akan kembali dibangkitkan seperti bentuk semula). Di akhirat, para ahli surga akan memperoleh berbagai kenikmatan jasmani. Para ahli neraka juga akan merasakan berbagai siksaan fisik.

2. Warna putih termasuk dari warna surga, yang melambangkan keindahan, kebersihan, kesucian, dan cahaya.

3. Bidadari surga adalah wanita yang cantik jelita, menarik, suci, dan mulia.

Read 83 times

Add comment


Security code
Refresh