Surat al-Zumar ayat 11-1

Rate this item
(0 votes)
Surat al-Zumar ayat 11-1

 

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ (11) وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ (12) قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (13)

Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (39: 11)

Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.” (39: 12)

Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku.” (39: 13)

Sebelumnya, telah disinggung tentang pentingnya takwa, berbuat baik, sabar dan berkelanjutan yang merupakan tanda-tanda orang beriman. Ayat-ayat ini berbicara kepada Nabi Muhammad Saw, “Wahai Nabi! Sampaikan secara transparan kepada orang-orang Musyrik bahwa saya diperintahkan dari sisi Allah untuk memurnikan agama dan keyakinan kalian dari segala bentuk kesyirikan dan hanya kepada Allah aku beribadah. Saya juga diperintahkan untuk menjadi yang terdepan dalam menyembah Allah di antara orang-orang beriman dan menjauhi segala bentuk perbuatan dan perkataan yang bernada kesyirikan.”

Kelanjutan ayat-ayat ini menyebutkan, “Barangsiapa yang menentang perintah ilahi, akan mendapat balasan dan tidak ada bedanya orang itu adalah Nabi atau manusia lainnya. Berserah diri dihadapan perintah-perintah ilahi adalah jalan keselamatan manusia dari kemurkaan Allah di dunia dan akhirat. Sekaitan dengan ini, tanggung jawab nabi lebih ketimbang manusia lainnya.

Para nabi tidak pernah berbicara tentang kelebihannya dibanding manusia lainnya. Karena mereka melihat dirinya sama dengan manusia lainnya sebagai hamba Allah dan berserah diri dihadapan perintah-Nya. Masalah ini dengan sendirinya menjadi bukti kebenaran mereka. Berbeda dengan mereka yang berbohong dan mengklaim dirinya sebagai nabi, tidak menyeru manusia kepada Allah, tapi kepada dirinya sendiri atau menyebut dirinya memiliki kelebihan khusus.

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Para nabi ditugaskan untuk menyampaikan pesan Allah kepada manusia. Mereka tidak berbicara dari diri mereka sendiri atau melakukan perbuatan sendiri.

2. Memurnikan penyembahan kepada Allah dari segala perilaku dan pemikiran syirik merupakan kewajiban penting para nabi.

3. Di pengadilan ilahi di hari kiamat, tidak ada perbedaan antara nabi dan manusia biasa lainnya dan mereka tidak memiliki kelebihan tertentu.

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي (14) فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ (15)

Katakanlah, “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.” (39: 14)

Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia. Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.” Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (39: 15)

Kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya, dimana Nabi Muhammad Saw berkata, “Saya diperintah dari sisi Allah untuk memperkenalkan agama Allah secara murni dan saya menyembah Allah dengan ikhlas.” Dalam ayat ini disebutkan, “Saya juga akan mengamalkan seperti itu. Karena, pertama, saya hanya menyembah Allah, bukan selain-Nya. Kedua, dalam penyembahan ini saya tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu atau siapapun.”

Setelah itu berkata kepada orang-orang Musyrik, “Saya mengajak kalian untuk memeluk agama yang suci dan murni. Karena sekarang kalian tidak mau menerimanya, silahkan menyembah apa saja, tapi kalian harus tahu akan menemui kerugian yang besar. Karena menyembah selain Allah pada dasarnya kalian telah membuat diri kalian dan keluarga dalam kerugian besar di hari kiamat.”

Jangan pernah membayangkan bahwa kerugian harta adalah kerugian terbesar. Tapi kerugian yang nyata adalah di akhirat. Suatu hari ketika manusia memahami dirinya memiliki utang besar ketika semua potensi dan fasilitas yang diberikan Allah dan semua modal hidupnya lepas dari tangannya dan sebagai ganti dari upaya meriah kesempurnaan dan mencapai pada kebahagiaan abadi, yang didapatnya hanya kerugian. Selain itu, tidak ada jalan baginya untuk menutupi kesalahan sebelumnya. Inilah kerugian yang besar dan nyata.

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Para nabi menjadi yang terdepan dalam menjalankan perintah ilahi. Mereka melaksanakan perintah ilahi dengan segala wujudnya. Tidak demikian bahwa mereka mengajak manusia kepada kebenaran dan mereka tidak mengamalkannya.

2. Tanggung jawab penting dari para nabi adalah memurnikan Allah dari segala bentuk syirik, bidah dan khurafat. Karena semua ini hama bagi agama.

3. Mereka tidak pernah menyesal menyampaikan pesan agama ilahi kepada semua manusia, tapi mereka tahu sebagian manusia tidak akan menerima ucapan kebenaran mereka. Sekalipun demikian mereka tidak menyesal dan tidak berhenti melakukan tugasnya.

4. Manusia bukan saja bertanggung jawab atas dirinya, tapi juga atas keluarganya. Pendidikan anak berdasarkan ajaran dan nilai agama merupakan salah satu tanggung jawab orang tua.

لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ذَلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ (16)

Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku. (39: 16)

Ayat ini menjelaskan mereka yang merugi di hari kiamat dan mengatakan, “Lidah api neraka akan mengelilingi mereka dan tidak ada jalan untuk melarikan diri. Pada hakikatnya ini merupakan peringatan kepada semua manusia agar tidak bertakwa di dunia, mungkin saja di akhirat mereka akan menderita nasib yang sangat malang ini.”

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kufur, syirik dan melupakan Allah menyebabkan manusia celaka. Orang yang mengikuti jalan kesyirikan di dunia, di akhirat akan mendapat murka ilahi dan akan dibakar di api neraka.

2. Satu-satunya jalan untuk selamat dari api neraka adalah bertakwa dan menjauhi dari perbuatan dosa. Karena dosa seperti materi yang mudah terbakar dan hanya dengan tidak melakukannya dapat mencegah semakin menyalanya api neraka.

Read 483 times

Add comment


Security code
Refresh