Surat al-Zumar ayat 17-21

Rate this item
(0 votes)
Surat al-Zumar ayat 17-21

 

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ (17) الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ (18)

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, (39: 17)

Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (39: 18)

Al-Quran di ayat ini juga menggunakan analogi. Karena di bagian sebelumnya pembahasan seputar kaum musyrik yang menolak kebenaran karena keras kepala dan fanatisme serta menolak beriman kepada Tuhan. Sedangkan ayat kali ini berbicara mengenai hamba-hamba yang mencari hakikat. Mereka adalah orang-orang yang ketika mendengar kebenaran bersedia menerimanya dan kembali kepada Tuhan serta mereka mendapat rahmat Ilahi.

Keimanan sejati adalah penolakan penyembahan selain Tuhan, baik itu berhala batu atau kayu, hawa nafsu atau ketaatan kepada penguasa zalim dan buruk. Taghut memiliki arti melanggar batas dan dalam budaya al-Quran, menjahui taghut berarti menjahui segala bentuk syirik, menyembah berhala, hawa nafsu dan tunduk terhadap pengusa lalim dan kekuatan hegemoni serta arogan.

Ayat ini kemudian mengisyaratkan hamba-hamba khusus dan istimewa yang bersedia menyingkirkan sikap keras kepala dan fanatisme serta siap mendengarkan berbagai perkataan. Dengan bantuan akal, hamba-hamba ini menyaring setiap ucapan dan memilih yang terbaik. Hamba-hamba ini haus akan hakikat kebenaran. Di manapun mereka menemukan kebenaran, maka meraka akan menyambutnya. Mereka bukan jasa mengejar kebenaran, tapi mereka akan memilih ucapan dan arahan terbaik serta mengikutinya.

Sejatinya ayat ini mengisyaratkan kebebasan berpikir umat Islam dan pilihan mereka di berbagai masalah. Orang-orang yang bijaksana siap mendengarkan ucapan kebenaran ketimbang menentangnya. Setelah mereka menemukan kebenaran, mereka akan tunduk dihadapan kebenaran ini. Dengan sendirinya sikap seperti ini sebuah indikasi rasionalitas dan kebijaksanaan.

Menurut ungkapan al-Quran, orang seperti ini adalah mereka yang telah mendapat hidayah dari Tuhan dan mereka adalah orang yang bijaksana.

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Syarat keimanan sejati kepada Tuhan adalah menolak menerima hegemoni taghut dan menjahui mereka.

2. Ketika menghadapi berbagai ucapan, yang harus diperhatikan adalah konten bukan siapa yang mengucapkannya serta apa kedudukan orang tersebut. Selain itu harus dipilih yang terbaik dari setiap ucapan.

3. Akal dari satu sisi dan  wahyu serta ajaran agama dari sisi lain tidak saling kontradiksi. Keduanya adalah hujjah Tuhan dan pembimbing manusia ke arah kebahagiaan.

4. Islam mendukung kebebasan berpikir dan pilihan jalan kehidupan berdasarkan akal dan rasio.

أَفَمَنْ حَقَّ عَلَيْهِ كَلِمَةُ الْعَذَابِ أَفَأَنْتَ تُنْقِذُ مَنْ فِي النَّارِ (19) لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَادَ (20)

Apakah (kamu hendak merubah nasib) orang-orang yang telah pasti ketentuan azab atasnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang yang berada dalam api neraka? (39: 19)

Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya. (39: 20)

Rasulullah Saw sangat bersemangat untuk membimbing dan menyelamatkan seluruh masyarakat termasuk mereka yang tersesat dan musyrikin. Rasulullah sangat sedih dengan penyimpangan umatnya. Ayat ini kepada Nabi mengatakan, Apakah kamu menganggap dirimu mampu menyelamatkan mereka yang memilih jalan neraka karena pilihan kelirunya ? Sama sekali bukan demikian. Mereka yang telah memutus seluruh jalannya untuk berhubungan dengan Tuhan, tidak memiliki jalan selamat. Bahkan Rasulullah pun tidak mampu berbuat banyak bagi mereka.

Selain kelompok ini ada kelompok beriman. Di hari Kiamat mereka akan memiliki kedudukan tinggi dan hidup bahagia di kebun serta istana surga. Kehidupan mereka di surga sangat menyenangkan, tidak ada penderitaan dan kesengsaraan. Mereka benar-benar hidup bahagia.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Misi utama para nabi adalah membimbing masyarakat dan mengarahkan mereka ke arah kebenaran serta jalan hidup yang benar. Namun demikian kebahagiaan dan keselamatan manusia bukan berada di tangan para nabi, tapi bergantung pada perilaku dan amalan manusia sendiri.

2. Mereka yang menutup jalan untuk memahami kebenaran dengan fanatisme dan sikap keras kepalanya, sejatinya telah menutup jalan kebahagiaan dan keselamatan dirinya sendiri.

3. Jika kita memiliki iman kepada Tuhan, maka kita harus meyakini bahwa janji-Nya mengenai surga dan neraka sebuah kepastian dan kita harus menjaga perilaku diri kita masing-masing.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِأُولِي الْأَلْبَابِ (21)

Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (39: 21)

Setelah secara singkat membandingkan nasib orang kafir dan mukmin, ayat ini kembali membahas masalah tauhid dan maad. Turunnya hujan dari langit menjadi salah satu argumentasi tauhid, karena kehidupan di muka bumi bergantung pada turunnya hujan. Jika tidak ada sistem dan proses penguapan air laut, kemudian terbentuknya awan dan pergerakannya ke berbagai wilayah di muka bumi serta turunnya hujan dan salju, maka mayoritas permukaan bumi akan kering dan keberlangsungan hidup akan sangat sulit serta mustahil.

Bahkan para penghuni pantai dan samudera tidak dapat memenuhi kebutuhan air minum dan pengairan sawah mereka, karena air laut asin rasanya dan memiliki kandungan garam yang tinggi. Dibutuhkan dana yang besar untuk mendapatkan air tawar dari air laut melalui penyulingan. Mengingat mayoritas air dimanfaatkan untuk pengairan sawah maka proses penyulingan air laut akan tidak efektif mengingat biayanya yang tinggi.

Namun demikian kendala di alam ini diselesaikan melalui proses yang mencengangkan. Ketika air laut menguap dan naik ke atas, garam dan zat-zat lainnya tidak berubah menjadi uap. Dengan demikian air yang tak murni disuling dan berubah menjadi salju dan air hujan. Air laut menjadi air hujan yang murni dan siap dikonsumsi. Tak diragukan lagi proses ini merupakan pengaturan Tuhan dalam bentuk bahwa air secara alami menjadi tawar dan kandungan garam serta zat lainnya terpisah sehingga air tawar ini dapat dikonsumsi manusia serta makhluk lainnya.

Air hujan tersimpan di perut bumi dan salju di gunung-gunung. Seiring berlalunya waktu air dan salju tersebt mengalir melalui mata air, sumur dan sungai sehingga dapat dimanfaatkan.

Dengan memikirkan nikmat besar Ilahi ini yang menjadi sumber kehidupan manusia dan seluruh hewan serta tumbuhan di atas permukaan bumi, mausia akan menyadari keagungan Tuhan.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Memikirkan dan memahami fenomena alam merupakan metode untuk mengenal Tuhan. Oleh karena itu tidak boleh lalai dan mengabaikan fenomena ini.

2. Mulai dari air dan tanah, tumbuhan, bunga dan beragam buah-buahan yang dipanen, seluruhnya menunjukkan kekuatan dan keagungan Tuhan.

3. Di antara tanda-tanda kebijaksanaan adalah selain mengenal fenomena alam, kita juga berusaha untuk mengenal sumber penciptaan.

Read 526 times

Add comment


Security code
Refresh