کمالوندی

کمالوندی

Dikisahkan, di tanah Arab yang gersang, hidup seorang janda yang sangat miskin dengan seorang anak yang dimiliki satu-satunya. Karena kemiskinannya itu, ia setiap hari mencari sesuap nasi dari orang-orang dermawan yang mau memberikan bantuan padanya.

Si janda rela pergi kemana pun untuk melanjutkan hidup dari makanan yang ia dapat untuk dia serta anaknya dan tak jarang dia harus pergi sangat jauh dari rumahnya. Suatu hari, ia melintas di sebuah masjid dan bertemu dengan seorang Muslim. Janda satu anak ini meminta bantuan pada muslim tersebut. “Wahai, tuan, sudilah kiranya bermurah hati. Anakku sedang kelaparan dan aku mohon pertolongan kepada Anda,” tutur janda tersebut dengan penuh kerendah hatian.

“Mana buktinya kalau Anda miskin dan anak Anda seorang yatim?” tanya muslim itu meminta bukti. Si janda tersebut berpikir bagaimana harus menunjukkan bukti yang diminta lelaki itu. Apalagi di tempat tersebut tidak ada yang mengenalnya sehingga dia pun tak bisa berbuat apa-apa.

Akhirnya, ia pergi berlalu dan meninggalkan laki-laki tadi dengan hati yang berat. Tak lama berselang, si janda bertemu dengan seorang laki-laki Majusi. Ia pun meminta pertolongan kepadanya dan mengatakan seperti apa yang ia katakana kepada si Muslim. Tanpa berpikir panjang, laki-laki Majusi ini langsung membawa si janda ke rumahnya dan memberikan uang serta pakaian yang layak. Bahkan, si Majusi ini memerintahkan janda dan anaknya untuk tinggal di rumahnya.

Pada malam harinya, si Muslim yang menolak janda tadi bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw. Dalam mimpinya, ada banyak orang yang menghampiri Rasulullah saw. Rasul SAW pun menyambut mereka dengan senang hati. Namun tatkala tiba giliran si laki-laki Muslim tadi menemui Nabi Muhammad saw, Rasulullah menolak menyambutnya.

Lelaki tersebut lantas protes kepada Rasul SAW, “Ya, Rasulullah, aku juga umatmu dan aku mencintaimu,” ujar laki-laki tersebut. Rasulullah pun menjawab, “Apa buktinya bahwa kamu umatku dan kamu mencintaiku?” Laki-laki tersebut langsung terdiam. Ia merasa malu karena pertanyaan yang diajukan Rasulullah sama dengan yang ia ungkapkan saat seorang janda meminta pertolongan kepadanya.

Rasulullah SAW kemudian menunjukkan padanya sebuah gedung yang sangat megah di dalam surga. “Lihatlah ini. Seharusnya ini milikmu. Namun, karena engkau menolak menolong umatku (si Janda) dan anak yatim yang sedang kelaparan, tempat ini menjadi milik si orang majusi yang telah menolongnya.”

Pada saat yang sama, si Majusi rupanya juga bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw. Ia sangat bahagia karena akan diberikan tempat di dalam surga, sebuah gedung yang sangat megah. Pagi harinya, si laki-laki Muslim ini mencari janda tersebut. Ia mendapatinya sedang berada di rumah orang Majusi tersebut. Dengan memaksa, ia meminta si Majusi untuk menyerahkan janda tersebut kepadanya. “Serahkanlah kepadaku janda dan anak yatim itu. Biarlah aku yang menolongnya,” kata dia. Namun, permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh si Majusi. “Tidak. Aku tidak akan menyerahkan mereka kepadamu,” tegasnya.

“Berikan saja. Nanti, aku beri engkau uang dinar yang sangat banyak,” pinta si Muslim. “Tidak. Aku tidak akan menyerahkannya kendati engkau bayar dengan gunung emas sekalipun,” jawab si Majusi. “Tapi, engkau orang Majusi, tak pantas engkau menolong janda yang Muslim itu. Seharusnya, orang Muslim juga yang menolongnya,” kata si Muslim.

Orang Majusi itu lalu bercerita, “Tadi malam, aku bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Beliau berkata bahwa beliau akan memberikan surga yang semula akan diberikan kepadamu untukku. Ketahuilah bahwa pagi ini, ketika aku terbangun, aku langsung masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah SAW karena aku telah menunjukkan bukti bahwa aku adalah salah seorang yang mencintainya,” ujar laki-laki Majusi yang telah memeluk Islam tersebut.

Minggu, 07 Oktober 2018 05:25

Masjid Terapung Palu

Gempa bumi yang disusul tsunami pada Jumat, 28 September 2018, memporakporandakan pesisir Kota Palu dalam sekejap. Ratusan warga meninggal dunia. Sejumlah bangunan rusak parah, bahkan hingga runtuh. Tak terkecuali Masjid Arwam Bab Al Rahman yang lebih dikenal sebagai masjid terapung Palu.

Masjid yang dulunya berdiri kokoh kini doyong. Hanya setengah bangunan hingga kubah masjid saja yang masih terlihat setelah tsunami menerjang. Apalagi, lokasi masjid yang berdiri pada 2011 itu dekat dengan Pantai Talise, lokasi penemuan korban tsunami Palu terbanyak.

Masjid yang menjadi ikon Kota Palu itu terletak di Jalan Rono, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat. Berdasarkan cerita warga sekitar, masjid dibangun seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang SPBU di Palu bernama Muhammad Hasan Bajamal.

Menurut warga, alasan Hasan sapaan akrab pengusaha itu membangun masjid ini pada 19 Januari 2011 lalu untuk mengenang jasa almarhum Syekh Abdullah Raqi atau Datuk Karama. Datuk Karama merupakan ulama asal Minangkabau, Sumatera Barat. Dia diyakini seluruh warga Palu sebagai penyiar agama Islam pertama sejak abad ke-17.

Pembangunan masjid selesai pada 19 Januari 2012 dan diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola.

"Seperti pernyataan Pak Hasan lalu demikian. Dan peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan langsung Wali Kota Palu, Rusdi Mastura," kata Baho, warga Kelurahan Lere kepada liputan6.com di sekitar masjid, pada 2014 lalu.

Selain untuk mengenang jasa Datuk Karama, pembangunan masjid juga bertujuan untuk menghilangkan kemaksiatan yang sering terjadi di sekitar lokasi masjid, sebelum masjid ini terbangun. Pasalnya, lokasi itu terhubung langsung dengan dua pusat hiburan malam di Palu, seperti kafe remang-remang Pantai Taman Ria dan Lokalisasi Pantai Talise tempat banyak pekerja seks komersial (PSK) menjajakan diri.

"Dulu lokasi masjid ini menjadi sarang maksiat anak-anak muda. Dijadikan tempat mabuk-mabukan, pacaran, bahkan sampai berhubungan badan. Tapi alhamdulillah sejak masjid ini ada, segala bentuk maksiat itu tidak ada lagi," tutur Baho yang mengaku lahir dan besar di sekitar lokasi masjid.

Masjid tersebut tidak pernah sunyi dari kunjungan jemaah yang hendak beribadah maupun orang-orang yang hanya sekadar singgah sambil berfoto-foto dengan latar belakang masjid terapung Palu. Jika sore hari menjelang, banyak warga menghabiskan waktunya di depan dan di dalam masjid.

Suasana semakin ramai saat memasuki bulan Ramadan. Masjid seluas 121 meter persegi dan mampu menampung lebih dari 150 anggota jemaah itu dijadikan sebagai salah satu tempat favorit warga Palu untuk menunggu waktu berbuka puasa tiba.

"Saya bersama teman-teman sudah sering ke sini, selain untuk salat juga sambil ngabuburitdengan menikmati suasana Teluk Palu di atas masjid sambil foto-foto seperti saat ini," ucap salah satu warga Palu, Wahyuni, di lokasi masjid.

Bangunan masjid ini berjarak 30 meter dari bibir pantai Teluk Palu. Di bawahnya terdapat lebih dari 25 tiang penyangga. Tiang-tiang itu dapat terlihat jelas jika air laut surut. Namun jika air laut pasang, masjid ini terlihat seolah-olah terapung di atas permukaan air laut.

Jalan masuk menuju ke dalam masjid dibuat jembatan berlantai tegel yang dihiasi beberapa lampu penerangan pada sisi kiri kanannya. Saat berada di atas jembatan masuk masjid, pengunjung juga dapat menikmati keindahan Teluk Palu dan kemegahan Jembatan Palu IV, yang tidak jauh dari lokasi masjid.

Selain desainnya yang seolah terapung, masjid ini memiliki keunikan lain. Desain bangunan yang telah modern jelas tampak menjadi pembeda dari seluruh bangunan masjid yang ada di Palu. Apalagi, masjid ini memiliki satu kubah besar dan empat kubah kecil yang mengelilingi pada tiap sudutnya.

Masjid ini tampak begitu megah dan indah dengan balutan warna krem yang mendominasi dipadukan warna hijau dan emas di seluruh bangunannya. Selain itu, kubah masjid dapat memancarkan tujuh warna cahaya lampu saat malam hari.

Ketujuh cahaya lampu itu, mulai dari warna merah, jingga, hijau, unggu, biru, pink, dan putih. Warnanya terlihat berganti-ganti dalam hitungan detik.

Masjid ini memang bukan yang pertama, karena masjid serupa juga telah ada bahkan lebih dulu terbangun di luar Indonesia, seperti di Laut Merah, Kota Jeddah, Arab Saudi dan Tanjung Bungah, Kota Penang, Malaysia.

Sedangkan di Indonesia, masjid serupa bisa juga dijumpai di Kota Makassar, Sulawesi Selatan; Kota Kendari, Sulawesi Tenggara; dan beberapa kota lainnya. 

Rabu, 03 Oktober 2018 05:23

Pahala Melayani Jemaah Haji

Suatu hari, para sahabat Khaja Abu Sa'id berkumpul di sekitarnya. Dia sedang menjelaskan hadis Rasulullah Saw kepada para sahabatnya dan mereka juga menyimaknya dengan serius. Sebuah kafilah tiba-tiba mendatangi majlis Abu Sa'id dan mereka duduk dengan wajah sedih di majlis itu. Abu Sa'id kemudian menanyakan kondisi mereka.

Kafilah tersebut menjawab, "Kami baru kembali dari perjalanan haji. Rombongan kami diserang oleh perampok dan apa yang kami miliki telah dibawa lari. Sekarang kami tidak memiliki bekal apapun, tidak punya kemampuan untuk meneruskan perjalanan dan tidak mampu kembali ke kampung halaman kami." Abu Sa'id berkata, "Berapa jumlah harta kalian yang dirampok?" "Apa yang kami miliki telah dijarah," jawab kafilah itu.

Abu Sa'id kemudian bertanya kepada para sahabatnya, "Siapa di antara kalian yang bisa membantu kafilah ini dan memberi mereka bekal perjalanan, dan menyediakan apa yang telah hilang dari mereka." Dari arah belakang majlis terdengar suara seorang wanita berkata, "Wahai Syeikh, aku akan membantu kafilah ini dan mengganti rugi harta mereka." Semua orang terkejut dan memuji pengorbanan wanita itu.

Wanita tersebut kemudian meninggalkan majlis dan kembali dengan sebuah kotak kecil. Dia membawa semua emas dan perhiasannya dan menyerahkannya kepada Abu Sa'id. Abu Sa'id menyimpan perhiasan itu selama tiga hari penuh. Dia berkata kepada dirinya, "Wanita ini mungkin melakukannya karena terbawa perasaan dan emosi. Emas dan perhiasan ini sangat bernilai. Wanita ini mungkin akan menyesal dan meminta kembali barang-barangnya."

Tiga hari kemudian wanita tersebut mendatangi Abu Sa'id. Dia meletakkan gelangnya di depan Abu Sa'id dan berkata kepadanya, "Mengapa engkau menyimpan emas dan perhiasan yang aku berikan padamu?" Dia menjawab, "Aku khawatir engkau akan menyesal atas pemberianmu." Wanita itu berkata, "Aku berlindung kepada Allah, tidak demikian. Berikan emas dan perhiasan bersama gelang ini kepada kafilah haji untuk memenuhi janji yang pernah aku ucapkan."

Wanita itu menatap ke bawah dan dengan tenang berkata, "Gelang ini adalah kenangan dari almarhumah ibuku. Semua emas dan perhiasan ini tidak bernilai bagiku. Tadi malam aku bermimpi bahwa aku berada di surga dan wajahku berseri-seri. Aku mulai mengerti bahwa Tuhan Yang Maha Penyayang telah memberi pahala kepadaku karena membantu kafilah haji. Dalam mimpi, aku melihat semua emas dan perhiasan yang aku berikan ada di leherku, tetapi aku tidak menemukan gelang ini di tanganku. Aku bertanya, 'mengapa kenangan dari ibuku tidak ada?'"

Seorang malaikat berkata, "Apa yang telah engkau kirim, telah dikembalikan kepadamu dan apa yang engkau infakkan di dunia, ia ada di surga dan kami kembalikan kepadamu. Jika seluruh isi dunia menjadi milikmu, apa yang telah engkau kirim kemari, ia akan kembali kepadamu dan ia akan tetap menjadi milikmu di akhirat."

Para jemaah haji adalah tamu Allah Swt dan mereka memiliki kedudukan dan kemuliaan di sisi-Nya. Rasulullah Saw dalam sebuah hadis bersabda, "Jemaah haji berada dalam jaminan dan perlindungan Allah, baik ketika ia berangkat maupun kembali. Jika ia menanggung kesulitan dan penderitaan dalam perjalanannya, Allah akan mengampuni dosa-dosanya karena itu, dan setiap langkah yang ia ayunkan, Dia akan meninggikan derajatnya di surga sampai seribu derajat dan setiap tetesan hujan yang membasahinya, pahala mati syahid akan ditulis untuknya."

Dikisahkan bahwa sebuah kafilah Muslim yang ingin menunaikan ibadah haji tiba di kota Madinah. Mereka menetap selama beberapa hari di Madinah untuk menghilangkan rasa lelah. Kafilah tersebut kemudian mempersiapkan hewan tunggangannya dan bergerak ke arah Mekkah. Mereka didatangi oleh seorang laki-laki di tengah jalan antara Madinah dan Mekkah. Para anggota kafilah mengenal lelaki tersebut.

Laki-laki itu kemudian bercerita panjang lebar dengan anggota kafilah. Di tengah pembicaraan, dia melihat seseorang di tengah kafilah yang melayani orang lain dengan penuh semangat dan antusias. Lelaki itu menatap wajah pria tersebut dengan seksama. Wajahnya memancarkan cahaya dan dari raut mukanya, bisa ditebak bahwa ia orang yang saleh dan bertakwa. Lelaki ini mengenal pria tersebut dan berkata dalam hatinya, "Ya Tuhan, apa yang telah dilakukan oleh kafilah ini."

Lelaki tersebut berbalik ke arah kafilah dan berkata, "Apakah kalian mengenal siapa pria yang sedang melayani dan melakukan pekerjaan untuk kalian?" Mereka menjawab, "Tidak, kami tidak mengenalnya. Pria itu bergabung dengan rombongan kami di Madinah. Dia orang yang saleh dan bertakwa. Kami tidak meminta dia untuk melakukan apapun buat kami, tetapi dia sendiri ingin membantu orang lain dan meringankan pekerjaan mereka."

"Jelas kalian tidak mengenalnya, jika kalian tahu, kalian pasti tidak akan bersikap tidak sopan kepadanya dan membiarkan dia melayani kalian," ujar lelaki itu. Kafilah kemudian bertanya, "Siapa gerangan pria tersebut?" "Dia adalah putra Husein bin Ali as, cucu baginda Rasulullah Saw. Dia adalah Ali Zainal Abidin bin Husein as," jawabnya.

Para anggota kafilah bergegas bangkit dari tempatnya. Dengan terburu-buru dan rasa malu, mereka mendatangi Imam Ali Zainal Abidin as. Mereka berkata, "Kami benar-benar merasa malu, mengapa engkau tidak memperkenalkan dirimu kepada kami? Mungkin saja kami telah merendahkan kamu karena ketidaktahuan kami dan kami akan menanggung dosa besar di sisi Allah."

Imam Ali Zainal Abidin as berkata, "Aku sengaja memilih kafilah kalian dan melakukan perjalanan bersama kalian. Ketika aku memilih kafilah yang mengenaliku, mereka akan mencurahkan kebaikan dan kasih sayang untukku karena rasa hormatnya kepada Rasulullah Saw, dan mereka tidak akan membiarkanku melakukan pekerjaan apapun. Oleh karena itu, aku ingin memilih kafilah yang tidak mengenaliku dan aku juga tidak memperkenalkan diri kepada mereka sehingga aku bisa dengan senang hati melayani teman-teman seperjalanan."

Kemuliaan akhlak dan perilaku Imam yang demikian bijak itu membuat siapa pun mengagumi beliau. Sejarawan Muslim terkenal, Ibnu Syahr Asyub menuturkan, "Suatu ketika Imam Ali Zainal Abidin as menghadiri sebuah pertemuan yang digelar Khalifah Umayah, Umar bin Abdul Aziz. Saat Imam meninggalkan pertemuan itu, Umar bin Abdul Aziz bertanya kepada orang-orang di sekitarnya dan berkata, ‘Siapakah orang yang paling mulia di sisi kalian? Semuanya berkata, "Anda wahai khalifah!" Namun ia balik menjawab, "Bukan sama sekali! Orang yang paling mulia adalah sosok yang baru saja meninggalkan pertemuan kita. Semua kalbu dibuat terpesona olehnya hingga siapa pun ingin menjadi seperti dia."

Imam Ali Zainal Abidin sangat menekankan pentingnya pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian terhadap masyarakat bukan diukur dari seberapa besar pekerjaan itu, tapi kualitas layanan dan ketulusan niatlah yang menjadi parameter dari bernilai atau tidaknya sebuah pekerjaan. Selain itu, pengabdian juga menumbuhkan sebuah ketenangan spiritual bagi seseorang yang bisa berbuat kebaikan kepada orang lain.

Dalam sebuah riwayat Rasulullah Saw bersabda, "Sungguh beruntung orang yang berlaku baik dengan masyarakat dan tidak pernah ragu dalam membantu mereka, dan menjauhkan keburukannya dari orang lain."

Rabu, 03 Oktober 2018 05:12

Keagungan Hari Arafah

Salah satu amalan haji yang dilakukan pada hari ke-9 bulan Dzulhijjah adalah wukuf di Arafah. Para haji setelah selesai melaksanakan umrah tamattu, bergerak ke Arafah. Arafah adalah sebuah gurun yang rata dan terletak di kaki sebuah gunung bernama Jabal Al Rahmah, 25 kilometer dari kota Mekah.

Tanah Arafah terletak di Tenggara Mekah. Para haji setelah mengenakan ihram dan menyelesaikan umrah tamattu bergerak ke tempat itu. Pada Hari Arafah atau tanggal 9 Dzulhijjah, para haji melakukan wukuf di Arafah, dan melantunkan doa dan munajatnya untuk mendapat rahmat Allah Swt. 

Pada kenyataannya, haji, di antara ibadah-ibadah lainnya adalah ibadah yang paling penuh rahasia dalam hubungan antara Tuhan dengan hamba-Nya. Sebuah ibadah yang setiap amalannya memiliki aspek lahir dan batin. Arafah, salah satunya. Setiap orang yang telah melewati wukuf Arafah akan merasakan makrifat hubungan antara dirinya dengan alam malakut. 

Arafah berarti pemahaman, pengetahuan dan pengenalan terhadap sesuatu disertai dengan perenungan akan dampak-dampaknya. Tanah Arafah disebut Arafah karena ia adalah sebuah wilayah yang jelas dan dikenal di antara gunung-gunung. Gurun Arafah sepanjang sejarahnya menjadi lokasi keberadaan nabi-nabi besar, seperti Nabi Adam as, Nabi Ibrahim as, Nabi Muhammad Saw dan Imam Husein as.

Nabi Adam as dan Siti Hawa setelah keluar dari surga dan tiba di muka bumi, dan setelah terpisah sekian lama, bertemu kembali di tempat ini. Oleh karena itu, wilayah ini disebut Arafah dan harinya sebagai Hari Arafah. Sebagian kalangan mengatakan, Arafah berarti pengenalan, dan Nabi Ibrahim as di tempat ini dikenalkan tentang manasik haji oleh malaikat Jibril.

Dalam sebuah hadis, Imam Shadiq as terkait penamaan Arafah berkata, Jibril mengajarkan tentang Hari Arafah kepada Nabi Ibrahim as. Jibril berkata, akuilah dosa-dosamu dan kenalilah manasik, dan karena beliau mengakuinya, maka tempat itu dinamai Arafah. Nabi Muhammad Saw setelah menunaikan haji wada di tahun ke-10 Hijriah, menyampaikan khutbah bersejarah yang menghasilkan sebuah piagam Islam global dan menjelaskan garis pemisah dari seluruh ajaran-ajaran masa jahiliyah di hadapan para haji di Hari Arafah. 

Imam Husein as sore Hari Arafah, ketika bergerak keluar dari Mekah ke arah Karbala bersama Ahlul Bait as dan sahabat-sahabatnya, beliau keluar dari Gurun Arafah kemudian menuju Jabal Rahmah untuk memanjatkan doanya. Sebuah munajat yang sarat dengan kata-kata indah dalam dialognya dengan Tuhan. Kata-kata yang penuh dengan rasa cinta kepada Tuhan, sehingga bau wangi penghambaan akan selalu tercium di tempat ini hingga akhir masa. 

Kata Arafah dan doa saling bercampur serta berkaitan erat, sehingga semua orang mengenal Arafah sebagai doa dan munajat, dan waktu terbaik untuk berdoa adalah Hari Arafah. Di dalam doa terdapat pintu yang luas dan terbuka serupa dengan seluruh pintu kebahagiaan dan kebaikan. 

Membuka pintu itu lebih mudah dibandingkan dengan membuka pintu-pintu lainnya. Dari seluruh pintu kebahagiaan, hanya pintu doa saja yang bisa mengantarkan manusia ke seluruh tujuan, baik yang khusus maupun umum, tujuan duniawi maupun ukhrawi dan semua harapan serta cita-cita manusia. Arafah adalah sebuah hari ketika doa sangat dekat dengan ijabah.

Diriwayatkan, Imam Ali Zainal Abidin as di Hari Arafah mendengar suara seorang pengemis yang tengah meminta bantuan kepada masyarakat dan kepadanya beliau berkata, celakalah kamu, apakah kamu meminta sesuatu selain kepada Tuhan di hari ini, di saat harapan akan rahmat Tuhan meliputi bayi-bayi di dalam perut ibunya sehingga mereka berbahagia.

Oleh karena itu kewajiban terpenting seorang Mukmin di Hari Arafah, selain harus memperhatikan kasih sayang Tuhan, ia juga harus mengajak orang lain untuk memusatkan perhatiannya pada rahmat, pengampunan dan kasih Tuhan di hari penuh berkah ini, dan mintalah mereka untuk terus berdoa dan memohon kepada Tuhan.

Doa adalah hadiah Ilahi yang dianugerahkan kepada manusia. Sungguh indah ketika berdoa di Hari Arafah, kita lebih dahulu mendoakan orang lain sebelum kita sendiri. Imam Shadiq as terkait dampak luar biasa lebih dulu mendoakan orang lain berkata, barangsiapa yang mendoakan saudaranya, malaikat berseru dari langit, Hai hamba Tuhan 200 ribu kali lipat dari apa yang engkau inginkan akan menjadi milikmu. 

Malaikat yang lain dari langit ketiga berseru, Hai hamba Tuhan 300 ribu kali lipat dari apa yang engkau inginkan akan menjadi milikmu. Malaikat yang lain dari langit keempat berseru, Hai hamba Tuhan 400 ribu kali lipat dari apa yang engkau inginkan akan menjadi milikmu, begitu seterusnya hingga malaikat dari langit ketujuh.

Saat itu, Allah Swt berfirman, Aku tidak membutuhkan sesuatu apapun dan tidak akan pernah membutuhkan, wahai hamba Tuhan, ribuan dari apa yang engkau inginkan akan menjadi milikmu.

Poin penting yang perlu diperhatikan secara seksama di sini adalah, ketika Anda berdoa untuk orang lain, berarti Anda betul-betul menyayanginya dan siap memenuhi hak-haknya yang lain. Karena, jika tidak demikian, maka doa Anda tidak seperti yang dijelaskan dalam riwayat tersebut.

Pentingnya doa di Hari Arafah sedemikian tingginya sehingga Nabi Muhammad Saw yang kerap melaksanakan shalat Zuhur dan Asar dengan jeda waktu, di Hari Arafah melaksanakan kedua shalat itu tanpa jeda sehingga tersedia waktu yang lebih banyak untuk berdoa dan bermunajat. 

Salah satu doa yang paling indah dan mengandung makna yang dalam dan dibaca di Hari Arafah adalah Munajat Imam Husein as. Imam Husein as di dalam doa penuh makna itu, menjelaskan Tauhid dengan kalimat-kalimat luhur dan indah. Semangat irfan dan makrifat mencapai puncaknya di setiap baris doa ini. 

Imam Husein as di dalam doanya menjelaskan salah satu sisi dari nikmat tanpa akhir Tuhan untuk manusia di seluruh kehidupannya. Salah satu di antaranya, Imam Husein as mengatakan bahwa kasih sayang dan kesabaran seorang ibu adalah percikan kasih sayang Tuhan.

Setelah itu Imam Husein as menjelaskan tentang pentingnya bersyukur atas segala nikmat Ilahi dan menganggap dirinya tidak mampu bersyukur bahkan satu kalipun. Setiap baris doa ini adalah pintu dari cinta dan kasih sayang Tuhan yang dibuka bagi manusia. Makna terdalam doa ini menunjukkan bahwa Imam Husein as dengan seluruh wujudnya mencintai Allah Swt dan beliau merasakan kehadiran Tuhan di seluruh wujudnya.

Di salah satu bagian doanya, Imam Husein as bermunajat, Ya Tuhanku Engkaulah yang memberikan nikmat, Engkaulah yang berbuat baik, Engkaulah yang bersikap baik, Engkaulah yang memuliakan, Engkaulah yang membuatku mampu, Engkaulah yang memberikan kemuliaan, Engkaulah menyempurnakan rahmat-Mu, Engkaulah yang memberi rizki, Engkaulah yang bertindak atas kemuliaan-Mu. 

Engkaulah yang menjauhkanku dari dosa, Engkaulah yang menutup dosa-dosa, Engkaulah yang mengampuni dosa-dosa, Engkaulah yang menerima kekurangan, Engkaulah yang mencegahku berbuat dosa, Engkaulah yang memberikan kemuliaan, Engkaulah yang mendukung, Engkaulah yang meneguhkan sikapku, Engkaulah yang memberi kesempatan, Engkaulah yang memberi kesehatan, Engkaulah berderma, Maha Agung Engkau Tuhanku, segala puji selamanya bagi-Mu.  

Akan tetapi aku, Wahai Tuhanku, mengakui seluruh kesalahanku, maka ampunilah aku. Akulah yang berbuat dosa, akulah yang berbuat salah, akulah yang berbuat bodoh, akulah yang berjanji, aku pula yang tidak menepatinya, akulah yang melanggar janji, akulah yang berikrar atas kejahatanku sendiri. Aku mengakui seluruh nikmat yang Engkau berikan kepadaku, aku mengakui semua dosa-dosaku dan tidak akan mengulanginya, maka ampunilah aku.

Rabu, 03 Oktober 2018 05:07

Haji dan Revolusi Diri

Haji adalah salah satu pilar agama Islam. Haji diwajibkan bagi setiap Muslim dan Muslimah merdeka yang memenuhi syarat berhaji menurut Al Quran, yaitu mampu secara finansial dan fisik (isthita'at) serta tidak punya halangan lain. Haji diwajibkan bagi seluruh Muslimin sekali seumur hidup setelah mempelajari tata cara dan manasiknya.

  لَبَّیْکَ ألَّلهُمَّ لَبَّیْک! لَبَّیْکَ لاشَریْکَ لَکَ لَبَّیْک!  إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَکَ وَالمُلْکَ لاشَریکَ لَکَ لَبَّیْک!

Ikrar Tauhid inilah yang sekarang sedang menggema di seluruh penjuru Mekah. Terdengar suara rintihan permohonan ampun dan cinta manusia-manusia yang menyambut undangan Tuhannya untuk datang ke tempat suci ini dari tempat-tempat yang jauh. Musim haji adalah momen untuk mengungkapkan rasa cinta dan penghambaan, kesempatan belajar dan melaksanakan amalan ibadah sehingga bisa mencapai puncak derajat ikhlas.

Salah satu surat Al Quran adalah surat Al Haj. Awal surat ini mengabarkan tentang guncangan di Hari Kiamat dan sampainya akhirat, kemudian baru membahas masalah haji. Dengan mengkaji ayat-ayat di Surat Al Haj, seolah-olah ada kesamaan antara Padang Mahsyar di akhirat kelak dengan ritual haji, sehingga Allah Swt mengaitkan keduanya. Ibadah haji dipelopori oleh Nabi Ibrahim as, seorang nabi terpilih yang dijuluki Tuhan sebagai "hanif" dan penuntut kebenaran mutlak serta memiliki keyakinan tauhid murni.

Keseluruhan ayat Surat Al Haj menjelaskan bahwa ibadah penting ini adalah sebuah rentang waktu yang mencakup upaya menjauh dari dunia beserta semua urusannya, penyucian diri dengan tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilarang, dan hidup di tengah sebuah masyarakat manusia yang merupakan penampakan akhirat. Dalam rentang waktu ini, kita berusaha meraih keyakinan Tauhid murni dengan menjalankan serangkaian amalan dan manasik yang pelaku pertamanya adalah Nabi Ibrahim as.

Allah Swt, sehubungan dengan pelaksanaan ibadah haji berfirman dalam Surat Al Haj ayat 27-28, 

"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka….."

Di ayat 97 Surat Ali Imran, Allah Swt berfirman, 

"…..mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah….."

Urgensitas haji dari satu sisi terkait dengan kesucian tempat dan kedudukannya. Allah Swt menyebut Ka'bah dan Masjidil Haram sebagai rumah-Nya yang dibangun bagi manusia untuk menyembah-Nya dan menjadikannya sebagai tempat yang penuh keberkahan dan membimbing umat manusia. Sebuah tempat yang di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas seperti Maqam Ibrahim dan barangsiapa yang memasuki Rumah Tuhan, maka akan selamat. Muslimin selain diwajibkan untuk berhaji, juga dianjurkan untuk selalu memperkokoh pusat Tauhid dan tempat memerangi syirik ini.

Amalan haji dilaksanakan di satu lokasi geografis tertentu bernama Mekah dan di waktu terbatas yang telah ditentukan. Setiap Muslimin dari segala penjuru dunia menenggelamkan diri dalam lautan luas haji dan membersihkan jiwanya di sana sehingga terlahir kembali menjadi manusia yang baru. 

Mungkin manusia hanya berkesempatan sekali untuk bisa menikmati kebahagiaan hadir di haji. Oleh karena itu, kesempatan ini jangan pernah disia-siakan. Akan tetapi di waktu yang terbatas ini, amalan haji diatur sedemikian rupa sehingga setiap orang bisa memanfaatkannya dengan optimal dan menciptakan perubahan besar di dalam dirinya.

Haji memiliki serangkaian tata cara dan manasik, yang di dalamnya setiap orang mengenal Rumah Tuhan, sejarah dan usianya, juga tempat diturunkannya wahyu serta peninggalan-peninggalan Nabi Muhammad Saw dan para Imam Maksum as. Jelas bahwa menghidupkan sejarah Islam dengan berbagai kenangan baik dan buruknya di setiap sudut kota suci Mekah dan Madinah, dapat memberikan pengenalan luas kepada manusia. 

Dengan kata lain, di dalam haji setiap orang kembali diingatkan tentang sejarah Islam. Kehadiran jemaah haji di berbagai tempat di Mekah, mulai dari Gua Hira sampai Arafat, Mina dan masjid-masjid di Madinah, menyadarkan mereka tentang hukum, makrifat dan tersebarnya ajaran Maksumin as ke seluruh dunia.

Selain itu, pengenalan dan dialog dengan Muslimin dari berbagai negara dengan beragam budaya dan bahasa, menjadikan haji sebagai sebuah kongres besar umat manusia. Pertemuan agung ini menyebabkan kemajuan dan kesadaran serta perencanaan yang benar bagi Muslimin untuk memanfaatkan seluruh potensi dan memajukan masyarakat Islam. Di sisi lain, karena menyambungkan manusia dengan Tauhid dan sumber eksistensi, haji berpengaruh besar pada perubahan dan pembangunan jiwa manusia. 

Secara umum, haji bukanlah ibadah individu semata, tapi serangkaian amal yang meliputi berbagai dimensi kehidupan manusia mulai dari politik, sosial, ekonomi sampai budaya. Amalan haji membawa manusia kepada Tuhan dan kesempurnaan, juga menciptakan pemandangan indah dari sebuah keseragaman manusia. Ibadah ini menunjukkan bahwa setiap manusia, terlepas dari suku bangsa dan warna kulitnya, semua di hadapan Tuhan adalah sama sebagai makhluk-Nya dan satu-satunya ukuran keunggulan mereka adalah ketakwaan.

Jelas, untuk mencapai derajat takwa, seorang manusia harus belajar penghambaan dan menyiapkan dirinya di jalan ini. Haji adalah media untuk menunjukkan jiwa penghambaan kepada Allah Swt. Setiap manusia akan merasakan nikmatnya munajat kepada Sang Pencipta di dalam haji dan memanfaatkan rahmat dan berkah Ilahi. Kedekatan diri kepada Tuhan ini membebaskan manusia dari penghambaan kepada materi dan kekuasaan penindas, serta menciptakan gelombang kemuliaan, kekuataan dan ketenangan dalam diri manusia dan masyarakat.

Poin penting lainnya adalah, haji bertujuan untuk melakukan jihad melawan hawa nafsu, memperbaiki diri dan meraih sifat takwa. Jemaah haji dalam perjalanan ruhani ini harus selalu mengingat Tuhan dan menghadirkan-Nya di setiap saat serta menganggap-Nya sebagai pengawas. Meski bermaksud menuju Ka'bah dan Masjidil Haram, namun hakikatnya adalah berziarah dan menemui Allah Swt. Dari sisi keberkahan dan keagungan, ibadah haji merupakan salah satu cita-cita terbesar Maksumin as. Dalam lantunan munajat Maksumin as di doa bulan Ramadhan, kita membaca,

"Ya Allah berilah kesempatan kepada hamba untuk berhaji dan menziarahi Baitul Haram tahun ini dan di tahun-tahun berikutnya."

Amalan dan manasik haji dengan seluruh kesulitannya, merupakan ujian untuk mengukur keikhlasan dan keimanan manusia. Imam Ali as di dalam kitab Nahjul Balaghah , Khutbah ke-192 mengatakan, “Apakah kamu tidak melihat hakikat yang begitu jelas bahwa Tuhan menguji seluruh manusia mulai dari yang pertama di masa Nabi Adam as sampai manusia terakhir di dunia ini. Maka dari itu Tuhan menempatkan rumah-Nya di wilayah bebatuan yang paling jarang ditumbuhi tumbuhan dan di lembah yang paling sempit, di antara pegunungan dan gurun pasir yang panas, dengan mata air yang kering dan tidak ada satupun hewan yang bisa diternakkan baik unta, sapi maupun kambing.”

Imam Ali as melanjutkan, “Jika Tuhan berkehendak, Dia bisa membangun Ka'bah dan tempat-tempat peribadatan besar-Nya di tengah-tengah taman asri, sungai-sungai jernih yang mengalir, di padang rumput yang ditumbuhi pepohonan dengan beraneka ragam buah, di dekat bangunan-bangunan yang saling tersambung dan di dekat lahan pertanian gandum berwarna emas, di sebuah taman yang hijau dan dipenuhi tumbuhan, atau wilayah yang memiliki sumber air melimpah.

Jika itu Dia lakukan, maka pahala jemaah haji, karena mudahnya ujian, akan sedikit. Jika batu fondasi Ka'bah dan batu dinding, semuanya dari zamrud hijau dan yakut merah serta cahaya, maka keraguan di dalam hati akan berkurang, jangkauan dan upaya Iblis akan terbatas dan kegelisahan manusia akan sirna. Akan tetapi Tuhan menguji makhluknya dengan berbagai cara, sehingga kesombongan hilang dari hatinya dan rendah hati menancap di lubuk hatinya. Semuanya adalah pintu yang terbuka menuju rahmat-Nya dan media yang mudah untuk memaafkan dan mengampuni makhluk-Nya.”

Haji adalah hijrah dan kembali kepada jati diri sebenarnya. Haji yang hakiki adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhanya, dan Ka'bah adalah tempat yang diharapkan untuk bertemu dengan-Nya. Begitu banyak orang yang melemparkan kesombongan dirinya di Mina, mengharapkan keselamatan jiwa dan hatinya di Shafa dan melantunkan kegembiraannya di Masy'ar, dan begitu banyak orang yang terbebas dari berbagai ketergantungan, dalam hijrah dan perjuangan suci ini.

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Senin (1/10) saat bertemu dengan panitia penyelenggara ibadah haji menekankan urgensitas penyampaian pesan politik haji Revolusi Islam ke dunia Islam.

Ayatullah Khamenei menilai perintah Allah Swt kepada umat Muslim untuk berkumpul di satu tempat dan satu waktu  untuk melaksanakan kewajiban ibadah haji membawa pesan politik penting seperti urgensitas interaksi dan sinergi umat muslim serta menunjukkan kekuatan umat Islam.

"Selain sisi spiritualitas haji yang sangat penting, realita penting ini dan tujuan Islami (sisi politik haji) juga harus dipopulerkan serta diprogram dan dilaksanakan," papar Rahbar.

Rahbar menyebut interaksi seluruh umat Islam di haji, menyampaikan pesan revolusi Islam kepada para peziarah dan menghapus keraguan serta ambiguitasnya, peluang untuk menciptakan atau memperkuat hubungan Iran dengan seluruh negara Islam dan hidup bersahabat dengan mazhab Islam lainnya termasuk pesan politik dan penting bagi seluruh dunia Islam di ritual haji.

"Haji haru membuat Republik Islam Iran bangga, oleh karena itu sisi politik tidak boleh dilupakan dan Haji Ibrahimi adalah haji pasca Revolusi Islam dengan haji sebelumnya serta haji negara-negara yang tidak merasakan sendi-sendi Islam serta revolusi Islam sangat berbeda," ungkap Rahbar.

Seraya mengisyaratkan sabotase pemerintah Arab Saudi terhadap acara pembacaan doa Kumail, Rahbar menambahka, harus ada upaya besar dan inisiatif untuk melewati kendala ini.

Ayatullah Khamenei di kesempatan tersebut juga mengkritik keras aksi perusakan besar-besaran terhadap warisan bersejarah Islam seperti peninggalan Rasulullah Saw, Imam Ali bin Abi Talib, para khalifa dan pejuang era pertama Islam dengan alasan pengembangan haji.

"Ketika berbagai negara lain dengan gigih mempertahankan warisan bersejarah mereka dan bahkan terkadang tak segan-segan melakukan distorsi sejarah demi menunjukkan warisan mereka bernilai tinggi, tapi kini banyak peninggalan Islam di Mekah dan Madinah justru dihancurkan," kata Ayatullah Khamenei.

Rahbar memberi instruksi kepada Organisasi Haji dan Ziarah Republik Islam Iran dan lembaga terkait untuk melaksanakan tugasnya dan  melakukan kontak dengan pejabat haji negara Islam lainnya demi mencegah perusakan warisan Islam.

Selasa, 02 Oktober 2018 12:38

Makam Bibi Hakimeh Khatoon

Salah satu Emamzadeh besar yang dimakamkan di selatan Republik Islam Iran adalah Hadrat Bibi Hakimeh sa. Letak makam ini di antara selat di selatan distrik kaya minyak Gachsaran, Provinsi Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad, tepatnya di lerang gunung besar. Jalan Dogonbadan menuju Baba Kalan melewati Makam Bibi Hakimeh.


Makam Bibi Hakimeh Khatoon menjadi tempat ziarah terpenting di seluruh selatan dan barat daya Iran setelah makam saudaranya, Ahmad bin Musa as. Bibi Hakimeh Khatoon adalah salah satu putri Imam Musa Ibn Ja'far as.


Tampaknya beliau bersama saudaranya itu melakukan perjalanan dari Hijaz menuju Merv untuk mengunjungi Imam Ali Ridha as. Namun kemudian beliau meninggal dunia di perjalanan karena sakit dan dimakamkan di Gachsaran.


Setiap tahun, makam Bibi Hakimeh Khatoon menjadi tempat ziarah ribuan pecinta Ahlul Bait as dari dalam dan luar negeri. Dalam beberapa abad lalu, bangunan tua makam beliau telah berulang kali diperbaiki.


Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, makam dan sekitarnya dibangun dengan struktur yang stabil dan pemandangan yang indah. 

Hormat kepada ayah dan ibu, juga taat kepada perintah-perintah mereka adalah suatu hal yang lazim dilaksanakan. Sebagai anak kita harus bisa bersikap sedemikian rupa sehingga perintah keduanya bisa kita penuhi. Akan tetapi jika terjadi perbedaan antara perintah  keduanya, maka yang harus didahulukan adalah perintah ibu. Itu semua karena derajat dan kedudukan seorang ibu dalam Islam lebih tinggi dibanding ayah.

Berkenaan dengan kedudukan seorang ibu terdapat kisah menyentuh di zaman Nabi saw. Mari kita simak bersama!

Suatu hari seorang sahabat Rasul bertanya, “Wahai Rasulullah! Kepada siapa aku harus berbuat baik?”

“Pada ibumu! Pada ibumu! lalu pada ayahmu”. Jawab Rasul saw.[1]

Cerita lain yang masih terjadi di jaman Nabi saw berkenaan tentang mendahulukan ibu dibanding ayah yaitu suatu hari ada seorang pemuda yang sedang menghadapi sakratulmaut lalu Rasulullah menghampirinya dan bertanya,

“Apa yang sedang kamu saksikan sekarang?”

“Aku melihat dua makhluk dengan wajah yang hitam sedang menuju kepadaku” Jawab pemuda itu.

“Apakah pemuda ini mempunyai ibu?” tanya Rasul pada orang-orang yang hadir. Setelah itu ibu pemuda tersebut datang lalu Rasulullah bertanya, “Apakah kamu ridha kepadanya?”

Sang ibu menjawab, “Tidak! Tapi karena Engkau, Wahai Rasulullah, sekarang aku ridha”.

Setelah itu pemuda yang sedang sekarat berkata, “Sekarang dua makhluk dengan wajah yang berseri sedang menghampiriku.”[2]

Kesimpulannya adalah ketika antara perintah ayah dan perintah ibu terjadi perbedaan yang bertentangan maka yang harus didahulukan adalah perintah ibu. Itu semua karena dalam Islam derajat dan kedudukan seorang ibu lebih tinggi dibanding ayah.

[1] Biharul Anwar, Jild 74, hal 49.

[2] Kanzul Umal, hadits no 14569.

Minggu, 16 September 2018 07:43

Bebaskan Dirimu dari Masalah

Seorang pria tua memiliki seekor keledai yang sangat ia sayangi, setiap hari ia menyempatkan untuk berjalan-jalan mengelilingi desa dengan kesayangannya tersebut. Pada suatu hari dimana ia sedang berjalan dengan keledainya itu, keledainya terjatuh ke dalam sebuah lubang yang dalam dan dia tidak bisa menarik keledai tersebut keluar, tidak peduli seberapa keras ia mencobanya. Oleh karena itu, dengan berat hati ia memutuskan untuk mengubur keledainya hidup-hidup dan merelakannya.

Lelaki tua itu pun mulai menimbun lubang tersebut dengan tanah. Keledai yang merasa badannya tertimpa tanah, menggoyangkan tubuhnya untuk menjatuhkan tanah di atas tubuhnya, dan melangkah di atas tanah tersebut. Tanah berikutnya ditimbun kembali ke dalam lubang.

Berulang kali keledai itu mengibaskan kembali tubuhnya dan menaiki tanah tersebut. Semakin tanah ditimbun, semakin tinggi tanah tersebut naik. Menjelang siang, keledai itu dapat keluar dari lubang, dan berhasil menyelamatkan diri lalu merumput di padang rumput hijau. Si pemilik pun merasa senang akhirnya si keledai bias keluar dari lubang tersebut.

Setelah banyak ‘mengibaskan’ masalah, Dan melangkah (belajar dari kisah di atas), Suatu saat setelah terlepas dari masalah, anda akan mampu merumput di padang rumput hijau yang artinya anda akan mampu meraih apa yang anda impikan.

jadi jangan menyerah dengan keadaan yang terlihat begitu sulit di hadapan anda, mulailah berpikir memanfaatkan sesuatu di sekeliling anda untuk membebaskan diri dari setiap masalah.

Minggu, 16 September 2018 07:43

Kriteria Sahabat Menurut Islam

Salah satu nikmat terbesar yang dianugerahkan oleh Allah swt adalah kita diberikan insting untuk bersosialisasi dengan sesamanya dan hasil dari itu semua adalah terciptanya persahabatan antara individu yang menjalin satu ikatan kebersamaan. Dan dari pada itu semua persahabatan memiliki efek kepada kehidupan kita dan pada pola fikir kita sebagai manusia dalam memandang masa depan. Ini semua efek dari adanya jalinan persahabatan yang merupakan kebutuhan setiap manusia sebagai makhluq social.

Tanpa diragukan lagi, hal-hal terpenting yang membentuk pribadi seseorang setelah kehendak dan kemauannya sendiri adalah persahabatan dan pergaulan dengan sesama. Karena disadari ataupun tidak semua itu memiliki dampak pada pribadi seseorang seperti pola pikir, prilaku dan pandangan hidup diperoleh dari apa yang ia ambil dari sahabatnya. Disamping itu, sahabat bisa membawamu pada keridoan ataupun kemurkaan Tuhan.

Islam memandang persahabatan sebagai nilai agung dan menentukan dalam nasib dan kehidupan seseorang. Sehingga Nabi Muhammad saw dan sahabatnya yang mulia sangat menekankan untuk menjadikan seseorang sebagai sahabat kita sesuai dengan kriteria yang terkandung dalam nilai-nilai agama Islam. Beliau bersabda: “Orang menjalin persahabatan setelah teliti dalam memilih sahabat, maka persahabatannya akan langgeng dan kokoh”.

Menurut Islam, kriteria terpenting kematangan seseorang dalam bernalar sehingga dapat mengambil sikap yang bijak dan logis dalam semua hal. Dan dia harus menjadi penasehat bagi orang lain yang menunjukan kesalahan sahabatnya bukan hanya memujinya dalam segala hal dalam rangka menarik simpatinya. Banyak hadis yang menyatakan bahwa kita harus memilih sahabat yang bijak dan berakal sehingga kita senantiasa bersama orang-orang yang berakal dan itu merupakan jalan keselamatan bagi kita. Salah satu hadits dari Rasulullah saw  menggambarkan hal ini, beliau bersabda: “Bersahabat dengan orang Arif dan bijak akan menghidupkan jiwa dan Ruh.”

Hal yang lain yang harus kita jadikan kriteria sebagai seorang sahabat adalah apa yang datang nasihat-nasihat para Nabi dan yang terdapat dalam Quran yang mengisyarahkan tentang ciri sahabat yang baik yang harus kita pilih. Diantaranya :

·         Iman

Iman merupakan pondasi persahabatan yang paling kuat yang bisa menjadikan wasilah untuk mempererat hubungan hamba dengan Tuhannya. Iman disini adalah keyakinan terhadap pondasi agama seperti keesaan Tuhan, Nabi dan Hari Kiamat. Di dalam al-Quran di isyaratkan untuk tidak berteman selain dengan orang-orang mukmin dan jika tidak maka kita akan terlepas dari pertolongan Tuhan. ‘QS. Ali Imran : 28’

·         Memberikan rasa hormat terhadap yang berbeda keyakinan (Toleran)

·         Jujur

Kejujuran merupakan modal untuk mempererat tali persahabatan yang dengannya akan tercipta rasa saling percaya satu sama lain.

·         Bukan orang munafik

Mereka adalah orang-orang yang akan membahayakan aqidah kita dan agama kita, karena kemunafikan seseorang bersumber dari keingkarannya terhadap apa yang kita yakini dan dia akan menjadi agen musuh agama kita. ‘al-Baqarah : 14’

·         Berakhlaq mulia

Mereka inilah yang akan selalu mengingatkan kita kepada akhirat, dengan melihatnya akan menstimulasi diri kita untuk lebih mencintai agama kita. Mereka akan selalu mengingatkan akan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan, bukan membenarkan setiap apa yang kita lakukan meskipun itu salah.