کمالوندی
Kondisi Kritis Muslim Rohingya
Meskipun mendapat tekanan regional dan internasional, pemerintah Myanmar hingga kini tidak mengambil tindakan signifikan untuk memulihkan keadaan minoritas Muslim Rohingya.Laporan periodik pusat studi Rohingya sedunia menegaskan bahwa polisi Myanmar melakukan pelanggaran hak asasi manusia terang-terangan terhadap Rohingya. Selain itu, kekerasan atas minoritas Muslim di provinsi Rakhine, di wilayah barat Myanmar terus berlanjut.
Naim Hassan al-Arakani, dari pusat Rohingya Global menyatakan Muslim Rohingya saat ini tidak diakui hak legalnya oleh pemerintah Myanmar. Dilaporkan, kebijakan terbaru yang diterapkan terhadap Rohingya adalah ditariknya kembali kartu putih melalui ancaman senjata dan kekerasan untuk menghalangi minoritas Muslim Rohingya berpartisipasi dalam pemilu mendatang.
Aktivis HAM Rohingya berkeyakinan bahwa aksi tersebut merupakan bagian dari kebijakan sistematis pemerintah Myanmar untuk menghalangi hak politik Muslim Rohingya di negaranya sendiri. Seorang pejabat Myanmar menyatakan, pada hari pertama dan kedua bulan April, pejabat pemerintah berhasil menarik kembali kartu putih dari tangan warga etnis Rohingya lebih dari enam ribu buah di seluruh provinsi Rakhine.
Hingga kini, pemerintah Myanmar masih memperlakukan sekitar satu juta warga Rohingya sebagai imigran Bangladesh. Dengan alasan tersebut, minoritas muslim tidak diberi kartu tanda penduduk Myanmar, dan diperlakukan bukan sebagai warga negara. Akibatnya Rohingya menjadi sasaran kekerasan dan diskriminasi oleh warga negara lain dan pemerintah Myanmar sendiri. Terkait hal ini, reporter HAM PBB melaporkan krisis kemanusiaan yang menimpa Muslim Rohingya. PBB menilai sikap pemerintah yang memperlakukan Rohingya sebagai warga asing yang memasuki Myanmar sebagai tindakan ilegal yang melanggar hukum internasional.
Pelapor HAM PBB dalam pertemuan di Jenewa menyatakan kunjungan terakhir ke Myanmar pada Januari 2015 lalu menunjukkan kondisi kritis minoritas Muslim di provinsi Rakhine. Dilaporkan kondisi kamp penampungan Rohingya juga sangat mengkhawatirkan. Mereka hanya dihadapkan dua opsi, tinggal dalam kondisi sangat sulit dan mati, atau pergi dengan perahu meninggalkan Myanmar.
Pelapor HAM PBB menegaskan, dampak penerapan program pemerintah terhadap Rohingya sebagai "Orang Asing Ilegal" menyebabkan minoritas Muslim ini harus tinggal selamanya di kamp penampungan atau meninggalkan Myanmar menuju negara lain dengan perahu. PBB mendesak pemerintah Myanmar melakukan reformasi demokratis di negara ini dan memberikan perhatian kepada warga Muslim Rohingya.
Berdasarkan laporan PBB, kekerasan yang dilakukan Budha ekstrem terhadap Rohingya menyebabkan lebih dari 100.000 orang minoritas Muslim terlantar. Selama beberapa tahun terakhir, Muslim Rohingya menjadi sasaran kekerasan dan penistaan, dan mereka hidup di kamp penampungan dengan kondisi yang sangat buruk.
Presiden Iran Kunjungi Pameran Prestasi-prestasi Industri Nuklir
Presiden Republik Islam Iran mengunjungi pameran berbagai prestasi terbaru negara ini di bidang energi nuklir untuk kepentingan damai.
Hassan Rouhani mengunjungi pameran prestasi-prestasi Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) yang digelar di Tehran, Kamis (9/4) pagi, bertepatan dengan Hari Nasional Teknologi Nuklir Iran. Demikian dilansir situs Kepresidenan Iran.
Dalam kunjungan tersebut, Rouhani mendengarkan penjelasan para pakar dan ilmuwan nuklir tentang penggunaan dan keistimewaan prestasi-prestasi itu.
Bersamaan dengan kehadiran Presiden Iran, dipamerkan pula sejumlah prestasi penting di bidang energi nuklir damai.
Hari ini, Kamis, 9 April 2015 atau 20 Farvardin di kalender Iran, adalah Hari Nasional Teknologi Nuklir.
Pada tanggal 9 April 2007, Iran mencapai prestasi bersejarah di sektor teknologi nuklir damai melalui pemanfatan kemampuan dalam negeri.
Prestasi itu diukir setelah negara itu meluncurkan set kedua sentrifugal di reaktor nuklir Natanz dan masuk ke tahap industri pengayaan uranium.
Kesuksesan tersebut telah mengantarkan Iran pada pencapaian teknologi pengayaan uranium dan peluncuran sebuah rangkaian sempurna dari pengayaan uranium oleh sentrifugal-sentrifugal buatan dalam negeri.
Menteri Perminyakan Iran Bertolak ke Cina
Menteri Perminyakan Republik Islam Iran bertolak ke Cina untuk membicarakan kerjasama bilateral kedua negara di bidang energi dengan para pejabat senior negara ini.
Bijan Namdar Zanganeh yang memimpin sebuah delegasi tingkat tinggi, bertolak ke Beijing pada Kamis (9/4) pagi, seperti dilaporkan IRNA.
Ia dijadwalkan bertemu dengan para pejabat tinggi ekonomi Cina khususnya di sektor industri energi, untuk bertukar pandangan mengenai peluang-peluang investasi di Iran dan pentingnya perluasan kerjasama bilateral di bidang energi.
Kunjungan Menteri Perminyakan Iran ke Beijing dilakukan setelah perusahaan-perusahan Cina menyatakan siap untuk meningkatkan partisipasinya dalam industri minyak dan energi Iran.
UNRWA Peringatkan Kondisi Kemanusiaan di Kamp Yarmouk
Juru bicara Badan Bantuan dan Kerja PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menggambarkan kondisi kemanusiaan di kamp pengungsi Palestia, Yarmouk, sangat buruk.
Seperti dilansir Reuters, Chris Gunness, Rabu (8/4), mengatakan, kondisi kamp Yarmouk di Suriah sangat tidak manusiawi, dan jika para petugas UNRWA tidak segera mengakses kamp itu, maka penyakit dan kelaparan akan mengancam nyawa para penduduk kamp Yarmouk.
Menurutnya, sejumlah organisasi amal Palestina telah berhasil masuk ke kamp Yarmouk dan membagikan bantuan makanan.
Gunness mengatakan, sistem keselamatan dan kesehatan umum di Yarmouk telah sepenuhnya hancur dan keamanan makanan sangat rendah.
Sejak awal April, kelompok teroris ISIS menyerang kamp Yarmouk di selatan Damaskus, ibukota Suriah, dan mengepung kamp Palestina tersebut.
Iran Raih Prestasi-prestasi Gemilang di Sektor Industri Nuklir
Ketua Organisasi Energi Atom Republik Islam Iran mengatakan, prestasi-prestasi baru di industri nuklir Iran berkembang.
Ali Akbar Salehi mengatakan hal itu di sela-sela konferensi Hari Nasional Teknologi Nuklir Iran yang digelar di Tehran, Kamis (9/4), seperti dilansir IRNA.
Salehi menambahkan, Iran telah mencapai kemandirian di sektor teknologi nuklir dan negara ini setiap tahun memamerkan prestasi-pretasi barunya yang sangat bernilai.
Menurutnya, hari ini, unit bahan bakar pertama reaktor nuklir Bushehr akan dipamerkan.
Salehi juga mengabarkan tentang serangkaian radiofarmaka yang akan dipamerkan di pameran prestasi-prestasi di sektor laser dan produksi alat-alat pengukur.
20 Farvardin di kalender Iran adalah Hari Nasional Teknologi Nuklir.
Pada tanggal 9 April 2007, Iran mencapai prestasi bersejarah di sektor teknologi nuklir damai melalui pemanfatan kemampuan dalam negeri.
Prestasi itu diukir setelah meluncurkan set kedua sentrifugal di reaktor nuklir Natanz (Iran tengah) dan masuk ke tahap industri pengayaan uranium.
Mengapa Irak tidak Percaya AS ?
Presiden Irak mempertanyakan kinerja AS dalam perang melawan teroris. Haider al-Abadi menyatakan, ketika Baghdad hampir menjadi target teroris ISIS, AS tidak melakukan tindakan signifikan untuk memerangi teroris. Dalam wawancara dengan Der Spiegel, Al-Abadi mengkritik peran AS dalam perang melawan ISIS. Presiden Irak menegaskan, rakyat Irak sangat pesimis terhadap AS, sebab hampir saja Baghdad jatuh ke tangan ISIS, dan Washington justru memilih membiarkan Baghdad dikuasai teroris.
Di bagian lain, Presiden Irak mengapresiasi positif peran konstruktif Republik Islam Iran  dalam mendukung Baghdad. Tehran membantu Irak demi kepentingan nasionalnya, sekaligus menjaga kota-kota suci yang berada di Irak dari serangan teroris. Pada Juni 2014, kelompok teroris ISIS yang didukung antek-antek rezim Saddam menyerang Mosul dan menguasai wilayah tersebut dengan lampu hijau pendukungnya, termasuk AS dan Arab Saudi serta sejumlah negara kawasan. Tidak hanya itu, ISIS juga melebarkan pengaruhnya dengan bergerak menuju ibukota Irak.
Dukungan terang-terangan sejumlah negara asing terhadap kelompok teroris ISIS di Irak, dan kerjasama para politikus rezim Baath menyebabkan sejumlah wilayah negeri kisah 1001 malam itu jatuh ke tangan teroris. Tapi konspirasi tersebut berhasil dipatahkan berkat persatuan nasional dan dukungan rakyat terhadap militer Irak. Setelah menguasai Mosul, kelompok teroris ISIS yang didukung finansial dan logistik Arab Saudi, Turki dan kerjasama partai Baath, berambisi menguasai Arbil dan Baghdad. Ketika ISIS semakin mendekat ke arah gerbang masuk Arbil dan Baghdad, AS yang menandatangani nota kesepahaman keamanan dengan Irak justru berperan sebagai penonton semata.
Tapi kewaspadaan yang ditampilkan otoritas keagamaan Irak, terutama marja Syiah dengan mengeluarkan fatwa perang melawan kelompok teroris ISIS berhasil menangkal konspirasi musuh. Selain itu, dukungan Iran dalam perang menghadapi kelompok teroris ISIS menyebabkan skenario musuh untuk menguasai Irak membentur dinding.
Fitnah ISIS di Irak menunjukkan siapa sebenarnya sahabat dan lawan sejati Irak. Lebih dari itu, orang-orang Irak bertumpu pada kekuatan dalam negerinya untuk menjaga kedaulatan bangsa dan negaranya dari serangan musuh. Kini, ISIS menghadapi hari-hari paling kelam di Irak, karena rakyat negara Arab ini bersatu memerangi kelompok teroris itu. Pembebasan Tikrit, ibu kota provinsi Salahuddin yang dikuasai ISIS berkat persatuan antara militer Irak, dan relawan rakyat, dari berbagai lapisan masyarakat.
Pembebasan Tikrit dari cengkeraman teroris ISIS menunjukkan sebuah fakta bahwa AS tidak bisa dipercaya dan koalisi internasional anti-ISIS yang dipimpin Washington hanya sandiwara kepentingan imperialisme, yang tidak melakukan langkah signifikan dalam perang melawan terorisme. Seperti ditegaskan Presiden Irak, ketika ISIS hampir mendekati Baghdad, AS justru membiarkan ibukota Irak itu dikuasai teroris.
Zarif dan Penekanan Pelaksanaan Statemen Lausanne
Di bawah koridor kesepakatan 24 November 2013, Iran dan Kelompok 5+1 akhirnya berhasil mengambil langkah penting untuk menggapai kesepakatan final nuklir. Statemen Lausanne kini telah menentukan isi sebuah kesepakatan komprehensif dan melapangkan jalan untuk meraih kesepakatan final.
Di bawah koridor mekanisme dan solusi yang ada serta berdasarkan program komprehensif aksi bersama Republik Islam Iran akan terus melanjutkan produksi bahan bakar nuklir untuk menjamin kebutuhan bahan bakar instalasi nuklirnya. Setelah program aksi bersama dilaksanakan, maka seluruh resolusi Dewan Keamanan PBB dan sanksi ekonomi dan finansial Eropa yang multi, maupun sanksi sepihak Amerika Serikat di berbagai sektor seperti minyak, gas, petrokimia dan industri otomotif segera dicabut.
Di Lausanne, Swiss pada hari Kamis (2/4) lalu, statemen bersama Iran dan Kelompok 5+1 dirilis, dan statemen ini mencakup dua poin penting dan vital. Pertama, Iran telah membuktikan itikad baiknya untuk tetap melanjutkan interaksi hingga tercapainya kesepakatan final dan komprehensif. Kedua, Iran dengan inisiatif teknis dan politik mampu meraih hak-hak nuklirnya meski adanya penolakan Barat. Yang lebih penting adalah Iran berhasil menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa program nuklirnya bukan ancaman bagi  pihak mana pun.
Kini kesepahaman awal telah diraih dan langkah berikutnya adalah menyusun isi kesepakatan final, sehingga pada akhirnya kesepahaman ini menjadi kesepakatan final yang ditandatangani mereka yang terlibat dalam perundingan. Di kondisi seperti ini, khususnya setelah perilisan statemen Lausanne,  Washington berusaha mencitrakan dirinya seolah-olah berkoordinasi dengan proses kesepakatan Jenewa untuk menggapai kesepakatan final, meski ada friksi antara Gedung Putih dan Kongres dalam masalah ini. Namun kebersamaan dan koordinasi tersebut masih diwarnai dengan berbagai interpretasi sepihak atas statemen Lausanne termasuk terkait mekanisme pencabutan sanksi.
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif dalam wawancaranya dengan televisi Iran seraya mengisyaratkan isu pencabutan sanksi dan kemungkinan intervensi Kongres Amerika dalam masalah ini menekankan, ÔÇ£Menurut hukum internasional, pemerintah adalah wakil dari sebuah negara dan berdasarkan apa yang bakal berlangsung, maka seluruh sanksi finansial dan perbankan akan dicabut.ÔÇØ
Zarif menambahkan, ÔÇ£Sejumlah statemen mereka hanya dapat dikonsumsi oleh audiens dalam negeri, namun seluruh pihak harus menyadari bahwa sanksi telah pudar.ÔÇØ
Amerika Serikat selama satu dekade dengan kebijakan super power dan dengan semena-mena telah menjadikan Iran sebagai target sanksi Dewan Keamanan PBB, sanksi Uni Eropa dan sanksi sepihaknya, namun kini senjata sanksi telah gagal. Realitanya adalah kini kondisi Iran sangat berbeda dengan sebelumnya. Iran adalah negara kedua dengan populasi terbesar di kawasan Timur Tengah dan sekitar 10 persen cadangan minyak dan 18 persen cadangan gas di kawasan ini milik Iran.
Bank Goldman Sachs dalam analisanya di tahun 2007, ketika sanksi anti Iran sedang santer-santernya menyatakan, Iran berada di urutan teratas di antara 11 negara dunia yang ekonominya memiliki peluang lebih besar untuk berkembang. Kondisi tersebut kini lebih baik dari sebelumnya. Mayoritas lembaga ekonomi Eropa termasuk Asosiasi Perdagangan Jerman mengaku optimis dapat memanfaatkan secara maksimal peluang emas untuk menanam investasi di Iran.
Dari sudut politik, Barat juga tidak dapat menutup mata atas peran menentukan Iran dalam menjaga stabilitas dan keamanan kawasan. Seluruh realita ini berperan dalam membentuk statemen Lausanne. Oleh karena itu, statemen ini akan terus mengalami proses penyempurnaannya dalam koridor kesepakatan yang diterima oleh Iran meski Barat memiliki interpretasi  menyimpang.
Pro dan Kontra, Tanggapan atas Kesepakatan Nuklir Iran dan Barat
Di saat negosiasi nuklir antara Republik Islam Iran dan Kelompok 5+1 memasuki tahap menentukan setelah dirilisnya statemen Lausanne, masih ada sejumlah pihak yang berusaha mempertanyakan statemen Lausanne. Tentu saja sikap kelompok ini masih didukung dengan kebijakan masa lalu mereka yang memperioritaskan sanksi sebagai senjata menentukan.
Kesepakatan ini memiliki dampak mutli, dan khususnya bagi pihak-pihak seperti rezim Zionis Israel dan lobinya di Amerika dapat menjadi berita buruk. Kubu Republik Amerika sampai saat ini telah melakukan banyak langkah untuk mempengaruhi negosiasi nuklir dan membuatnya gagal. Beberapa bulan lalu Republikan Amerika mengundang Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu untuk berpidato di Kongres. Tujuannya adalah untuk mempersulit kesepakatan nuklir yang sepertinya akan tercapai.
Selanjutnya, sejumlah Senator Republik Amerika mengirim surat terbuka kepada Obama dan memberi peringatan bahwa kemungkinan kesepakatan yang bakal diraih antara Tehran dan pemerintah Amerika terkait program nuklir Iran hanya dapat sukses dengan dukungan serta kesepakatan Kongres.
Sementara itu, Benyamin Netanyahu beberapa hari lalu menyatakan kekhawatirannya atas statemen Lausanne dan menunjukkan reaksi negatif. Koran Haaretz di edisi Ahad (5/4) dalam sebuah analisanya menulis, setelah kesepakatan nuklir dengan Iran, ada berita baik dan buruk bagi Israel.
Dalam pandangan Israel, berita yang relatif baik atas kesepakatan ini adalah proyek nuklir Iran paling tidak selama satu dekade akan berada di bawah pengawasan. Namun berita buruknya bagi Israel adalah, kekuatan besar dunia mengakui bahwa Iran memiliki hak nuklir dan dari sisi politik juga diakui bahwa Tehran merupakan satu kekuatan yang patut diperhitungkan di kawasan.
Netanyahu di tahun 1992, ketika menjadi anggota Knesset memprediksikan bahwa Iran selama tiga hingga lima tahun akan mampu memproduksi senjata nuklir. Di tahun 1996, Netanyahu di Kongres Amerika meminta masyarakat internasional bergabung dengan dirinya untuk mencegah Iran menggapai kemampuan memproduksi senjata massal. Lagi-lagi ketika di sidang Majelis Umum PBB, dihadapan para pemimpin dunia, Netanyahu mengulang klaim palsunya dan mengatakan, Iran hanya butuh satu tahun atau kurang untuk mempersiapkan kebutuhan yang diperlukan guna memproduksi senjata nuklir.
Pada hari Ahad (5/4), Netanyahu dalam wawancaranya dengan televisi ABC News Amerika mengatakan, kesepakatan ini yang membiarkan Iran dengan stuktur luas atom yang dimilikinya, sanksi dicabut dan miliaran dolar akan masuk ke kas  Iran, adalah sebuah kesepakatan buruk.
Netanyahu mengklaim bahwa masalah ini bukan hanya membuat dirinya khawatir, namun juga menjadi sumber kekhawatiran kawasan, bahwa Iran kini bebas untuk sampai pada produksi senjata nuklir. Namun demikian Netanyahu dengan baik menyadari realita apa sebenarnya yang terjadi, tapi ia masih tetap berusaha memperkeruh iklim politik yang positif dan menghidupkan dikte masa lalu terkait Iran.
Netanyahu meyakini bahwa masih ada opsi lain, yakni mempertahankan represi terhadap Iran untuk menerima komitmen lebih besar. Hal ini menurut anggapannya akan mampu menekan Iran menandatangani kesepakatan yang baik. Realitanya adalah klaim-klaim yang disebarkan Netanyahu tidak lagi layak untuk dikonsumsi dan sesuatu yang usang.
Israel kini terpaksa membayar sikapnya terkait isu Palestina dan harus memberi jawaban atas kepemilikian lebih dari 200 hulu ledak nuklir yang menjadi satu-satunya ancaman bagi kawasan. Israel juga harus bersiap-siap dihadapkan pada Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) untuk mempertanggung jawabkan seluruh kejahatannya terhadap bangsa Palestina.
Militer Irak Gagalkan Serangan ISIS ke Baiji
Militer Irak berhasil menggagalkan serangan kelompok teroris ISIS ke kota Baiji di Provinsi Salahuddin, Utara Irak.
Kantor berita Kul Al Iraq (6/4) mengutip Kepala Kepolisian Kota Baiji melaporkan, Senin (6/4) militer Irak bersama pasukan sukarelawan rakyat berhasil menggagalkan serangan teror ISIS ke desa Al Mazraah di Baiji.
Dalam operasi itu seluruh penyerang termasuk delapan pemimpin ISIS yang merupakan warga asing, tewas.
Sementara itu sebuah sumber keamanan di Provinsi Salahuddin mengumumkan, Senin dini hari akibat serangan ISIS terhadap militer dan pasukan sukarelawan rakyat Irak di wilayah Fath, Timur Laut Baiji, tujuh tentara Irak tewas dan 10 lainnya terluka.
Di sisi lain, dalam kontak senjata yang terjadi antara pasukan perbatasan Irak dengan para teroris ISIS di Barat Al Anbar yang bermaksud meledakkan sebuah bom mobil di markas tentara, beberapa anasir teroris tewas dan terluka.
Nahavandian: Pencabutan Sanksi Hidupkan Pasar Ekspor Iran
Kepala Kantor Kepresidenan Iran mengatakan, pencabutan sanksi atas Tehran telah menghidupkan kembali pasar ekspor.
IRNA (6/4) melaporkan, Mohammad Nahavandian, Kepala Kantor Kepresidenan Iran, Senin (6/4) dalam pertemuannya dengan Ayatullah Naser Makarem Shirazi, salah satu ulama Iran di kota Qom, menjelaskan bahwa saat ini bursa saham dan investasi mengalami pertumbuhan.
Ia menambahkan, ÔÇ£Pasar butuh investasi untuk bisa berkembang.ÔÇØ
Nahavandian juga menyinggung soal kondisi perbankan di Iran. ÔÇ£Mengingat adanya penurunan inflasi, tingkat suku bunga juga otomatis akan turun. Hal ini akan berdampak pada peningkatan investasi masyarakat di bank-bank dan penurunan biaya produksi,ÔÇØ paparnya.
Lebih lanjut Nahavandian menjelaskan, ÔÇ£Fungsi pengawasan yang dilakukan Bank Sentral Iran kembali pulih, dan beberapa lembaga yang melakukan pelanggaran serta beroperasi tanpa izin, sudah ditertibkan.ÔÇØ
Kepala Kantor Kepresidenan Iran, Senin (6/4) bertolak ke kota Qom untuk bertemu dengan para ulama dan menyampaikan laporan soal kinerja pemerintah.




























