کمالوندی
Imam Askari, Mentari Keadilan
Imam Hasan Askari dilahirkan di kota Madinah tanggal 8 Rabiul Tsani tahun 232 Hijriah. Hari kelahiran Ahlul Bait Rasulullah Saw membawa keberkahan, sekaligus pelajaran penting dari kehidupan mulia mereka bagi umat manusia. Kehidupan Ahlul Bait Rasulullah Saw menjadi suri teladan terbaik bagi masyarakat. Manusia-manusia suci ini dalam kehidupannya senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan membela kebenaran dan keadilan.
Salah satu tujuan terpenting diutusnya para Nabi dan Rasul berdasarkan ayat suci al-Quran adalah penegakkan keadilan. Untuk mewujudkan keadilan diperlukan seorang pemimpin adil di tengah masyarakat. Dalam kitab suci al-Quran surat al-Hadid ayat 25, Allah swt berfirman, "Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan..".
Senada dengan ayat ini, Imam Ridha berkata,"... salah satu argumentasi pentingnya Imam dan pemimpin adalah perlunya masyarakat terhadap undang-undang. Mereka wajib mematuhinya, dan tidak boleh melanggar undang-undang. Sebab setiap pelanggaran terhadap batas-batas aturan yang telah ditetapkan menyebabkan terjadinya kerusakan di tengah masyarakat. Untuk melindungi batas-batas aturan diperlukan para penjaga yang terpercaya. Jika tidak, tidak ada seorangpun yang bersedia untuk meninggalkan kenikmatan dan kepentingan pribadinya, meskipun akan menyebabkan kerusakan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Allah swt menyerahkan urusan masyarakat kepada orang yang bisa mencegah kerusakan yang disebabkan para perusak, dan menjalankan aturan di tengah masyarakat. Dalil lain [urgensi keberadaan Imam], bangsa manapun tidak akan berlanjut tanpa pemimpin untuk mengatur urusan dunia, dan akhirat mereka. Dengan demikian, hikmah Allah Yang Maha Bijaksana tidak akan membiarkan makhluknya berkaitan dengan masalah penting..."
Imam Hasan Askari adalah Imam kesebelas yang menjadi pembimbing umat. Kelahirannya memancarkan cahaya penerang kehidupan manusia, yang sudah lelah dari ketidakadilan dan kezaliman. Beliau menjadi Imam dalam usia 22 tahun  setelah ayahnya, Imam Ali al-Hadi syahid. Meskipun Imam Hasan Askari hidup tidak lebih dari 28 tahun, tapi di usia yang singkat ini telah menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah Islam. Manusia mulia ini mewariskan karya besar dan penting di bidang tafsir al-Quran, fiqih dan ilmu pengetahuan bagi umat Islam. Di tengah ketatnya pembatasan dan tingginya tekanan dinasti Abbasiyah terhadap Ahlul Bait Rasulullah Saw, Imam Askari masih tetap menyampaikan ajaran Islam kepada umat Islam secara terorganisir untuk menyiapkan kondisi keghaiban Imam Mahdi setelah beliau.
Di era kegelapan pemikiran dan penyimpangan akidah, Imam Askari as bangkit menyampaikan hakikat agama secara jernih kepada masyarakat. Beliau mengobati dahaga para pencari ilmu dan makrifat dengan pancaran mata air kebenaran. Argumentasi yang disampaikan Imam Askari as dalam berbagai forum ilmiah diakui oleh para pemikir di zamannya, dan menjadi panduan bagi mereka.
Lembaran sejarah menorehkan keagungan akhlak Imam Hasan Askari. Berbagai riwayat mengungkapkan kemuliaan manusia agung ini. Di tengah kondisi sulit karena tekanan pemerintah lalim saat itu, Imam Hasan Askari tetap menjadi rujukan masyarakat. Bahkan Imam tetap menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat, dan menyelesaikan masalah yang mereka alami. Kedermawanan Imam Hasan Askari sangat dirasakan oleh masyarakat.
Abu Yusuf, penyair dinasti Abbasiah, menuturkan "Aku pernah mengalami kondisi yang sangat sulit. Saat itu, aku baru saja mempunyai seorang anak. Kondisi sulit saat itu membuatku menulis surat memohon bantuan kepada para pembesar Bani Abbas. Namun sangat disayangkan, mereka sama sekali tidak membantuku.Ketika pesimis, aku teringat Imam Hasan Askari. Kemudian, aku mendatangi rumah beliau. Tidak lama setelah mengetuk pintu, seorang sahabat Imam membawa sekantong uang. Sahabat Imam itu berkata, "Ambillah uang 400 dirham ini! Imam mengatakan; Gunakanlah uang ini untuk anakmu yang baru lahir. Dengan keberadaan anak tersebut, Allah Swt memberikan berkah dan kebaikan kepadamu."
Mengenai ibadah dan penghambaan Imam Hasan, beliau adalah sosok yang sangat sempurna. Abu Hasyim Jafari, salah satu sahabat setia Imam Hasan Askari berkata, "Ketika tiba waktu shalat, Imam langsung meninggalkan pekerjaan dan aktivitasnya. Beliau tidak pernah mendahulukan pekerjaan lainnya dari pada shalat." Kehidupan Imam Askari merupakan manifestasi sejati dari ibadah dan penghambaan kepada Allah Swt. Bahkan, para sipir penjara dinasti Abbasiah menemukan jalan yang benar dan kebahagiaan sejati setelah menyaksikan ibadah Imam Askari di penjara.
Dalam nasehatnya, Imam Hasan Askari mengajak umat bersabar di tengah tekanan hidup. Kepada salah seorang sahabatnya, beliau berkata, "Selama kalian mampu dan bisa bertahan, janganlah memohon kepada orang lain. Sebab, setiap hari ada rejeki baru. Ketahuilah bahwa terus-menerus memohon atau mengemis dapat menghilangkan harga diri seseorang. Untuk itu, bersabarlah hingga Allah Swt membuka pintu bagimu. Kenikmatan itu ada masanya. Janganlah tergesa-gesa memetik buah yang belum waktunya dan petiklah pada waktunya."
Imam Hasan Askari menjadi pemimpin umat selama enam tahun. Tapi, dalam waktu yang singkat itu, beliau berperan besar dalam menyebarkan budaya dan ajaran Islam. Imam Hasan mengajar dan membina murid-murid yang menjadi ulama dan ilmuwan setelahnya. Selain itu, beliau membimbing umat dengan pemikiran dan ajaran Islam yang benar, di tengah derasnya serangan budaya dan pemikiran dari luar Islam. Ketika itu, di dunia Islam tengah marak penyimpangan pemikiran dan pandangan atheis yang dikembangkan dari pemikiran Yunani dan India.
Imam Hasan Askari terus berupaya menyelamatkan masyarakat dari segala bentuk penyimpangan budaya dan pemikiran dengan memberikan pencerahan pemikiran dan spiritualitas. Menyampaikan masalah agama, membina majlis-majlis ilmu, dan membina para sahabat unggulan termasuk bentuk perlawanan yang dilancarkan Imam Hasan Askari terhadap pemerintah zalim Dinasti Abbasiah. Melalui media ilmu dan pengetahuan, Imam Askari menjelaskan fakta sebenarnya bahwa pemerintahan zalim menjadi penghalang terlaksananya ajaran-ajaran agama dan keadilan di tengah masyarakat. Disamping itu, pemerintah zalim menginjak-injak hak-hak masyarakat dan menyelewengkannya menjauhi jalan kebenaran. Imam Hasan menguatkan spirit keadilan di tengah masyarakat, dan mengabarkan kehadiran putranya, Imam Mahdi sebagai hujah Tuhan, yang akan mewujudkan keadilan di dunia ini.(
Sayidah Maksumah, Bintang Ahlul Bait
Tanggal 10 Rabiul Tsani, bertepatan dengan hari wafatnya wanita suci Ahlul Bait as, Sayidah Fatimah Maksumah as. Beliau termasuk anggota keluarga Ahlul Bait as yang memiliki kemuliaan tinggi dari keturunan Imam Musa Kadzim as, setelah saudaranya Imam Ridha. Jauh hari sebelum kelahiran Sayidah Maksumah, kakeknya Imam Shadiq sudah memberitahukan tentang kelahiran cucunya.
Imam Shadiq berkata: "Akan meninggal dan dikuburkan seorang perempuan dari salah satu keturunanku. Namanya Fatimah putri Musa, seorang perempuan yang dengan syafaatnya pada hari kiamat, seluruh pengikut syiah akan masuk surga". Saudara Sayidah Maksumah, Imam Ali ar-Ridha as, berkata, "Barang siapa yang menziarahi Sayidah Maksumah di kota Qom, sama seperti menziarahiku."
Sayidah Fatimah Maksumah as dilahirkan di kota Madinah pada tanggal 1 Dzulqadah, tahun 173 hijriah. Wanita agung ini dibesarkan di bawah bimbingan dua manusia suci, ayahnya Imam Musa Kadzim, dan kakaknya Imam Ridha.Tapi kebahagiaan Sayidah Fatimah Maksumah di masa kecil itu tidak bertahan lama karena ayahnya Imam Musa Kazhim as gugur syahid di penjara penguasa lalim saat itu. Ketika ayahnya syahid, Sayidah Fatimah Maksumah as berusia sepuluh tahun. Setelah itu, Imam Ali ar-Ridha as menjadi satu-satunya pelindung setia Sayidah Fatimah Maksumah.
Sejak usia kanak-kanak, Sayidah Maksumah telah menunjukkan kecerdasaan dan keluasan ilmunya. Sayidah Fatimah berjuang keras dalam menuntut ilmu dan pengetahuan Islam. Beliau tidak menambah dan mengurangi ilmu yang disampaikan oleh ayahnya ketika menyampaikannya kepada masyarakat. Ini menunjukkan tanggung jawab besar dan amanat yang tertanam dalam jiwa putri Imam Musa as.
Sayidah Fatimah senantiasa menuntut ilmu dan membela kebenaran dalam kondisi sulit sekalipun. Sayidah Fatimah didampingi Imam Ali ar-Ridha as dan mengamalkan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari ayahnya.
Sayidah Maksumah memiliki beberapa sebutan nama agung seperti Shadiqah, karena dikenal sebagai orang yang terpercaya. Selain itu beliau dipanggil dengan nama mulia seperti Karimah Ahlul Bait dan Thahirah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis dari Imam Shadiq. Selain itu, beliau juga disebut  dengan nama "Muhadatsah" yang berarti perawi Hadis.
Di antara hadis yang diriwayatkan Sayidah Maksumah adalah Hadis Manzilah yang menjelaskan kedudukan mulia Imam Ali as. Di hadis ini dijelaskan bahwa kedudukan Imam Ali terhadap Nabi Saw, seperti posisi Harun bagi Nabi Musa as. Beliau juga menjelaskan peristiwa penting di Ghadir Khum untuk mencegah umat Islam lalai dari amanat Nabi Muhammad Saw tentang kepemimpinan setelahnya.
Pada tahun 200 hijriah, Imam Ali ar-Ridha as terpaksa meninggalkan kota Madinah menuju Khorasan di bawah tekanan penguasa lalim saat itu. Setahun kemudian, Sayidah Fatimah Maksumah yang merindukan kakaknya berangkat menuju kota Marv ditemani sejumlah saudaranya seperi Fadhil, Jafar, Hadi, Qasim dan Zaid serta beberapa orang lainnya.
Perjalanan wanita agung beserta rombongan dari Madinah menuju Khorasan tersiar ke berbagai wilayah. Di setiap daerah yang mereka lewati, para pencinta Ahlul Bait menyambutnya, dan memanfaatkan kehadiran sumber pengetahuan dan keluhuran akhlak ini. Mereka juga ingin mendapatkan berkah dari kedatangan manusia agung ini di daerah yang dilewati rombongan Sayidah Maksumah.
Dalam setiap penyambutan di berbagai kota, Sayidah Fatimah selalu menggunakan kesempatan tersebut untuk memberikan pencerahan kepada para pecinta Ahlul Bait. Beliau dalam berbagai pidatonya mengungkap kedok penguasa Bani Abbasiah. Pada dasarnya, Sayidah Fatimah sengaja berhijrah dari Madinah ke Marv sebagai bentuk protes terhadap kondisi yang ada. Perjalanan itu merupakan bagian dari perjuangan Sayidah Fatimah terhadap intimidasi dan kezaliman.
Sayidah Maksumah senantiasa mengingatkan umat Islam terkait jawaban Imam Ridha as soal usulan Khalifah Makmun kepada Imam ini. Makmun dalam makarnya mengusulkan posisi Putra Mahkota kepada Imam Ridha as, sebuah usulan yang bersifat makar dan tipu daya. Tujuannya, Makmun bisa meredam perlawanan para pengikut Ahlul Bait as. Imam Ridha saat menjawab usulan Makmun mengatakan, jika khilafah merupakan hakmu tidak seharusnya kamu melimpahkannya kepada orang lain, namun jika bukan hakmu, mengapa kamu menyebut dirimu khalifah umat Islam dan menentukan putra mahkota (Wali Ahd).
Sayidah Maksumah berusaha menyadarkan masyarakat bahwa kepemimpinan terhadap umat Islam merupakan hak Ahlul Bait Rasulullah Saw.Sejarah mencatat perjuangan besar Sayidah Maksumah dalam mengokohkan Imamah Ahlul Bait di tengah rongrongan konspirasi musuh.
Pencerahan yang dilakukan Sayidah Fatimah Maksumah memicu kemarahan penguasa lalim. Antek-antek Bani Abbasiah memburu rombongan Sayidah Maksumah. Ketika rombongan sampai di kota Saveh, mereka diserang oleh pasukan Makmun dan kelompok pembenci Ahlul Bait. Sejumlah pengikut beliau dalam peperangan tak seimbang ini gugur syahid. Akibat peristiwa ini, Sayidah Maksumah jatuh sakit. Atas inisiatif Sayidah Maksumah, rombongan kemudian menuju kota Qom. Sayidah Fatimah berkata, "Bawalah aku ke kota Qom, karena aku mendengar dari ayahku bahwa kota ini adalah pusat para pecinta Ahlul Bait as." Mendengar permintaan Sayidah Fatimah, mereka pun membawa beliau ke kota Qom.
Tepat tanggal 23 Rabiul Awal 201 Hijriah, Sayidah Maksumah as bersama rombongannya tiba di kota Qom. Para tokoh dan ulama Qom menyambut rombongan Ahlul Bait Rasulullah Saw. Seorang pecinta Ahlul Bait as dan pembesar di kota Qom yang bernama Musa bin Khazraj, menjadi tuan rumah yang menjamu Sayidah Fatimah selama di kota Qom. Sayidah Fatimah berada di kota Qom selama 17 hari. Pada hari-hari terakhir masa hidupnya, Sayidah Fatimah lebih banyak menyibukkan diri bermunajat kepada Allah Swt. Beliau akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 10 Rabiul Tsani dan dimakamkan di kota Qom.
Hingga kini, Makam Sayidah Maksumah diziarahi para  pecinta Ahlul Bait dari seluruh penjuru dunia. Berkat keberadaan Sayidah Fatimah, di Qom berdiri pusat pendidikan agama Syiah terbesar di dunia. Aura spritual yang dipancarkan makam suci Sayidah Fatimah as memberikan pencerahan intelektual bagi para ulama, dan berkah bagi masyarakat.
Rahbar: Iran Terus Maju dan AS yang Kalah Beruntun
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menekankan bahwa bangsa Iran dalam pawai akbar 22 Bahman akan menunjukkan tidak akan menerima kesenang-wenangan dan akan memberikan balasan setimpal kepada para penistanya.
Hal itu disampaikan Rahbar pada Ahad (9/2) dalam pertemuan dengan para panglima dan pegawai Angkatan Udara dan sistem pertahanan anti-udara militer Republik Islam Iran. Menjelaskan sebab dan tujuan utama permusuhan Amerika Serikat dalam 36 tahun yang terus berlanjut serta kesalahan peritungan mereka dalam menghina dan memaksa bangsa Iran bertekuk lutut, beliau menyebutkan, dengan pertolongan Allah Swt, bangsa Iran dengan partisipasi kokoh dan animo mereka pada pawai akbar 22 Bahman, yang akan membuat musuh bertekuk lutut.
Ayatullah Khamenei menilai faktor kegagalan beruntun Amerika Serikat dalam masalah regional khususnya terkait Iran adalah kesalahan peritungan dan kekeliruan strategi mereka. Beliau menegaskan, satu contoh dari kesalahan-kesalahan tersebut adalah pernyataan beberapa waktu lalu seorang pejabat Amerika Serikat yang menyatakan bahwa ÔÇ£pihak Iran dalam perundingan nuklir, telah terkekang dan tersudut.ÔÇØ
Menyinggung perundingan nuklir dan upaya para penghasut dan musuh untuk mengesankan keputusasaan Iran dalam masalah ini, Rahbar mengatakan, ÔÇ£Saya setuju dengan kesepakatan yang dapat tercapai, akan tetapi saya menentang kesepakatan buruk dan kami percaya tidak mencapai kesepakatan lebih baik daripada kesepakatan yang merugikan kepentingan nasional dan membuka jalan bagi penistaan terhadap bangsa besar Iran.ÔÇØ
Beliau juga menyinggung upaya konstan para pejabat dan delegasi perunding Iran untuk menyingkirkan senjata sanksi dari tangan musuh dan menekankan, ÔÇ£Jika kesepakan ini terjadi dan dengan kesepakatan, senjata sanksi dapat tersingkir dari tangan musuh, maka ini sangat baik, akan tetapi jika kesepakatan tidak terjadi, semua harus tahu bahwa terdapat banyak cara di dalam Iran untuk memperlamban senjata sanksi.ÔÇØ
Ayatullah Khamenei menandaskan pula bahwa bangsa Iran tidak akan tunduk pada kesewenang-wenangan, ketamakan dan perilaku irasional serta menjelaskan, ÔÇ£Sikap Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa yang mengikutinya dalam perundingan, tidak logis dan dengan banyak tuntutan mereka berharap seluruh keinginan mereka terealisasi, padahal ini bukan caranya berunding.ÔÇØ
Terkait sejumlah masalah yang mengemuka tentang kesepakatan nuklir dua tahap di mana pada tahap pertama prinsip-prinsip utama dan kemudian tahap berikutnya kesepakatan pada perinciannya, Rahbar berpendapat, ÔÇ£Jiak ada kesepakatan, harus dilakukan dalam satu tahap yang mencakup masalah utama dan perinciannya.ÔÇØ
Berbicara tentang kegagalan politik Amerika Serikat di Suriah, Irak, Lebanon, Palestina, Gaza, Afghanistan dan Pakistan dan juga kekalahan AS di Ukraina, Rahbar menujukan pernyataannya kepada orang-orang Amerika dan mengatakan, ÔÇ£Kalian yang selama bertahun-tahun mengalami kekalahan beruntun akan tetapi Republik Islam Iran telah maju dan sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan 36 tahun lalu
Libya yang Membara
Fenomena Libya saat ini menunjukkan negara kaya minyak ini berada dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan. Ancaman perang dengan Mesir, dan gelombang terorisme yang dilancarkan ISIS memperkeruh situasi kritis Libya. Tidak hanya itu, penculikan 35 warga Mesir semakin menambah daftar panjang konflik berdarah di Libya.
Menyikapi kondisi Libya saat ini, Uni Eropa menyampaikan keprihatinan mengenai situasi memburuk di negara Arab itu yang bisa berdampak terhadap negara-negara Eropa, terutama dengan masuknya ISIS di Libya. Uni Eropa menyerukan sikap bersama untuk meredam krisis di Libya. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa menyatakan aksi militer terhadap Libya sebagai opsi yang tepat. Tapi, keputusan tersebut akan diambil dalam koridor kewenangan PBB.
Kini, berbagai kemungkinan bisa terjadi di Libya. Sebab, situasi dan kondisi Libya saat ini kacau-balau. Zona udara Libya ditutup oleh militer negara ini. Pada saat yang sama pasukan militer Mesir bersiaga di perbatasan. Bahkan, jet tempur Mesir membombardir kamp ISIS yang berbasis di kota Daranah. Sedangkan militer Libya juga melancarkan serangan terhadap kelompok teroris ISIS di kota Benghazi dan Sirte.
Dalam kondisi krisis saat ini infrastruktur Libya semakin terancam. Bahkan perusahaan perminyakan nasional Libya kemungkinan akan menghentikan ekspor minyaknya. Fenomena ini menunjukkan bahwa Libya berada di jalur merah. Kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran interventif sejumlah negara Barat. Sebagian negara anggota NATO terlibat dalam penggulingan rezim diktator Ghaddafi. Pasca kemenangan revolusi Libya, negara ini dibiarkan berseteru antarkubu di dalam negeri. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa negara-negara Barat ini menjalin hubungan dengan  sejumlah faksi bersenjata di Libya yang menjadi mempertajam Krisis di negara Afrika Utara ini.
Menyikapi krisis yang terjadi di negaranya, Perdana Menteri Libya Abdullah al-Thani menilai publik internasional sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas terjadinya krisis di Libya, terutama tewasnya sejumlah warga Mesir oleh milisi teroris ISIS.
Sejumlah analis politik berkeyakinan bahwa kondisi krisis Libya telah didesain secara sistematis untuk memuluskan masuknya anggota NATO untuk mengubah situasi dan kondisi politik dan ekonomi negara Arab ini. Dalam kondisi Libya yang kacau balau sebagaimana terjadi saat ini, negara-negara Barat bisa lebih mudah untuk menjalankan skenarionya memecah belah negara kaya minyak itu sesuai kepentingan mereka.
Sejatinya, lambannya penanganan krisis Libya oleh negara-negara Barat selama tiga tahun lalu jelas bukan tanpa sebab. Tapi kini, situasi Libya lebih kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya. Pasalnya, kaki ISIS yang menggandeng kelompok Fajr Libya, yang menjadi rival incumbent saat ini, mulai merambah Libya. Dilaporkan, ISIS sudah mulai menjangkau ibukota Tripoli.
Kini muncul pertanyaan terkait Libya yang berada dalam dualisme, dengan dua pemerintahan, dua parlemen dan militer yang tidak bersatu. Apakah bisa bangsa Libya menghadapi kelompok bersenjata di dalam negeri, dan juga kelompok teroris semacam ISIS yang mendapat pasokan finansial dan senjata dari sejumlah negara Barat dan Arab ?
Dewan Keamanan PBB hari Rabu (17/2) menggelar sidang untuk membahas masalah krisis Libya. Tapi, muncul pertanyaan mendasar selama tiga tahun lalu apa yang telah dilakukan PBB, khususnya Dewan Keamanan. Apa peran yang negara negara-negara Barat untuk meredam krisis di Libya hingga berujung konflik membara saat ini. Situasi dan kondisi Libya saat ini relatif tidak terkendali, dan rakyat negara ini tidak tahu lagi bagaimana nasib mereka ke depan.
Peliknya Keamanan Karachi untuk Pemerintah Pakistan
Di saat kerusuhan berdarah di Karachi terus berlanjut, Perdana Menteri Nawaz Sharif bersama Raheel Sharif, panglima militer Pakistan berkunjung ke kota ini guna menyaksikan dari dekat kondisi keamanan di wilayah negara bagian Sindh tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, Letjen. Naveed Mukhtar, komandan militer Karachi menyerahkan laporan kondisi keamanan di kota ini kepada Sharif. Perdana menteri juga diberi laporan perincian operasi intelijen di kota Karachi. Operasi ini berkaitan dengan operasi militer di wilayah Waziristan utara. Pertemuan ini juga mencatat agenda lain seperti mengkaji pelaksanaan ÔÇ£program langkah nasionalÔÇØ dalam memberantas terorisme.
Kota pelabuhan Karachi telah sejak lama menjadi ajang bentrokan berdarah dan upaya pasukan keamanan negara ini untuk mengantisipasi kekerasan tidak terlalu efektif. Oleh karena itu komando militer Pakistan di Karachi menekankan bahwa tentara negara ini akan mengerahkan kapasitasnya untuk mewujudkan keamanan dan stabilitas di kota ini. Menurut para pengamat politik, selain aktivitas kelompok-kelompok teroris, militan yang berafiliasi dengan berbagai kelompok politik juga beraksi di negara bagian Sind, khususnya di kota Karachi. Oleh karena itu, kekerasan berdarah di kota ini dapat dipilah-pilah dalam kategori kriminal, pemerasan, balas dendam, sektarian dan perlawanan terhadap pemerintah.  
Menenangkan kondisi keamanan di kota Karachi, menjadi PR yang sangat sulit bagi pemerintah Islamabad. Karena banyak aksi kekerasan di kota itu yang dilakukan oleh militan yang berafiliasi dengan partai-partai politik, tidak mudah untuk tiberantas.
Pasca operasi militer Pakistan di Waziristan Selatan dan Utara, banyak anasir Taliban yang terpencar ke berbagai wilayah Pakistan termasuk Peshawar di negara bagian Khyber Pakhtunkhwa dan Karachi di negara bagian Sindh, kembali membangun kekuatan. Kondisi ini menciptakan kerjasama anasir-anasir Taliban dengan kelompok-kelompok teroris dan kriminal. Sedemikian rupa sehingga sekarang kelompok-kelompok Taliban telah berubah menjadi organisasi teroris utama di Pakistan yang bertanggung jawab melancarkan berbagai serangan. Sementara di sisi lain, seluruh upaya pemerintah Pakistan untuk mewujudkan keamanan di negara bagian Sindh  Pakistan hingga kini tidak membuahkan hasil. Padahal Karachi adalah kota pusat perdagangan Pakistan dan segala bentuk instabilitas di kota tersebut akan berdampak negatif pada politik perdagangan dan investasi pemerintah Islambad.
Para pengamat politik berpendapat, masyarakat khususnya kalangan pengusaha dan industriawan di negara bagian Sindh, berharap pemerintah federal dan negara bagian dapat menunjukkan sikap tegas kepada para perusak dan elemen-elemen teror guna memulihkan stabilitas.
Kunjungan PM dan Panglima Militer Pakistan ke Karachi bertepatan dengan pembahasan kondisi keamanan kota pelabuhan itu, merefleksikan kekhawatiran mendalam partai berkuasa Liga Muslim dalam mengendalikan kondisi keamanan di Karachi.
Lawatan Blair dan Tragedi Gaza
Jalur Gaza di ambang tragedi kemanusiaan baru seiring ancaman rezim Zionis  akan melancarkan agresi militer menyerang Gaza. Ancaman rezim Zionis tersebut mengemuka bersamaan dengan semakin dekatnya pemilu Israel. Tidak menutup kemungkinan, Perdana Menteri rezim Zionis, Benyamin Netanyahu akan kembali menumpahkan darah di Jalur Gaza dengan petualangan baru demi kepentingan politiknya. Dijadwalkan, pemilu dini Knesset akan digelar pada 17 Maret 2015 mendatang.
Kondisi mengkhawatirkan di Jalur Gaza saat ini, dan ancaman terbaru agresi militer rezim Zionis terhadap wilayah Palestina menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk pendukung Israel. Terkait hal ini, Tony Blair, sebagai utusan Komisi Segi Empat Perdamaian Timur Tengah dalam lawatannya ke Jalur Gaza mengkhawatirkan kondisi wilayah yang diblokade Israel itu. Mantan perdana menteri Inggris dalam kunjungannya juga memperingatkan kemungkinan terjadinya tragedi berdarah baru di wilayah Palestina tersebut.
Setelah perang 50 hari di Jalur Gaza, PBB berupaya untuk mendorong rekonstruksi infrastruktur yang rusak dengan memasok kebutuhan pokok, termasuk bahan material bangunan. Tapi, militer rezim Zionis senantiasa menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Dalam kondisi demikian, Barat justru menawarkan upaya klise menghidupkan perundingan damai antara Palestina dan Israel yang berakhir tanpa hasil.
Blair selama bertahun-tahun semenjak menjabat sebagai perdana menteri Inggris hingga kini menjadi pendukung Israel. Kini, utusan Komisi Segi Empat Perdamaian Timur Tengah mengungkapkan ancaman terjadinya tragedi baru  Jalur Gaza, dan publik dunia tidak memiliki opsi selain menghadapinya. Blair mengatakan,20 tahun berlalu setelah perjanjian Oslo antara Israel dan Palestina, bangsa Palestina saat ini membutuhkan rekonstruksi dan perdamaian di  Jalur Gaza.
Pencabutan blokade merupakan tuntutan utama publik dunia untuk menyelamatkan Jalur Gaza. Tapi, alih-alih mempertimbangkan seruan publik dunia tersebut, rezim Zionis justru menabuh genderang perang baru dan melanjutkan blokade terhadap warga Palestina.
Agresi militer rezim Zionis terhadap Jalur Gaza pada Juli 2014 lalu menyebabkan lebih dari 2.300 orang warga Palestina gugur syahid. Selain itu, 11.000 orang cidera, dan Gaza membutuhkan miliaran dolar untuk rekonstruksi. Saat ini makanan, obat-obatan, bahan bakar serta bahan material bangunan menjadi kebutuhan utama di Jalur Gaza. Tapi, militer Israel menghalangi masuknya berbagai kebutuhan pokok, dan kondisi wilayah tersebut diambang tragedi kemanusiaan.
PBB mengakui tidak berdaya mengatasi krisis yang menimpa Jalur Gaza. UNRWA baru-baru ini menyatakan menghentikan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina di Jalur Gaza dengan alasan keterbatasan dana. Sejatinya, lawatan Tony Blair ke Jalur Gaza hanya omong kosong semata yang tidak dipandang serius, bahkan oleh warga Palestina sendiri.(
Israel Akui Kalah dari Hamas
Sebuah markas penelitian rezim Zionis Israel mengakui kemenangan Gerakan Muqawama Islam Palestina (Hamas) dalam agresi 50 hari Israel ke Jalur Gaza.
Kantor berita ISNA melaporkan, pusat riset keamanan nasional rezim Zionis bersamaan dengan pelaksanaan sidang soal kemungkinan perang baru melawan Hamas, dalam sebuah jajak pendapat menyatakan bahwa 54 persen warga Israel mengakui kemenangan Hamas dalam agresi terbaru Israel ke Gaza.
Berdasarkan jajak pendapat tersebut, 54 persen warga Israel menolak klaim pemerintah PM Zionis, Benjamin Netanyahu, dan menteri perangnya yaitu Moshe Yaalon soal kekalahan Hamas dan keluarnya  Israel dari krisis mengingat muncul banyak laporan tentang penyusunan kekuatan militer baru oleh Hamas.
Markas riset keamanan Israel juga menyebutkan, jumlah pihak yang menerima laporan dan klaim pemerintah Israel tentang hasil dari serangan ke Jalur Gaza, setiap hari semakin berkurang.
Dalam serangan 50 hari militer rezim Zionis Israel pada Juli 2014, lebih dari 2.300 warga Palestina gugur syahid dan 11 ribu lainnya terluka. Akan tetapi pada akhirnya, kelompok muqawama Palestina berhasil memaksa pasukan Israel mundur dan menghentikan perang.
ISIS Pindahkan Pasukannya ke Yaman Lewat Jalur Laut
Pemindahan para teroris ISIS ke Yaman melalui jalur laut dan jalur darat di beberapa provinsi Selatan negara itu terus berlanjut.
Surat kabar Al Yaman Al Youm, Selasa (17/2) mengutip pasukan penjaga pantai Yaman menulis, puluhan teroris ISIS tiba di wilayah pantai Ras Al Kalb dengan menaiki dua perahu. Setelah mendarat mereka dipindahkan ke lokasi rahasia.
Mengutip sebuah sumber keamanan, Al Yaman Al Youm mengabarkan, ÔÇ£Beberapa waktu lalu para teroris ISIS diangkut oleh sebuah pesawat Turki ke kota Aden di Selatan Yaman. Akan tetapi karena informasi sampai ke telinga pejabat Yaman dan dilakukannya upaya pencegahan, ISIS terpaksa memindahkan pasukannya ke Yaman lewat laut.
Menurut surat kabar itu, dalam beberapa bulan terakhir, wilayah pantai Provinsi Hadhramaut, Abyan dan Al Hamra di Selatan Yaman menjadi pintu masuknya para teroris ISIS dari Suriah dan Irak.
Surat kabar Yaman itu juga menyebut kembalinya para teroris Yaman ke negaranya adalah untuk menghadapi kelompok Houthi.
Pada bulan Oktober 2014, sayap Al Qaeda Yaman mengumumkan dukungannya atas kelompok teroris ISIS.
Iran-Saudi Butuh Dialog Tegas dan Realistis
Seorang pengamat senior masalah Timur Tengah mengatakan, normalisasi hubungan Iran dan Arab Saudi membutuhkan sebuah dialog tegas, jelas dan realistis dalam rangka kerja sama regional.
Sabah Zanganeh dalam wawancaranya dengan surat kabar Etemad terbitan Tehran, hari ini, Rabu (18/2) menjelaskan bahwa saat ini perubahan khusus tidak terlihat dalam kebijakan luar negeri Saudi pasca naiknya Salman bin Abdulaziz, Raja baru negara itu.
Ia menambahkan, ÔÇ£Meningkatnya krisis di kawasan dan orientasi kelompok-kelompok Takfiri anti-rakyat dan negara kawasan, menambah tekanan bagi Saudi. Oleh karenanya Riyadh akan terpaksa merevisi kebijakan-kebijakannya.ÔÇØ
Pengamat politik Iran itu menilai perubahan di tingkat Kementerian Luar Negeri Saudi menyebabkan penurunan ekstremisme negara ini di arena regional. ÔÇ£Pengawasan Mohammad bin Nayef, Putra Mahkota Saudi atas Kemenlu negara itu akan menciptakan atmosfir yang lebih realistis di lembaga tersebut, dan realisme ini akan merevisi kebijakan luar negeri Saudi,ÔÇØ ujarnya.
Menurut Zanganeh, pengaruh anasir-anasir regional dan transregional telah menghambat proses pemulihan hubungan Tehran-Riyadh. Ia menerangkan, ÔÇ£Ketegangan Iran-Saudi dan kelalaian atas bahaya perang melawan kelompok-kelompok teroris Takfiri di kawasan, pada akhirnya akan menguntungkan rezim Zionis Israel.ÔÇØ
Zanganeh percaya capaian-capaian dari normalisasi hubungan Iran-Saudi adalah persatuan Dunia Islam.
ÔÇ£Normalisasi hubungan ini akan membantu penyelesaian krisis regional,ÔÇØ tandasnya.
Militer Suriah Bersihkan Kota Nabl dan Al Zahra dari Teroris
Militer Suriah berhasil mengusir para teroris dari sekitar wilayah Nabl dan Al Zahra di Rif Utara, Aleppo.
Situs berita Al Ahed, Lebanon (18/2) melaporkan, pasukan pemerintah Suriah, Selasa (17/2) malam setelah terlibat pertempuran hebat melawan anasir-anasir teroris Front Al Nusra di Rif Utara, Aleppo, berhasil memukul mundur para teroris itu dan mematahkan blokade atas wilayah Nabl-Al Zahra.
Dalam operasi militer itu sejumlah banyak teroris dikabarkan tewas. Wilayah Nabl dan Al Zahra sekian lama dikepung oleh para teroris.
Unit-unit lain militer Suriah di front Utara Aleppo meraih sejumlah kemenangan dan melancarkan beberapa operasi baru di wilayah Shihan Al Maamel. Operasi-operasi itu merupakan bagian dari tahap penyempurnaan blokade jalan-jalan di Timur Aleppo yang diduduki kelompok teroris bersenjata.
Para pengamat meyakini, lengkapnya skenario blokade wilayah Timur Aleppo, dalam prakteknya menunjukkan bahwa keberadaan kelompok teroris bersenjata di kota ini berakhir.




























