کمالوندی
Akankah Yaman Terjebak Gejolak Baru?
Di saat menurut rencana Ahad (9/11) anggota kabinet baru Yaman akan disumpah, gerakan Ansarullah dari kelompok Syiah al-Houthi menuntut perubahan susunan kabinet. Kelompok ini menyatakan bahwa susunan kabinet baru Yaman tidak sesuai kesepakatan perdamaian kemitraan nasional.
Ansarullah menilai susunan kabinet baru Yaman ÔÇ£mengecewakanÔÇØ dan orang-orang yang tidak sesuai dengan kriteria dalam kesepakatan perdamaian kemitraan nasional harus disingkrikan.
Anggota kabinet baru Yaman terdiri dari 35 menteri yang tujuh di antaranya warisan dari kabinet sebelumnya. Pemerintah baru usulan Khaled Bahah, Perdana Menteri Yaman, ditolak gerakan Ansharullah karena tidak  sesuai dengan janji-janjinya.  
Hingga musim panas lalu, Ansharullah memimpin gerakan revolusi rakyat melawan penguasa Yaman, dan tampil sebagai pemain penting di kancah politik negara ini. Saat ini,  pasukan yang berafiliasi dengan Ansarullah telah menguasai seluruh wilayah utara dan juga Sanaa, ibukota Yaman.
Selain itu, Ansarullah juga sangat lebih aktif dalam memberantas kelompok teroris al-Qaeda, dibanding dengan militer Yaman. Bahkan dapat dikatakan gerakan Ansarullah yang saat ini bertempur dengan anasir teroris al-Qaeda. Tampaknya Ansarullah atau lebih spesifik lagi kelompok al-Houthi, setelah lama termarginal, kini memiliki posisi penting di Yaman. Posisi yang akan dipertahankan bahkan juga akan dimanfaatkan maksimal untuk mewujudkan tuntutannya, berdasarkan transformasi politik Yaman.
Selama bertahun-tahun, kekuasaan dipegang oleh para anggota Partai Kongres Rakyat Umum (GPC). Partai yang bukan saja berafiliasi dengan diktator terguling Abdullah Saleh, juga dipimpin oleh Abd Rabbuh Mansur Hadi, Presiden Yaman, selaku sekjennya.
Untuk saat ini, meski GPC terlibat dalam pemerintah dan bahkan Abd Rabbuh Mansur Hadi juga dicopot dari jabatannya sebagai sekjen partai ini, akan tetapi tidak diragukan bahwa pengaruhnya tetap mengakar di lembaga-lembaga pemerintahan. Masuknya menteri pemerintahan sebelumnya dalam susunan kabinet baru, menjadi alasan bagi Ansarullah untuk menolak susunan tersebut.
Ansarullah berpendapat bahwa berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani September lalu antara Sanaa dan kelompok ini, pemerintah baru harus mewakili seluruh kelompok politik bukan pemerintah yang didominasi presiden.
Yang pasti, ketidakpercayaan Ansarullah kepada pemerintah berpotensi menciptakan gejolak baru. Ansarullah dan al-Houthi bersikeras menuntut perubahan pemerintah dan kabinet. Jika tidak dipenuhi, maka api kemelut terpantik kembali. Karena Sanaa juga telah menyadari bahwa Ansarullah bukan lagi sebuah kelompok marginal, karena kelompok ini sekarang didukung rakyat yang percaya Ansarullah mampu membawa perubahan bagi negara ini.
 
Gejolak yang baru saja dilalui Yaman, kemungkinan besar akan kembali mendera mengingat sejumlah negara Arab regional khususnya Arab Saudi menekan Presiden Yaman untuk tidak memberikan ruang terlalu banyak kepada kelompok oposisi.(
Di Balik Pertemuan Menlu Jepang dan Cina
Menjelang diselenggarakannya KTT Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik APEC di Beijing, Cina, menlu Jepang dan Cina untuk pertama kalinya sejak dua tahun terakhir bertemu.
Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi Sabtu (8/11) di Beijing menjadi tuan rumah bagi sejawatnya dari Jepang, Fumio Kishida serta berharap Tokyo mempersiapkan peluang bagi pertemuan para pemimpin Jepang dan Cina di sela-sela KTT APEC.
Friksi wilayah dan sejarah penjajahan Jepang di era perang dunia kedua merupakan tensi utama bagi hubungan Tokyo-Beijing. Oleh karena itu, pengamat politik menilai pertemuan menlu Jepang dan Cina serta kemungkinan lawatan perdana menteri Jepang ke Beijing untuk mengikuti KTT APEC sebagai langkah positif dan penting dalam meredam friksi bilateral khususnya terkait sengketa wilayah.
Senkaku dalam bahasa Jepang dan Diaoyu dalam bahasa Cina adalah nama pulai yang disengketakan kepemilikannya oleh Beijing dan Tokyo selama ini dan friksi ini dalam dua bulan terakhir semakin tajam. Jepang dengan membeli pulau ini dari pemiliknya mengklaimnya sebagai bagian wilayahnya dan masalah ini membangkitkan kegeraman Cina.
Dalam pandangan pengamat politik, Beijing dan Tokyo berupaya mengontrol krisis sehingga eskalasit tensi dalam hubungan kedua negara bisa dicegah. Hal ini mengingat hubungan ekonomi, perdagangan dan investasi besar khususnya Jepang di Cina menjadi sangat penting bagi kedua pihak.
Dalam pandangan pemerintah Cina faktor dominan yang mendorong ketegangan dalam hubungan Beijing dengan Tokyo adalah kebijakan intervensi Amerika Serikat di kawasan serta berkuasanya Partai Sayap Kanan Liberal Demokrat serta Perdana Menteri Sinzo Abe di Jepang. Selain itu, kebijakan Tokyo yang anti Beijing semakin agresif dan berlebih lebihan.
Presiden Ameriak Serikat, Barack Obama baru-baru ini menyatakan, kebijakan Washington di Asia adalah mengumpulkan sekutu dan memperkokoh posisi militernya. Di sisi lain, Jepang juga ingin memanfaatkan peluang ini dan di bawah strategi AS, Tokyo berharap mampu memperkuat militernya. Oleh karena itu, Jepang mulai membentu Departemen Pertahanan dan AS dengan menempatkan sistem anti rudalnya di negara ini secara praktis menempatkan Jepang berhadapan langsung dengan Cina.
Namun mengingat Jepang merupakan kekuatan ekonomui dunia dan mengandalkan pendapatannya dari sektor perdagangan serta intevestasi, maka sepenuhkan Tokyo menyadari bahwa bentrokan dengan Cina sama halnya dengan hilangnya pasar menggiurkan Beijing yang memiliki populasi lebih dari 1,2 miliar ini.
Berdasarkan data yang dirilis, Jepang termasuk lima investor terbesar di Cina. Dengan demikian investasi Jepang di Cina mengalami penurunan sebesar 36,8 persen dan mencapai 1,6 miliar dolar. Sengketa politik terkait kepulauan di wilayah timur Laut Cina dibarengi dengan menurunnya minat investor Jepang untuk menanamkan investasinya di Beijing.
Para investor Jepang untuk menunjukkan protesnya dan dukungan mereka terhadap pemerintah Tokyo terhadap Beijing telah mengurangi investasi mereka di Cina. Hal ini juga membuat mereka mengalami kerugian besar. Bagaimana pun juga, pertemuan menlu Jepang dan Cina serte penekankan untuk menyelesaikan friksi yang juga disambut Amerika Serikat dapat menjadi langkah penting untuk mengakhiri tensi dan mempersiapkan peluang yang tepat bagi pertemuan para pemimpin kedua negara di sela-sela KTT APEC.
Muscat, Tuan Rumah Negosiasi Nuklir Iran
Muscat, ibukota Oman pada Ahad (9/11) menjadi tuan rumah pertemuan tripartit Mohammad Javad Zarif, John Kerry dan Catherine Ashton, yang masing-masing Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Menlu Amerika Serikat dan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa dalam perundingan nuklir.
Menjelang pembicaraan tersebut, Zarif dalam wawancara dengan wartawan menyinggung tentang isi perundingan tripartit, Iran, AS dan Uni Eropa di Muscat dan menegaskan bahwa isu-isu yang masih menjadi perselisihan mendasar adalah mengenai volume pengayaan uranium (bukan dasar program pengayaan) dan cara menghapus sanksi.
Menlu Iran mengatakan, meskipun sejumlah proposal yang ditawarkan mengarah pada jalan penyelesaian namun hingga sekarang masih terdapat perselisihan mengenai cara pencabutan sanksi, volume pengayaan uranium dan proses industrialisasinya.
Ketika menyinggung fatwa Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei bahwa tidak ada tempat bagi senjata nuklir di Iran, Zarif menuturkan, jika Barat tidak memiliki tujuan lain dan tidak mengejar tujuan-tujuan politik, maka untuk mencapai solusi yang dapat menjamin bahwa aktivitas nuklir Iran sepenuhnya damai adalah mungkin.
Menurut Menlu Iran, untuk menyelesaikan masalah tersebut, pilihan terbaik bagi Kelompok 5+1 (Rusia, Cina, Inggris, Perancis, Amerika Serikat ditambah Jerman) adalah mencapai solusi berdasarkan negosiasi.
Salah satu isu kunci dalam perundingan sekarang adalah tentang bagaimana cara mencabut embargo terhadap Iran. Sanksi-sanksi itu meliputi sanksi Dewan Keamanan PBB, sanksi Uni Eropa, sanksi Kongres AS dan sanksi yang diberlakukan oleh presiden AS berdasarkan perintah eksekutif presiden. Penghapusan sanksi-sanksi tersebut merupakan isu yang ditegaskan Iran dalam perundingan.
Meski terhadap tanda-tanda positif untuk mencapai kesepakatan, namun hingga sekarang masih ada banyak celah yang tidak dapat diabaikan. Yang pasti, Iran memiliki sebuah prinsip, di mana berdasarkan prinsip tersebut telah digambarkan mengenai garis-garis merah dalam negosiasi nuklir.
Jika pihak-pihak lawan berunding memiliki niat baik untuk mencermati masalah itu maka tentunya tidak akan ada tempat lagi bagi mereka untuk kembali melontarkan klaim-klaim fiktif seperti menuduh Iran menyembunyikan aktivitas nuklirnya berdasarkan istilah "Break Out," dan menciptakan keraguan tentang kemungkinan adanya aktivitas militer dalam program nuklir negara itu.
Klaim-klaim tersebut tidak akan muncul jika Barat bersedia mencermati persoalan, di mana Iran sangat transparan dalam aktivitas nuklirnya yang diawasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan di bawah NPT (Non-Proliferasi Nuklir). Selain itu, tudingan-tudingan tersebut sama sekali tidak didasari oleh argumentasi dan logika, dan bertentangan dengan fakta serta berseberangan dengan upaya untuk membangun kepercayaan.
Mengingat masih terdapat hambatan, maka perundingan kali ini bisa dikatakan telah sampai pada tahap yang sensitif, dan dengan empat alasan, negosiasi di Muscat akan menjadi peluang terbaik untuk mencapai kesepakatan akhir: 
Pertama, tidak ada satu pun dari pihak lawan berunding yang menuntut untuk kembali ke kondisi sebelum kesepakatan Jenewa. Kedua, penerapan diplomasi adalah satu langkah di hadapan satu langkah sehingga perundingan akan bergerak maju dengan seimbang. Ketiga, kedua belah pihak semakin dekat dengan kesepakatan dan suasana yang dominan di Kelompok 5+1 memiliki kecenderungan untuk mencapai kesepakatan, dan bahkan sebenarnya di pihak internal pemerintah AS sendiri ada tanda-tanda pendekatan ini meski ada gangguan dari Kongres. Dan keempat, tercapainya kesepakatan  akan menguntungkan semua pihak.
 
Perundingan nuklir di Muscat sangat penting, sebab negosiasi tersebut sangat dekat dengan tenggat waktu yang telah ditentukan yaitu tanggal 24 November. Hasil pembicaraan tersebut akan dapat menjadi kunci untuk sampai kepada kesepakatan akhir.
Menlu Iran: Soal Nuklir, Masih Ada Perbedaan Asasi antara Tehran-Barat
Menteri Luar Negeri Iran mengatakan, sampai sekarang masalah-masalah mendasar soal jurang pemisah antara pandangan Iran dan Kelompok 5+1 masih perlu diperhatikan.
Mohammad Javad Zarif, Menlu Iran dalam wawancaranya dengan IRIB News (9/11) menjelaskan tentang isi perundingan segitiga Iran, Amerika Serikat dan Uni Eropa di Muscat, Oman. Ia menuturkan, "Masalah-masalah yang sampai sekarang masih menjadi pertentangan adalah tingkat program pengayaan uranium (bukan esensi program pengayaan uranium itu sendiri) dan metode pencabutan sanksi."
Zarif menambahkan, "Terkait pencabutan sanksi dan tingkat program pengayaan uranium serta proses industrialisasi pengayaan uranium, sampai saat ini masih ada beda pandangan, meskipun sebagian usulan yang disampaikan bergerak maju ke arah solusi."
Menurut Menlu Iran, pasca peundingan nuklir Iran dan Kelompok 5+1 di New York, solusi masalah lebih menjadi pusat perhatian ketimbang perbedaan-perbedaan, dan beberapa solusi yanng disampaikan, sudah disepakati oleh kedua belah pihak.
Zarif menegaskan bahwa aktivitas nuklir Iran sepenuhnya damai. "Dengan maksud agar masalah terselesaikan, opsi terbaik bagi Kelompok 5+1 adalah mencapai sebuah solusi berdasarkan perundingan," katanya.
Berdasarkan fatwa Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, senjata nuklir tidak memiliki tempat di Iran. "Jika Barat tidak punya tujuan lain dan tidak mengejar ambisi politik, kemungkinan dicapainya sebuah solusi yang dapat meyakinkan mereka bahwa aktivitas nuklir Iran sepenuhnya damai, masih terbuka," ujar Zarif.
Menlu Iran berharap, Tehran dan Kelompok 5+1 dengan metode-metode teknis yang ada dapat mencapai kata sepakat soal solusi ini.
Krisis Ekonomi di Perancis Memburuk
Pemerintah Sosialis Perancis menghadapi krisis ekonomi yang parah dan tidak mampu untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Surat kabar, Le Figaro, dalam situsnya melaporkan tentang masalah ekonomi Perancis.
Le Figaro menulis, pengangguran adalah salah satu persoalan utama pemerintah Sosialis dan Francois Hollande, Presiden Perancis tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut meski ia telah berjanji dalam kampanye pemilu tahun 2012 lalu.
Berdasarkan laporan Kementerian Tenaga Kerja Perancis, jumlah pengangguran selama 29 bulan pemerintahan Hollande telah meningkat lebih dari 500 ribu orang. Selain itu, hutang Perancis juga meningkat menjadi 158,9 miliar euro.
Le Figaro juga menyinggung menurunnya daya beli warga Perancis selama kepemimpinan Hollande dan pertumbuhan ekonomi 0,5 persen pada tahun 2014.
Surat kabar itu menyebut pemerintah yang berkuasa tidak mampu merealisasikan janji-janjinya untuk mengurangi defisit anggaran tingkat tiga persen hingga tahun depan.
Menurut media-media Perancis, Hollande adalah Presiden Perancis yang paling tidak populer sejak tahun 1958.
Tembakan-tembakan Artileri di Donetsk Meningkat
Tembakan-tembakan artileri yang menghujani kota Donetsk di Ukraina timur meningkat tajam di tengah-tengah gencatan senjata yang telah diberlakukan selama dua bulan lalu.
Menurut laporan, penembakan dimulai di bagian tengah dari kota Donetsk yang bergolak pada pukul 2:00 waktu setempat, Ahad (9/11, dan masih terus berlanjut. Demikian dilansir Press TV.
Kemungkinan jumlah korban dan tingkat kerusakan belum diketahui karena jam malam yang diberlakukan oleh oposisi pro-Rusia di Donetsk dan kota terdekatnya, Makiivka.
Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama diEropa (OSCE)  pada Sabtu menyatakan keprihatinan atas situasi di Ukraina timur setelah para pemantaunya  yang mengawasi jalannya gencatan senjata di Ukraina menyaksikan konvoi-konvoi militer tak bertanda dan angkatan bersenjata di wilayah tersebut.
Seorang perwakilan OSCE melaporkan bahwa lebih dari 40 truk terlihat di jalan raya di pinggiran timur Makiivka. Menurutnya, dari jumlah tersebut, 19 truk adalah truk-truk besar jenis Kamaz, tertutup, dan tanpa tanda pengenal atau nomor pelat, di mana para personel yang berada di kendaraan-kendaraan tersebut berseragam hijau gelap dan tanpa lencana.
Para pemantau OSCE juga mengatakan bahwa mereka telah melihat "konvoi sembilan tank tanpa penanda yang bergerak ke barat" di sebelah barat daya Donetsk.
Laporan itu muncul sehari setelah militer Ukraina mengklaim melihat konvoi besar tank dan persenjataan berat lainnya memasuki negara itu dari perbatasan Rusia.
Sementara itu, Rusia telah berulang kali membantah keterlibatan militernya dalam konflik di Ukraina timur dan menegaskan kembali komitmennya untuk kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani antara Kiev dan oposisi pro-Rusia pada 5 September. Rusia juga menandatangani kesepakatan damai.
Al Baghdadi tidak Ditemukan di antara Korban Luka Al Anbar
Pejabat pemerintah Irak mengabarkan tewasnya dua petinggi senior kelompok ISIS dalam operasi militer atas posisi kelompok teroris itu di Al Anbar, namun menegaskan bahwa Abu Bakr Al Baghadi, Pemimpin ISIS tidak ada di antara para korban luka.
Situs stasiun televisi Alalam (9/11) melaporkan, Sabah Karahout, Ketua Dewan Provinsi Al Anbar mengatakan, "Dalam operasi militer atas posisi ISIS di kota Qaem, Provinsi Al Anbar, 12 anasir teroris tewas dan yang paling mencolok adalah Abou Mohanad Al Sowaidawi, Wali Al Anbar dan Abu Zahra Mohammadi di wilayah Al Furat."  
Di sisi lain, sebuah sumber pemerintah di Provinsi Al Anbar menegaskan, Abu Bakr Al Baghdadi, Pemimpin ISIS tidak terluka dalam operasi terhadap posisi-posisi ISIS di kota Qaem.
Sebelumnya, sumber-sumber media mengabarkan, Al Baghdadi, Pemimpin ISIS terluka dalam operasi militer ini.
Lagi, ISIS Bantai 70 Anggota Suku Albu Nimr Irak
ISIS kembali mengeksekusi mati puluhan anggota suku Albu Nimr di Barat Irak.
Situs stasiun televisi Alalam (9/11) melaporkan, kelompok teroris ISIS membunuh 70 anggota suku Albu Nimr di wilayah Al Jazira, sekitar kota Hit, Barat Provinsi Al Anbar.
Jenazah 70 anggota suku Albu Nimr ini dimasukkan ke dalam satu kuburan massal. Di antara jenazah itu juga terdapat beberapa jenazah aparat keamanan.
Dengan tewasnya 70 orang itu, sampai saat ini ISIS sudah membunuh lebih dari 500 anggota suku Albu Nimr. Sementara itu, 65 anggota suku Albu Nimr yang lain berada dalam sandera ISIS.
Para pengamat meyakini, aksi keji ISIS ini dilakukan untuk menyebarkan ketakutan di antara warga suku Irak sehingga berhenti melakukan perlawanan terhadap kelompok teroris itu.
Ibrahim, Monoteisme, dan Ibadah Kurban
Sosok Nabi Ibrahim diakui semua agama samawi sebagai "Bapak Monoteisme" karena beliau mengumandangkan, "Hai manusia Tuhan yang kamu sembah adalah Tuhan seru sekalian Alam, bukan Tuhan satu ras, bukan Tuhan satu kelompok dan bangsa tertentu."
 
 
Profesor Dr. Quraysh Shihab menyebut Nabi Ibrahim sebagai "Bapak Ketuhanan yang Maha Esa". Jutaan manusia, penganut agama Yahudi, Nasrani, dan Islam mengagungkan sosok Nabi Ibrahim.
 
Jika nabi-nabi sebelumnya mengajarkan kaumnya agar menyembah Allah dengan sebutan "Tuhan Kamu". Akan tetapi, setelah datang Nabi Ibrahim diajarkan bahwa Tuhan yang disembahnya adalah Tuhan seru sekalian alam. Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan semua langit dan bumi (alam raya) QS Al-Anam (6):79).
 
Dosen tetap Mata kuliah Metodologi Studi Islam pada Fakultas Tarbiah dan Ilmu Pendidikan IAIN Sultan Zainal Abidin Syah, Maluku Utara, Dr. H. Muh. Guntur Alting, M.Pd., M.Si. mengatakan bahwa Tuhan yang diperkenalkan oleh Ibrahim bukan Tuhan golongan tertentu, melainkan Allah, Tuhan seru sekalian alam.
 
Tuhan yang dikumandangkan adalah Tuhan Imanen sekaligus transenden, yang dekat kepada manusia, baik pada saat sendirian maupun dalam keramaian, pada saat diam atau bergerak, pada saat tidur atau terjaga, Dia adalah Tuhan seru sekalian alam yakni Tuhan manusia seluruhnya secara universal.
 
Menurut Guntur, melalui surat elektroniknya kepada Antara di Jakarta, Nabi Ibrahim menemukan dan membina keyakinan itu melalui pengalaman pribadi setelah mengamati gejala-gejala alam, seperti adanya bintang, bulan, dan matahari, kemudian pada akhirnya berkesimpulan bahwa bukan patung, bukan pula apa yang ada di bumi, tidak juga benda-benda langit, yang wajar disembah.
 
Semua manusia, dengan risalah Bapak Monoteisme ini, memperoleh martabat kemanusian. Orang kuat, betapa pun kuatnya. Demikian pula orang lemah, betapa pun lemahnya adalah sama di hadapan Allah SWT. Demikianlah Nabi Ibrahim menemukan tauhid. Sampai kini, cukup banyak penemuan manusia. Namun, penemuan Nabi Ibrahim merupakan penemuan manusia yang terbesar. Betapa tidak? Bukankah dengan mengenal Allah Tuhan yang Maha Esa, manusia dapat mengenal jati dirinya serta mengenal dan mengatur hubungannya dengan alam sekitarnya.
 
Penemuan Nabi Ibrahim tentang tauhid tidak dapat dibandingkan dengan penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom, betapa pun besarnya pengaruh dan sumbangsi penemuan-penemuan tersebut bagi kehidupan kemanusian saat ini. Akan tetapi, masih kecil jika dibandingkan dengan penemuan Ibrahim.
 
Kenapa? Sebab, semua penemuan tersebut tunduk dan dikuasai oleh manusia, sedangkan penemuan Nabi Ibrahim tentang tauhid itu menguasai jiwa dan raga manusia. Penemuan Nabi Ibrahim menjadikan manusia yang tadinya tunduk kepada alam, menjadi mampu mengatur alam. Demikian ditulis pemikir Muslim Mesir Abbas Al-Aqqad.
 
Jalan Persimpangan
 
Nabi Ibrahim, yang hidup abad 18 SM, menurut Drs. H. Abdul Halim Sholeh, M.M. pada khotbah Jumat di Masjid Istiqlal (3/10/2014) berada pada masa persimpangan jalan pemikiran manusia tentang kurban-kurban manusia untuk dipersembahkan kepada dewa-dewa dan tuhan-tuhan mereka.
 
Sementara perintah Allah kepada Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya (Ismail) adalah untuk menguji wujud ketaatan beliau terhadap perintah Allah sesuai bunyi ayat, yang artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah bagaimana pendapatmu." Ismail menjawab, "Wahai ayahanda, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."
 
"Ketika Nabi Ibrahim menerima wahyu melalui mimpi agar menyembelih putranya Ismail. Perasaannya hendak menyangkal, ini bukan wahyu, ini bisikan iblis. Maklum, ayah mana yang tidak memberontak menerima perintah sekejam itu, padahal beliau baru sehari berkumpul dengan darah dagingnya setelah sebelas tahun berpisah," kata Guntur.
 
Akan tetapi, nalar Ibrahim tergugah tatkala Ismail, putra kesayangannya itu, dengan tabah menjawab, "Ayah, laksanakan perintah Tuhan itu, mudah-mudahan akan Ayah saksikan nanti, putramu ini tergolong hamba-Nya yang bersabar."
 
Mengalir deras dalam benak Ibrahim, betapa anak sekecil itu mampu menyerap makna hakiki yang terkandung dalam perintah tersebut bahwa Tuhanlah yang menciptakan hidup, dan Tuhan pula yang berhak mencabutnya, terlepas apakah manusia suka atau tidak suka. Dapatkah ia menampik maut apabila sewaktu-waktu-waktu maut itu datang merenggut? Jangankan nyawa sang anak, nyawa sendiri pun da taksanggup mempertahankannya.
 
Apalagi sesudah Siti Hajar sang istri, dengan bijak berkata, "Kalau itu perintah Tuhan, saya rela melepas kepergian Ismail. Saya akan berusaha untuk ikhlas dan tawakal dalam menerima keputusan-Nya. Saya yakin, di balik perintah itu, Tuhan menyediakan kehormatan dan kemuliaan bagi kita. Bukankah janji-Nya selalu berkumandang bahwa Ia akan mengganjar orang-orang yang sabar dengan ampunan dan surga yang dijanjikan?"
 
Maka, ketika di puncak Jabal Qurban, Ibrahim meletakkan goloknya ke leher Ismail, yang terbersit di hatinya hanya sebuah ikrar. "Tuhan, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah semata-mata untuk-Mu".
 
Cahaya golok itu berkelebat tertimpa cahaya matahari pagi manakala sebuah suara gaib bergema dari langit. "Hai Ibrahim, engkau telah mematuhi perintah-Ku walaupun terasa berat dalam perasaanmu. Engkau akan Kuganjar dengan penyembelihan agung sebagai kehormatan dari arasy-Ku". Mata Ibrahim terpejam sekejap karena golok telah menyambar sang korban. Terdengar sesosok benda-benda berat berdebam ke tanah. Ia menyangka Ismail telah terpenggal lehernya.
 
Namun, betapa lega perasaannya ketika ia membuka mata yang tergeletak di bumi berlumur darah bukan anaknya, melainkan seekor domba berbulu putih. Sementara itu, Ismail berdiri tegar seraya berseru, "Allahu Maha Besar, Allahu Maha Besar." Ibrahim pun menjawab, "Segala puji bagi Allah Yang Mahabesar."
 
Sejatinya, kata Abdul Halim, perintah Allah kepada Nabi Ibrahim AS agar menyembelih putranya sendiri sebagai wujud kualitas ketakwaan dan kesabaran yang ditunjukkan kedua hamba Allah tersebut. Dan, juga sebagai isyarat betapa pun besarnya cinta seseorang kepada sesuatu yang dimilikinya bukanlah sesuatu yang berarti jika Allah menghendakinya.
 
Disebut dari kisah Nabi Ibrahim tersebut bahwa akhirnya Allah memberi pengganti seekor domba yang harus disembelih sebagai bukti keberhasilan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam melaksanakan perintah dan ujian yang amat berat.
 
Kurban yang disyariatkan oleh agama dimaksudkan mengingatkan manusia bahwa jalan menuju kebahagian membutuhkan pengorbanan. Akan tetapi, yang dikurbankan bukan manusia, bukan pula nilai-nilai kemanusian, melainkan binatang sebagai pertanda bahwa pengurbanan harus ditunaikan. Dan, yang dikurbankan adalah sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia itu sendiri, yakni rakus, ingin menang sendiri, serta mengabaikan norma dan nilai.
 
Ada beberapa pesan-pesan moral Idul Adha yang dapat dipetik, baik berdimensi spiritual, emosional, maupun sosial yang seharusnya dapat dihayati dan dijabarkan di dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, terutama untuk kepentingan peningkatan kualitas diri.
Habib bin Mazahir Ajak Kabilah Bani Asad Bantu Imam Husein
Umar bin Saad memperoleh sebuah surat dari Ubaidullah yang isinya demikian, "Aku tidak begitu saja menyerahkan pasukan berkuda dan pasukan berjalan kepadamu. Perhatikanlah bahwa aku memberikan tugas untuk melaporkan keadaan di sini setiap hari kepadaku."
Habib bin Mazhahir pada tanggal 6 Muharram 61 Hq meminta izin kepada Imam Husein as untuk mendekati kabilah Bani Asad yang hidup di dekat daerah itu dan mengajak mereka untuk bergabung. Beliau mengizinkan. Habib kemudian mendatangi mereka dan berkata, "Ikutilah perintahku hari ini dan bergegaslah untuk membantu Husein supaya kalian berada dalam kemuliaan dunia dan akhirat."
Sejumlah sembilan puluh orang bangkit dan bergerak menuju Karbala. Akan tetapi, di pertengahan jalan mereka bertemu dengan pasukan Umar bin Saad. Karena tidak memiliki pertahanan yang kuat, akhirnya mereka terpencar dan kembali ke rumah masing-masing.
Habib mendatangi Imam Husein as dan menceritakan peristiwa ini. Beliau hanya berkata, "Laa haula wa laa quwwata illa billah."
Surat Imam Husein as dari Karbala kepada saudaranya Muhammad bin Hanafiyah dan Bani Hasyim, "Seakan dunia sama sekali tak pernah ada (dan demikian inilah dunia yang berkesudahan tanpa arti), sementara akhirat adalah senantiasa."




























