کمالوندی

کمالوندی

"Palestina adalah milik orang-orang Palestina dan harus diatur oleh kehendak mereka sendiri. Prakarsa referendum yang melibatkan semua agama dan etnis Palestina, yang telah kami sampaikan hampir dua dekade lalu adalah satu-satunya kesimpulan yang perlu diambil untuk menghadapi tantangan Palestina saat ini dan esok."

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahirabbil 'Aalamin wa Shallallahu 'ala Muhammad wa Aalihi at-Thahirin wa Shahbihi al-Muntajabin wa Man Tabiahum Biihsanin ila Yaumiddin

Saya menghaturkan salam kepada saudara-saudari Muslim di seluruh penjuru dunia, dan sebelumnya saya juga mengucapkan selamat menjelang datangnya Hari Raya Idul Fitri 1441H. Semoga Allah Swt menerima ibadah dan ketaatan kita semua di bulan Ramadhan yang penuh berkah, dan kita bersyukur kepada-Nya atas segala karunia dan berkah jamuan Ilahi di bulan suci ini.

Hari ini adalah Hari Quds, hari yang ditetapkan atas inisiatif cerdas Imam Khomeini sebagai rantai penghubung solidaritas umat Islam mengenai al-Quds Sharif dan Palestina yang tertindas. Hari Quds selama beberapa dekade telah berperan penting dalam hal ini dan setelahnya yang akan terus berlanjut, Insya Allah.

Bangsa-bangsa dunia menyambut Hari Quds dan mereka memperingatinya sebagai tanggung jawab perdana, yaitu mengibarkan bendera kebebasan Palestina. Kebijakan utama kekuatan arogan dan Zionisme adalah melunturkan isu Palestina dari benak masyarakat Muslim sehingga isu ini terlupakan. Oleh karena itu, tugas yang paling mendesak saat ini adalah memerangi pengkhianatan yang dilakukan oleh antek-antek bayaran musuh dalam bidang politik dan budaya di negara-negara Muslim sendiri.

Faktanya, isu sebesar masalah Palestina bukanlah sesuatu yang mengizinkan harga diri, rasa percaya diri, dan kewaspadaan yang semakin besar dari bangsa-bangsa Muslim untuk melupakan isu ini, meskipun Amerika Serikat dan kekuatan hegemonik lainnya serta antek-antek mereka di kawasan menggelontorkan seluruh uangnya dan mengerahkan segenap kemampuannya supaya isu Palestina terlupakan.

Poin pertama mengenai tragedi besar penjarahan negara Palestina dan pembentukan "tumor ganas" rezim Zionis. Di antara kejahatan kemanusiaan pada masa-masa yang dekat dengan periode sekarang tidak ada kejahatan apapun sebesar kejahatan yang dilakukan Zionis. Penjarahan sebuah negara dan pengusiran penghuninya dari rumah dan tanah mereka untuk selamanya, dengan melakukan pembunuhan dan kejahatan yang paling kejam serta penghancuran yang terus berlanjut beberapa generasi selama puluhan tahun, jelas merupakan catatan baru kejahatan kemanusiaan.

Penyebab dan pelaku utama tragedi ini adalah pemerintah-pemerintah Barat dan kebijakan jahat mereka. Ketika negara-negara pemenang Perang Dunia I membagi kawasan Asia Barat ــyaitu kawasan Asia Kekaisaran Ottomanــ sebagai pampasan perang penting di antara mereka pada Konferensi Paris, mereka telah merasa membutuhkan adanya pangkalan yang aman di jantung kawasan ini guna menjamin dominasi mereka yang berkelanjutan.

Inggris sejak bertahun-tahun lalu telah mempersiapkan landasan pacu melalui prakarsa Deklarasi Balfour dengan menggandeng para pemimpin Yahudi arogan, untuk mewujudkan sebuah plot sesat bernama "Zionisme". Kini pijakan praktisnya sudah terbentang. Dari tahun-tahun itu, mereka secara bertahap menyatukan persiapan, dan akhirnya setelah Perang Dunia II, mereka melancarkan pukulannya dengan mengambil keuntungan dari kelalaian dan masalah yang dihadapi negara-negara kawasan dengan mendeklarasikan rezim palsu dan pemerintah tanpa rakyat, rezim Zionis.

Target pukulan ini pertama-tama adalah bangsa Palestina dan kemudian semua bangsa di kawasan. Dengan melihat peristiwa-peristiwa berikutnya di kawasan menunjukkan bahwa tujuan utama dan target cepat Barat dan korporasi Yahudi dari pendirian negara Zionis adalah membangun pangkalan dan menacapkan pengaruh permanen mereka di Asia Barat serta akses yang memungkinkan untuk campur tangan dan  mendominasi negara-negara di kawasan.

Untuk itu, mereka melengkapi rezim palsu dan perampas (rezim Zionis Israel) dengan segala macam fasilitas yang kuat, militer dan non-militer, bahkan senjata nuklir, dan memasukkan pertumbuhan "tumor kanker ganas" ini dari Nil hingga Eufrat dalam agenda mereka.

Sayangnya, sebagian besar pemerintah Arab secara bertahap menyerah setelah perlawanan pertama mereka, yang beberapa (perlawanan itu) di antaranya sangat mengagumkan. Apalagi setelah kedatangan Amerika Serikat sebagai penjaga kepentingan ini, mereka telah melupakan tugas-tugas kemanusiaan, Islam, dan politik, serta semangat dan kebanggaan Arab-nya; dan dengan harapan palsu, mereka justru membantu musuh mewujudkan tujuannya, di mana perjanjian Camp David adalah contoh nyata dari fakta pahit tersebut.

Kelompok-kelompok pejuang, setelah melakukan beberapa perjuangan yang penuh perngorbanan pada tahun-tahun pertama, mereka secara bertahap juga terseret ke dalam negosiasi tanpa hasil dengan penjajah dan para pendukungnya, dan meninggalkan garis perjuangan yang mengarah pada realisasi cita-cita Palestina.

Bernegosiasi dengan Amerika Serikat dan pemerintah-pemerintah Barat lainnya serta badan-badan Internasional yang tak berguna adalah pengalaman pahit dan gagal bagi Palestina. Menunjukkan "Cabang Zaitun" di Majelis Umum PBB tidak memiliki hasil apapun, kecuali Perjanjian Oslo yang merugikan, dan pada akhirnya berakhir dengan nasib Yasser Arafat, yang membawa banyak pelajaran.

Bangkitnya Revolusi Islam di Iran membuka babak baru dalam perjuangan Palestina. Salah satu langkah pertama adalah mengusir elemen-elemen Zionis, di mana Iran pada era taghut merupakan salah satu pangkalan paling aman mereka. Penyerahan kedutaan tidak resmi rezim Zionis kepada wakil Palestina dan penghentian pasokan minyak hingga pekerjaan-pekerjaan besar serta aktivitas politik yang luas, semua ini menyebabkan munculnya "Front Muqawama" (Front Perlawanan) di seluruh kawasan. Akhirnya, harapan untuk memecahkan masalah tumbuh dan berkembang di hati mereka.

Dengan munculnya Front Muqawama, ruang gerak rezim Zionis menjadi sulit dan semakin sulit, dan tentu saja akan jauh lebih sulit di masa depan, Insya Allah. Tetapi upaya para pendukung rezim ini, yang dipimpin oleh Amerika Serikat untuk membela dan mempertahankannya juga semakin meningkat.

Munculnya pasukan Mukmin, muda dan penuh pengorbanan seperti Hizbullah di Lebanon dan pembentukan kelompok-kelompok penuh motivasi seperti Hamas dan Jihad Islam di dalam perbatasan-perbatasan Palestina tidak hanya membuat khawatir para pemimpin Zionis, tetapi juga membuat cemas Amerika Serikat dan Barat. Mereka kemudian memprioritaskan upaya untuk meraih dukungan dari dalam kawasan, terutama komunitas Arab dalam agendanya setelah  memberikan dukungan perangkat keras dan lunak kepada rezim agresor Zionis. Buah kerja keras mereka hari ini terlihat jelas dalam perilaku dan ucapan beberapa pemimpin negara-negara Arab dan sejumlah aktivis politik dan budaya Arab yang berkhianat.

Kini berbagai kegiatan dilakukan kedua kubu di medan perang, namun terdapat perbedaan. Front Muqawama bergerak ke arah peningkatan ketangguhan dan optimismenya, juga menyerap unsur-unsur kekuatan yang semakin tumbuh. Tapi sebaliknya, Front lalim, kafir dan arogan kian hari semakin lemah dan putus asa. Indikasi yang jelas dari klaim ini adalah kondisi militer Zionis, yang pernah dianggap sebagai pasukan tak terkalahkan dan mampu menghentikan pasukan besar dua negara penyerang hanya dalam beberapa hari, kini terpaksa harus mundur dan mengakui kekalahannya ketika menghadapi pasukan pejuang rakyat di Lebanon dan Jalur Gaza.

Meskipun demikian, perjuangan penting dan dinamis ini membutuhkan perawatan konsisten, karena subjek perjuangan ini sangat penting, menentukan, dan vital. Oleh karena itu, setiap kelalaian dan kesalahan dalam kalkulasi dasar akan menimbulkan kerugian besar.

Berdasarkan pertimbangan ini, saya akan menyampaikan poin-poin penting kepada semua orang yang mendukung perjuangan Palestina.

Pertama, perjuangan untuk pembebasan Palestina adalah jihad di jalan Allah dan kewajiban dalam Islam. Kemenangan dalam perjuangan ini dijamin, karena jikapun gugur, akan meraih tempat terbaik dan mulia.

Selain itu, masalah Palestina adalah masalah kemanusiaan. Pengusiran terhadap jutaan orang dari rumah mereka, lahan pertanian dan tempat tinggal serta mata pencahariannya yang dilakukan dengan pembunuhan dan kejahatan, pasti akan menyakiti setiap hati nurani manusia; dan siapapun yang memiliki keberanian pasti akan menghadapinya. Oleh karena itu, membatasi masalah ini hanya pada isu Palestina semata, ataupun masalah Arab tentu saja merupakan kesalahan besar.

Mereka yang menganggap langkah kompromis beberapa elemen Palestina atau para penguasa sejumlah negara Arab dengan rezim Zionis sebagai legitimasi untuk mengabaikan masalah Islam dan kemanusiaan ini jelas sangat keliru dalam memahami masalah tersebut, dan termasuk pengkhianatan dengan mendistorsi persoalannya.

Kedua, tujuan dari perjuangan ini adalah pembebasan seluruh wilayah Palestina dari laut ke sungai, dan kembalinya semua warga Palestina ke tanah air mereka. Mereduksi masalah ini melalui pembentukan pemerintahan di sudut wilayah ini yang dilakukan dengan cara memalukan, sebagaimana dimaksud dalam literatur Zionis yang kasar, jelas sekali bukanlah tanda kebenaran maupun tindakan yang realistis.

Faktanya, kini jutaan orang Palestina telah mencapai tingkat kematangan pemikiran dan pengalaman serta kepercayaan diri yang menjadikan jihad besar sebagai spiritnya untuk meraih kemenangan akhir dengan bersandar pada pertolongan ilahi, sebagaimana ditegaskan dalam ayat al-Quran,

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّـهُ مَن يَنصُرُهُ  إِنَّ اللَّـهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,".

Ketiga, meskipun diizinkan untuk mengambil keuntungan dari segala cara yang sah dan halal dalam perjuangan ini, termasuk meraih dukungan global, tapi kita harus menghindari untuk menggantungkan harapan secara lahir maupun batin dengan mempercayai negara-negara Barat maupun komunitas dunia afiliasinya.

Mereka memusuhi eksistensi Islam yang berpengaruh, mereka mengabaikan hak-hak manusia dan bangsa-bangsa, mereka sendiri telah menyebabkan kerusakan dan kejahatan terbesar bagi umat Islam; kini lembaga global ataupun kekuatan kriminal mana yang saat ini bertanggung jawab atas terjadinya pembunuhan, pembantaian, perang, pemboman dan kelaparan buatan di sejumlah negara Muslim dan Arab?

Kini, publik dunia terus menghitung jumlah korban virus Corona satu persatu di seluruh penjuru dunia, tetapi tidak ada yang pernah bertanya siapa yang bertanggung jawab atas jatuhnya korban ratusan ribu martir dan tawanan di negara-negara tempat Amerika Serikat dan Eropa mengobarkan api perang. Siapa yang bertanggung jawab atas semua pertumpahan darah di Afghanistan, Yaman, Libya, Irak, Suriah, dan negara-negara lainnya? Siapa yang bertanggung jawab atas semua kejahatan, perampasan, penghancuran, dan penindasan di Palestina?

Mengapa tidak ada yang menghitung jutaan anak-anak yang tertindas, wanita dan pria di dunia Islam? Mengapa tidak ada yang menyampaikan belasungkawa atas pembantaian terhadap umat Islam? Mengapa jutaan orang Palestina harus hidup di dalam pengasingan selama tujuh puluh tahun jauh dari rumah mereka sendiri? Mengapa Quds Sharif, kiblat pertama umat Islam dihina dan dinistakan? Lalu apa fungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tidak menunaikan tugasnya. Demikian juga dengan lembaga hak asasi manusia yang sudah mati. Tampaknya, slogan "Membela hak-hak anak-anak dan perempuan" tidak termasuk anak-anak dan perempuan yang tertindas di Yaman dan Palestina.

Inilah kondisi ketika kekuatan Barat yang menindas dan komunitas afiliasinya berkuasa di dunia. Beberapa pemerintahan pengekor mereka di kawasan aibnya terbuka dengan kondisi yang lebih buruk lagi. Oleh karena itu, masyarakat yang bersemangat dan religius tertentu harus mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, dengan menyingsingkan lengan baju bersama ketawakalan dan keimanan kepada Allah swt untuk menghadapi rintangan yang menghadang.

Keempat, poin penting yang tidak boleh diabaikan oleh elit politik dan militer dunia Islam adalah kebijakan Amerika Serikat dan Zionis dalam mentransfer konflik ke belakang front perlawanan. Pecahnya perang saudara di Suriah, pengepungan militer, pembunuhan sehari-hari di Yaman, pembantaian, penghancuran dan pembentukan kelompok teroris Daesh di Irak, dan kasus-kasus serupa di beberapa negara lain di kawasan; semua itu plot untuk mengalihkan perhatian front perlawanan dan memberi peluang untuk bernafas kepada rezim Zionis.

Beberapa politisi di negara-negara Muslim tidak tahu apa-apa, bahkan ada yang mengamini tipuan musuh. Cara untuk mencegah hal ini adalah gerakan serius dari para pemuda aktif di dunia Islam. Orang-orang muda di semua negara Muslim, terutama di dunia Arab, tidak boleh mengabaikan nasihat Imam Khomeini, yang mengatakan, "Apapun yang Anda teriakan lantang tentang [perlawanan terhadap] Amerika Serikat, dan tentu saja Zionisme."

Kelima, kebijakan menormalkan kehadiran rezim Zionis di kawasan merupakan salah satu dari kebijakan utama Amerika Serikat. Beberapa negara Arab di kawasan – yang berperan sebagai antek-antek AS – menyiapkan prasarana yang diperlukan termasuk hubungan ekonomi dan sejenisnya. Berbagai upaya ini secara total akan gagal dan tidak membuahkan hasil.

Rezim Zionis adalah penumpang gelap yang membawa kehancuran dan kerugian besar bagi kawasan, dan secara pasti akan tercerabut dan binasa. Rasa malu dan kehinaan akan menjadi milik orang-orang yang menyerahkan sarananya untuk mengabdi kepada kebijakan arogan tersebut.

Beberapa pihak yang berupaya menjustifikasi perilaku buruk ini berpendapat bahwa rezim Zionis adalah sebuah realitas di kawasan, tanpa mengingat lagi bahwa kenyataan yang membawa kehancuran dan kerugian harus diperangi dan dibinasakan.

Hari ini, virus Corona adalah sebuah kenyataan dan semua manusia yang cerdas menganggapnya wajib untuk memerangi virus ini. Virus Zionis yang sudah lama bercokol tentu tidak akan bertahan lama dan berkat kerja keras, iman, dan keberanian kaum muda, akan tercerabut.

Keenam, anjuran utama saya adalah merekomendasikan berlanjutnya perlawanan dan mengoordinasikan lembaga-lembaga jihad, kerja sama di antara mereka, serta memperluas medan jihad di dalam wilayah Palestina.

Setiap orang harus membantu rakyat Palestina dalam jihad suci ini. Setiap individu harus mengisi kepalan tangan pejuang Palestina dan memperkuat punggungnya. Kami dengan bangga akan melakukan ini dengan segenap kemampuan.

Hasil identifikasi kami adalah bahwa pejuang Palestina memiliki agama, semangat, dan keberanian, dan satu-satunya kendala mereka adalah tidak memiliki senjata. Kami telah menyusun rencana dengan petunjuk dan pertolongan Tuhan, dan hasilnya adalah perimbangan kekuatan di Palestina telah berubah dan hari ini Gaza dapat bertahan terhadap agresi militer musuh Zionis dan dapat mencapai kemenangan.

Perubahan perimbangan ini di bagian yang disebut wilayah pendudukan, akan membawa masalah Palestina lebih dekat ke langkah-langkah final. Pemerintah Otorita Ramallah memiliki tugas besar dalam hal ini.

Kita tidak dapat berbicara dengan musuh yang buas, kecuali dengan kekuatan dan dengan posisi yang kuat, dan benih-benih kekuatan ini – segala puji bagi Allah – sudah siap di tengah bangsa berani dan tangguh Palestina.

Para pemuda Palestina sekarang haus untuk mempertahankan martabatnya. Hamas dan Jihad Islam di Palestina serta Hizbullah di Lebanon telah menyempurnakan argumentasi kepada semua.

Dunia belum lupa dan tidak akan pernah melupakan hari ketika tentara Zionis melanggar perbatasan Lebanon dan bergerak ke Beirut, dan hari ketika seorang pembunuh kriminal bernama Ariel Sharon melakukan pertumpahan darah di Sabra dan Shatila.

Dunia juga belum lupa dan tidak akan pernah melupakan hari ketika tentara yang sama berada di bawah pukulan keras Hizbullah, sehingga tidak punya jalan lain kecuali mundur dari perbatasan Lebanon dengan menanggung kerugian besar dan mengakui kekalahan, dan memohon gencatan senjata. Inilah yang dimaksud dengan tangan penuh dan posisi kuat.

Sekarang saksikanlah beberapa pemerintah Eropa – yang seharusnya malu selamanya karena menjual bahan kimia ke rezim Saddam – menganggap Hizbullah, pejuang yang membanggakan sebagai ilegal.

Yang disebut ilegal adalah sebuah rezim seperti Amerika yang menciptakan Daesh, dan rezim seperti pemerintah Eropa yang membunuh ribuan orang di kota Baneh, Iran dan Halabja, Irak, karena bahan-bahan kimia mereka.

Ketujuh, Palestina adalah milik orang-orang Palestina dan harus diatur oleh kehendak mereka sendiri. Prakarsa referendum yang melibatkan semua agama dan etnis Palestina, yang telah kami sampaikan hampir dua dekade lalu adalah satu-satunya kesimpulan yang perlu diambil untuk menghadapi tantangan Palestina saat ini dan esok.

Prakarsa ini menunjukkan bahwa klaim anti-Semit yang ditiupkan orang-orang Barat dengan terompet mereka sama sekali tidak berdasar. Sesuai rencana ini, orang-orang Palestina, baik Yahudi, Kristen, maupun Muslim bersama-sama mengikuti referendum untuk menentukan sistem politik negara Palestina. Pastinya, yang harus sirna adalah sistem Zionis, dan Zionisme itu sendiri merupakan bidah dalam Yudaisme, yang benar-benar asing bagi mereka sendiri.

Sebagai penutup, saya mengajak untuk mengenang perjuangan syuhada Quds dari Sheikh Ahmad Yassin, Fathi Shaghaghi dan Sayid Abbas Mousavi hingga komandan agung Islam dan wajah tak terlupakan dari front perlawanan, Syahid Soleimani dan mujahid besar Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, dan syuhada lainnya, juga salam kepada Imam Khomeini, yang telah membukakan jalan kemuliaan dan jihad di hadapan kita. Selain itu, saya juga memohon rahmat ilahi untuk saudara almarhum Mujahid Hossein Sheikh al-Islam yang berjuang di jalan ini selama bertahun-tahun.

Wassalamualaikum Warahmatullah

Jumat, 15 Mei 2020 14:10

Filosofi Hukum dalam Islam (22)

 

Sesuai dengan bimbingan manusia pilihan Allah, kemungkinan malam 23 bulan suci Ramadhan sebagai Lailatul Qadr lebih dari malam-malam lainnya.

Malam Lailatul Qadr bukan untuk tidak tidur, tetapi untuk bangun agar kita dapat memiliki wawasan dan kesadaran berdasarkan peta jalan dan rencana pemberian hidup yang telah ditarik al-Quran untuk kita. Tidak hanya nasib satu tahun kita tetapi juga nasib kekal kita. Malam Lailatul Qadr  adalah malam untuk mengenal lebih banyak sifat Jalal dan Jamal Allah Swt yang menjadi filosofi dari pengutusan seluruh nabi ilahi. Mereka diutus oleh Allah dengan risalah untuk membebaskan masyarakat manusia dari cengkeraman semua sesembahan palsu dari pusat-pusat kekuasaan dan kekayaan serta dualisme agama-agama surgawi yang telah diubah dan sekte kolonial, dan untuk menabur benih-benih iman kepada Allah yang Esa dalam hati manusia.

Malam Lailatul Qadr
Salah satu parameter manifestasi terpenting dari percaya kepada Allah dan keterpusatan pada Tuhan adalah melaksanakan dengan meriah manasik haji yang agung, yang merupakan filosofi terpenting dan mendasar haji. Sebenarnya, haji adalah sebuah arena dan pemandangan di mana jutaan umat Islam telah melewati kerangka tauhid teoretis dalam dimensi-dimensi teologis dan filosofis serta mewujudkan semua ritual haji praktis dalam praktik. Allah Swt memperkenalkan Ka'bah sebagai rumah manusia dan ketika menggambarkan posisinya, Allah berfirman, "Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud." (QS. Al-Baqarah: 125)

Dalam konteks pemikiran dan pandangan dunia tauhid, ada dua jenis penolakan atau penegasan, penolakan terhadap manifestasi emas, kekuatan dan kemunafikan, penolakan iblis, penolakan hawa nafsu dan penolakan berhala dan pencipta berhala yang berusaha keras untuk berkomplot dan menipu bangsa dan menjarah kekayaan masyarakat yang dianugerahi oleh Allah. Para jamaah haji melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah dengan visi yang sama, sehingga dengan ide yang berpusat pada Allah, mereka bukan hanya tidak kembali ke istana kekuasaan dan kekayaan, tetapi juga bangkit melawannya dan menghancurkan penindas. Sebagaimana Allah yang Esa berfirman, "Allah telah menjadikan Ka'bah sebagai tempat kebangkitan manusia." QS. Al-Maidah: 97)

Sumber cara pandang kebangkitan para nabi yang al-Quran menggambarkan filosofi pengutusan mereka seperti ini, "Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut itu." (QS. Al-Nahl: 36) Dengan demikian, Ka'bah mengajarkan kepada mereka yang melaksanakan ibadah haji agar bangkitlah dan dengan mengambil inspirasi dari para nabi serta dengan dukungan penyembahan dan penghambaan ilahi menghapus kekuasaan para taghut.

Penolakan dan penegasan ini termaktub dalam slogan La Ilaaha (tidak ada Tuhan) Illa Allah (selain Allah) yang termanifestasikan setiap hari dalam shalat di seluruh dunia. Al-Quran menunjukkan keaslian pemikiran tauhid ini dengan mengatakan, "Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 256)

Inilah filosofi yang ditegakkan oleh para pelaksana haji di Ka'bah, sehingga dengan tawaf mengelilingi Ka'bah yang dilakukan, dengan rujuk dan sujudnya, dengan Sa'i dari Shafa dan Marwahnya, dengan Ramy al-Jamarat melempar setan dan penyembah setan, dengan Wuquf di Masy'ar, Arafah dan Mina serta dengan semua munajat yang dilakukan, menunjukkan mereka hanya tunduk di hadapan Allah, hanya pelaksanan perintah Allah dan hanya menerima wilayah dan kekuasaan-Nya.

Imam Ali as yang lebih dahulu dari semua membuktikan komitmen dan loyalitasnya pada piagam tauhid ini, mengatakan, "Sesungguhnya Allah yang Maha Tinggi yang telah memilih Muhammad, salam Allah kepadanya dan keluarganya, dengan kebenaran risalah, di mana tujuannya agar manusia bebas dari ibadah dan penghambaan kekuasaan syirik dan mendorong manusia menuju penyembahan Allah serta mengeluarkan mereka dari perjanjian yang ada menuju perjanjian ilahi, mencegah mereka dari menaati mereka dan menaati Allah, dan menyelamatkan mereka dari kekuasaan taghut lalu memasukkan mereka di bawah wilayah dan kekuasaan Allah." ('Uyun Akhbar al-Ridha, 2/106)

Umat Islam melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah
Tidak diragukan lagi bahwa maksud Allah dari pensucian rumah-Nya yang dijelaskan dalam ayat 125 surat al-Baqarah mencakup pensucian lahiriah dan batiniah yang mencakup pensucian dari segala pemikiran dan tampilan lahiriah syirik, sehinggi para jamaah haji lebih memperhatikan semangat dan keaslian haji dari hal yang lain dan memastikan pemikiran dan keyakinan tauhid mereka terpatri dalam diri, lalu menghancurkan segala berhala yang hidup atau mati dengan kapak tauhid bak Ibrahim dan meruntuhkan Namrud zamannya, kemudian menyiapkan sarana untuk globalisasi pemikiran tauhidi.

Ini adalah janji pasti ilahi yang berfirman, "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Nur: 55)

Jumat, 15 Mei 2020 14:10

Filosofi Hukum dalam Islam (21)

 

Hari ini 21 Ramadhan bertepatan dengan hari syahadah Imam Ali bin Abi Thalib as. Imam Ali di akhir khutbah Jumat bulan Ramadhan terakhir bertanya kepada Rasulullah Saw, apa amal perbuatan terbaik di bulan suci Ramadhan? Rasul menjawab, Wahai Abul Hasan! Sebaik-baiknya amal perbuatan di bulan ini adalah wara', takwa dan menghindari hal-hal yang diharamkan Tuhan...

...Kemudian Rasul menangis. Imam Ali bertanya mengapa Rasul menangis. Nabi menjawab, "...Aku melihat ketika kamu tengah khusu' menjalankan shalat dan berdoa kepada Tuhanmu, orang paling celaka memukulkan pedangnya ke kepalamu dan jenggotmu berlumuran darah." Imam Ali berkata, Wahai Rasulullah, apakah ketika aku syahid, agamaku selamat? Rasul menjawab, agamamu tetap selamat.

Rasul menambahkan, Wahai Ali siapa saja yang membunuhmu, ia sama halnya dengan membunuhku dan siapa saja yang membuat kamu marah, maka ia juga membuat Aku murka serta siapa saja yang menghinamu, maka ia juga menghinaku. Karena kamu adalah bagian dari jiwaku, ruh dan jiwamu dari ruhku dan tanahmu (penciptaan) adalah dari tanahku juga. Sungguh, Tuhan Yang Mahakuasa menciptakan aku bersamamu, memilihku bersamamu, dan memilihku menjadi nabi, dan memilihmu sebagai imam. Siapa saja yang mengingkari imamahmu, i ajuga mengingkari kenabianku. Perintahmu adalah perintahku dan laranganmu adalah laranganku. Saya bersumpah demi Tuhan yang memilih saya sebagai nabi dan menjadikan saya yang terbaik dari umatnya, kamu setia pada kebenaran, hujjah-Nya dan Kamu bisa dipercaya atas rahasia dan misteri-Nya, dan Anda adalah khalifah atas hamba-hamba-Nya. (Iqbalul A'mal: 15/19- Uyunul Akhbar al-Ridha: 1/295)

Hari ini kami akan mengkaji filsafat haji. Mengingat ahri ini bertepatan dengan peringatan hari gugur syahidnya Imam Ali bin Abi Thalib as, maka perlu dicatat bahwa Imam Ali meninggalkan wasiat komprehensif dan berharga di mana sebagiannya berkenaan dengan ibadah haji. Di wasiat ini disebutkan, ...Jagalah keagungan Baitullah dan selama kalian hidup jangan tinggalkan tempat suci ini, karena jika kalian lalai maka kalian akan terhina. (Nahjul Balaghah: surat ke 46)

Dari ucapan singkat ini ada sejumlah poin mendasar terkait filsafat haji. Pertama, pesan untuk menjaga posisi dan keagungan Baitullah. Tak diragukan tujuan dari ucapan ini bukan zhahir Ka'bah, tapi spirit Baitullah yang Tuhan bersumpah dengannya dan menyebutnya sebagai tanah yang aman (Surah at-Tin: 3) serta menjadikannya sebagai kiblat Nabi Saw dan seluruh pengikutnya serta berfirman,  Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (Al-Baqara: 149)

Di awal ayat 150 Surah al-Baqara, Allah Swt memerintahkan semua orang untuk memalingkah wajahnya ke arah Masjid al-Haram demi menjelaskan urgensitas Ka'bah dan kemudian menjelaskan filosofi perintah ini dengan berfirman, ... agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.( Al-Baqara: 150)

Di kelanjutan wasiatnya, Imam Ali berkata, Selama kalian hidup jangan membuat Ka'bah sepi. Dari ucapan ini dapat ditemukan filosofi lain ibadah haji adalah selama hidup dan mampu, umat Islam jangan meninggalkan Ka'bah dan membuatnya sepi. Dan setiap tahun mereka memamerkan keagungan Ka'bah, persatuan dan kekuatannya melalui ritual haji. Ini adalah epik yang membuat pemimpin kafir dan syirik sangat khawatir.

Gladstone, politikus Inggris mengatakan, "Selama umat Muslim membaca al-Quran dan tawaf di sekitar Ka'bah serta nama Muhammad pagi dan malam dikumandangkan para muazain di masjid, maka Kristen dalam bahaya besar. Kalian harus berusaha membakar al-Quran, menghancurkan Ka'bah dan menghapus nama Muhammad dari azan. (Tasir Nemoneh: 4/437)

Namun berbeda dengan tujuan busuk musuh Islam yang ingin menghancurkan Ka'bah dan dengan beragam konspirasi atau bahkan pembantaian massal para peziarah, berusaha menghancurkan keagungan ibadah haji. Allah Swt di al-Quran berkata kepada Nabi Ibrahim as, " Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.... supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka...(al-Hajj: 27-28)

Imam Ali di akhir wasiatnya memperingatkan, "Jika kalian lalai dan membiarkan Baitullah sepi maka kalian akan dipermalukan, dan sejumlah pensyarah Nahjul Balaghah mengatakan bahwa maksud dari dipermalukan adalah kalian akan mendapat azab Ilahi.

Peringatan ini dapat menjelaskan filosofi haji lainnya yakni jika kehormatan Ka'bah tidak dijaga dengan kehadiran luas Muslim maka dunia Islam akan kehilangan kekuatan dan kesolidannya serta terpaksa menelan kehinaan dan juga dimurkai Tuhan. Oleh karena itu, menurut al-Quran yang berkata, berbondong-bondonglah menuju Ka'bah baik berjalan kaki maupun berkendaraan supaya kalian menyaksikan manfaat besar di seluruh bidang maknawi dan materi, budaya dan politik. Kita harus berusaha melindungi keagungan Ka'bah dan menjaga kehormatan dunia Islam serta menghidupkan dan menyemarakkan Baitullah dengan kehadiran kita.

Jumat, 15 Mei 2020 14:09

Filosofi Hukum dalam Islam (20)

 

Hari-hari dan malam-malam ini bertepatan dengan malam Lailatul Qadr yang salah satu artinya adalah perencanaan dan penetapan tujuan, sehingga dengan indikator yang berprinsip dan logis, kita dapat secara sadar menentukan nasib kita dengan bantuan Tuhan.

Salah satu parameter paling penting dalam budaya Islam adalah prinsip keseimbangan dan moderat di semua stragi dan aplikasi. Sebagai contoh, Islam dari satu sisi dengan mencermati keotentikan jiwa dalam ajaran ibadah, spiritual dan moral, dengan menjadikan Allah dan Ma'ad sebagai fokus, dan di sisi lain, sangat mementingkan kesehatan dan keselamatan badan.

Sebuah contoh jelas dari sikap seimbang ini adalah puasa selama bulan suci Ramadhan, yang disempurnakan dengan shalat, doa dan munajat, ibadah di malam hari, melaksanakan perintah ilahi, menghindari dosa-dosa pribadi dan sosial, dan mengekspresikan simpati kepada yang membutuhkan. Kenyataan ini terus membuat manusia semakin dekat dengan Allah dan ketika hari Idul Fitri tiba, manusia merayakan keberhasilannya ini.

Sarapan untuk pertumbuhan badan
Tentu saja, Islam, bertentangan dengan cara sufi salah dan sesat yang hanya peduli pada kesehatan jiwa dan tidak menghargai kesehatan tubuh, memiliki pedoman yang signifikan dalam hal ini dan tidak hanya memperhatikan kesehatan mental, tetapi juga kesehatan pribadi dan sosial untuk menjaga kesehatan tubuh.

Rasulullah Saw bersabda, "Berpuasalah agar kalian sehat." (Al-Da'wah, 76/170) Dan dalam bimbingan yang lain, beliau berkata, "Setiap segala sesuatu ada zakatnya dan zakat badan adalah puasa."

Dengan demikian, puasa selain untuk kesehatan jiwa, juga kesehatan fisik.

Dalam beberapa teks Islam, sejalan dengan permintaan untuk sukses dalam urusan spiritual, dari sudut pandang ilahi, kesehatan dan kesejahteraan juga telah dibahas. Di sebagian paragraf doa Kumail, Imam Ali as berkata, "Ya Allah! Berikan kekuatan pada anggta badanku, agar aku bisa melangkah di jalan penghambaan." Terlepas dari hal ini, adab seperti berwudhu, mandi, gosok gigi, pakaian bersih, menggunakan parfum dan memakan makanan yang sehat dan suci serta hal-hal lain yang semuanya itu menunjukkan Islam sangat mementingkan jiwa dan fisik. Inilah prinsip menjaga keseimbangan yang memberi perhatian pada keselamatan jiwa ddengan tanpa melalaikan kesehatan badan.

Sekarang kita beralih untuk membahas tentang pengaruh kesehatan puasa. Penelitian dan percobaan baru menunjukkan bahwa puasa memiliki efek menguntungkan untuk mengusir racun tubuh dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh, yang merupakan salah satu faktor terbaik dalam meremajakan jaringan tubuh. Selain itu, puasa telah lama digunakan sebagai pengobatan untuk beberapa penyakit yang disebut "terapi puasa." Ini termasuk puasa dan minum sedikit air atau jus selama tiga atau tujuh hari atau lebih, yang dapat ditoleransi hingga tiga puluh hari.

Jenis perawatan ini telah digunakan sejak zaman kuno, di India dan Yunani dan Mesir kuno, yang telah dilupakan sejak abad ke-15 di Eropa. Tetapi pada tahun 1880-an, efeknya yang bermanfaat pada pengobatan beberapa penyakit kembali terbentuk dan secara bertahap menjadi luas, dan telah diresepkan secara teratur selama beberapa dekade. Ini sangat populer di Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat. Penggunaan jenis perawatan ini lebih umum pada penyakit yang disebabkan oleh gangguan metabolisme. Seperti rematik kronis, banyak dari penyakit ginjal, penyumbatan pembuluh darah, alkoholik kronis dan beberapa penyakit saraf dan mental lainnya. (Rouzeh dar Eslam, 4-23)

Bagaimanapun, kita semua tahu bahwa banyak penyakit disebabkan oleh makan berlebihan, dan karena bahan-bahan tambahan yang tidak dapat diserap, mereka tetap sebagai lemak yang mengganggu di berbagai bagian tubuh, atau kelebihan lemak dan gula tetap ada dalam darah, akibatnya, bahan tambahan di berbagai bagian tubuh memberikan lingkungan yang baik untuk menumbuhkan berbagai mikroba patogen, dan salah satu cara terbaik untuk memerangi penyakit ini adalah dengan berpuasa.

Puasa dan shalat
Selain itu, puasa membakar zat berlebih dan tidak terserap dalam tubuh, dan pada dasarnya menyebabkan perubahan pada tubuh. Selain manfaatnya, puasa memberikan banyak istirahat bagi sistem pencernaan, dan mengingat organ-organ ini adalah bagian tubuh yang paling sensitif dan bekerja terus menerus sepanjang tahun, istirahat ini sangat diperlukan bagi mereka. Jelas bahwa orang yang berpuasa, sesuai dengan ajaran Islam dan pengobatan baru dan lama, tidak boleh makan berlebihan selama berbuka puasa dan sahur sehingga ia bisa mendapatkan hasil yang diinginkan dari efek kesehatan yang bermanfaat dan konstruktif. (Rouzeh Ravesh-e Nouvin Baraye Darman Bimari-ha, 65)

Dalam sebuah hadis terkenal dari Nabi Saw dinukil, "Lambung adalah rumah bagi semua penyakit dan tidak makan obat paling efektif." 

Nabi Isa as berkata, "Puasa mengeluarkan penyakit dari tubuh."

Dinukil dari Luqman al-Hakim yang mengatakan, "Karena lambung sudah penuh, akal tertidur dan kebijaksanaan tidak bekerja, sementara anggota badan tidak mau melakukan ibadah."

Dan pada akhirnya, seorang psikolog Eropa mengatakan, "Berpuasa menyebabkan daya tarik spiritual." (Rouzeh dar Eslam, 4)

Jumat, 15 Mei 2020 14:09

Filosofi Hukum dalam Islam (19)

 

Waktu subuh di Masjid Kufah hari ini, pedang kebodohan dan fanatisme membabi buta milik kelompok orang berpikiran dangkal itu, menebas kepala suci Imam Ali as, manifestasi iman dan keadilan, kesucian dan keutamaan, jihad dan keberanian, pengetahuan dan kesadaran, sehingga ratusan kali penyesalan muncul akibat aliran pemikiran menyimpang, dan membahayakan mereka sepanjang sejarah.

Kebodohan itu juga telah memberikan pukulan telak ke tubuh Dunia Islam, yang salah satu bukti paling jelas di masa kini adalah kelompok Takfiri dan Daesh yang mengaku suci, dan mendapat dukungan musuh Islam, mereka melakukan semua kejahatan, dan menumpahkan darah ribuan manusia tak bersalah.
 
Sebagaimana diketahui dalam sistem ideal dan adil Islam, tidak boleh ada sedikitpun tanda-tanda ketidakadilan, diskriminasi, dan kesejangan sosial, tidak boleh ada sedikitpun jejak kemiskinan, dan kesengsaraan dari kelompok tidak mampu. Lalu mengapa justru yang kita saksikan bertolak belakang dengan program dan kebijakan makro serta strategis Islam, mengapa kita tidak melihat tujuan dan cita-cita luhur Ilahi dan manusiawi di dunia Islam ? 
 
Untuk menjawab pertanyaan ini harus kita katakan bahwa dalam sistem ekonomi Islam yang adil, dengan sejumlah banyak aturan yang telah ditetapkan Allah Swt dalam hal kekayaan dan aset berlimpah orang-orang kaya, jika mereka mengamalkan kewajiban agama dan kemanusiaannya, dapat dipastikan tidak akan tampak sedikitpun jejak kemiskinan dalam masyarakat Islam. 
 
Namun disayangkan hari ini, dikarenakan sifat menumpuk kekayaan yang dilakukan para konglomerat tak berperasaan, para penguasa otoriter yang menduduki kekuasaan secara tidak sah, melanggar hak kaum tertindas dan merampok aset publik, telah tercipta kesenjangan sosial yang dalam dan mengerikan di tengah masyarakat, sehingga menyebabkan segelintir orang berada di puncak kesejahteraan, dan kenikmatan materi, sementara mayoritas masyarakat hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan. 
 
Pada kondisi mengenaskan, anti-Islam dan anti-kemanusiaan seperti ini, orang-orang beriman yang sedang berpuasa ingin membantu fakir miskin. Puncak kepedulian terhadap sesama ini muncul di bulan suci Ramadhan, ketika orang-orang yang berpuasa dengan sebenarnya merasakan tanggung jawab lebih besar dari sebelumya, dan terjun membantu orang-orang yang membutuhkan. 
 
Imam Ali as
Agama Islam menggambarkan kewajiban praktis setiap manusia yang beriman sebagai berikut, 
 
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
 
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Surat Al Baqarah ayat 177)
 
Oleh karena itu, perbuatan dan kewajiban ibadah akan bernilai ketika manusia merasa bertanggung jawab atas orang-orang lapar, orang-orang telanjang, orang-orang yang terlilit utang, dan tanpa perlindungan, bukan saja tidak tinggal diam, mereka juga membantu sesuai kemampuan. Jelas bahwa tanggung jawab ini berada di pundak orang-orang kaya, lebih dari kalangan masyarakat lainnya. 
 
Jika seseorang tidak merasakan tanggung jawab agama dan kemanusiaan ini, maka ia tidak layak disebut Muslim. Sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad Saw, barangsiapa bangun dari tidur, dan tidak berpikir untuk menyelesaikan permasalahan umat Islam, maka ia bukan Muslim.
 
Benar bahwa berpuasa menahan lapar dan haus selama sebulan penuh juga harus merasakan penderitaan orang-orang yang kelaparan dengan segenap wujudnya, dan bersegera menolong mereka. Rasulullah Saw bersabda, pekerjaan paling terpuji di sisi Allah Swt ada tiga, mengenyangkan Muslim yang lapar, membayarkan utang orang-orang yang dililit utang, dan menyingkirkan kesedihan mereka. (Al Mahasin, 294)
 
Terlepas bahwa memenuhi kebutuhan orang-orang fakir terutama mereka yang hidup secara terhormat adalah kewajiban agama dan kemanusiaan setiap Muslim, namun bagi orang-orang kaya yang diberikan nikmat oleh Allah Swt, hal itu adalah ujian Ilahi, dan sebagai bentuk rasa syukur, mereka menginfakkan, menyedakahkan dan membantu orang-orang yang membutuhkan yang terpaksa mengulurkan tangannya kepada orang lain karena sulitnya kehidupan.
 
Dikutip dari Imam Baqir as, dalam sebuah munajat, Allah Swt berfirman kepada Nabi Musa as, Hai Musa hormatilah para peminta-minta dengan pemberian sedikit, dan perlakuan yang indah. Karena orang-orang yang memohon bantuan kepadamu, bukanlah manusia atau jin, mereka adalah para malaikat yang datang dari sisi Allah Swt, agar mereka mengujimu dengan apa yang sudah Kami berikan kepadamu, dan mereka meminta kepadamu sesuatu yang sudah Kami berikan. Maka dari itu wahai Putera Imran, berhati-hatilah bagaimana engkau memperlakukan mereka. (Al Kafi jilid 2 hlmn 15) 
 
Salah satu bukti nyata dari munajat itu adalah kisah nazar Ahlul Bait as yang berpuasa selama tiga hari berturut-turut demi kesembuhan Imam Hassan dan Imam Hussein as. Dua hari pertama saat tiba waktu berbuka datang seorang miskin yang meminta bantuan. Saat itu Imam Ali, Sayidah Fatimah Zahra as dan kedua puteranya memberikan roti kepadanya, dan menjalani puasa dengan perut lapar. 
 
Di hari kedua, saat tiba waktu berbuka, seorang yatim datang dan meminta bantuan, dan Ahul Bait as kembali memberikan roti yang akan mereka makan untuk berbuka, kepadanya. Hari ketiga kejadian serupa terjadi, seorang tawanan perang mendatangani Ahlul Bait as dan meminta bantuan saat berbuka, dan Ahlul Bait memberikan roti kepadanya. 
 
Nabi Muhammad Saw di akhir peristiwa itu mendatangi Ahlul Bait as, dan menyaksikan mereka dalam keadaan yang sangat lapar sehingga tampak begitu pucat, saat itu turun Surat Al Insan kepada Rasulullah Saw, yang ayat 8-9 surat ini dikhususkan untuk kisah Ahlul Bait as yang memberikan makanan berbukanya kepada orang miskin, yatim dan tawanan perang.  
 
Poin penting yang bisa kita petik dari ayat 9 surat Al Insan adalah Ahlul Bait as bersabda, kami memberikan makanan kepadamu hanya demi ridha Allah Swt, dan kami sama sekali tidak mengarapkan balasan atau terimakasih. 

Jumat, 15 Mei 2020 14:08

Filosofi Hukum dalam Islam (18)

 

Pada artikel sebelumnya telah disampaikan beberapa tema seperti puasa adalah ibadah yang telah lama ada di tengah umat manusia, khususnya di antara pengikut agama-agama samawi dan kaum yang lain, dan posisi puasa dalam budaya Islam serta derajat puasa.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membicarakan mengenai pengaruh konstruktif dan pendidikan puasa. Salah satu kelebihan pengaruh puasa yang paling penting adalah menciptakan budaya penghambaan ilahi. Yakni, orang yang berpuasa selama sebulan telah melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhkan dirinya dari larangan-Nya. Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah Swt berfirman, "Wahai hamba-Ku, taatilah Aku agar engkau kujadikan seperti-Ku. Aku berkehendak maka jadilah dan engkau juga seperti Aku ketika engkau berkehendak, maka jadilah." (Mizan al-Hikmat, 47/1176)

Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar
Tidak diragukan lagi, bila seorang hamba mencapai posisi seperti itu, ia harus memiliki karakteristik khusus dan menonjol. Rasulullah Saw dalam hal ini mengatakan, "Hamba hakiki Allah adalah seorang yang menaati dan melaksanakan perintah Allah menjadi manis di jiwanya dan tidak ada kelezatan yang lebih tinggi dari menyampaikan cinta kepada Allah. Ia menyampaikan hajatnya hanya kepada Allah yang tidak membutuhkan apa dan siapapun dan membuka hikayat hatinya kepada Allah serta bertawakal kepada-Nya." (Al-Bihar, 1/225)

Bulan Ramadhan yang merupakan bulan latihan penghambaan di hadapan Allah dapat memiliki peran efektif dalam membentuk ciri khas ini. Imam Husein as berkata, "Barangsiapa yang melaksanakan hak ibadah Allah, niscaya Allah akan memberikan lebih dari apa yang diinginkannya." (Al-Bihar, 68/184)

Putri Rasulullah Saw yang tumbuh dan dididik pusat kenabian dan imamah berkata, "Seseorang yang mengirimkan ibadahnya yang ikhlas kepada Allah, niscaya Allah yang Pengasih akan mengirimkan maslahat terbaik kepadanya. ('Iddah al-Da'i, 233)

Efek konstruktif lain dari puasa selama bulan suci Ramadhan adalah peran ajaran agama, terutama ajaran agama Islam. Dalam sistem Marxis, agama menjadi candu masyarakat. Beberapa orang yang mengenal agama-agama yang telah terdistorsi atau berbagai aliran yang dibuat manusia mempertanyakan mempertanyakan peran agama, yang dalam hal ini, bulan suci Ramadhan, sebagai contoh yang jelas dan menonjol dan tidak dapat disangkal, membatalkan semua kesalahpahaman yang anti-agama. Karena kenyataan bahwa di bulan ini, di samping berkembangnya spiritualisme, semangat empati dan kepatuhan terhadap nilai-nilai moral dan manusia yang tinggi serta penghindaran hal-hal yang anti nilai dalam semua perilaku individu dan sosial, dan sebagai hasilnya, statistik dari banyak kejahatan dan berbagai kerugian sangat berkurang dan mewujudkan peran agama lebih dari sebelumnya.

Lord Avibury, penulis Perancis menggambarkan peran agama dalam tulisannya, "Agama memberi tahu kita untuk bermartabat, terhormat, dan suci dalam hidup kita. Jangan menyerahkan ikhtiar kita pada hawa nafsu dan jangan membakar jiwa kita dalam api ketamakan dan jangan menghancurkan asa orang lain dengan penindasan. Agama mengajarkan kepada kita, "Mari kita habiskan hidup kita dengan kebajikan dan menjadikan kesalehan sebagai panduan kita, sehingga jiwa kita bisa tenang dan hati nurani kita bisa tenang, dan kita bisa disirami oleh sumber kebahagiaan."

Memperkuat kehendak dan kesabaran adalah efek pendidikan lain dari puasa. Dalam setiap kasus, ketika dua faktor ini ada, hasilnya selalu cemerlang dan memberikan harapan. Dalam urgensi keduanya, cukuplah ketika Allah berfirman kepada Nabi-Nya, "Maka bersabarlah kamu seperti para nabi Ulul Azmi bersabar." (QS. Al-Ahqaf: 35)

Beri kabar gembira kepada orang-orang yang sabar
Sebenarnya, puasa adalah praktik kemauan dan kesabaran. Karena orang yang berpuasa secara sukarela memutuskan untuk menolak semua keinginannya selama dia berpuasa dengan menunggu. Menurut hierarki kesabaran yang digambarkan oleh Rasulullah Saw sebagai berikut, "Kesabaran untuk tugas, kesabaran untuk kepatuhan dan kesabaran untuk dosa."

Di satu sisi, orang yang berpuasa menaati perintah ilahi selama bulan Ramadhan, dan di sisi lain, ia menghindari dosa dan ketidaktaatan kepada Allah, yang membutuhkan kesabaran dari keduanya. Sebagaimana al-Quran menyebutkan, "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153)

Pada hari setelah kebangkitan, ketika perhitungan perbuatan baik akan dipertimbangkan untuk semua manusia, salah satu kelompok yang akan diberi ganjaran oleh Tuhan tanpa memperhitungkannya adalah yang bersabar. Allah Swt dalam al-Quran berfirman, "Sesungguhnya Allah memberikan pahala orang-orang yang bersabar tanpa dihitung." (QS. Al-Zumar: 10)

Tentu saja, persyaratan dari imbalan semacam itu adalah menanggung kesulitan atas kepatuhan dan menghindari segala jenis dosa dan maksiat, di mana orang yang berpuasa harus memiliki dua sifat ini.

Imam Baqir as berkata, "Surga tersembunyi di antara kesulitan dan kesabaran dan seseorangyang menunjukkan kesabarannya dalam menghadapi berbagai masalah di dunia akan memasuki surga."

"Hancurkan rantai kebiasaan" termasuk salah satu dari capaian lain puasa. Puasa faktor paling berpengaruh yang dapat membebaskankita dari berbagai rantai kebiasaan. Puasa mengajarkan manusia bahwa segala kebiasaannya tidak pernah menjadi hal yang prinsip dan alami, sehingga manusia tidak bisa meninggalkannya, tetapi semua itu adalah urusan yang dipaksakan kepada manusia.

Puasa menunjukkankepada manusia bahwa bila seseorang telah mengambil keputusan dan punya kehendak serius, ia dapat melepaskan rantai kebiasaan dari pundaknya tanpa mengalami kerugian. Ketika perubahan ini telah tampak dalam diri manusia, secara perlahan-lahan ia akan melangkah lebih di atas kebiasaan pribadi dan mampu untuk mengobati kebiasaan salah masyarakat dan sebabnya. Kebiasaan salah, terpolusi dosa dan khurafat merupakan kelemahan akan kehendak dan kesadaran serta hati nurani yang telah dipaksakan oleh sistem rusak arogan.

Jumat, 15 Mei 2020 14:08

Filosofi Hukum dalam Islam (17)

 

Pandangan dunia tauhid mengajarkan kepada kita untuk selalu memikirkan tujuan-tujuan transenden dan menghindari pandangan yang dangkal. Ini adalah indikator penting yang harus menjadi parameter dalam menyusun program kehidupan kita, khususnya hal-hal yang menyangkut perbuatan ibadah.

Dalam urusan ibadah, kita harus berusaha mencapai Dzat yang kita sembah dan kedekatan khusus dengan-Nya. Allah Swt berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (Al-Inshiqaq, ayat 6)

Jelas bahwa untuk mencapai tujuan yang tinggi, manusia membutuhkan tekad yang kuat dan kerja keras. Tentu mereka tidak memiliki posisi yang sejajar dalam masalah ini dan tekad setiap orang berbeda-beda.

Di jalan penghambaan Tuhan, sebagian orang hanya puas dengan ibadah lahiriyah dan sebatas melaksanakan kewajiban, namun sebagian yang lain juga menaruh perhatian pada aspek batiniyah ibadah dan melalui cara ini, mereka berusaha mencapai derajat yang paling tinggi dan kedekatan dengan Tuhan.

Atas dasar ini, tingkatan berpuasa dapat dibagi menjadi tiga tahap: Pertama, puasa yang dilakukan oleh orang awam dan hanya menghindari larangan lahiriyah yang bisa membatalkan puasa seperti, meninggalkan makan dan minum serta tidak berhubungan badan.

Imam Ali as mengenai golongan ini berkata, “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Tidak diragukan lagi bahwa tujuan Tuhan mewajibkan ibadah adalah supaya manusia tidak hanya merasa cukup pada aspek lahiriyah, tetapi tujuan utamanya adalah memperhatikan roh dan kualitas ibadah. Allah Swt berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adh-Dhariyat, ayat 56)

Pada ayat lain, Allah berfirman, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk, ayat 2)


Allah Swt tidak berfirman bahwa siapa yang paling banyak beramal (kuantitas), tetapi berkata bahwa Aku ingin menguji kalian siapa yang paling baik amalnya (kualitas). Salah satu cara efektif untuk meningkatkan kualitas ibadah adalah memahami dengan baik filosofi dan hakikat penghambaan Tuhan, yang biasanya luput dari perhatian orang-orang awam.

Imam Ali as berkata, “Ibadah yang tidak disertai dengan pengetahuan dan makrifat, maka tidak ada kebaikan di dalamnnya.” (Kitab Tuhaf al-Uqul, hal 204)

Namun, jangan salah mengambil kesimpulan sehingga meninggalkan kewajiban syar’i dengan alasan Tuhan menginginkan kualitas ibadah dari manusia. Di sini, kita diminta untuk berusaha meningkatkan kualitas ibadah secara terus-menerus.

Kedua, orang-orang yang berpuasa yang tidak hanya merasa puas dengan mengerjakan lahiriyah ibadah, tetapi mereka juga berusaha untuk memenuhi kewajiban-kewajiban yang ditetapkan untuk orang yang berpuasa.

Rasulullah Saw dalam khutbah Sya’baniah yang disampaikan untuk menyambut bulan Ramadhan, menyebut beberapa tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh orang yang berpuasa.

Rasulullah dalam khutbahnya berkata, “Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fakir dan miskin, muliakanlah orang-orang tuamu, kasihanilah anak-anak kecil, dan sambunglah tali persaudaraanmu.

Jagalah lisanmu. Tahan pandanganmu dari yang tidak halal kami memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kami mendengarnya. Kasihanilah anak-anak yatim orang lain, seperti menyayangi anak-anak yatim kalian.

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah kedua tanganmu untuk memanjatkan do’a dalam setiap waktu shalat, karena itu adalah waktu yang paling utama, di saat Allah memandang hamba-Nya dengan penuh rahmat. Dia menjawab mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai Manusia! Sesungguhnya jiwa-jiwa kalian tergadaikan dengan amal perbuatan kalian, maka tebuslah dengan istighfar. Tulang punggung kalian berat karena dosa, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujud…”

Ketiga, puasa hati yaitu selain memenuhi kewajiban lahiriyah puasa dan meninggalkan larangannya, manusia juga memenuhi hatinya dengan iman kepada Allah Swt dan menenangkan hatinya dengan berzikir kepada-Nya.

Mereka membersihkan hatinya dari segala bentuk syirik dan pemikiran kotor. Hati mereka adalah manifestasi dari kesucian, keutamaan, serta nilai-nilai luhur akhlak dan kemanusiaan. Hati yang bersih ini akan diterima oleh Tuhan dan mendapat perhatian khusus dari-Nya.

Imam Ali as berkata, “Barang siapa yang membersihkan hatinya, Allah akan memandangnya dengan kasih sayang.”


Nabi Musa as dikenal dengan munajat irfani dan dialog-dialognya dengan Tuhan. Pada suatu hari, ia bertanya kepada Allah Swt, “Wahai Tuhanku, siapakah orang yang akan Engkau lindungi pada hari ketika tidak ada lagi tempat berlindung kecuali perlindungan-Mu?” Tuhan berfirman kepadanya, “Orang-orang yang bersih hatinya.”

Oleh karena itu Rasulullah Saw dalam khutbah Sya’baniyah berkata, “Maka mintalah kepada Allah Rabbmu di hari-hari tersebut dengan niat yang tulus dan hati yang suci. Semoga Allah membimbingmu dalam menjalankan puasa-Nya dan membaca kitab suci-Nya.”

Orang-orang yang berpuasa dengan hati yang suci, berarti mereka telah memperhatikan aspek lahiriyah dan batiniyah puasa sekaligus. Mereka tidak hanya menjaga anggota badannya dari perbuatan dosa, tetapi tidak pernah memikirkan dosa dan memanfaatkan momentum Ramadhan dengan maksimal sehingga dengan bekal takwa, mempererat kedekatannya dengan Allah Swt.

Tingkatan puasa yang ketiga ini disebut sebagai puasa khawasul khawas yaitu puasa yang dilakukan oleh orang-orang khusus dan para ‘arif.

Jumat, 15 Mei 2020 14:07

Filosofi Hukum dalam Islam (16)

 

Puasa jamak dilakukan di antara seluruh agama langit, kaum dan bangsa-bangsa, bahkan di kalangan para penyembah berhala, tetapi tidak diragukan bahwa puasa dalam Islam memiliki kelebihan tersendiri dalam dimensi kuantitas dan kualitas, sehingga membuatnya berbeda dari yang dilakukan di luar Islam.

Sebelumnya, kita telah mengingatkan bahwa puasa jamak dilakukan di antara seluruh agama langit, kaum dan bangsa-bangsa, bahkan di kalangan para penyembah berhala, tetapi tidak diragukan bahwa puasa dalam Islam memiliki kelebihan tersendiri dalam dimensi kuantitas dan kualitas, sehingga membuatnya berbeda dari yang dilakukan di luar Islam. Untuk mengetahui lebih lanjut dari posisi ini, akan dikutip sejumlah hadis. Allah Swt untuk menunjukkan keagungan puasa di sisi-Nya berfirman, "Puasa untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi pahalanya." (Al-Kafi: 6/63/4)

Bulan suci Ramadhan
Perlu diperhatikan bahwa Allah tidak pernah menyampaikan ungkapan seperti ini terkait ibadah yang lain. Dalam menganalisa masalah ini akan dibeberkan dua pandangan; pertama, semua ungkapan seperti shalat, khususnya shalat berjamaah dan jumat, atau ibadah haji memiliki tampilan lahiriah, di mana hama bernama riya bisa saja mempengaruhinya, sehingga merusak keikhlasan dan bahkan bercampur kesyirikan. Tetapi dalam puasa, munculnya kemungkinan seperti ini sangat kecil, karena tidak ada penampakan lahiriahnya. Dalam ibadah puasa prosentase keikhlasan dalam melaksanakannya sangat kuat. Karena Allah hanya menerima perbuatan yang didasari keikhlasan, Allah menisbatkan puasa kepada diri-Nya.

Pandangan kedua yang dapat disampaikan dalam masalah ini bahwa tidak ada perbuatan ibadah lain seperti puasa di mana manusia menunjukkan tahapan penghambaannya dengan menjaga semua keharusan dan ketidakharusa di sisi Allah. Seorang yang berpuasa akan melaksanakan apa saja yang diperintahkan Allah tanpa ada yang kurang. Karenanya dapat dikatakan bahwa bulan suci Ramadhan adalah bulan di mana manusia melatih dirinya melakukan ibadah dan penghambaan kepada Allah. Bahkan mungkin juga dengan alasan ini, Allah menisbatkan puasa kepada dirinya dan berfirman, "Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus." (QS. Yasin: 61) 

Berpuasa yang seperti ini dengan meletakkan kepala pada penghambaan ilahi mendapat pujian para malaikat, khususnya ketika mereka menyaksikan ada sekelompok manusia yang bermaksiat dan keluar dari lingkaran penghambaan kepada Allah.

Rasulullah Saw dalam hal ini bersabda, "Tidak ada orang berpuasa yang melewati sekelompok orang yang menyepelekan kesucian bulan Ramadhan, yang sedang menyantap makanan, kecuali seluruh anggota badannya mengucapkan tasbih dan malaikat mengucapkan salam kepadanya. Salam mereka adalah memohon ampunan di sisi Allah." (Tsawab al-A'mal, 1/7701/75)

Dalam suasana yang begitu membangkitkan semangat dan penuh harapan, bagian spiritual, yang memiliki warna dan aroma surgawi, menemukan semua pencitraan khusus dan menunjukkan tahapan penghambaan manusia dalam seluruh perilaku manusia yang berpuasa yang dilakukan dengan keikhlasan dan tanpa dibuat-buat atau riya.

Berdasarkan cara pandang ini, Imam Shadiq as berkata, "Orang yang berpuasa, tidurnya terhitung ibadah, diammnya termasuk tasbih dan perbuatannya diterima serta doanya akan dikabulkan." (Al-Faqih: 2/76/1783)

Persiapan berbuka puasa
Dalam sistem alam dan syariat ilahi, setiap perbuatan baik layak mendapat pahala dan Allah yang Maha Pengasih terkadang memberikan pahala kepada manusia lebih dari apa yang dilakukan dan kelayakannya berdasarkan keutaman dan kedermawanan-Nya. Rasulullah Saw yang merupakan perwujudan dari rahmat Allah yang tak terbatas, bersabda, "Siapa pun yang berpuasa suatu hari dengan cinta dan motivasi ilahi, jika ia diberi emas sebanyak seluruh (tambang) bumi, ia tidak akan menerima pahalanya secara penuh dan hanya di hari  perhitungan (dan kiamat) dia akan menerima hadiah penuhnya." (Ma'ani al-Akhbar, 91/409)

Manifestasi lain dari janji-janji pasti Allah kepada orang beriman yang telah melakukan amal saleh adalah memasuki surga yang dijanjikan dan kekal. Surga di mana kita hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang semua dimensi kuantitatif dan kualitatifnya, dan setiap manusia ingin memasukinya di akhirat dan cita-cita ini terkait orang yang berpuasa akan menjadi kenyataan.

Dalam hal ini Imam Shadiq as berkata, "Manusia yang berpuasa sehari karena menginginkan pahala dari Allah, dengan sebab itu, Allah akan memasukannya ke surga." (Al-Kafi, 5/63/4)

Meskipun memberikan pahala dari Allah kepada manusia memotivasi, mengilhami dan menghibur mereka, tetapi sekelompok manusia yang berpikir mendalam yang memiliki tujuan dan cita-cita besar, motivasi mereka melampaui penyembahan surga dan semua daya tariknya, dan tujuan utama mereka adalah untuk mendapatkan keridhaan ilahi. Yaitu, mereka tidak menyembah Tuhan dengan keserakahan surga dan sifat-sifatnya yang unik dan langgeng, juga tidak melaksanakan aturan penghambaan di hadapan Allah karena takut akan neraka dan api yang menyala-nyala, tetapi semua perhatian mereka adalah untuk mencapai posisi tinggi dari keridhaan Allah. Posisi agung yang ideal bagi semua orang suci ilahi yang istimewa.

Sekaitan dengan hal ini, al-Quran mengatakan, "Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar." (QS. Al-Taubah: 72)


Oleh karena itu, dengan pandangan yang tinggi ini, kita harus mencoba untuk memberikan tujuan dari semua tindakan ibadah kita, terutama di bulan suci Ramadhan, yang merupakan bulan Allah, didedikasikan kepada-Nya, seperti puasa, ibadah di malam hari, membaca doa dan bermunajat, membaca al-Quran dan bertadabur dan seluruh perilaku dan ucapan kita harus mendapat keridhaan Allah. Bila kita berhasil mencapainya, menurut al-Quran kita sampai pada kemenangan, kesuksesan dan keberhasilan besar.

Jumat, 15 Mei 2020 14:06

Filosofi Hukum dalam Islam (15)

 

Hari ini tanggal 15 Ramadhan bertepatan dengan hari kelahiran salah satu cucu Rasulullah Saw, Imam Hasan Mujtaba as, akan manyajikan topik mengenai puasa yang memiliki sejarah panjang dan bukan hanya khusus untuk umat Islam, tapi juga sudah ada sejak umat terdahulu.

Allah Swt berfirman di surah al-Baqara ayat 183 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Ayat ini juga menunjukkan bahwa puasa juga termasuk ibadah agama besar Ilahi lainnya. Dengan mempelajari Taurat dan Injil yang ada juga disebutkan ibadah puasa telah diwajibkan di antara umat Yahudi dan Nasrani serta umat-umat lainnya.

Di Taurat disebutkan, Ketika saya datang ke gunung, di mana saya diberi lauh (tablet batu), yaitu lauh perjanjian yang Allah buat dengan kalian, saya tinggal di gunung selama empat puluh hari dan empat puluh malam, tidak makan atau minum air.

Selain itu juga disebutkan, Kebanyakan orang Yahudi berpuasa pada saat mereka ingin menunjukkan ketidakberdayaan mereka kepada Allah untuk mengakui dosa-dosa mereka. Dan dengan bertaubat mereka meraih keridhaan Allah Swt.

Puasa setahun sekali telah menjadi tradisi di antara umat Yahudi. Ada juga puasa harian dan wakut singkat untuk memperingati bencana Jerusalem serta kasus serupa.

Selain dari ajaran Yahudi, puasa juga menjadi tradisi di kaum Nasrani. "Ketika Isa diperintahkan Tuhan pergi ke padang belantara dan iblis meminta supaya dapat mengujinya...Kemudian ia berpuasa selama 40 hari. (Injil Matta, bab 4) Hawariyun , setelah Nabi Isa, juga berpuasa. Seperti disebutkan di Injil:"Mereka mengatakan bahwa bagaimana murid Yahya senantiasa berpuasa, namun murid dan pegikutmu makan dan minum?...Tapi akan datang suatu hari mereka juga berpuasa." (Injil, Bab 5)

Hal ini juga patut dicatat bahwa meski puasa seperti yang dijelaskan oleh al-Quran juga ada di umat sebelum Islam dan juga sebuah kewajiban, namun tidak ada kesamaan di tata caranya mengingat kondisi geografi dan waktu. Dapat dikatakan bahwa etika puasa di Islam tidak dapat disamakan dengan agama Samawi yang lain dan etika ini khusus untuk agama Islam. Misalnya di antara pengikut agama sebelumnya berpuasa terbatas pada menghindari memakan daging atau susu atau tidak makan dan minum secara total. Al-Quran juga menyebutkan kisah puasa Nabi Zakaria dan Sayidah Maryam (puasa tidak berbicara).

Kita juga mengetahui bahwa pengikut agama sebelumnya dan di antara kaum di berbegai belahan dunia seperti Mesir dan Yunani serta Romawi kuno, puasa juga marak dan bahkan penyembah berhala pun juga meyakini puasa serta saat ini mereka tetap menjalankan puasa menurut keyakinannya. Dengan demikian puasa dan berpuasa sebuah ibadah yang ada di seluruh agama Ilahi dan bahkan agama non Ilahi. Namun pertanyaannya adalah apa filosofi puasa dan berpuasa?

Di fase terakhir ayat 183 Surah al-Baqara yang sebelumnya telah kami sebutkan, dan setelah Allah berfirman Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu...disebutkan alasan terpenting kewajiban puasa yakni supaya kamu bertakwa.

Meski ada banyak alasan untuk efek spiritual dan pendidikan dari puasa dalam teks dan riwayat Islam, namun al-Quran sangat menekankan efek takwa dari yang lainnya. Hal ini karena, jika takwa Ilahi telah tertanam pada seseorang, seluruh nilai moral  dan manusiawi akan termanifestasi di manusia seperti ini dan mereka akan terhindar dari mereka.

Untuk memahami seberapa penting posisi dan peran menentukan takwa, kita cukup memahami bahwa di al-Quran kalimat takwa disebutkan sebanyak 17 kali. Pertanyaan pertama yang muncul adalah, apa arti takwa? Takwa adalah kekuatan spiritual yang muncul dari pergulatan terus-menerus dengan hawa nafsu dan godaan setan. Kondisi ini membuat spiritual semakin kuat dan terlindungi.

Rasulullah Saw bersabda, "Siapa saja yang menjadikan takwa sebagai kondisi hariannya, maka ia mendapat kebaikan dunia dan akhirat." Imam Ali berkata, "Takwa kunci kebaikan dan cadangan hari Kiamat, faktor kebebasan dari segala bentuk perbudakan dan juga faktor keselamatan dari kehancuran."

Oleh karena itu, takwa memainkan peran penting di seluruh perilaku dan sikap individu serta masyarakat di seluruh bidang. Melalui takwa, para wali Allah meraih derajat tinggi malakuti.

Imam Ali as berkata,"Takwa Ilahi membuat para Wali Allah berada di bawah lindungan Tuhan serta mencegah mereka melanggar larangan-Nya dan hati mereka takut melanggar perintah-Nya."

Allah Swt di Surah Yunus ayat 62-64 berfirman, "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar."

Mengingat ajaran ini akan jelas bahwa mengapa Tuhan menyebutkan takwa sebagai salah satu alasan terpenting dan filosofi kewajiban puasa. Yakni supaya kita mampu meraih derajat tinggi seperti wali Allah melalui rahmat Ilahi ini.

Jumat, 15 Mei 2020 14:05

Filosofi Hukum dalam Islam (14)

Shalat dalam budaya Islam memiliki kedudukan khusus dan jika pelaksanaannya disertai dengan makrifat dan kecintaan, maka ia berperan penting dalam membersihkan jiwa dan mengembangkan nilai-nilai Ilahi dan kemanusiaan dalam diri seseorang.

Namun menurut ayat dan riwayat, dapat dipahami bahwa shalat malam (tahajud) sangat penting dan memiliki kedudukan istimewa di mata Tuhan.

Secara umum, kata “malam” selain sebagai salah satu tanda-tanda dari kebesaran Allah Swt, juga menjadi saksi atas  peristiwa penting dan menentukan dalam sejarah umat manusia seperti, turunnya al-Quran, isra’ mi’raj, dan hijrah Rasulullah Saw. Ini juga dapat menjadi indikasi atas rahasia dan misteri yang dimiliki malam.

 

Al-Quran dalam berbagai ayat mengangkat tema shalat malam dan dari ayat-ayat tersebut serta penjelasan Ahlul Bait, dapat dipahami bahwa shalat malam diwajibkan atas Rasulullah Saw.

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra, ayat 79)

Dari ayat ini jelas bahwa jika manusia ingin memiliki kedudukan yang tinggi dan terpuji di sisi Allah Swt, maka ia harus bangkit di tengah malam ketika semua orang tertidur, untuk mengerjakan shalat tahajud dan bermunajat kepada Tuhan.

Rasulullah Saw bersabda, “Malaikat Jibril selalu mewasiatkan kepadaku agar mengerjakan shalat malam, sampai aku mengira bahwa manusia terbaik umatku adalah mereka yang tidak tidur di malam hari.”

Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw bersabda, “Rahmat Allah atas orang yang bangun di tengah malam dan bermunajat dengan Tuhan-nya. Allah akan terus memancarkan cahaya-Nya di hati hamba seperti itu. Dia berfirman kepada para malaikat, “Lihatlah hamba-Ku ini yang berkhalwat dengan-Ku di tengah malam ketika ahli batil sibuk mengikuti hawa nafsu dan melupakan-Ku. Aku jadikan kalian sebagai saksi bahwa Aku telah mengampuninya.”


Imam Ali as dikenal luas sebagai sosok yang selalu menghidupkan malamnya dengan ibadah, bermunajat kepada Allah Swt di semua malam, dan ia menjadi inspirasi bagi orang-orang yang meniti jalan penghambaan dan sairus suluk.

Dalam mensifati orang-orang yang menghidupkan malamnya, Imam Ali as berkata, “Di malam hari, mereka berdiri sambil membaca bagian-bagian dari al-Quran dan membacanya dengan cara yang terukur lagi baik, menciptakan darinya rasa sedih bagi diri mereka sendiri, yang dengan itu mereka mencari pengobatan bagi sakit mereka.

Apabila mereka menemukan suatu ayat yang menimbulkan gairah (untuk surga), mereka mengikutinya dengan ingin sekali mendapatkannya dan roh mereka fokus kepadanya dengan penuh gairah, dan mereka merasa seakan-akan (surga) itu berada di hadapannya.

Dan bila mereka menemukan ayat yang mengandung ketakutan (kepada neraka), mereka membungkukkan telinga hatinya kepadanya, dan meresa seakan-akan bunyi neraka dan jeritannya mencapai telinga mereka. Mereka membungkukkan diri dari punggung mereka, bersujud pada dahinya, telapak tangan mereka, lutut mereka dan jari-jari kaki mereka, dan memohon kepada Allah Yang Maha Mulia untuk keselamatan mereka.

Di siang hari, mereka tabah, terpelajar, bijak dan takwa. Takut (kepada Allah) telah membuat mereka kurus seperti anak panah. Apabila seseorang melihat mereka, dia akan percaya bahwa mereka sakit, walaupun mereka tidak sakit, dan dia akan mengatakan bahwa mereka telah menjadi gila. (Nahjul Balaghah, khutbah 192)

Kalimat terakhir ini menegaskan bahwa kedekatan dengan Allah Swt tidak boleh menjadikan seseorang mengisolasi diri dari masyarakat, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Islam tidak mengenal rahbaniyat dan mengasingkan diri dari masyarakat.” Sabda lain berkata, “Rahbaniyat umatku adalah berjihad di jalan Allah Swt.”


Atas dasar prinsip inilah, Imam Ali as berkata, “Pada siang hari, mereka tabah, terpelajar, bijak dan takwa…” Pada kesempatan lain, beliau berkata, “Manusia yang beriman dan bertakwa, mereka adalah singa di siang hari dan abid di waktu malam.”

Keteladanan praktis Rasulullah Saw dan Imam Ali dalam menghidupkan malam telah menjadi inspirasi bagi para ulama dan auliya Ilahi. Mereka bermunajat di kegelapan malam, berkeluh kesah, dan bersimpuh di hadapan Tuhan. Namun di siang hari, mereka aktif di tengah masyarakat dan berjihad dengan penuh semangat.

Rasulullah Saw telah menunjukkan peran dan kedudukan shalat malam kepada Imam Ali as dengan bersabda, “Hendaklah engkau mendirikan shalat malam.” Kalimat ini diulangi sampai tiga atau empat kali.

Kajian kali ini kita akhiri dengan mengutip firman Allah Swt yang berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adh-Dhariyat, ayat 15-19)