کمالوندی
Ali Akbar, Teladan Pemuda Muslim
Setiap tanggal 11 Syaban, yang tahun ini bertepatan dengan 5 April diperingati sebagai hari pemuda dalam kalender nasional Iran. Momentum ini mengambil inspirasi dari kelahiran Ali Akbar bin Husein bin Ali bin Abu Thalib.
Manusia mulia dari keluarga suci Ahlul Bait Rasulullah Saw ini dibesarkan dan dididik oleh kakeknya, Imam Ali, dan ayahnya, Imam Husein hingga meraih derajat keilmuan dan makrifat yang tinggi. Hari kelahiran Ali Akbar di Iran dirayakan sebagai Hari Pemuda dan disambut dengan suka cita.
Beliau dilahirkan pada 11 Sya'ban 33 Hijriah (653 M) di kota Madinah, dan syahid pada 10 Muharram tahun 61 H (681) dalam peristiwa Asyura di Karbala. Sang ayah menuturkan tentang putranya ini, "Pemuda ini [Ali Akbar] dari sisi fisik, akhlak dan perilakunya mirip dengan Nabi Muhammad Saw dibandingkan orang lain. Oleh karena itu, ketika rindu bertemu Rasulullah kami memandanginya,".
Sheikh Abbas Qumi dalam kitab "Muntahi al-Amal" menulis tentang karakteristik Ali Akbar. Ulama besar Syiah ini dalam kitabnya menjelaskan, "Beliau pemuda yang tampan rupanya, baik tutur katanya. Dari sisi fisik dan perilaku mirip dengan Rasulullah Saw. Keberanian dan perjuangannya mewarisi kakeknya, Ali bin Abi Thalib. Beliau mengumpulkan seluruh kesempurnaan dan kemuliaan,".
Ali Akbar Ali Akbar adalah sebuah cabang dari pohon yang baik dan akar yang suci serta pewaris semua kebaikan keluarga Nabi Saw. Sifat dan perilakunya merupakan sebuah kebanggaan dan teladan untuk pemuda zaman sekarang, setiap orang yang merdeka akan terpanggil untuk meneladani Ali Akbar. Para pembenci sekali pun mengakui kemuliaan pemuda ini.
Bahkan, Muawiyah pun mengakui keagungan Ali Akbar, pemuda ksatria yang paling mirip dengan Rasulullah Saw. Dalam sebuah perjamuan di istana bersama orang-orang dekatnya, Muawiyah bertanya, "Siapa orang yang paling layak sebagai pemimpin masyarakat?" "Anda wahai tuan," jawab mereka. Tapi Muawiyah berkata, "Bukan, orang yang paling layak untuk memimpin pemerintah adalah Ali bin Husein bin Ali, kakeknya adalah Rasulullah. Terhimpun dalam dirinya keberanian Bani Hasyim, kedermawanan Bani Umayyah, dan ketampanan Kabilah Tsaqifa."
Lembaran sejarah mencatat peran besar Ali Akbar dalam membela ajaran Islam bersama keluarga Ahlul Bait, terutama ayahnya, Imam Husein. Meskipun usianya tidak lebih dari 28 tahun, tapi peran beliau begitu besar dalam membela ajaran Islam yang diselewengkan oleh penguasa ketika itu. Sebagai pemuda Muslim, Ali Akbar mempertaruhkan seluruh hidupnya demi membela Islam yang diperjuangkan bersama ayahnya, Imam Husein.
Dalam budaya Islam, pemuda merupakan aset yang bernilai dan memiliki kedudukan yang tinggi. Pemuda pantas mendapat penghormatan dan perhatian karena kesucian jiwa, ketulusan, dan keberanian. Berbagai riwayat Ahlul Bait menyebut pemuda lebih dekat dengan alam malakut dari orang lain dan menurut sabda Rasulullah Saw, "Keutamaan pemuda yang tumbuh dalam ibadah atas orang tua yang beribadah di masa tuanya, sama seperti keutamaan para nabi atas masyarakat lain."
Para sosiolog menilai pertumbuhan dan kemajuan sebuah masyarakat dari berbagai aspek budaya, sosial, dan ekonomi bergantung pada pemahaman mereka tentang generasi muda dan perhatian mereka terhadap kaum muda. Para sosiolog percaya bahwa jiwa yang lembut dan hati yang masih muda merupakan manifestasi dari semangat dan keceriaan. Jika semangat ini dibarengi dengan akhlak yang mulia dan ketaatan, maka kebahagiaan generasi muda akan hadir dan keselamatan masyarakat juga akan terjamin.
Generasi muda tentu saja ingin mencari sebuah teladan yang baik untuk mencapai kebahagiaan tersebut. Jika masih ada kontradiksi antara ucapan dan perbuatan pada diri seseorang, maka kaum muda tidak akan percaya padanya dan tidak akan mengikuti pemikiran dan ide orang tersebut.
Ali Akbar Dalam sejarah kebangkitan Islam, kita mengenal banyak tokoh dan suri tauladan yang layak dijadikan panutan. Sosok yang lebih bertakwa, lebih bersih, dan lebih sempurna tentu saja memiliki lentera hidayah yang lebih terang untuk generasi muda. Ali Akbar bin Husein adalah salah satu panutan yang abadi untuk hari ini dan masa depan.
Ia adalah pribadi pemberani dan pembela kebenaran, ia adalah pemuda yang mulia, cerdas dan pemaaf dan masih banyak sifat-sifat terpuji lain yang melekat padanya. Sifat-sifat mulianya sudah sangat populer di kalangan teman dan musuh dan bahkan jauh sebelum peristiwa Karbala terjadi.
Ali Akbar dikenal dermawan, lembut, dan ramah dalam kehidupan sehari-harinya. Ia berkumpul bersama kaum fakir-miskin ketika mereka dipandang sebelah mata oleh orang-orang kaya dan para pecinta dunia. Beliau makan bersama-sama orang miskin dan berbagi kenikmatan dengan mereka. Kematangan pikiran dan kekuatan jiwa membuatnya tidak pernah merasa takut terhadap penguasa.
Putra Imam Husein ini adalah simbol akhlak mulia, rendah hati, keceriaan, dan penuh semangat, dan ia tidak pernah meninggalkan adab terutama di hadapan orang tuanya. Ia telah mengajarkan kaum muda rahasia keabadiaan yaitu berpihak pada kebenaran, berakhlak mulia, dan rendah hati.
Kesantunannya di hadapan sang ayah bukan semata-mata karena ikatan emosional, tapi ia memandang ayahnya sebagai imam dan panutannya. Imam Husein as juga mencintai anaknya bukan hanya selaku ayah, tapi ia adalah seorang pemuda yang mulia, suci, dan bertakwa dan oleh sebab itu, Imam Husein memuliakannya.
Keberanian Ali Akbar dan kearifannya dalam beragama serta kematangan dalam berpolitik, termanifestasi selama perjalanan ke Karbala khususnya pada hari Asyura. Ia adalah pemuda pertama dari Bani Hasyim yang meminta izin dari Imam Husein untuk maju ke medan perang. Imam pun memberi izin kepadanya dan ia langsung menuju medan perang.
Perjuangan dan pengorbanan Ali Akbar hingga kini masih relevan dijadikan sebagai teladan para pemuda Muslim di era globalisasi ini. Para pemuda saat ini berada dalam kepungan informasi yang dengan mudah mereka akses. Tidak sedikit dari pemuda Muslim sibuk tenggelam dengan informasi keliru, tidak penting, bahkan menyesatkan di media sosial dan melupakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga dan bagian dari masyarakat.
Kini saatnya para pemuda meneladani jejak Ali Akbar di hari pemuda ini dengan memperbaiki akhlaknya dan mempersembahkan karya terbaiknya untuk keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya.
Wajah Dunia Setelah Pandemi Corona (2-Habis)
Umat manusia sedang menghadapi sebuah krisis besar setelah wabah virus Corona (COVID-19) menyebar secara cepat di dunia. Wabah ini bisa disebut sebagai sebuah tragedi global.
Mayoritas warga dunia percaya atau beranggapan bahwa virus Corona akan bertahan untuk waktu yang lama dan ini menjadi sebuah mimpi buruk bagi masyarakat dunia.
Di setiap krisis dan konflik bersenjata di dunia, sebagian dari masyarakat dunia terpukul secara ekonomi, tapi belum pernah merasakan dampak seperti yang diciptakan oleh wabah Corona, setidaknya dalam tujuh dekade terakhir (setelah Perang Dunia II).
Dalam satu bulan terakhir dan setelah jutaan orang berada dalam karantina, ekonomi global secara perlahan bergerak menuju resesi. Meskipun negara-negara mengambil langkah antisipasi, namun para pakar ekonomi memperkirakan resesi ekonomi terburuk akan terjadi dalam sejarah modern dan bahkan lebih buruk dari era resesi besar 2009.
Di samping dampak politik dan sosial akibat pandemi Corona, hal yang tak kalah penting adalah prospek ekonomi global setelah berakhirnya wabah ini. Banyak pakar dan analis percaya bahwa dengan melihat dampak buruk Corona terhadap ekonomi dunia terutama kelompok G20 – bahkan setelah berakhirnya wabah ini – maka ekonomi negara-negara serta sistem perekonomian dan perdagangan internasional akan mengalami perubahan fundamental, dan hal ini mulai terlihat dari sekarang.
Pandemi global COVID-19 diperkirakan berdampak jauh lebih buruk bagi investasi langsung di seluruh dunia daripada yang dikhawatirkan selama ini. PBB memperingatkan bahwa penyebaran cepat virus Corona akan memicu penurunan dramatis dalam investasi langsung secara global.
Konferensi PBB tentang Perdagangan, Investasi, dan Pembangunan (UNCTAD) dalam laporannya menyatakan investasi langsung global diperkirakan 40 persen lebih rendah dari proyeksi pada Januari 2020, di mana sebelumnya diharapkan tumbuh hingga lima persen tahun ini.
"Sekarang terbukti bahwa upaya mitigasi pandemi dan lockdown di seluruh dunia berdampak buruk pada semua sektor ekonomi, terlepas dari hubungan mereka dengan jaringan pasokan global. Konsensus mengatakan bahwa kebanyakan – jika tidak kita katakan semua – ekonomi utama akan mengalami resesi yang parah," kata laporan UNCTAD.
Penyebaran cepat virus Corona di Eropa dan Amerika Serikat, menunjukkan bahwa proses ini akan memberikan pukulan yang sangat besar terhadap struktur politik, sosial, ekonomi, industri, dan perdagangan Barat.
Ilustrasi pasar saham.
AS – sebagai pemimpin Barat – akan menderita lebih parah dari yang lain, terlebih penyebaran COVID-19 di negara itu, telah menyingkap kelemahan kinerja pemerintahan Trump dalam mengelola krisis, kerentanan ekonomi AS, dan ketidakefektivan sistem kesehatan mereka.
Ekonomi AS akan menghadapi tekanan jangka panjang di tengah pandemi Corona dan mendorong lonjakan angka pengangguran hingga 20 persen. Negara-negara Barat – meskipun menguasai banyak kekayaan serta menikmati kemajuan ilmiah dan keamanan – sepertinya akan takluk di hadapan sebuah musuh yang tak pernah terbayangkan yaitu virus Corona.
Pandemi ini mendorong negara-negara bahkan Uni Eropa – sebagai salah satu pelopor perbatasan terbuka antar-anggota – untuk menutup perbatasannya. Namun, sebagian pakar percaya penutupan perbatasan tidak boleh berlangsung lama.
Jika negara-negara berhasil mengontrol virus Corona di dalam wilayahnya dan kemudian menerapkan protokol baru untuk mencegah masuknya kembali Corona, maka langkah ini secara praktis akan menciptakan banyak hambatan bagi perdagangan bebas.
Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyatakan bahwa dunia akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih dari pandemi virus Corona, dan banyak ekonomi besar dunia akan jatuh ke dalam resesi selama beberapa bulan mendatang.
Sekretaris Jenderal OECD, Angel Gurria mengatakan, "Goncangan ekonomi yang diciptakan oleh wabah Corona tercatat lebih besar daripada krisis keuangan 2008. Bahkan jika kita tidak menyaksikan resesi di seluruh dunia, kita akan melihat tidak adanya pertumbuhan atau pertumbuhan negatif di banyak negara, termasuk beberapa ekonomi besar. Jadi, tahun ini kita tidak hanya mencatat pertumbuhan yang rendah, tetapi juga membutuhkan waktu lebih lama untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi di masa depan."
Pada dasarnya, kekhawatiran terbesar masyarakat dunia adalah efek jangka panjang dari pandemi Corona. Sebagian besar analis ekonomi memperkirakan bahwa upaya pengendalian wabah Corona termasuk social distancing akan mengurangi banyak kegiatan ekonomi.
Jadi, ekonomi dunia pasti akan mengalami resesi yang belum pernah terjadi sebelumnya, tentu saja sekarang sedang menimpa Amerika. Situasi yang lebih buruk akan terjadi di negara-negara berkembang.
Laporan internasional menunjukkan bahwa pasar negara-negara berkembang membutuhkan sekitar 2,5 triliun dolar. Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), sejauh ini 80 negara telah mengajukan permintaan pinjaman darurat dari lembaga ini.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri AS dan dosen Universitas Harvard, Nicholas Burns menuturkan, "Pandemi COVID-19 merupakan krisis global terbesar abad ini. Tingkat keparahan dan skala krisis ini sangat luas. Krisis finansial dan ekonomi saat ini bisa melampaui resesi besar 2008-2009. Setiap krisis dapat menciptakan goncangan yang secara permanen mengubah sistem internasional dan perimbangan kekuasaan."
Sebagian analis dan pakar ekonomi dunia berspekulasi tentang kondisi ekonomi global dan ekonomi negara-negara pada periode setelah berakhirnya wabah Corona, yang mencakup berbagai masalah.
Dunia akan menyaksikan terbentuknya beberapa aliansi dan organisasi perdagangan dan ekonomi baru. Di sisi lain, dunia juga menyaksikan bubarnya beberapa organisasi perdagangan yang ada saat ini.
Peran ekonomi pemerintah diprediksi akan meningkat dengan alasan memanajemen dan mengontrol dampak buruk dari pandemi Corona di dunia. Negara-negara dunia akan lebih fokus untuk menata ekonomi di dalam negeri dan mengembangkan ekonomi nasional.
Evakuasi pasien Corona di Amerika.
Berbagai sektor ekonomi di tingkat nasional dan dunia diperkirakan akan sangat terpukul, termasuk industri transportasi, industri pariwisata, dan industri konsumen, di mana akan menghadapi tantangan serius untuk mempertahankan bisnisnya.
Resesi ekonomi yang dialami dunia akan memukul sektor energi termasuk minyak, gas, dan industri terkait dalam waktu dekat. Saat ini harga minyak mencatat penurunan tajam yang dipicu oleh lesunya permintaan di pasar dunia, karena pandemi Corona dan lumpuhnya kegiatan ekonomi di berbagai belahan dunia, terutama Cina, Eropa, dan Amerika.
Tentu saja, penurunan tajam harga juga dipicu oleh perseteruan antara negara produsen besar minyak yaitu Arab Saudi dan Rusia. Prospek permintaan minyak telah anjlok di banyak negara karena merebaknya virus Corona dan kebijakan lockdown. Beberapa pihak memperkirakan bahwa permintaan minyak akan turun antara 10 hingga 20 juta barel per hari.
Seiring mewabahnya Corona, sebagian industri besar mengalami penurunan produksi atau berhenti total, sementara industri kecil akan memiliki lebih banyak peluang untuk tumbuh. Meski demikian, para pekerja paruh waktu dan buruh telah kehilangan pekerjaan mereka untuk sementara waktu, dan ini akan meningkatkan tekanan pada pemerintah untuk memenuhi setidaknya sebagian dari kebutuhan mereka.
Kebijakan lockdown dan pembatasan pergerakan telah mendorong pertumbuhan bisnis online dan kegiatan ini pada akhirnya akan menjadi sebuah budaya bisnis. Pembatasan lalu lintas dan himbauan untuk tetap di rumah, secara drastis telah meningkatkan pemakaian internet di dunia dan ini akan berubah menjadi sebuah perilaku permanen bagi banyak orang.
Mengingat pandemi Corona masih berlanjut dan dengan tujuan memangkas biaya ekonomi, politik dan sosial, pemerintah perlu memperkuat infrastruktur komunikasi untuk kegiatan ekonomi, perkantoran, pendidikan, jasa, keuangan, perbankan, dan asuransi.
Pemerintah harus berusaha mengubah ancaman virus Corona menjadi peluang untuk meningkatkan produktivitas, melakukan desentralisasi dari kota-kota padat, mendesentralisasi industri, merampingkan birokrasi, dan memperkuat e-government.
Wajah Dunia Setelah Pandemi Corona (1)
Wabah virus Corona (COVID-19) yang terdeteksi pertama kali di kota Wuhan, Cina pada November 2019, dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Rutinitas kehidupan di negara-negara terganggu dan menciptakan masalah serius di bidang ekonomi, sosial, dan politik.
Penyebaran virus Corona dipandang sebagai krisis terburuk setelah pandemi wabah Flu Spanyol pada 1918 dan akan membawa efek besar pada tren global, sehingga periode setelah berakhirnya wabah ini dapat disebut sebagai era pasca Corona.
Manusia belum pernah menyaksikan penyakit dengan tingkat penyebaran secara cepat di tingkat global. Dunia sekarang menghadapi pengalaman yang belum pernah ada dalam 100 atau 200 tahun terakhir dan ini telah mempengaruhi semua sektor.
Dengan mewabahnya COVID-19 di era globalisasi, revolusi komunikasi dan informasi, serta interkoneksi negara dan blok-blok regional satu sama lain, dunia sekarang menyaksikan sebuah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini dapat disebut sebagai periode Corona.
Saat ini hal yang menjadi perhatian para pemikir dan pakar internasional adalah tren dunia setelah berakhirnya Corona, yang mulai menampakkan dirinya di berbagai ranah politik, sosial, ekonomi, dan kancah internasional. Dalam pandangan mereka, dunia pasca-Corona akan sangat berbeda dari sebelumnya.
Menurut Sekjen Hizbullah Lebanon Sayid Hassan Nasrallah, efek dari wabah virus Corona lebih besar ketimbang dampak dari Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Lebih jauh lagi, dengan krisis ini, tatanan dunia baru dapat muncul, karena apa yang terjadi telah menerpa seluruh dunia, dan sekarang kita menghadapi perdebatan budaya, agama, ideologis, dan filosofis. Kita tidak tahu apakah Amerika Serikat akan tetap bersatu? Atau apakah Uni Eropa akan tetap ada?
Pandemi Corona telah mengganggu kehidupan normal dan roda perekonomian negara-negara serta ekonomi global. Wabah ini juga telah menyingkap tingkat kesiapan dan kesigapan pemerintah dalam menghadapi krisis. Pandemi ini tampaknya akan mengarah pada perubahan permanen terhadap tren saat ini di bidang kekuatan politik dan ekonomi.
Situasi politik dan sosial dunia pasca Corona akan memiliki banyak perbedaan dengan kondisi saat ini. Pada dasarnya, wabah COVID-19 telah mempengaruhi semua lini kehidupan sosial manusia.
Sebenarnya krisis saat ini menuntut kerja sama regional dan internasional, tapi negara-negara dunia memilih pendekatan internal dalam menyikapi wabah ini. Langkah ini secara perlahan memperlebar jurang pemisah antar-negara dan meningkatkan divergensi di tengah blok-blok regional seperti Uni Eropa.
Ilustrasi virus Corona COVID-19.
Dosen hubungan internasional di Universitas Harvard, Amerika, Stephen Walt menuturkan pandemi Corona akan memperkuat peran pemerintah dan nasionalisme. Pemerintah – dengan semua bentuknya – mengambil tindakan darurat untuk mengelola krisis dan kemungkinan akan terus melakukannya demi kepentingan mereka sendiri setelah berakhirnya krisis ini.
Sebuah realitas pahit di Eropa – setelah berakhirnya wabah Corona – mulai terlihat bagi banyak warga Eropa, di mana negara-negara Eropa bergerak sendiri-sendiri dan tidak mengambil tindakan kolektif dalam melawan wabah COVID-19 ini.
Dengan demikian, motto Uni Eropa yaitu Bersatu dalam Keragaman dan tuntutan kolektif yaitu kerja sama untuk menciptakan perdamaian dan kesejahteraan, akan menjadi perhatian selama berpotensi merusak keamanan nasional dan pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota.
Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan bahwa proyek-proyek utama Uni Eropa, termasuk zona tanpa-perbatasan (Schengen), bisa berada dalam bahaya jika negara-negara gagal menunjukkan solidaritas.
"Yang dipertaruhkan adalah kelangsungan hidup proyek Eropa. Risiko yang kita hadapi adalah kematian Schengen," tegas Macron selama pertemuan via video conference dengan para pemimpin Eropa.
Pandemi virus Corona juga menyingkap kelemahan kinerja pemerintah di banyak negara dalam mengelola krisis, terutama pemerintahan Trump di Amerika.
Di awal penyebaran COVID-19 di AS, Presiden Donald Trump meremehkan wabah virus ini dan tidak mengambil tindakan yang cukup untuk mencegah penyebarannya. AS sekarang mencatat kasus tertinggi infeksi virus Corona di dunia. Hal ini telah mengurangi kepercayaan publik kepada pemerintah khususnya di AS dan Eropa. Ini juga akan berpengaruh pada legitimasi pemerintah di masa depan.
Di saat yang sama, dapat diprediksi bahwa periode setelah wabah Corona, masalah privasi semakin tidak diperhatikan karena pengawasan pemerintah terhadap dunia maya akan meningkat.
Kelompok hak digital nirlaba, Electronic Frontier Foundation (EFF) dalam sebuah pernyataan mengatakan, "Pemerintah menginginkan pengawasan yang luar biasa untuk mengatasi COVID-19. Wewenang ini berpotensi melanggar privasi kita, mengurangi kebebasan berekspresi, dan sangat memengaruhi kelompok-kelompok yang rentan."
Pandemi Corona akan mempercepat kemungkinan runtuhnya demokrasi Barat di Eropa, yang sudah memikul banyak beban. Dalam beberapa tahun terakhir, Eropa menyaksikan krisis pengungsi, pertumbuhan kubu sayap kanan, penuaan penduduk, dan krisis ekonomi. Persoalan ini telah menggoyahkan fondasi Eropa yang bersatu.
Kelemahan Uni Eropa dalam menangani secara efektif wabah virus Corona, berpotensi menciptakan kerusuhan sosial di benua itu dan memberikan sinyal dari kehancuran integrasi Eropa. Situasi ini akan membuat partai-partai anti-Uni Eropa berkuasa. Jadi, bukan lagi sebuah ilusi jika suatu hari nanti politisi sayap kanan seperti Marine Le Pen berkuasa di Prancis atau Mateo Salvini di Italia.
Perkembangan ini akan melemahkan integrasi di Uni Eropa dan setelah Inggris keluar dari organisasi itu, beberapa negara lain khususnya Italia juga berpotensi meninggalkan Uni Eropa setelah berakhirnya pandemi Corona.
Di Amerika juga seperti Eropa, pandemi Corona akan mempercepat sentralisasi kekuasaan di tangan pemerintah federal dalam mengendalikan dampak ekonomi dan sosial akibat wabah COVID-19. Menurut beberapa analis Amerika, ini akan mengarah pada berlanjutnya kekuasaan Trump.
Pada 2016, Trump berhasil berkuasa di Amerika dengan slogan anti-imigran, dukungan untuk sayap kanan, serta kebijakan America First. Dia kemudian mengadopsi kebijakan sepihak dan anti-globalisasi, serta menarik diri dari perjanjian dan organisasi-organisasi regional dan internasional.
Namun, pandemi Corona semakin memperlihatkan kekacauan kebijakan dan pendekatan Trump. Salah satu pakar teori hubungan internasional, Joseph Nye mengatakan, "Virus Corona telah memperlihatkan kelemahan strategi keamanan nasional Trump, AS tidak dapat melindungi keamanannya dengan bertindak sendiri. Bahkan jika Amerika menang sebagai kekuatan besar, ia tidak dapat melindungi keamanannya dengan bertindak sendiri."
Namun Trump jika kembali terpilih sebagai presiden Amerika, kecil kemungkinan akan mengubah pendekatan dan kebijakannya. Padahal pendekatan ini akan semakin memperlemah peran global Amerika.
Menurut Wakil Direktur Institut Internasional untuk Studi Strategis, Kori N. Schake, Amerika tidak lagi dikenal sebagai pemimpin dunia. Krisis wabah Corona menunjukkan bahwa Washington telah gagal dalam ujian kepemimpinan global.
Di era pasca-Corona, kerja sama global kemungkinan akan melemah dan persaingan di antara kekuatan besar di kancah internasional akan meningkat. Wabah flu Spanyol pada 1918 tidak dapat mengakhiri rivalitas kekuatan besar, demikian juga dengan wabah COVID-19. Pada saat yang sama semangat globalisasi akan semakin melemah.
Sebagian pengamat percaya bahwa kurangnya soliditas dunia dalam merespon pandemi Corona adalah hasil dari pendekatan pemerintahan Trump serta semakin banyaknya pemimpin nasionalis dan populis di seluruh dunia.
Singkatnya, kombinasi dari virus mematikan, perencanaan yang tidak matang, dan kepemimpinan yang tidak kompeten, akan menempatkan umat manusia pada jalan baru dan mengkhawatirkan.
Ketua Dewan Hubungan Luar Negeri AS, Richard Haass menuturkan, "Dampak dari pandemi Corona adalah banyak negara akan kesulitan untuk pulih dari krisis, bertambahnya jumlah pemerintah yang tidak berdaya dan lemah di dunia, memperburuk hubungan antara Cina dan AS, memperlemah proses integrasi Eropa, memperbaiki situasi kesehatan global, dan melemahkan semangat globalisasi."
Anggota DPR Irak: Kabinet al-Zurufi Tidak Akan Mendapat Mosi Kepercayaan
Anggota DPR Irak menyatakan bahwa kabinet Adnan al-Zurufi tidak akan mendapat suara mosi kepercayaan dari parlemen karena penolakan koalisi al-Fath, Negara Hukum dan gerakan politik Hikmah.
Menurut laporan IRIB, Burhan al-Ma'muri, anggota parlemen Irak menyatakan, "Koalisi al-Fath, Negara Hukum dan gerakan politik Hikmah sebagai kelompok berpengaruh di dalam parlemen Irak masih menolak Adnan al-Zurufi sebagai perdana menteri negara ini dan karena mereka menolaknya, kemungkinan besar kabinetnya juga tidak akan mendapat suara di parlemen."
Parlemen Irak
"Masih belum ada konsensus mengenai nama-nama yang telah diusulkan sebagai pengganti al-Zurufi dan jika al-Zurufi mengundurkan diri, nama-nama kandidat baru akan diumumkan oleh kelompok-kelompok Syiah. Tetapi sekarang al-Zurufi belum memutuskan untuk mengundurkan diri dan terus bekerja untuk membentuk pemerintahan," tambah wakil DPR Irak ini.
Sebelumnya Fraksi Badar di Parlemen Irak kembali mengritik Adnan al-Zurufi sebagai perdana menteri.
Sementara itu, Duta Besar AS untuk Baghdad Matthew Tueller mengklaim bahwa parlemen Irak tidak memilih Adnan al-Zurufi dan kabinetnya akan memiliki konsekuensi serius bagi Irak.
Adnan al-Zurufi ditunjuk oleh Presiden Irak Barham Salih pada 17 Maret untuk membentuk kabinet baru, tetapi penunjukkan itu ditentang keras oleh beberapa kelompok Syiah.
Beberapa kelompok Syiah percaya bahwa al-Zurufi bukanlah sosok yang mandiri dan bergantung pada aktor asing, terutama Amerika Serikat.
Haniyeh dan Berri Bicarakan Pengungsi Palestina
Ketua Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) melakukan percakapan via telepon dengan ketua Parlemen Lebanon dan membicarakan pengaruh wabah virus Corona atas kondisi kamp-kamp pengungsi Palestina di Lebanon.
Menurut laporan Info Palestina, Ismail Haniyeh, Ketua Biro Politik Hamas dalam percakapan telepon dengan Nabih Berri, Ketua Parlemen Lebanon menekankan perlunya menyediakan peralatan medis dan barang saniter yang dibutuhkan untuk para pengungsi Palestina agar dapat menghadapi penyakit Corona.
Nabih Berri, Ketua Parlemen Lebanon
Ziyad al-Nakhalah, Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina dalam dialog via telepon dengan Mahmoud Abbas, Pemimpin Otorita Palestina menekankan pentingnya mengintegrasikan upaya dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kesehatan warga Palestina dan memerangi virus Corona serta tantangan lain yang dihadapi rakyat Palestina.
Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan, jumlah warga Palestina yang terinfeksi virus Corona mencapi 217 orang.
Cegah Corona; Yordania Turup Perbatasan hingga setelah Ramadhan
Menteri Kesehatan Yordania mengkonfirmasi penutupan perbatasan negara ini hingga setelah bulan suci Ramadhan.
Saad Jaber mengatakan, langkah ini ditempuh untuk melawan penyebaran wabah Corona sehingga departemen ini mampu mengalahkan krisis akibat pandemi ini.
"90 persen warga Yordania komitmen dengan instruksi pemerintah untuk mencegah penyebaran wabah Corona," papar Jaber.
Menurut laporan, sampai saat ini ditemukan 232 kasus positif Corona di Yordania.
PIJ Kritik Kebungkaman Masyarakat Internasional terhadap Kejahatan Israel
Angota Biro Politik Gerakan Islam Palestina (PIJ) memprotes kebungkaman masyarakat internasional terhadap kejahatan rezim Zionis Israel terhadap tawanan Palestina.
Yusef al-Hasayneh seraya merilis statemen menyatakan, masyarakat internasional masih menutup matanya atas kejahatan Zionis terhadap hak tawanan Palestina.
Al-Hasayneh menilai kebungkaman berbagai lembaga internasional dan HAM atas berlanjutnya penangkapan tawanan Palestina dan ketidakpedulian lembaga ini terhadap isu kesehatan mereka mengingat maraknya wabah Corona di dunia adalah sebuah kejahatan terhadap peran kemanusiaan organisasai tersebut.
"Kelalaian ini sama halnya dengan mengabaikan nilai-nilai moral dan tidak mengindahkan tolok ukur keadilan, HAM dan kebenaran," paparnya.
Sementara itu, Juru bicara pusat riset tahanan Palestina, Riyad Al-Ashqar Sabtu (04/04/2020) menyatakan, kantor penjara Israel sepenuhnya sepenuhnya menutupi kondisi tawanan Palestina yang mendekam di penjara-penjara rezim ini.
Saat ini tercatat 5700 warga Palestina dijebloskan di penjara Israel dan di antara jumlah tersebut terdapat 250 anak-anak dan 47 perempuan.
Departemen Peperangan Israel Ingin Rebut Otoritas Tangani Corona
Friksi antara Departemen Peperangan Israel dan Departemen Kesehatan terkait mekanisme penanggulangan wabah Corona semakin sengit.
Seperti dilaporkan Times of Israel, Menteri Peperangan Israel Naftali Bennett seraya mengkritik kinerja Departemen Kesehatan rezim ini menuntut supaya mendapat kendali penanganan wabah ini.
"Saat ini kita tengah berada di medan pertempuaran biologis dan militer serta Departemen Keamanan memiliki pengetahuan tentang misi seperti ini," papar Bennett.
Di sisi lain, militer Israel mengumumkan, Nadav Padan, kepala komando pusat militer Israel tengah dikarantina karena melakukan kontak dengan pasien Corona.
Menurut pengumuman Depkes Israel, jumlah penderita Corona di bumi Palestina pendudukan mencapai 8.018 orang.
PM Pakistan Perintahkan Kegiatan Normal Dapat Dimulai
Perdana menteri Pakistan telah memerintahkan dimulainya kembali kegiatan di sektor perumahan, pertanian dan industri dalam upaya untuk mengatasi kekurangan pangan dan mengurangi lonjakan angka kemiskinan di negara itu.
Menurut laporan IRIB dari Islamabad, Imran Khan, Perdana Menteri Pakistan menekankan bahwa tantangan Corona di Pakistan lebih terfokus pada ekonomi dan kesehatan, dengancataan ini, bila kita menerapkan larangan bepergian di negara ini, mungkin saja jutaan orang akan meninggal dunia.
"Virus Corona telah berdampak negatif pada ekonomi di seluruh dunia, bahkan di negara-negara kaya seperti Amerika Serikat, sehingga tidak diperbolehkan untuk terus menghentikan kegiatan ekonomi, karena itu akan membahayakan kehidupan warga Pakistan," tambah Imran Khan.
Imran Khan, Perdana Menteri Pakistan
Menurut PM Pakistan, konsekuensi dari penyebaran coronavirus di Pakistan bisa menjadi masalah serius, jadi penting untuk waspada.
Dalam hal ini, Kementerian Kesehatan Pakistan mengumumkan, dengan mencatat 161 kasus baru coronavirus, jumlah orang yang terinfeksi virus di negara itu telah mencapai 2.748.
Menurut laporan ini, sebagian besar kota-kota Pakistan saat ini terinfeksi dengan virus Covid-19, dan sejauh ini 41 orang telah meninggal karena virus Corona.
Jumlah tertinggi pasien penyakit virus Corona di Pakistan adalah di negara bagian Punjab, dan 1.072 pasien virus Corona telah diidentifikasi, dimana 11 orang di antaranya telah meninggal.
Pemerintah Pakistan berusaha mencegah penyebaran coronavirus yang tidak terkendali melalui karantina menyeluruh dan memaksa orang untuk tinggal di rumah.
Sekalipun demikian, dengant terus meningkatnya Corona di Pakistan telah membuat partai-partai politik oposisi mengritik keras cara penanganan krisis ini oleh pemerintah.
Partai-partai politik oposisi mendesak pemerintah untuk segera mengumumkan darurat militer. Tetapi pemerintah dari partai Tehreek-e-Insaf (PTI) masih enggan memberlakukan darurat militer di negara itu karena standar ekonomi dan kehidupan yang rendah.
PBB Serukan Konflik di Libya Dihentikan
Delegasi perwakilan PBB di Libya menuntut dihentikannya segera konflik dan bentrokan serta diterapkannya gencatan senjata di negara ini oleh semua pihak demi melawan wabah Corona.
Kantor Berita Xinhua melaporkan, delegasi perwakilan PBB di Libya Sabtu (04/04/2020) di statemennya bertepatan dengan peringatan satu tahun serangan Tentara Nasional Libya (LNA) pimpinan Khalifa Haftar ke Tripoli menyatakan, hasil dari serangan ini adalah bentrokan yang tidak perlu antara pasukan pemerintah rekonsiliasi nasional Libya dan pasukan Haftar serta rasa putus asa masyarakat atas masa tenang politik.
Masih menurut statemen delegasi ini, ribuan orang di Tripoli dan wilayah sekitarnya kehilangan tempat tinggal.
"Konflik dan bentrokan di Tripoli juga menghancurkan rumah warga, rumah sakit dan sekolah," tambah statemen tersebut.
Delegasi perwakilan PBB di Libya di statemennya juga memprotes berlanjutnya intervensi asing di krisis negara ini yang berujung pada eskalasi bentrokan.
Meski ada penyebaran wabah Corona dan tuntutan masyarakat internasional untuk menghentikan perang di berbagai negara, pihak-pihak yang bertikai di Libya masih melanjutkan serangannya pihak masing-masing.
Tentara Nasional Libya (LNA) pimpinan Khalifa Haftar dengan dukungan Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab dan sejumlah negara Barat melancarkan serangan ke Tripoli yang dikuasai pemerintah rekonsiliasi nasional Libya.




























