کمالوندی
Syiah Produk Amerika dan Produk Inggris Berbeda dari Syiah Hakiki
Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i: syiah yang dipropagandakan melalui media massa London dan Amerika dengan target memecah belah umat tidaklah berada di jalur Syiah yang sesungguhnya.
Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i di pertemuannya dengan para pengurus haji tahun ini mengatakan: Tokoh-tokoh Syiah seperti Imam Khumaini ra senantiasa menekankan persatuan umat Islam. Karena itu, syiah yang dipropagandakan melalui media massa London dan Amerika dengan target memecah belah umat tidaklah berada di jalur Syiah yang sesungguhnya.
Tapi kemudian muncul pertanyaan media massa apa yang dimaksud oleh pemimpin Revolusi Islam ini? Memang berapa tahun terakhir ini telah muncul berbagai media massa yang mengatasnamakan Syiah dan bermaksud memecah belah umat Islam. Berikut ini kami akan menyebutkan tiga di antanya:
1 Stasiun TV Ahle Bait
tv ahle bait
Sengaja kota suci Qom dipilih sebagai pusat pendirian stasiun ini dan nama suci Ahli Bait dipilih sebagai namanya. Orang Afgan bernama Hasan Allahyari yang menjadi direkturnya. Sejak awal lahirnya, stasiun TV ini menonjolkan perbedaan antar mazhab Islam, menekankan kelangsungan acara duka Fathimiyah yang diberi nama Acara Muhsiniyah, dan menyelenggarakan acara pesta Idul Zahra yang bersamaan dengan kematian Khalifah Umar bin Khathab.
Allahyari berusaha menyatakan bahwa stasiun TV ini didukung oleh para marjik taklid, tapi pernyataan ini ditolak tegas oleh mereka, bahkan Ayatullah Qurbanali Muhaqiq Kabuli marjik taklid Afganistan yang tinggal di Qom dan yang semula mendukung stasiun ini setahun setelah mengetahui substansinya yang memecah belah umat mengeluarkan pernyataan resmi tentang pentingnya persatuan umat Islam, dalam pernyataan itu dia menegaskan, ‘Kepada seluruh pengikut Ahli Bait as dan Syiah mereka yang sesungguhnya kami mohon dengan sangat untuk sama sekali tidak memberikan bantuan materi dan maknawi kepada stasiun TV parabola Ahli Bait. Menurut kami, pemberian bantuan syar’i –apa pun namanya- kepada stasiun ini atau stasiun-stasiun serupa dan acara lain –apa pun namanya- yang beraktivitas memecah belah umat bukan hanya tidak sah menurut syariat Islam, bahkan terhitung sebagai perbuatan membantu tindakan dosa dan melampaui batas.’
Pandangan Politik Allahyari
Supaya orientasi stasiun ini diketahui lebih jelas, ada baiknya kami menyebutkan pandangan politik Allahyari selaku direkturnya. Antara lain:
1٫ Mengobarkan perpecahan antara Syiah dan Sunni.
2٫ Mendukung slogan ‘Tidak Gaza tidak pula Libanon’ dengan dalih yang harus kita bebaskan terlebih dulu adalah Baqi’.
3٫ Menjauhkan orang-orang Syiah dari marjik-marjik taklid; menurut direktur stasiun TV ini, tidak ada satu pun dari marjik taklid Syiah yang adil. Bahkan berulangkali dia melecehkan Ayatullah Uzma Imam Khumaini, Ayatullah Uzma Khameneh’i, Ayatullah Uzma Makarim Syirazi, dan Ayatullah Uzma Behjat.
4٫ Menghantam Negara Republik Islam Iran dan menjatuhkan citranya sebagai pendukung Kaum Mustadafin menjadi musuh Ahli Bait!
5٫ Membanding-bandingkan pemerintah Imam Khumaini ra dengan pemerintahan Dinasti Abbasi.
6٫ Membela Amerika dengan alasan kebebasan berekspresi yang dijunjung di negeri ini.
Hasan Allahyari ini sendiri berdomisili di Amerika. Perlu diketahui bahwa di Amerika ada undang-undang stasiun TV parabola yang isinya apabila sebuah stasiun TV melakukan pelecehan terhadap hal-hal yang sakral menurut kelompok mazhab, pemikiran atau sosial tertentu maka stasiun itu dibubarkan dan surat izinnya dicabut. Tapi kenapa stasiun bernama Ahle Bait yang isinya tidak keluar dari pelecehan ini tidak dibubarkan dan dicabut surat izinnya?! Bukankah itu tidak lain karena stasiun TV ini menentang Republik Islam Iran dan memecah belah umat Islam?!
Keyakinan Atas Dasar Pemikiran Kelompok Hujatiyah
Keyakinan dan kata-kata Allahyari cocok sekali dengan pemikiran kelompok Hujatiyah. Menurutnya, orang-prang Syiah tidak boleh berbuat apa-apa –gerakan reformasi Islam, kesadaran Islam dan sebagainya-, melainkan mereka hanya boleh menanti secara pasif sampai kedatangan Imam Mahdi af.
Stasiun TV ini menyebarluaskan upacara pukul kepala dan badan dengan senjata tajam demi memperingati perjuangan Imam Husain as. Padahal, para ulama Syiah seperti Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i melarangnya.
Target stasiun TV ini adalah mengarahkan orang-orang Syiah pada pemikiran Kelompok Hujatiyah yang juga merupakan produk Inggris dan Amerika; karena itu inti aktivitasnya adalah mencaci maki Ahli Sunnah, bahkan mengelurkan fatwa hukuman mati untuk orang-orang sunni. Sekarang pun kita dapat menyaksikan berbagai pelecehan dan penghinaan dari pihak Allahyari dan stasiun TV-nya yang diberi nama suci Ahli Bait. Dengan cara ini dia ingin memecah belah antara saudara muslim Syiah dan Ahli Sunnah.
Stasiun Produk Gedung Putih
Berapa waktu lalu, Hujatul Islam Nabawi deputi Badan Tablig Hauzah Ilmiah Qom membeberkan data-data yang membuktikan aktivitas Amerika di balik Stasiun TV Ahle Bait, dia mengatakan, ‘Tujuan Stasiun yang mengatasnamakan pembelaan terhadap Syiah dan penyebaran ajaran Ahli Bait as ini adalah pencitraan buruk Mazhab Syiah.’
Karena sensitivitas yang terus meningkat terhadap stasiun TV ini, pengadilan istimewa Ruhaniah di Qom memutuskan hukum penyegelan kantor stasiun TV itu. Keputusan ini menyebabkan para aktor di balik stasiun ini mencaci maki ulama Islam dan pula Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i. Mereka menyebut sistem pemerintahan Islam Iran sebagai pendukung Ahli Sunnah dan mengklaimnya sebagai sistem yang hendak melemahkan Mazhab Syiah Ahli Bait as. Bersamaan dengan itu, tokoh-tokoh Kelompok Hujatiyah menggugat kebebasan kelompok Ahli Sunnah untuk bertindak di Iran dan menuntut dukungan terhadap stasiun TV Ahli Bait.
2٫ Stasiun TV Salaam; Islam Minus Politik & Politik Minus Islam
Berapa tahun yang lalu, jarang sekali orang yang menyeriusi bahaya Islam Amerika yang bersembunyi di balik gaun tablig Syiah dan menyusup di tengah barisan pengikut Ahli Bait as. Tapi sekarang, setelah tampaknya jalinan erat antara Stasiun ini dengan gelombang politk dan anti keamanan, jarang orang yang tidak mengerti bahwa stasiun TV Salaam bekerja untuk politik emperialis anti Islam. Lebih lagi hari-hari ini para pendukung sekularisme telah terjun langsung ke kancah politik dan menentang keras Republik Islam.
Direktur stasiun TV Salaam membentuk jaringan atas nama ‘Kelompok Ruhaniawan Tradisional Iran Kontemporer’ dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan keras yang mendukung kerusuhan-kerusuhan di Republik Islam Iran.
Dana
Ketika setiap hari kita mendengar berita baru tentang pembantasan transfer dana bagi orang-orang Iran di seluruh dunia, tapi stasiun TV Salaam malah mengumumkan sekian banyak nomor rekening di negara-negara seperti Amerika, Jerman, Australia, dan Dubai untuk menampung bantuan dana dari para pemirsanya.
Stasiun TV ini disiarkan melalui Satelit Hotbird yang tentu saja menuntut biaya sewa yang tinggi. Ditambah lagi dengan biaya pendirian dan pengelolaannya sehingga mencakup seluruh benua, itu pun dengan iklan yang sangat terbatas. Karena itu, sudah pasti stasiun TV Salaam ini memiliki sumber dana yang jauh lebih dari sekedar bantuan para pemirsa. Dan sampai sekarang, direktur dan administratornya tidak memberikan penjelasan yang transparan mengenai hal ini.
Bukan hal yang sulit untuk diketahui bahwa dolar Amerikalah yang mendanai stasiun TV Salaam dan menggaji pekerjanya. Hal itu diperkuat dengan tidak diterapkannya undang-undang pembubaran stasiun TV yang memprovokasi pertikaian antar mazhab dan melecehkan hal-hal yang sakral menurut mazhab.
Pengelabuan
Berapa waktu lalu, orang-rang dari kelompok Hujatiyah yang punya pengaruh pada stasiun TV Salaam mengimbau direkturnya untuk menambah tingkat akseptabilitas atasiun ini di tengah masyarakat dengan cara mendapatkan pernyataan dukungan dari marjik-marjik tradisional, bukan dari marjik-marjik politik. Hal itu karena di tengah masyarakat terkenal bahwa stasiun TV ini ditentang oleh para marjik. Itulah kenapa kemudian acara-acara TV ini sering menyebut nama marjik dan ruhaniawan terkenal.
Berapa tahun terakhir juga kita menyaksikan stasiun ini senantiasa berusaha keras untuk memperkenalkan aksi pukul kepala dan badan dengan senjata tajam sebagai salah satu tradisi Islam, dan tentu saja acara seperti ini didukung oleh musuh-musuh Islam. Di salah satu acara itu, Muhammad Hidayati Direktur TV Salaam yang sekaligus merupakan ahli agama di Voice of Amerika mengatakan, ‘Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, ternyata aksi pukul kepala dan badan dengan senjata tajam ini mempunyai latar belakang yang kuat di dalam Al-Qur’an. Ruhaniawan palsu ini dengan cara memutarbalikkan ayat Al-Qur’an berusaha mengatasnamakan aksi itu sebagai ajaran Al-Qur’an.’
Tapi, begitu dangkal dan salah kaprahnya argumentasi Hidayati sampai-sampai ahli agama di kandang yang sama tidak tahan untuk diam diri dan tidak menggugatnya. Ahli agama itu bernama Mahdi Khalaji, ketika itu juga dia angkat suara menentang celotehan ruhaniawan palsu dari Washington DC itu seraya mengatakan, ‘Apa yang dikatakan oleh Hidayati betul-betul salah kaprah dan merupakan pemalsuan terhadap Al-Qur’an.’
Setelah itu, acara tetap digiring untuk menyebutkan aksi pukul kepala dan badan dengan senjata tajam sebagai tradisi tua kelompok Syiah dan faktor mentalitas keberanian serta pengorbanan, karena itu menurut acara tersebut aksi ini diperbolehkan oleh pemerintah Amerika untuk diselenggarakan di sana, sehingga orang-orang Syiah dengan mudah sekali melakukan aksi itu di jalan raya-jalan raya Amerika.
Sekularisme
Salah satu kriteria stasiun TV Salaam adalah penekanan terhadap sekularisme atau pemisahan agama dari politik dan sebaliknya. Di samping itu, ia juga senantiasa menyoroti dan menjunjung para marjik taklid yang sedikit banyak bergerak melawan Revolusi Islam Iran. Ditambah lagi dengan upayanya yang tidak kenal henti untuk mengobarkan perpecahan antar mazhab dan pelecehan terhadap Ahli Sunnah.
3 Stasiun TV Fadak; Syiah Versi Peleceh Ahli Sunnah
tv fadakDalam hal pecah belah umat untuk merebut kekuasaan, Inggris memang ahlinya. Salah satu yang dilakukannya adalah mempersiapkan seorang Syiah Dua Belas Imam dengan paras dan penampilan santri atau kiai yang sangat menarik, lalu menyediakan Husainiyah untuk dia di London dengan segenap fasilitas yang dibutuhkan seperti mimbar pidato, bahkan stasiun TV dan Hauzah Ilmiah yang berfungsi sebagai media penyebarannya atas nama Syiah Sejati dan musuh pertama Wahabi.
Yasir Yahya Abdullah Alhabib direktur stasiun TV Fadak lahir pada tahun 1977 jebolan Universitas Kuwait di jurusan ilmu politik. Masih muda sekali usianya, tiga tahun setelah mendirikan ‘Yayasan Khuddam Al Mahdi’ di Kuwait sikap-sikap radikalnya memaksa pemerintah Kuwait untuk menyegel yayasannya dan memenjarakan dirinya.
Tingkah laku sembrono pemuda ini ternyata menarik perhatian Inggris; secepat kilat mereka menjadikan penangkapan Alhabib sebagai pusat perhatian badan-badan resmi HAM di Inggris dan Amerika. Aparat Kuwait sendiri pasti terkejut kenapa badan-badan resmi HAM itu memilih kiai muda ini di antara sekian tahanan di sana, tapi daripada tambah ruwet persoalannya maka belum genap tiga bulan di penjara mereka telah membebaskannya.
Kiai muda bebas dari penjara dan langsung bersahabat dengan pihak-pihak terkait di Inggris. Tak lama kemudian dia mendapat suaka dan perlindungan dari Inggris dan seketika itu pula dia pergi ke utara negeri tersebut. Tidak butuh lebih dari dua tahun tinggal di sana dia sudah berhasil domisili di London dan mengembangluaskan kegiatannya secara pesat. Terbitlah surat kabar ‘shianewspaper’, berdirilah Hauzah Ilmiah bernama ‘Imamain Askariyain’, launchinglah stasiun TV satelit Fadak dan pada tahun 2010 yayasan dia di London dipindah-kembangkan menjadi Husainiyah Sayidus Syuhada’ dan disediakan kompleks baru untuk hauzah, kantor, media surat kabar, situs, dan stasiun TV Fadak untuknya.
Ruhaniawan muda inilah yang sekarang aktif sekali di mimbar-mimbar London berpidato atas nama Syiah untuk seluruh pemirsa di dunia demi kepentingan imperialisme modern.
Api Yang Menyasar Suni dan Membakar Syiah
Supaya lebih jelas, cukup kiranya tiga tahun kita mundur ke belakang; tepatnya pada Bulan Ramadan 1431 H, tanggal 17 bulan itu yang merupakan hari kematian wafatnya Siti Aisyah istri Nabi Saw, kiai muda bayaran Inggris ini menggelar majelis di Husainiyah dan berpidato di atas mimbar dengan segala macam caci maki serta kata kotor terhadap istri nabi tersebut.
Setelah menyebutkan alasan-alasan busuknya untuk membuktikan fitnah kemunafikan dan kepestaporaan istri nabi itu, dia mengakhiri pidatonya dengan seruan strategis! seraya berkata, ‘Perayaan hari kebinasaan Aisyah adalah keniscayaan agama; karena, hari kebinasaan Aisyah merupakan hari kemenangan Islam yang agung.’ Situs kiai bayaran Inggris ini dengan penuh bangga melaporkan bahwa stasiun TV Fadak menayangkan perayaan penuh berkah ini secara penuh. Di samping itu, di bagian atas dari layar penayangan acara itu tertulis slogan ‘Allahu Akbar … Aisyah Fin Nar’, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hal seperti ini terjadi. Di sela-sela acara juga dilantunkan kasidah-kasidah kegembiraan atas apa yang mereka sebut dengan kebinasaan pucuk kekafiran Aisyah dan rasa syukur atas kenikmatan lepas diri dari istri Nabi Saw ini.
Fatwa Pemadam Fitnah Perpecahan
Sebelumnya, Alhabib kiai muda bayaran Inggris ini menerbitkan buku yang isinya tiada lain penghinaan dan pelecehan terhadap Siti Aisyah istri Nabi Saw, dan saat itu pula ulama dan kaum Syi’ah mengecam keras buku itu. Khususnya ulama Syi’ah di Kuwait dan Saudi Arabia, seperti Syaikh Amri, Syaikh Husain Ma’tuq, Syaikh Hasan Shaffar, Syaikh Ali Alumuhsin, Syaikh Abduljalil Samin, Syaikh Namir, dan Sayid Hasyim Salman menunjukkan sikap dan reaksi keras terhadapnya.
Tindakan kiai muda bayaran Inggris ini berhasil merusak citra Mazhab Syiah di berbagai penjuru dunia, bahkan seperti yang dikatakan oleh Syaikh Abdulaziz Alusyaikh mufti awal Saudi Arabia perbuatan dia telah mencegah perkembangan Mazhab Syi’ah di negara-negara Arab dan Islam serta mengembalikan orang-orang yang cenderung kepada mazhab ini ke jalan yang sebelumnya.
Sikap kiai muda bayaran Inggris ini juga berhasil mengobarkan kebencian kelompok Wahabi terhadap kelompok Syiah, sehingga para ulama papan atas Syiah sendiri kewalahan dalam meredam kebencian itu dan menciptakan perdamaian. Maka pada akhirnya, para ulama Syiah Saudi Arabia mengirimkan surat pertanyaan fatwa kepada Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i tentang masalah ini, jawaban fatwa dia menjadi pemadam fitnah perpecahan yang lebih luas. Dia berfatwa:
“Pelecehan terhadap simbol-simbol saudara Ahli Sunnah, antara lain tuduhan terhadap istri Nabi Saw adalah haram. Hal ini juga mencakup istri-istri semua nabi, khususnya Sayidul Anbiya’ Nabi Agung Muhammad Saw”
Fatwa ini langsung tersebar melalui stasiun TV Aljazira, suratkabar Al Anba’ Kuwait, situs Muhith, suratkabar Al Safir Libanon, Al Hayat London, situs radio-televisi Mesir dan lain-lain.
Syaikh Al Azhar, Ahmad Thayib di dalam surat pernyataannya bahkan memberikan reaksi yang positif sekali terhadap fatwa Pemimpin Revolusi Islam ini, dia mengatakan:
“Dengan pujian dan kerelaan hati saya telah menerima fatwa penuh berkah Imam Ali Khameneh’i mengenai pengharaman terhadap penghinaan atas sahabat Nabi ra atau pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah Saw. Fatwa ini berasal dari pengetahuan yang benar dan kesadaran yang dalam tentang bahaya apa yang telah dilakukan oleh ahli fitnah, dan ini menunjukkan keinginan yang sungguh-sungguh akan persatuan umat Islam. Hal yang membuat fatwa ini menjadi lebih penting daripada yang lain adalah prihal kemunculan fatwa itu dari salah seorang ulama besar muslim dan salah satu marjik taklid Syiah yang paling besar bahkan yang sekaligus merupakan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Saya, berdasarkan posisi keilmuan dan mengingat tanggungjawab syariat yang harus dipikul, menyatakan bahwa upaya demi persatuan umat Islam adalah wajib, sedangkan perbedaan antara pengikut mazhab-mazhab Islam harus dibatasi pada tingkat perbedaan pendapat di antara ulama dan para ahli yang sekiranya tidak sampai membahayakan persatuan umat Islam. Karena Allah Swt berfirman, ‘Dan jangan kalian bertikai niscaya kalian jadi lemah dan kehilangan kekuatan, dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Infografis: Fase Kehidupan Sayidah Fatimah AS
Sayyidah Fatimah as yang termasyhur dengan gelar az-Zahra adalah putri Nabi Muhammad saw dari Sayyidah Khadijah al-Kubra as. Putri baginda Nabi saw ini juga merupakan istri Imam Ali as serta salah seorang dari lima orang yang termasuk dalam Ashabul Kisa’. Menurut Mazhab Ahlulbait, beliau termasuk salah seorang dari Empat Belas Manusia Suci. Imam Hasan al-Mujtaba, Imam Husain asy-Syahid, Sayyidah Zainab al-Kubra as dan Ummu Kulsum adalah putra-putri beliau.
Sayyidah Fatimah as lahir pada tanggal 20 Jumadil Akhir, tahun ke-5 Bi’tsah, yang terkenal dengan Tahun Ahqafiyah (tahun turunnya Surah Al-Ahqaf), Ada pula sejarahwan yang meyakini bahwa beliau dilahirkan pada tahun ke-2 Bi’tsah.
Pada tahun kesepuluh kenabian, yaitu tiga tahun sebelum peristiwa hijrah, ibunda beliau, Sayyidah Khadijah as wafat. Saat itu usia Sayyidah Fatimah masih kanak-kanak. Meski begitu, beliau memiliki sikap dan perilaku yang agung, khususnya dalam merawat dan membela ayahandanya, yaitu Nabi Muhammad saw. Berkat itulah, beliau digelari ayahandanya dengan sebutan “Ummu Abiha” (ibu dari ayahnya).
Selang beberapa bulan, beliau juga harus kehilangan paman ayahandanya, Abu Thalib, yang berperan sebagai pelindung utama ayahandanya dari ancaman kaum kafir Quraisy.
Beliau turut keluar di malam hari dari Mekah untuk hijrah ke Madinah bersama Imam Ali as dan sejumlah kaum wanita.
Pada bulan Shafar selepas Perang Badar tahun ke-2 H (623 M), Sayyidah Fatimah as menikah dengan Imam Ali as.
Pada hari ke-15 Ramadhan tahun 3 H, Sayidah Fatimah dikaruniai seorang putra pertama, Imam Hasan as.
Pada bulan 3 Sya’ban 4 H (625 M), lahirlah putranya yang ke-2, Imam Husain as. Pada 5 Jumadil Awal 5 H, lahir pula Sayyidah Zainab as.
Pada 28 Safar tahun 11 H (632 M), Nabi Muhammad saw wafat.
Pasa 3 Jumadil Akhir H (632 M), Sayyidah Fatimah az-Zahra as meninggal dunia, setelah beberapa waktu sebelumnya menahan sakit.
Jaya Suprana: Ternyata Kerajaan Islam Pertama Nusantara Adalah Perlak Yang Bermazhab Syiah
Akibat lama bermukim di Jawa Tengah, wajar jika saya agak Jawa Tengah sentris. Maka semula saya meyakini kerajaan Islam pertama di persada Nusantara adalah Kerajaan Demak di pesisir utara Jawa Tengah. Setelah membaca naskah tulisan sahabat saya yang tokoh sejarawan Indonesia, Hendri F Isnaeni di majalah Historia nomor 6 tahun 1/ 2012 saya tersadarkan bahwa anggapan saya keliru. Ternyata kerajaan Islam pertama Nusantara bukan Kerajaan Demak atau Kerajaan Agung Sejagat maupun Sunda Empire, apalagi The Empire Strikes Back. Tetapi, Kerajaan Perlak.
Sultan Alaiddin
Mas Hendri berkisah tentang makam Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah di Peureulak, Aceh Timur yang membuktikan bahwa kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Kerajaan Perlak.
Baca Kerajaan Perlak, Kerajaan Islam Indonesia yang Pertama
Menurut penjaga makam Sultan Alaiddin, Tengku Abdulla Muhammad, sebelum Islam masuk, daerah Perlak sudah berhubungan dengan para pedagang dari Arab, China, India, dan sebagainya. Maraknya perdagangan kayu Perlak, yang menjadi muasal nama daerah ini.
Sumber lain menyebut nama orang yang membuka daerah itu: Pho He La Sjahir Nuwiy. Selain berdagang, warga Perlak mempunyai berbagai keahlian mulai pertanian hingga taktik perang. Mereka juga berdakwah dan menikah dengan penduduk lokal.
Seorang pendakwah bernama Sayid Ali Al-Muktabar, merupakan cucu Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dia menikah dengan putri kerajaan Perlak, Putri Makhdum Tansuri, melahirkan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah yang nantinya menjadi sultan pertama kerajaan Islam Perlak.
Samudra Pasai
Dari Perlak, pengaruh Syiah merambah Kerajaan Samudra Pasai yang didirikan pada 1042 oleh Meurah Giri, kerabat Sultan Mahmud Syah Johan Berdaulat dari Kerajaan Perlak yang menganut Sunni.
Meurah Giri jadi sultan pertama dengan gelar Maharaja Mahmud Syah. Keturunannya memerintah Pasai sampai 1210.
Pasca kematian Sultan Al-Kamil yang tak meninggalkan putra mahkota, terjadi perang saudara. Pada 1261 Meurah Silu yang merupakan keturunan Sultan Perlak, mengambil alih kekuasaan Pasai. Meurah Silu adalah seorang Islam sejak awal, bukan diislamkan kemudian. Akan tetapi Islamnya adalah Islam Syiah, yaitu mazhab yang berkembang di Perlak,” tulis Ahmad Jelani Halimi, sejarawan Universitas Sains Malaysia, dalam Sejarah dan Tamadun Bangsa Melayu.
Syiah
Berdasar masukan informatif sahabat saya yang mendirikan majalah Historia yang memperoleh anugrah MURI sebagai majalah sejarah pertama di Indonesia tersebut, saya memperoleh kesadaran bahwa kerajaan Islam tertua di persada Nusantara didirikan bukan oleh para penganut Sunni yang kini mayoritas di Indonesia namun justru oleh penganut Syiah.
Baca juga Jejak Spiritualitas Syiah di Nusantara
Bahwa hingga masa kini para penganut Sunni dan Syiah terbukti dapat hidup berdampingan secara damai di Indonesia pada hakikatnya merupakan sebuah suri teladan bagi seluruh masyarakat dunia.
Suri teladan bahwa perbedaan mazhab keagamaan sebenarnya sama sekali bukan alasan bagi umat manusia di planet bumi ini untuk saling mencurigai, saling membenci apalagi saling membinasakan.
*Tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di RMOL Bengkulu pada tanggal 19 Januari 2020 dengan judul Suri Teladan Perdamaian
Sayidah Fathimah As, Tumbuh Di Rumah Wahyu
Sayidah Fathimah as hidup dan tumbuh besar di haribaan wahyu Allah dan kenabian Muhammad saw. Beliau dibesarkan di dalam rumah yang penuh dengan kalimat-kalimat kudus Allah Swt dan ayat-ayat suci Al-Quran.
Acapkali Rasulullah saw melihat Fathimah masuk ke dalam rumahnya, beliau langsung menyambut dan berdiri, kemudian mencium kepala dan tangannya.
Pada suatu hari, Umul Mukminin ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw tentang sebab kecintaan beliau yang sedemikian besar kepada Fathimah as.
Beliau menegaskan, “Wahai ‘Aisyah, jika engkau tahu apa yang aku ketahui tentang Fathimah, niscaya engkau akan mencintainya sebagaimana aku mencintainya. Fathimah adalah darah dagingku. Ia tumpah darahku. Barang siapa yang membencinya, maka ia telah membenciku, dan barang siapa membahagiakannya, maka ia telah membahagiakanku.”
Kaum muslimin telah mendengar sabda Rasulullah yang menyatakan, bahwa sesungguhnya Fathimah diberi nama Fathimah karena dengan nama itu Allah Swt telah melindungi setiap pecintanya dari azab neraka.
Fathimah Az-Zahra as menyerupai ayahnya Muhammad saw dari sisi rupa dan akhlaknya.
Umul Mukminin Umu Salamah, istri Rasulullah, menyatakan bahwa Fathimah as adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Demikian juga ‘Aisyah. Ia pernah menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam ucapan dan pikirannya. Fathimah as mencintai ayahandanya melebihi cintanya kepada siapa pun.
Setelah ibunda kinasihnya, Khadijah as wafat, beliaulah yang merawat ayahnya ketika masih berusia enam tahun. Beliau senantiasa berusaha untuk menggantikan peranan ibundanya bagi ayahnya itu.
Pada usianya yang masih belia itu, Fathimah menyertai ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian yang dilancarkan oleh orang-orang musyrikin Mekkah terhadapnya. Dialah yang membalut luka-luka sang ayah, dan yang membersihkan kotoran-kotoran yang dilemparkan oleh orang-orang Quraisy ke arah ayahanda tercinta.
Sayidah Fathimah as senantiasa mengajak bicara sang ayah dengan kata-kata dan obrolan yang dapat menggembirakan dan menyenangkan hatinya. Untuk itu, Rasulullah saw memanggilnya dengan julukan Ummu Abiha, yaitu ibu bagi ayahnya, karena kasih sayangnya yang sedemikian tercurah kepada ayahandanya.
Imam Muhammad Al-Baqir As, Pembuka Pintu Khazanah Keilmuan Islam
Imam Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib as lahir pada 1 Rajab 57 Hijriah (677 M). Beliau merupakan imam Mazhab Ahlulbait kelima. Masa imamah Imam Baqir as bertepatan dengan melemahnya kekuasaan Bani Umayah dan perebutan kekuasaan di antara mereka. Sepanjang periode itu, Imam Baqir as telah membuat gerakan pengembangan ilmu yang sangat luas, yang mencapai puncaknya pada masa imamah putranya, Imam Shadiq as.
Aspek keilmuan, kezuhudan, keagungan, dan keutamaan Imam Baqir as sangatlah menjulang. Darinya banyak riwayat yang dinukil dalam bidang ilmu agama seperti dalam fikih, tauhid, hadis dan sunah Nabi saw, ilmu Alquran, sejarah, akhlak, dan satra. Pada masa imamah beliau, ditempuh langkah-langkah penting guna merumuskan beragam pandangan Mazhab Ahlulbait dalam berbagai bidang pengetahuan, seperti akhlak, fikih, kalam, tafsir, dan sebagainya.
Pada masa instabilitas pemerintahan Umayah, Imam Baqir as menyingkapkan dimensi keilmuan secara luas. Beliau as menjadi rujukan seluruh pembesar dan ulama Bani Hasyim dalam bidang keilmuan, kezuhudan, keagungan, dan keutaman. Riwayat dan hadisnya mengenai ilmu agama, sunah nabawi, ulumul quran, sejarah, akhlak, dan sastra sedemikian rupa, sampai-sampai di masa itu, tidak lagi tersisa pada seorang pun keturunan Imam Hasan as dan Imam Husain as.
Imam Baqir as mengkhususkan sebagian waktunya untuk mengulas tafsir. Beliau mengadakan majelis tafsir dan menjawab persoalan serta subhat-subhat para ulama dan khalayak umum. Imam Baqir as menulis sebuah kitab tafsir Al-Quran yang disebutkan oleh Muhammad bin Ishaq Nadim dalam kitabnya, al-Fahrast. [Ibnu Nadim, al-Fahrast, hal. 59; Syarif al-Qursyi, Baqir, Hayat al-Imam al-Muhammad al-Baqir, jil. 1, hal. 174]
Imam Baqir as menyebutkan bahwa makrifat dan pengetahuuan Alquran hanya terbatas pada Ahlulbait as. Pasalnya, hanya Ahlulbait yang mampu membedakan ayat-ayat muhkamat, mutasyabihat, nasikh dan mansukh. Ilmu semacam ini tidak dimiliki seorang pun selain Ahlulbait. Oleh karena itu, Imam Baqir as berkata, “Tak satu pun semacam tafsir Alquran yang jauh dari akal masyarakat. Karena, pada satu ayat yang ujarannya bersambung, terdapat awal ayat yang berbicara satu masalah, sementara di akhir ayatnya membicarakan masalah lain. Dan ujaran bersambung ini bisa dikembalikan pada beberapa bentuk.” [Guruh-e Muallifan, Pishvayan-e Hidayat, hal. 320]
Secara khusus, Imam Baqir as mencurahkan perhatiannya pada hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Jabir bin Yazid Ja’fi meriwayatkan 70 ribu hadis Nabi Muhammad saw melalui Imam Baqir as. Demikian pula Aban bin Taghlib dan seluruh murid Imam Baqir as; mereka meriwayatkan sejumlah besar hadis agung Rasulullah saw ini dari Imam Baqir as.
Tidak cukup dengan menukil dan menyebarkan hadis semata, Imam Baqir as juga memerintahkan para sahabatnya untuk memberi perhatian serius dalam upaya memahami hadis dan menggali maknanya. Beliau berkata, “Kenalilah derajat para syiah kami dengan timbangan periwayatan mereka atas hadis-hadis Ahlulbait dan makrifat mereka atas hadis-hadis tersebut. Dan makrifat adalah pengetahuan atas riwayah dan diroyah hadis. Dengan diroyah dan pemahaman riwayah inilah seorang mukmin mencapai derajat iman paling tinggi.” [Syarif al-Qursyi, Baqir, Hayat al-Imam al-Muhammad al-Baqir, jil. 1, hal. 140-141]
Dengan adanya kesempatan dan berkurangnya tekanan serta kontrol penguasa, muncul kesempatan untuk mengekspresikan berbagai keyakinan dan aliran pemikiran. Kondisi ini memicu muncul dan tersebarnya pemikiran-pemikiran menyimpang di tengah masyarakat. Imam Baqir as pun turun ke gelanggang pemikiran guna memberi klarifikasi seputar akidah serta keyakinan murni dan benar, melawan akidah batil, seraya mematahkan berbagai subhat. Di antara klarifikasi beliau, berkenaan dengan masalah ketidakmampuan akal manusia dalam memahami hakikat Allah Swt, keazalian wajibul wujud (Tuhan), dan kewajiban taat terhadap imam maksum as.
Ibnu Hajar Haitsami menulis, “Abu Ja’far Muhammad Baqir as menyingkapkan khazanah ilmu yang terpendam, hakikat hukum, hikmah-hikmah dan kebijksanaan yang tidak tertutupi kecuali oleh unsur-unsur tanpa bashirat atau buruknya niat. Dengan demikian, beliau digelari ‘Baqirul Ulum’ atau pembuka dan penyingkap ilmu, penghimpun ilmu dan penegak panji ilmu. Beliau menghabiskan usianya dalam ketaatan kepada Allah Swt dan telah mencapai kedudukan kaum arif, di mana bahasa tak mampu melukiskan sifat-sifatnya. Beliau memiliki banyak klarifikasi dalam bidang suluk dan pengetahuan.” [Ibnu Hajar, al-Shawaiq al-Muhriqah, hal. 201]
Ulama besar di masa Imam Baqir as yang bernama Abdullah bin ‘Atha, berkata, “Aku tidak melihat ulama yang rendah di hadapan siapapun, kecuali ulama yang ada di hadapan Abu Ja’far (yaitu, Imam Baqir as).” [Sibth Ibnu al-Jauzi, Tadzkirah al-Khawash, hal. 337]
Dzahabi menulis tentang Imam Baqir as, “Beliau termasuk di antara orang yang terkumpul padanya ilmu, amal, kebesaran, kemuliaan, ketenangan, dan terpercaya. Dan beliau punya kelayakan atas kepemimpinan.” [Dzahabi, Siru A’lam al-Nubala’, jil. 4, hal. 402]
3 Rajab, Hari Syahadah Imam Ali Hadi As
Sebagai putra dari Imam Mujammad Jawad as sekaligus Imam kesepuluh mazhab Ahlulbait, Imam Ali Hadi as juga dikenal dengan nama Imam Ali al-Naqi as. Masa imamah Imam Hadi as selama 34 tahun, bermula sejak 220 H/835 hingga 254 H/868. Beliau as banyak menghabiskan masa imamahnya di Samara Irak dan bersamaan dengan masa kekuasaan sejumlah penguasa Bani Abbasiyah, di antaranya Mutawakkil (selama 16 tahun), Muntashir (6 bulan),Musta’in (4 tahun), dan Mu’tazz (2 tahun).
Menurut catatan Mas’udi, Buraihah Abbasi yang memimpin sekelompok orang suruhan sang khalifah di Haramain, dalam sepucuk surat kepada Mutawakkil, berkata, “Jika Anda menginginkan Mekah dan Madinah, keluarkan Ali bin Muhammad dari sana. Sebab, ia mengajak orang-orang kepada dirinya dan telah mengumpulkan sejumlah besar disekelilingnya.” [Dakhil, Aimmatuna, jil. 2, hal. 209]
Atas dasar ini, Yahya bin Hartsamah diutus Mutawakkil untuk memindahkan Imam Hadi as ke Samarra. Mutawakkil merancang skenario sedemikian rupa agar masyarakat tidak menaruh curiga dan merestui kepergian sang Imam. Imam pun terpaksa memenuhi permintaan Mutawakkil, dan bertolak menuju Samara beserta rombongan penjemput yang diutus Mutawakkil.
Ibnu Jauzi meriwayatkan dari Yahya bin Hartsamah bahwa penduduk Madinah sangat larut dalam kesedihan dan kebingungan serta menunjukkan reaksi-reaksi yang yang tidak mereka harapkan. Perlahan-lahan kesedihan mereka sampai pada suatu batas di mana mereka menjerit dan menangis, dan tidak pernah sebelumnya kota Madinah terlihat dalam keadaan seperti itu. [Ibnu Jauzi, Tadzkirah al-Khawāsh, jil. 2, hal. 492]
Ketika memasuki Kazhimain Irak, Imam Hadi as disambut hangat oleh masyarakat setempat dan menetap di rumah Khuzaimah bin Hazim. Dari situ, beliau diantarkan ke Samarra. Syaikh Mufid mengatakan, pada hari pertama saat Imam memasuki kota Samarra, Mutawakkil memerintahkan agar ia ditempatkan sehari di Khan Sha’alik (tempat berhentinya para musafir) dan keesokan harinya dibawa ke rumah yang telah disiapkan untuknya.
Menurut Shaleh bin Said, perbuatan ini dilakukan dengan niat merendahkan Imam Hadi as. Syaikh Mufid percaya bahwa Imam Hadi as secara lahiriah mendapat perhormatan dari Mutawakkil, tetapi ia merancang konspirasi untuknya. Mutawakkil hendak mempertontonkan Imam berperan sebagai salah seorang pelayan istana sehingga keagungan dan kewibawaannya berkurang di mata masyarakat.
Imam Hadi as difitnah dengan laporan yang diberikan kepada Mutawakkil bahwa di rumah Imam terdapat alat-alat perang dan beberapa surat dari para pengikutnya. Mutawakkil lalu memerintahkan sejumlah prajurit menyerang rumah Imam secara mendadak. Tatkala mereka memasuki rumah Imam, mereka mendapati Imam berada di satu kamar sedang melantunkan ayat-ayat Alquran. Akhirnya Imam dibawa ke hadapan Mutawakkil. Ketika Imam masuk ke majelisnya, Mutawakkil sedang memegang cangkir arak dan mempersilakan Imam duduk di sampingnya seraya menawarkan minuman arak tersebut. Imam meminta maaf seraya berkata: “Darah-dagingku tidak pernah terlumuri oleh minuman arak.”
Saat itu, Mutawakkil meminta Imam membacakan syair yang membuatnya gembira. Imam berkata: “Saya akan membaca sedikit syair”. Namun Mutawakkil memaksanya supaya membacakan beberapa syair. Syair-syair Imam itu mempengaruhi Mutawakkil dan orang di sekelilingnya. Wajah Mutawakkil sampai basah lantaran banyak menangis. Kemudian Mutawakkil memerintahkan agar Imam dipulangkan ke rumahnya dengan penuh penghormatan.
Pasca kekuasaan Mutawakkil, kerajaan jatuh di tangan putranya yang bernama Muntashir. Tekanan terhadap Imam terus terjadi hingga ke Mu’taz dan Imam al-Hadi as meneguk cawan syahadah, akibat racun yang dibubuhkan atas perintah Mu’taz Abbasi. Syaikh Mufid dan perawi lainnya meriwayatkan Imam al-Hadi as syahid pada bulan Rajab, setelah 20 tahun 9 bulan menetap di Samara. Sebagian sumber menyebutkan beliau syahid pada hari ketiga, bulan Rajab.
Berita kesyahidannya sangat melukai hati para pecintanya. Proses pemakamannya dibanjiri para pengikutnya. Mengetahui kabar itu, Mu’taz Abbasi ingin menyalati jenazah Imam as. Karena itu, ia memerintahkan untuk meletakkan jenazah suci Imam as di atas tanah. Kemudian ia menyalatinya. Namun demikian, salat jenazah telah dilakukan sebelumnya oleh Imam Hasan Askari as dan para pengikutnya. Setelah itu, jezanah suci Imam Hadi as dimakamkan di salah satu rumah, tempat beliau menjadi tahanan rumah semasa hidupnya. Dalam proses pemakaman tersebut masyarakat yang hadir sangat membludak, sehingga menyulitkan gerak Imam Hasan Askari as. Di saat itu, seorang pemuda membawakan seekor kuda untuk Imam as dan masyarakat dapat mengiringi jenazah suci Imam al-Hadi as sampai ke tempat peristirahatannya yang terakhir. [Mas’udi, terj. Itsbāt al-Washiah, hal. 456]
Jenazah Imam dimakamkan di Samara, Irak. Makam Imam Hadi as berkali-kali berusaha dihancurkan oleh pembencinya. Di antara serangan paling merusak terjadi pada 22 Februari 2005. Al-Qaedah mengaku bertanggungjawab atas aksi peledakan Haram (pusara suci) Imam Hadi as yang menyebabkan kerusakan parah pada kubah makam tersebut, termasuk merusak menaranya yang terbuat dari bahan emas. Dua tahun setelahnya, pada 13 Maret 2007, kembali terjadi peledakan bom yang merusak total menara yang tersisa dari upaya pengrusakan sebelumnya. Pada 6 Juni 2014, kembali terjadi serangan yang dilakukan ISIS dengan niat melakukan penghancuran total Haram Imam Hadi as dan Imam Hasan Askari as. Namun, berkat kerjasama antara warga setempat, pengelola Haram dan pihak militer Irak, upaya tersebut berhasil digagalkan. Setelah terjadi pengrusakan kubah dan menara Haram, dilakukan renovasi yang menelan biaya 100 juta dollar.
Sahifah Sajadiyah, Warisan Abadi Imam Ali Zainal Abidin
Suatu hari Allamah Thabathabai dalam pertemuan dengan professor Henry Corbin, berkata, “Kami orang-orang Syiah bermunajat, berdoa dan menangis! Jika kami ditimpa kesulitan, kami mencoba berbicara dengan Tuhan dan hati kami tentram. Bagaimana dengan Anda ketika ditimpa masalah di Prancis ?”.
“Saya juga menangis. Saya pun memiliki kitab Sahifah Sajadiyah. Ketika ditimpa masalah, saya membuka dan membacanya disertai terjemahan. Saya menangis. Munajat menentramkanku,” jawab Corbin.
Jawaban filsuf Prancis ini memperlihatkan bagaimana perhatiannya terhadap kitab Sahifah Sajadiyah. Tentu saja, ini hanya satu dari sekian pengakuan sarjana Barat yang tertarik terhadap karya Imam Ali Zainal Abidin. Di luar dari apresiasi para sarjana Barat terhadap kitab Sahifah Sajadiyah, kandungan isinya sangat tinggi dan agung, dengan gaya bahasa yang fasih dan menawan. Semua itu buah dari kebesaran sang empu kitab, Imam Sajjad. Dan di hari ini kita memperingati kesyahidannya.
Salah satu peran dan jasa berharga Imam Sajjad pasca tragedi Asyura ialah penyebaran risalah doa dan munajat yang sangat luhur. Kini kumpulan doa-doa dan munajat beliau itu dihimpun dalam satu kitab bernama Sahifah Sajjadiyah. Kendati doa dan munajat imam Sajjad merupakan naskah doa, namun di dalamnya mengandung muatan ajaran Islam yang sangat luhur mengenai filsafat hidup dan penciptaan, keyakinan, etika pribadi dan sosial, serta masalah politik.
Baca Imam Ali Zainal Abidin As, Penyebar Misi Asyura
Salah satu kandungan penting dalam doa beliau ialah semangat menentang kezaliman, dan upaya menegakkan keadilan, penyebaran nilai-nilai akhlak dan kemanusiaan. Di salah satu doanya, Imam Sajjad berkata, “Ya Allah berilah kami kekuatan untuk mampu menjaga sunnah Nabi-Mu, dan berjuang melawan penyelewengan, serta melaksanakan kewajiban Amar Makruf dan Nahi Munkar.”
Tanggal 12 Muharam atau riwayat kedua pada 25 Muharram merupakan hari syahadah Imam Sajjad. Imam Sajjad sebagai saksi mata pembantaian Karbala, setelah peristiwa itu bertanggung jawab memimpin umat Islam. Putra Imam Husein ini ditakdirkan oleh Allah Swt sebagai salah satu orang yang hidup demi melanjutkan pesan Asyura.
Imam Sajjad lahir pada tahun 36 Hijriah. Beliau hidup hingga usia 57 tahun. Periode penting dalam hidup beliau dimulai di masa Imamah-nya setelah kesyahidan Imam Husein. Ketika peristiwa Karbala terjadi, beliau dalam keadaan sakit. Itulah sebabnya mengapa beliau waktu itu tidak pergi ke medan perang.
Hamid bin Muslim, sejarawan Karbala menulis, “Di hari Asyura, setelah kesyahidan Imam Husein, pasukan Yazid mendatangi Ali bin Husein yang tengah berada di atas pembaringan karena sakit. Mereka mendapat perintah untuk membunuh seluruh laki-laki dari keluarga Imam Husein. Kedatangan mereka dengan niat membunuhnya. Tapi ketika melihatnya dalam kondisi sakit, mereka kemudian membiarkannya. Jelas di balik penyakit beliau di hari Asyura tersimpan rahasia ilahi, agar dapat melanjutkan jalan ayahnya.”
Pasca tragedi Karbala dan kesyahidan Imam Husein, kondisi masyarakat Islam berada dalam periode yang sensitif. Di satu sisi, berbagai dimensi kebangkitan Imam Husein harus dijelaskan kepada masyarakat, sekaligus menghadapi propaganda bohong Bani Umayah. Sementara dari sisi lain, perjuangan melawan penyimpangan akidah dan moral harus dilakukan demi menegakkan nilai-nilai agama.
Dalam kondisi demikian, Imam Sajjad menjalankan berbagai programnya dengan mengatur skala prioritas. Pada awalnya, beliau menerapkan program jangka pendek untuk meredam kondisi penuh ketegangan pasca kesyahidan ayahnya. Imam Ali Zainal Abidin menyampaikan pidato mencerahkan mengenai kebenaran jalan Imam Husein. Sedangkan untuk program jangka panjang, beliau berusaha memperkaya serta menguatkan pemikiran dan akhlak masyarakat Muslim dengan mengajarkan nilai-nilai ajaran Islam.
Pada 12 Muharam 61 Hijriah, rombongan tawanan Karbala yang terdiri dari perempuan dan anak-anak tiba di kota Kufah. Di antara tawanan itu ada dua pribadi agung; Imam Sajjad dan Sayidah Zainab. Keberadaan keduanya mampu menentramkan para tawanan Karbala. Ketika rombongan memasuki kota Kufah, sudah banyak orang berkumpul di sana. Imam Sajjad memanfaatkan kesempatan ini dengan menyampaikan pidatonya.
Beliau berkata, “Wahai warga Kufah! Saya Ali putra Husein. Anak dari orang yang kalian hancurkan kehormatannya. Ingatkah kalian, Allah Swt menyebutkan kebaikan kami Ahlul Bait. Kemenangan, keadilan dan ketakwaan bersama kami, sementara kesesatan dan kehancuran berada pada musuh kami. Apakah kalian tidak menulis surat berisi baiat kepada ayahku? Tapi kalian licik setelah itu dan bangkit menentangnya. Betapa perilaku dan pikiran kalian sangat buruk. Bila Rasulullah berkata mengapa kalian membunuh keturunanku, menghancurkan kehormatanku dan bukan umatku, bagaimana rupa kalian menangis di hadapannya?”
Di lain waktu, ketika tiba di Syam (Suriah saat ini), yang menjadi pusat kekuasaan Yazid, Imam Ali Zainal Abidin menyampaikan pidato. Sedemikian tegas pidato yang disampaikan, sehingga rezim Bani Umayah menghadapi kondisi yang tidak pernah diprediksi sebelumnya. Pidato beliau sangat mempengaruhi opini masyarakat waktu itu. Pidato Imam Sajjad dan Sayidah Zainab di istana Yazid mampu menyadarkan masyarakat, sehingga sebagian orang setelah mendengar langsung bangkit memrotes Yazid.
Dalam pidatonya, beliau berkata,“Wahai warga Syam! Barang siapa yang mengenalku, berarti telah mengetahui siapa diriku. Tapi mereka yang tidak tahu, perlu mengetahui bahwa aku putra dari orang yang terhormat. Pribadi yang paling baik dalam menunaikan haji…. Aku putra wanita terbaik, Fatimah az-Zahra as. Aku putra orang yang syahid berlumuran darah di tanah Karbala.”
Ketika pidatonya sampai pada ucapan tersebut, masyarakat yang mendengarnya sangat terpengaruh, sehingga sebagian berteriak mengungkapkan kesedihan. Pidato yang menjelaskan hakikat dirinya mampu membangkitkan kebencian masyarakat kepada Bani Umayah. Yazid yang menyaksikan kondisi tersebut merubah sikap. Untuk menghentikan pidato Imam Sajjad dan mengubah keadaan, ia memerintahkan seseorang untuk mengumandangkan azan.
Ketika mendengar suara azan, Imam Sajjad diam sejenak mendengarkannya. Ketika ucapan muazin sampai pada kalimat “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, dengan segera Imam Sajjad menatap Yazid. Beliau berkata, “Apakah Nabi yang disebutkan dalam azan itu kakekku atau kakekmu? Bila engkau menjawab itu adalah kakekku, semua orang tahu bahwa engkau telah berdusta. Dan bila engkau mengatakan itu adalah kakekmu, lalu apa dosa ayahku yang merupakan cucu Nabi Saw, sehingga kau bunuh, hartanya kau rampas dan istrinya kau tawan? Betapa celakanya engkau di Hari Kiamat!”
Sejarawan mencatat, Ahlul Bait Imam Husein dalam pertemuan itu membawakan kidung kesedihan tentang Imam Husein dan syuhada Karbala. Yazid yang berusaha memanfaatkan kondisi tersebut untuk meningkatkan popularitasnya ternyata harus menerima kenyataan yang lain. Tapi tetap saja berusaha untuk membohongi masyarakat. Yazid mengubah strateginya dengan mencoba mendekati para tawanan dan memberikan penghormatannya kepada mereka.
Yazid jelas takut masyarakat bangkit melawan kekuasaannya. Oleh karenanya ia berusaha menenangkan para tawanan.Menurutnya, apa yang dilakukannya dapat menutupi dosanya. Untuk itu, ia menerima permintaan para tawanan membacakan kidung kesedihan tentang Imam Husein dan syuhada Karbala.
Yazid mempersiapkan sebuah tempat bernama Dar al-Hijarah. Para tawanan selama sepekan berada di sana membacakan kidung kesedihan. Masyarakat mulai berdatangan dan perlahan-lahan masyarakat semakin tahu akan hakikat kebangkitan Imam Husein. Yazid semakin ketakutan menyaksikan apa yang terjadi. Ia terpaksa memindahkan para tawanan ke Madinah.
Di Madinah, Imam Sajjad kembali melaksanakan tanggung jawab yang diembannya. Masyarakat Madinah menyambut mereka. Di tengah masyarakat Madinah, Imam Sajjad naik ke mimbar dan menyampaikan pidatonya.
Setelah mengucapkan puji-pujian kepada Allah Swt, beliau berkata, “Wahai warga Madinah! Allah Swt menguji kami dengan musibah yang agung. Tidak ada musibah yang dapat menyamainya. Wahai warga Madinah! Siapa yang hatinya dapat bergembira ketika mendengar tragedi besar ini? Hati siapa yang tidak sedih setelah mengetahui kesyahidan Husein bin Ali? Mata siapa yang tidak menangis? Kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari musibah luar biasa ini. Kami mengorbankan jiwa di jalan Allah demi menghadapi segala musibah. Karena kami tahu Allah akan membalas semuanya.”
Pesan Imam Ali As Mengenai Kepemimpinan Dalam Islam
Imam Ali as berkata kepada Utsman,
“Sebaik-baik manusia dalam pandangan Allah SWT adalah penguasa yang adil, yang dibimbing oleh Islam dan yang membimbing orang lain ke arah Islam, yang menjaga dan menghidupkan sunah Nabi saw dan yang memerangi bid’ah. Seburuk-buruk orang dalam pandangan Allah adalah penguasa lalim yang sesat dan menyesatkan orang lain, yang memerangi sunnah dan menghidupkan kembali bid’ah. Aku mohon engkau dengan nama Allah untuk tidak menjadi penguasa seperti itu karena penguasa seperti itu akan dibunuh oleh kaum tertindas, karena telah diprediksikan bahwa pemimpin umat yang membuka pintu pertumpahan darah dan perseteruan akan dibunuh. Dia akan menebarkan keraguan di kalangan umat dan kekacauan, akibatnya umat tak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Umat jadi gelisah dan kacau. Karena itu dengan usia dan pengalamanmu, janganlah menjadi hewan kesayangan Marwan, dan jangan sampai dia mengaturmu.” (Nahj al-Balâghah, khotbah 164)
Kalimat terakhir ini menunjukkan bahwa pemimpin harus berpikiran mandiri dan tidak boleh menjadi alatnya orang-orang di sekitarnya. Kalimat-kalimat sebelumnya mengenai pentingnya roh keadilan yang harus dimiliki pemimpin.
Instruksi Imam Ali as kepada salah seorang pejabatnya yang ditugaskan untuk memungut zakat. Setelah memberikan petunjuk tertentu dan menasihati agar ikhlas dalam bertutur dan berbuat, Imam Ali as berkata,
“Aku perintahkan engkau untuk tidak bermusuhan dengan mereka, untuk tidak menindas mereka, dan untuk tidak menjauhkan diri dari mereka, dengan memperlihatkan superioritasmu kepada mereka karena engkau adalah pejabat pemerintah. Mereka adalah saudaramu seiman dan diharapkan membantumu dalam memungut iuran. Celakalah orang yang diadukan oleh si miskin, si papa, si peminta-minta, orang yang menderita, dan si musafir kepada Allah! Seburuk-buruk pengkhianatan adalah menyalahgunakan dana publik, dan sehina-hinanya kekufuran adalah membohongi Imam.” (Nahj al-Balâghah, surat 26)
Imam Ali as berkata,
“Kalau dibandingkan dengan beramar makruf bernahi munkar, semua amal baik dan jihad di jalan Allah SWT tak lebih daripada tiupan udara di samudera yang amat luas dan amat dalam. Beramar makruf bernahi munkar tidak membuat ajal jadi lebih dekat, juga tidak mengurangi rezeki. Namun yang lebih berharga ketimbang semua ini adalah berkata adil di hadapan penguasa zalim.” Jadi, pembaruan rohaniah (beramar makruf nahi munkar) lebih penting dibanding berperang suci melawan kaum kafir, namun yang lebih penting lagi adalah berjuang melawan penyimpangan pemimpin. Dapat dicatat bahwa ber-amar makruf nahi munkar merupakan sebuah tahap dalam jihad, dan berkata adil di hadapan penguasa kejam juga merupakan beramar makruf nahi munkar.
Imam Ali as dengan tegas mengatakan bahwa pandangan kaum Khawarij bahwa Alquran sudah cukup dan bahwa tak perlu ada pemerintah, mesin administrasi dan pemimpin, adalah salah. Kaum Khawarij biasa mengatakan bahwa “tak ada hakim kecuali Allah.” Imam Ali as berkata,
“Slogan mereka memang benar, namun kesimpulan mereka salah. Mereka mengatakan bahwa tak usah ada pemerintah kecuali pemerintah Allah SWT. Namun orang perlu penguasa, entah penguasa itu baik atau buruk, karena dengan kekuasaannya si beriman dan si kafir dapat bekerja dan menikmati hidup.” (Nahj al-Balâghah)
Mesin administrasi disebut pemerintah, karena mesin ini menjaga kedamaian internal dan eksternal, dan menyelenggarakan hukum dan ketertiban. Disebut Imamah karena dikepalai oleh seorang pemimpin yang memobilisasi kekuatan-kekuatan potensial, menggali dan mengembangkan kemampuan-kemampuan terpendam. Dalam “Nahj al-Balâghah” digunakan kata wall dan ra’iyyah untuk penguasa dan rakyat. Kata-kata ini menunjukkan bahwa tugas penguasa adalah melindungi dan memperhatikan rakyatnya. Imam Ali as berkata, “Klaim terpenting yang dirumuskan oleh Allah SWT adalah klaim penguasa atas rakyat dan klaim rakyat atas penguasa.” (Nahj al-Balâghah, khotbah 216)
Yang dibutuhkan manusia bukan hanya pangan dan papan. Kebutuhan manusia beda sekali dengan kebutuhan burung merpati atau rusa. Manusia memiliki sejumlah kebutuhan psikologis yang juga perlu dipenuhi. Karena itu belum cukup bila pemerintah yang ingin populer dan diterima hanya memenuhi kebutuhan material rakyatnya saja. Pemerintah juga perlu memperhatikan kebutuhan manusiawi dan spiritual rakyatnya. Yang penting adalah sikap pemerintah terhadap rakyat. Apakah pemerintah memandang rakyat sebagai alat yang tak bernyawa, atau sebagai hewan beban dan hewan penghasil susu yang juga perlu perawatan medis juga, atau sebagai manusia yang memiliki hak yang sama. Pendek kata, apakah rakyat untuk pemimpin, atau pemimpin untuk rakyat?
Bahwa mengakui hak rakyat dan berpantang dari segala yang merusak otoritas pemimpin merupakan syarat sangat penting pertama bagi pemimpin yang ingin memenuhi kebutuhan rakyat dan ingin dipercaya rakyat. Hubungan tidak natural seperti yang dibuat gereja antara beriman kepada Tuhan dan menolak kedaulatan manusia, dan akibat naturalnya antara kedaulatan manusia dan menolak Tuhan, merupakan faktor penting yang membuat orang meninggalkan agama. Kaisar Rum, Kaligola (abad pertama Masehi atau abad pertama sebelum Masehi) biasa mengatakan bahwa penguasa memiliki keunggulan atas rakyat seperti keunggulan gembala atas domba. Penguasa seperti dewa, sedangkan rakyat seperti hewan ternak. Sebagian filosof Barat juga percaya bahwa penguasa berkuasa bukan untuk kepentingan rakyatnya. Menurut para filosof ini, penguasa memiliki hak ilahiah, yaitu bahwa rakyat diciptakan untuk kepentingan penguasa.
Dalam artikel di atas sudah kami kemukakan bahwa meskipun kata ra’iyyah digunakan oleh Imam Ali as yang menunjukkan konsepsi bahwa penguasa itu untuk rakyat, bukan rakyat untuk penguasa.
Surah an-Nisa’ ayat 58, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” menunjukkan bahwa penguasa adalah penjaga rakyat. Dengan kata lain, ayat ini menyebutkan dengan jelas prinsip penguasa untuk rakyat bukan rakyat untuk penguasa.
Kitab Majma’ mengutip Imam Muhammad al-Baqir as dan Imam Ja’far Shadiq as mengatakan bahwa ayat ini ditujukan kepada para imam sedangkan ayat berikutnya: “Taatilah Allah dan taatilah Rasul,” ditujukan kepada umat.
Imam Muhammad al-Baqir as mengatakan, “Satu dari dua ayat ini berkaitan dengan kami (hak kami), sedangkan satunya berkaitan dengan kamu (hak kamu).”
Imam Ali as berkata,
“Imam, kalau memutuskan sesuatu, menurut apa yang diwahyukan Allah. Dia selalu menjaga amanat. Karena itu, umat wajib mendengarkan dan menaatinya, dan wajib menjawab kalau diseru.” (al-Mizan mengutip dari Durr al-Mantsur)
Imam Ali as menulis surat kepada gubernurnya di Azerbaijan:
Pekerjaan Anda bukanlah makanan kecil yang enak, melainkan amanat yang wajib Anda jaga. Anda telah diangkat oleh atasan Anda menjadi gembala (untuk mengurusi rakyat Anda). Karena itu Anda tidak berhak bersikap lalim terhadap rakyat.” (Nahj al-Balâghah, surat 5)
Dalam surat edaran yang ditujukan untuk semua petugas pajak, Imam Ali as berkata,
“Berlaku adillah terhadap rakyat, dan dengan sabar perhatikan kebutuhan mereka, karena Anda adalah bendaharawan rakyat, wakil umat, dan duta Imam.” (Nahj al-Balâghah, surat 51)
Dari uraian di atas jelaslah bahwa dari sudut pandang “Nahj al-Balâghah “, basis kepemimpinan adalah pemimpin untuk rakyat bukan rakyat untuk pemimpin.
Ayatullah Syahid Muthahari, Manusia dan Alam Semesta
Imam Hasan Al-Mujtaba, Pengayom Umat Yang Tabah
Di rumah yang dindingnya berlapiskan tanah, di kota Madinah Al-Munawwarah, seorang cucunda Nabi, Hasan dilahirkan. Hasan kecil diasuh dalam haribaan datuknya, Muhammad saw dan ayahnya Ali bin Abi Thalib as, serta ibunya Fatimah Az-Zahra’ as.
Rasulullah saw sangat mencintai Hasan as. Beliau mengatakan, “Hasan bin Ali adalah putraku.” Dalam kesempatan yang lain beliau menyatakan, “Hasan adalah permata hatiku di dunia.”
Sudah lama kaum muslimin menyaksikan Nabi saw sering membawa Hasan as di pundaknya dan beliau pernah berkata, “Semoga Allah SWT mendamaikan dua kelompok dari kaum muslimin dengan perantaranya.” Kemudian beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia dan cintailah orang-orang yang mencintainya.” Beliau pun senantiasa mengulang-ulang berita ini, “Hasan dan Husain adalah penghulu para pemuda di surga.”
Suatu hari Rasulullah saw melakukan salat di masjid. Kemudian Hasan as menghampirinya, sedang beliau dalam keadaan sujud. Karena ia naik ke atas punggungnya, lalu duduk di leher datuk kinasihnya itu, Rasulullah saw bangun dari sujudnya secara perlahan-lahan sampai Hasan turun sendiri.
Tatkala beliau selesai dari salatnya, sebagian sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau telah berbuat sesuatu terhadap anak kecil ini yang tidak pernah engkau lakukan kepada yang lainnya.”
Nabi menjawab, “Sesungguhnya anak ini adalah jantung hatiku dan anakku ini adalah ‘sayid’ (sang pemimpin). Semoga Allah SWT mendamaikan dua kelompok muslim yang berseteru melalui tangannya.”
Suatu waktu, Imam Hasan as dan Imam Husain as berjalan menuju masjid. Tiba-tiba mereka menyaksikan seorang kakek tua yang sedang berwudhu. Namun, tata cara wudhunya tidak benar.
Imam Hasan as berpikir sejenak, bagaimana cara menunjukkan wudhu yang benar kepada kakek tersebut tanpa harus menyinggung perasaannya. Kemudian, keduanya mendatangi kakek tersebut seolah-olah keduanya sedang bertengkar tentang wudhu siapakah yang benar. Masing-masing mengatakan, “Wudhumu tidak benar!” Kemudian keduanya berkata pada kakek tersebut, “Wahai kakek, berilah keputusan yang bijak untuk kami berdua, mana di antara kami yang wudhunya benar.”
Maka, mulailah keduanya berwudhu. Lantas kakek itu mengatakan, “Wudhu kalian semua sudah benar.” Kemudian kakek itu menunjuk kepada dirinya sendiri dan berkata, “Hanya kakek yang bodoh inilah yang tidak benar wudhunya, dan kini telah belajar dari kalian berdua.”
Pada suatu hari, salah seorang sahabat menyaksikan Nabi saw memanggul Hasan dan Husain di pundaknya. Sahabat itu berkata, “Semulia-mulia unta adalah unta kalian.”
Nabi saw menjawab, “Dan Semulia-mulia penunggang adalah mereka berdua.”
Imam Hasan as adalah orang yang paling ‘abid (tekun ibadah) pada zamannya. Ia menunaikan ibadah haji sebanyak 25 kali dengan berjalan kaki.
Bila beliau hendak berwudhu dan shalat, wajahnya menjadi pucat dan tubuhnya bergetar karena takut kepada Allah SWT. Beliau berkata, “Suatu keharusan bagi setiap orang yang berdiri di depan Tuhannya untuk merasa takut, pucat wajahnya, dan gemetar seluruh tubuhnya.”
Apabila telah sampai di pintu masjid, beliau menengadahkan wajahnya ke langit dan berkata dengan penuh khusyuk, “Tuhanku inilah tamu-Mu berdiri di beranda pintu rumah-Mu! Wahai Dzat Yang Mahapemurah, telah datang orang yang banyak melakukan keburukan kepada-Mu! Maka hapuskanlah seluruh keburukan yang ada pada diriku dengan kebaikan yang ada di sisi-Mu, Wahai Yang Maha Mulia!”
Baca 7 Safar, Hari Syahadah Imam Hasan al-Mujtaba as
Pada suatu hari, Imam Hasan as berjalan di tengah keramaian masyarakat. Tiba-tiba di tengah jalan beliau bertemu dengan orang tak dikenal yang berasal dari Syam. Orang tersebut ternyata seorang yang sangat benci terhadap Ahlulbait Nabi saw (nashibi). Mulailah orang itu mencaci maki Imam. Beliau tertunduk diam tidak menjawab sepatah kata pun di hadapan cacian itu, hingga orang itu menuntaskan caciannya.
Setelah itu, Imam as membalasnya dengan senyuman, lantas mengucapkan salam kepadanya sembari berkata, “Wahai kakek, aku kira engkau seorang yang asing. Bila engkau meminta pada kami, kami akan memberimu. Bila engkau meminta petunjuk, aku akan tunjukkan. Bila engkau lapar, aku akan mengenyangkanmu. Bila engkau tidak mememiliki pakaian, aku akan berikan pakaian. Bila engkau butuh kekayaan, aku akan berikan kekayaan. Bila engkau orang yang terusir, aku akan kembalikan. Dan bila engkau memiliki hajat yang lain, aku akan penuhi hajatmu.”
Mendengar jawaban Imam Hasan as tersebut, kakek tersebut terperanjat dan terkejut, betapa selama ini ia keliru menilai keluarga Nabi saw. Sejak saat itu, dia sadar bahwa Mu‘awiyah telah menipu dirinya dan masyarakat yang lain. Bahkan Mu‘awiyah telah menyebarkan isu dan fitnah tentang ihwal Ali bin Abi Thalib as dan keluarganya.
Baca Kesabaran Imam Hasan as, Mukaddimah Kebangkitan Karbala
Terkesan oleh jawaban Imam as, Kakek itu pun menangis dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah khalifah Allah SWT di muka bumi ini, dan sesungguhnya Allah Mahatahu kepada siapa risalah-Nya ini hendak diberikan. Sungguh sebelum ini engkau dan ayahmu adalah orang-orang yang paling aku benci dari sekalian makhluk Allah. Tapi, sekarang engkau adalah orang yang paling aku cintai dari segenap makhluk-Nya.”
Kakek tersebut akhirnya dibawa oleh Imam as ke rumahnya dan beliau menjamunya sebagai tamu terhormat hingga dia pergi.
Kedermawanan Imam Hasan as
Seorang pernah datang menjumpai Imam Hasan as dan meminta kepada beliau untuk memberi sejumlah uang. Atas permintaan orang itu, Imam as memberikan 50.500 Dirham.
Ketika seorang Arab Badui datang meminta, Imam as berkata, “Berikan apa yang ada dalam laci itu padanya.” Di dalamnya didapati 20.000 Dinar, dan segera diberikan kepada orang Badui itu.
Pada suatu hari, Imam Hasan as melakukan tawaf di Ka’bah. Tiba-tiba beliau mendengar seseorang yang sedang berdoa kepada Allah SWT agar memberinya rezeki sebanyak 10.000 Dirham. Kemudian beliau pergi ke rumahnya, lantas mengirimkan 20.000 Dirham untuknya.
Diriwayatkan, seseorang menjumpai Imam Hasan dan berkata, “Aku telah membeli seorang budak dan ia melarikan diri dariku.” Mendengar itu, beliau lekas memberinya delapan orang budak sebagai ganti budaknya yang hilang itu.
Khilafah (Kepemimpinan Islam)
Segera setelah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib menemui kesyahidan pada 21 Ramadhan akibat tebasan pedang Ibnu Muljam, kepemimpinan Islam beralih ke pundak putranya, yaitu Imam Hasan as. Peralihan ini disambut oleh kaum muslimin saat itu dengan menyatakan baiat (ikrar setia) kepada beliau. Ketika itu, beliau baru berusia 27 tahun.
Pada pagi hari, di awal peralihan kepemimpinan umat itu, Imam as naik ke atas mimbar dan memberikan pidato tentang sejarah, kelangsungan kepemimpinan politik ayahnya dalam memperjuangkan keadilan, kesetaraan, dan menantang setiap makar para pengkhianat agama.
Baca Biografi Singkat Imam Hasan Al-Mujtaba a.s.
“Sungguh telah diambil nyawanya pada malam itu. Dialah manusia yang orang-orang sebelumnya belum pernah mengunggulinya dalam beramal, dan orang-orang setelahnya pun tak sanggup melakukan amalan tersebut. Sungguh ia berjuang bersama Rasulullah dan telah menjaganya dengan dirinya, dan Rasulullah memberikan panji Islam kepadanya. Sedang malaikat Jibril menjaganya dari sisi kanan dan malaikat Mikail dari sisi kirinya. Dan beliau tidak pernah kembali sehingga Allah SWT membuka dan memperlihatkan kemenangan kepadanya. Sungguh beliau telah syahid di malam ketika Isa bin Maryam as dimikrajkan dan di malam ketika Yusya’ bin Nun, sang penerus Musa as pergi menghadap Allah SWT.”
Kemudian air mata Imam Hasan as luruh membasahi pipinya. Tangisan beliau telah membuat orang-orang yang hadir saat itu juga ikut menangis.
Lalu Imam as melanjutkan pidato, “Aku adalah putra dari pemberi kabar gembira (basyir). Aku adalah putra pemberi peringatan (nazdir). Aku adalah putra penyeru ke jalan Allah (da’i). Aku adalah putra pelita yang cerlang (sirajun munir). Aku adalah bagian keluarga Nabi (Ahlulbait) yang Allah telah jauhkan dari segala kotoran dari diri mereka dan telah mensucikan mereka sesuci-sucinya.
“Aku termasuk Ahlulbait yang Allah SWT telah mewajibkan orang-orang untuk mencintainya sebagaimana firmannya, ‘Katakanlah [wahai Muhammad]! ‘Aku tidak meminta upah apa pun dari kalian atas risalah ini kecuali kecintaan kepada keluargaku.’ Dan barang siapa melakukan suatu kebaikan, maka akan Kami tambahkan baginya suatu kebaikan.’” (QS. Asy-Syura: 22)
Tak lama setelah itu bangkitlah Abdullah bin Abbas dan berkata, “Ketahuilah wahai sekalian manusia, inilah putra Nabimu dan penerima wasiat dari Imammu. Maka, berbaiatlah kepadanya!”
Serempak orang-orang menjawab seruannya dan bergegas untuk memberikan baiat kepada Imam Hasan as.
Muslihat dan Makar Mu‘awiyah
Sementara itu, Mu‘awiyah secara terus-menerus melancarkan makar dan penentangan terhadap Imam Hasan as. Sebagaimana pada masa Imam Ali as, perang Shiffin dan perang Nahrawan adalah bentuk pembangkangannya terhadap khalifah muslimin, dan usahanya dalam rangka merampas tampuk kepemimpinan umat Islam dari tangan pemimpinnya yang sah.
Masyarakat telah memilih Imam Hasan as sebagai khalifah Rasulullah saw, dan sebagai pemimpin mukminin. Akan tetapi, Mu‘awiyah menentang dan menolak baiat kepadanya. Alih-alih menunjukkan ketaatan, dia malah menyebarkan mata-matanya ke Kufah dan Bashrah, serta mengirimkan uang guna membeli hati beberapa orang dekat beliau.
Imam Hasan as tidak menganggap remeh makar yang dilakukan oleh Mu‘awiyah. Bahkan, beliau memerintahkan untuk menghukum mati para mata-mata Mu‘awiyah. Kemudian beliau mengirimkan surat ancaman kepada Mu‘awiyah agar ia menghentikan penyimpangan dan penentangannya.
Persiapan Perang
Selain melakukan makar, Mu‘awiyah mengerahkan seluruh tentaranya untuk menebarkan rasa takut di hati kaum muslimin. Tak segan-segan ia menyerang mereka serta merampok seluruh harta benda miliknya. Imam Hasan as berupaya untuk melawan dan bersiap-siap menyusun barisan perang.
Di hadapan kaum muslimin, Imam mengatakan, “Sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan jihad untuk makhluknya dan menjadikan jihad tersebut sebagai sebuah kewajiban. Kemudian Allah SWT mengatakan kepada mujahidin, “Bersabarlah! Karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar, dan kalian tidak akan mendapatkan apa yang kalian inginkan kecuali dengan kesabaran atas apa yang kalian tidak inginkan. Berangkatlah! Semoga Allah SWT menaungi kalian!”
Sayang sekali, rasa takut telah menguasai mereka sehingga sambutannya untuk ikut berperang begitu dingin. Maka, di sinilah Adi bin Hatim At-Tha’i, salah seorang sahabat Imam as, bangkit sambil berteriak lantang dan mencemooh mereka, “Akulah Adi bin Hatim! Maha Suci Allah, Duhai … alangkah jijiknya tempatku ini! Tidaklah kalian sambut seruan Imam dan putra Nabi kalian.”
Sebagian pembela Imam Hasan bangkit dan memberi semangat kepada masyarakat untuk bersiap-siap menghadapi Mu‘awiyah. Hingga tersusunlah pasukan berjumlah dua belas ribu prajurit. Pasukan ini dipimpin oleh Ubaidillah bin Abbas yang kedua putranya telah dibunuh oleh Mu‘awiyah.
Sayangnya, di dalam tubuh pasukan Imam Hasan as sendiri terdapat banyak orang yang rakus akan dunia, sehingga Mu‘awiyah begitu mudahnya membeli mereka dengan kepingan Dirham dan Dinar, dan mereka pun begitu mudahnya membelot ke pasukan Mu‘awiyah.
Bahkan, Mu‘awiyah telah berhasil menyuap panglima perang Imam Hasan as, Ubaidillah bin Abbas dengan uang sebesar satu juta Dirham. Lantas ia pun berkhianat dan membelot dari pasukan beliau. Dia lebih memilih berdiri di barisan Mu‘awiyah dan rela membiarkan beliau bangkit sendiri.
Imam Hasan as memahami betapa sulitnya menghadapi Mu‘awiyah dengan pasukan-pasukan yang lemah imannya itu. Mereka merelakan dijualbelikan diri dan agamanya dengan harga yang amat rendah. Dari sinilah Mu‘awiyah menawarkan perdamaian kepada Imam as, dengan syarat beliau harus turun dari kekhalifahan.
Di samping itu, Imam Hasan as tahu bahwa dengan meneruskan perlawanan terhadap Mu‘awiyah malah akan membawa kehancuran dan kematian sahabat-sahabat serta pembela-pembela setia beliau yang sebagiannya adalah sahabat-sahabat mulia Nabi saw. Belum lagi tentara Syam yang akan menduduki Kufah. Semua itu turut melengkapi kekuatiran Imam as.
Perdamaian
Orang-orang Khawarij telah merencanakan siasat untuk membunuh Imam Hasan as yang ternyata mendapat dukungan Mu‘awiyah dari jauh, dengan maksud memaksa Imam Hasan as menerima usul perdamaian dan turun dari kursi kekhalifahan.
Imam as tidak memikirkan selain kepentingan Islam dan kemaslahatan umatnya. Maka itu, demi menghindari pertumpahan darah, Imam as dengan terpaksa menyepakati perdamaian itu, dan menulis butir-butir perdamaian, di antaranya:
Hendaknya Mu‘awiyah bertindak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunah Nabi.
Hendaknya tidak melakukan pencaci-makian terhadap Ali bin Abi Thalib.
Mu‘awiyah tidah berhak untuk menentukan seorang pun untuk menduduki khilafah.
Tidak memaksa Imam Hasan untuk mengakui Mu‘awiyah sebagai Amirul Mukminin.
Hendaknya Mu‘awiyah mengembalikan kekhalifahan kepada Imam Hasan as, dan bila Imam as telah meninggal, maka kekhalifahan dikembalikan kepada Imam Husain as.
Mu‘awiyah Merobek Surat Perdamaian
Sebelumnya, Imam Hasan as telah mengetahui bahwa Mu‘awiyah tidak akan menjalankan butir-butir yang tercantum dalam perdamaian tersebut. Akan tetapi, beliau hendak menunjukkan kepada umat tentang akal bulus Mu‘awiyah, bahwa dia adalah orang yang tidak teguh pada janji dan agama.
Perjanjian damai telah dilaksanakan. Segera setelah memasuki kota Kufah, Mu‘awiyah naik ke mimbar dan berpidato di depan khalayak seraya mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak membunuh, tidak juga angkat senjata, atau menyerbu kalian supaya kalian berpuasa atau melakukan salat. Akan tetapi, tujuanku agar aku memimpin kalian. Ketahuilah, bahwa setiap butir yang tertulis dalam surat perdamaian itu sekarang ada di bawah telapak kakiku.” Dengan cara secongkak itu Mu‘awiyah menginjak-injak perdamaian.
Selanjutnya, Mu‘awiyah menentukan Ziyad bin Abih sebagai gubernur Kufah. Ia mulai mengusir pengikut Ahlulbait, menghancurkan rumah-rumah mereka, merampas harta benda mereka, hingga menyiksa dan memenjarakan mereka.
Imam Hasan as berupaya untuk membantu orang-orang yang teraniaya, dan menentang seluruh perbuatan zalim Mu‘awiyah yang telah melanggar butir-butir perdamaian sebagaimana yang telah diberikan kepadanya.
Sampai pada saatnya, Mu‘awiyah merencanakan pembunuhan terhadap Imam Hasan as dan berupaya untuk mendudukkan anaknya yang bernama Yazid di atas kursi kekhalifahan. Dalam rangka itu, ia berpikir untuk meracuni beliau.
Untuk menjalankan rencana pembunuhan tersebut, Mu‘awiyah memilih Ja‘dah, istri Imam Hasan as, yang ayahnya adalah seorang munafik. Tentunya setelah mengiming-imingi imbalan harta kekayaan dan menjadi istri putra mahkota, Yazid.
Setan mulai menggoda pikiran Ja‘dah. Ia pun bersedia menerima racun yang dikirimkan Mu‘awiyah untuknya, lalu mencampurkannya ke dalam makanan yang telah dipersiapkan untuk buka puasa. Karena saat itu Imam as sedang berpuasa.
Tiba saatnya berbuka puasa. Imam Hasan as mulai berbuka dengan makanan yang telah disediakan oleh Ja‘dah. Tiba-tiba ia merasakan pedih dan sakit. Pengaruh racun itu membuat usus beliau terkoyak. Kemudian ia menatap istrinya dan berkata, “Wahai musuh Allah! Kau telah membunuhku. Semoga Allah membunuhmu. Sungguh Mu‘awiyah telah memperdaya dan menipumu. Semoga Allah menghinakanmu dan menghinakannya (Mu‘awiyah).”
Dan demikianlah kenyataannya. Mu‘awiyah tidak menepati janjinya kepada Ja‘dah. Ia berhasil menipu Ja‘dah dan bahkan mengusirnya dari istana. Mu‘awiyah berkata kepadanya, “Kami lebih cinta pada Yazid!” Begitulah nasib Ja‘dah. Ia menderita di dunia dan akhirat. Sejak saat itu, ia lebih dikenal dengan julukan “Si Peracun Suami”.
Karena tak lagi kuasa menahan jahatnya racun tersebut, akhirnya Imam Hasan as gugur sebagai syahid pada 7 safar, riwayat lain mengatakan 28 Safar 50 H. Dan di hadirat Allah kelak, beliau akan mengadukan kezaliman Bani Umayyah terhadap dirinya. Jasad suci Imam Hasan as dikebumikan di pemakaman Baqi‘, di Madinah Al-Munawwarah. [Islamic Source]
Syeikh Hakimelahi: Pelajaran Dari Tragedi Asyura
Imam Husain as ditanya apakah jihad itu sunah atau wajib. Imam Husain as menjawab, “Jihad itu ada empat macam: dua jihad wajib dan dua jihad sunah yang salah satunya tidak dapat terlaksana kecuali dengan yang wajib. Adapun jihad wajib salah satunya adalah jihad melawan hawa nafsu, yaitu seorang manusia berjihad mencegah dirinya dari dosa, dan ini adalah jihad yang paling besar. Sementara jihad wajib yang kedua ialah jihad melawan orang-orang kafir (yang memusuhi) yang bertetangga (berbatasan) dengan orang-orang muslim. ” (Tuhaf al-Uqul, jilid 1 )
Pembahasan yang akan kita bicarakan ini adalah mengenai pelajaran yang dapat kita petik dari tragedi Asyura. Apa apa yang dihasilkan oleh peristiwa Asyura? Pelajaran pertama yang dapat kita petik adalah tauhid. Asyura ibarat kitab tauhid yang mengajarkan kepada kita tentang ketuhanan, penghambaan, dan kecintaan yang penuh kepada Tuhan.
Kita bisa melihat Imam Sayyid al-Syudaha dan pengikutnya yang setia, Ahlulbait yang terbunuh di Karbala menunjukkan tauhid praktis dalam tindakan nyata. Setiap langkah, perbuatan dan tindakan mereka mencerminkan ketauhidan. Mereka tidak menyandarkan sesuatu selain kepada Allah Swt. Menolak setiap pertolongan selain pertolongan Allah.
Sebelum pergi ke Karbala, dalam perjalanannya Imam Husain berkata, “Keridaan kami adalah keridaan Allah.” Begitu pula khotbah-khotbah di hadapan pasukan musuh mengandung nilai tauhid. Semua musibah yang terjadi mesti dihadapi dengan kesabaran. Imam berkata. “Ya Allah. hanya Engksu yang aku sembuh, dan hanya kepada Engkau hamba berharap.”
Pelajaran kedua yang bisa kita petik adalah tawakal, yakni menyandarkan segala harapan hanya kepada Allah. Memutus segala harapan dari yang lain selain dari Allah. Imam Husain as menunjukkan tawakal yang hakiki. Dalam satu riwayat dikatakan bahwa orang yang bertawakal kepada Allah tidak akan pernah kalah. Dalam riwayat lain dikatakan, “Sebaik-baiknya tali yang bisa menyadarkan kita kepada Allah adalah tali tawakal.”
Kebangkitan Imam Husain as adalah kebangkitan yang penuh dengan tawakal. Walaupun secara zahir yang pertama kali yang memantik gerakan Imam as itu adalah surat-surat yang dikirim penduduk Kufah yang mengajak beliau bangkit melawan pemerintahan Yazid, itu tak menyurutkan niat Imam untuk tetap melanjutkan perjalanan ke Karbala meski di perjalanan beliau mendengar berita kesyahidan Muslim bin Aqil, duta beliau di Kufah.
Di Hari Asyura, khotbah-khotbahnya penuh dengan perkataan tawakal. Salah satu ungkapan dari Imam Husain, “Ya Allah, Engkaulah tumpuan harapanku. Ya Allah, jika aku harus menghadapi segala kesulitan, aku tak akan pernah menghilangkan rasa tawakal dan kepercayaan kepada-Mu.”
Pagi Hari Asyura, ketika Umar bin Sa’ad dan pasukannya menyerang Imam Husain as dan para sahabatnya, beliau menyampaikan khotbah yang panjang dan sarat dengan muatan tawakal dan keikhlasan. Ketika Malaikat di langit menyaksikan kondisi Imam Husain, mereka minta izin kepada Allah untuk turun dan membantu. Setelah mendapat izin mereka menemui Imam as dan menyampaikan maksudnya. Akan tetapi maksud mereka untuk membantu ditolak oleh Imam Husain as. Sampai pada akhirnya terjadi pembantaian, hingga berakhir, para malaikat tidak kembali ke tempatnya. Menunggu sampai suatu hari nanti Allah mengizinkan Imam Mahdi turun dan malaikat akan membantunya.
Bahkan ketika salah seorang dari bangsa jin yang bernama Ja’far mendatangi Imam as untuk membantu, Imam Husain as menolaknya. Ini adalah tawakal besar yang ditunjukkan oleh Imam Husain as. Kisah ini adalah kisah yang sudah masyhur di kalangan orang-orang saleh. Sebagian orang mempunyai hubungan dengan bangsa Jin yang saleh ini dan sering melihat Jin itu menangis setiap hari. Ketika bangsa Jin ini ditanya mengapa banyak menangis, mereka menjawab, “Kalian hanya mendengar kisah Karbala dari buku-buku atau dari ceramah-ceramah. Tapi kami, bangsa Jin mengetahui kejadian yang sesungguhnya. Jika kalian menyaksikan seperti yang kami saksikan di Karbala pasti kalian menangis.”
Kata-kata ini tidak bertentangan dengan apa yang didapatkan dari ziarah Imam Mahdi afs. Diriwayatkan oleh Maulana Shahibul Ashri (sebutan Imam Mahdi), beliau setiap malam hari menangisi Imam Husain as. Beliau mengatakan, “Wahai Abu Abdillah, aku akan terus menangisimu hingga air mataku habis, hingga menangisimu dengan darah.”
Para ulama mengatakan bahwa di hari Asyura kesedihan yang dirasakan oleh Imam Mahdi afs begitu beratnya. Karena itu para ulama mengajarkan dan menganjurkan sebisa mungkin kita meringankan beban penderitaan Imam Mahdi afs dengan menyembelih binatang korban. Hendaknya kita melakukan sedekah walaupun hanya dengan Rp1.000, atau memberi makan orang lain dengan niat supaya Allah Swt meringankan beban Imam Mahdi afs.
Pelajaran ketiga yang kita bisa ambil tentang Asyura adalah mengenai berserah diri sepenuhnya dan meridai atas apa yang Allah tentukan. Mungkin kita perlu mengetahui bahwasanya pelajaran tertinggi spiritual adalah maqam rida, yang dalam derajat irfani merupakan maqam yang terakhir. Di dalam Doa Sahr (sebuah doa yang dianjurkan untuk dibaca di waktu sahur di bulan Ramadan -red.) ketika kita memanjatkan doa dan meninta kepada Allah, kita bertawasul dengan nama-nama Allah, dengan keagungan dan keindahan Asma Allah, dan di akhir doa kita panjatkan, “Ya Allah aku rida atas apa yang Engkau berikan kepadaku dalam kehidupan ini.” Inilah yang menunjukan bahwasanya rida sebagai kedudukan yang tinggi.
Dalam ayat Alquran (89: 27 – 28) , berdasarkan tafsir dalam Ahlulbait, Allah Swt mengatakan sesuatu yang ditujukan kepada Imam Husain dan menyebut Imam Husain dengan Ya Ayyuhaanafsul muthmainnah, “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu”. Allah menyifati Imam Husain dalam ayat itu dengan radhiyatan mardhiyyah, dengan mencapai tingkatan rida, dia rida yang diridai. Itulah yang kita mendapatkan dari lembaran sejarah di Karbala yang menunjukkan manifestasi nyata serta rida.
Ketika peristiwa di Karbala, kita mengetahui peristiwa atas Ali Ashghar yang dipanah dengan panah yang beracun. Imam Husain memegang dan menyaksikan bagaimana anak itu darahnya muncrat dari lehemya. Pada saat itulah Imam Husain mengatakan ini, “Semua jadi ringan bagiku dan aku tahu peristiwa ini di hadapan Allah Swt.” Apa pun yang terjadi Imam Husain mengatakan ini adalah kehendak Allah, rida dan rela. Saat ditanya, “Apakah engkau berjalan menuju ke Kufah, Karbala padahal engkau tahu dihadang kematian?”
Beliau menjawab, “Allah hendak melihat aku dalam keadaan terbunuh.” Ketika ditanya, “ Mengapa engkau membawa keluargamu, yang akan diperangi dan ditawan?” Imam menjawab, “Aku bawa keluargaku karena Allah berkehendak.”
Pelajaran keempat yang kita bisa petik adalah pelajaran mengenai loyalitas dan kesetiaan. Bagaimana para sahabat Imam Husain setia untuk membela pemimpin, hujjatullah, imam yang hak yang siap membela walau nyawa taruhannya dan dibunuh dalam kondisi yang sangat tragis, sadis dan menyedihkan. Di malam Asyura para sahabat dikumpulkan oleh Imam Husain. Lalu beliau memerintahkan untuk memadamkan semua penerangan di kemah-kemah, Beliau lalu mengatakan kepada mereka, “Pergilah kalian dari hadapanku, semua baiat kalian aku cabut. Kalian telah melaksanakan tugas kalian dengan sebaik-baiknya. Aku cabut baiat kalian. Pergilah kalian masing-masing dari kegelapan dengan membawa keluarga untuk meninggalkan Karbala. Karena mereka berurusan dengan aku.”
Sebelum pergi namun scbagian tetap berada di sisi Imam as. Beliau mengatakan, “Mengapa kaliun tidak pergi?” Lalu dari mereka mengatakan, “Ya Aba Abdillnh, jika aku dibunuh, kemudian aku dicincang lalu terbunuh lagi dan Allah membangkitkan lagi dan aku terbunuh lagi dan terus menerus demikian, maka sumpah demi Allah. aku tidak akan meninggalkanmu.”
Dan, kesetiaan itu dibuktikan dengan amal dan praktik oleh mereka. Di hari Asyura mereka menunjukan kesetiaan mereka. Mereka tahu bahwa taruhannya adalah hilangnya nyawa dengan cara yang menyakitkan.
Setiap satu dari mereka maju ke medan pertempuran, tersungkur dan menghadapi detik-detik terakhir kehidupannya. Imam Husain as selalu menyempatkan diri untuk datang dan memangku kepala mereka dan mendatangi para sahabatnya. Di akhir hidupnya mereka mengatakan. “Ya Aba Abdillah. inilah kesetiaan aku kepadamu.”
Ali Akbar adalah keluarga pertama dari Bani Hasyim yang maju ke medan laga. Imam Husain mengenali Ali Akbar. Saat Ali Akbar berjalan Imam berkata, “Ya Allah, sekarang yang pergi ke medan pertempuran adalah seorang pemuda yang sangat mirip dengan datuknya, Rasul saw, baik wajahnya, tutur katanya maupun perilakunya.” Ini adalah kesaksian yang paling tinggi lmam Maksum yang menyanjung keteladanan Ali Akbar.
Zainab berkata, “Ketika sahabat-sahabat Imam Husain pergi ke medan laga untuk bertempur, Imam menantikan mereka sampai mereka tersungkur dan syahid. Akan tetapi ketika Ali Akbar yang pergi ke medan tempur, beliau gelisah karena dia adalah seorang yang sangat beliau cintai, putra yang sedemikian agung, yang Imam Husain sendiri mengatakan, “Ya Allah, jika aku rindu kepada nabi-Mu, aku selalu melihat dia dan menatap dia mengobati rasa rindu kami kepada nabi-Mu.”
Kecintaan Imam Husan kepada Ali Akbar tidak terlukiskan. Ketika Ali Akbar maju ke medan perang, satu persatu orang di hadapannya bertarung dengan putra Imam Husain itu. Mereka tersungkur dan tewas di tangan Ali Akbar. Satu persatu berhasil disungkurkan oleh Ali Akbar sampai saat Umar bin Sa’ad melihat pasukan Ibnu Ziyad, “Wahai manusia, kalau kalian melawan dia, maka tidak akan ada satu pun yang bisa menang. Dialah pemuda yang memiliki keberanian tempur seperti keberanian tempur Haidar; kakeknya (Imam Ali bin Abi Thalib). Serang dia secara bertubi-tubi!”
Lalu pasukan pun dipersiapkan di segala penjuru. Ali Akbar dihujani oleh anak panah. Tidak ada sedikit pun tubuh Ali Akbar yang selamat dari anak panah. Sampai satu demi satu pasukan musuh mempunyai kesempatan dan memukulkan alat-alat perangnya.
Darah mengucur dari tubuh Ali Akbar sedemikian dahsyat. Dalam keadaan seperti itu ada seorang yang mengambil kayu dan memukulkannya ke tubuh dan kepala Ali Akbar. Ali Akbar sudah tidak berdaya. Dia tidak bisa lagi memegang tali pegangan kuda dan mengalungkan tangannya di leher kuda yang bahkan sudah tidak bisa lagi memiliki tenaga. Pada saat itu kuda pun menuju kepada para musuh. Mereka memukulkan segala alat perangnya ke tubuh Ali Akbar sampai tiba-tiba terdengar suara Ali Akbar, “Wahai ayahku, Kakekku Rasulullah…”
Sayidah Zainab menceritakan: Tiba-tiba aku melihat Imam Husain menunggangi kudanya melesat secepat kilat ke tengah medan tempur sambil meneriakkan memanggil-manggil putranya, “Ya Ali. Ya Ali, putraku…”
Kemudian Imam mengobrak-abrik pasukan yang mengepung Ali Akbar dan terduduk bersimpuh di samping tubuh Ali Akbar. Menurut riwayat, jasad Ali Akbar tidak berbentuk lagi karena musuh telah membelah dan mencincang-cincang tubuh Ali Akbar.
Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi ketika Abu Abdillah as berada di sisi tubuh Ali Akbar. Pertama, Imam, yang kita tahu, adalah orang yang memiliki kesabaran yang sedemikian besar. Orang yang sedemikian tabah dalam menghadapi segala musibah. Tujuh kali Imam meneriakkan dan menyebut nama Ali Akbar, memanggil-manggil nama putranya itu. Dalam hatinya mengatakan, “Ali wahai putraku, wahai buah hatiku.” Imam mengatakan semacam itu dengan suara yang cukup keras. Kedua, Imam melaknat orang orang yang telah membunuh Ali Akbar.
*Naskah ini merupakan Khotbah Jumat Dr. Abdulmajid Hamimelahi, di Islamic Cultural Center Jakarta




























