کمالوندی

کمالوندی

Sejumlah warga Lebanon memprotes kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah menerapkan pajak baru, dengan turun ke jalan.

Fars News (18/10/2019) melaporkan, ribuan warga Lebanon, Kamis (17/10) malam turun ke jalan memprotes kebijakan pemerintah menerapkan pajak baru.
 
Surat kabar Lebanon, Daily Star menulis, ribuan pengunjuk rasa dari kota Tripoli hingga Tirus, Baalbek dan Beirut, memprotes penerapan pajak baru atas panggilan telepon berbasis internet melalui layanan media sosial seperti Whatsapp.
 
Aksi demonstrasi terbesar terjadi di kota Beirut, ribuan orang berkumpul di bundaran Riad El Solh dekat pusat pemerintahan Lebanon, Grand Serail. Demonstran membakar ban, tempat sampah dan kayu di tengah jalan dan terlibat bentrok dengan aparat keamanan.
  
Pihak kepolisian Lebanon mengumumkan, 40 orang terluka dalam bentrokan tersebut. Polisi meminta para pengunjuk rasa untuk menghindari tindakan kekerasan dan kerusuhan. 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat mengabarkan pertemuan dirinya dengan Perdana Menteri rezim Zionis Israel, dan pembicaraan seputar perkembangan terbaru kawasan termasuk pengaruh Iran.

Fars News (18/10/2019) melaporkan, Mike Pompeo yang baru-baru ini berkunjung ke Israel menuturkan, saya sudah membicarakan upaya menghadapi Iran dengan Benjamin Netanyahu.
 
Sementara itu di laman Twitternya, Pompeo menulis, Netanyahu dan saya melakukan pertemuan konstruktif membahas upaya menghadapi pengaruh buruk rezim Iran dan perkembangan kawasan, serta masalah keamanan lain.
 
Pompeo yang bertolak ke Israel setelah mengunjungi Turki, membahas sejumlah isu regional termasuk krisis Suriah, operasi militer Turki di utara Suriah dan peningkatan kekuatan Iran di kawasan.
 
Sebelumnya Menlu Amerika mengungkapkan kekhawatiran terkait habisnya masa berlaku sanksi senjata Iran tahun depan, dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk memperpanjang sanksi tersebut.

Pemerintah Rusia menunggu detail kesepakatan antara Turki dan Amerika Serikat terkait pemberlakuan gencatan senjata di utara Suriah.

Fars News (18/10/2019) melaporkan, Rusia, Jumat (17/10) dinihari mereaksi kesepakatan Amerika dan Turki seputar gencatan senjata di utara Suriah.
Kremlin mengumumkan, kami meminta Turki memberikan detail kesepakatan Ankara-Washington terkait situasi di utara Suriah.
 
Wakil Presiden Amerika, Mike Pence, Kamis (16/10) mengatakan, Turki dan Amerika mencapai sebuah kesepakatan tekait pemberlakuan gencatan senjata lima hari di utara Suriah.
 
Pence yang bersama Menteri Luar Negeri Amerika, Mike Pompeo berkunjung ke Turki menuturkan, penghentian operasi militer Turki akan berlangsung selama 12 jam, dan pada saat yang sama Amerika akan membantu mengevakuasi pasukan Unit Proteksi Rakyat, YPG ke wilayah aman. Setelah tahap ini selesai, Turki sepakat untuk memberlakukan gencatan senjata permanen.
 
Namun Menlu Turki, Mevlut Cavusoglu secara terpisah mengatakan bahwa ini bukanlah gencatan senjata tapi penundaan operasi militer, dan Turki akan melanjutkan operasinya untuk mengontrol wilayah perbatasan Suriah.

Sekelompok mahasiswa Korea Selatan memprotes penempatan pasukan Amerika Serikat di negara mereka dengan memanjat dan memasuki halaman rumah duta besar Amerika di Seoul.

Fars News (18/10/2019) melaporkan, hari Jumat (18/10) 19 orang mahasiswa Korea Selatan ditangkap aparat keamanan karena memanjat tembok dan memasuki rumah dubes Amerika di kota Seoul.

Sebagaimana dilaporkan Reuters, kelompok mahasiswa yang menamakan diri 'koalisi mahasiswa progresif' itu memajang foto-foto mereka saat memanjat rumah dubes Amerika, Harry Harris di laman Facebook.

Mereka memprotes penambahan 500 persen biaya penempatan 28.500 pasukan Amerika di Korea Selatan.

Para mahasiswa Korsel meneriakkan kata-kata 'stop intervensi urusan dalam negeri kami, dan 'pergi kalian, kami tak butuh pasukan Amerika'. 

Presiden Turki meski menerima gencatan senjata, namun mengatakan bahwa pasukan negara itu tidak akan meninggalkan kota Raqqa dan Hasakah, utara Suriah.

IRNA (18/10/2019) melaporkan, Recep Tayyip Erdogan, Jumat (18/10) membantah laporan terkait pelanggaran gencatan senjata dan penembakan yang dilakukan militer Turki di tenggara Suriah. Ia mengaku laporan tersebut adalah berita yang direkayasa.

Presiden Turki menegaskan, berdasarkan kesepakatan gencatan senjata sementara antara Turki dan Amerika Serikat, pasukan Turki tidak akan keluar dari wilayah-wilayah yang dikuasainya di tenggara Suriah.

Ia menambahkan, zona yang akan diumumkan Turki sebagai zona aman berjarak 32 kilometer, bukan 22 kilometer. 

Selasa, 15 Oktober 2019 15:37

Surat Shaad ayat 84-88

قَالَ فَالْحَقُّ وَالْحَقَّ أَقُولُ (84) لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكَ وَمِمَّنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ أَجْمَعِينَ (85)

Allah berfirman, “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan.” (38: 84)

Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya. (38: 85)

Pada pembahasan sebelumnya telah dikupas mengenai permohonan Iblis kepada Allah swt supaya diberi umur panjang untuk membalas dendam kepada manusia dengan menyesatkannya dari jalan kebenaran.

Di ayat ini, Allah swt menjawab permohonan Iblis dengan berfirman bahwa manusia yang mengikuti setan hanya orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya saja. Tapi manusia yang berpegang pada akal dan fitrah suci ilahi tidak akan terpengaruh godaan setan. Mereka tidak akan terpengaruh bisikan iblis, karena mengikuti jalan kebenaran ilahi dan di hari kiamat kelak akan selamat dari api neraka.

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Allah swt sebagai pemilik dan sumber kebenaran. Oleh karena itu, segala yang datang dari Tuhan seluruhnya kebenaran.

2. Pada hari Kiamat kelak setiap kelompok akan dibangkitkan sesuai dengan apa yang diikutinya. Orang-orang baik akan berada bersama orang baik, dan sebaliknya.

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ (86) إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (87) وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ (88)

Katakanlah (hai Muhammad), “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. (38: 86)

Al-Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. (38: 87)

Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita al-Quran setelah beberapa waktu lagi.” (38: 88)

Ayat penutup surat Shad ini menjelaskan sejumlah masalah penting berkaitan dengan tujuan diutusnya Nabi Muhammad Saw sebagai utusan Allah swt dan tujuan diturunnya al-Quran. Ayat ini bertentangan dengan klaim para pembohong yang mengaku sebagai utusan Tuhan dengan motif untuk memenuhi kepentingan dunianya. Tapi para Nabi sejati, termasuk Nabi Muhammad Saw tidak mengharapkan apapun, baik ganjaran moral maupun material dari manusia.

Para Nabi menyampaikan risalah ilahi kepada umat manusia dengan tidak menambah maupun menguranginya sesuai wahyu yang mereka terima dari Allah swt. Hal ini juga membantah pandangan sebagian pihak yang menyebut para Nabi adalah orang-orang baik yang melakukan perbuatan baik atas nama Tuhan supaya mendorong orang lain melakukannya.

Sejatinya, perilaku para Nabi di tengah masyarakat seluruhnya baik, bahkan para penentangnya sekalipun tidak bisa menemukan titik lemah dari perilakunya. Sebab, mereka akan membesar-besarkan setiap perbuatan kecil yang menjadi kelemahan para utusan Allah itu.

Para Nabi tidak mengharapkan imbalan materi maupun pujian manusia dalam menjalankan misinya. Bahkan sebaliknya, mereka justru menghadapi berbagai hinaan hingga ancaman mati dari sebagian orang ketika itu. Meskipun demikian, para Nabi tetap teguh menjalankan perintah Allah swt dalam menyampaikan risalah-Nya.

Ayat ini menjelaskan tujuan diutusnya para Nabi dan diturunkannya kitab suci untuk mengingatkan manusia supaya tidak lalai dan membimbing mereka menuju jalan kebenaran. Kelalaian disebabkan keterikatan manusia terhadap urusan dunia yang menjadikannya melupakan kehidupan abadi setelah kematian.

Di bagian ayat yang menjadi penutup surat Shad, Nabi mengatakan, Jika tidak beriman dan tidak mengabaikan masalah ini, maka dalam waktu dekat hak akan terbukti. Tapi ketika itu tidak ada manfaatnya lagi. Sebab tidak ada jalan untuk menebusnya.

Dari tiga ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Orang-orang yang menyampaikan dakwah harus mengikuti jejak para Nabi dengan tidak mengharapkan sedikitpun imbalan materi maupun pujian dari masyarakat. Hal ini menjadi syarat yang diperlukan bagi para mubaligh.

2. Ajaran agama Islam harus disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan bisa dijalankan oleh masyarakat. Jika tidak justru akan menjadi beban dan menyebabkan manusia menjauh dari agama.

3. Risalah Nabi Muhammad Saw dan al-Quran bersifat universal dan tidak dibatasi oleh geografi khusus, serta tidak dikhususkan untuk bangsa tertentu, maupun orang-orang yang hidup sezaman dengan Rasulullah saja.

4. Al-Quran adalah kitab suci ilahi yang memberikan nasihat kepada manusia supaya tidak lalai dalam kehidupannya.

5. Kebenaran Al-Quran dan ajaran Nabi Muhammad terbukti hingga kini yang melampaui zamannya, meskipun sebagian manusia menolak dan menentang ajaran tersebut.

Selasa, 15 Oktober 2019 15:36

Surat Shaad ayat 79-83

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (79) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (80) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (81)

Iblis berkata, “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” (38: 79)

Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. (38: 80)

Sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).” (38: 81)

Pada pembahasan sebelumnya telah dikupas mengenai sikap Iblis yang tidak mau bersujud kepada Adam, padahal Allah swt telah memerintahkannya. Masalah Iblis bukan sekedar tidak bersedia untuk bersujud kepada Adam, tapi berupaya untuk menjustifikasi sepak terjangnya yang menentang perintah Allah tersebut.

Alih-alih bertaubat atas perbuatan dosanya itu, Iblis justru mengatakan bahwa dirinya tidak mau bersujud kepada Adam karena merasa lebih utama darinya. Perbuatan Iblis tersebut menjadikannya dikeluarkan dari barisan malaikat.

Di ayat ini, Iblis meminta penangguhan waktu kepada Allah swt hingga hari Kiamat dan usianya dipanjangkan hingga akhir zaman. Panangguhan waktu ini dilakukan Iblis bukan untuk menebus dosanya, tapi justru untuk membalas dendam kepada manusia dengan menggodanya supaya tergelincir dari jalan kebenaran. Iblis kembali melakukan kesalahan dengan menyalahkan manusia yang menurutnya menjadi penyebab keluar dari surga.

Penangguhan waktu yang diminta Iblis akhirnya dikabulkan oleh Allah swt hingga waktu yang ditentukan-Nya, bukan hari Kiamat. Maksud dari waktu ini adalah akhir kehidupan manusia di muka bumi, atau hari kemenangan hujah terakhir Allah swt di dunia ini, yaitu Imam Mahdi.

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Sifat sombong dan takabur menyebabkan Iblis meminta penangguhan waktu untuk membalas dendam kepada manusia, dari pada memohon ampunan dari Allah swt.

2. Allah swt dengan mudah memberikan umur yang panjang kepada sebagian makhluk hidup dengan mempertimbangkan kemaslahatannya.

3. Masalah iblis bukan tidak mengenali Allah maupun Kiamat, tapi sifat takabur yang menyebabkannya menentang perintah Allah swt.

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (82) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (83)

Iblis menjawab, “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. (38: 82)

Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (38: 83)

Setan meminta umur panjang kepada Allah swt bukan untuk menebus kesalahannya, tapi untuk menggoda manusia dan menyelewengkan jalan hidupnya.

Di ayat ini, setan bersumpah dengan kekuasaan Allah akan menyesatkan semua manusia demi menunjukkan bahwa manusia lemah dan tidak berdaya menghadapi ajakannya.Tapi setan tidak berhasil menyelewengkan jalan orang-orang yang ikhlas beribadah kepada Allah swt. Sebab, hamba-hamba Allah yang Mukhlis tidak akan terpengaruh oleh godaan setan. Masalah ini juga ditegaskan di ayat 20 surat Saba yang menegaskan bahwa sebagian manusia tidak terpengaruh oleh godaan setan.

Mengenai hikmah diberikannya penangguhan waktu dari Allah swt kepada iblis dengan memberinya umur panjang yang dipergunakan untuk menggoda manusia, terdapat sejumlah pendapat. Tapi secara umum menunjukkan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makhluk bebas dan memiliki ikhtiar untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Di sisi lain, Allah swt menghendaki manusia mencapai kesempurnaan yang diperoleh dengan kerja keras dan usaha tak kenal henti. Sebab, untuk mencapai kesempurnaan dalam masalah ilmu pengetahuan saja membutuhkan kerja keras dan menempuh berbagai rintangan yang menghadang, demikian juga dengan kesempurnaan spiritual manusia.

Setan menggoda manusia dengan mempengaruhi hawa nafsu yang ada dalam dirinya. Sebagian manusia mengikuti ajakan setan dan menjadi pengikutnya. Tapi sebagian lain tetap teguh menempuh jalan kebenaran, tanpa memperdulikan bisikan setan.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Manusia sepanjang hidupnya senantiasa berada dalam bahaya godaan setan, dan jangan pernah melalaikannya. Sebab iblis bersumpah untuk menyelewengkan manusia dari jalan kebenaran.

2. Terkadang sebuah dosa menjadi pembuka dari dosa lainnya yang lebih besar. Setan melakukan dosa karena tidak mau bersujud kepada Adam, meskipun diperintah oleh Allah swt. Dosa ini menjadi pembuka bagi dosa lain yang lebih besar dengan menjadi penggoda manusia sepanjang zaman.

3. Menyucikan diri dari selain Allah dan ikhlas dalam beramal menjadi syarat keterjagaan manusia dari godaan setan.

Selasa, 15 Oktober 2019 15:34

Surat Shaad ayat 75-78

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ (75) قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (76)

Allah berfirman, “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?" (38: 75)

Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (38: 76)

Pada pembahasan sebelumnya telah dikupas mengenai perintah Allah swt kepada malaikat supaya bersujud kepada manusia pertama. Seluruh malaikat bersujud kepada Adam karena menaati perintah Allah. Tapi iblis menolak menaati perintah Allah tersebut.

Sifat sombong dan takabur yang ada dalam diri Iblis menyebabkan turun derajat dari posisi sebagai makhluk yang taat dan rajin beribadah menjadi makhluk yang menentang Allah swt.

Iblis tidak mau bersujud kepada Adam karena merasa lebih unggul disebabkan diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Menurutnya, api lebih utama dari tanah. Oleh karena itu mereka tidak mau bersujud kepada Adam, meskipun itu perintah Allah swt langsung.

Mengenai perbandingan yang dikemukakan iblis ini terdapat sejumlah poin yang bisa kita soroti antara lain:

Pertama, perbandingan ini tidak memiliki dasar yang kuat. Sebab secara logis dan rasional tidak ada yang bisa membuktikan bahwa api lebih utama dari tanah.

Kedua, anggap saja seandainya iblis lebih utama dari Adam, ia tentu tidak akan membantah perintah Allah swt yang memerintah untuk bersujud kepada Adam.

Ketiga, perintah bersujud kepada Adam bukan karena jasmaninya yang dibuat dari tanah, tapi karena ruhaninya yang ditiupkan dengan ruhani ilahi. Dari aspek inilah manusia lebih utama dari makhluk lainnya.

Dari dua ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Orang-orang yang bersalah dan kriminal harus diberikan kesempatan untuk menyampaikan motif dan akar kejahatan yang mereka lakukan.

2. Penciptaan manusia berbeda dengan makhluk lainnya, tidak hanya dengan hewan maupun makhluk hidup lainnya di muka bumi, tapi juga berbeda dengan malaikat di langit dan jin yang tidak kelihatan. Semua makhluk tidak akan mencapai kedudukan tinggi yang diraih manusia.

3. Setiap perintah Allah swt harus ditaati, dan jangan dibantah dengan dalih yang tidak benar dan tidak rasional, apalagi mencari-cari alasan.

4. Akar dari segala bentuk penentangan terhadap aturan Allah swt adalah kesombongan dan ketakaburan sebagaimana iblis.

5. Rasisme dan merasa lebih unggul dari sisi ras maupun suku sebagai bentuk pandangan keliru yang mencontoh perilaku iblis.

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ (77) وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّينِ (78)

Allah berfirman, “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk. (38: 77)

Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” (38: 78)

Walaupun iblis yang berasal dari kalangan jin pernah masuk jajaran malaikat karena ketaatannya dalam beribadah selama bertahun-tahun. Tapi penentangannya terhadap perintah Allah yang tidak mau bersujud kepada Adam karena sombong dan takabur, menjadikan kedudukan iblis terjatuh.

Perjalanan iblis seperti orang yang berusaha untuk mencapai puncak gunung dan melalui berbagai rintangan besar yang menghadang dan akhirnya hampir mencapai tujuan. Namun mendekati puncak gunung, ia terlena dan merasa besar kepala hingga akhirnya terjatuh. Iblis juga demikian, kedudukannya di hadapan Allah swt terjatuh dari tempat yang tinggi menuju tempat terendah karena kesombongannya.

Berdasarkan ayat ini, iblis dikutuk oleh Allah swt hingga hari Kiamat. Dari sini muncul pertanyaan, bagaimana bisa sebuah perintah, itupun bersujud kepada Adam bukan kepada Allah swt, menyebabkan iblis demikian?

Menjawab pertanyaan tersebut, penentangan terhadap perintah Allah swt merupakan perbuatan buruk. Nabi Adam juga dikeluarkan dari taman surga karena memakan buah terlarang. Tapi keduanya memiliki perbedaan. Nabi Adam tidak berdalih untuk menjustifikasi kesalahannya, sedangkan iblis melakukan sebaliknya.

Nabi Adam memohon ampunan dari Allah swt atas perbuatan salahnya. Tapi iblis tetap merasa benar atas apa yang dilakukannya, karena merasa lebih unggul dan lebih baik dari Adam, sehingga dikutuk oleh Allah swt.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Takabur, sombong dan berbangga diri hanya akan menjadikan manusia jatuh dan tidak akan mendapatkan rahmat ilahi.

2. Unsur-unsur yang buruk dalam masyarakat dan orang-orang yang menentang aturan ilahi harus dibersihkan. Orang-orang yang bersih dan beriman harus melakukannya dengan benar dan tepat.

3. Orang-orang yang memiliki sifat laksana setan seperti hasud, takabur dan lainnya harus dijauhkan dari lingkungan masyarakat.

Selasa, 15 Oktober 2019 15:34

Surat Shaad ayat 67-74

قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌ (67) أَنْتُمْ عَنْهُ مُعْرِضُونَ (68) مَا كَانَ لِيَ مِنْ عِلْمٍ بِالْمَلَإِ الْأَعْلَى إِذْ يَخْتَصِمُونَ (69) إِنْ يُوحَى إِلَيَّ إِلَّا أَنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ (70)

Katakanlah, “Berita itu adalah berita yang besar. (38: 67)

yang kamu berpaling daripadanya. (38: 68)

Aku tiada mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang al mala'ul a'la (malaikat) itu ketika mereka berbantah-bantahan. (38: 69)

Tidak diwahyukan kepadaku, melainkan bahwa sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata.” (38: 70)

Di ayat sebelumnya telah dibahas mengenai surga dan neraka, serta kondisi orang-orang yang berada di dalamnya. Di ayat ini akan dikupas mengenai masalah ghaib yang hanya bisa diketahui melalui jalan wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul Allah swt, sebagaimana diterima Nabi Muhammad Saw dalam bentuk kitab suci Al-Quran. Oleh karena itu, sejak awal Allah swt menurunkan ayat ini kepada Nabi Muhammad Saw supaya menyampaikan Al-Quran sebagai berita besar, tapi orang-orang kafir menolak untuk mendengarkannya dan menentang seruan utusan Allah.

Ketika itu, Rasulullah Saw mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui masalah ghaib, kecuali wahyu yang disampaikan Allah swt. Hal ini sebagaimana ketidaktahuan beliau terhadap masalah penciptaan Nabi Adam yang dipersoalkan oleh Malaikat, tapi Allah swt memberikan pengetahuan kepada Nabi Muhammad Saw mengenai masalah tersebut.

Dari empat ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Dalam masalah akidah, pandangan masyarakat tidak bisa menjadi acuan benar atau tidaknya keyakinan yang mereka anut.

2. Sumber pengetahuan para Nabi dan Rasul dalam urusan ghaib adalah wahyu dari Allah swt. Oleh karena itu, pengetahuan yang dimiliki para Nabi dalam urusan ghaib sesuai yang mereka terima dari Allah swt.

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ (71) فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (72)

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (38: 71)

Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (38: 72)

Melanjutkan ayat sebelumnya, di ayat ini diawali dengan dialog antara malaikat dengan Allah swt mengenai penciptaan manusia. Allah swt berfirman kepada malaikat tentang penciptaan manusia dari tanah yang berbeda denga makhluk lainnya. Setelah manusia tercipta, makhluk lain harus bersujud kepadanya.

Jasmani manusia yang terbuat dari tanah dan air merupakan masalah yang jelas. Sebab seluruh bahan utama yang membentuk tubuh manusia terbuat dari tanah, baik langsung maupun tidak langsung. Masalah hakikat manusia yang terletak pada ruhaninya menunjukkan kemuliaan manusia, dan kedudukan khususnya di alam semesta ini. Sebab, manusialah yang diberi amanat oleh Allah swt untuk mengelola alam semesta ini.

Maksud dari Allah swt meniupkan ruh di ayat ini bahwa sumber ruh manusia berasal dari alam yang tinggi, bukan dari alam tanah ini. Dengan kata lain, Allah swt menganugerahkan sifat-sifat ilahi kepada manusia. Misalnya Allah swt memiliki sifat seperti berilmu, kuasa, memberi rahmat dan sifat lainnya. Tapi sifat-sifat yang dimiliki manusia terbatas, sedangkan sifat Allah swt tidak terbatas.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Malaikat diciptakan lebih awal dari manusia. Meskipun demikian, Allah swt menciptakan manusia sebagai makhluk yang lebih utama dari malaikat.

2. Manusia adalah makhluk yang memiliki dua dimensi, jasmani dan ruhani. Dimensi ruhani manusialah yang menyebabkan malaikat bersujud kepada manusia.

3. Bersujud kepada selain Allah swt tidak diperbolehkan, kecuali atas izin-Nya. Malaikat bersujud kepada Nabi Adam as atas perintah Allah swt, sebagai bentuk kepatuhan kepada perintah ilahi, bukan menyembah Adam.

فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ (73) إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (74)

Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya. (38: 73)

Kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. (38: 74)

Berdasarkan ayat al-Quran, malaikat adalah makhluk yang menaati Allah swt, dan tidak pernah sekalipun membantah perintah-Nya. Oleh karena itu ketika Allah swt memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada Adam, mereka segera melaksanakannya. Tapi iblis berbeda. Mereka tidak menaati perintah Allah supaya bersujud kepada Adam, karena merasa lebih unggul dan utama dari manusia.

Iblis takabur dan sombong sehingga tidak mau bersujud kepada Adam meskipun itu perintah Allah swt. Sebab mereka merasa lebih unggul karena diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Penentangan Iblis atas perintah Allah swt yang menyuruh bersujud kepada Adam menjadikan mereka turun derajat dari golongan orang-orang yang taat menjadi golongan kafir.

Jika iblis termasuk golongan malaikat, maka ia pasti akan menaati perintah Allah. Berdasarkan ayat al-Quran, Iblis termasuk golongan jin, sebab jin seperti manusia yang sebagian taat dan sebagian golongan tidak taat kepada perintah Allah swt. Dalam riwayat disebutkan bahwa iblis pernah masuk dalam barisan para malaikat karena ketaatannya dan ibadahnya. Tapi kemudian berubah kedudukan mereka, karena menolak menaati perintah Allah swt supaya bersujud kepada Nabi Adam as.

Dari tiga ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Takabur dan sombong bisa menyebabkan manusia mengalami kehancuran, meskipun sudah melakukan perbuatan baik sebelumnya.

2. Berada di antara orang-orang yang baik bukan jaminan bagi keselamatan diri manusia, sebab setiap orang harus mempertanggung jawabkan setiap perbuatannya masing-masing. Oleh karena itu, anak-anak Nabi dan Rasul Allah bisa saja tersesat masuk di jurang kehancuran akibat perbuatannya sendiri.

Selasa, 15 Oktober 2019 15:33

Surat Shaad ayat 59-66

هَذَا فَوْجٌ مُقْتَحِمٌ مَعَكُمْ لَا مَرْحَبًا بِهِمْ إِنَّهُمْ صَالُوا النَّارِ (59) قَالُوا بَلْ أَنْتُمْ لَا مَرْحَبًا بِكُمْ أَنْتُمْ قَدَّمْتُمُوهُ لَنَا فَبِئْسَ الْقَرَارُ (60) قَالُوا رَبَّنَا مَنْ قَدَّمَ لَنَا هَذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ (61)

(Dikatakan kepada mereka), “Ini adalah suatu rombongan (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka).” (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka), “Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka.” (38: 59)

Pengikut-pengikut mereka menjawab, “Sebenarnya kamulah. Tiada ucapan selamat datang bagimu, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat menetap.” (38: 60)

Mereka berkata (lagi), “Ya Tuhan kami; barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka.” (38: 61)

Ahli tidak akan menerima sambutan saat memasuki Jahannam, tetapi mereka justru menerima celaan dan hinaan. Berdasarkan ayat-ayat al-Quran, para pemimpin kafir mencela orang-orang yang menjadi pengikutnya, dan para pengikut mereka juga mengecam pemimpinnya karena telah menyeret mereka ke neraka.

Para penjaga neraka berkata kepada pemimpin kaum kafir dan musyrik, "Mereka adalah para pengikut kalian di dunia yang sedang memasuki neraka bersama kalian berdesak-desakan. Mereka adalah pengikut kalian dan akan berkumpul bersama kalian di neraka."

Para pemimpin kafir berkata, "Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka." Umat mereka menjawab, "Sebenarnya kamulah. Tiada ucapan selamat datang bagimu, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat menetap."

Mereka kemudian meminta kepada Tuhan untuk melipatgandakan azab kepada para pemimpinnya karena telah menjerumuskan mereka ke neraka.

Dari tiga ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Para penghuni neraka saling mencela dan saling membenci di dalamnya. Setiap golongan menyalahkan golongan lain dan mereka saling lempar tanggung jawab.

2. Kiamat adalah manifestasi dari amal perbuatan manusia selama di dunia. Mereka akan menyaksikan hasil dari perbuatannya di sana.

3. Dosa seseorang tidak bisa dilimpahkan ke pundak orang lain. Meskipun para pemimpin kafir bersalah dan menerima azab yang lebih berat, tapi bukan berarti para pengikut mereka akan terbebas dari tanggung jawab. Mereka juga bersalah karena mengikuti orang-orang sesat tanpa penalaran. Oleh karena itu, kedua golongan akan memperoleh siksaan di neraka.

وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَى رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُمْ مِنَ الْأَشْرَارِ (62) أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ (63) إِنَّ ذَلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ (64)

Dan (orang-orang durhaka) berkata, “Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina). (38: 62)

Apakah kami dahulu menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena mata kami tidak melihat mereka?” (38: 63)

Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran penghuni neraka. (38: 64)

Para penghuni neraka menganggap dirinya sebagai tokoh dan panutan selama di dunia. Mereka mengira golongan yang beriman sebagai orang yang hina, rendah, aib masyarakat, dan orang bodoh. Mereka selalu mengejek dan menghina orang-orang yang beriman.

Mereka berharap akan menyaksikan orang-orang mukmin bersamanya di neraka. Namun, ketika tidak menemukan orang-orang mukmin di sana, mereka berkata, "Apakah kami telah menghina mereka secara keliru dan mereka sekarang berada di surga? Atau mereka juga berada di neraka, tetapi kami tidak bisa melihatnya?"

Dari tiga ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Orang-orang yang dihina di dunia justru mereka termasuk golongan yang selamat pada hari kiamat. Mereka menjadi penghuni surga, sementara orang-orang yang menghina mereka berada di neraka.

2. Kita tidak boleh menilai orang lain hanya dari segi lahiriyah. Orang yang dianggap hina di dunia, kadang justru akan memiliki kedudukan yang tinggi di hari kiamat kelak.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (65) رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ (66)

Katakanlah (ya Muhammad): "Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan. (38: 65)

Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (38: 66)

Allah Swt memerintahkan Rasul-Nya untuk berkata kepada kaum musyrik dan kafir bahwa "Aku memberi peringatan kepada kalian agar mengambil ibrah dari kaum terdahulu serta meninggalkan kesyirikan dan kekufuran. Ketahuilah, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Kuasa dan tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Dia adalah pencipta langit dan bumi dan pengatur semua urusan alam, namun Dia juga maha pengampun dan mengampuni para pendosa yang bertaubat."

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Di samping kabar gembira, kalimat peringatan juga harus ada sehingga tabir kelalaian tersingkap dari hati manusia. Karena manusia menghadapi banyak bahaya dan godaan dalam hidupnya, maka peringatan dapat menjadi pengingat dan penyelamat mereka dari kesesatan.

2. Alam semesta berada di bawah pengaturan Tuhan, dan kekuasaan dan pemerintahan-Nya meliputi seluruh semesta.

3. Allah Swt memiliki kekuasaan mutlak dan juga rahmat yang tak terbatas. Berbeda dengan tatanan di dunia, para pemilik kekuasaan biasanya akan bersikap arogan dan jauh dari kasih sayang.