کمالوندی

کمالوندی

Peristiwa Karbala merupakan salah satu revolusi unik yang sulit dicarikan bandingannya dalam sejarah. Meskipun harus ditebus dengan kesyahidan beliau dan keluarga serta pengikutnya, tapi perjuangan Imam Husein berhasil membongkar kebohongan propaganda rezim lalim yang berlindung di balik nama Islam.

Salah satu parameter untuk menilai benar atau tidaknya perjuangan Imam Husein adalah al-Quran sebagai sumber ajaran Islam. Al-Quran dan Ahlul Bait merupakan dua manifestasi dari sebuah hakikat. Satu sisi menunjukkan rahmat, dan kecintaan Allah swt. Di sisi lain, menunjukkan hidayat Allah swt kepada umat manusia.

Imam Husein adalah salah satu manifestasi dari manusia unggul tersebut yang memiliki hubungan cinta dengan Sang Pencipta, dan yang kehidupannya terikat dengan al-Quran. Imam Husein mendapat bimbingan langsung Rasulullah Saw, Sayidah Fatimah dan Imam Ali bin Abi Thalib.

Sejak usia dini beliau telah mengenal dan mempelajari al-Quran. Rasulullah Saw dalam hadis terkenal Tsaqalain, menyebut Ahlul Bait-nya dan al-Quran saling terikat dan bersabda: "Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka : kitab Allah (al-Quran) dan itrahku (Ahlul Bait) dan keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiku di telaga surga."

Mengingat Ahlul Bait memiliki hubungan yang sedemikian kuat dengan al-Quran, maka tafsir al-Quran juga harus dicari dalam ucapan dan amal mereka, karena khazanah kemuliaan dan keutamaan al-Quran tersimpan dalam wujud mereka.

Di kalangan para Imam dan Aulia Allah, Imam Husein merupakan manifestasi dari harga diri, kebebasan, kepemimpinan, jihad dan kesyahidan. Nilai-nilai tersebut dijalankan Imam Husein dengan bersandar kepada Al Quran dan contoh terbaik orang yang menjalankan Al-Quran, yaitu Rasulullah Saw.

Meskipun masih kecil ketika itu, Imam Husein selama enam tahun hidup bersama Rasulullah Saw dan mendapatkan bimbingan langsung dari beliau.

Tidak hanya itu, ayahnya, Imam Ali adalah murid sekaligus sahabat paling setia Rasulullah Saw. dan Ibunya, Sayidah Fatimah adalah puteri Rasulullah saw. Kehadiran orang-orang besar yang tidak pernah terpisah dari Al-Quran ini di sekitar Imam Husein membimbing jalan hidup beliau.

Imam Husein memahami dengan baik al-Quran yang menjadi samudera keagungan ilmu dan pengetahuan, sekaligus petunjuk kehidupan umat manusia.

Mengenai masalah ini, Imam Husein berkata, "Kitab ilahi terdiri dari empat isi: teks, rumus dan simbol, anugerah dan hakikat. Teks kalimat untuk masyarakat umum. Rumus dan simbol untuk hamba Allah khusus. Anugerah kelembutan untuk aulia Allah. Sedangkat hakikat untuk para Nabi,".

Puncak dari kebangkitan Imam Husein adalah peristiwa Asyura yang terjadi pada 61 Hijriah. Peristiwa besar tersebut menjadi perhatian besar para ulama dan pemikir besar dunia. Berbagai karya telah dihasilkan. Tidak hanya buku, tapi juga karya seni dengan media yang beraneka ragam.

Dari sekian banyak analisis mengenai perjuangan Imam Husein di Karbala, salah satunya menyoroti masalah hubungan al-Quran dengan perjuangan Imam Husein.

Perjalanan hidup Imam Husein berhubungan erat dengan al-Quran sehingga pada detik-detik akhir hidupnya di padang gersang Karbala, beliau tetap memberikan nasehat dengan ayat-ayat al-Quran. Bahkan, beliau menunjukkan kepada pasukan Yazid tentang akibat yang akan mereka alami dengan membacakan ayat-ayat ilahi.

Setelah kematian Muawiyah, Imam Husein ditekan oleh penguasa Madinah untuk berbaiat kepada Yazid. Di hadapan tekanan tersebut dan dalam menjawab tuntutan penguasa Madinah, Imam Husein menyebut dirinya dan Ahlul Bait sebagai khazanah risalah dan imamah, serta menyebut Yazid sebagai orang yang fasiq. Kemudian kepada penguasa Madinah, Imam Husein as berkata, "Dia adalah orang yang fasiq, lalu bagaimana mungkin aku berbaiat kepadanya?"

Menghadapi tekanan penguasa Madinah, Imam Husein kemudian berkata, "Aku dari keluarga suci sebagaimana Allah telah menurunkan ayat tentang mereka kepada Rasulnya: Sesungguhnya Allah berkehendak melenyapkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya." (al-Ahzab ayat 33)

Imam Husein tetap menghadapi tekanan dari penguasa Madinah dan akhirnya beliau bersama rombongan keluarganya keluar dari Madinah menuju Mekkah selain untuk menunaikan haji juga untuk menghindari bahaya.

Ketika itu Imam Husein membacakan ayat 21 surat al-Qasas: "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu." Doa inilah yang dibaca Nabi Musa ketika terbebas dari cengkeraman Firaun.

Setibanya di Mekah, Imam Husein kembali mengucapkan doa yang juga diucapkan oleh Nabi Musa dan disebutkan dalam al-Quran: Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Mad-yan ia berdoa (lagi): "Semoga Tuhanku membimbingku ke jalan yang benar".

Pembacaan ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Imam Husein di masanya sama seperti Nabi Musa, sendirian dan menghadapi ancaman dari pemerintah zalim, juga menunjukkan puncak ketidakpedulian umat Islam saat itu dalam mendukung Ahlul Bait Nabi.

Imam Husein yang tidak dapat menerima kezaliman dan kesewenang-wenangan Yazid serta pendistorsian hukum dan sunnah Islam oleh manusia fasiq itu, memutuskan untuk menyadarkan para pemimpin kabilah Arab. Beliau di Mekkah menulis dua surat untuk warga Basrah dan Kufah.

Kepada warga Basrah beliau menulis, "Sesungguhnya Rasulllah Saw telah diutus untuk kalian dengan al-Quran dan aku menyeru kalian kepada al-Quran dan sunnah Rasul Saw karena mereka telah menyimpangkan sunnah dan menghidupkan kembali bid'ah! Jika kalian mengikutiku, maka aku akan membimbing kalian ke jalan kebahagiaan dan kebebasan."

Kepada warga Kufah, Imam Husein menulis, "... bukan pemimpin kecuali jika seseorang yang mengamalkan kitab Allah Swt (al-Quran), menegakkan keadilan, menjadikan kebenaran sebagai pilar hukum masyarakat dan menjaga dirinya tetap berada di jalan lurus Allah Swt."

Imam Husein datang ke Karbala menentang Yazid yang lalim, tidak lain dari perjuangannya untuk menegakkan nilai-nilai al-Quran.

Minggu, 16 September 2018 06:06

Ampunan dan Kebesaran

“... Aku telah meremehkan perintah maulaku; bila beliau mempertanyakanku, aku tidak berhak untuk protes. Meski Hasan bin Ali adalah seorang pemaaf, namun aku harus menyiapkan diri untuk dihukum. Karena dengan demikian, bertahan menghadapi hukuman maulaku, akan terasa lebih ringan...namun...namun..."

Demikianlah apa yang terlintas dalam pikiran budak Imam Hasan dan seketika itu juga Imam Hasan memanggilnya. Sang budak dengan langkah pelan-pelan menuju pada Imam Hasan as. Dia berpikir bagaimana caranya meminta maaf kepada maulanya. Begitu berhadap-hadapan dengan beliau, sang budak terpikir:

“Maulaku adalah orang yang akrab dengan al-Quran. Maka aku akan meminta bantuan al-Quran untuk menyelamatkan diriku.”

Saat itu juga terlintas dalam pikirannya untuk mengatakan, “Wal Kazdiminal Ghaizha.”

Imam Hasan tersenyum dan berkata, “Aku telah menekan kemarahanku.”

Sang budak tahu bahwa jalan keluarnya terlah terjawab. Dengan lebih tenang dia berkata, “Wal ‘Afina ‘Aninnas.”

Imam Hasan berkata, “Aku telah mengabaikan kesalahanmu.”

Sang budak merasa dirinya berhasil dan bergumam, “Aku akan melepaskan peluruku yang terakhir, seraya berkata, “Wallahu Yuhibbul Muhsinin.” (QS. Ali Imran: 134)

Kali ini Imam Hasan berkata, “Aku membebaskanmu di jalan Allah, agar aku termasuk orang-orang yang berbuat baik.”

Tidak Membalas Keburukan dengan Keburukan

Salah satu dari budak Imam Hasan as sangat buruk akhlaknya. Namun Imam Hasan senantiasa memperlakukannya dengan baik dalam upaya dia bisa menjadi baik dan menyesali perilaku buruknya.

Imam Hasan memiliki seekor kambing di rumahnya. Dengan berjalannya waktu beliau menyayangi kambing itu. Suatu hari beliau tahu bahwa kaki kambing itu patah. Hatinya trenyuh melihat kambing itu dan bertanya kepada budaknya, “Mengapa kaki kambing ini jadi begini?”

Sang budak menjawab, “Aku yang mematahkannya.”

Dengan takjub Imam Hasan as berkata, “Mengapa engkau menzaliminya?”

Dengan nada congkak budak itu menjawab, “Karena aku ingin menyakitimu.”

Imam Hasan as sejenak berpikir dan berkata, “Ringkasi barang-barangmu dan pergilah dari rumah ini, dari saat ini engkau bebas.”

Budak itu terkejut dan berkata, “Mengapa Anda bebaskan aku?!”

Imam Hasan as berkata, “Agar aku menjawab perbuatan burukmu dengan perbuatan baik.”

Budak itu menundukkan kepalanya dan terdiam, sepertinya dia benar-benar malu.

Semua Kasih Sayang Ini?!

Seorang lelaki mendengar banyak cerita tentang kasih sayang dan kedermawanan Imam Hasan as. Namun dia ragu untuk menyelesaikan masalahnya, apakah harus pergi menemui Imam Hasan ataukah tidak. Pada akhirnya dia mengambil keputusan untuk mendatangi beliau.

Imam saat itu sedang duduk di masjid dan lelaki ini masuk mendekatinya. Imam tahu bahwa lelaki ini punya satu keperluan. Oleh karena itu beliau tersenyum padanya dengan penuh kasih sayang seraya berkata, “Hai lelaki! aku berpikir engkau ada masalah?” sebelum lelaki itu menjawab, Imam Hasan berkata, “Bersabarlah sedikit, aku akan menyelesaikan masalahmu.”

Imam Hasan memerintahkan kepada salah satu sahabatnya, “Berikanlah uang supaya dia bisa menyelesaikan masalahnya!”

Sabahat beliau memberikan uang kepada lelaki yang membutuhkan itu dan menyenangkan hatinya. Lelaki yang membutuhkan itu tidak percaya bahwa masalahnya bisa terselesaikan secepat ini. Dia menghadap kepada Imam Hasan dan berkata, “Wahai Putra Rasulullah! Aku merasa takjub bahkan Anda tidak menanyakan apa masalahku. Saya benar-benar tidak tahu bagaimana aku harus menyampaikan masalahku kepada Anda!”

Imam Hasan as berkata, “Ksatria yakni membantu seseorang yang membutuhkan sebelum orang tersebut menyampaikan masalahnya. Perbuatan seperti ini mencegah jatuhnya harga diri seorang mukmin dan tidak mengalirkan keringat malu di dahinya.”

Lelaki itu tidak tahu apa yang harus dikatakannya untuk menjawab kasih sayang Imam Hasan. Butir-butir keringat memenuhi dahinya; namun keringat ini bukan keringat malu.

Memenuhi Hajat Seorang Mukmin

Begitu seorang lelaki menyampaikan masalahnya kepada Imam Hasan as, beliau langsung memakai sepatunya dan pergi menyelesaikan masalahnya. Di pertengahan jalan, mereka menyaksikan Imam Husein as sedang mengerjakan salat. Imam Hasan berkata kepada lelaki tersebut, “Mengapa engkau tidak mendatangi saudaraku untuk menyelesaikan masalahmu?”

Lelaki itu menjawab, “Beliau sedang sibuk salat dan ibadah, dan saya tidak ingin mengganggu beliau.”

Imam Hasan as berkata, “Sepertinya masalahmu harus selesai melalui bantuanku. Bagaimanapun juga, bila Husein mendapatkan taufik ini, memenuhi hajatmu baginya lebih besar dari satu bulan menjalani i’tikaf.” (Emi Nur Hayati)

Minggu, 16 September 2018 06:05

Imam Husein, Simbol Keberanian dan Pengorbanan

Pada 3 Sya'ban tahun keempat Hijriah, rumah Ali as dan Fatimah as diterangi cahaya dan hati Rasulullah Saw diliputi kegembiraan dan kesenangan. Pada hari itu, Husein bin Ali as dilahirkan ke dunia untuk melanjutkan jalan yang sudah dirintis oleh kakeknya.

Sebuah hadis Qudsi berkata, "Ketika Husein lahir, Allah berfirman kepada Rasulullah, 'Selamat atas kelahiran di mana shalawat dan rahmat-Ku menyertainya, selamat atas engkau dan seluruh kaum Muslim karena hari besar ini, hari ketika Husein dilahirkan dan ia membawa bersamanya kebebasan, kecintaan, dan pengorbanan.'"

Hari ini, para pecinta Ahlul Bait as di seluruh dunia bersuka cita atas kelahiran Husein as, karena mereka memperoleh pelajaran berharga dari kehidupan, pemikiran, dan kebangkitannya; sebuah kehidupan yang sarat dengan makrifat dan kesempurnaan.

Nilai hakiki setiap insan bergantung pada ilmu pengetahuan, kesempurnaan, keutamaan, dan sifat-sifat moral. Manusia memiliki perbedaan satu sama lain dari segi fisik, tapi perbedaan ini tidak membuat mereka lebih utama dari yang lain. Hal yang membuat mereka istimewa adalah ilmu, keutamaan, dan akhlak mulia, dan Husein as memiliki semua sifat ini secara utuh.

Imam Husein as
Imam Husein adalah salah satu insan teladan dalam sejarah umat manusia. Pengorbanan luar biasa, ketahanan, tawakkal, tekad yang kuat, kesabaran, dan keberaniannya di Karbala, hanya memperlihatkan sebagian dari kepribadian mulia Husein dan sifat-sifat ini membuat semua hati bergerak ke arahnya.

Faktanya, sifat berani dan tangguh tidak akan muncul pada setiap individu, kecuali ia juga menyandang sifat-sifat moral lainnya secara utuh. Sosok seperti ini harus memiliki kesempurnaan iman, makrifat, keyakinan, dan tawakkal sehingga dapat menjadi salah satu dari menifestasi kebesaran Tuhan.

Banyak tokoh besar telah lahir dari rahim sejarah dan masing-masing dari ketokohan mereka dikenal karena keberanian, kepahlawanan, kezuhudan, pemaaf, dan siap berkorban. Akan tetapi, kebesaran dan keutamaan kemanusiaan yang dimiliki oleh Imam Husein as benar-benar sulit ditemukan padanannya dalam sejarah.

Setelah Imam Husein as gugur syahid, Bani Umayyah melaknat Husein dan ayahnya, Imam Ali bin Abi Thalib di mimbar-mimbar selama 60 tahun atas tuduhan melakukan pemberontakan terhadap pemerintah. Meski demikian, tidak satu orang pun dari penguasa mampu merusak nama harum mereka sebagai teladan ketakwaan dan kemuliaan.

Mengenai kepribadian luhur Imam Husein as, seorang ulama Sunni Lebanon, Syeikh Abdullah al-'Alayili berkata, "Apa yang ada dalam riwayat dan sejarah Husein di tangan kami, kami menemukan bahwa Husein memiliki kesempurnaan takwa yang diteladani dari kakeknya dan ia adalah teladan sempurna dari sosok Rasulullah dari segala sisi. Dalam jihad, ia mengayunkan pedang dengan penuh pengorbanan dan tidak ada pekerjaan yang mencegahnya untuk melakukan tugas lain."

Bagi para reformis dan pemuka agama, yakin akan tujuan merupakan faktor penentu untuk mencapai kemajuan. Pemimpin yang yakin akan tujuannya akan melangkah dengan optimis untuk meraih tujuan, ia tidak akan goyah dan keyakinan ini membuatnya kuat. Seperti yang disinggung dalam surat al-Anfal ayat 2, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhan-lah mereka bertawakkal."

Rasulullah Saw – dengan keimanan dan keyakinan yang kuat – baik ketika menang atau pun ketika kalah secara lahiriyah, dengan penuh optimis dan yakin memajukan agenda-agendanya untuk meraih tujuan. Imam Husein as juga sama seperti kakeknya, dalam hal keimanan kepada tujuan dari kebangkitannya. Imam menilai satu-satunya cara untuk menyelamatkan Islam dan masyarakat Muslim adalah melawan skenario jahat Bani Umayyah dan tidak berbaiat dengan Yazid bin Mu'awiyah.

Oleh karena itu, Imam Husein as secara jujur dan tegas mengumumkan penentangannya terhadap kepemimpinan Yazid. Beliau tidak hanya mempelajari pelajaran iman dan keteguhan dalam agama dari kakek dan ayahnya, tapi dengan memikul beban ujian duniawi, telah mengantarkan dirinya ke puncak ifran dan makrifat Ilahi. Ia laksana gunung yang menjulang tinggi, kokoh dan tidak pernah goyah.

Imam Husein telah mencapai sebuah tahapan dari irfan dan makrifatullah sehingga peristiwa segetir apapun akan tampak indah di matanya. Menariknya, Sayidah Zainab as (saudari Imam Husein) juga menyaksikan keindahan yang sama. Ketika Gubernur Kufah, Ubaidillah bin Ziyad berkata kepadanya, "Lihatlah bagaimana perlakuan Tuhan terhadap saudaramu." Zainab menjawab, "Aku tidak melihat sesuatu kecuali keindahan."

Di mata Ahlul Bait, peristiwa Karbala meskipun perbuatan keji tentara Bani Umayyah, tetap terlihat indah karena kebesaran dan puncak kesabaran yang diperlihatkan oleh Imam Husein dalam menghadapi ujian.

Keberanian adalah salah satu sifat mulia kemanusiaan. Sebuah bangsa yang orang-orangnya tidak memiliki keberanian mental dan moral, maka dengan mudah akan ditaklukkan oleh musuh. Bahkan, kelangsungan hidup suatu negara, martabat dan wibawanya bergantung pada tingkat keberanian yang dimiliki oleh rakyatnya.

Seorang ulama besar Sunni, Ibn Abi al-Hadid ketika berbicara tentang keberanian Imam Husein as, menuturkan bahwa dalam hal keberanian, siapa sosok lain yang sama seperti Husein bin Ali as di Padang Karbala. Kami tidak menemukan seseorang di mana masyarakat telah menyerbunya dan ia telah terpisah dengan saudara, keluarga, dan sahabatnya, tetapi dengan keberanian bak singa, ia mematahkan pasukan berkuda. Apa yang anda pikirkan tentang sosok yang tidak tunduk pada kehinaan dan tidak berbaiat kepada mereka hingga gugur syahid.

Percaya diri adalah salah satu sifat utama manusia sukses. Para pemuka agama, semuanya telah mencapai puncak dari karakteristik ini, dan Imam Husein as sebagai pencetus Revolusi Asyura, memiliki karakteristik ini dalam bentuk yang sempurna. Kepercayaan dirinya sedemikian rupa sehingga kondisi apapun tidak merusak keputusan dan tekadnya, tetapi justru membuat Imam lebih tegas dalam mencapai tujuannya.

Di hari Asyura, Imam Husein as – saat kematian sudah di depan mata – tetap tidak gentar dan ia berdiri tegak di hadapan pasukan Umar ibn Sa'ad dan menyampaikan pesan kepada mereka. Beliau berkata, "Tidak, aku bersumpah demi Tuhan, aku tidak akan tunduk pada kehinaan dan tidak akan lari seperti para budak." Imam begitu teguh dalam membela tujuan dan keyakinannya, dan bahkan kondisi apapun tidak menghalangi dia untuk mencapai tujuannya.

Kedermawanan dan kemurahan hati Imam Husein as telah menjadi sebuah pepatah. Banyak ulama mengungkapkan fakta ini bahwa tidak ada yang bisa menandingi Imam Hasan dan Husein dalam kedermawanan dan kemurahan hati.

Dikisahkan bahwa suatu hari, Imam Husein as sedang shalat di rumahnya, seorang Arab Badui yang terjerat kemiskinan, tiba di kota Madinah dan mendatangi rumah beliau. Ia mengetuk pintu rumah sambil berkata, "Hari ini seseorang yang berharap kepadamu dan mengetuk pintu rumahmu, tidak akan berputus asa. Engkau adalah orang dermawan dan tambang kedermawanan. Wahai orang yang ayahnya adalah penghancur kezaliman!"

Imam Husein as mempersingkat shalatnya agar dapat memenuhi apa yang diinginkan orang itu. Ketika selesai shalat dan keluar melihat orang tersebut, Imam langsung memahami orang itu tidak punya apa-apa dan sangat miskin. Imam mendekatinya dan berkata, “Tetaplah di sini hingga aku kembali.”

Imam Husein as kemudian bertanya kepada pelayannya, “Berapa uang yang tersisa di tanganmu untuk pengeluaran sehari-hari kita?” Pelayan beliau menjawab, "Tinggal 200 dirham dan engkau telah berkata agar uang ini dibagikan kepada para kerabat.” Imam Husein berkata, “Bawa uang itu kepadaku! Karena ada seseorang di depan pintu yang lebih membutuhkannya.”

Pelayan kemudian pergi dan kembali ke hadapan Imam sambil membawa uang tersebut. Setelah menerimanya, Imam Husein as pergi ke depan pintu dan memberikan uang itu kepada orang miskin yang berdiri di sana. Imam berkata, “Ambillah uang ini dan terimalah permintaan maafku. Aku tidak punya uang lebih dari ini untuk diberikan kepadamu.”

Orang miskin itu menerima uang tersebut dan pergi dari rumah Imam. Ia tampak begitu gembira.

Minggu, 16 September 2018 06:05

Mimpi Yang Telah ditafsirkan

Sayidah Fathimah termenung dan sedih...seandainya saja mimpinya tidak diceritakan kepada ayahnya...supaya...namun apa faedahnya? Memangnya bisa menahan qadha dan qadar ilahi? Memangnya manusia bahkan Rasulullah pun bisa mengubah Sunnah Ilahi?

Mimpi yang dialami Sayidah Fathimah dan ditafsirkan oleh Rasulullah Saw berakhir dengan sebuah kenyataan pahit yang harus diterima dan tidak ada jalan lain.

Sayidah Fathimah bermimpi memegang sebuah Quran dan membacanya, namun tiba-tiba Quran itu jatuh dari tangannya dan menghilang. Setelah bangun dari tidur, beliau sangat khawatir dan tidak tahu apa makna mimpinya. Beliau merasa bahwa makna mimpinya buruk. Keesokan harinya beliau menemui ayahnya dan menceritakan mimpinya. Rasulullah Saw berkata, “Cahaya mataku! Quran yang ada di tanganmu itu adalah aku. Ketahuilah bahwa sebentar lagi aku akan menghilang dari pandangan.”

Ucapan ayah ini benar-benar pahit dan Sayidah fathimah tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Beliau tidak tahu apa yang akan terjadi sepeninggal ayahnya dan yang terpenting adalah bagaimana beliau harus bersabar menghadapi musibah besar ini. Beliau tidak tahu harus bagaimana, karena sebelumnya tidak terpikirkan bahwa suatu hari akan kehilangan ayahnya.

Detik-Detik Perpisahan

Hari itu kondisi rumah Sayidah Fathimah lain daripada yang lain. Duka dan kesedihan telah meliputinya. Seakan-akan kejadian pahit akan mendatanginya.

Sayidah Fathimah memanggil Asma’ binti ‘Umais [istri Ja’far Thayyar, saudara Imam Ali]. Setelah menyampaikan pesannya, Sayidah Fathimah berkata, “Hai Asma’! Ini adalah detik-detik perpisahan.”

Sayidah Fathimah dalam kondisi berbaring di bawah. Kemudian menutupkan selimutnya ke wajahnya dan berkata, “Setelah beberapa detik panggillah aku! Bila aku tidak menjawab, ketahuilah bahwa aku telah pergi kepada ayahku...”

‘Asma bersedih dan duduk di samping putri Rasulullah Saw. Hatinya penuh kesedihan dan menangis sambil mengingat musibah yang menimpa putri Rasulullah Saw. Dia tidak percaya bahwa putri Rasulullah Saw dalam jarak waktu yang sangat pendek dari kematian ayahnya, sesegera ini menuju kepada ayahnya dan bertambahlah kesedihan umat Islam. Namun setelah beberapa detik sebagaimana yang dipesankan Sayidah Fathimah, Asma’ memanggil beliau. Tapi beliau tidak menjawabnya. Asma’ memanggil yang kedua kalinya. Tapi kali ini juga tidak mendapatkan jawaban. Begitu selimut itu disingkap dari wajahnya, Asma’ tahu bahwa Sayidah Fathimah telah meninggal dunia. Asma’ memeluk tubuh Sayidah Fathimah dan menciumnya, seraya berkata, “Fathimah sayang! Sampaikan salamku pada ayahmu!”

Asma’ dalam kondisi menangis dan penuh kesedihan keluar dari rumah mencari Hasan dan Husein. Kedua manusia mulia ini begitu menyaksikan Asma menangis dan sedih, bertanya, “Asma’ bagaimana keadaan ibu kami?!”

Asma’ tidak bisa menjawab. Keduanya paham bahwa telah terjadi kejadian tidak menyenangkan. Mereka menuju pada ibunya. Husein melihat ibunya sedang membujur menghadap kiblat. Begitu dia menggoyangnya, dia paham bahwa ibunya telah meninggal dunia. kesedihan telah menyelimuti hatinya, dia menghadap kepada saudaranya yang lebih besar Hasan dan berkata, “Saudaraku! Semoga Allah memberi kesabaran padamu! Ibu kita telah meninggal dunia.”

Hasan memeluk ibunya dan berkata, “Ibuku! Sebelum ruh dikeluarkan dari tubuhku, berbicaralah denganku...!”

Husein mencium kaki ibunya dan berkata, “Ibuku! Aku adalah anakmu. Sebelum hatiku robek, berbicaralah denganku...!”

Asma’ berkata, “Sayangku! Anak-anak Rasulullah! Pergilah dan beritahu ayahmu akan kematian istrinya!”

Keduanya keluar dari rumah. Di jalan keduanya menangis keras-keras dan berkata, “Ya Muhammad! Ya Muhammad! Sekarang musibah kematianmu menjadi baru bagi kami. Hari ini kami kehilangan ibu kami...”

Imam Ali as berada di masjid dan mendengar suara tangisa anak-anaknya. Hasan dan Husein menemui ayahnya dan mengucapkan belasungkawa padanya. Imam Ali pingsan mendengar kabar ini. Kemudian wajanya diperciki air dan siuman. Dengan hati yang hancur beliau berkata, “Fathimah sayang! Ketika engkau masih hidup, aku selalu menenangkan hatimu atas musibah kematian Rasulullah. Sekarang, setelah kematianmu, dari siapa aku harus mendapatkan ketenangan?” 

Minggu, 16 September 2018 06:01

Muharam, Bulan Pengorbanan dan Cinta

Bulan Muharam telah tiba. Di bulan ini, hati orang-orang Mukmin di dunia berduka. Spanduk hitam dengan tulisan Husein menempel di masjid dan huseiniyah berbagai kota di Iran dan negara lain. Suasana duka bergema di mana-mana.

Berbagai acara duka peringatan kesyahidan Imam Husein dimulai tanggal satu hingga 10 Muharam. Semua ini menunjukkan kecintaan umat Islam kepada Imam Husein dan Ahlul Bait Nabi Muhamamd Saw.

Memasuki bulan Muharam, banyak pelajaran penting yang bisa dipetik sejak awal tentang perjuangan dan pengorbanan orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk agama Islam. Selain Imam Husein, banyak figur lain seperti Abul Fadl Abbas dalam peristiwa Asyura yang menunjukkan pengorbanannya dalam berjuang membela agama ilahi.

Di masjid dan Huseiniyah, orang-orang berkumpul untuk memperingati perjuangan Imam Husein dan pengikutnya. Kedatangan Imam Husein bersama keluarga dan pengikutnya ke Karbala dari Madinah untuk menjemput kesyahidan hingga kini masih terus dikenang dan diambil pelajaran darinya.

Salah satu tradisi Asyura yang melekat dalam peringatan dan diwariskan secara turun-temurun bukan hanya di bulan suci Muharam adalah budaya memberi atau nazri. Di bulan Muharam, terutama tanggal 1 hingga 10 Muharam, tradisi nazri tersebut sangat jelas terlihat dalam bentuk pemberian makanan dan minuman, teh, susu dan lainnya.

Selain itu, di berbagai tempat di Iran misalnya, ada tempat air yang disediakan untuk siapa saja yang membutuhkan. Tradisi ini mengingatkan kita terhadap perjuangan Imam Husein bersama keluarga dan pengikutnya yang kehausan dan berada dalam kepungan pasukan musuh. Oleh karena itu, ada kebiasaan di kalangan sebagian orang yang meminum air sambil mengucapkan salam kepada Imam Husein.

Muharamul Haram adalah sebutan untuk awal bulan Muharam. Penamaan ini untuk menunjukkan posisi penting bulan Muharam. Di bulan ini, meskipun perang diharamkan, tapi terjadi pembantaian yang dilakukan pasukan yang mengaku muslim, tapi justru membunuh cucu Nabi Muhammad Saw dan keluarga serta pengikutnya.

Meskipun menorehkan duka, tapi banyak pelajaran penting yang bisa dipetik. Prinsip utama yang bisa diambil dari perjuangan Imam Husein di Karbala yang diperingati sejak awal Muharam berkaitan dengan nilai keikhlasan dan ketulusan berjuang demi mendapatkan ridha Allah swt bukan karena kepentingan pribadi maupun keluaga dan kelompok. Nilai tersebut ditunjukkan dengan jelas oleh Imam Husein.

Ulama akhlak terkemuka, Sheikh Mirza Malik Tabrizi dalam bukunya "Al-Muraqabah" mengingatkan pentingnya keikhlasan dan ketulusan dalam berjuang.

Sheikh Tabrizi menulis, "Para pencinta Rasulullah Saw sebaiknya menyiapkan hatinya sejak awal Muharam dengan diisi suasana duka dan menghindari sebagian kelezatan yang halal sekalipun, terutama tanggal sembilan dan sepuluh Muharam. Dianjurkan juga membaca ziarah Asyura sejak awal Muharam,". Semua ini dilakukan untuk menyiapkan diri menerima pelajaran penting dari perjuangan Imam Husein.

Peristiwa duka yang telah berlalu lebih dari 1000 tahun ini, hingga kini telah menguras tetesan air mata jutaan orang yang senantiasa memperingati perjuangan dan pengorbanan Imam Husein. Lebih dari itu, peristiwa ini juga memberikan inspirasi bagi banyak orang dan dari berbagai bangsa dunia untuk melawan kezaliman dan mewujudkan keadilan.

Salah satunya adalah kemenangan Revolusi Islam Iran yang mengambil inspirasi dari kebangkitan Asura Imam Husein. Upaya Imam Khomeini menggandengkan masalah Revolusi Islam dengan Revolusi Asyura dilakukan dalam dua tahap.

Pertama, di hari-hari Muharam pada tahun 1342 HS ketika para penceramah agama berbicara di setiap huseiniyah dalam acara pembacaan maqtal, karavan duka dan kidung duka.

Kedua, pada Muharram tahun 1357 HS, terutama ketika Imam Khomeini ra secara jelas menyatakan, "Bulan Muharam harus diperingati dan masyarakat menyelenggarakan acara Asyura."

Imam Khomeini menyebut bulan Muharam sebagai bulan kemenangan darah atas pedang, dan terjadinya perubahan besar dalam bentuk proses kebangkitan dengan spirit perjuangan Imam Husein.

Pemimpin India, Mahatma Gandhi belajar dari Husain tentang bagaimana kaum tertindas bisa bangkit menjadi pemenang, tanpa kekerasan. Karena itu, Asyura menjadi salah satu inspirasi utama dalam Islam, yang melampaui agama tapi nilai-nilai luhur kemanusiaan dan keadilan. Imam Husein menampikan dirinya berjuang tanpa pamrih dan berkorban hingg syahid melawan penguasa lalim, Yazid.

Ketika segelintir Muslim mengkritik tindakan Imam Husein dan mengecam peringatan Asyura, Charles Dickens, seorang penulis dan kritikus sosial asal Inggris justru membelanya dengan mengatakan: “Jika Husein berjuang hanya untuk memuaskan keinginan dunianya saja… maka saya tidak mengerti mengapa saudari, istri, dan anak-anak menemaninya. Maka pasti ada sebuah alasan kuat, yakni dia berjuangan semata demi kemurnian Islam.”  Oleh karena itu, Husein bin Ali bukan hanya sosok yang dapat menyatukan dua mazhab ahlusunah dan Syiah, bahkan lebih dari itu: menyatukan seluruh umat manusia.

Seorang penulis Kristen berkebangsaan Suriah, Antoine Bara, menghabiskan waktu selama enam tahun untuk melakukan penelitian tentang Imam Husein. Sekitar empat tahun dihabiskan untuk mempelajari berbagai macam referensi,  dan dua tahun sisanya digunakan untuk menyusun buku yang berjudul Imam Hussein In Christian Ideology.

Buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa dan telah dicetak lebih dari 20 kali. Ketika ditanya tentang penyusunan buku tersebut, apakah itu murni riset atau keinginan khusus belaka, Bara menjelaskan, “Kedua-duanya. Pada awalnya, menulis buku bertujuan ilmiah akan tetapi ketika saya semakin menyelami lebih dalam dan lebih luas tentang topik sejarah ini, tumbuh sebuah perasaan kebesaran Husein pada diri saya. Manusia ini telah mengorbankan dirinya untuk agama, prinsip-prinsip, dan menyelamatkan Muslim dari penyimpangan dari Islam guna memastikan berlanjutnya pesan dan penyampaiannya dari satu generasi ke generasi lain."

Ketika orang-orang dari belahan dunia mengapresiasi buku tersebut dan ingin menerjemahkannya, Antoine Bara langsung menyetujui dan tidak mengambil keuntungan darinya. Ia mengatakan, “Saya tidak menulis buku itu demi mencari keuantungan, tapi karena keyakinan saya kepada Sayyidina Husein,".

Antoine Bara juga menegaskan bahwa Imam Husein bukan hanya milik Muslim saja, tapi juga milik seluruh dunia. Bara mengatakan bahwa Sayyidina Husein adalah “hati nurani agama”.

Seorang penganut agama Kristen seperti Bara begitu terpengaruh oleh Imam Husein karena pengorbanan dan cinta yang tulus Imam Husein dalam perjuangannya demi umat manusia. Dua nilai ini: pengorbaan dan cinta melampaui sekat agama, karena yang diperjuangan Imam Husein adalah kemanusiaan.

Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), Brigadir Jenderal Hossein Salami mengatakan bangsa Iran adalah kuat dan mandiri, dan mereka tidak akan tunduk di hadapan kekuatan mana pun.

"Sejarah 40 tahun Revolusi Islam membuktikan bahwa bangsa Iran telah mengalahkan musuh di berbagai peristiwa dan mempertahankan kemandiriannya," ujarnya dalam kunjungan ke kota Mehdishahr, Provinsi Semnan pada hari Sabtu (15/9/2018) seperti dikutip media ISNA.

Brigjen Salami menuturkan opsi serangan terhadap Iran sudah dikesampingkan, karena situasi politik AS tidak mendukung perang dan negara mana pun juga tidak akan bergabung dengan Washington.

Namun, lanjutnya, Iran tetap mengawasi perilaku militer Amerika.

Mengacu pada serangan rudal Pasdaran ke basis kelompok teroris di Kurdistan Irak pekan lalu, Brigjen Salami menandaskan jika musuh ingin menyakiti Iran, Republik Islam akan memberikan pukulan yang tegas dan mematikan. 

Minggu, 16 September 2018 05:53

Israel Serang Bandara Internasional Damaskus

Rezim Zionis Israel pada Sabtu (15/9/2018) malam, menyerang Bandara Internasional Damaskus di ibukota Suriah.

Kantor berita resmi Suriah (SANA) melaporkan, satuan pertahanan udara Suriah menangkal serangan rudal Israel di Bandara Internasional Damaskus. Militer Suriah berhasil menembak jatuh sejumlah rudal musuh.

Beberapa sumber mengatakan rezim Zionis menembakkan enam rudal ke arah Bandara Internasional Damaskus.

Pada 3 September lalu, Israel juga menembakkan lima rudal ke salah satu pangkalan militer Suriah di wilayah Wadi al-'Uyun di pinggiran Hama. Sistem pertahanan udara Suriah berhasil menghancurkan kelima rudal tersebut.

Rezim Zionis sudah sering menyerang posisi tentara dan infrastruktur Suriah demi melindungi para teroris. Israel sangat mengkhawatirkan kekalahan teroris di negara itu.

Krisis Suriah meletus pada tahun 2011 menyusul serangan kelompok-kelompok teroris yang didukung AS dan sekutunya di kawasan terutama Arab Saudi, untuk mengubah perimbangan regional yang menguntungkan Israel. 

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan persiapan pelaksanaan pertemuan IMF-World Bank hingga Sabtu mencapai 94 hingga 95 persen.

Menurut Luhut, dengan diresmikan Command Center ini bisa mengintegrasikan elemen-elemen dalam tugas gabungan.

"Command Center" atau Pusat Komando tersebut merupakan salah satu persiapan sarana dan prasarana penyelenggaraan IMF-WB untuk pengamanan kegiatan bergengsi itu. Di samping itu, nantinya tetap bisa dimanfaatkan untuk pertemuan-pertemuan besar pada masa mendatang.

Dari tempat tersebut, juga bisa dipantau 600 titik CCTV yang terpasang di seluruh kawasan penyelenggaraan pertemuan di berbagai kawasan di Bali, bahkan hingga ke Banyuwangi dan Lombok. Selain itu, sudah pula terkoneksi dengan sejumlah bandara lain.

Sementara itu, gubernur Bali Wayan Koster berharap pelaksanaan kegiatan akbar mulai 8 hingga 14 Oktober itu bisa berlangsung lancar dan aman.

Dukungan Pemerintah Provinsi Bali akan dilaksanakan sesuai dengan tugas yang diberikan.

Selain itu, Pemprov Bali juga telah menyiapkan karnaval budaya yang sebelumnya memang diminta khusus oleh Presiden RI Joko Widodo. 

Mengenai masalah keamanan, Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Benny Susianto menyebutkan sekitar 5.050 personel TNI Kodam IX/Udayana dikerahkan melakukan pengamanan pertemuan IMF-World Bank.

Terkait dengan ancaman teror, Benny mengatakan bahwa indikasi terkait dengan terorisme tidak ada. Sampai sekarang, situasi Bali masih aman dan kondusif.

Walaupun demikian, keamanan terus ditingkatkan dan beberapa langkah antisipasi juga dilakukan. Pada bulan sebelumnya juga sudah dilaksanakan cipta kondisi maupun operasi intelijen serta pengamanan di pintu-pintu masuk Bali

Selain pengendalian ancaman keamanan, pihaknya juga sudah mengantisipasi ancaman bencana alam yang akan terjadi. Semua sistem itu sudah diintegrasikan dengan Pusat Komando yang sudah sangat bagus.

Sebelumnya, Bank Indonesia memperkirakan sekitar 3.500 hingga 5.000 investor mancanegara akan menghadiri pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bali, 8-14 Oktober 2018. Para investor itu merupakan petinggi perusahaan.

Pertemuan keuangan yang diklaim terbesar tersebut diharapkan menjadi momentum dalam mengenalkan potensi di Indonesia di mata para penanam modal dunia itu. 

Selain ribuan pengusaha atau investor itu, pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali akan dihadiri sekitar 3.000 hingga 4.000 delegasi resmi, pengamat (1.000), wartawan (1.000), staf IMF dan Bank Dunia (1.500), institusi lainnya (1.000), serta pihak terkait lainnya mencapai sekitar 1.500 orang.

Pertemuan yang dijadwalkan dihadiri total sekitar 15 ribu peserta dari 189 negara itu juga memberikan manfaat jangka panjang tidak hanya bagi Bali tetapi juga Indonesia.

Ajang penting ini akan menunjukkan kepemimpinan Indonesia sebagai tuan rumah yang membahas isu ekonomi global. Selain itu, menjadi momentum bagi sektor perdagangan dan investasi untuk mengenalkan produk unggulan Indonesia kepada dunia, mengenalkan peluang investasi dan usaha di Tanah Air.

Benefit untuk jangka panjang lain, mempromosikan potensi pariwisata dan bisnis pertemuan, insentif, konvensi dan pameran atau "MICE" serta momentum perbaikan infrastruktur pariwisata.

Tidak hanya itu, transfer ilmu pengetahuan dan memperkaya jaringan internasional juga merupakan manfaat jangka panjang dari pertemuan akbar itu. 

Selama pertemuan IMF dan Bank Dunia, untuk pertama kalinya juga akan menghadirkan 10 pemimpin regional Asia Tenggara dalam "ASEAN Leaders Meeting".

Pertemuan yang membahas perkembangan ekonomi dan keuangan global serta isu terkini lainnya itu terbagi dalam tiga sesi utama IMF dan Bank Dunia. Pertemuan pertama yakni sidang umum, kemudian IMFC yang dihadiri seluruh gubernur bank sentral dan Development Committee (DC) yakni pertemuan para menteri keuangan.

Sesi pendukung lain dalam pertemuan itu yakni pertemuan 20 negara ekonomi dunia atau G-20, pertemuan negara berkembang atau G-24, pertemuan negara Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan atau BRICS serta pertemuan regional lainnya.

Kegiatan lain yang akan mewarnai pertemuan yang dilaksanakan di Nusa Dua itu yakni seminar, diskusi dan jumpa media.  Selain itu, akan ada 2.000 kegiatan paralel lainnya yang dilaksanakan oleh pemerintah dan swasta termasuk para akademisi dan pihak terkait lainnya.

Minggu, 16 September 2018 05:49

Anggota Knesset Usulkan Teror Komandan Hamas

Anggota parlemen rezim Zionis, Knesset menyerukan aksi teror terhadap para komandan brigade Ezzedeen al-Qassam, sayap militer Hamas.

Haim Yellin hari Sabtu (16/9) menyampaikan statemen mereaksi masuknya salah stau balon api yang diterbangkan dari Gaza menuju wilayah Palestina pendudukan.

"Kita kewalahan menghadapi balon api dari Gaza dan ketidakmampuan militer Israel menanganinya," ujar Yellin.

"Israel harus meneror para komandan brigade Ezzedeen Qassam supaya Hamas terpaksa menandatangani perjanjian gencatan senjata jangka panjang," ujar anggota Knesset ini.  

Warga Palestina hari Jumat melepaskan puluhan balon api dari arah Gaza menuju Palestina pendudukan yang menyebabkan terjadinya kebakaran di berbagai titik.

Kementerian kesehatan Palestina  Jumat sore menyatakan, aksi protes hak kepulangan pengungsi Palestina ke tanah airnya yang berlanjut hari Jumat menyebabkan tiga orang Palestina gugur, termasuk seorang remaja berusia 14 tahun yang diterjang peluru tentara Israel.

Tokoh agama Zoroaster provinsi Yazd, Iran mengatakan bahwa penghormatan khusus penganut Zoroaster Iran dan dunia terhadap Imam Husein karena perjuangan beliau membela orang-orang yang tertindas.

Rostam Kavosian Zadeh dalam wawancara dengan IRNA hari Sabtu (15/9) mengatakan, kecintaan terhadap Imam Husein memiliki akar dalam sejarah penganut Zoroaster.

"Terlebih di awal Muharam dan puncaknya Asyura," ujar agamawan Zoroster terkemuka Iran ini. 

"Orang yang membela kaum tertindas, cita-cita dan tujuan ilahi hingga bersedia mengorbankan nyawanya sendiri dan keluarganya sangat layak untuk dihormati," tegasnya.

Kehidupan antarsesama penganut agama di Iran selama ini rukun dan harmonis