کمالوندی

کمالوندی

Sabtu, 06 Januari 2018 13:54

Dilarang Mencari-cari Keburukan Tetangga

Imam Shadiq as berkata:

"Sesungguhnya Allah melarang seseorang untuk mencari-cari tahu tentang rumah tetangganya. Bila seseorang mencari-cari rahasia saudara muslimnya atau yang lainnya, maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam bersama orang-orang munafik. Mereka adalah orang-orang yang mencari-cari keburukan orang lain. Mereka tidak akan mati sampai  Allah mempermalukannya, kecuali bila mereka bertaubat.” (Seiri Dar Resale-ye Huquq-e Ayatollah Yatsrebi, jilid 3, hal 89)

Mengintip Rumah Tetangga

Rasulullah Saw bersabda:

“Barang siapa yang mengintip rumah tetangganya dan dia melihat aurat seorang lelaki atau rambut seorang perempuan, maka layak bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam neraka bersama orang-orang munafik. Yaitu mereka yang di dunia senantiasa mencari-cari aurat (aib)nya orang lain dan mereka tidak akan keluar dari dunia sampai Allah mempermalukannya dan auratnya akan ditampakkan di hadapan orang lain di akhirat.” (Tarjumeh Iqabul A’mal Shaduq, hal 468)

Mengambil Pekarangan Tetangga

Rasulullah Saw bersabda:

“Barang siapa yang mengambil sejengkal dari pekarangan tetangganya, maka pada Hari Kiamat Allah akan mengikat lehernya dengan ikatan dari api sampai pada kedalaman bumi tingkat ketujuh untuk memasukkannya ke dalam neraka Jahannam.” (Tarjumeh Iqabul A’mal Shaduq, hal 645)

Akibat Melanggar Hak Tetangga

Rasulullah Saw bersabda:

“Barang siapa yang membangun sebuah bangunan karena riya, maka pada Hari Kiamat, Allah akan membebankan bangunan tersebut padanya sampai pada kedalaman bumi tingkat ketujuh dan api berkobar darinya kemudian lehernya diikat dengan ikatan dari api dan pada akhirnya ia dilemparkan ke dalam neraka Jahannam. Hanya dasar neraka yang akan meliputinya atau dia harus bertaubat.

Dikatakan kepada Rasulullah Saw, Wahai Rasulullah! Bagaimana orang seperti ini membangun sebuah bangunan karena riya?

Rasulullah Saw bersabda, “Dia membangun sebuah bangungan lebih besar dari kebutuhannya karena melanggar hak tetangganya dan untuk pamer di hadapan saudara-saudaranya yang seiman.” (Wasail as-Syiah, jilid 3. Hal 588)

Kisah-Kisah Penuh Pelajaran Tentang Tetangga Pengganggu

Kematian Tetangga Pengganggu

Seorang lelaki datang menemui Rasulullah Saw, “Si fulan adalah tetangga saya dan dia mengganggu saya.”

Rasulullah Saw bersabda, “Bersabarlah atas gangguannya dan engkau jangan mengganggunya.”

Tidak lama orang lelaki ini datang lagi menemui Rasulullah Saw dan berkata, “Wahai Rasulullah! Tetangga pengganggu itu mati.”

Rasulullah Saw bersabda, “Cukup kehidupan sehari-hari sebagai nasihat dan kematian sebagai pemisah.” (Biharul Anwar, jilid 74, hal 153)

Engkau Kenyang, Tetanggamu Lapar

Salah seorang murid Syeikh Rajab Khayyat mengatakan, “Saya mendengar dari beliau berkata:

“Suatu malam saya bermimpi sebagai orang yang tertuduh sebagai pelaku kejahatan dan datanglah polisi untuk membawa saya ke penjara. Paginya saya sedih memikirkan apa sebabnya mimpi saya ini. Dengan pertolongan Allah saya memahami mimpi saya ada kaitannya dengan tetangga. Saya meminta keluarga saya untuk melakukan penelitian dan mengabarkan kepada saya.

Tetangga saya yang pekerjaannya adalah sebagai tukang bangunan, ternyata dalam beberapa hari ini tidak mendapatkan kerjaan dan kemarin malam dia dan istrinya tidur dalam keadaan lapar. Disampaikan kepada saya, “Mengapa engkau di malam hari kenyang sementara tetanggamu dalam keadaan lapar. Pada saat itu juga saya punya simpanan tiga Abbasi (mata uang) dan saya meminjam satu Abbasi ke pemilik toko peracangan di daerah tempat tinggal saya dan saya berikan kepada tetangga saya sambil meminta maaf dan saya meminta kepadanya untuk mengabari saya bila tidak ada kerjaan dan tidak punya uang.” (Kisah-Kisah Menarik, hal 256) (Mahajjatul Baidha, jilid 3, hal 427) (Emi Nur Hayati)

Sabtu, 06 Januari 2018 13:29

Jauh Dari Permainan Sia-Sia

Shaghwan Jammal mengatakan, “Saya datang menemui Imam Shadiq as dan bertanya kepada beliau tentang imam setelahnya.”

Beliau menjawab, “Pemilik imamah tidak akan bermain yang sia-sia.”

Pada saat itu juga saya melihat Musa bin Jakfar yang pada saat itu masih kanak-kanak datang bersama seorang anak kambing. Dia mengambil kambing itu dan berkata kepadanya, “bersujudlah kepada Tuhanmu”.

Imam Shadiq as kemudian memeluknya dan berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan orang yang tidak bermain sia-sia.”

Kabar Tentang Masa Depan

Abu Khalid mengatakan, “Mahdi Abbasi [Khalifah Abbasiyah yang ketiga] memerintahkan untuk menangkap Imam Kazhim as. Para petugasnya membawa beliau dari Madinah menuju Bagdad menemui Mahdi Abbasi. Di jalan saya berbicara dengan beliau. Beliau berkata kepada saya, “Mengapa engkau bersedih?”

Saya berkata, “Mengapa saya tidak harus bersedih? Sementara Anda akan dibawa ke Tahgut ini [Mahdi Abbas] dan saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Anda?”

Imam Kazhim as berkata, “Dalam safar ini tidak akan ada bahaya yang mengenaiku. Ketika bulan tertentu tiba, di hari tertentu dan di tempat tertentu, datang temuilah aku!”

Saya senantiasa menghitung detik-detik yang ada sampai tibalah hari itu. Pada hari itu juga saya menuju ke tempat itu. Matahari hampir terbenam. Saya masih belum tahu tentang kabar Imam Kazhim as. Setan membuat saya waswas dan saya meragukan kata-kata Imam yang menyebutkan tentang waktu tertentu, di tempat tertentu temuilah aku.

Tiba-tiba mata saya tertuju pada sesuatu yang hitam datang dari arah Irak. Saya maju dan saya melihat Imam Kazhim as berada di bagian depan karavan menunggangi kendaraan dan menyapa saya, “Hai Abu Khalid!”

Saya menjawab, “Iya wahai putra Rasulullah!”

Imam Kazhim as berkata, “Tentunya jangan ragu, karena setan senang bila engkau ragu.”

Saya katakan, “Puji syukur kepada Allah yang telah menjaga Anda dari bahaya taghut.”

Kemudian beliau berkata, “Aku akan dibawa lagi kepada mereka dan kali ini aku tidak akan dibebaskan (dengan ucapan ini beliau mengisyaratkan tentang penangkapannya atas perintah Harun dan beliau akan mencapai syahadah di penjaranya).

Kabar Tentang Masa Depan

Ishaq bin Ammar mengatakan, “Saya berada bersama Imam Kazhim as. Beliau memberitahukan tentang kematian seseorang kepada orangnya sendiri.

Saya berkata kepada diri saya sendiri, “Memangnya Imam Kazhim tahu masing-masing dari pengikutnya kapan akan mati?”

Seketika itu juga Imam Kazhim memandang saya dengan wajah marah dan berkata, “Hai Ishaq, Rusyid salah seorang sahabat dekat Imam Ali as tahu tentang ilmu manaya dan balaya [kematian dan musibah]. Imam lebih layak untuk memiliki ilmu tersebut.”

Kemudian beliau berkata, “Wahai Ishaq! Lakukan apa saja yang kau inginkan dan lakukan pekerjaan-pekerjaanmu. Karena usiamu telah berakhir dan tidak sampai dua tahun engkau akan mati dan keluargamu beberapa hari setelah kematianmu akan berselisih satu sama lainnya dan saling mengkhianati yang lainnya sedemikian rupa sehingga para musuhpun akan mencela mereka. Lalu sekarang engkau berkhayal dalam hatimu, bagaimana kami memberikan kabar tentang masa depan?”

Ishaq berkata, “Apa yang terjadi dalam hatiku adalah saya meminta ampunan kepada Allah.”

Setelah kejadian ini berlalu, Ishaq meninggal dunia. Sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Imam Kazhim, keluarga Ishaq saling berselisih dan mereka mengambil harta kekayaan orang lain dan perbuatan mereka membuat mereka sengsara. 

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Musa Kazdim as.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) akhirnya menyetujui usulan AS untuk menggelar pertemuan terkait transformasi terbaru di Iran. Namun sidang tersebut tidak berjalan seperti yang direncanakan mengingat para pemegang hak veto Dewan dan sekutu Washington sendiri menggunakan perdebatan tersebut untuk mengkritik Gedung Putih karena melibatkan Dewan dengan urusan dalam negeri Iran dan berusaha menghubungkan isu-isu tersebut dengan kesepakatan nuklir multinasional 2015, Rencana Aksi Bersa

Pada sidang Jumat malam (5/1/2018), Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley memberikan laporan berlebihan terkait serangkaian kerusuhan yang tersebar di sejumlah wilayah di Iran pekan lalu, dan mengatakan Washington akan tetap berada di belakang "demonstran" Iran. Haley berusaha menggiring anggota Dewan untuk mengamini seruan Washington melawan Republik Islam.

Namun, pertunjukan politik Haley sia-sia mengingat pernyataan kofrontatifnya terhadap Iran disambut dengan reaksi dingin dari Rusia, Cina dan Perancis, tiga anggota tetap Dewan, dan sejumlah anggota dewan lainnya, termasuk Swedia.

Pekan lalu, beberapa kota dan kota Iran dilanda kerusuhan, menyusul demonstrasi damai warga dalam memprotes masalah ekonomi.

Namun, aparat dibantu masyarakat, melakukan intervensi tepat waktu dan mengakhiri kekerasan, yang telah merusak sarana publik, masjid dan kantor polisi.

Pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai permintaan Amerika terkait demonstrasi di Iran dapat diindikasikan sebagai langkah baru Washington untuk melanjutkan permusuhan dan intervensi tanpa henti di Republik Islam.

Meskipun langkah AS ini menjadi bencana baru bagi pemerintah Trump di bidang kebijakan luar negeri, namun langkah Amerika Serikat harus dipertimbangkan lebih mendalam dari sisi dimensi dan aspeknya.

Pada hari Jumat (5/1/2018), Dewan Keamanan menentang upaya Amerika untuk menciptakan krisis baru terkait Iran, dan sebagian besar anggota Dewan menekankan perlunya implementasi penuh kesepakatan Rencana Aksi Bersama (JCPOA) dan non-intervensi dalam urusan dalam negeri negara lain.

Pada sidang yang digelar meski dengan penentangan tegas Rusia itu, sebagian besar negara menilai situasi di Iran sebagai fenomena yang wajar dan isu protes adalah urusan internal Iran. Ditekankan bahwa poros dan fokus Dewan harus tertuju pada isu-isu kunci seperti pemberantasan terorisme, perwujudan perdamaian Timur Tengah, peyeleseian krisis Suriah dan lain sebagainya.

Tapi pertanyaan yang tersisa adalah apakah dengan penentangan tersebut Amerika Serikat akan menghentikan kejahatannya terhadap Iran?

Menjawab pertanyaan ini, dua poin penting yang harus diperhatikan:

Poin pertama adalah bahwa perilaku Amerika, khususnya pada tahun lalu di mana kontrol Gedung Putih telah beralih ke tangan Trump, tertuju pada upaya untuk mengubah perlawanan terhadap Iran dari satu dimensi dan menjadi isu internasional.

Poin kedua, adalah jenis respon terhadap perilaku yang memiliki dua aspek penting. Aspek pertama, reaksi proporsional misi diplomatik Iran dan lembaga-lembaga internasional terhadap pertemuan tersebut. Akan tetapi aspek terpenting dari hal ini adalah identifikasi esensi tujuan, metode, dan konspirasi lunak musuh untuk mempengaruhi barisan terpadu dan merusak kesatuan bangsa Iran di hadapan musuh. Karena persatuan bangsa Iran merupakan basis terkuat dan handal untuk menghadapi segala krisis dan tantangan.

Bangsa Iran telah berulang kali menunjukkan kewaspadaan dan wawasan politiknya pada masa-masa kritis dengan gerakan epik dan kebangkitannya, serta telah memamerkan kekuatan lunaknya dalam melawan ancaman musuh. Pengalaman menunjukkan bahwa musuh tetap akan berusaha melemahkan Iran, dan mereka geram dengan kenyataan bahwa Iran berkembang di semua bidang.

Faktanya adalah bahwa Iran, tanpa memberikan upeti kepada kekuatan global, menjadi negara unggul di kawasan dan dengan kapasitas ekonomi yang besar, dapat mengatasi tantangan seperti pengangguran atau kenaikan harga komoditi, kekurangan dan berbagai masalah pendapatan rakyatnya. Acuan ekonomi Iran sedang bergerak menuju ketahanan ekonomi. Namun Amerika Serikat melalui sanksi berusaha mempertahankan atmosfer gejolak dan krisis anti-Iran di tingkat internasional.

Noam Chomsky, seorang analis politik terkemuka Amerika dalam sebuah wawancara dengan situs TomDispatch menyinggung alasan di balik permusuhan Amerika terhadap Iran dan mengatakan:  "Amerika Serikat tidak dapat mentolerir kekuatan independen di kawaan ini ... dalam enam dekade terakhir pemerintah AS sangat jarang melewatkan sehari tanpa berusaha menyerang Iran ... Washington adalah pendorong utama di balik pemberlakuan sanksi berat anti-Iran dan hingga kini terus berlanjut."

Sabtu, 06 Januari 2018 13:26

AS Selalu Gagal di Iran

Juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, mengkritik sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) terkait transformasi terbaru di Iran.

Sayid Hossein Naqavi-Hosseini, menyinggung pada pertemuan Dewan Keamanan PBB soal transformasi terbaru di Iran dan mengatakan, Amerika terus menghadapi kegagalan di Iran dan bahwa Republik Islam selalu menggagalkan upaya musuh.

Pejabat parlemen Iran ini menambahkan, orang-orang Amerika berencana menggiring media dan masyarakat internasional kepada isu-isu domestik Iran dan menciptakan krisis baru bagi Republik Islam Iran.

Pada hari Jumat (5/1/2018), Dewan Keamanan menentang upaya Amerika untuk menciptakan krisis baru terkait Iran, dan sebagian besar anggota Dewan menekankan perlunya implementasi penuh kesepakatan Rencana Aksi Bersama (JCPOA) dan non-intervensi dalam urusan dalam negeri negara lain.

Sabtu, 06 Januari 2018 13:25

Terisolasinya AS di DK-PBB

Upaya Amerika Serikat untuk mendesak Dewan Keamanan PBB (DK-PBB) guna mengambil sikap terkait dengan kerusuhan di Republik Islam Iran justru berakhir dengan terisolasinya Negeri Paman Sam tersebut.

Mayoritas anggota DK-PBB menolak tuntutan AS untuk membahas transformasi terbaru di Republik Islam. Menurut mereka, DK-PBB tidak memiliki yurisdiksi dalam menangani isu kerusuhan terbaru di Iran.

Masing-masing negara itu dengan istilah yang kurang lebih serupa mengumumkan bahwa kerusuhan terbaru di Republik Islam tidak membahayakan perdamaian dan keamanan dunia. Oleh sebab itu, DK-PBB tidak memiliki kompetensi untuk menangani masalah tersebut.

Perwakilan AS dan Rusia berdebat mengenai Iran dalam sidang DK-PBB yang digelar pada Jumat, 5 Januari 2018. Nikki Haley, Duta Besar AS untuk PBB menegaskan bahwa kerusuhan di Iran bisa meningkat menjadi konflik besar sehingga DK-PBB harus mengambil sikap terkait hal ini. Namun, Rusia menentang upaya AS tersebut dengan beralasan bahwa aksi-aksi protes di Iran tidak menimbulkan ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional.

Vassily Nebenzia, Dubes  Rusia untuk PBB menyebut upaya terbaru AS untuk mencampuri urusan dalam negeri Iran sebagai tindakan yang konyol. Ia mengatakan, kami menyesalkan jatuhnya korban jiwa dalam unjuk rasa baru di Iran, namun biarkan negara itu mengurus masalahnya sendiri.

Menurut Nebenzia, jika memang seperti itu, DK-PBB seharusnya juga membahas kerusuhan 2014 di Ferguson, Missouri terkait penembakan remaja berkulit hitam oleh polisi AS. Ia mengatakan, berdasarkan logika Haley, pasca serangan polisi AS terhadap para demonstran di kota Ferguson atau setelah tindakan kekerasan terhadap para pendukung Gerakan Wall Steet di Amerika, DK-PBB seharusnya menggelar pertemuan serupa.

Sementara itu, Cina juga menyebut sidang DK-PBB tersebut sebagai campur tangan dalam urusan dalam negeri Iran. Adapun Inggris dan Perancis menekankan bahwa Iran harus menghormati hak-hak para demonstran. Namun Dubes Perancis Francois Delattre mengatakan "peristiwa dalam beberapa hari terakhir tidak menimbulkan ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional."

Gholamali Khoshroo, Dubes Iran untuk PBB mengecam sidang tersebut dan menyebutnya sebagai "lelucon" dan "buang-buang waktu". Menurutnya, DK PBB harusnya fokus untuk menangani konflik Israel-Palestina ataupun perang di Yaman

Dalam sepekan lalu, pemerintah AS di level politik tertinggi yaitu oleh Presiden Donald Trump sendiri, mendukung para perusuh di Iran yang melakukan kekerasan dan kejahatan dengan cara merusak dan membakar sarana publik di negara ini sehingga menimbulkan korban jiwa.

Trump dalam tweet-tweetnya yang berulang mengumumumkan dukungan penuh AS kepada para perusuh. Ia mengklaim bahwa dunia sedang menyaksikan perisitwa di Iran. Perkembangan yang terjadi dalam pertemuan DK-PBB menunjukkan bahwa dunia tidak setuju dengan intervensi nyata AS dan sejumlah sekutunya politik-militernya di kawasan Asia Barat dalam urusan internal Iran.

Menyusul peristiwa tersebut, muncul perbedaan pandangan antara AS dan negara-negara Eropa. Richard N. Haass, Ketua Dewan Hubungan Luar Negeri AS mengatakan, kini telah tercipta celah yang mengkhawatirkan antara dua sisi Samudra Atlantik (Eropa dan Amerika) mengenai Iran.

Menurutnya, selama transformasi baru di Iran berlanjut, pemerintah Trump harus menempatkan isu nuklir sebagai prioritas selanjutnya dan menghindari segala bentuk langkah untuk perundingan ulang tentang kesepakatan nuklir JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Bersama).

Perbedaan pandangan itu muncul disebabkan Eropa menekankan kelanjutan pelaksanaan perjanjian nuklir JCPOA dengan Iran dan kelanjutan kerjasama dengan negara ini, namun AS tidak demikian. Selain berusaha menghancurkan JCPOA dengan dalih kerusuhan terbaru di Iran, pemerintah Trump juga menyiapkan intervensi politik-militer di negara tersebut.

Upaya AS tersebut pastinya akan gagal seperti halnya keputusan Trump yang mengakui al-Quds sebagai ibukota rezim Zionis Israel, dimana masyarakat internasional dengan tegas menolak keputusan tersebut.

Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran dalam tweetnya menulis, "DK-PBB menolak usaha AS untuk membajak mandatnya. Mayoritas menekankan perlunya untuk sepenuhnya melaksanakan JCPOA dan menahan diri untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri orang lain. Ini adalah blunder lain yang dibuat oleh Trump." (RA)

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan di Wilayah Pendudukan Palestina (OCHA) mengungkapkan kekhawatiran atas kelanjutan serangan rezim Zionis Israel terhadap warga Palestina yang menyebabkan mereka gugur syahid.

Seperti dilansir Mehr News mengutip Pusat Informasi Palestina, Sabtu (6/1/2018), Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan di Wilayah Pendudukan Palestina dalam sebuah laporan menyebutkan, aparat keamanan rezim Zionis dalam rentang waktu 19 Desember 2017 hingga 1 Januari 2018 telah membunuh 14 warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Dalam jangka waktu tersebut, 4.549 warga Palestina termasuk ratusan anak juga terluka terkena peluru pasukan keamanan Israel.

Selain itu, 214 warga Palestina termasuk 18 anak ditangkap aparat keamanan rezim Zionis dalam dua pekan lalu.

Menurut laporan tersebut, jet-jet tempur dan artileri militer Israel telah berulang kali menyerang beberapa wilayah di Gaza.

Yang ada dalam kehidupan lahiriah beliau, dari satu sisi adalah ilmu, hikmah dan makrifat.

Dalam sebuah khutbah beliau [Sayidah fathimah] yang terkenal dengan khutbah Fadakiyah, dimana para pengikut Ahlul Bait telah menukilnya dan Ahlu Sunnah menukilnya sebagian dan ada juga yang menukil semuanya. Bila kalian melihatnya, dalam pujian dan dalam mukadimah khutbah ini, kalian melihatnya penuh dengan hikmah dan makrifat yang keluar dari lisan beliau dan Alhamdulillah saat ini masih ada untuk kita. Pada saat tidak ada pembahasan ilmu, kutbah yang tidak berkaitan dengan ilmu dan makrifat, yang pada hakikatnya adalah pembahasan politik pada tingkat tertinggi yang bisa kita pahami. Pada khutbah mubarak ini, disebutkan ma’arif ilahi dan ma’arif islami. (dalam pertemuan bersama para pembaca kidung Ahlul Bait Rasulullah Saw, pada hari kelahiran Sayidah Fathimah as, 13/3/1389)

Khazanah Makrifat, Semangat dan Pelajaran Yang Tak Habis-Habisnya Bagi Para Pemuda

Sejarah kita penuh dengan pelajaran berkat peristiwa dua ratus tahun pertama Islam. Bila melihat dengan pandangan antara pelajar dan pengajar, untuk manusia yang ingin bergerak di jalan Allah sebagaimana yang dilalui oleh beliau-beliau [para imam maksum as] adalah sebuah khazanah makrifat, semangat dan pelajaran yang tak habis-habisnya.

Terkait peristiwa yang berhubungan dengan Sayidah Shiddiqah Thahirah as [Sayidah Fathimah as] ada beberapa poin penting; tapi satu poin yang sama dengan kondisi kalian para pemuda mukmin dan revolusioner adalah semua kebanggaan dan pekerjaan-pekerjaan besar dan posisi tinggi spiritual beliau yang tidak dapat dijangkau dan wanita luar biasa dalam sejarah ini, wanita penghulu para wanita alam ini, juga segala kesabarannya, keteguhannya, kecerdasannya dalam mengenali situasi, dan ucapannya yang berbobot yang dikeluarkan dari lisannya, semua peristiwa besar ini terjadi pada masa mudanya yang pendek.

Terkadang masalah ini kita paparkan sebagai pembacaan kidung duka dan kita katakan bahwa beliau memiliki usia yang pendek atau muda. Hal seperti ini adalah pembacaan kidung duka.

Terkadang masalah ini sebagai masalah yang perlu dipikirkan dan mengandung sebuah pelajaran bahkan bukan satu pelajaran saja tapi kita nilai sebagai banyak pelajaran dan kita melihatnya dengan pandangan ini. Maka pada saat itu akan memiliki nilai khusus. Bagaimana seseorang yang hidup dalam usia yang pendek, dari masa kanak-kanak sampai masa syahadahnya hanya dalam usia delapan belas tahun, dan sebagian mengatakan beliau berusia dua puluh dua dan dua puluh empat tahun, memiliki segala pengetahuan, segala posisi spiritual yang tinggi dalam usia yang singkat ini. ini menunjukkan akan sebuah pendidikan yang luar biasa di atas manusia. (dalam pertemuan dengan para komandan dan pengurus Sepah Pasdaran Revolusi Islam, 26/2/1376)

Sayidah Fathimah Dan Kancah Peribadatan

Peribadatan Dan Penghambaan; Sumber Semua Nilai Dan Kedudukan Ilahi

Poin lainnya adalah, kita menjelaskan beliau ini dengan bahasa kita yang tidak sempurna. Sekarang para penyair kita yang terhormat juga berkali-kali mengulang kandungan ini bahwa kita menjelaskan tentang Fathimah Zahra as dengan penjelasan yang tidak sempurna dan dengan pandangan yang tidak sempurna juga. Karena kita tidak bisa mendapatkannya. Kita tidak bisa memahaminya. Terkadang menyampaikan ucapan-ucapan yang tidak detil. Misalnya “Arasy Allah ada di bawah kakimu” apa maksudnya? Apa Arsy Allah itu? Ini tidak jelas; sebuah kata yang demikian. Karena ingin menghormati dan mengagungkannya, tapi kenyataan masalahnya tidak bisa tercerna dalam pikiran kita. Menggunakan kata-kata seperti ini terkadang bagus, terkadang juga tidak bagus. Terkadang benar dan terkadang juga tidak benar.

Sebagian masalahnya bisa kita pahami. Saya ingin bersandar pada titik pendek dari bagian ini. Ingin saya katakan bahwa nilai Fathimah Zahra as pada peribadatan dan penghambaannya kepada Allah. Bila peribadatan kepada Allah tidak ada pada Fathimah Zahra as, maka dia bukan Shiddiqah Kubra. Apa itu Shiddiq? Shiddiq adalah orang yang menunjukkan apa yang dipikirkan dan dikatakannya secara jujur dalam amalannya. Semakin kejujuran ini tinggi, maka semakin besar nilai seseorang. Maka ia akan menjadi Shiddiq.

“...mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. Nisa: 69)

Shiddiqin terletak setelah Nabiyyin. Orang besar ini adalah Shiddiqah Kubra. Yakni atasannya para wanita Shiddiq. Menjadi Shiddiq ini dengan menghamba kepada Allah. Bukan hanya Fathimah Zahra as, tapi ayahnya Fathimah yang merupakan permulaan dan sumber keutamaan semua maksum as, dan Amirul Mukminin serta Fathimah as adalah tetetasan dari lautan wujudnya Rasulullah Saw, nilainya karena penghambaan kepada Allah: Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu Wa Rasuluhu. Pertama adalah penghambaannya. Kemudian risalahnya. Risalah ini, kedudukan yang tinggi ini diberikan kepada beliau karena penghambaan. Karena Allah sebagai pencipta dan mengenal makhluknya. Bukankah dalam ziarah Sayidah Zahra as kita katakan, “Allah yang telah menciptakanmu telah mengujimu sebelum menciptakanmu”.

Dalam ilmu Allah, sudah ketahuan amal saya dan amal kalian. Di hadapan dosa, hawa nafsu, uang, nama baik, apakah kita siap menyingkirkan kehormatan, keimanan, taklif, dan amar makruf dan nahi mungkar karena untuk mendapatkan semua itu ataukah tidak? Ini adalah pilihan kita. Jalan apakah yang akan kita pilih? Ketika dikatakan bahwa sebuah ucapan bisa membahayakan seseorang dari sisi materi, ketika sebuah gerakan bisa memenuhi kemauan hawa nafsu penuh dosa seseorang, kita berada di dua jalan. Jalan yang manakah yang akan kita pilih? Jalan hawa nafsu, dosa dan uang ataukah jalan kesucian, takwa dan penghambaan kepada Allah? Kita akan memilih satu satu dari keduanya. Ini adalah dalam ilmu ilahi. Pilihan dan ikhtiar kita. Namun Allah tahu jalan yang manakah yang akan kita pilih? Ini ada dalam ilmu ilahi. Bila kalian adalah yang memiliki kekuatan untuk bersikukuh dan tidak bergerak di hadapan sebuah gunung yang penuh dengan nilai materi dan pemenuh hawa nafsu, maka Allah akan memberikan kelayakan-kelayakan kepada kalian.

“dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami...” (QS. Tahrim: 12)

Allah tidak sia-sia mengasihi Maryam as. Ini adalah ucapan al-Quran. Dia telah menjaga kesucian dirinya. Oleh karena itu dia layak menjadi ibunya Isa as. Nabi Yusuf as yang begitu tampan dan muda serta memiliki kemuliaan materi di rumah gubernur Mesir, dia mengabaikan hawa nafsunya. Oleh karena itu dia layak mendapatkan kedudukan yang tinggi yang diberikan Allah kepadanya, yaitu kenabian. Allah mengetahui bahwa hamba ini memiliki potensi demikian, dan akan menggunakan keinginannya di jalan-Nya. Oleh karena itu Allah memberikan tanggung jawab yang besar dan berat kepadanya yang masing-masing memiliki pahala yang besar. (dalam pertemuan bersama para pembaca kidung Ahlul Bait Rasulullah Saw)

Sumber: Naghs wa Resalat-e Zan II, Olgou-ye Zan Bargerefteh az bayanat-e Ayatullah al-Uzhma Khamenei, Rahbare Moazzam-e Enghelab-e Eslami.

Senin, 18 Desember 2017 16:08

Kerugian Ahli Kebatilan

Imam Musa Kazhim as tinggal di dalam penjara Sanadi bin Syahik [pembunuh Imam Kazhim].

Suatu hari Harun Rasyid mengutus seorang petugas untuk menanyakan kondisi Imam. Sanadi sendiri juga ikut masuk ke dalam penjara.

Ketika petugas itu masuk, Imam bertanya kepadanya, “Ada urusan apa engkau?”

Petugas itu berkata, “Khalifah mengutus saya untuk menanyakan kondisi Anda.”

Imam as berkata, “Dari aku, sampikan kepadanya bahwa setiap hari dari hari-hari sulit yang berlalu untukku adalah hari-hari bahagia yang berlalu untukmu sampai tiba saatnya aku dan engkau bertemu dalam satu tempat dimana ahli kebatilan baru tahu akan kerugiannya.

Dalam Kondisi Bersujud

Fadhl bin Rabi’ menterinya Harun Rasyid sedang duduk di tempat yang tinggi. Begitu dia melihatku, lantas berkata, “Lihatlah dalamnya ruangan ini! Apa yang engkau lihat?”

Aku katakan, “Ada pakaian di tengah-tengah ruangan.”

Dia berkata, “Lihatlah baik-baik!”

Aku katakan, “Sepertinya ada seorang lelaki sedang bersujud.”

Dia berkata, “Apakah engkau mengenalnya?”

Aku katakan, “Tidak. Sepertinya seorang narapidana politik.”

Dia berkata, “Dia adalah Musa bin Jakfar. Aku mengawasinya malam dan siang dan sepanjang waktu aku melihatnya demikian. Setelah mengerjakan salat Subuh, dia membaca wirid sampai terbitnya matahari. Kemudian bersujud dan tetap bersujud sampai tergelincirnya matahari. Di berpesan kepada seseorang untuk mengingatkan waktunya salat. Begitu dikabarkan kepadanya, langsung bangkit dan mengerjakan salat tanpa berwudhu kembali.

Ini adalah kebiasaannya. Setelah salat Isya, dia berbuka puasa dan kembali berwudhu dan bersujud kembali dan sepanjang malam dia sibuk beribadah sampai tiba waktunya Subuh.”

Doa Untuk Para Pecinta

Hasan bin Jaham berkata, “Aku bertanya kepada Imam Kazhim as [atau kepada Imam Ridha as], “Jangan lupakan saya dalam doa Anda.”

Imam as berkata, “Apakah engkau tahu aku melupakanmu dalam doa?”

Hasan berkata, “Aku bergumam, “Beliau berdoa untuk para pengikutnya. Aku ini juga sebagai pengikutnya, pasti aku juga termasuk orang-orang yang didoakannya.” Oleh karena itu aku berkata, “Tidak. Anda tidak akan melupakan saya.”

Imam as berkata, “Bagimana engkau tahu aku tidak melupakanmu?”

Hasan bin Jaham berkata, “Saya adalah salah satu pengikut Anda, dan Anda mendoakan para pengikut Anda. Oleh karena itu doa Anda juga meliputi saya.”

Imam as berkata, “Apakah engkau tahu rahasia yang lainnya selain ini?”

Hasan bin Jaham berkata, “Tidak. Saya tidak tahu apa-apa.”

Imam as berkata, “Setiap kali engkau ingin tahu bagaimana engkau di sisi kami, lihatlah bagaimana aku di sisimu.

Perhatian Pada Al-Quran

Hafdh berkata, “Saya berada bersama Imam Kazhim as. Beliau berkata kepada seorang lelaki yang berada bersama beliau juga, “Apakah engkau ingin umurmu panjang?”

Dia menjawab, “Iya.”

Imam Kazhim as berkata, “Untuk apa engkau ingin tinggal lama di dunia?”

Dia menjawab, “Untuk membaca surat Tauhid.”

Imam Kazhim as diam sejenak kemudian berkata, “Hai Hafdh! Bila salah satu pecinta dan pengikut kami meninggal dunia, sementara dia tidak bisa membaca al-Quran dengan baik, maka di alam kubur dia akan diajari membaca al-Quran supaya derajatnya naik karena al-Quran. Karena derajat surga berdasarkanya ayat-ayat al-Quran dan dikatakan kepadanya, bacalah dan naiklah ke atas! Dia membaca dan naik ke atas.”

Hafdh mengatakan, “Saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih merasa ketakutan akan dirinya seperti Imam Kazhim as.”

Beliau membaca ayat-ayat al-Quran dengan sedih. Sedemikian tinggi perhatiannya seakan-akan sedang berbicara dengan seorang lelaki di hadapannya.

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Musa Kazdim as

Senin, 18 Desember 2017 16:07

Orang Yang Tidak Menjaga Hak Tetangga

Rasulullah Saw bersabda:

“Barang siapa yang mengganggu tetangganya dengan cara yang tidak benar, maka Allah akan mengharamkan aroma surga baginya dan tempatnya adalah neraka. Ketahuilah bahwa Allah akan menanyakan tentang hak tetangganya, dan barang siapa yang tidak menjaga dan menginjak-injak hak tetangganya, maka dia bukan bagian dari kami. (terjemah Iqabul A’mal, hal 650)

Rasulullah Saw bersabda:

“Dua orang yang tidak akan dipandang oleh Allah pada Hari Kiamat;

1. Orang yang memutuskan hubungan silaturrahim.

2. Orang yang berbuat buruk terhadap tetangganya." (Nahjul Fashahah, hadis 55)

Neraka Adalah Tempatnya Tetangga Pengganggu

Rasulullah Saw bersabda:

“Barang siapa yang mengganggu tetangganya, maka Allah akan mengharamkan bau surga untuknya dan tempatnya adalah jahannam, betapa buruknya akibat dan barang siapa yang menginjak-injak hak tetangganya, maka dia bukan bagian dari kami.” (Amali Syeikh Shaduq, hal 249)

Sayidah Fathimah Zahra as menukil ucapan Rasulullah Saw dan berkata:

“Bukan termasuk orang mukmin, orang yang tetangganya merasa tidak aman dari gangguannya dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka dia tidak akan mengganggu tetangganya.” (Dalail Imamah, hal 66)

Tetangga Pengganggu, Bukan Mukmin

Rasulullah Saw bersabda:

“Seorang hamba belum terhitung sebagai mukmin, kecuali bila tetangganya sudah merasa aman dari kejahatannya.” (Mahajjatul Baidha, jilid 3, hal 422)

Gangguan Tetangga

Rasulullah Saw bersabda:

“Bila engkau melempar batu ke anjing tetangga, maka engkau telah mengganggunya.” (Mahajjatul Baidha, jilid 3, hal 423)

Orang Yang Tetangganya Lapar

Tidak beriman kepadaku, orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya dalam keadaan lapar.” (Kafi, jilid 2, hal 668)

Bersabar Di Hadapan Tetangga Yang Jahat

Imam Kazhim as berkata:

“Menjadi tetangga yang baik itu bukan tidak mengganggunya, tetapi bersabar di hadapan kejahatannya.” (Biharul Anwar, jilid 74, hal 153)

Tetangga Pengganggu Itu Terlaknat

Imam Shadiq as berkata:

“Terlaknat...terlaknat...orang yang mengganggu tetangganya.”

Orang Yang Diserahkan Kepada Dirinya Sendiri

Rasulullah Saw bersabda:

“Barang siapa yang menolak memberi barang yang diperlukan oleh tetangganya, maka pada Hari Kiamat, Allah tidak akan memberikan kebaikan-Nya kepadanya dan menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Dan barang siapa yang diserahkan oleh Allah kepada dirinya sendiri, maka celakalah dia dan dia tidak akan diampuni. [barang di sini adalah barang yang tidak mudah menyediakannya bagi setiap orang, seperti panci besar, atau wadah-wadah untuk menjamu tamu atau lampu, atau cangkul, kampak dan sebagainya]. (terjemah Iqabul A’mal, hal 652)

Tetangga Yang Buruk

Imam Hasan Askari berkata:

“Di antara keburukan yang mematahkan punggung seseorang adalah tetangga yang buruk. Dia akan menyembunyikan kebaikan dan menyebarkan kejelekan yang dilihatnya darimu.” (Mahajjatul Baidha, jilid 3, hal 427) 

Sumber: Hak Tetangga