کمالوندی
Tafsir Al-Quran, Surat At-Taubah Ayat 123-126
Ayat ke 123
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (123)
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa. (9: 123)
Ayat ini menyinggung sebuah dasar penting dalam jihad melawan musuh, dengan mengatakan, "Jangan sekali-kali kalian melalaikan musuh-musuh yang ada di dekat kalian, dan hanya sibuk dengan memperhatikan musuh-musuh yang jauh. Karena musuh yang ada di dekat kalian tentu lebih berbahaya daripada musuh yang jauh, dan pada saat yang sama jalan untuk menyingkirkan dan mengalahkan mereka lebih mudah."
Hal yang perlu diperhatikan ialah bahwa meskipun kata-kata "ghilzhoh" di dalam ayat ini berarti kekerasan, namun yang dimaksud bukanlah memperlakukan kaum kufar dengan buruk dan kejam. Karena makna yang seperti ini sama sekali tidak sejalan dengan satu pun dasar-dasar ajaran Islam. Sebuah agama yang menolak perilaku zalim dan kejam bahkan dalam medan peperangan dan jihad, bagaimana mungkin membolehkan perilaku jahat dan zalim terhadap musuh dalam kondisi normal? Untuk itu, yang dimaksud dengan "ghilzhoh" ini tak lain ialah ketegasan dan kekuatan serta kewibawaan dalam menghadapi musuh.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dalam kebudayaan Islam, orang mukmin yang sebenarnya adalah orang yang selalu mentaati perintah-perintah Allah Swt, dan bertakwa, selain memiliki sikap tegas dan berwibawa terhadap musuh.
2. Keberanian dan ketegasan adalah keniscayaan iman kepada Allah. Seorang mukmin tidak pernah merasa takut dan lemah di hadapan musuh.
Ayat ke 124
وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آَمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ (124)
Artinya:
Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. (9: 124)
Setiap kali ayat-ayat al-Quran turun kepada Nabi Muhammad Saw, orang-orang Munafik berusaha melemahkan hati orang-orang Mukmin, dengan memandang rendah nilai-nilai yang terkandung oleh ayat-ayat tersebut. Di antaranya mereka mengatakan, apa gunanya ayat-ayat tersebut diturunkan? Faedah apakah yang kalian terima dari ayat-ayat tersebut? Dengan mengetengahkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, mereka bermaksud menanamkan pandangan negatif mereka kepada orang lain, dengan harapan bahwa umat Muslimin pun akan memandang rendah al-Quran.
Akan tetapi, iman memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda. Dan hanya dengan mendengarkan ayat-ayat Allah dengan seksama, maka iman seseorang akan meningkat, semakin menguat dan mendalam. Selain itu, mendengarkan bacaan ayat-ayat al-Quran melahirkan semangat, kegembiraan, dan keceriaan kaum beriman.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Al-Quran adalah sarana terbaik untuk mengenal orang mukmin yang sebenarnya dan orang mukmin yang tampak lahirnya saja, juga untuk mengetahui orang-orang Munafik.
2. Membaca dan mendengarkan bacaan ayat-ayat al-Quran adalah salah satu cara untuk meningkatkan iman, dan memperoleh semangat spiritual.
Ayat ke 125
وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ (125)
Artinya:
Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. (9: 125)
Berbeda dengan orang-orang Mukmin, dimana membaca dan mendengarkan bacaan ayat-ayat suci Ilahi akan meningkat takwa dan iman, maka bagi orang-orang yang hati mereka berpenyakit, sebagaimana Munafikin, maka ayat al-Quran membuat penyakit mereka semakin menjadi-jadi. Ayat-ayat suci al-Quran bagaikan hujan rahmat Ilahi. Bila air hujan turun ke tanah yang berpotensi positif, pastilah tanah tersebut akan menjadi menghijau dengan berbagai tumbuhan yang segar.
Akan tetapi bila air hujan itu turun ke tempat pembuangan sampah atau limbah, maka bau busuk akan menyebar dari tempat tersebut. Tentu saja bau busuk itu bukan datang dari air hujan, tapi dari polusi yang telah memenuhi tempat pembuangan sampah tersebut. Sikap keras kepala dan kesombongan, sama seperti kotoran dan polusi, yang jia memenuhi hati seseorang, maka orang ini akan menunjukkan keingkaran dan kesombongan yang lebih besar terhadap ayat-ayat al-Quran.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Penyakit-penyakit jiwa sama sebagaimana penyakit tubuh, jika tidak diatasi, akan menjadi semakin parah dan akan membinasakan orang yang terkena penyakit tersebut.
2. Kufur dan nifak, penolakan kebenaran dan sikap ingkar, adalah penyakit-penyakit jiwa manusia yang sudah dikenal, dimana al-Quran selalu mengingatkan kita akan bahaya penyakit-penyakit tersebut.
Ayat ke 126
أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ (126)
Artinya:
Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? (9: 126)
Diantara Sunnatullah yang berlaku pada seluruh umat manusia ialah pemberian ujian dan cobaan yang disertai dengan berbagai peristiwa pahit ataupun manis, sehingga dengan demikian setiap orang akan menunjukkan batin dan isi hatinya, serta dalam mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. Sementara itu, salah satu falsafah ujian Allah ini ialah agar manusia mau bertaubat dan sadar diri sebagaimana disinggung oleh ayat ini, yang mengatakan, bahwa meskipun Munafikin telah diuji dengan ujian-ujian besar setiap tahun, akan tetapi ternyata mereka tetap saja tidak mau menyadari kesalahan mereka dan tidak mau bertaubat.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Salah satu tanda kemunafikan dan berpenyakitnya hati ialah tidak adanya kesadaran dan kemauan untuk bertaubat setelah menghadapi ujian-ujian Ilahi.
2. Ujian-ujian yang diberikan oleh Allah Swt tidak terbatas oleh ruang dan waktu, tidak juga usia orang-orang tertentu. Semua orang, tua dan muda, laki-laki maupun perempuan, kaya dan miskin, pandai maupun bodoh, sama-sama menghadapi ujian-ujian Ilahi.
Tafsir Al-Quran, Surat At-Taubah Ayat 119-122
Ayat ke 119
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (119)
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (9: 119)
Iman kepada Tuhan memiliki derajat dan tingkatan. Sedangkan merasa sudah beriman kepada Allah Swt dan Hari Kiamat tidaklah cukup. Karena itu iman haruslah disertai dengan kejujuran dan teremplementasikan dalam pekerjaan sehari-hari. Iman kepada Allah dan Hari Kiamat bukanlah sesuatu yang diucapkan dengan lisan saja. Memang benar bahwa hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, seseorang sudah dianggap dan diperlakukan sebagai muslim. Akan tetapi, untuk mencapai derajat seorang mukmin, seseorang harus membuktikan kejujuran kalimat syahadat yang ia ucapkan itu dengan melaksanakan taat dan menjauhi maksiat, sehingga dia akan terselamatkan dari api neraka.
Meski iman kepada Allah terdapat di dalam hati, namun ia perlu diikrarkan secara lisan dan perbuatannya sama satu dan tidak berbeda. Dengan kata lain apa yang diucapkan oleh lisan haruslah menjadi keyakinan dalam hati, kemudian terejawantahkan dalam perbuatan, yang mencerminkan kejujuran keislaman yang diucapkan dengan lisan. Oleh karena itu, Allah Swt dalam ayat ini berpesan agar orang-orang mukmin menjadi orang yang bersih dan jujur, serta selalu berada bersama orang-orang yang jujur dan benar.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Selalu bersama orang-orang saleh, baik dan jujur merupakan jalan pendidikan bagi manusia agar terjauhkan dari jalan yang menyimpang dan sesat.
2. Kejujuran dan kebenaran seberapapun kasarnya memiliki nilai di sisi Allah. Sebagaimana Allah swt telah mengenalkan para wali-Nya yang maksum sebagai orang-orang "Shadiqin".
Ayat ke 120-121
مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (120) وَلَا يُنْفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً وَلَا يَقْطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (121)
Artinya:
Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (9: 120)
Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (9: 121)
Meski ayat-ayat tadi berbicara tentang penduduk Madinah dan sekitarnya, akan tetapi sebagaimana ayat-ayat al-Quran lainnya, ia tidak terbatas hanya pada orang, tempat dan zaman tertentu, tapi mencakup seluruh kaum Muslimin. Maka berdasarkan ayat-ayat ini, amal saleh bukanlah semata-mata berbentuk perbuatan ibadah, akan tetapi setiap pekerjaan yang dilakukan karena Allah, akan termasuk ke dalam kategori amal saleh.
Begitu juga seorang mukmin yang bekerja di atas jalan Allah dengan susah payah menanggung haus dan lapar, juga disebut amal saleh dan Allah akan memberikan pahala-Nya kepada mereka. Segala kesulitan dan problema yang dihadapi dan dipikul dengan tabah oleh suatu masyarakat Islam karena embargo ekonomi yang diberlakukan oleh musuh-musuh Islam, juga dikategorikan sebagai amal saleh. Segala bentuk gerakan sosial masyarakat, seperti unjuk rasa dan demo untuk menunjukkan kemarahan kepada musuh-musuh Allah, sehingga semakin memperkuat barisan kaum Muslimin, maka berdasarkan ayat-ayat di atas, juga disebut sebagai amal saleh. Dan sudah pasti Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan perbuatan mereka.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Menjaga kemuliaan dan kerhormatan Nabi Saw sebagai pemimpin masyarakat Islam, lebih penting daripada menjaga jiwa kaum Muslimin. Karena itu kaum Muslimin wajib menjaga kehormatan dan kemuliaan Nabi meski harus mempertaruhkan jiwa mereka.
2. Memang untuk memperoleh pahala dan balasan Allah, manusia harus tetap menjaga komitmen dan tabah menanggung kesulitan.
3. Berbagai perbuatan baik sedikit ataupun banyak, tetap akan diperhitungkan di sisi Allah Swt.
Ayat ke 122
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (122)
Artinya:
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (9: 122)
Dalam kebudayaan Islam, hijrah untuk menuntut ilmu pengetahuan tidak kurang nilai pahalanya daripada pahala orang yang pergi untuk berjihad melawan musuh. Karena ayat ini berbicara kepada orang-orang Mukmin dengan menyatakan, Sebagian orang harus siap, dan guna mengenal kedalaman agama Allah ini, manusia harus berhijrah dari desa dan kota mereka kemudian kembali ke kampung halaman, lalu menyampaikan ajaran dan hukum-hukum Islam kepada kaumnya.
Sebagaimana diketahui, agama merupakan sekumpulan dan seperangkat nilai yang terdiri dari usul dan furu'uddin, yang harus diketahui oleh setiap orang mukmin. Adapun dalam berbagai riwayat, istilah fikih berhubungan dengan hukum-hukum agama Islam yang menjelaskan hal-hal wajib, haram, mustahab dan makruh. Nabi Muhammad Saw sewaktu mengutus Imam Ali bin Abi Thalib as ke Yaman, beliau memerintahkan kepadanya agar mengajarkan fikih kepada masyarakat, sehingga merka dapat menerapkan hukum-hukum Allah sebagai peraturan dan ajaran Islam. Imam Ali as juga berpesan kepada putra beliau dengan mengatakan, "Dalam Islam, fikih merupakan peraturan yang harus diamalkan. Sedemikian tingginya peran fikih ini, sehingga para fuqaha disebut sebagai pewaris anbiya.
Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Berhijrah memerlukan komitmen Iman, guna mengenal dan mendalami agama Islam, yang tak lain adalah untuk menyelamatkan agama Islam itu sendiri.
2. Pada saat berperang pun, kaum Muslimin tidak boleh lalai dan melupakan perjuangan membina pemikiran, keyakinan dan akhlak masyarakat.
3. Para penuntut ilmu mengenal 2 tahap hijrah. Pertama, hijrah menuju ke pusat-pusat ilmu pengetahuan, dimana mereka menuntut dan mencari berbagai ilmu pengetahuan. Sedangkan yang kedua ialah hijrah untuk mengajarkannya kepada orang lain.
Tafsir Al-Quran, Surat At-Taubah Ayat 113-118
Ayat ke 113-114
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (113) وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ (114)
Artinya:
Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (9: 113)
Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (9: 114)
Permohonan ampun atau istighfar merupakan sebuah ungkapan cinta. Dalam dua ayat ini, Allah Swt melarang orang mukmin untuk memohon ampunan bagi orang-orang Musyrik, meskipun mereka adalah kerabat dan sanak saudara. Karena orang yang mati dalam keadaan musyrik akan dimasukkan ke dalam neraka tidak ada harapan pengampunan baginya. Ayat-ayat berikutnya mengisahkan kesediaan Nabi Ibrahim as untuk memohon ampunan bagi pengasuh beliau dengan syarat ia menerima petunjuk beliau. Namun Nabi Ibrahim berlepas diri dari pengasuh beliau yang tetap mempertahankan kesyirikannya.
Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Syirik adalah dosa yang tak terampuni meskipun yang memohon ampunan bagi orang musyrik adalah para nabi. Satu-satunya jalan bagi mereka adalah bertaubat.
2. Ikatan keagamaan lebih mulia daripada ikatan darah. Karena itu kita tidak boleh menilai suatu ajaran agama dengan perasaan dan hubungan darah serta sanak famili.
Ayat ke 115-116
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (115) إِنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (116)
Artinya:
Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (9: 115)
Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah. (9: 116)
Allah Swt telah membuka pintu hidayah bagi manusia melalui akalnya dan wahyu Ilahi. Allah Swt tidak akan pernah mengazab atau membiarkan hamba-Nya, kecuali jika manusia itu tidak mengerjakan kewajibannya dan tidak menghindari apa yang dilarang oleh Allah. Salah satu ancaman bagi orang-orang yang beriman adalah bahwa mereka yakin akan menjadi penghuni surga dan tidak merasakan adanya bahaya yang mengancam mereka. Padahal tidak ada jaminan apapun bahwa seorang mukmin tidak terjebak kekufuran.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Penentangan secara sadar terhadap perintah Allah akan menutup pintu hidayah, dan bahaya ini mengancam semua orang yang beriman.
2. Balasan dan siksa Allah akan dilaksanakan setelah adanya penjelasan hukum dan penyempurnaan hujjah.
3. Seseorang harus lebih memikirkan hubungannya dengan Allah Swt, daripada memperkokoh hubungan kekeluargaan orang-orang Musyrik.
Ayat ke 117
لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (117)
Artinya:
Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. (9: 117)
Ayat ini menyinggung kondisi sulit yang dialami oleh kaum Muslimin dalam perang Tabuk yang disebabkan oleh jauhnya jarak perjalanan dan sengatan matahari di musim panas saat itu. Sebagian sahabat Nabi menolak ikut dalam perang tersebut dengan mengemukakan berbagai macam alasan agar mereka bisa tetap tinggal di kota dan melanjutkan rutinitas mereka di ladang perkebunan. Namun, berkat anugerah Allah, sebagian sahabat setia Nabi yang bukan termasuk orang-orang munafik, mematuhi seruan Rasulullah dan mereka tidak tergolong orang-orang yang sesat.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Tanda-tanda iman sejati adalah mengikuti bimbingan para pemimpin agama dalam kondisi sulit bukan hanya dalam kondisi normal saja.
2. Seluruh umat manusia bahkan para Nabi as mengharapkan anugerah Ilahi dan terkabulnya taubat bagi para pendosa merupakan salah satu bukti rahmat Allah Swt.
Ayat ke 118
وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (118)
Artinya:
Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (9: 118)
Berdasarkan riwayat dalam sejarah Islam, tiga sahabat nabi yang tidak ikut dalam perang Tabuk, menghadap Rasulullah untuk menyatakan penyesalan mereka. Namun, Rasulullah Saw tidak menghiraukan mereka. Bahkan, Rasulullah memerintahkan para sahabat beliau dan istri ketiga orang itu tidak berbicara dengan mereka. Ketiga orang itu keluar dari kota Madinah dan untuk memohon ampunan dari Allah Swt. Setelah taubat mereka diterima oleh Allah Swt, Rasulullah menyampaikan kabar gembira itu kepada ketiga sahabat beliau.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Salah satu cara untuk menindak orang-orang yang menentang hukum-hukum sosial adalah dengan memboikot mereka.
2. Setelah tahap pemboikotan tadi, kita harus membuka peluang bagi mereka untuk membenahi diri dan kembali ke jalan yang lurus.
Tafsir Al-Quran, Surat At-Taubah Ayat 104-107
Ayat ke 104
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (104)
Artinya:
Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? (9: 104)
Menyusul perintah Allah dalam ayat sebelumnya tentang zakat, ayat di atas menyinggung bahwa, kendati Rasulullah Saw yang mengambil zakat kalian dan membagi-bagikannya kepada kaum fakir miskin, pada hakikatnya yang menerima zakat kalian adalah Allah Swt dan Rasulullah Saw hanya melakukan perintah Allah untuk mengumpulkan zakat kalian.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa sebelum sedekah atau zakat itu sampai ke tangan kaum fakir miskin, telah terlebih dahulu diterima oleh Allah Swt. Jelas bahwa barangsiapa yang menentang perintah Allah ini dan perintah-perintah-Nya yang lain, maka mereka harus bertaubat dan tidak ada satu pihakpun yang dapat mengabulkan taubat mereka kecuali Allah Swt.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dalam bertaubat kepada Allah, manusia tidak cukup dengan sekedar menyatakan penyesalan, akan tetapi harus dibarengi dengan bukti nyata penyesalan mereka dengan penebusan dosa dan melakukan mengintrospeksi diri.
2. Zakat bukanlah sejenis pajak dalam agama, karena yang menerima zakat adalah Allah yang sama sekali tidak memerlukan sesuatu apapun.
Ayat ke 105
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (105)
Artinya:
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (9: 105)
Ayat ini merupakan ancaman bagi para Munafikin dan penentang perintah Allah Swt bahwa, "Janganlah pernah kalian menyangka kalian dapat menyembunyikan seluruh perbuatan kalian dari pantauan Allah dan Rasul-Nya serta kaum Mukminin. Karena dalam waktu dekat perbuatan cela kalian akan terungkap, di dunia ini. Selain itu, pada Hari kiamat kelak kalian akan berurusan dengan Allah Swt yang mengetahui batin dan seluruh perbuatan yang kalian lakukan secara sembunyi-sembunyi.
Berdasarkan riwayat yang ada, pengetahuan Rasulullah terhadap amal perbuatan umatnya tidak terbatas pada masa hidup beliau saja, melainkan saat ini pun beliau tengah memantau amal perbuatan umatnya. Begitu pula dengan orang-orang mukmin, berikhlas, serta para wali Allah yang suci dan maksum juga memiliki kemampuan yang sama, bahkan setelah mereka meninggal, dengan izin Allah Swt, mereka dapat mengetahui amal perbuatan manusia.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Mengingat seluruh amal perbuatan kita senantiasa di awasi Allah Swt, langkah terbaik adalah menjauhkan diri dari dosa dan menjaga jiwa dan takwa kita.
2. Semakin banyak jumlah orang mengawasi amal perbuatan seseorang semakin besar pula rasa malunya, apalagi jika yang mengawas amal perbuatannya adalah Allah, Rasulullah dan para wali Allah.
Ayat ke 106
وَآَخَرُونَ مُرْجَوْنَ لِأَمْرِ اللَّهِ إِمَّا يُعَذِّبُهُمْ وَإِمَّا يَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (106)
Artinya:
Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (9: 106)
Setelah diketahui bersama berbagai kriteria sebagian kelompok orang-orang Munafik pada ayat-ayat sebelumnya, pada ayat ini kita akan membahas kriteria kelompok lain dari orang-orang Munafik. Dalam ayat tadi disebutkan bahwa, berbeda dengan mereka yang selalu mempertahankan kemunafikannya, dan mereka yang telah bertaubat dan menyesali perbuatannya, ada kelompok yang tidak enggan melakukan penyimpangan. Namun pada saat yang sama mereka juga enggan bertaubat. Nasib kelompok tersebut ada di tangan Allah Swt, apakah Allah akan menyiksa atau mengampuni mereka.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Hanya Allah Swt yang berhak memberikan ganjaran atau pengampunan kepada para pendosa, dan tidak ada yang dapat mencampuri keputusan Allah.
2. Kemurkaan dan atau kasih sayang Allah berdasarkan pada ilmu dan hikmah Allah, dan sekali-kali bukan karena balas dendam atau mencari kepuasan.
Ayat ke 107
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (107)
Artinya:
Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan". Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (9: 107)
Ayat ini menyinggung kisah masjid Dhirar, yang ringkasannya sebagai berikut, "Orang-orang Munafik dengan alasan membantu orang-orang yang tidak mampu dan sakit, mereka membangun masjid di depan masjid Quba. Masjid tersebut dibangun dengan maksud agar mereka bisa berkumpul dan mengubah masjid tersebut sebagai pangkalan mereka. Menjelang terjadinya perang Tabuk orang-orang Munafikin meminta Rasulullah Saw meresmikan masjid tersebut dengan shalat di dalamnya.
Akan tetapi Allah Swt menurunkan ayat-Nya yang berisi pemberitahuan untuk Rasulullah tentang niat busuk kaum Munafikin, bahwa masjid itu dibangun bukan untuk tujuan beribadah, akan tetapi untuk dijadikan sebagai pangkalan dalam melakukan konspirasi dan perpecahan di antara kaum Muslimin. Oleh karena itu, Rasulullah memerintahkan para sahabat beliau untuk menghancurkan masjid tersebut, dan kemudian tempat itu dijadikan tempat pembuangan sampah.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Orang-orang Munafik dan musuh-musuh Islam menggunakan masjid dan sebagai tempat untuk menghancurkan agama Islam. Oleh karena itu kita harus mewaspadai seruan yang mengatasnamakan Islam.
2. Upaya penghancuran persatuan masyarakat Islam dan perpecahan dalam barisan kaum Muslimin, termasuk kekufuran kepada Allah, meskipun masjid sebagai faktor perpecahan tersebut.
Tafsir Al-Quran, Surat At-Taubah Ayat 100-103
Ayat ke 100
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (100)
Artinya:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (9: 100)
Sebelumnya telah disinggung kondisi orang-orang Munafik Madinah serta ketidaksopanan mereka terhadap Nabi dan kaum Mukmin. Ayat tadi menyatakan bahwa Allah Swt rela terhadap orang-orang Mukmin di Madinah. Para Muhajirin yang sebelumnya telah memeluk Islam di Mekah diperintahkan oleh Nabi untuk berhijrah ke Madinah. Sementara kaum Anshar di Madinah memberikan sebagian tempat tinggal mereka kepada kaum Muhajirin, serta membantu Nabi Muhammad Saw dalam menghadapi kaum Musyrik Mekah. Wanita muslim pertama, Sayidah Khadijah as, istri Nabi, meski telah menanggung berbagai kesulitan dan melepaskan status sosialnya yang tinggi, namun beliau tetap komitmen dan tidak pernah lengah dalam membantu Nabi dan kaum Mukminin. Begitu pula dengan laki-laki muslim pertama, Ali bin Abi Thalib as, yang selalu menyertai Nabi dan bersedia tidur di pembaringan Nabi, sehingga musuh tidak menduga Rasulullah keluar dari Mekah.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Berlomba-lomba dalam perbuatan baik merupakan kemuliaan, dan para pelopor perbuatan tersebut harus dihormati.
2. Berhijrah, menolong, dan mengikuti perbuatan baik, akan mendatangkan keridhaan dan pahala dari Allah Swt.
Ayat ke 101
وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ (101)
Artinya:
Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.
Ayat ini kembali menyinggung bahaya orang-orang Munafik dalam masyarakat Islam. Dengan kata lain, di antara kaum Muslimin kota Madinah dan sekitarnya, terdapat orang-orang yang mengklaim beriman kepada Allah dan dikenal sebagai orang-orang Mukmin. Namun pada hakikatnya, mereka adalah orang-orang Munafik, mereka tidak beriman kepada Allah dan Hari kiamat. Meski tidak ada yang menyadari hal itu, namun Allah Swt mengetahui batin mereka. Allah akan menjerumuskan mereka ke jurang kehinaan dan musibah di dunia, dan di akhirat nanti mereka akan menerima azab yang amat pedih.
Penjelasan dari dua azab tersebut; pertama adalah terungkapnya kemunafikan mereka dan keterhinaan mereka di tengah masyarakat. Dan yang kedua adalah kesulitan dahsyat sewaktu ajal menjemput mereka, seperti yang telah disebutkan dalam surat al-Anfal ayat 50.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kemunafikan memiliki beberapa tahap. Ada yang bersifat sederhana dan lahiriah saja, dan ada yang sangat pelik dan telah mengakar. Semakin lama seseorang bergelut dengan kemunafikan tersebut, maka bahaya dan siksaannya juga semakin besar dan pedih.
2. Meski berprasangka buruk kepada orang lain dilarang. Akan tetapi waspada dan berhati-hati juga perlu dilakukan, karena orang-orang Munafik menyamar sebagai orang-orang Mukmin.
Ayat ke 102
وَآَخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآَخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (102)
Artinya:
Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang. (9: 102)
Berdasarkan beberapa riwayat sejarah, sebagian sahabat Rasulullah menolak untuk berpartisipasi dalam perang Tabuk karena mereka telah tergiur oleh gemerlap dunia. Kemudian turunlah ayat-ayat yang mengecam mereka dan akhirnya mereka menyesali perbuatan mereka serta bertaubat kepada Allah. Taubat dan permohonan ampun mereka ungkapkan dengan mengikat tubuh mereka ke tiang-tiang masjid Nabawi. Allah Swt pun menerima taubat mereka dan Rasulullah membuka tali pengikat tubuh mereka seraya menyampaikan kabar gembira atas dikabulkannya taubat mereka oleh Allah Swt.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dalam introspeksi diri, kita jangan hanya melihat sisi positif pada diri kita, melainkan kita juga berusaha mengoreksi sisi negatif dan kesalahan yang telah kita perbuat.
2. Penyesalan adalah satu-satunya jalan untuk memperoleh ampunan Ilahi, dan Allah selalu membuka pintu taubatnya bagi para hamba-Nya.
Ayat ke 103
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (103)
Artinya:
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (9: 103)
Islam bukanlah agama ibadah, zikir dan doa saja melainkan agama kepedulian terhadap fakir miskin dan pendanaan kepentingan-kepentingan sosial. Bahkan salah satu dari kewajiban setiap orang muslim adalah membagikan sebagian dari harta kekayaan mereka kepada fakir miskin atau yang dikenal dengan zakat. Mengeluarkan zakat hukumnya wajib, selain itu bersedekah juga merupakan perbuatan mustahab yang berulang kali ditekankan oleh para nabi.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Mengeluarkan zakat, merupakan bukti kejujuran seseorang atas pengakuan imannya kepada Allah Swt.
2. Dalam menilai perbuatan baik orang lain, kita dituntut untuk bersyukur kepada Allah dan termotivasi untuk melakukan perbuatan yang baik. Bahkan Rasulullah Saw mengucapkan salam dan mendoakan orang-orang mengeluarkan zakat.
Persaingan Iran-Arab Saudi di OPEC
Sidang ke-164 Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dibuka pada hari Rabu (4/12) di Wina, Austria. Agenda pertemuan itu adalah untuk menentukan kebijakan produksi OPEC dan memilih sekjen baru organisasi.
Pertemuan tersebut dinilai sangat penting dan sensitif mengingat digelar di tengah transformasi politik dan geopolitik di wilayah Timur Tengah, khususnya setelah tercapainya kesepakatan nuklir antara Iran dan kelompok 5+1 di Jenewa, Swiss.
Keputusan untuk mempertahankan tingkat produksi anggota OPEC, laporan sekjen organisasi mengenai perkembangan pasar minyak global, laporan komisi ekonomi sidang OPEC, dan laporan produksi minyak OPEC, termasuk isu-isu yang akan dibahas dalam sidang ke-164 organisasi itu.
Iran, Irak, Arab Saudi, Kuwait, Venezuela, Qatar, Libya, Uni Emirat Arab, Aljazair, Nigeria, Angola, dan Ekuador, adalah negara-negara anggota OPEC.
OPEC sejak Desember 2011 hingga sekarang mempertahankan target produksinya sebesar 30 juta barel per hari, dengan harapan bisa menjaga harga minyak tetap stabil dan relatif tinggi untuk saat ini.
Akan tetapi dengan memperhatikan prospek kembalinya minyak Iran ke pasar dunia dan meningkatnya produksi minyak Irak dalam beberapa bulan terakhir, maka penting bagi negara-negara anggota OPEC untuk mendiskusikan masalah pagu produksi mereka.
Iran menekankan akan mempertahankan sahamnya dalam masalah produksi minyak di OPEC. Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh telah mengambil bagian dalam pertemuan tingkat menteri OPEC pada hari Rabu (4/12).
Zanganeh mengatakan, "Industri minyak Iran – setelah kesepakatan Jenewa – sedang bersiap untuk kembali secara penuh ke pasar minyak global." Dia juga menyeru negara-negara anggota OPEC untuk membuka ruang bagi kapasitas produksi minyak Iran.
Dia menuturkan, Iran akan segera meningkatkan ekspor minyak mentah ke empat juta barel per hari setelah sanksi dicabut. "Kami tidak punya kesulitan teknis untuk meningkatkan ekspor dan kembali ke empat juta barel per hari," jelasnya.
Zanganeh memperkirakan bahwa produksi minyak Iran akan disesuaikan dengan kesepakatan nuklir antara Republik Islam dan kelompok 5+1. Dia juga mengkonfirmasikan dimulainya pembicaraan kontrak minyak dengan beberapa perusahaan besar asing seperti, Total Perancis, Shell Belanda, PB Inggris, dan Exxon AS.
Pernyataan itu dianggap sebagai tantangan potensial bagi Arab Saudi. Menteri Perminyakan Saudi, Ali al-Naimi berusaha untuk meredakan kekhawatiran, dan mengatakan bahwa ia tidak melihat perang harga di pasar. "Saya berharap Iran kembali dan memproduksi semua yang mereka bisa," ujarnya. Tapi ia menolak mengurangi tingkat produksi.
Sebelum sanksi minyak berlaku hampir setahun lalu, Iran adalah produsen terbesar kedua minyak OPEC setelah Saudi. Selama masa sanksi, Saudi telah meningkatkan produksinya untuk menggantikan pasokan minyak dari Iran.
Upaya Mencairkan Ketegangan AS-Cina
Para pejabat Cina memanfaatkan kunjungan Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden ke negara itu untuk menjelaskan kondisi baru dalam hubungan bilateral kedua negara.
IRNA melaporkan, Joe Biden pada hari Rabu (4/12) tiba di Beijing dan langsung bertemu dengan Presiden Cina Xi Jinping.
Pengumuman Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) oleh Cina telah mengundang Biden ke wilayah Asia Timur untuk membicarakan masalah tersebut. Sumber-sumber resmi Cina mengatakan, pertemuan Xi dan Biden membahas masalah hubungan Cina dan AS serta isu-isu lain yang menjadi perhatian kedua negara.
Dalam pertemuan itu, Presiden Cina menekankan masalah pembangunan model hubungan baru antara Beijing dan Washington, yang disepakati dengan Barack Obama dalam pertemuan Juni lalu. Hubungan kedua negara harus jauh dari konfrontasi serta mengedepankan sikap saling menghormati dan kerjasama berdasarkan kepentingan kolektif.
Xi telah menjelaskan kebijakan utama Cina mengenai sejumlah isu yang mengundang campur tangan AS seperti, masalah Taiwan, Tibet, dan Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) di Laut Cina Timur.
Bersamaan dengan kunjungan Biden, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina dalam satu pernyataannya, mengharapkan pemahaman Washington tentang keputusan Beijing untuk menciptakan zona udara dan menghormati langkah itu.
Dua hari setelah pengumuman ADIZ, AS langsung menerbangkan dua pesawat pembomnya di atas wilayah tersebut. Aksi itu mengundang protes dari Beijing dan kemudian militer Cina mengerahkan jet-jet tempur dan pesawat peringatan dini ke ADIZ untuk melakukan patroli.
Beijing mengatakan, jet-jet tempur tersebut terbang ke ADIZ untuk memperkuat pengawasan terhadap kepentingan-kepentingan di kawasan. Angkatan Udara Cina menggambarkan misi itu sebagai langkah pertahanan yang sejalan dengan hukum internasional.
Para pejabat politik dan militer Beijing menilai pengumuman zona udara bertujuan untuk mempertahankan kedaulatan dan keamanan serta menjaga wilayah udara Cina.
Akan tetapi, AS, Jepang, dan Korea Selatan mereaksi negatif terhadap keputusan sepihak Cina. Mereka menuding Cina berupaya menguasai wilayah sengketa dengan mengerahkan kekuatan militer.
Ayatullah Khatami: Kesuksesan di Jenewa Adalah Berkat Muqawama Bukan Kemaslahatan Negara
Khatib shalat Jumat Tehran, Ayatullah Sayid Ahmad Khatami, menilai keberhasilan Iran dalam perundingan nuklir Jenewa adalah berkat muqawama bangsa Iran.
Ayatullah Khatami dalam khutbah Jumatnya (6/12), menyinggung kesepakatan antara Iran dan Kelompok 5+1 di Jenewa, Swiss, dan mengatakan, "Ini merupakan kebanggaan bangsa Iran dalam muqawama, bukan di meja perundingan. Dan kemaslahatan negara serta pemerintah juga berkaitan dengan perluasan budaya muqawama."
Ayatullah Khatami menekankan bahwa musuh terpaksa mundur di hadapan muqawama bangsa Iran.
"Upaya diplomatik bersama dengan semangat revolusioner adalah syarat dalam menghadapi musuh," katanya.
Khatib shalat Jumat Tehran menjelaskan bahwa musuh bangsa Iran sebelumnya bahkan tidak mengijinkan mesin-mesin sentrifugal beroperasi di Iran untuk proses riset ilmiah. Akan tetapi sekarang berkat muqawama bangsa Iran dan kerja keras para ilmuwan Iran, sebanyak 19 mesin sentrifugal telah beroperasi.
Ditujukan kepada tim perunding nuklir Iran, Ayatullah Khatami mengatakan, "Rakyat percaya kepada Anda akan tetapi pada saat yang sama mereka juga tidak percaya kepada Amerika Serikat dan negara-negara Barat dan diharapkan Anda berhati-hati jangan sampai lengah menghadapi makar musuh.
Rahbar: Haji Bisa Satukan Kebutuhan Bersama Dunia Islam
Salam satu problema besar Dunia Islam saat ini adalah masalah perselisihan umat Islam dan isu madzhab yang sengaja ditimpakan dengan tujuan-tujuan yang keji. Hal itu disampaikan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei hari Senin (11/11) ini dalam pertemuan dengan para pejabat dan penanggung jawab urusan haji.Dalam kesempatan itu, beliau menyebut haji sebagai hadiah Ilahi dengan kapasitas tanpa batas untuk menciptakan kesepahaman terkait kebutuhan-kebutuhan bersama Dunia Islam.
Seraya menekankan untuk memerhatikan kondisi dan tuntutan zaman dalam memaksimalkan pemanfaatan kapasitas haji yang sangat besar, Ayatollah al-Udzma Khamenei mengatakan, "Kubu arogansi dan imperialis punya pengalaman yang besar dalam menyulut konflik berlatar belakang perbedaan madzhab. Dalam kondisi sekarang, kapasitas haji harus diaktifasi untuk melawan konspirasi ini."
Beliau menambahkan, "Konflik antar madzhab tidak terbatas dalam isu Syiah dan Sunni. Jika musuh berhasil mengobarkan pertikaian ini, maka pada tahap berikutnya mereka akan menyusun agenda menyulut konflik internal antara kelompok di tubuh Sunni dan Syiah."
Lebih lanjut Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa salah satu kapasitas besar haji adalah peluang di sana untuk memupuk kesepahaman terkait kebutuhan dan tuntutan bersama Dunia Islam.
Beliau menandaskan, "Masih banyak kapasitas haji yang belum dikenal, yang untuk bisa mengungkapnya diperlukan tenaga dan pemikiran para pemikir dan cendekiawan."
Seraya mengapresiasi kinerja para petugas dan pengurus pelaksanaan haji tahun ini yang telah memberikan layanan yang baik kepada para jamaah haji, Rahbar berharap supaya anugerah dan kapasitas besar yang ada pada ibadah haji bisa lebih dimanfaatkan untuk kepentingan Dunia Islam.
Di awal pertemuan, Wakil Waki Faqih dan Pimpinan Jamaah Haji Iran, Hojjatul Islam wal Muslimin Qazi Asgar menyampaikan laporannya terkait program yang dilaksanakan Bi'tsah Pemimpin Besar Revolusi Islam selama musim haji yang meliputi berbagai kegiatan budaya, keagamaan, dan kegiatan yang berlevel internasional.
Rahbar: Dalam Membela Hak Nuklirnya, Iran Selangkahpun Tak Akan Mundur
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Rabu (20/11) dalam pertemuan akbar dengan puluhan ribu komandan pasukan relawan Basij, menyebut Basij sebagai manifestasi dari kestabilan, kebanggaan dan wibawa pemerintahan Islam. Seraya menjelaskan beberapa kriteria dan modus-modus penipuan kubu arogansi global, khususnya Amerika Serikat (AS), yang tak bersedia tunduk kepada kebenaran, beliau menegaskan bahwa resistensi dan kekuatan bangsa adalah satu-satunya cara melawan musuh.Ayatollah al-Udzma Khamenei menekankan kembali dukungannya kepada pemerintah dan para pejabat negara seraya menandaskan, "Dalam masalah nuklir, ada beberapa garis merah yang harus dijaga dan jangan pernah mundur walau sejengkal dalam membela hak-hak bangsa."
Menurut beliau, Basij adalah wujud nyata dari kebesaran bangsa Iran dan kumpulan tenaga-tenaga handal di dalam negeri. "Bagi para pendukung pemerintahan, revolusi Islam dan negara ini, Basij adalah kesatuan yang membanggakan, tumpuan harapan dan lembaga yang terpercaya, sementara bagi musuh-musuh pemerintahan Islam ini Basij merupakan lembaga yang menakutkan dan mengecewakan," tambah beliau.
Menyinggung peringatan Pekan Basij yang bertepatan dengan peringatan perjuangan Zainab al-Kubra (as), Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, "Perjuangan Zainab merupakan kelanjutan dari epik Asyura. Dengan kata lain, perjuangan Syd. Zainab (as) menghidupkan dan menjaga epik perjuangan Asyura."
Seraya menyinggung perjuangan Zainab al-Kubra (as) yang penuh dengan resistensi dan ketabahan saat menghadapi berbagai musibah yang kebesarannya hanya bisa disandingkan dengan kebesaran perjuangan Asyura, beliau menjelaskan khutbah-khutbah Zainab al-Kubra (as) yang tegas di depan warga Kufah, di depan Ibnu Ziyad dan di istana Yazid.
Rahbar menegaskan bahwa resistensi Zainab al-Kubra (as) telah membuahkan gerakan resistensi sepanjang sejarah dalam membela kebenaran. "Karena itu, teladan dan orientasi kita dalam gerakan ini adalah Zainab (as) dan tujuan yang harus dikejar adalah kemuliaan Islam dan masyarakat Islam serta kemuliaan insani," kata beliau.
Dalam pertemuan akbar ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyinggung ungkapan ‘lunak tapi unggul' yang beberapa waktu lalu beliau gunakan, seraya mengatakan, "Sebagian orang menyebut ungkapan ‘lunak tapi unggul' sebagai langkah melepas prinsip dan cita-cita pemerintahan Islam. Atas dasar itu, sebagian musuh kita mengklaim bahwa pemerintahan Islam telah mundur dari prinsipnya. Padahal semua kesimpulan itu tidak benar dan satu pemahaman yang buruk."
Beliau menambahkan, "Sikap lunak yang unggul berarti bermain cantik dengan menggunakan berbagai cara untuk mencapai tujuan dan berbagai cita-cita yang didambakan oleh pemerintahan Islam."
Di antara cita-cita revolusi dan pemerintahan Islam yang disinggung Rahbar adalah kemajuan dan membangun peradaban Islam yang agung. Cita-cita ini merupakan gerakan bersama yang dilakukan secara bertahap.
Lebih lanjut beliau mempertanyakan, "Apakah penekanan pemerintahan Islam akan kemajuan berarti kecenderungan pemerintahan Islam kepada perang? Apakah pemerintahan Islam hendak menyulut masalah dengan semua bangsa dan negara di dunia? Dan inilah yang sering kali terdengar dari mulut najis anjing-anjing galak di kawasan ini, yakni Rezim Zionis Israel."
Ayatollah al-Udzma Khamenei menambahkan, "Apa yang diklaim musuh justeru berlawanan dengan pandangan dan perilaku Islam. Sebab, cita-cita pemerintahan Islam sebagaimana yang diajarkan oleh al-Qur'an, Nabi Muhammad Saw dan para Imam Suci (as) adalah keadilan, kebajikan dan sikap baik terhadap semua bangsa."
Menurut beliau, bahaya sesungguhnya yang mengancam dunia adalah kekuatan jahat global termasuk rezim ilegal Zionis dan para pendukungnya.
Pemimpin Besar Revolusi Islam mengungkapkan bahwa pemerintahan Islam selalu mendambakan kasih sayang dan pengabdian kepada semua manusia serta memupuk hubungan persaudaraan dengan semua bangsa.
Ditambahkannya, pemerintahan Islam bahkan tidak bermusuhan sama sekali dengan rakyat Amerika, walaupun pemerintah AS bersikap arogan, memusuhi, keji dan menaruh dendam terhadap bangsa Iran.
"Yang berseberangan dengan pemerintahan Islam dan dilawan oleh pemerintahan Islam adalah arogansi," tegas beliau.
Lebih lanjut di depan puluhan ribu komandan Basij, Rahbar menjelaskan kriteria-kriteria arogansi dan maniferasinya di zaman ini. Seraya menyatakan bahwa arogansi atau istikbar adalah ungkapan yang ada dalam al-Qur'an, beliau menegaskan, "Arogansi selalu ada sepanjang sejarah walaupun modus-modus dan caranya berbeda."
Dalam menghadapi arogansi beliau menekankan untuk bersikap dan bertindak secara logis dan cerdas serta terprogram, sama seperti menangani hal-hal yang lain. Salah satu langkah awal dalam melawan arogansi adalah dengan mengenalnya secara benar.
Mengenai kriteria kubu arogansi, Ayatollah al-Udzma Khamenei menyatakan bahwa salah satu kriteria utamanya adalah anggapan dirinya sebagai yang lebih unggul di atas yang lain. Ketika sebuah negara atau sistem hegemoni di kancah internasional menganggap dirinya sebagai yang utama, poros, dan di atas yang lain, maka yang akan muncul adalah percaturan global yang membahayakan. Di antara dampak-dampaknya adalah anggapan akan hak mengintervensi urusan negara-negara lain, memaksakan pandangan terhadap bangsa-bangsa lain, dan klaim sebagai penguasa dunia.
"Retorika yang digunakan para petinggi AS saat berbicara memperlihatkan bahwa mereka merasa memegang kendali atas nasib bangsa-bangsa lain dan merekalah yang memiliki dunia dan kawasan ini," kata beliau.
Dampak buruk lainnya dari sikap congkak itu adalah keengganan untuk menerima kebenaran. Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebutkan salah satu contohnya yaitu sikap AS dan kubu arogansi yang tidak bersedia mengakui hak bangsa-bangsa lain. "Isu nuklir Iran adalah satu contoh jelas yang memperlihatkan penolakan kubu hegemoni untuk mengakui hak bangsa lain," tegas beliau.
Padahal, lanjut beliau, setiap manusia atau negara yang menggunakan logika akan tunduk dan menerima kata-kata yang benar. Lain halnya dengan kubu arogansi yang tidak pernah bersedia menerima kata-kata pihak lain yang benar dan jelas. Mereka hanya memikirkan upaya untuk menistakan hak bangsa lain.
Seraya menjelaskan bahwa kriteria lain dari arogansi adalah sikap yang menghalalkan segala bentuk kejahatan terhadap bangsa lain, Rahbar menandaskan, "Di mata kubu hegemoni, bangsa dan orang yang tak bersedia tunduk dan menyerah kepadanya, tidak ada harganya dan mereka bisa diperlakukan dengan cara seburuk apapun."
Menurut beliau, contoh dalam hal ini sangat banyak dan tak terbilang, diantaranya adalah kejahatan keji dan menjijikkan yang mereka lakukan terhadap warga pribumi benua Amerika, kejahatan Inggris terhadap warga pribumi Australia, dan perbudakan paksa orang-orang kulit hitam asal Afrika yang dilakukan oleh orang-orang Amerika. Contoh lain yang merupakan kejahatan di zaman ini adalah tindakan AS yang menjatuhkan bom atom di Jepang.
"Di dunia ini, bom atom hanya digunakan dua kali dan keduanya digunakan terhadap rakyat Jepang dan pelakunya adalah orang-orang Amerika. Meski sudah melakukan kejahatan ini, AS justeru tampil sebagai pihak yang merasa berhak mengambil keputusan dalam masalah nuklir," kata beliau.
Ayatollah al-Udzma Khamenei mengingatkan kembali pembantaian dan penyiksaan rakyat Vietnam, Irak, Pakistan dan Afghanistan oleh AS. "Penyiksaan keji yang terjadi di Guantanamo dan Abu Ghraib tak akan pernah terlupakan," ungkap beliau.
Untuk itu, beliau kembali menekankan keharusan mengenal kriteria kubu arogansi sebagai langkah awal dalam melakukan perlawanan yang arif dan cerdas. Beliau menambahkan kriteria lain kubu arogansi yaitu hipokritas dan kebohongan. Salah satu modus yang biasa digunakan adalah melakukan kejahatan dengan dikemas dalam bentuk pelayanan dan jasa.
Sebagai contohnya, kata beliau, untuk menjustifikasi kejahatan menjatuhkan bom atom di Jepang, para petinggi AS lewat media propagandanya menyatakan, jika 200 ribu orang tidak terbunuh akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Perang Dunia II tak akan berakhir dan akan ada dua juta orang lagi yang terbunuh dalam perang. Karena itu, serangan bom atom ke Jepang pada hakikatnya adalah pengabdian AS kepada umat manusia!
Pemimpin Besar Revolusi Islam menjelaskan, "Klaim itu terus diulang-ulang padahal data-data yang ada menunjukkan bahwa beberapa bulan sebelum AS melakukan kejahatan besar itu di Jepang, Hitler yang merupakan salah satu penyulut PD II sudah bunuh diri, dan Mussolini pilar lainnya dalam PD II juga sudah ditangkap dalam sebuah serbuan, sementara Jepang sendiri sejak dua bulan sebelumnya sudah mengumumkan kesiapannya untuk menyerah."
Tujuan AS di balik kejahatan itu, kata beliau, adalah untuk mengujicoba senjata barunya, yaitu bom atom, di medan perang yang nyata. Dan itu dilakukan meski harus mengorbankan nyawa rakyat Hiroshima dan Nagasaki yang tak berdosa. Tapi sekarang, kejahatan itu dikemas dalam bentuk sebuah pengabdian kepada umat manusia.
Contoh lainnya adalah hipokritas sikap yang ditunjukkan AS dan kubu hegemoni dalam kasus senjata kimia Suriah. Ayatollah al-Udzma Khamenei mengatakan, "Para petinggi AS berulang kali mengaku bahwa penggunaan senjata kimia adalah garis merah bagi mereka. Tapi dulu ketika Saddam menggunakan senjata kimia untuk menyerang rakyat Iran, rezim AS bukan hanya tak menunjukkan penentangan bahkan menyuplai rezim Saddam dengan minimal 500 ton bahan kimia yang sangat berbahaya. Bahan itulah yang digunakan untuk membuat senjata kimia dan menyerang para pejuang Iran."
Contoh lain dari kejahatan AS adalah pembunuhan terhadap sekitar 300 penumpang dan awak pesawat komersial Iran dan bantuan intelijen AS kepada rezim Saddam di Irak.
Di bagian lain pembicaraannya, menyinggung konflik sepanjang sejarah antara kubu kebenaran dan kubu arogansi, Rahbar mengajukan pertanyaan mendasar tentang faktor yang memicu konspirasi dan permusuhan kubu arogansi terhadap Republik Islam Iran? Jawaban pertanyaan ini bisa dilihat dari sejarah terbentuknya revolusi Islam.
"Revolusi Islam rakyat Iran dan berdirinya pemerintahan yang diinginkan bangsa ini adalah gerakan protes dan penentangan terhadap arogansi dan kaki tangannya. Karena itu, kubu arogansi tak bisa menerima keberadaan pemerintahan Islam ini," kata beliau.
Hal itu pula, menurut beliau, yang membuat semua Presiden AS memusuhi Iran sejak kemenangan revolusi Islam dan melakukan berbagai konspirasi terhadap Iran, seperti kudeta, menyulut sentimen etnis, mendorong Saddam untuk menyerang Iran, membantu Saddam sepenuhnya, serta penerapan berbagai sanksi dan intimidasi.
Rahbar juga menyebut Presiden AS saat ini sebagai pihak yang ikut berperan dalam menyulut rangkaian kerusuhan dan fitnah pasca pemilu 2009 di Iran. Saat ini yang dijadikan oleh AS sebagai alat untuk menundukkan bangsa Iran adalah embargo. "Masalah mereka sebenarnya adalah karena mereka tidak mengenal bangsa ini juga iman dan kekompakannya, selain itu mereka juga tak pernah mau belajar dari kesalahan yang lalu," imbuh beliau.
Mengenai perundingan nuklir antara Republik Islam Iran dan enam negara (5+1), beliau menyatakan dukungannya kepada pemerintah dan para pejabat negara, dan ini merupakan satu kewajiban. Meski demikian beliau mengingatkan bahwa hak-hak bangsa Iran termasuk hak mengembangkan dan memanfaatkan teknologi nuklir untuk tujuan damai bukan masalah yang bisa ditawar. "Dalam membela hak bangsa, jangan sampai mundur meski hanya satu langkah," tegas beliau.
Pemimpin Besar Revolusi Islam menjelaskan sikapnya yang tidak mencampuri rincian proses perundingan yang ada. Tapi, ada beberapa garis merah yang harus dijaga. Beliau juga berpesan kepada tim perunding untuk tidak takut menghadapi tekanan dan intimidasi apapun.
Mengenai sanksi dan embargo yang dijatuhkan AS dan kubu arogansi terhadap Iran, beliau menegaskan, "Mereka keliru. Bangsa Iran tak akan pernah tunduk kepada siapapun hanya karena tekanan dan intimidasi."
Beliau menambahkan, "Dengan inayah dan taufik Ilahi, bangsa Iran akan berhasil menanggung semua tekanan ini dan akan mengubahnya menjadi peluang."
Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebut sanksi AS terhadap Iran sebagai langkah yang sia-sia. Para petinggi AS juga menyadari bahwa sanksi ini tidak menghasilkan apapun. Karena itu, seiring dengan sanksi mereka juga sering mengumbar ancaman serangan militer, yang membuktikan bahwa sanksi tidak berguna sama sekali.
Beliau menambahkan, "Sebaiknya Presiden dan para petinggi AS memikirkan ekonomi mereka yang ambruk dan utang-utangnya supaya pemerintahan tidak terhenti selama dua pekan, bukan malah mengumbar ancaman militer terhadap bangsa Iran."
Rahbar menyebut bangsa Iran sebagai bangsa yang cinta damai dan menghargai bangsa-bangsa lain. Meski demikian, jika ada yang mencari gara-gara, bangsa ini siap melakukan tindakan yang tak terlupakan yang membuatnya menyesal.
Di akhir pembicaraannya, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa masa depan yang cerah menanti bangsa dan negara ini. Untuk itu beliau berpesan kepada para pemuda yang kelak akan memikul tugas yang berat ini supaya menempa diri dengan ketaatan beragama, ketaqwaan, kesusilaan, dan kebersihan jiwa yang diiringi dengan keilmuan, semangat, amanah, dan pengabdian kepada masyarakat.




























