کمالوندی
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Anam Ayat 46-49
Ayat ke 46
Artinya:
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?" Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (6: 46)
Sebelumnya, telah disinggung pernyataan al-Quran mengenai orang-orang Musyrik. Allah mengajak mereka untuk berpikir, supaya fitrah mereka bangkit, sadar sehingga tabir kekhilafan dapat tersingkap dari jiwa dan raga mereka.
Ayat ini juga menjelaskan kelanjutan cara tersebut yang memerintahkan Nabi Saw, untuk mengajak mereka mengamati dan memikirkan berbagai nikmat Allah Swt. Ayat ini kemudian bertanya kepada mereka, apabila mata dan telinga kalian diambil oleh Allah Swt, sehingga kalian tidak lagi mampu bagi menyaksikan dan mengetahui keadaan dunia, dapatkah patung-patung dan sesembahan kalian mengembalikan alat indra yang penting ini kepada kalian? Apakah patung-patung ini memiliki mata, telinga dan akal sehingga bisa memberikan nikmat-nikmat itu kepada kalian ?
Dalam lanjutan ayat ini disebutkan, al-Quran telah menjelaskan argumentasinya dengan berbagai cara, sehingga memungkinkan orang-orang ini sadar dan menerima kebenaran, tetapi sayangnya fanatisme dan sikap keras kepala sedemikian rupa telah menguasai diri mereka, dan mereka pun tetap tidak mau menerima kebenaran tersebut.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Tafakur dan merenungkan berbagai nikmat Allah, dan membayangkan hilangnya nikmat-nikmat tersebut, merupakan salah satu jalan untuk mengenal Allah Swt.
2. Penganugerahan segala kenikmatan dan kelestariannya bergantung kepada Allah Swt.
Ayat ke 47
Artinya:
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong, atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang yang zalim?" (6: 47)
Setelah ayat sebelumnya yang mengatakan bahwa apabila Allah mengambil nikmat-nikmat-Nya, kalian tidak akan mampu berbuat sesuatu, pada ayat ini Allah berbicara mengenai azab. Ayat ini mengatakan, apabila Allah mengirimkan azab, mereka tidak akan mampu menghadapi atau mencegah turunnya azab tersebut, atau menyelamatkan diri darinya. Maka kalian harus menerima bahwa patung-patung atau kekuatan apapun yang kalian yakini itu tidak mampu memberikan kenikmatan kepada kalian, juga tidak mampu mencegah bahaya dan malapetaka. Lalu kenapa kalian menggantikan kedudukan Allah dengan semua yang tidak ada artinya itu? Kelanjutan ayat ini menyebut perlakukan mereka terhadap kebenaran, sebagai sebuah kezaliman terhadap diri sendiri dan masyarakat, bahkan menjadi pembuka peluang dan peringatan bagi turunnya azab di dunia.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Janganlah kita tertipu oleh pengunduran waktu bagi turunnya azab, sebab mungkin azab Allah akan turun dengan tiba-tiba.
2. Dalam menghadapi orang-orang yang keras kepala, cara yang terbaik untuk menyeru mereka yaitu mengungkapkan kebenaran dalam bentuk pertanyaan yang memaksa mereka berpikir, mungkin mereka akan sadar, insaf dan menerima.
Ayat ke 48-49
Artinya:
Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (6: 48)
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (6: 49)
Pada ayat-ayat sebelumnya, Nabi Saw diperintahkan untuk menyampaikan ancaman dan menakut-nakuti orang Musyrikin atas akibat perbuatan mereka agar mereka sadar. Kali ini Allah Swt berfirman, "Pada dasarnya tujuan diutusnya para nabi sepanjang sejarah adalah untuk memberi berita gembira dan ancaman kepada umat manusia. Hal itu dapat mencegah terjadinya berbagai penyelewengan pemikiran dan penyimpangan perilaku, sekaligus menyeru umat manusia agar melaksanakan perbuatan yang baik dengan memberikan berita gembira kepada akan memperoleh balasan dan pahala dari Allah Swt.
Di antara berita gembira yang dibawa oleh para nabi as yaitu Allah akan menjauhkan mereka yang beriman dan beramal saleh dari ketakutan dan kesedihan. Mereka bahkan akan diberi kekukuhan jiwa dalam menghadapi bujuk rayu dunia yang fana, dan tetap tegar menghadapi berbagai kekuatan penjajah dan arogan. Sementara mereka yang mengingkari kebenaran dan membohongkannya selalu melakukan kefasikan dan dosa yang hasilnya adalah azab Allah baik di dunia maupun kelak di Hari Kiamat.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Tugas para nabi as ialah membimbing dan mengajak umat manusia dengan bijaksana, dan bukan dengan paksaan dan kekerasan untuk menerima ajakan dan seruan kebenaran. Karena itu ada kelompok yang menerima dan menjadi mukmin dan ada pula kelompok yang kafir karena menolaknya.
2. Pendidikan dan pengajaran hendaknya berdasarkan pada dua hal, ancaman dan pengharapan, sehingga umat tidak berputus asa atau congkak.
3. Iman tanpa amal saleh tidaklah cukup, bahkan amal tanpa iman juga tidak berarti sama sekali.
4. Kebersihan jiwa akan menjadi penyempurna iman kepada Allah Swt. Adapun ketakutan, kecemasan dan kesedihan yang merupakan penyakit kejiwaan paling besar bahkan di zaman ini adalah hasil dari jauhnya manusia dari Tuhan dan keimanan.
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Anam Ayat 40-45
Ayat ke 40-41
Artinya:
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!" (6: 40)
(Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah). (6: 41)
Sebelumnya telah disinggung akar utama kekufuran dan pengingkaran terhadap kebenaran adalah keras kepala, sedang orang-orang Kafir tidak mempunyai dalil untuk membantah kebenaran Allah dan juga menerima logika orang-orang Mukmin.
Ayat ini untuk menyadarkan orang-orang Musyrik itu dengan mengatakan seperti ini, kalian telah menetapkan sesuatu yang lain sebagai Tuhan, dan menyatakan mereka maha kuasa dan memiliki kedudukan yang lebih baik. Karena itu sewaktu timbul tragedi dan bencana alam seperti gempa bumi, maka kepada siapa seseorang akan berlindung? Apakah dalam peristiwa ini seseorang juga dapat berlindung kepada orang-orang atau sesuatu yang menjadi harapan hatinya? Dalam hal ini juga, apakah mereka mampu dalam kondisi semacam ini membantu kalian, dan dapat menyalamatkan kalian dari kematian dan bahaya? Apakah hal ini juga terpikir oleh kalian? Bila kiamat itu benar, lalu sewaktu kiamat itu terjadi, kepada siapa kalian akan berlindung?
Ayat ini juga berbicara tentang naluri dan kejiwaan manusia sambil mengatakan, yang benar adalah kalian dalam kondisi semacam ini hanya menginginkan Tuhan! Sedang yang lainnya, siapa dan apapun akan kalian lupakan, karena hanya Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menghilangkan segala kesulitan kalian. Intinya, apabila Tuhan menginginkan, maka dengan kebijaksanaan-Nya Dia akan melaksanakan.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Perwujudan Tuhan serta Kemaha Esaan-Nya adalah suatu perkara fithrah. Setiap orang akan tertarik kepada Allah Swt, tetapi kesibukan terhadap urusan duniawi merupakan suatu unsur dominan yang melupakan manusia terhadap fitrah ini, sedang berbagai peristiwa dan kesulitan-kesulitan dapat menyingkap tabir kelupaan, serta timbulnya fitrah mencari Tuhan Swt.
2. Janganlah kita menutup mata dari sesuatu. Karena sewaktu dihadapkan oleh berbagai kesulitan, kalian tidak bisa berbuat apa-apa, sehinga kalian juga seperti orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan perlindungan.
Ayat ke 42
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (6: 42)
Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya. Ayat ini mengatakan, sudah menjadi Sunnatullah, Allah Swt mengutus para nabi untuk membina, membimbing dan memberi petunjuk kepada masyarakat. Pengutusan para nabi dapat mengatasi berbagai kesulitan dan problematika, kemudian menciptakan suatu kehidupan masyarakat yang baik, agar fitrah mereka bangun dan tersadarkan. Semua itu diupayakan sedemikian rupa sehingga tercipta lahan yang kondusif untuk menerima pernyataan-pernyataan Nabi Saw. Berbagai noda dan debu-debu yang menutupi pemikiran dan hati mereka dapat sirna yang pada gilirannya hati mereka menjadi bersih, sehingga cahaya kebenaran dapat tercermin dengan perwujudan mereka, dan mereka pun menjadi cerah.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dalam mendidik, terkadang harus melalui pelbagai tekanan dan kesulitan dan jalan untuk menyadarkan fitrah adalah kembali kepada Allah Swt.
2. Teriakan aduh, di sisi Allah dapat membuat hati menjadi tenang, dan berpeluang untuk siap menerima kebenaran.
Ayat ke 43
Artinya:
Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. (6: 43)
Ayat ini mengatakan, orang-orang Kafir dan para penentang itu tidak mampu bangkit dan mengambil pelajaran, sedang alasan kekhilafan mereka adalah dua hal; pertama keras kepala dan kekotoran hati yang menjadi penyabab terjerumusnya mereka kedalam perbuatan dosa. Kedua memandang enak perbuatan jahat dan dosa. Yakni, setiap perbuatan jahat yang mereka laksanakan mereka pandangan sebagai indah dan enak, bahkan setiap perbuatan penentangan mereka anggap benar dan perlu diteruskan.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Bagi orang-orang yang keras kepala, tablig atau peringatan tidak ada pengaruhnya sama sekali.
2. Manusia secara fitrah menyukai keindahan, namun di sanalah setan membisikkan penyelewengan itu pada fitrahnya, sehingga segala perbuatan jelek dipandangnya sebagai indah dan menyenangkan.
Ayat ke 44-45
Artinya:
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (6: 44)
Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (6: 45)
Dalam rangka memberikan petunjuk kepada masyarakat, Allah Swt menggunakan berbagai jalan antara lain dengan mengutus para nabi untuk menyampaikan tablig ditengah-tengah masyarakat. Bila cara ini tidak memberikan pengaruh, maka Dia memberi peringatan kepada orang-orang yang ingkar dan penentang itu dengan berbagai bentuk dan cara. Yaitu dengan penekanan dan kesulitan, sehingga mereka akan sadar dari tidur dan kelalaiannya. Tetapi bila tabligh dan peringatan seperti ini masih juga belum menyadarkan mereka, maka Allah Swt akan membiarkan mereka dalam kondisinya dengan menikmati berbagai kenikmatan dan kesenangan. Karena undang-undang Allah membiarkan manusia semacam ini memanfaatkan nikmat-nikmat dunia dalam suatu batas. Dan pemanfaatan semacam ini tidak akan lama, karena dosa dan kejahatan mereka telah sampai pada puncaknya, azab dan balasan duniawi akan turun sekaligus, dan mereka pun akan terbasmi habis.
Nabi besar Muhammad Saw mengatakan, setiap kali kita saksikan bahwa dunia tidak memberikan harapan dan langkah apapun bagi orang-orang yang melakukan dosa, maka ia hanya akan menjadi tempat kehancuran merka. Imam Ali bin Abi Thalib as juga mengatakan, sekalipun Allah Swt telah memberikan nikmat-nikmat yang banyak kepada kalian, tetapi kalian tetap berbuat dosa. Karena itu sadarilah dan takutlah kepada Allah, karena ternyata nikmat-nikmat ini tidak berakibat kebaikan.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Memanfaatkan dunia bisa menjadi nikmat atau azab. Bila diiringi iman dan takwa, maka ia menjadi nikmat, tapi bila disertai maksiat, maka ia akan menjadi azab.
2. Kejahatan dan kejelekan tidak langgeng, sedang kehancuran orang-orang yang berbuat jahat dan jelek bersifat pasti.
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Quran Ayat 37-39
Ayat ke 37
Artinya:
Dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui". (6: 37)
Dalam berbagai riwayat sejarah disebutkan, para pembesar Quraisy yang musyrik sewaktu tidak mampu melakukan perlawanan terhadap al-Quran, mengatakan, Quran tidak mampu menjadi kitab mukjizat, kalau memang betul apa yang dikatakan, maka ia harus menunjukkan berbagai mukjizatnya sebagaimana mukjizat-mukjizat Nabi Musa dan Isa as sehingga kita bisa menerima kebenarannya!?
Sudah jelas sekali pernyataan mereka ini bukan mencari hakikat! tetapi untuk melarikan diri dari menerima al-Quran dan kenabian Nabi Muhammad Saw dengan mengetengahkan alasan-alasan semacam ini. Dan apabila Nabi Saw membawakan mukjizat yang serupa dengan mukjizat-mukjizat para Nabi as terdahulu, maka pastilah mereka juga akan meminta mukjizat yang lainnya. Karena mereka memang tidak mencari hakikat, dan mereka ini sebagaimana orang-orang pada zaman nabi-nabi terdahulu akan mengatakan bahwa mukjizat merupakan sihir dan alat menipu, dan pada gilirannya Rasulullah akan disebut sebagai tukang sihir dan pembohong.
Pada suatu hari seseorang sedang tidur, beberapa kali saja kita memanggilnya, dia sudah terbangun. Tetapi berbeda dengan seseorang yang sedang berpura-pura tidur, berapa kalipun kita panggil dan bangunkan, tetapi dia masih saja tidak bangun, karena memang dia tidak mau bangun. Begitu juga manusia-manusia dalam menghadapi panggilan kebenaran terbagi dalam dua kelompok; yaitu sebagian orang yang dengan mendengar panggilan kebenaran langsung terbangun dari tidur dan kelalainnya terus segara menyambutnya. Sedang yang lainnya berpura-pura tidak mendengar dan terus enak-enakan saja, mereka tidak mau menerima kebenaran, betapapun kebenaran tersebut dikemas dalam bentuknya yang indah dan kita paparkan kepada mereka, mereka tetap tidak jalan.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Tujuan mukjizat ialah menetapkan kenabian seseorang, dan sekaligus menjadi penyempurna hujjah kepada masyarakat. Mukjizat bukan untuk memenuhi berbagai keinginan tak terbatas mereka yang keras kepala dan main-main saja.
2. Allah Swt mampu melaksanakan setiap pekerjaan, sedang kemampuan dan Maha Kuasa dalam rangka melaksanakan kebijaksanaan-Nya, dan mampu juga menunjukkan setiap mukjizat apapun yang diinginkan oleh masyarakat. Tetapi hal ini tidak transparan dengan kebijaksanaan-Nya, karena dalam sejarah juga telah ditunjukkan, betapa mukjizat demi mukjizat itu tidak menyebabkan orang-orang yang keras kepala itu mendapat petunjuk.
Ayat ke 38
Artinya:
Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (6: 38)
Ayat ini memberikan peringatan kepada umat manusia, betapa berbagai mukjizat tidak membangkitkan pengertian dan kesadaran manusia, bahkan semua jenis hewan-hewan baik yang melata di muka bumi maupun yang terbang bagai burung-burung di langit sama seperti manusia yang merupakan makhluk yang memiliki kemampuan mengerti dan merasa. Sebagaimana dalam kisah Nabi Sulaiman as dalam al-Quran yang telah disinggung berbicara dengan hewan semut dan burung hud-hud. Alhasil jelas sekali bahwa perasaan dan intelegensia itu memiliki tahap dan tingkat, sedang manusia memiliki tingkat perasaan dan intelegensia yang paling baik dibandingkan dengan berbagai hewan, yang kesemuanya masih di bawah manusia. Meski pada diri manusia juga disebutkan ada yang memiliki intelegensia dan perasan yang rendah seperti seorang anak yang baru dilahirkan, yang oleh kebanyakan masyarakat dianggap sebagai belum berakal dan berpengetahuan.
Setelah menjelaskan masalah perasaan dan intelegensia bagi makhluk yang ada, ayat ini menyinggung berkumpulnya mereka di padang Mahsyar dan mengatakan, mereka akan dikumpulkan di padang Mahsyar pada Hari Kiamat, sebagaimana dalam ayat 5 surat at-Takwir yang artinya, Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.
Dalam riwayat-riwayat Islam juga telah disinggung tentang Hari Kiamat bagi binatang-binatang, juga dijelaskan balasan akhirat dan contoh-contoh kezaliman mereka terhadap yang lainnya. Alhasil standard perasaan dan intelegensia binatang-binatang tidak dibatasi dalam sebuah batasan, dimana mereka juga memiliki kewajiban sebagaimana manusia-manusia. Karena kewajiban tertentu telah dibebankan kepada mereka. Bahkan maksud dari ayat di atas ialah berhubungan dengan penetapan dan pengambilan standard perasaan dan intelegensia tersebut. Kendatipun apabila seorang remaja berusia 12 tahun ia telah mengerti bahwa membunuh itu jahat dan jelek, tetapi dia dengan sengaja melakukan pembunuhan, maka menurut undang-undang internasional ia tetap dijatuhi hukuman, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatanannya menurut batas kemampuan dan kepahamannya.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Undang-undang kehidupan sosial tidak dikhususkan bagi manusia saja, tetapi binatang-binatang juga bermasyarakat.
2. Mengenai hak bagi binatang-binatang, kita tidak boleh melakukan kezaliman atau menganiaya mereka. Karena mereka juga seperti kita mempunyai hak untuk hidup dan memiliki sejenis pengetahuan dan perasaan.
3. Allah telah menciptakan alam semesta, dan mensenyawakan gerakan seluruh makhluk-Nya menuju kepada Allah Swt, karena gerakan ini merupakan sejenis fithrah rububiyat.
Ayat ke 39
Artinya:
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus. (6: 39)
Ayat ini menyebutkan akar kebohongan terhadap ayat-ayat Allah yaitu keras kepala yang menguasai hati orang-orang yang menentang dan ingkar tersebut. Orang yang keras kepala itu tidak mengijinkan mereka mendengarkan kebenaran, sehingga mereka akan mengakui hakikat itu. Egoisme dan merasa bangga diri akan menghantarkan mereka tenggelam dalam kegelapan yang pada gilirannya mereka dijauhkan dari melihat hakikat.
Lanjutan ayat tersebut menjelaskan betapa petunjuk dan kesesatan disandarkan kepada Allah Swt. Tetapi hal ini jelas bahwa Allah Swt telah menetapkan sebab-sebab hidayah yakni petunjuk yaitu berupa akal dan kenabian Nabi Muhammad yang dianugerahkan kepada semua umat manusia. Namun apabila seseorang meremehkan dan tidak menerima hidayah mendasar ini, maka peluang untuk mendapatkan hidayah-hidayah berikutnya tertutup. Atau dengan ungkapan lain terjerumus dalam perbuatan-perbuatan jahat dan jelek, serta terus menerus melaksanakan pekerjaan itu akan menyebabkan peluang untuk menerima kebenaran menjadi hilang, sekalipun melaksanakan perbuatan-perbuatan baik itu menjadi unsur dominan menerima dan mengakui kebenaran tersebut.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Balasan keras kepala adalah terjerumus kedalam kegelapan, yang menyebabkan manusia dijauhkan dari mengetahui kebenaran dan hakikat.
2. Balasan terhadap orang yang membohongkan ayat-ayat Allah Swt di dunia ialah tersesat dan kebingungan dalam kehidupan dunia ini.(
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Anam Ayat 33-36
Ayat ke 33-34
Artinya:
Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. (6: 33)
Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu. (6: 34)
Nabi Muhammad Saw senantiasa menyeru kaum Musyrikin menuju ke arah yang benar melalui dialog rasional, tetapi mereka tidak saja menolak, bahkan dengan cara keras kepala melakukan penghinaan dan tuduhan yang tidak senonoh kepada Nabi Saw. Namun Nabi Muhammad sangat sedih dan menyayangkan sikap mereka, karena itu Allah Swt beberapa kali dalam Al-Quran mengingatkan kepada Nabi-Nya agar tetap bersabar, dan mengatakan, dikarenakan mereka membohongkanmu, dan tertimpa putus asa lalu mereka juga membohongkan Allah dan ayat-ayat-Nya.
Selain itu engkau bukanlah nabi pertama yang telah dibohongkan dan diingkari, bahkan disepanjang sejarah ditemukan para nabi itu disiksa dan dibohongkan oleh para penentangnya, dan cara inilah yang ditempuh oleh para penentang itu. Tetapi Sunnatullah dalam menghadapi perlakuan dan sikap mereka tersebut, yaitu menolong dan memenangkan kebenaran, dengan syarat mereka yang berada pada jalan hak tersebut senantiasa komitmen pada Iman dan amal perbuatan mereka.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Mengingkari kebenaran dan membohongkan ayat-ayat Allah tidak merugikan keduanya, namun sesungguhnya ia telah menganiaya diri sendiri. Bahkan mereka akan dijauhkan dari berkah dan pengaruh-pengaruh positif kebenaran dan ayat-ayat tersebut.
2. Jalan yang benar terbuka lebar tidak ada hambatan, tetapi merealisasikan cita-cita para nabi senantiasa dengan menanggung berbagai kesulitan.
3. Para pemimpin Ilahi tidak boleh menunggu pernyataan mereka diterima dan ditaati oleh seluruh masyarakat.
Ayat ke 35
Artinya:
Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil (6: 35)
Ayat-ayat sebelumnya yang berbicara mengenai cara yang tidak benar yang dilakukan oleh para penentang dalam menghadapi pernyataan para nabi yang logis dan argumentatif. Ayat ini berbicara kepada Nabi Muhammad Saw, dengan mengatakan, janganlah kamu menyangka bahwa apabila mereka tidak mau beriman, itu menunjukkan berbagai ajaran yang kamu bawa itu kurang atau salah, bahkan cara kamu menyeru mereka tidak benar. Karena kekurangan itu ada pada diri mereka sendiri yang tidak mau dan sanggup menerima kebenaran, dan kamu tidak dibenarkan memaksa mereka dalam menerima kebenaran.
Allah Swt tidak menginginkan hal semacam ini, namun apabila Dia berkehendak demikian, maka pastilah semua umat manusia terpaksa tunduk dihadapan kebenaran. Tetapi Allah Swt memberi ikhtiyar kepada umat manusia, sehingga mereka sendirilah yang dengan kehendaknya memilih jalannya sendiri. Lanjutan ayat ini menyebutkan, segala bentuk ketidakmampuan dalam menanggung pembohongan para penentang, sebagai tanda tidak mengertinya atau kejahilan terhadap Sunnatullah ini, lalu ayat tersebut berbicara kepada Nabi Saw dengan mengatakan, jangan berharap semacam itu kepada orang-orang jahil.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Allah Swt mengutus utusan yang menjadi penyebab masyarakat mendapatkan petunjuk, dan Dia memang menginginkan semua masyarakat mendapat petunjuk. Namun hikmah Allah berjalan pada relnya dan manusia tetap merdeka, dan dengan ikhtiyarnya menerima petunjuk.
2. Menuruti hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang tidak pada tempatnya adalah suatu alasan yang dicari-cari, dan merupakan pekerjaan orang-orang jahiliah. Karena itu dengan alasan apapun mereka tidak siap menerima kebenaran.
Ayat ke 36
Artinya:
Hanya mereka yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan. (6: 36)
Al-Quran dalam berbagai ayat menyebut orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran sebagai orang yang tuli, dan mereka yang tidak terpengaruh pada seruan kebenaran bagaikan orang yang sudah mati. Karena itu, meskipun orang-orang itu memiliki telinga, tetapi tidak siap mendengar kebenaran, maka orang-orang tersebut seperti tidak memiliki telinga dan bisu. Meskipun orang-orang itu memiliki akal dan hati, tetapi sayangnya mereka tidak terpengaruh pada seruan kebenaran, karena itulah mereka bagaikan orang mati yang sudah tidak lagi memiliki kemampuan merasakan dan mengerti.
Alhasil sewaktu Hari Kiamat Allah Swt membangkitkan orang-orang mati semacam ini, dan dengan memperhatikan kenyataan dan fenomena-fenomena Hari Kiamat hal ini dapat membangkitkan mereka dari tidur dan kekhilafannya, sehingga mereka beriman, tetapi apalah artinya beriman kepada Allah pada Hari Kiamat, ia tidak ada artinya sama sekali.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Orang-orang Kafir yang keras kepala, bagaikan orang-orang mati yang hidup, yang justru kematianlah merupakan sebuah jalan untuk membangkitkan dan menyadarkan mereka.
2. Nilai kemanusiaan terletak pada kehidupan maknawi dan ruhi, tetapi kehidupan maknawi juga bermakna kehidupan seperti hewan yang juga makan dan tidur.
3. Kami bertanggung jawab dalam memberikan suguhan terhadap hati. Sedang perhitungan orang-orang Kafir yang tidak mau menerima kebenaran ada ditangan Allah, sedang kita dalam agama tidak berhak untuk memaksa mereka.
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Anam Ayat 29-32
Ayat 29-30
Artinya:
Dan tentu mereka akan mengatakan (pula) : hidup hanyalah kehidupan kita didunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan. (6: 29)
Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Allah berfirman : Bukankah (kebangkitan) ini benar ?! Mereka menjawab : Sungguh benar, demi Tuhan kami ! Allah berfirman : karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu mengingkarinya. (6: 30)
Setelah ayat-ayat sebelumnya, dimana al-Quran telah menjelaskan akidah kaum Musyrikin mengenai Allah, Kitab Samawi dan para nabi as, ayat ini juga menyinggung akidah mereka yang batil mengenai penafian Hari Kiamat, dan mengatakan, mereka beranggapan bahwa kehidupan mereka di dunia ini terbatas, dan akan berakhir dengan kematian, meski mereka tanpa menunjukkan sebuah dalil mengenai penafian Hari Kiamat dengan mengatakan, selain kehidupan ini, tidak ada lagi kehidupan berikutnya.
Ayat berikutnya masih melanjutkan pembicaraan kepada Nabi Muhammad Saw, orang-orang semacam ini pada Hari Kiamat sewaktu dihadapkan di depan pengadilan Ilahi, mereka berdiam diri namun kondisinya seperti orang kebingungan dan linglung. Mereka bersumpah bahwa Hari Kiamat adalah benar, tetapi apa gunanya pengakuan ini bagi mereka yang takut dan bingung. Itupun telah dijelaskan bahwa pada Hari Kiamat hal-hal seperti tersebut itu tidak ada artinya. Dengan alasan inilah ia tidak bisa mencegah azab Allah.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kaum Musyrik dan Kafir selalu menolak pernyataan para ilmuwan yang jujur dan mengira bahwa dengan mengingkari urusan maknawi dan Hari Kiamat, perkara ini menjadi musnah dan hilang.
2. Pada Hari Kiamat hakim tertingginya adalah Allah Swt sendiri.
Ayat ke 31
Artinya:
Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan, sehingga apabila Hari Kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata : Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Hari Kiamat itu, sambil mereka memikul dosa-dosa diatas punggungnya. Ingatlah amatlah buruk apa yang mereka pikul itu. (6: 31)
Pada Hari Kiamat semua orang akan terputus dengan sanak keluarga, harta dan kedudukan mereka. Manusia akan memahami dengan menyaksikan berbagai peristiwa di Hari Kiamat, pahala dan siksa Allah yang merupakan penguasa mutlak, sedemikian rupa penyaksian ini sehingga manusia itu dibawa kepada penyaksian batin, dan seakan telah bertemu dengan Allah Swt. Ayat ini mengatakan, membohongkan Hari Kiamat tidak ada bahayanya bagi Allah, tetapi justru membahayakan bagi sipembohong itu sendiri. Karena itu, pertama, janganlah berpikir untuk menyiapkan bekal yang tidak bermanfaat pada Hari Kiamat. Kedua, dengan melakukan pelanggaran dan dosa, berarti telah menyiapkan beban berat yang harus dipikulkan di atas pundaknya sendiri.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Barangsiapa yang memahami bahwa kematian merupakan akhir dari kehidupan ini, maka sesungguhnya dia telah melakukan transaksi dengan dunia yang fana ini, dan ini merupakan kerugian terbesar.
2. Hari Kiamat adalah hari pembalasan dan kerugian. Karena itu apalah untungnya menderita kerugian pada hari itu yang tidak ada hasilnya.
Ayat ke 32
Artinya:
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya kampung Akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, maka tidakkah kamu memahaminya ?! (6: 32)
Dalam beberapa ayat sebelumnya telah dijelaskan bahwa orang-orang yang mencintai dunia menyebutkan kehidupan ini sebagai terbatas pada kehidupan dunia saja. Mereka mengingkari kehidupan akhirat. Ayat ini merupakan jawaban terhadap pemikiran batil ini, dan mengatakan, mereka hanya hidup dengan tujuan duniawi saja, hingga di kalangan orang-orang tua dan anak-anak telah tersusun permainan harta, kedudukan dan tempat tinggal, yang layaknya bagai sebuah serial yaitu seseorang mengenakan baju seorang raja, sedang yang lainnya memerankan peranan budak. Tetapi saat-saat berikutnya semua pakaian tersebut ditanggalkan dan disisikan. Semua memahami hal-hal yang bersifat hayalan itu telah lenyap. Dunia tanpa akhirat tidak lebih dari sekedar permainan.
Perlu diperhatikan bahwa ayat ini dan ayat-ayat yang mirip dengannya dalam al-Quran al-Karim yang mencela kedudukan ini, namun tidak menafikan dunia secara mutlak. Karena dunia tanpa akhirat menjadi tidak bernilai, bahkan terkadang disebut sebagai permainan. Tapi di sisi lain, dunia sebagai pengantar untuk akhirat. Dunia bagaikan tanah persawahan dan bila manusia merawat dengan baik dan benar tanah persawahan itu maka ia akan menghasilkan tanaman padi yang baik dan bermanfaat. Bila dunia adalah tanah persawahan, maka akhirat adalah tempat manusia menikmati hasil dari usahanya itu.
Sayangnya dalam menghadapi pemikiran ini ada yang mengambil sikap ekstrim dan menyimpang ini. Mereka berpikiran bahwa hidup itu hanya untuk di akhirat dan akhirnya mereka melupakan urusan dunia dan memisahkan diri dengan dunia dan masyarakat. Orang-orang seperti ini lalu mengharamkan segala sesuatu yang disyariatkan oleh Allah Swt dan lupa bahwa Allah Swt telah menciptakan segalanya di dunia ini untuk dinikmati oleh manusia demi mencapai kesempurnaan spiritualnya dan bersyukur dengan memanfaatkannya.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Hendaklah kita waspada agar tidak lupa urusan akhirat saat bersenang-senang dengan dunia.
2. Dalam menghadapi orang-orang yang mencintai dunia dan mengikuti hawa nafsu, agama dan orang-orang Mukmin mengajak orang lain untuk berpikir agar tidak lengah akan tipuan dunia.
3. Bersikap rasional dan takwa merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Akal senantiasa menyeru manusia untuk berbuat yang bersih dan dan terpuji. Sedang takwa juga dapat mencegah pemikiran manusia dari segala bentuk penyelewengan dan penyimpangan.
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Anam Ayat 25-28
Ayat ke 25
Artinya:
Dan diantara mereka ada orang yang mendengarkan bacaan-mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan diatas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya, dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya, sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantuhmu, orang-orang kafir itu berkata : Al-Qur'an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu. (6: 25)
Ayat ini menyinggung keras kepala sebagian Musyrikin. Mereka yang senantiasa berpegang teguh dan keras kepala dengan pemikiran kolot, serta keyakinan batil senantiasa menolak dengan keras kepala dalam menghadapi keyakinan dan akidah yang benar. Mereka tidak saja menunjukkan berbagai alasan seperti tidak pernah mendengar atau tidak mau menerima, dan menganggap bermusuhan dengan hal tersebut. Bahkan mereka menyebut ayat-ayat al-Quran sebagai poin-poin mitos dan khurafat. Sekalipun dalam ayat ini telah disinggung ketidakpahaman dan tidak mau menerima kebenaran sebagai ciri khas perbuatan mereka. Dengan ungkapan lain mereka menyembah hawa nafsu. Karena fenomena ini tercermin pada akal dan perasaan mereka. Hal ini seakan menunjukkan Allah Swt menciptakan mereka tanpa memberi kekuatan untuk memahami, merasa dan mendengarkan.
Padahal Allah Swt menciptakan otak sebagai alat berfikir bagi manusia itu jernih, bening seperti kaca sehingga dapat memahami hakikat sedemikian gamblangnya. Namun perbuatan dosa dan kejahatan dapat menyebabkan otak tersebut tercemari, sehingga pandangan jelek manusia ini dikarenakan cermin yang jernih tersebut tertutupi oleh debu-debu tebal. Kini otaknya bagaikan kaca cermin bergelombang yang segala sesuatunya ditunjukkan melenceng dan miring. Sudah barang tentu dalam kondisi seperti ini, keadaan manusia tidak mampu menerima kebenaran, bahkan timbul emosinya untuk melakukan debat kusir.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Membaca dan mendengarkan ayat-ayat al-Quran memiliki kemuliaan, sekaligus memberi kesan positif dalam hati manusia.
2. Orang-orang Kafir tidak memiliki jawaban yang rasionil dalam menghadapi logika al-Quran dan Islam. Karena itu yang bisa mereka lakukan hanyalah tuduhan, ejekan dan debat kusir.
Ayat ke 26
Artinya:
Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Qur'an, mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari. (6: 26)
Orang-orang Musyrik melarang masyarakat mendengarkan ayat-ayat al-Quran dan nasihat Nabi Saw dan mereka sendiripun menjauhkan diri dari itu. Tetapi ketahuilah bahwa sikap itu dapat berakibat hancurnya diri mereka sendiri, namun mereka tidak mengerti. Ayat ini merupakan lanjutan dari keterangan ayat sebelumnya yang menjelaskan mengenai keras kepala kaum Musyrikin, dan mengatakan, mereka tidak saja menjauhkan diri dari Nabi, nasihat beliaupun tidak pernah mereka dengarkan, sehingga ayat-ayat al-Quran tidak pernah sampai ke telinga mereka. Bahkan mereka mencegah masyarakat untuk melakukan itu, sehingga orang lain pun tidak mendengar dan menerima ajaran-ajaran Islam.
Padahal kecemerlangan kebenaran senantiasa tidak tertutupi oleh awan. Oleh sebab itu pada suatu hari ia pasti muncul dan mengalahkan kebatilan. Atas dasar itulah upaya orang-orang yang tesesat untuk menyesatkan orang lain itu akan mengalami kegagalan disebabkan kehancuran akan merenggut mereka. Alhasil orang-orang yang tersesat itu tidak mampu mencapai hakikat, sehingga tidak bisa menerima kebenaran.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Waspadai mereka yang berbicara atas nama kebebasan berpendapat, agar jangan terperosok ke dalam kekufuran. Serta jangan memberi peluang kepada mereka untuk berbicara soal kebenaran agar orang-orang yang ingin mencari kebenaran mendapat petunjuk.
2. Para pemimpin kufur dan syirik tidak lebih hanya melempangkan jalan kehancuran orang lain, meski mereka tidak menyadari malapetaka dan kehancuran diri mereka sendiri.
Ayat ke 27
Artinya:
Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke Neraka, lalu mereka berkata : kiranya kami dikembalikan (ke Dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). (6: 27)
Pada ayat-ayat sebelumnya telah disinggung pergaulan dan sikap yang tidak benar sekelompok manusia dalam menghadapi seruan kebenaran Nabi Muhammad Saw. Ayat ini juga menyinggung nasib buruk mereka pada Hari Kiamat, dan mengatakan, janganlah mengira bahwa semua perbuatan mereka itu tidak ada balasannya, ketahuilah bahwa balasan dan siksa senantiasa menunggu mereka.
Siksaan dan balasan tersebut akan merenggut dan membangunkan tidur mereka. Tetapi apalah artinya jalan lain untuk kembali kedunia sudah tidak ada lagi, sehingga mereka tidak bisa menebus kesalahan-kesalahan masa lalu, betapapun lisan mereka memohon untuk bisa kembali ke dunia, tetapi harapan tinggallah harapan. Para pendosa itu akan mengulangi permohonan tersebut sewaktu sakaratul maut sudah berada dileher mereka. Bahkan sewaktu mereka masuk di liang kubur dan hadir pada Hari Mahsyar, tetapi harapan dan permohonan itu tidak akan pernah dikabulkan.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Selama kita masih hidup kesempatan masih terbuka, maka berpikirlah untuk menebus kesalahan masa lalu dan perbaikan untuk masa depan. Karena setelah mati tidak ada lagi kesempatan untuk kembali.
2. Hari Kiamat adalah hari pembalasan dan kerugian. Karena perbuatan-perbuatan yang belum dibalas harus mendapatkan balasannya, sedang pelanggaran yang telah mereka lakukan juga harus mendapatkan perhitungannya.
Ayat ke 28
Artinya:
Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka, kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke Dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. (6: 28)
Ayat ini menyinggung sebuah point penting dalam mengetahui sikap dan perilaku manusia, dan mengatakan, kadang-kadang manusia juga tertipu oleh dirinya sendiri. Ia menginginkan fitrah dirinya tertutupi, apalagi kalau ia telah melakukan perbuatan dosa, ia pasti memahami dan menyadari. Namun dikarenakan ia tidak menggunakan fitrahnya, maka sesuatu yang belum ia pahami itu pasti diusahakan agar dia memperoleh sejenis kepahaman ini.
Al-Quran dalam berbagai ayatnya mengatakan, perbuatan yang jelek dan dosa pada Hari Kiamat bagi para pendosa akan menjadi jelas dan gamblang, dan segala sesuatu yang telah mereka usahakan akan jelas dan nyata bagi mereka. Ayat ini mengatakan, dikarenakan mereka masih beranggapan bahwa harapan untuk kembali ke dunia itu ada, maka semua perbuatan jelek dan dosa bagi mereka telah nyata, tetapi kesadaran ini sementara dan cepat berlalu. Apabila mereka bisa kembali lagi ke dunia, pastilah mereka akan kembali melakukan perbuatan dosa dan jelek.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Pemberian kesempatan bagi beberapa orang adalah merupakan harapan agar mereka bisa melakukan perbaikan, sebagaimana kesempatan taubat yang diberikan kepada para pendosa di dunia. Tetapi dikarenakan jiwa mereka telah tercemari kotoran dan dosa, maka mereka tetap tidak bisa melihat kotoran dan dosa itu, dan tidak bisa melakukan perbaikan.
2. Sesuatu yang di dunia dapat menggerakkan nalurinya, sehingga kita dapat menyadarkan orang lain, maka pada Hari Kiamat perbuatan baik itu akan nyata dan jelas.
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Anam Ayat 20-24
Ayat ke 20
Artinya:
Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah). (6: 20)
Ayat ini memiliki keserupaan dengan ayat 146 surat al-Baqarah, dimana pada ayat ini telah disinggung poin penting tentang orang-orang Kristen dan Yahudi. Dalam ayat ini disebutkan bahwa orang Kristen dan Yahudi yang hidup di zaman Nabi Muhammad Saw, benar-benar mengenal Nabi dengan baik. Mereka mengenal beliau seperti seorang ayah mengenal anak-anaknya. Seorang ayah mengetahui secara detil ciri-ciri anaknya. Hal itu dikarenakan nama dan tanda-tanda Nabi Muhammad Saw telah disebutkan dalam kitab Taurat dan Injil. Bahkan para ulama Ahli Kitab juga telah memberikan kabar gembira kepada masyarakat atas munculnya nabi yang dijanjikan itu.
Di akhir ayat ini disebutkan, mereka yang tidak bersedia menerima kebenaran dan menolak beriman jangan menyangka bahwa Nabi Muhammad Saw atau ajaran beliau itu membawa bencana dan kerusakan. Tetapi justru ajaran beliau ini yang mengantisipasi terjadinya kerusakan dan yang menjadi kendala pertumbuhan dan penyempurnaan maknawi seseorang.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Mengerti dan memahami kebenaran semata-mata tidaklah cukup. Namun yang terpenting adalah menerima dan mengikuti kebenaran. Betapa banyak orang yang mengenal Nabi Muhammad Saw, tapi tidak menerima ajaran beliau, dikarenakan sikap keras kepala dan banyak alasan.
2. Menurut al-Quran, kehancuran, kebangkrutan dan kerugian tidak hanya berkaitan dengan masalah dunia. Karena kehancuran yang paling dahsyat adalah kerusakan jiwa seseorang yang membuatnya tidak mampu memahami kesempurnaan jiwa.
Ayat ke 21:
Artinya:
Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan. (6: 21)
Setelah ayat-ayat sebelumnya menjelaskan sikap orang Musyrik dan Kafir mengenai kebatilan mereka, ayat ini mengatakan sejelek-jelek kezaliman adalah kezaliman pemikiran dan akidah, dimana manusia dengan tanpa dalil dan alasan telah menyekutukan Allah dengan sesuatu, atau membohongkan ayat-ayat Allah yang diturunkan untuk memberi petunjuk kepada umat manusia. Merusak tatanan sosial dan tidak peduli akan hak masyarakat merupakan perbuatan tidak terpuji, tapi bila dilihat lebih jeli lagi, akar dari semua kejahatan itu adalah syirik dan kufur.
Sebaliknya, seseorang yang menyembah Allah dan mengerjakan ajaran Nabi Muhammad Saw, maka ia tidak akan melanggar hak-hak orang lain. Karena ia tahu bahwa menjaga hak-hak masyarakat merupakan pesan dan anjuran agama-agama samawi yang terpenting. Akhir ayat ini menyebutkan, orang-orang jahat dan zalim jangan berpikiran bahwa perbuatan mereka yang batil itu akan membawanya kepada kebahagiaan. Karena ketahuilah bahwa kezaliman senantiasa tidak akan membawa kebaikan.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Syirik dan kufur merupakan akar segala kejahatan dan berbagai pelanggaran. Karena pada awalnya seorang Kafir dan Syirik menjahati dirinya sendiri. Pelaku kesyirikan dan kekafiran jauh dari kesempurnaan maknawi, sehingga merasa mudah melakukan kejahatan.
2. Bohong dan tipu daya dapat mencegah manusia memperoleh bahagiaan dan ketenangan.
Ayat ke 22:
Artinya:
Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik: "Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu kamu katakan (sekutu-sekutu) Kami?". (6: 22)
Orang-orang Musyrik tidak hanya dijauhkan dari kebahagiaan di dunia, tetapi di akhirat pun mereka tidak memperoleh apapun. Tangan mereka kosong, tidak memiliki sesuatu. Mereka tidak punya tempat berlindung dan sandaran. Karena segala kekuasaan yang mereka miliki di dunia tidak ada pengaruhnya sama sekali. Mereka tidak bisa berbuat apapun pada Hari Kiamat, bahkan mereka sendiri membutuhkan.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Di dunia janganlah kita mengandalkan sesuatu atau manusia yang di Hari Kiamat tidak bermanfaat bagi kita.
2. Syirik tidak memiliki kelebihan apapun dan di Hari Kiamat akan terbuka semua yang kita lakukan di dunia.
Ayat ke 23-24
Artinya:
Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan: "Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah". (6: 23)
Lihatlah bagaimana mereka telah berdusta kepada diri mereka sendiri dan hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan. (6: 24)
Dua ayat ini menggambarkan keadaan di Hari Kiamat dan dihadirkannya orang-orang Musyrik di pengadilan Ilahi dan mengatakan, mereka yang di dunia tertipu oleh sesembahan hasil dari khayalannya sendiri akan menjadi sadar atas kekhilafannya. Tapi sayangnya mereka tidak punya jalan keluar yang dapat menyelamatkan dirinya kecuali mengatakan, pisahkanlah kami dari patung-patung ini dan kami tidak lagi menjadi musyrik. Kami juga akan seperti kalian yang hanya meyakini Tuhan Yang Esa. Benar, orang-orang Musyrik yang di dunia selalu mengingkari dan membohongkan ayat-ayat Allah yang benar, hari ini yakni Hari Kiamat bakal tersingkap semua kebatilan mereka. Setelah melihat kebatilan yang mereka lakukan itu, mereka menyesali semuanya, tapi semua itu sudah tidak berguna lagi. Penyelesalan hanya berlaku di dunia, tidak di akhirat.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Tidak ada gunanya meminta ampun pada Hari Kiamat. Menerima kebenaran saat itu juga tidak akan menyelamatkan manusia.
2. Di Hari Kiamat kita hanya bisa mencela diri kita sendiri akibat perbuatan yang dilakukan semasa di dunia.
3. Semua yang diandalkan manusia di dunia akan lenyap di Hari Kiamat. Karena pada hari itu, semua manusia hanya membutuhkan satu pertolongan dan itu adalah pertolongan Allah Swt.
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Anam Ayat 15-19
Ayat ke 15-16
Artinya:
Katakanlah: "Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku". (6: 15)
Barang siapa yang dijauhkan azab dari padanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. (6: 16)
Ayat sebelumnya mengisahkan usulan orang-orang Musyrik yang berkata kepada Nabi Muhammad Saw bahwa jika beliau menghentikan dakwah dan seruannya maka mereka akan membuatnya kaya raya. Allah Swt dalam ayat ini mengatakan kepada Nabi-Nya, katakanlah kepada mereka kalian berjanji akan memberikan harta dunia, tapi aku takut terhadap perhitungan Hari Kiamat. Karena itulah segala bentuk kemalasan dalam melaksanakan risalah, menyembunyikan bahkan menyelewengkan risalah tersebut, membuatku akan disiksa dengan siksaan yang pedih, sedangkan aku tidak sanggup menanggung itu semua.
Jelas, Nabi Muhammad Saw tidak akan menentang dan melanggar perintah-perintah Allah. Penegasan masalah ini sebagai pelajaran agar kaum Muslimin senantiasa bisa mengontrol dan waspada menghadapi bujuk rayu dan janji-janji orang lain dengan mengingat Hari Kiamat dan takut terhadap azab dan pembalasan Allah Swt.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Balasan Allah Swt berlaku bagi semua manusia, tidak terkecuali para nabi, bila mereka tidak melaksanakan perintah-Nya, mereka juga dihukum.
2. Takut akan pembalasan Allah merupakan takut yang positif, berbeda dengan takut terhadap para penguasa zalim dan manusia lainnya.
3. Bahaya senantiasa mengancam semua orang. Karena itu, rahmat Allah kepada manusia yang senantiasa menjauhkannya dari perbuatan dosa. Setelah berbuat dosapun Allah masih memberi kesempatan bagi manusia itu untuk bertaubat.
Ayat ke 17-18
Artinya:
Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (6: 17)
Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (6: 18)
Setelah dua ayat sebelumnya memberikan jawaban tegas al-Quran kepada kaum Musyrikin terkait janji kenabian, maka dua ayat ini mengatakan, wahai Rasul, katakanlah kepada mereka bahwa segala sesuatu di tangan Allah dan tidak ada yang terjadi tanpa kehendak-Nya. Apabila Allah menghendaki seorang hamba tertimpa bahaya dan bencana, maka tidak ada jalan bagi orang tersebut untuk melarikan diri. Begitu juga apabila Allah menghendakki kelapangan dan kebahagiaan bagi seseorang, maka tidak ada halangan bagi Allah untuk melaksanakannya. Janji-janji kalian itu tidak ada nilainya. Karena bila Allah Swt tidak berkehendak maka tidak ada kesenangan dan kesejahteraan yang bisa diperoleh. Setiap ancaman tidak akan berpengaruh bila Allah Swt tidak menghendaki.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Segala harapan dan keinginan harus sejalan dengan kehendak Allah. Bahkan segala ketakutan juga harus kepada Allah Swt. Karena Dia adalah sumber segala sesuatu.
2. Janganlah kalian takut kepada selain Allah yang tidak memiliki kekuasaan apapun, namun takutlah kalian semata-mata kepada Allah Swt yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
3. Kekuasaan bernilai bila disertai kebijaksanaan. Pada ayat-ayat ini dijelaskan bahwa kekuasaan Allah Swt bersama ilmu dan hikmah.
Ayat ke 19
Artinya:
Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui". Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)". (6: 19)
Sekelompok Musyrikin Mekah datang kepada Nabi Saw dan mengatakan, "Orang-orang Ahli Kitab baik Yahudi atau Kristen yang tidak mengetahui kebenaranmu tidak akan menerima risalah kenabianmu. Oleh karenanya, harus ada seseorang yang menunjukkan kebenaran risalahmu. Ayat ini diturunkan untuk menjawab pertanyaan mereka dan mengatakan, menurut keyakinan kalian siapa yang menjadi saksi terbaik? Apakah selain kesaksian Allah masih ada lagi saksi yang lebih baik? Dia yang menurunkan al-Quran kepadaku telah memberi kesaksian atas kebenaran risalahku! Lafad dan kandungan al-Quran tidak saling melemahkan dan tidak pula menyulitkan pemikiran umat manusia.
Dalam lanjutan ayat ini juga dijelaskan mengenai tujuan risalah, aku tidak diutus untuk menjadi orang kaya. Aku juga tidak menginginkan sesuatu dari kalian, namun aku hanya ingin memberi peringatan kepada kalian agar meninggalkan sesembahan patung dan ketaatan kepada penguasa-penguasa zalim dan hanya menyembah kepada Allah Yang Esa.
Poin yang perlu diperhatikan dalam ayat ini ialah risalah Islam bersifat global dan internasional, begitu juga seruan al-Quran. Tidak boleh dipahami bahwa seruan Nabi Muhammad Saw itu hanya untuk kaum arab saja atau hanya berkisar kepada batas waktu dan tempat tertentu saja. Karena itu Imam Ali as dalam tafsir kalimat Innama huwa Ilahunwahidun, mengatakan, apabila terdapat tuhan-tuhan yang lain maka mereka pastilah mereka mengutus para nabi kepada umat manusia. Padahal para nabi di sepanjang sejarah diutus dari sisi Tuhan yang Esa.
Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Al-Quran bukti terbesar kebenaran Nabi Muhammad Saw. Risalah Nabi Saw bersifat internasional dan untuk semua umat manusia.
2. Setelah Nabi Muhammad Saw, kaum Mukminin berkewajiban untuk menyampaikan agama Allah ini. Karena itu, selama firman Allah belum sampai kepada umat manusia, maka kewajiban dan tanggung jawab tidak dibebankan kepada mereka.
3. Menyatakan setia dan komitmen terhadap ajaran dan kepemimpinan Ilahi adalah suatu yang diharuskan, begitu juga menyatakan lepas tangan atau bara'ah dari kaum Kafir atau Musyrikin.
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Anam Ayat 10-14
Ayat ke 10
Artinya:
Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka. (6: 10)
Pada kajian sebelumnya, telah disebutkan adanya orang-orang yang keras kepala, suka mengolok-olok dan tidak bersedia menerima kebenaran. Orang-orang ini berusaha menghindar dan tidak ingin beriman. Untuk itu mereka senantiasa mencari-cari alasan dan mengatakan, mengapa Tuhan tidak menurunkan malaikat yang bersama-sama dengan nabi utusan tersebut, sehingga dia menjadi bukti atas kenabiannya dan kami semua dapat melihat mereka.
Ayat ini merupakan jawaban atas permintaan mereka yang tidak rasional itu dan mengatakan, wahai Nabi, sepanjang sejarah terdapat juga orang-orang semacam ini yang tidak mau menerima kebenaran, bahkan mereka memperolok-olok dan mencemoohkan kebenaran. Para nabi sebelum kamu juga telah menghadapi orang-orang semacam ini. Karena itu hendaknya kamu bersabar. Allah akan memberikan jawaban berupa azab yang menimpa mereka baik di dunia maupun di akhirat, sehingga mereka akan mengerti betapa balasan dari perbuatan mencemooh dan memperolok-olokkan itu adalah sebuah hakikat.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Para penentang kebenaran tidak punya argumentasi yang logis. Oleh karenanya, mereka hanya bisa mengejek dan menghina, sambil berpura-pura mencari kebenaran.
2. Kita harus menghindari pergaulan yang bernuansa menghina orang lain. Karena sikap ini adalah jelek dan tidak terpuji serta merupakan sikap orang-orang Kafir dan Musyrikin.
Ayat ke 11
Artinya:
Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu". (6: 11)
Al-Quran al-Karim dalam ayat ini menyeru manusia agar mengkaji sejarah dan nasib kaum-kaum terdahulu yang suka mengingkari kebenaran. Seruan al-Quran ini sebetulnya ditujukan kepada orang-orang yang lalai dan tidak ingin menerima kebenaran. Salah satu cara mengkaji sejarah kaum-kaum terdahulu yang lebih baik ialah dengan mengunjungi musium-musium purbakala sehingga dapat menyaksikan dari dekat peninggalan-peninggalan mereka. Sekalipun hanya menyaksikan peninggalan-peninggalan purbakala tidak cukup, tetapi kita harus bisa mengambil pelajaran atas peristiwa-peristiwa lampau yang menimpa mereka.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Mengunjungi tempat-tempat peninggalan kuno, merupakan suatu yang dipesankan dalam Islam. Hal ini agar Muslimin mengena kisah kaum-kaum terdahulu dan mengambil pelajaran untuk menata masa depannya.
2. Melihat sesuatu merupakan perbuatan yang dilakukan sehari-hari oleh manusia, tapi yang penting adalah melihat dan mengambil pelajaran dari apa yang dilihat.
Ayat ke 12-13
Artinya:
Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi". Katakanlah: "Kepunyaan Allah". Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman. (6: 12)
Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (6: 13)
Setelah ayat-ayat yang lalu menjelaskan jawaban al-Quran kepada orang-orang Musyrik, dua ayat ini mengatakan, di tengah-tengah masyarakat yang meyakini prinsip kebangkitan, segalanya ada di tangan Allah, termasuk penciptaan alam hingga Hari Kiamat. Allah yang Maha Pencipta itu telah kalian akui keberadaan-Nya. Dia menciptakan segala makhluk di alam ini dengan rahmat dan anugerah-Nya, dan kalian tidak dibiarkan di dunia ini. Sementara Kematian bukan merupakan akhir kehidupan kalian. Di Hari Kiamat nanti kalian semua akan dikumpulkan dan tetap melanjutkan kehidupan, apakah itu di surga atau neraka.
Di akhir ayat ini disebutkan, setiap manusia terikat dengan fitrah tauhidnya yang bersih. Sementara yang membuat mereka terjerumus ke dalam jurang nestapa adalah diri mereka sendiri yang tidak mau menerima kebenaran dan beriman kepada Allah Swt.
Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Hari Kiamat merupakan kelaziman keadilan Allah dan kematian bukan merupakan akhir dari kehidupan manusia.
2. Sekalipun kita tidak bisa melihat Allah Swt dan tidak bisa mendengar firman-firman-Nya, tetapi Dia menyampaikan firman-Nya kepada kita. Lebih penting lagi, Dia mendengar dan menyaksikan segala perbuatan kita.
Ayat ke 14
Artinya:
Katakanlah: "Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak memberi makan?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang musyrik". (6: 14)
Sebagian orang Musyrik Mekah menentang seruan Nabi Muhammad Saw dan tidak mau menerima bahwa risalah yang diemban beliau berasal dari Allah Swt. Ketika mereka melihat Nabi Saw bukan orang kaya, mereka berkata kepada beliau, kami siap memberikan sebagian harta kekayaan kami kepadamu (Nabi), dengan syarat kamu hentikan seruan dan dakwah ini.
Allah Swt memesankan kepada Nabi-Nya agar berbicara kepada mereka, sesuatu yang kalian makan dan miliki adalah daripada Allah. Kalian justru tidak memiliki apa-apa, hingga aku diutus kepada kalian. Aku menerima kepemimpinan Allah. Dia pencipta langit dan bumi dan aku sedikitpun tidak akan melakukan syirik kepada-Nya. Aku adalah orang pertama yang menerima dan taat dihadapan hukum dan perintah-perintah Allah Swt.
Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Tidak ada siapapun yang dapat dijadikan tempat perlindungan kecuali Allah Swt. Semua manusia dan makhluk hidup membutuhkan Allah Swt dan menikmati rezeki dari-Nya.
2. Agama Nabi Muhammad Saw adalah Islam, maka dari itu kita harus menerima Islam, taat serta patuh di hadapan Allah dan perintah-perintah dan juga hukum-hukum-Nya.
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Anam Ayat 4-9
Ayat ke 4-5
Artinya:
Dan tidak ada suatu ayatpun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling dari padanya (mendustakannya). (6: 4)
Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang haq (Al-Quran) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan. (6: 5)
Dalam pembahasan sebelumnya, Allah Swt menghitung sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya dalam menciptakan langit, bumi dan manusia, agar manusia memahami terbatasnya kehidupan di dunia dan semua akan musnah. Ayat ini mengatakan, meski sebagian manusia melihat beberapa tanda kekuasaan Allah di alam ini termasuk di dalam perwujudan diri mereka sendiri, tapi masalah iman berada di tangan manusia dan tidak dapat dibohongi.
Sebagian manusia bukannya tidak melihat tanda-tanda kebesaran dan kebenaran Allah, tapi pada intinya mereka sejak awal memang tidak ingin menerima kebenaran. Mirip manusia yang sedang tidur nyenyak. Sekalipun dipanggil dan digoyang agar bangun, tapi ia tetap tertidur dengan nyenyaknya. Berbeda dengan seseorang yang tidur biasa. Begitu dipanggil, ia langsung terbangun. Tapi perlu dicamkan, kondisi manusia tertidur nyenyak itu tidak selamanya, pada suatu waktu ia akan terbangun juga ketika menghadapi kondisi buruk. Tapi sayangnya ketika terbangun, mereka tetap pada sikapnya menolak kebenaran.
Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Bagi mereka yang keras kepala dan tidak mau menerima kebenaran, maka argumentasi apapun yang diberikan tidak akan diterimanya.
2. Orang Kafir yang keras kepala tidak memiliki logika dan cara yang ditempuh adalah menghina kaum Muslimin dan keyakinan mereka.
Ayat ke 6
Artinya:
Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (6: 6)
Ayat ini ditujukan kepada mereka yang keras kepala dan tidak bersedia menerima kebenaran dan mengatakan, tidakkah kalian telah mempelajari sejarah dan nasib kaum terdahulu yang musnah? Apakah kalian masih menyangka lebih kuat dan memiliki fasilitas lebih banyak bila dibandingkan dengan mereka, sehingga bisa terbebas dari segala bentuk kemampuan dan kekuasaan Kami? Padahal sebagian dari mereka bahkan memiliki kemampuan yang tidak kalian punya. Tapi mereka menyalahgunakan nikmat Allah Swt untuk berbuat dosa. Mereka akhirnya Kami binasakan dan menggantikannya dengan kaum yang lain. Selain memperhitungkan perbuatan setiap orang, Kami juga memperhitungkan nasib mereka sebagai sebuah masyarakat. Bila sebuah masyarakat melakukan perbuatan dosa, maka setiap anggota masyarakat yang tidak bereaksi menolak perbuatan itu akan terhitung juga sebagai pelaku dosa.
Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Belajar dari sejarah merupakan cara al-Quran mendidik masyarakat muslim dan juga metode dakwah yang dipakai para nabi.
2. Sikap dan tingkah laku masyarakat merupakan unsur terjadinya sebuah peristiwa sejarah. Hancurnya sebuah masyarakat akibat berbuat dosa merupakan Sunnatullah dalam sejarah manusia.
3. Fasilitas materi bukan simbol kebahagiaan atau kesengsaraan. Sebaliknya, kebanyakan masalah materi yang melalaikan manusia, sehingga membuat mereka berbuat aniaya.
Ayat ke 7
Artinya:
Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang kafir itu berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata". (6: 7)
Dalam sejarah disebutkan bahwa sekelompok kaum Musyrikin berkata kepada Nabi Muhammad Saw, "Karena kami telah beriman kepadamu, mintalah kepada Allah agar menurunkan firmannya dalam bentuk kertas yang telah tertulis ayat-ayat. Hal itu disebabkan Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa as dalam bentuk tulisan pada lempengan batu. Nabi Musa kemudian membawa lempengan batu itu kepada masyarakat."
Ayat ini diturunkan sebagai jawaban permintaan mereka. Dalam ayat ini disebutkan, permintaan mereka itu hanya alasan. Karena bila permintaan mereka dipenuhi, mereka bakal mengatakan bahwa ini hanya sihir dan tipu daya serta bukan mukjizat ilahi. Karena ternyata sebagian masyarakat waktu itu tetap juga tidak beriman, sekalipun telah melihat lempengan Taurat. Lebih buruk dari itu, mereka juga menyebut lempengan Taurat itu sebagai sihir yang memperdayakan manusia.
Ayat ke 8-9
Artinya:
Dan mereka berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) malaikat?" dan kalau Kami turunkan (kepadanya) malaikat, tentulah selesai urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun). (6: 8)
Dan kalau Kami jadikan rasul itu malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki dan (kalau Kami jadikan ia seorang laki-laki), tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri. (6: 9)
Permintaan lain dari orang-orang Musyrik kepada Nabi Muhammad Saw sebagai syarat keimanan mereka adalah menyaksikan malaikat pembawa wahyu atau Nabi Saw sendiri harus melihat malaikat itu. Sebagai jawabannya dua ayat mengatakan, apabila kalian ingin melihat malaikat, maka malaikat itu terlebih dahulu berbentuk manusia. Karena selama dalam bentuknya sebagai malaikat, maka kalian tidak akan pernah bisa melihatnya. Ditambahkan juga bahwa kalian sendiri mengatakan bila ia seperti manusia, maka kami tidak akan beriman kepada Allah. Itu berarti kalian meminta hal ini hanya untuk menyelamatkan diri dan sejak awal kalian memang tidak ingin beriman. Ayat ini menyebutkan bahwa Allah Swt telah mengetahui sikap keras kepala mereka dan alasan yang dibuat-buat.
Allah Swt tidak menurunkan azab-Nya kepada kaum Musyrikin pada dasarnya merupakan anugerah bagi mereka. Karena bila hal dilakukan dan kemudian mereka tetap tidak beriman, maka sudah barang tentu Allah Swt akan menurunkan azab-Nya. Selain itu Allah Maha Mengetahui bahwa segala alasan yang mereka utarakan itu dibuat agar mereka tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dua ayat ini dengan gamblang melaranag manusia tidak boleh bersikap sombong terhadap orang lain. Semestinya manusia harus menaati dan menerima utusan Allah. Karena para nabi tidak hanya menyampaikan wahyu, tapi mereka merupakan cerminan teladan dan perbuatan umat manusia. Tidak ada malaikat satupun yang dapat menjadi teladan bagi manusia. Karena keinginan dan kebutuhan manusia berbeda dengan malaikat.
Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Manusia yang siap menerima kebenaran akan menerimanya dengan dalil sekecil apapun. Berbeda dengan orang yang keras kepala dan suka mencari alasan untuk mengingkarinya.
2. Metode dakwa para nabi adalah memberi petunjuk lewat wahyu Allah kepada seluruh manusia agar menerimanya. Karena bila mukjizat telah disampaikan, maka tidak ada lagi kesempatan. Hanya ada dua pilihan; beriman atau binasa.




























