کمالوندی

کمالوندی

 

Alkisah, ada seorang ahli ibadah (abid) yang hidup diantara bani Israil. Suatu hari dia mendengar orang sedang ramai membicarakan tentang sebuah pohon yang ada di suatu tempat yang disembah oleh sebuah kaum.

Mendengar hal itu dia pun naik pitam, lalu dia bangkit dan mengambil kapak dan segera pergi untuk menebang pohon tersebut.

Iblis pun muncul dengan berwujudkan orang tua dan berkata: “Hai abid, kembalilah dan sibukkanlah dirimu dengan ibadah”

Abid berkata: “Tidak, memotong pohon itu lebih wajib bagiku.”

Perdebatanpun semakin memanas hingga terjadilah perkelahian. Akhirnya abid mampu mengalahkan iblis dan membantingnya ke tanah serta mendudukinya.

Baca juga: Perbedaan Antara Nasihat Orang Bijak dan Orang Gila

Dalam keadaan seperti ini iblis berkata: “Lepaskanlah aku sehingga aku bisa berbicara, Anda bukan seorang Nabi dan Tuhanpun tidak memerintahkan Anda untuk melakukan hal ini, kembalilah ke rumahmu maka aku akan mengirimkan dua dinar dibawah bantalmu setiap harinya, satu dinar Anda bisa membelanjakannya dan satu dinar lagi bisa Anda sedekahkan, dan ini lebih baik dan lebih berpahala daripada menebang pohon.”

Abid pun mulai ragu dan berbicara pada dirinya sendiri: “Benar apa katanya, satu dinar bisa saya belanjakan dan satunya lagi disedekahkan.” Akhirnya dia pun pergi dan tidak jadi melaksanakan tujuan intinya untuk menebang pohon.

Baca juga: Nasihat Ustadz Arifin Ilham Ini Bikin Netizen Menangis

Pada kemudian hari, setelah dia tidak menemukan dinar lagi di bawah bantalnya, dia pun bertekad lagi untuk kembali ke pohon tersebut untuk menebangnya. Sekali lagi di tempat yang sama, iblis muncul dan berkata: “Mau kemana kamu?!”

Abid berkata: “Aku ingin pergi menebang pohon itu.”

Iblis berkata: “Jangan bermimpi, kamu tidak akan bisa.”

Iblis dan Abid itu pun berkelahi lagi, dan kali ini iblis mengalahkan Abid dan membantingnya.

Abid berkata: “Lepaskanlah aku dan aku akan kembali, tapi katakan padaku sebelumnya, kenapa sebelumnya aku bisa mengalahkanmu, namun sekarang aku tak berdaya di hadapanmu.”

Iblis berkata: “Saat itu Anda marah karena Tuhan, karena itu Tuhan menyerahkanku kepadamu, dan barangsiapa melakukan sesuatu karena Tuhan, aku tidak akan mampu mengalahkannya, tapi kali ini Anda marah karena dunia dan dinar, sehingga saya bisa mengalahkan Anda.”

Kamis, 12 Desember 2019 17:37

Kisah Hikmah Seorang Hamba yang Sejati

 

Pada zaman dahulu dikisahkan ada seorang yang baik hati pergi ke pasar untuk membeli seorang budak. Para penjual pun menawarkan beberapa budak kepadanya.

Dia pun bertanya kepada salah satu budak yang ditawarkan kepadanya: “Siapa namamu?” si budak menjawab: “Fulan”, kemudian orang baik hati itu berkata kepada penjual: “Saya tidak menyukai budak ini, carikan Saya budak lainnya” ketika dibawakan budak kepadanya, orang baik itu bertanya kepada budak: “Siapa namamu?”, si budak menjawab: “Nama apapun yang Anda suka”,

Kemudian orang baik itu bertanya: “Kamu makan apa?”, Budak menjawab: “Apapun yang Anda berikan”,  kemudian dia bertanya lagi kepada si budak: “Baju apa yang kamu pakai?”, budak menjawab: “Baju apapun yang Anda berikan”, Selanjutnya dia bertanya lagi:”Apa yang bisa kamu kerjakan? “Budak menjawab:”Apapun yang Anda perintahkan”, orang itu bertanya lebih lanjut: “Kewenangan apa yang kamu miliki?” Budak menjawab: “Saya seorang hamba sahaya, hamba sahaya tidak punya kewenangan apa-apa” Calon tuan bagi si budak itu berkata: “Inilah hamba sahaya sejati, budak ini harus saya beli.”

Dari cerita diatas, dapat kita ambil hikmah bahwa hendaknya kita harus seperti budak ini ketika kita berhadapan dengan Tuhan Pencipta kita dan seluruh semesta alam ini.

 

Dikisahkan, ada seorang perempuan mengeluh kepada Rasulullah karena perilaku suaminya.

Suaminya selalu mengundang orang-orang datang ke rumahnya dan menjamunya sehingga tamu-tamu tersebut menyebabkan sang istri menjadi repot dan merasa kelelahan.

Lalu wanita tersebut keluar meninggalkan Rasulullah dan tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Rasul saw.

Setelah beberapa waktu, Rasulullah pergi ke rumah suami-istri tersebut, Rasulullah bersabda kepada sang suami : “Sesungguhnya aku adalah tamu di rumahmu hari ini.”

Betapa bahagianya sang suami demi mendengar ucapan Rasulullah tersebut, maka dia segera menghampiri istrinya untuk mengabarkan bahwa tamu hari ini adalah Rasulullah.

Si istri pun merasa bahagia karena kabar tersebut, dia pun segera memasak makanan yang lezat dan nikmat.

Dia lakukan hal tersebut dengan penuh rasa bahagia di dalam hatinya.

Ketika Rasulullah akan pergi dari rumahnya setelah beliau mendapatkan kemuliaan dan merasa bahagia dengan keridhoan pasangan itu.

Rasulullah bersabda kepada suaminya :
“Ketika aku akan keluar nanti dari rumahmu, panggil istrimu dan perintahkan dia untuk melihat ke pintu tempat aku keluar.”

Maka sang istri melihat Rasulullah keluar dari rumahnya diikuti oleh binatang-binatang melata, seperti kalajengking dan berbagai binatang yang berbahaya lainnya di belakang Rasulullah.

Terkejutlah sang istri dengan apa yang dilihat di depannya.

Maka Rasulullah bersabda : “Seperti itulah yang terjadi. Setiap kali tamu keluar dari rumahmu, maka keluar pula segala bala’, bahaya dan segala binatang yang membahayakan dari rumahmu.”

“Maka inilah hikmah memuliakan tamu dan tidak berkeluh kesah karena kedatangannya.”

Rumah yang banyak dikunjungi tamu adalah rumah yang dicintai ALLAH.

Begitu indahnya rumah yang selalu terbuka untuk anak kecil atau dewasa.

Rumah yang di dalamnya turun rahmat dan berbagai keberkahan dari langit.

Rasulullah bersabda : “Jika ALLAH menginginkan kebaikan terhadap satu kaum, maka ALLAH akan memberikan hadiah kepada mereka.

Para sahabat bertanya : “Hadiah apakah itu, ya Rasulullah……………?.”

Rasulullah bersabda : “Tamu akan menyebabkan turunnya rezeki untuk pemilik rumah dan menghapus dosa-dosau penghuni rumah.”

Rasulullah bersabda : “Rumah yang tidak dimasuki tamu (tidak ada tamu), maka Malaikat Rahmat tidak akan masuk ke dalamnya.”

Rasulullah bersabda : “Tamu adalah penunjuk jalan menuju Surga.”

Rasulullah bersabda : “Barangsiapa beriman kepada ALLAH dan Hari Akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.”

Marilah kita semua rela untuk menyediakan diri, menyediakan kasih sayang dengan cara saling berkunjung, bersilaturahmi menguatkan tali ukhuwah islamiyah antara sesama saudara muslim.

 

Tahukah Anda bahwa membaca shalawat sebelum berdoa pada Allah swt dapat mempengaruhi doa Anda? Dan tahukah Anda bahwa dengan bershalawat, kebutuhan dunia dan akhirat Anda akan terpenuhi? Mari kita simak kisah nyata di bawah ini!

Seorang laki-laki datang menghampiri Rasulullah saw kemudian ia berkata:

“Sepertiga shalawatku, aku berikan untukmu. Tidak hanya itu, setengah dari shalawatku,  akanku berikan untukmu. Lebih dari itu, seluruh shalawatku, aku persembahkan untukmu.”

Rasulullah saw bersabda, “Jikalau begitu kebutuhan dunia dan akhiratmu telah terjamin.”

Abu Bashir bertanya, “Apa maksud dari kalimat ‘seluruh shalawatku, aku berikan untukmu’?”

“Yakni sebelum kamu berdoa pada Allah swt, engkau memulainya dengan bershalawat atas nabi. Serta sama sekali kamu tidak memohon apapun kepada Allah kecuali kamu harus bershalawat sebelumnya lalu setelah itu meminta sesuatu dari Allah.”

Dari sini kita mengetahui sebuah rahasia yang datang Baginda Nabi saw yang lebih tepatnya rahasia dari bershalawat.

Yang pertama adalah dengan bershalawat pada Baginda Nabi Muhammad saw, kebutuhan dunia dan akhiratmu akan terjamin.

Bukankah hal ini merupakan sesuatu yang luar biasa. kebutuhan dunia dan akirat kita akan dijamin oleh Allah swt. Dan hal ini bisa diraih ketika kita memulai doa dengan shalawat,

Allahumma shali ala Muhammad wa ali Muhammad.

Kamis, 12 Desember 2019 17:26

Obrolan Rasulullah Dengan Petani Saleh

 

Suatu hari Rasulullah saw berjalan melewati sebuah ladang kebun . Lalu Nabi melihat seorang petani sedang bercocok tanam di kebun miliknya.

Rasulullah saw menghampirinya dan bersabda, “Wahai petani, apakah engkau ingin aku berikan kabar tentang menanam sebuah pohon yang akarnya kuat, buahnya banyak juga segar?”

“Silahkan wahai Rasulullah. Aku ingin mengetahui pohon tersebut” Jawab petani.

Rasulullah saw bersabda, “ketika subuh dan malam bacalah subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illallah wallahu akbar”

سُبْحَانَ اللَّهِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَ اللَّهُ أَكْبَرُ

“Jika engkau membaca dzikir ini (dengan syarat-syaratnya dan hati ikhlas) maka untuk setiap dzikirnya, Allah swt menanam sebuah pohon yang mempunyai buah yang bermacam-macam dan pohon tersebut merupakan baqiyyatus solihat untuk dirimu.” Tambah Rasulullah.

Penjelasan Nabi saw masuk ke dalam hati sang petani dan ia menjadi begitu mencintai pahala ukhrawi kemudian berkata kepada Nabi,

“Aku bersumpah kepadamu, wahai Rasulullah! Aku akan mewakafkan kebunku ini untuk para faqir miskin dari muslimin.”

Dan Allah menurunkan ayat al-Quran untuknya;

فَأَمَّا مَنْ أَعْطى‏ وَ اتَّقى‏ (5) وَ صَدَّقَ بِالْحُسْنى‏ (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرى‏ (7)[1]

“Maka barang siapa yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).”  (Surah Al-Lail, ayat 5-7)

[1] Terdapat riwayat juga yang menyatakan bahwa ada asbabun nuzul yang lain untuk ayat ini.

 

Menjelang sakratul maut, ada seorang ayah yang meminta anak-anaknya untuk berkumpul di sisinya. Sang ayah pun telah menyiapkan seikat ranting-ranting.

Kemudian sang ayah berkata pada anak yang paling tua, “Bisakah kamu mematahkan seikat ranting-ranting ini?”

Lalu sang anak pun mencoba mematahkannya akan tetapi ia tidak bisa. Setelah itu, sang ayah meminta anak-anaknya yang lain untuk mematahkannya. Namun mereka pun tidak mampu untuk mematahkan seikat ranting tersebut.

Setelah itu sang ayah membuka ikat ranting dan memberikan setiap anaknya satu ranting. Kemudian sang ayah meminta mereka mematahkan ranting tersebut. Pada akhirnya mereka mampu mematahkannya.

Kemudian sang ayah berpesan, “Wahai anak-anakku! Begitulah persatuan. Jika kalian Bersatu maka kalian akan menjadi kuat dan jika kalian bercerai berai maka kalian akan menjadi lemah dan mudah dipatahkan. Janganlah berpecah belah dan bersatulah!”

 

Suatu hari, seorang remaja pergi ke sebuah kota yang jauh, dengan penuh semangat untuk mencari ilmu.

Setelah sekian lama ia bermukim di kota tersebut dan belajar di sana, rupanya dia belum bisa mendapatkan kesuksesan. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi kembali ke kampung halamannya.

Di tengah perjalanan pulang ia melewati sebuah mata air. Di sana ia melihat sebuah batu yang keras dan besar berlubang. Ia terheran-heran kenapa gerangan yang terjadi dengan batu tersebut.

Ternyata ada air yang menetes di atasnya yang membuat batu tersebut berlubang. Lalu ia berpikir bahwa air yang lembut saja mampu melubangi batu yang keras. Dari situ dia menyimpulkan bahwa jika seseorang ingin sampai pada tujuannya maka ia harus berusaha keras, konsisten, dan serius.

Kemudian untuk kedua kalinya ia kembali pergi mencari ilmu dan belajar dengan keras, konsisten, dan serius. Akhirnya dia menjadi seorang yang sukses.

 

Kali ini, cerita hikmah hadir membawakan kisah nyata dari seorang gubernur yang benar-benar melayani serta berkhidmat pada masyarakat dan gubernur tersebut adalah seorang muslim. Ia adalah Salman Al-Farisi. Bagaimana kisahnya, mari kita baca bersama-sama!

Pada suatu siang yang terik, seorang pedagang dari Syam sedang kerepotan mengurus barang bawaannya. Tiba-tiba ia melihat seorang pria bertubuh kekar dengan pakaian lusuh. Orang itu segera dipanggilnya.

“Hai kuli, kemari! Tolong bawakan barang ini ke kedai di seberang jalan itu.”

Tanpa membantah sedikitpun, dengan patuh pria berpakaian lusuh itu mengangkut bungkusan berat dan besar tersebut ke kedai yang dituju.

Saat sedang menyeberang jalan, seseorang mengenali kuli tadi. Ia segera menyapa dengan hormat, “Wahai, Amir! Biarlah saya yang mengangkatnya.” Si pedagang terperanjat seraya bertanya pada orang itu, “Siapa dia?, mengapa seorang kuli kau panggil Amir?

Ia menjawab, “Tidak tahukah Tuan, kalau orang itu adalah gubernur kami?”

Dengan tubuh lemas seraya membungkuk-bungkuk ia memohon maaf pada “kuli upahannya” yang ternyata adalah Salman al Farisi.

“Ampunilah saya, Tuan. Sungguh saya tidak tahu. Tuan adalah amir negeri Mada’in” ucap si pedagang.

“Letakkanlah barang itu, Tuan. Biarlah saya yang mengangkutnya sendiri.”

Salman menggeleng, “Tidak, pekerjaan ini sudah aku sanggupi, dan aku akan membawanya sampai ke kedai yang kau maksudkan.”

Setelah sekujur badannya penuh dengan keringat, Salman menaruh barang bawaannya di kedai itu, ia lantas berkata, “Kerja ini tidak ada hubungannya dengan ke-gubernuran-ku. Aku sudah menerima dengan rela perintahmu untuk mengangkat barang ini kemari. Aku wajib melaksanakannya hingga selesai. Bukankah merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meringankan beban saudaranya?”

Pedagang itu hanya menggeleng. Ia tidak mengerti bagaimana seorang berpangkat tinggi bersedia disuruh sebagai kuli. Mengapa tidak ada pengawal atau tanda kebesaran yang menunjukkan kalau ia seorang gubernur?

Kamis, 12 Desember 2019 17:24

Kisah Abu Nawas; Raja Ikut Mengemis

 

Pada suatu hari Abu Nawas yang sedang bersantai beranda rumah bersama istrinya tiba-tiba didatangi oleh beberapa pengawal kerajaaan. Para pengawal tersebut diperintahkan baginda untuk menghadirkan Abu Nawas menghadap ke istana.

Mendengar titah baginda, Abu Nawas pun segera bergegas menuju istana bersama para pengawal itu. sesampainya di istana untuk menghadap, baginda langsung berkata,

“Wahai Abu Nawas, saat ini aku sangat membutuhkan bantuanmu menyelesaikan sebuah masalah.” Kata baginda.

“Ampun baginda, apa yang bisa hamba bantu?”  Tanya Abu Nawas.

Baginda lalu mulai bercerita kepada Abu Nawas. Baginda mengatakan jika ia telah mendapat laporan tentang seorang saudagar kaya di negeri itu yang kikir dan menolak membayar zakat.

Mendengar cerita baginda, Abu Nawas lalu memberi usul,

“Mengapa Baginda tidak panggil saja dia ke istana? Lalu masukkan dia ke penjara?” Tanya Abu Nawas.

“Sebenarnya bisa saja aku berbuat demikian. Namun jika ada cara yang lebih halus untuk menyadarkannya kenapa harus menghukumnya. Karena Bagaimanapun dahulu sebelum menjadi saudagar ia adalah seorang yang sangat rajin bersedekah dan membayar zakat.” Kata baginda.

“Jadi Abu Nawas, adakah cara lain yang lebih halus darimu agar ia segera tersadar?” Tanya baginda

“Jika begitu, hamba mita waktu tiga hari untuk memikirkan jalan keluarnya wahai baginda.” Kata Abu Nawas.

Baginda lalu memberi Abu Nawas waktu selama tiga hari. Sekembalinya Abu Nawas dari istana, ia mulai memutar otak mencari jalan keluarnya. Secara pribadi Abu Nawas sangat menginginkan saudagar kaya itu dipenjara karena saudagar tersebut memang terkenal akan pelitnya dan enggan membayar zakat dan banyak orang yang membencinya. Tetapi karena tugas itu merupakan perintah dari baginda, mau tidak mau Abu Nawas harus menemukan cara untuk menyadarkan saudagar tersebut.

Kini tibalah pada hari ketiga, pagi itu Abu Nawas yang memang sudah menemukan cara segera bergegas menuju istana untuk menyampaikan idenya pada baginda. Begitu menghadap, baginda langsung bertanya padanya,

“Bagaimana Abu Nawas? Apa kau sudah menemukan cara?” Tanya raja.

“Sudah Baginda, sudah ditemukan caranya. Cuma, baginda juga harus ikut dengan hamba untuk menjadi pengemis dan mengemis di rumah saudagar itu, nanti di sana hamba yang akan menyelesaikan masalah tersebut. Apakah Baginda bersedia?” Tanya Abu Nawas.

Awalnya baginda merasa ragu pada ajakan Abu Nawas, tapi demi menyadarkan saudagar itu, akhirnya baginda pun bersedia.

Dengan memakai pakaian layaknya pengemis, Abu Nawas dan Baginda Raja pergi meluncur ke rumahnya saudagar pelit itu. mereka terus mengawasi sampai saudagar tersebut ada di rumahnya. setelah beberapa saat menunggu, terlihatlah saudagar itu sedang duduk bersantai di beranda rumahnya.

Abu Nawas dan baginda segera saja menghampiri dan mengucapkan salam menyapa saudagar itu.

“Apakah Tuan mempunyai uang receh?” Tanya Abu Nawas.

“Tidak ada!” Jawab Tuan Kabul.

“Kalau begitu, apakah Tuan punya pecahan roti kering, sekedar untuk mengganjal perut kami?” Tanya Abu Nawas.

“Tidak ada!” Kata saudagar.

“Kalau begitu, bolehkah kami minta segelas air saja, adakah Tuan?” Tanya Abu Nawas kembali.

“Sudah aku bilang dari tadi aku tidak punya apa-apa!” Kata Saudagar yang mulai jengkel.

Abu Nawas pun langsung mengeluarkan olah kata ajaibnya,

“Kalau Tuan tidak punya apa-apa, mengapa Tuan tidak jadi pengemis seperti kami saja?” Kata Abu Nawas.

Wajah Tuan Kabul terlihat tidak karuan, antara maran, kesal, tersinggung, sedih bercampur aduk. Saudagar itu pun terdiam teringan akan masa lalunya yang terbilang miskin tapi ia rajin bersedekah. Tapi sekarang dengan kehidupan yang lebih baik, ia malah menjadi kikir. Seketika itu tuan saudagar itu meneteskan air mata menyadari sifat kikirnya selama ini. Baginda pun tiba-tiba berkata,

“Bagaimana, apakah memilih menjadi orang kaya atau orang yang miskin ?” Kata raja. Kalau mau kaya, rajinlah bersedekah dan bayarlah zakat, kalau tidak mau kaya, mengemis saja kayak orang ini.” Kata raja sambil menunjuk ke Abu Nawas.

Abu Nawas lalu melanjutkan dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an tentang orang yang kikir dan menolak membayar zakat. Dalam kesedihannya, tuan saudagar merasa sangat terkejut mengetahui jika salah seorang pengemis didepannya adalah baginda raja. Mulai saat itulah saudagar itu mulai berubah menjadi orang yang baik dan dermawan, dan pastinya ia rajin membayar zakat.

Kamis, 12 Desember 2019 17:23

Kisah Abu Nawas; Mengerjai Sang Gajah

 

Pada suatu hari yang cerah ketika Abu Nawas sedang berjalan-jalan santai, ia tiba-tiba menjumpai  ada kerumunan orang. Ia pun merasa penasaran dan kemudian bertanya kepada seseorang disana,

Sedang ada apa disana??  Tanya Abu Nawas.

Sedang ada pertunjukan seekor gajah ajaib.?  Jawab orang itu.

Ajaib bagaimana maksudmu??  Tanya Abu Nawas kembali.

Gajah itu mengerti bahasa manusia, dan ia tidak mau tunduk kepada orang lain kecuali pemiliknya.?  Jawab orang itu.

Abu Nawas semakin penasaran dan segera menuju ke kerumunan untuk menyaksikan pertunjukkan. Sesampai dikerumunan, ia melihat sang pemilik gajah ajaib dengan bangga menawarkan kepada penonton akan memberikan hadiah yang besar seandainya mereka dapat menundukkan gajah tersebut agar mau menurut dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Satu persatu penonton mulai mencoba melakukan berbagai cara agar gajah itu mau menganggukkan kepalanya. Namun belum ada satupun yang berhasil menundukkan gajah ajaib itu. Keadaan tersebut semakin membuat Abu Nawas penasaran, dan iapun tertarik ingin menguji seberapa gigihnya gajah tersebut tunduk hanya pada pemiliknya sehingga ia tidak mau menuruti orang lain. Abu Nawas Kemudian maju mencoba menundukkan gajah itu. ia berbicara pada gajah tersebut,

Tahukah engkau siapa diriku?? Gajah itu menggelengkan kepalanya.

Apakah engkau takut kepada diriku??  Gajah itu tetap menggelengkan kepalanya.

Takutkah engkau kepada tuanmu??  Gajah itu mulai ragu dan Abu Nawas kembali bertanya,

Jika engkau tidak takut kepada tuanmu, maka aku akan melaporkan kepada tuanmu.?  Desak Abu Nawas.

Mendengar ancaman Abu Nawas dengan spontan kemudian gajah itu langsung menganggukkan kepalanya. Gajah tersebut tidak teringat akan perintah tuannya untuk tidak menurut kepada orang lain.

Penonton bersorak ria melihat keberhasilan Abu Nawas menundukkan gajah yang katanya ajaib itu dan dengan berat hati bercampur malu, pemilik gajah itu menyerahkan hadiah yang dijanjikan kepada Abu Nawas. Pemilik gajah sangat marah dan kemudian memukul gajah tersebut.

Pada beberapa hari berikutnya pemilik gajah kembali mengadakan pertunjukan dengan maksud membalas rasa malu sebelumnya. Tapi kali ini dengan gaya yang berbeda, dimana penantang harus mampu menundukkan gajah itu agar mau menganggukkan kepalanya. Satu persatu penonton mulai mencoba dengan berbagai cara termasuk cara yang digunakan Abu Nawas sebelumnya. tetapi gajah itu tetap tidak mau tunduk dan menggelengkan kepalanya, karena sangat takut pada ancaman tuannya.

Tibalah giliran Abu Nawas untuk maju dan kembali melemparkan pertanyaan kepada gajah tersebut.

Tahukah engkau siapa diriku?? Tanya Abu Nawas.

Gajah itu mengangguk.

Takutkah engkau kepadaku??

Gajah itu tetap mengangguk.

Takutkah engkau kepada tuanmu??.

Gajah itu masih mengangguk.

Tahukah engkau gunanya balsem ini?? Tanya Abu Nawas seraya mengeluarkan bungkusan kecil yang berisi balsem dari sakunya.

Namun gajah itu tetap mengangguk.

Abu Nawas kembali bertanya,

Apa boleh balsem ini ku gosokkan pada selangkanganmu??

Gajah itu mengangguk.

Abu Nawas kemudian menggosokkan balsem selangkangan gajah. Gajah tersebut merasa sangat kepanasan. Abu Nawas kemudian mengeluarkan lagi dari sakunya bungkusan balsem, kali ini lebih besar dan dia kembali bertanya kepada gajah tersebut,

Apakah boleh aku menghabiskan balsem ini untuk kugosokkan pada selangkanganmu??  Tanya Abu Nawas.

Gajah itu sangat ketakutan dan lupa akan ancaman tuannya, dengan spontan kemudian gajah itu langsung menggelengkan kepalanya.

Untuk kesekian kalinya Abu Nawas dapat menundukkan gajah itu dan kembali pulang dengan membawa hadiahnya.