کمالوندی

کمالوندی

Kamis, 12 Desember 2019 17:22

Kisah Abu Nawas; Membalas Perbuatan Raja

 

Pada suatu hari yang tenang tatkala Abu Nawas sedang tidak di rumahnya, datanglah beberapa orang pekerja yang diutus oleh Baginda Raja Harun Al Rasyd ke rumah Abu Nawas. Mereka berkata kepada istri Abu Nawas bahwa baginda raja semalam bermimpi jika dibawah rumah Abu Nawas terkubur harta terpendam yang tidak ternilai harganya, oleh sebab itu baginda raja memerintahkan kepada mereka untuk membongkar rumah Abu Nawas dan menggali  tanahnya.

Istri Abu Nawas berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan para pekerja baginda raja tersebut, tetapi mereka mengacuhkannya dan terus menggali hingga dalam. Setelah siap menggali, mereka sama sekali tidak menemukan apa-apa kemudian kembali ke istana dengan meninggalkan lubang yang dalam di rumah Abu Nawas.

Ketika Abu Nawas kembali ke rumah, alangkah kagetnya ia mendapati rumahnya yang telah hancur dan ada lubang besar di dalamnya. Istrinya pun menemui Abu Nawas menghidangkan makanan untuknya dan menceritakan apa yang telah terjadi pada rumah mereka. Abu Nawas tertunduk sedih mendengar cerita istrinya, ia seketika kehilangan nafsu makannya. Tidak habis pikir baginda raja tega memberi perintah semena-mena untuk menghancurkan rumahnya yang merupakan tempat dia dan keluarganya berteduh dan berkumpul menghabiskan waktu bersama . Ia semakin bertambah sakit hati karena baginda raja tidak meminta maaf kepadanya dan tidak pula mengganti semua kerugian atas perusakan paksa yang dilakukan pekerja istana.

Semalaman Abu Nawas tidak bisa tidur dan juga makan makanan yang telah dihidangkan istrinya. Dia terus memikirkan bagaimana caranya ia dapat membalas perbuatan baginda raja yang telah semena-mena padanya. Pagi pun tiba, tapi dia juga belum menemukan satu pun ide yang bisa digunakan. Makanan yang dihidangkan istrinya juga tidak dimakan, sehingga makanan itu menjadi basi. Maka datanglah lalat-lalat hinggap di makanannya, Abu Nawas kemudian memperhatikan lalat-lalat itu dan dengan tiba-tiba terbesitlah di dalam kepalanya sebuah ide, ia tertawa gembira karena telah mendapatkan cara membalas perlakuan raja.

Abu Nawas kemudian memanggil istrinya,

Tolong bawakan kepadaku sebatang besi dan sehelai kain untuk membungkus makanan!

 Wahai suamiku, untuk apa engkau meminta itu? tanya sang istri keheranan.

Aku ingin membalas perbuatan baginda raja kepada kita,.  Jawab Abu Nawas.

Ia kemudian membungkus makanannya dan segera pergi ke istana menemui baginda raja dengan membawa makanan yang telah dibungkus beserta lalat-lalat yang hinggap di dalamnya, juga sebuah besi pemukul. Ia kemudian menemui baginda raja yang kebetulan sedang bersama para menterinya seraya membungkuk memberi hormat.

Abu Nawas berkata kepada baginda:

Ampun Tuanku, kedatangan hamba kesini adalah untuk meminta keadilan untuk hamba dari tamu-tamu tak diundang yang datang ke rumah hamba dan tanpa seizin telah memakan makanan hamba.?

Wahai Abu Nawas,  siapakah gerangan tamu-tamu yang tak diundang itu?  Tanya baginda.

Abu Nawas kemudian menjawab sambil membuka bungkusan makanannya:

Lalat-lalat ini ya baginda, hamba ingin mendapatkan keadilan dari baginda atas perlakuan lalat-lalat ini kepada hamba, karena sebagai pemimpin negeri ini kepada baginda lah hamba meminta keadilan.?

Baginda raja kemudian kembali bertanya,

Wahai Abu Nawas, keadilan seperti apa yang engkau inginkan dariku??

Hamba ingin baginda raja memberikan sebuah izin tertulis untuk hamba, supaya hamba diberi kuasa untuk menghukum lalat-lalat ini kapanpun dan dimanapun hamba berada.?  Jawab Abu Nawas.

Baginda raja merasa bingung terhadap permintaan Abu Nawas yang sangat aneh, namun demi keadilan untuk rakyatnya ia pun dengan terpaksa membuat sebuah surat kuasa yang memuat tentang pemberian izin kepada Abu Nawas untuk menghukum lalat-lalat kapanpun dan dimanapun ia hinggap dan tidak ada seorangpun yang boleh melarangnya.

Setelah mendapatkan surat kuasa dari baginda raja, Abu Nawas tersenyum. Tanpa menunggu lama ia langsung mengeluarkan sebuah besi pemukul yang telah dibawanya dari rumah, kemudian langsung memukul lalat-lalat yang ada di makanannya. Lalu lalat-lalat terbang dan hinggap dimana-mana di kaca, di meja sampai di tempat makan baginda raja. Abu Nawas tidak peduli, terus memukul dimanapun lalat hinngap hingga seisi ruangan itu hancur berkeping-keping dibuatnya, semua perabotan dan barang-barang raja hancur.

Baginda raja dan pengawal istana tidak dapat melakukan apa-apa menyaksikan Abu Nawas menghancurkan semua benda-benda berharga di ruangan itu karena Abu Nawas telah mendapat izin tertulis dari beliau. Baginda sadar dan merasa malu kepada menteri-menterinya tentang apa yang telah dilakukan kepada rumah Abu Nawas dan keluarganya tanpa meminta maaf dan mengganti rugi.

Setelah puas memporak-porandakan seisi ruangan bagida raja, Abu Nawas kemudian kembali ke rumah dan menceritakan kepada istrinya apa yang telah ia lakukan ketika menghadap baginda raja.

 

Seharusnya seorang muslim yang baik tidak berpikir bahwa bagaimana dia harus mempersiapkan segala sesuatu untuk hidup selama 70 tahun, namun seorang muslim yang baik adalah dia yang mempersiapkan segala sesuatu supaya dicintai oleh Allah swt.

Umumnya manusia mempunyai tujuan tersendiri serta cara mendapatkan tujuan tersebut. seseorang yang mempunyai tujuan menjadi seorang guru maka ia akan menyibukan dirinya dengan belajar bagaimana ia menjadi guru yang ahli. Setelah itu ia akan mempersiapkan segalanya dimulai dengan masuk kuliah jurusan pendidikan, ambil les bahasa asing, serta yang lainnya.

Akan tetapi apakah akan berhenti di situ? Apakah ia ketika telah sampai pada tujuannnya lalu hanya berhenti di situ? Mungkin ia akan menjawab “tidak”. “Saya tidak akan berhenti di sini”. Mungkin ia akan mengumpulkan tabungan untuk hidup selama 70 tahun.

Apakah menurut kalian yang dilakukannya adalah suatu yang benar? Mungkin jika ia bukan seorang muslim maka yang dilakukannya sama seperti yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Namun jika ia seorang muslim yang baik maka sesungguhnya yang ia lakukan itu adalah kurang sempurna bahkan berbahaya bagi dirinya.

Kenapa berbahaya, karena seorang muslim yang baik adalah ia yang meyakini adanya hari akhirat. jika semuanya hanya berpusat dan bertujuan untuk dunia saja maka tidak aka nada apa-apanya.

Sebenarnya kita jika ingin menjadi muslim yang baik maka tidak perlu mempersiapkan segala sesuatu untuk dinikmati sampai 70 tahun, tapi berusahalah untuk mempersiapkan segala sesuatu supaya Allah ridha kepada kita dan kita bisa sampai pada derajat Mahmud.

Kamis, 12 Desember 2019 17:21

Kisah Nyata; Khasiat Membaca Basmalah 2

 

Khasiat Membaca Basmalah; Ketika Rasul saw masuk ke Kota Madinah, beliau dengan cepat mampu meninggikan bendera agama Islam. Salah satu dari Pembesar Madinah, Abdullah Ubai, membenci Rasul saw dan ia sangat ingin membunuh beliau.

Suatu hari, Abdullah mengundang Rasul dan para sahabat beliau untuk datang kerumahnya. Dihidangkanlah sejumlah makanan yang telah dicampuri dengan racun. Namun, Jibril memberikan kabar kepada Nabi saw bahwa makanan tersebut telah dibubuhi racun.

Setelah mendengar kabar dari Jibril, Nabi saw memerintahkan sayidina Ali bin Abi Thalib untuk memimpin doa sebelum makan. Dan sayidina Ali pun membaca basamalah disertai doa makan. Setelah selesai membaca doa, Nabi saw dan para sahabatnya menyantap jamuan yang telah dihidangkan dan setelah itu pergi.

Abdullah pun kaget, karena tak ada satu pun dari mereka yang kerancunan dan mati. Abdullah mengira kalau tukang masak lupa mencampurkan racun ke dalam masakannya. Ia dan teman-temannya pun memakan makanan tersebut dan menghabiskannya. Tak lama setelah itu mereka, bersama, pergi ke neraka Jahannam.

Kamis, 12 Desember 2019 17:20

Kisah Nyata; Khasiat Tulisan Basmalah

 

Dalam cerita di bawah ini, kalimah Bismillahirrahmanirrahiim mampu membuat seorang Kaisar yang dulunya bukan muslim menjadi seorang muslim. Penasaran ingin tahu bagaimana ceritanya, mari kita simak bersama-sama!

Suatu hari, Kaisar Rum menulis sebuah surat kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib kwz. Ia menulis bahwa kepalanya begitu sangat sakit dan para tabib istana tak mampu mengobatinya.

Khalifah pun mengirimkan sebuah topi untuk sang Kaisar dan menasihatinya untuk memakai topi tersebut tatkala kepalanya sakit.

Dan ketika sang Kaisar merasakan sakit kepala yang sangat, ia pun memakai topi yang diberikan Khalifah. Dengan izin dari Allah swt, sakit kepalanya pun mereda dan sembuh. Hal ini membuat takjub sang Kaisar, sehingga ia memerintah pengawalnya untuk mencari tahu apa yang ada di dalam topi tersebut.

Tatkala, topi itu terbelah, Kaisar hanya melihat secarik kertas bertuliskan Bismillahirrahmanirrahiim. Ketika ia mengetahui bahwa perantara sembuhnya penyakit yang dideritanya adalah nama Allah yang dituliskan dalam secarik kertas itu, ia pun memeluk islam namun secara sembunyi-sembunyi.

 

Pagi yang indah hari kedelapan dari bulan Rabi al-Thani tahun 232 HQ, kota Madinah diterangi oleh mentari Imamah. Rumah Imamah dan Wilayah tenggelam dalam kegembiraan karena kelahiran Imam Maksum ke-11, Imam Hasan al-Askari. Malaikat berbaris penuh keinginan untuk menyambut dan mengucapkan selamat atas bayi yang baru saja menginjakkan kaki ke dunia serta mengambil berkar dari Imam Maksum as.

Nama Imam Kesebelas adalah Hasan dan julukan paling terkenal adalah Abu Muhammad. Ayah beliau adalah Imam Hadi as, Imam Kesepuluh dan nama ibunya adalan Susan. Beliau jugabiasa dipanggil Hadi, Naqi, Rafiq dan Shamit. Sementara panggilan Askari juga digunakan bersama antara Imam Hadi as dan Imam Hasan Askari. Karena keduanya dipaksa tinggal di kota Samarra.


Keistimewaan Imam Hasan al-Askari as menunjukkan bahwa ia memiliki penampilan spiritual dan wajah bercahaya yang menarik. Ketika semua orang melihatnya, ia akan terpesona, menghormati dan memujinya. Meskipun pemerintah Abbasiah memusuhi Imam Hasan al-Askari, salah seorang menterinya mengakui kebajikan dan keramat Imam.

Ia berkata, "Saya tidak pernah melihat seorang seperti Hasan bin Ali di Samarra. Begitu berwibawa, suci dan menonjol. Saya tidak menemukan bandingannya di tengah masyarakat. Sekalipun masih berusia muda, Bani Hasyim selalu mendahulukannya dari tokoh-tokoh mereka yang telah berusia lanjut. Sedemikian tinggi posisinya, sehingga teman dan musuh mengenalnya."

Begitu juga dengan Abu al-Abbas al-Baktsir, ulama abad 10-11 bermazhab Syafi'i mengenai keagungan Imam Hasan al-Askari as menulis, "Hasan al-Askari seorang pribadi yang tinggi dan agung."

Pada usia 22 tahun, Imam Hasan Askari as mengambil alih Imamah dan membimbing masyarakat, sehingga dengan perintah Allah memimpin umat manusia di jalan terang kebenaran dan keadilan. Periode ini berlangsung enam tahun. Selama itu pula, ada banyak kesulitan dan hambatan bagi Imam Askari as. Karena para penguasa Abbasiah telah menciptakan banyak batasan dan hambatan baginya, sehingga beliau terpaksa seperti seorang yang diasingkan, sesuai dengan jadwal tertentu, pada hari-hari tertentu dalam sepekan harus hadir di istana Abbasiah.

Dengan demikian, sulit bagi pecinta Imam Hasan al-Askari as untuk berinteraksi dengannya. Karena alasan ini, Imam Askari as, seperti beberapa imam sebelumnya, menggunakan korespondensi dan perwakilan untuk berkomunikasi dengan Syiah. Untuk mempertahankan Syiah di berbagai bidang, Imam membentuk jaringan komunikasi yang kuat untuk menghubungkan kaum Syiah dengan Imam serta hubungan mereka satu sama lain, dan dengan demikian beliau tetap dapat memimpin dan mengorganisir mereka secara religius dan politis.


Di era Imam Hasan al-Askari as, dua kelompok bertugas menghancurkan Islam. Satu adalah kelompok pemerintah yang hanya namanya Islam tetapi tidak ada ajaran Islam di dalammya dan yang lainnya sekelompok orang yang berlebih-lebihan atau Ghuluw tentang pribadi Imam Askari as. Ghuluw berarti meninggikan dan melebih-lebihkan lebih dari batasnya. Ghuluw juga berarti keluar dari sikap moderat dan seimbang.

Setiap kali kata Ghuluw ini digunakan untuk kepercayaan agama, itu berarti bahwa manusia telah melampaui jauh dari apa yang ia yakini, dan ini termasuk Nabi Saw dan Ahlul Bait as. Ghulat adalah orang-orang yang mengenakan pakaian Syiah dengan mempromosikan kepercayaan palsu untuk merusak akar kepercayaan Syiah.

Salah satu metode Imam dalam menghadapi kelompl dengan akidah batil dan menyimpang adalah mencerahkan tentang mereka. Salah satu sahabat Imam Askari as menulis surat kepada beliau dan menjelaskan keyakinan salah seorang dari Ghulat yang terkenal pada masa itu dan menulis, "Aku sebagai tebusanmu. Tuanku, Ali bin al-Hasakah meyakini bahwa Anda adalah walinya yang juga Tuhan alam yang qadim. Ia mengaku seorang nabi yang ditugaskan oleh Anda untuk mengajak masyarakat meyakini Anda."

Setelah membaca surat itu, beliau menulis, "Ibnu al-Hasakah telah berbohong. Saya tidak mengakuinya sebagai sahabatku. Demi Allah! Allah tidak mengutus Muhammad Saw dan para nabi sebelumnya selain dengan ajaran tauhid, shalat, zakat, haji dan wilayah. Muhammad mengajak manusia kepada Allah Yang Maha Esa dan tidak memiliki sekutu, sementara kami sebagai penggantinya adalah hamba Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Ketika menaati Allah, kita akan mendapat rahmat dan ketika kita membangkang perintah-Nya, kita akan mendapat siksa dan azab. Saya berlepas tangan dari orang yang menyampaikan ucapan ini. Saya berlindung kepada Allah bahwa Allah akan melaknat mereka. Kalian juga harus menjauhi mereka, tekan mereka dan menyampaikan kebohongan mereka."

Di balik instruksi dan bimbingan spiritual serta pencerahan yang terus menerus dari Imam Hasan al-Askari as, orang-orang, terutama para pengikut Ahlul Bait, menjadi lebih sadar dan kohesif serta menjadi lebih kuat. Umat Islam yang sangat percaya bahwa kekuasaan Bani Abbas, seperti pemerintahan Bani Umayah adalah tidak sah dan menganggapnya sebagai hak Ahlul Bayt. Selama periode ini, Imam Askari bisa menghidupkan kembali banyak syiar-syiar keagamaan yang telah dilupakan oleh para penguasa. Beliau dalam sebuah hadis mengatakan, "Tanda-tanda orang beriman adalah lima hal; Pertama, shalat lima puluh satu rakaat (wajib dan sunnah dalam sehari dan semalam). Kedua: Ziarah Arbain Imam Husein as. Ketiga, memakai cincin di tangan kanan. Keempat, meletakkan dahi di atas tanah. Kelima, membaca Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim dengan bersuara."


Melaksanakan shalat sehari semalam sebanyak 51 rakaat shalat (shalat wajib lima waktu dan shalat sunnah) merupakan ciri orang Syiah yang dibawa Rasulullah Saw dalam misi Mikrajnya. Hal lain yang telah disebutkan dalam riwayat itu semuanya merupakan ciri pengikut Syiah. Karena hanya Syiah yang sujud di atas tanah. Sementara selain Syiah mengucapkan Basamalah tidak dengan bersuara. Memakai cincin di jari tangan kanan dan melakukan ziarah Arbain merupakan amalan sunnah bagi pengikut Syiah. Karena kebangkitan Imam Husein as selalu menjadi faktor tetap dan kehidupan Islam dan Syiah. Karenanya, Imam menetapkan ziarah Arbain sebaris dengan shalat wajib dan sunnah. Artinya, sebagaimana shalat adalah tiang agama dan syariat, ziarah Arbain dan peristiwa Karbala adalah tiang Wilayah.

Selama hidupnya yang penuh hasil, Imam Hasan al-Askari as selalu berusaha untuk meningkatkan pengetahuan Islam di tingkat masyarakat Islam. Salah satu gelar yang banyak dipakai untuk Imam Hasan al-Askari as adalah gelar "Faqih". Seperti yang Anda tahu, penyusunan mazhab fiqih Syiah di masa Imam Shadiq as dan kemudian melewati tahap-tahap kesempurnaan di bawah Imam Kazhim dan Imam Reza as. Imam Hasan al-Askari as membahas sebagian besar masalah baru yang menantang di zamannya.

Imam Askari juga mengumpulkan sejumlah buku fiqih dan prinsip hadis yang ditulis di masanya atau sebelumnya, menjadi bukti terima kasih beliau kepada penulis dan kolektor buku-buku ini. Pada hakikatnya, dengan tindakannya, Imam mengarahkan mazhab fiqih agar orang-orang, di masa kegaibannya, merujuk pada cendekiawan dan faqih yang dilatih di sekolah mereka dan menerima ajaran agama mereka. Dalam hadis dari Imam Askari as disebutkan, "Jadi siapa pun di antara para ahli fiqih yang menjaga dirinya, mempertahankan agamanya, melawan hawa nafsunya serta menaati perintah Tuannya, maka orang awam harus mengikuti dan mentaklidinya."

Di akhir artikel ini, sekali lagi kami mengucapkan atas kelahiran Imam Hasan al-Askari as dan mengajak Anda untuk mencermati wasiat beliau. Kepada para pengikutnya beliau berkata,"Saya mewasiatkan kalian dengan takwa ilahi, takwa dalam agama, berusaha di jalan Allah, jujur, menyampaikan amanat kepada pemiliknya, apakah dia orang baik atau buruk, memanjangkan sujud, berlaku baik dengan tetangga, dimana Rasulullah diutus kepada mereka. Ketika seseorang dari kalian bertakwa dalam agamanya, jujur dalam ucapannya dan perilakunya baik dengan masyarakat, mereka akan mengatakan, ia adalah seorang Syiah dan ini membuatku gembira. Karenanya, takutlah kepada Allah dan jadilah perhiasan kami, bukan duri mata kami. Setiap kebaikan yang kalian tarik ke arah kami dan menjauhkan segala keburukan dari kami. Selalu mengingat Allah dan jangan lupa kematian. Senantiasa membaca al-Quran dan menyampaikan shalat kepada Nabi Muhammad Saw. Karena shalat memiliki 10 kebaikan. Hapalkan wasiat-wasiatku. Saya menyerahkan kalian kepada Allah dan menyampaikan salam kepada kalian."

 

Iran adalah sebuah negara dengan peradaban kuno, di mana rakyatnya memiliki spirit perlawanan dan kearifan. Di sepanjang sejarahnya, Iran mengalami banyak pergolakan, tetapi bangsa ini dapat melewatinya dan selalu belajar dari setiap kegagalan. Mereka menjadikan kesuksesan sebagai bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Laju perkembangan Iran bergerak dengan cepat dalam satu dekade terakhir, terutama selama 40 tahun usia Revolusi Islam. Kekuatan, persatuan nasional, dan independensi Iran berada pada kondisi yang sangat baik.

Setiap kerusuhan yang melibatkan campur tangan asing, mampu diredam dengan cepat dan ini semua terjadi berkat kewaspadaan rakyat dan pasukan keamanan Republik Islam Iran.

Tanggal 21 Azar 1325 Hijriah Syamsiah (12 Desember 1946) diperingati di Iran sebagai hari kegagalan makar musuh yang merongrong integritas wilayah dan persatuan nasional Iran. Makar ini menargetkan pemisahan satu bagian dari wilayah Iran untuk digabungkan ke Uni Soviet.

Pada awal Perang Dunia II, Blok Sekutu termasuk Inggris dan Uni Soviet menduduki wilayah Iran kendati negara ini menyatakan tak memihak. Waktu itu, Uni Soviet menghadapi serangan besar-besaran dari Nazi Jerman, dan Blok Sekutu menggunakan wilayah Iran untuk mengirimkan logistik perang.

Azerbaijan terletak di barat laut Iran dan merupakan wilayah yang tak terpisahkan dari Republik Islam Iran.
Selama pendudukan Inggris dan Uni Soviet, rakyat Iran menderita kelaparan dan banyak kerugian jiwa dan materi. Dalam konferensi pers di Tehran pada 1943, pemimpin Inggris dan Soviet berjanji menarik pasukannya dari Iran enam bulan setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Pada 2 September 1945, perang mengerikan itu berakhir dan Inggris menarik pasukannya dari Iran. Namun, pemimpin Soviet Joseph Stalin menolak mundur dari Iran. Ia berusaha menguasai minyak Iran di utara dan memisahkan wilayah Azerbaijan di barat laut Iran.

Untuk mencapai tujuannya, pemerintah Soviet melalui antek-anteknya di Iran, mendirikan Partai Demokrat Azerbaijan yang dikepalai oleh Sayid Ja'far Pishevari, yang selama ini memimpikan wilayah otonom.

Rakyat Iran sedang menghadapi kesulitan ekonomi karena kelemahan pemerintah pusat dan dampak dari perang. Partai Demokrat Azerbaijan memanfaatkan situasi ini untuk menyuarakan dukungan kepada hak-hak etnis Azari, kaum lemah, dan para petani.

Kampanye ini membuat sejumlah masyarakat bergabung dengan Partai Demokrat Azerbaijan bentukan Soviet ini. Kekuatan inti kelompok ini berasal dari imigran Soviet yang memasuki Iran beberapa tahun sebelumnya dan mereka mendukung kebijakan-kebijakan Moskow. Pasukan Uni Soviet juga membantu kelompok separatis itu untuk memisahkan diri dari Iran dan mendirikan Republik Rakyat Azerbaijan.

Tak lama setelah dibentuk, para pemimpin Partai Demokrat Azerbaijan langsung mengumumkan rencananya dan mulai menduduki lembaga-lembaga utama pemerintahan di wilayah Azerbaijan. Mereka menguasai seluruh wilayah Azerbaijan pada akhir tahun 1945.

Partai Demokrat Azerbaijan kemudian membentuk pemerintahan dan parlemen yang otonom, dan memproklamirkan kemerdekaan dari Iran. Joseph Stalin kembali menegaskan tidak akan mundur dari Iran dan secara tidak langsung mendukung makar tersebut.

Separatisme yang didukung asing ini, membuat masyarakat nasionalis Azerbaijan tidak senang dan mereka turun ke jalan-jalan untuk melakukan protes. Terlebih Partai Demokrat Azerbaijan menganut ideologi komunis dan anti-agama, sementara masyarakat Azerbaijan berpegang teguh pada Islam.

Joseph Stalin.
Pemerintah Iran mengadu ke Dewan Keamanan PBB setelah Uni Soviet menolak menarik Tentara Merah dari Iran. Tapi langkah ini tidak membuahkan hasil karena kuatnya pengaruh Soviet di PBB. Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris tentu saja mengkhawatirkan pengaruh Soviet dan memberikan peringatan kepada Kremlin, tetapi Stalin tetap menyusun makar pemecahan wilayah Iran.

Dalam kasus ini, dunia internasional tidak memberikan tekanan yang cukup dan hal ini mendorong pemerintah Iran untuk membangun kontak dengan Uni Soviet. Perdana Menteri Iran waktu itu, Ahmad Qavam berkunjung ke Moskow untuk berunding dengan para pemimpin Partai Komunis dan berhasil mencapai kesepakatan awal.

Setelah kembali ke Tehran, Ahmad Qavam melanjutkan perundingannya dengan Duta Besar Uni Soviet di Tehran, Sadchikov dan pada akhirnya kedua pihak menandatangani sebuah kesepakatan yang dikenal Kesepakatan Qavam-Sadchikov.

Menurut kesepakatan ini, sebuah perusahaan minyak bersama antara Iran dan Soviet akan dibentuk. Di sisi lain, Soviet akan menarik pasukannya dari Iran dalam waktu 1,5 bulan. Moskow juga menerima bahwa kelompok separatis Azerbaijan adalah sebuah isu dalam negeri Iran, yang harus diselesaikan secara damai.

Dengan demikian, para pemimpin Soviet bersedia mencabut dukungan kepada kelompok separatis Azerbaijan dengan imbalan proyek minyak Iran. Namun, pembentukan perusahaan minyak bersama Iran dan Soviet ditolak oleh Parlemen Iran dan negara itu secara praktis gagal menguasai sumber-sumber minyak Iran.

Setelah pasukan Uni Soviet mundur, para pemimpin Partai Demokrat Azerbaijan mulai terlibat pembicaraan dengan pemerintah pusat Iran dan mereka tidak lagi mengejar rencana pemisahan diri dari Iran.

Masyarakat di kota-kota dan desa-desa Azerbaijan memulai kebangkitan untuk melawan pasukan Partai Demokrat Azerbaijan, yang mempromosikan ideologi komunis dan anti-agama. Kekuatan kelompok ini terus melemah dan dukungan Soviet kepada mereka juga menurun.

Pada Desember 1946, militer Iran dikerahkan ke Azerbaijan untuk menumpas pasukan Partai Demokrat Azerbaijan. Para pemimpin partai ini memerintahkan pasukannya melakukan perlawanan, tetapi mereka sendiri melarikan diri ke Uni Soviet dengan kendaraan yang disediakan oleh Moskow.

Para anggota Partai Demokrat Azerbaijan.
Masyarakat anti-kemerdekaan Azerbaijan membantu militer untuk menangkap pasukan Partai Demokrat Azerbaijan dan merebut kembali markas-markas penting kelompok itu. Militer Iran berhasil menguasai penuh Azerbaijan dan meredam gerakan separatisme dukungan asing di wilayah itu.

Makar pemisahan Azerbaijan dari Iran adalah sebuah pelajaran penting bagi orang-orang atau kelompok, yang ingin meraih tujuan jahatnya dengan mengandalkan dukungan asing.

Karena keberagaman etnis di Iran, negara asing selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk menciptakan kekacauan, perpecahan atau bahkan pemisahan wilayah.

Pada awal kemenangan Revolusi Islam, antek-antek asing di Iran juga melakukan pemberontakan etnis di beberapa wilayah dan berusaha memisahkan diri dari wilayah Iran. Namun, upaya itu tidak berlangsung lama karena mereka tidak didukung oleh rakyat.

Agresi tentara Saddam ke wilayah Iran juga terjadi dengan dukungan negara-negara Barat dan bertujuan untuk memecah sebagian dari wilayah barat daya Iran. Tetapi, skenario ini gagal berkat perlawanan gigih rakyat Iran dari semua kelompok etnis dan agama.

Masyarakat dari berbagai etnis dan agama di Iran, selalu mengidentifikasi dirinya sebagai rakyat Iran dan menyuarakan tuntutan mereka dalam kerangka kepentingan nasional negaranya. Persatuan, patriotisme, dan semangat anti-campur tangan asing rakyat Iran, selalu menjadi kunci untuk mempertahankan keutuhan negara di sepanjang sejarah. 

 

Pembunuhan terhadap umat Islam dan pembantaian mereka sesrta penindasan gerakan Islam di Nigeria telah meningkat terutama sejak 2011. Sejak itu, militer dan pemerintah Nigeria, dengan dukungan rezim Zionis Israel dan AS yang dibenci, telah meluncurkan langkah-langkah luas seperti penangkapan sewenang-wenang atas kaum Syiah.

Empat tahun telah berlalu sejak pembunuhan orang-orang Nigeria di Zaria. Pada 12 Desember 2015, lebih dari 1.000 warga Syiah Nigeria yang tidak berdosa gugur syahid oleh tentara Nigeria. Kisah sedih pembantaian dimulai ketika beberapa Muslim Nigeria di kota Zaria sedang mempersiapkan Huseiniyah Baqiyatallah untuk mengadakan acara berkabung atas kesyahidan Imam Reza as, imam kedelapan Syiah, yang tiba-tiba diserang secara brutal oleh tentara. Nigeria. Selain masyarakat biasa, beberapa anggota senior Gerakan Islam Nigeria, termasuk Sheikh Mohammed Turi, Dr. Mustafa Saeed (wakil dan dokter Sheikh Zakzaky) tewas dalam serangan itu.

Kemudian tentara membakar Huseiniyah. Militer Nigeria tidak cukup hanya mengakhiri pembantaian brutal hari itu, tetapi tetap melanjutkan kejahatan lain di hari-hari setelahnya. Mereka menyerbu rumah Sheikh Zakzaky keesokan paginya dan membantai orang-orang Muslim tanpa senjata hanya dikarenakan mendukung Sheikh Zakzaky di sekitar rumahnya. Orang-orang membela Sheikh Zakzaki dengan nyawa mereka. Karena sikap Sheikh Zakzaky adalah damai, baik dan tanpa kekerasan. Ia tidak pernah membiarkan ada sistem dan lingkaran keamanan atau penjagaan terhadapnya yang menggunakan senjata. Bagaimana pun juga, pasukan militer pertama-tama membakar rumah dan kemudian menyerang rumah mereka yang terbakar serta menewaskan banyak martir, dan melukai Sheikh Zakzaky.

Kejahatan brutal militer Nigeria terhadap Sheikh Zakzaky
Dalam serangan ini, tentara menggugursyahidkan tiga putra Sheikh Zakzaky di depan matanya. Sebelumnya, dan setahun sebelumnya dalam Pawai Akbar Hari Quds Sedunia, militer Nigeria membunuh tiga putra Sheikh Zakzaky lainnya dalam serangan terhadap demonstran, dan sekarang Sheikh telah kehilangan enam putra. Tentara tidak merasa cukup dengan melakukan ini dan menembaki istri Sheikh Zakzaky hari itu dan kemudian menembaki Sheikh Zakzaky dan secara serius melukainya.

Di tempat itu juga mereka langsung menangkap putri Sheikh Zakzaky dan secera brutal menyeretnya di atas tanah. Saudari terbesar Sheikh Zakzaky mengalami keguguran akibat dipukul tentara dan akhirnya gugur syahid. Sheikh Zakzaky dan istrinya akhirnya kemudian dipindahkan ke lokasi yang tidak diketahui. Tragedi kemanusiaan ini muncul ketika kebebasan beragama di Nigeria diberlakukan dalam hukum resmi Nigeria!

Sekarang pertanyaannya adalah, Muslim yang tidak punya senjata dan tidak punya rencana untuk menyerang, merusak dan memberontak! Dan apa dosanya sehingga mereka yang berkumpul di Huseiniyah untuk melaksanakan acara-acara keagamaan harus terbunuh dan terluka? Syekh Zakzaki, yang dikenal oleh semua orang sebagai karakter bermoral tinggi, yang perilakunya damai dan bebas dari kekerasan, mengapa sampai sekarang ia masih dalam siksaan dan penjara?

Pertanyaan-pertanyaan ini dan ratusan pertanyaan lain tentang kejahatan terhadap Muslim di Nigeria telah diajukan dan sejauh ini tidak ada jawaban yang diterima dari militer dan pemerintah Nigeria. Komunitas internasional, yang telah membisu dan memboikot berita terhadap Muslim, sejauh ini tidak mengambil tindakan dan bahkan belum mengeluarkan pernyataan yang mengutuk perlakuan brutal pemerintah Nigeria terhadap Muslim. Menurut Associated Press, hanya ada segelintir aktivis hak asasi manusia yang menuduh tentara Nigeria telah membunuh ratusan orang pada 5 Desember tahun itu. Menurut laporan mereka, korban tewas hampir seribu telah dijuluki "pembantaian Muslim" di Zaria

Serangan ke rumah Sheikh Zakzaky pada tahun 2015
Suhaila Zakzaky, putri Sheikh Zakzaky pada sebuah pertemuan di Tehran pada peringatan ulang tahun keempat tragedi itu mengatakan, "Empat tahun lalu, tentara Nigeria secara tidak manusiawi membunuh lebih dari 1000 orang tak bersalah, termasuk 297 wanita, 23 wanita hamil, 548 pria dan 193 anak-anak. Tentara membantai 39 keluarga secara keseluruhan. Mereka melakukan banyak tindakan keji, termasuk membakar bangunan dan manusia hidup-hidup dan membunuh bayi.

"Semua kekejaman ini, seperti yang diklaim oleh tentara, adalah reaksi terhadap upaya pembunuhan komandan militer, yang sekarang lebih jelas dari sebelumnya bahwa itu hanyalah tindakan yang direncanakan dan dikelola untuk membunuh Sheikh Zakzaky dan banyak pengikutnya agar mungkin mereka dapat melakukan langkah-langkah untuk memusnahkan Gerakan Islam Nigeria," tambah Suhaila.

Putri Sheikh Zakzaky juga menyebutkan kondisi buruk Sheikh Zakzaky dan ibunya, "Kondisi kesehatan ayah dan ibuku setiap hari semakin memburuk. Karena dalam peristiwa serangan ke Zaria mengalami luka yang parah dan masalah ini terus berlanjut, bagi pemerintah juga jelas. Masalah Sheikh Zakzaky membuatnya beberapa kali mengalami stroke dan kondisinya istrinya sedemikian rupa, sehingga kesulitan untuk berjalan. Baru-baru ini terungkap bahwa selain berbagai masalah yang dimilikinya, Sheikh Zakzaky juga mengalami keracunan yang hebat. Pada beberapa hari ini, Sheikh dipindahkan ke penjara yang telah terpolusi dan seakan-akan mengalami penyiksaan baru dan kezaliman dalam keheningan.

Permusuhan tentara dan pemerintah Nigeria dengan Sheikh Zakzaki, Pemimpin Gerakan Islam Nigeria adalah karena mereka menganggap "Gerakan Islam Nigeria" sebagai gerakan politik. Nigeria adalah negara dengan populasi terpadat di Afrika dan negara dengan jumlah penduduk ke-10 di dunia dengan populasi lebih dari 170 juta dan 50% dari populasi adalah Muslim. Dengan meningkatnya populasi Syiah di Nigeria, rezim Zionis dan Arab Saudi menakut-nakuti pemerintah Nigeria dari revolusi Syiah dan dengan bantuan keuangan dan militer meluncurkan kelompok teroris ISIS untuk menekan Muslim.

Kelompok teroris ini membunuh Muslim dengan mengerikan. Pembunuhan Muslim dan pembantaian mereka serta penindasan Gerakan Islam di Nigeria telah meningkat terutama sejak 2011. Sejak itu, militer dan pemerintah Nigeria, dengan dukungan rezim Zionis Israel dan AS yang dibenci, telah meluncurkan langkah-langkah luas seperti penangkapan sewenang-wenang atas kaum Syiah. Para pengikut Syiah dibantai selama penahanan mereka, penyiksaan, dan tanpa menjalani proses sistem peradilan.

Pemindahan Sheikh Zakzaky dan istri untuk pengobatan
Langkah-langkah ini terpisah dari serangan teroris Boko Haram yang didanai Saudi terhadap warga Syiah Nigeria. Dengan demikian, tindakan luas oleh pemerintah pusat Nigeria dan yang menyertai beberapa negara, seperti AS, Arab Saudi dan rezim Zionis terhadap Syiah Nigeria, dimulai dengan tujuan memusnahkan Syiah di wilayah tersebut sampai terjadi tragedi kemanusiaan pada tahun 2015.

Penangkapan Sheikh Zakzaky dengan dalih yang dibuat-buat juga merupakan rencana yang ditentukan sebelumnya, dikoordinir oleh penjahat Saudi dan Zionis Israel yang disertai keterlibatan AS untuk menghancurkan Gerakan Islam Nigeria. Mereka terkejut dengan penyebaran Gerakan Islam Nigeria di utara negara ini dan bahkan di negara-negara sekitarnya, sehingga mengagendakan pembunuhan dan penghancuran umat Islam.

Sementara itu, Gerakan Islam Nigeria adalah gerakan agama dan budaya dan secara politis menentang rezim pembunuh anak-anak Zionis Israel. Sikap politik paling penting dari Gerakan Islam Nigeria adalah untuk menuntut agar hubungan Nigeria dengan rezim Zionis terputus. Dalam konteks hubungan khusus inilah militer Nigeria menekan Pawai Akbar Hari Quds Sedunia 2014 yang menewaskan 33 orang, termasuk tiga anak Sheikh Zakzaky.

Pada akhir 2015, ketika Sheikh Zakzaky dalam sepucuk surat yang dikirim kepada pemerintah pusat menyerukan dan menekankan diakhirinya hubungan dengan Zionis Israel, tetapi tanggapan pemerintah adalah menumpahkan darah sekitar 1.000 syahid dan menghancurkan Huseiniyah Baqiyatallah di Zaria! Dalam sebuah wawancara pada saat itu, Sheikh Zakzaky mengatakan, "Pemerintah pusat adalah hasil didikan Barat yang haus akan minyak Nigeria."

Sheikh dan istrinya sekarang berada dalam kesulitan dan pemenjaraan mereka telah menyebabkan protes Muslim di Nigeria dan negara-negara lain. Tetapi para pejabat asli hak asasi manusia yang selalu selaras dengan kebijakan AS dan rezim perampas kekuasaan Zionis Israel terus tetap diam sampai pria hebat ini terbunuh dalam keheningan media dan tidur nurani. Namun jalannya tidak pernah gagal dan tetap ada di hati.

Kamis, 12 Desember 2019 15:53

Ayatullah Syahid Dastaghib

 

Ulama dalam Islam memiliki tempat yang menonjol dan berharga dan ulama hakiki adalah penerus Nabi Saw dalam menyebarkan agama dan menerapkan perintah ilahi. Namun dalam al-Quran dan hadis, ulama yang tidak mempraktikkan ilmunya sendiri telah sangat dicela. Sejatinya, menurut agama Islam, ilmu yang tidak memiliki efek pada perilaku dan kehidupan manusia, bukan hanya tidak berharga tetapi juga menyebabkan azab dan penderitaan di akhirat.

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Waspadalah jangan sampai engkau menjadi orang yang membimbing orang-orang untuk berbuat baik dan menginstruksikan mereka untuk berbuat baik, sementara ia sendiri lalai akan kebaikan itu. Karena Allah Swt berfirman, 'Apakah Anda memerintahkan orang untuk berbuat kebaikan, sementara Anda melupakan diri sendiri."

Keberadaan ajaran yang tercerahkan seperti itu dalam agama Islam telah membuat sejarah Islam di setiap zaman menyaksikan eksistensi para cendekiawan yang tidak hanya pengetahuannya yang menjadi penerang jalan bagi orang-orang, tetapi juga saat-saat hidup mereka, perbuatan serta ucapan mereka mencontohkan manusiapencarikebenaran dan pencari Allah. Syahid Ayatullah Dastaghib seorang ulama besar Iran dan salah satu contoh ilmu dan amal yang kemudian gugur syahi di hari-hari seperti ini.

Ayatullah Syahid Dastaghib
Syahid Sayid Abdolhossein Dastaghib Shirazi, yang dikenal di Iran sebagai Syahid Mihrab, adalah seorang ulama yang menonjol dan seorang mujahid yang tak kenal lelah. Warga Muslim Iran sangat menyukainya dan beliau juga dihormati oleh para ulama dunia Islam. Syahid Dastaghib lahir pada 19 Desember 1914 yang bertepatan dengan tanggal 18 Azar 1332 HS, pada malam Asyura, itulah sebabnya ia dinamai Abdolhossein. Keluarganya termasuk keturunan sayid dan silsilahnya sampai kepada Imam Husein as dengan 33 perantara. Ayahnya juga seorang alim terkemuka, dan di bawah pengawasannya, Sayid Abdolhossein menyelesaikan studi dasarnya dalam ilmu-ilmu Islam, kemudian melanjutkan belajar di Hauzah Ilmiah di Shiraz, dan pada saat yang sama terlibat dalam tablig agama dan bimbingan masyarakat.

Syahid Ayatullah Dastaghib memberikan perhatian khusus pada pensucian diri saat mempelajari ilmu-ilmu agama, dan untuk alasan ini ia menunjukkan efek cahaya ibadah dan peningkatan diri dari masa mudanya. Mensejajarkan ilmu dan amal pada diri ulama terkemuka ini, menjadikannya tokoh berpengaruh dan pemberani yang merupakan tempat perlindungan bagi penderitaan dan menjadi yang terdepan dalam menghadapi rezim despotik Pahlavi di Iran. Ketika Reza Shah Pahlavi memerintahkan untuk membuka jilbab di Iran, Ayatullah Dastaghib secara terbuka menentangnya. Agen-agen rezim berulang kali memenjarakannya dan akhirnya mendeportasinya ke Najaf Asyraf.

Syahid Sayid Ayatullah Abdolhossein Dastaghib Shirazi
Selama tujuh tahun tinggal di sekitar komplek makam suci Imam Ali bin Abi Thalib as, ia melanjutkan untuk belajar dan mencapai tingkat pencapaian ilmiah dan spiritual yang tinggi, dan pada usia muda mencapai tingkat ijtihad dari otoritas besar pada waktu itu. Selama waktu ini, ia mendapat perhatian dari para guru besar sair dan suluk, termasuk Ayatullah Qadhi. Kemudian ia kembali ke Shiraz atas saran salah seorang gurunya untuk melayani Islam dan Muslimin.

Karena pencapaian Ayatullah Dastaghib dalam kompetensi ilmiah dan spiritual, tidak lama kemudian banyak orang berbakat berkumpul di sekitarnya dan ia melatih mereka dengan pelajaran etika dan tafsir. Upaya kerasnya dalam membangun masjid dan sekolah hauzah mengejutkan semua orang. Secara luas terlihat bahwa, terlepas dari otoritas ilmiah dan irfan, seperti seorang pekerja ia ikut memperbaiki masjid atau bangunan sekolah agama. Orang-orang datang membantu ketika mereka melihat ketulusan dan kesederhanaan ini, dan pekerjaan itu berakhir.

Ketika Imam Khomeini ra menyampaikan perlawanannya terhadap Shah secara terang-terangan, Ayatullah Dastaghib mendukung Imam dan tujuannya dengan sepenuh hati dan dipenjara beberapa kali, tetapi setiap kali setelah pembebasannya ia dengan berani menempuh jalan untuk melanjutkan upaya memerangi pemerintah boneka Pahlavi. Reza Shah dan putranya melakukan rencana yang didiktekan Barat untuk mendeislamisasi negara dan memasukkan budaya Barat ke Iran. Tindakan anti-Islam rezim Pahlavi, kekejaman dan ketidakadilan dan ketergantungan terhadap Barat dan Timur pada pemerintah selalu diprotes oleh orang-orang dan para ulama.

Ayatullah Dastaghib selalu berada di garis terdepan perjuangan ini. Setelah kemenangan Revolusi Islam, ia ditunjuk oleh Imam Khomeini sebagai "Imam Jumat Shiraz" dan wakil Rahbar di provinsi itu. Ketegeran Ayatullah Dastaghib dalam membela Islam dan Revolusi Islam serta keberaniannya dalam mengungkap hasutan musuh-musuh terhadap revolusi membuat musuh-musuh tidak dapat mentolerir keberadaannya dan melaksanakan rencana pembunuhan terhadapnya pada 1981. Akhirnya, Ayatullah Dastaghib gugur syahid dalam perjalanan pulang dari shalat Jumat dalam serangan bom bunuh diri pada 20 Azar 1360 HS yang bertepatan dengan 14 Shafar 1402 HQ (11 Desember 1981).

Manusia seperti Ayatullah Dastaghib tidak dapat digambarkan hanya sebagai "seseorang" yang hidup untuk sementara waktu dan kemudian dimakamkan di bawah tanah. Waktu dan ruang tidak memiliki kekuatan untuk membatasi karakter tersebut. Meskipun banyak orang di dunia mungkin tidak pernah mendengar namanya, sejarah umat manusia, tidak diragukan lagi, berutang pada kesempurnaan manusia, berkat keberadaan manusia yang sempurna seperti Syahid Dastaghib. Mengetahui karakteristik orang-orang seperti itu dapat membuat jalan kita menuju kesempurnaan lebih mudah.

Syahid Ayatullah Dastaghib seorang orator yang sangat berpengaruh dan efektif. Kelas-kelas kuliah etikanya dipenuhi dengan orang-orang muda yang ingin mendengarkan pelajaran dan diskusinya. Sering terjadi bahwa mereka yang memiliki masa lalu yang tidak pantas akan mendengar kuliah etikanya dan bertaubat. Salah satu alasan pengaruh kata-kata Ayatullah Dastaghib ada pada pembersihan diri dan kemurniaannya dari sifat-sifat buruk akhlak. Sebelum Ayatullah Dastaghib mengajak mereka kepada akhlak Islam, hukum agama, ia terlebih dahulu telah melatih dan membersihkan dirinya. Pada dasarnya, perbuatannya mengajak semua orng kepada takwa.

Imam Sadiq as mengatakan, "Sesungguhnya jila seorang alim tidak mengamalkan ilmunya, maka nasihatnya hanya melewati hati dan tidak menembusnya, sebagaimana air hujan yang hanya melewati batu yang tidak bisa ditembus."

Syahid Dastaghib bukan hanya seorang  ulama terkemuka dan seorang pejuang yang berani dan terampil, tetapi juga seorang tokoh irfan yang telah mencapai derajat yang tinggi. Ayatullah Dastaghib belajar pada guru-guru besar ahli irfan Islam dan keseriusan mereka dalam pensucian diri, sehingga mengantarkan Ayatullah Dastaghib meraih derajat yang tinggi, sehingga terkadang masyarakat dan keluarga dekatnya bingung. Dikatakan bahwa sering terjadi ada seseorang akan datang ke Ayatullah Dastageib untuk menyelesaikan masalahnya dan sebelum ia menyampaikan masalahnya, ia telah mendapatkan solusinya dari beliau.

Salah satu kerabatnya mengatakan, "Saya kadang-kadang pergi menemuninya dan kesal tentang suatu masalah, meskipun saya tidak berbicara dengan beliau, tetapi terkait subjek yang sama yang saya khawatirkan, beliau mengutip dan berbicara tentang sebuah ayat atau hadis atau anekdot. Itu membuat saya rileks. Beliau punya hubungan khusus dengan Allah." Teman-teman dan kerabatnya percaya bahwa beliau menyadari kesyahadahannya bertahun-tahun sebelumnya dan mengutip bahwa pagi hari syahadah hingga saat bom meledak, beliau selalu mengucapkan zikir Laa Ilaaha Illallaah dan Inna Lillaahi wa Inaa Ilahi Raajiuun.

Syahid Dastaghib bersama anak dan sejumlah sahabat di sebuah acara di Shiraz
Syahid Dastaghib memberikan perhatian khusus pada shalat di awal waktu, shalat tahajud dan terjaga di malam hari dengan doa dan ibadah. Salah satu anaknya berkata, "Ayah saya menghabiskan banyak hari musim panas dengan berpuasa pada malam musim dingin dengan beribadah sampai pagi hari. Saya tidak lupa bahwa ketika masih kecil, terkadang saya akan bangun di tengah malam dan mendengar suara munajatnya dalam sujud. Saya berpura-pura tidur tetapi saya mendengarkan bisikan doa yang disertai tangisan dan tetesan air matanya."

Ayatullah Dastaghib menjalani kehidupan sederhana yang jauh dari glamor, memiliki sebuah rumah kecil dengan perabotan sederhana di gang-gang tua Shiraz yang berliku dan berniat untuk berada di antara orang-orang, dengan mengatakan, "Saya dulu bersama masyarakat dan hingga akhir nafasku akan tetap bersama mereka serta berbagi dalam kesulitan dan kegembiraan dengan mereka."

Di antara ciri-ciri utama Syahid Dastaghib adalah etika yang baik dan wajah yang selalu tersenyum dan beliau mereka mempertahankan kualitas keluarga dan komunitas yang baik dengan istri dan anak-anaknya yang lembut. Putri beliau berkata, "Ketika ia membangunkan saya untuk shalat subuh, ia pertama-tama akan mengetuk pintu dan memanggil saya gelar yang indah ini Nona Beheshti! Nona Beheshti! Saatnya melakukan shalat! Di pagi hari, dia akan berjalan dan membeli roti lalu pulang, kemudian menyiapkan teh dan sarapan dan memanggil kita untuk sarapan bersama."

Itu adalah bagian dari karakter hebat manusia yang menghiasi ilmu agama dengan perbuatan baik dan saleh. Syahid Dastgheib di bidang keilmuan adalah seorang mujtahid dan bidang irfan dan akhlak memiliki keramat, sementara di bidang perjuangan adalah seorang mujahid tak kenal lelah. Di tengah masyarakat, ia menjadi tempat rujukan yang aman bagi segala permasalahan mereka. Dalam kutipan dari surat wasiatnya, "... Selalu ingat Tuhan, jangan sampai ada kewajiban yang terlewatkan dan melakukan haram. Jadikan dunia sebagai persimpangan dan akhirat sebagai tempat tinggal..."

 

Hari ini, 10 Desember 2019 menjadi tahun kedua deklarasi kemenangan Irak atas kelompok teroris Daesh, yang dinamai "Yaum Al-Nasr" atau "Hari Kemenangan".

Mantan Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi  mencanangkan tanggal 10 Desember 2017, sebagai hari  pembebasan wilayahnya dari kelompok teroris Daesh. Pemerintah Irak juga mengumumkan pada tanggal tersebut sebagai hari libur nasional negaranya yang menamainya  sebagai "Yaum al- Nasr" atau "Hari Kemenangan".

Daesh memasuki Irak pada 10 Juni 2014, dan dalam waktu singkat mengumumkan jatuhnya Mosul ke tangan kelompok teroris ini. Ada banyak faktor yang menyebabkan mengapa Daesh bisa memasuki Irak tanpa perlawanan sengit. Tetapi salah satu alasan utamanya adalah pengkhianatan sejumlah pejabat politik dan keamanan Irak.

Irak memiliki tentara, tetapi secara praktis menjadi entitas yang lemah sebagai akibat dari kehadiran pasukan AS di negara Arab ini. lemahnya pasukan bersama dengan pengkhianatan sejumlah pejabat tinggi Iran, terutama gubernur Nineveh, menyebabkan Daesh memasuki Mosul tanpa pertumpahan darah dan perang.

Beberapa media Irak menulis, "Gubernur Nineveh Atheel al-Nujaifi telah memerintahkan agar tidak ada tentara yang memerangi Mujahidin [ia menyebut teroris Daesh sebagai mujahidin], dan tidak boleh ada pegawai pemerintah yang memerangi Mujahidin ".

Koran Financial Times mengutip statemen sejumlah warga Iran beberapa hari setelah jatuhnya Mosul melaporkan, "Gerakan Daesh di Mosul sepenuhnya dapat diprediksi oleh penduduk kota ini, dan pengkhianatan sejumlah tentara dan politisi berpengaruh terhadap pendudukan kota tersebut."

Seiring dengan pengkhianatan tersebut, banjir dukungan dari beberapa aktor asing juga memainkan peran penting dalam pendudukan berbagai wilayah Irak oleh kelompok teroris Daesh. Sejumlah negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat dan Turki, bersama dengan rezim Zionis mendukung kehadiran Daesh di Irak. Salah satu alasan dukungan tersebut, karena mereka tidak puas dengan naiknya pengaruh Syiah di Irak dan melihat melemahnya pemerintahan yang tidak sejalan dengan kepentingannya. 

Isu penting dari peringatan dua tahun pembebasan Irak dari cengkeraman Daesh mengenai potensi bahaya kembalinya kelompok teroris di Irak di tengah situasi keamanan yang tidak stabil. Masalahnya, para pengkhianat bersama unsur-unsur internal seperti Baath berkolaborasi dengan aktor-aktor asing, terutama AS untuk menciptakan kembali kelompok teroris semacam Daesh. Melemahnya pemerintahan pusat Baghdad pada tahun 2014 dijadikan jalan bagi kemunculan Daesh di Irak. Kini, skenario yang sama sedang dijalankan dengan melemahkan institusi negara, terutama kevakuman kekuasaan di Irak. 

Penumpasan kelompok teroris Daesh di Irak tidak bisa dilepaskan dari peran otoritas keagamaan negara ini, terutama Ayatullah Sistani yang mengeluarkan fatwa bersejarah untuk membentuk gerakan rakyat, Al-Hashd al-Shaabi demi memerangi kelompok teroris Daesh.

Al-Hashd Al-Shaabi memainkan peran penting selama tiga setengah menumpa kelompok teroris Daesh. Bahkan, dengan tidak adanya pasukan yang kuat, gerakan rakyat yang melibatkan seluruh elemen bangsa dari Syiah hingga Sunni mengambil peran utama dalam menghadapi Daesh dan menjaga integritas teritorial Irak.

Pemerintah AS juga membentuk koalisi internasional anti-ISIS, tetapi kinerjanya menunjukkan bahwa mereka tidak serius menumpas kelompok teroris. Mereka hanya ingin melemahkan dan mengendalikannya saja. Para pejabat AS secara resmi mengumumkan waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan Daesh dari Irak setidaknya menelan waktu 10 tahun. 

Berbagai laporan membeberkan fakta megenai peran AS yang memindahkan komandan Daesh dari satu tempat ke tempat lain. Sementara itu, selama beberapa hari terakhir perang melawan Daesh, AS justru membombardir pasukan Irak dan warga sipil di Mosul, dan menebarkan agitasi di kancah internasional untuk melemahkan pemerintah Irak.

Jelas sekali isu penumpasan total Daesh dari Irak bukanlah tujuan AS dan koalisi internasional anti-ISIS yang dipimpinnya. Oleh karena itu, mereka menempuh segala cara termasuk melakukan kampanye melawan Al-Hashd Al-Shaabi, terutama dengan menebar kebohongan dan propaganda sektarian terhadap gerakan perjuangan rakyat yang jelas-jelas berperan besar dalam memerangi kelompok teroris Daesh itu. 

Kini, setelah dua tahun berlalu sejak kekalahan Daesh di Irak, tujuan itu masih dikejar oleh AS dan sekutunya untuk menghancurkan Al-Hashd al-Shaabi. Mereka memanfaatkan situasi nasional Irak yang menghadapi masalah ekonomi dan sosial. Rakyat Irak mengeluhkan kondisi kehidupan yang buruk, memburuknya pelayanan sosial dan merebaknya korupsi. Isu ini dipakai oleh pihak oposisi untuk menargetkan penghancuran Al-Hashd al-Shaabi, yang baru berusia lima tahun. Situasi ini membuktikan bahwa permusuhan mereka dengan Al-Hashd al-Shaabi belum berakhir. Dalam hal ini, Departemen Keuangan AS Jumat lalu memboikot tiga pemimpin senior Al-Hashd Al-Shaabi.

Pelemahan pemerintahan dan otoritas keagamaan marjaiyah Irak juga menjadi agenda terselubung mereka. Padahal Marjaiyah selalu mendukung kepentingan rakyat dan tuntutan rasional mereja yang disampaikan secara damai, tapi aksi unjuk rasa ini ditunggangi oleh pihak tertentu demi mewujudkan kepentingan ilegal mereka di Irak.  Marjaiyah dan Al-Hashd al-Shaabi, sebagai dua pendukung utama stabilitas dan keamanan di Irak, telah menjadi target serangan terorganisir selama demonstrasi baru-baru ini di Irak.

Daesh telah berada di Irak selama tiga setengah tahun. Efek dari "monster yang dibuat oleh pemerintah AS" ini, juga diakui oleh Donald Trump dan Hillary Clinton. Mereka menyebut kelompok teroris ini telah berada di Irak selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

Daesh menjadi momok menakutkan bagi warga Irak dan masyarakat dunia. Ribuan warga Irak terbunuh dan terluka serta jutaan warganya mengungsi untuk menyelamatkan diri. Selain itu, banyak wanita diperkosa, infrastruktur kehidupan, terutama pertanian Irak dihancurkan, dan struktur politik, ekonomi, sosial dan budaya Irak secara keseluruhan porak-poranda. Kerusakan akibat kehadiran kelompok teroris Daesh di Irak dan Suriah ditaksir lebih dari  500 miliar dolar.

Terlepas dari pengalaman pahit ini, bagaimanapun, ada kekhawatiran serius mengenai ancaman naiknya Daesh  di Irak, dan para pejabat negara ini  telah memperingatkan bahaya besar itu.

Selain pengkhiatan aktor lokal dan dukungan eksternal, alasan lain  kekhawatiran naiknya Daesh berhubungan dengan masih adanya milisi kelompok teroris ini di beberapa bagian Irak yang terus mencari peluang untuk melakukan operasi teroris dan menyebarkan kekerasan di Irak.

Majalah The Atlantic  edisi September 2018 menurunkan sebuah laporan berjudul "Masa Depan ISIS di Irak" yang memperingatkan kemunculan kembali Daesh. Salah satu tanda serius ancaman tersebut adalah pembunuhan sejumlah kepala suku di Irak. Sejak April hingga September 2018, rata-rata tiga kepala suku dibunuh oleh Daesh setiap pekan. Dengan kata lain, meskipun Daesh sebagai kelompok terorganisir di Irak telah dimusnahkan, para anggota dan pendukungnya terus melakukan gerakan teroris dan mencoba mengeksploitasi kevakuman kekuasaan saat ini. Tetapi Al-Hashd al-Shaabi yang berdiri untuk memerangi kelompok teroris Daesh, kali ini tidak akan tinggal diam untuk mencegah kemunculannya kembali di Irak.(

Kamis, 12 Desember 2019 15:50

Mengenal Perempuan dalam Al-Quran (5)

 

Kisah-kisah indah dan memuat pelajaran dalam al-Quran memanifestasikan seni ilahi. Allah Swt menjelaskan banyak pengertian dan peristiwa dengan bahasa seni, sehingga manusia dapat memahaminya dengan baik.

Dalam kisah-kisah al-Quran terkait para perempuan terpilih dan istimewa, kita temuak mereka memiliki kecerdasan dan kemampuan hakikat yang sulit. Mereka telah mencapai derajat, sehingga dapat menyelesaikan masalah dan fenomena sosial dan politik, bahkan ketika otak dan pemikir besar masa itu tidak mampu memahami dan mempertanyakan pandangan mereka.

Salah satu nama perempuan terpilih dalam al-Quran adalah Balqis, putri Syurahbil, keturunan raja negara Saba, bagian dari Yaman saat ini, yang memiliki kekuasaan sangat luas. Sejarah mencatat singgasana legendaris bagi perempuan ini dan dikatakan bahwa ia bersama kaumnya sebelum beriman kepada Allah Yang Esa adalah penyembah matahari.

Reruntuhan istana Ratu Saba di dekat kota kuno Marib, Yaman
Dalam kisah Balqis, dipertunjukkan seorang perempuan yang berpikir jauh. Perempuan yang berkuasa di sebuah masyarakat dan ketika cahaya hakikat menerpanya, ia menuntun rakyatnya untuk mengikutinya. Kisah ini menunjukkan bahwa setiap kali seseorang jauh dari keangkuhan dan cacat pikir, ia dapat berserah diri dihadapan hakikat dengan cahaya akal dan imannya, sehingga menjadi manusia yang beruntung.

Di antara para utusan Allah, Nabi Dawud dan Sulaiman as termasuk pada nabi yang memiliki kekuasaan yang besar. Dalam surat al-Naml disebutkan, Nabi Sulaiman as mewarisi kekuasaan Nabi Dawud as dan memiliki ilmu pengetahuan dan derajat yang luar biasa. Beliau mengetahui bahasa hewan, khususnya burung dan kekuasaannya sangat luas, tidak hanya berkuasa pada manusia, tetapi juga menguasai kekuatan alam, seperti angin.

Nabi Sulaiman termasuk para nabi yang dianugerahkan kenabian dan kekuasaan. Bahkan beliau memiliki kemampuan memerintahkan angin dan unsur-unsur alam. Beliau memahami bahasa hewan dan burung, dimana mereka juga mengetahui keagungan kekuasaan Sulaiman. Al-Quran mengutip kehidupan Nabi Sulaiman dengan pelbagai peristiwa yang patut didengarkan. Salah satu kisah yang disebutkan al-Quran adalah kisah Balqis, Ratu Saba dan bagaimana ia beriman.

Nabi Sulaiman as bersama rombongannya tengah berjalan pulang ke Syam setelah melakukan ziarah ke Ka'bah dan tiba di gurun pasir yang kering. Nabi Sulaiman meminta agar dihadirkan burung Hud Hud agar mencari air, tapi beliau memahami Hud Hud tidak ada. Nabi Sulaiman as bertanya, "Mengapa saya tidak melihat Hud Hud? Bila ia kembali, saya akan memberi sanksi yang berat, kecuali ia dapat memberikan alasan yang benar."

Hud Hud benar-benar terlambat datang, sehingga tidak ada yang berani untuk berbicara. Ketika Hud Hud tiba, sebelum Nabi Sulaiman membentaknya, ia berkata, "Wahai Nabi Allah! Saya memiliki satu masalah yang tidak engkau ketahui dan ilmu serta kekuasaanmu tidak dapat mengetahuinya. Ada tanah air bernama Saba. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk." (QS. al-Naml: 23-24)


Mendengar berita itu, Nabi Sulaiman as terkejut dan berkata, "Saya akan mengkaji kebenaran berita ini. Bila hakikat sesuai dengan yang engkau jelaskan, bawakan surat saya kepadanya dan kembali dengan jawaban darinya."

Balqis, Ratu Saba dengan hati senang dan duduk di singgasana istananya dengan aggun. ketika tiba-tiba dengan penuh keheranan ia melihat burung yang menjatuhkan sebuah surat kepadanya. Ia lantas membuka surat itu dan setelah membacanya, ia sempat termenung. Setelah itu ia mengangkat kepalanya dan berkata, "Wahai para pembesar! Ada surat penting yang sampai kepadaku. Surat ini dari Sulaiman. Di surat ini disebutkan, Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Jangan merasa lebih tinggi dariku dan taatilah aku."

Mendengar itu, para komandan pasukan Balqis marah. Sebagian dari mereka berkata, "Kita memiliki kekuatan dan kekayaan yang banyak dan kita mampu berperang melawannya." Sebagian lain mengatakan, "Wahai Balqis! Kami telah memilihmu sebagai pemimpin kami dan kami percaya akan kelayakanmu. Lakukan apa saja yang engkau anggap baik." Balqis berpikir keras. Ia berpikir agar tidak terjebak dengan kekuatannya dan pasukannya. Saat ini bukan tempatnya untuk bersikap egois. Menurutnya, "Kita harus menguji Sulaiman."

Balqis tidak terpedaya kekuatannya dan para pendukungnya. Ia berpikir dengan serius dan ingin bersahabat dengan Sulaiman serta hendak mengujinya. Ratu Saba ingin mengetahui apakah Sulaiman sebenarnya mengajak kepada Allah ataukah sama seperti para penguasa dunia lainnya yang setiap kali ingin melakukan ekspansi akan melakukan sesukanya. Dengan keputusan ini, ia menjelaskan pengalamannya akan peristiwa pahit yang terjadi pada bangsa-bangsa dan para raja sebelumnya seraya mengatakan, "Dia berkata, 'Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu." (QS. Al-Naml: 34-35)

Para nabi diutus untuk menyelamatkan manusia dan harta duniawi tidak berarti di mata mereka, bahkan dunia dengan segala fasilitasnya tidak pernah membohongi mereka. Tidak berapa lama, para utusan Balqis tiba menghadap Sulaiman dengan banyak hadiah. Sulaiman menerima kedatangan mereka dan mengatakan, "Apakah kalian ingin membantuku dengan harta. Apa yang dianugerahkan Allah kepadaku lebih banyak dan lebih baik dari yang diberikan kepada kalian, tapi kalian begitu bangga dengan hadiah kalian."

Ketika itu para utusan Ratu Saba berkata, "Sekarang kami akan kembali dan membawa pasukan menghadapi kalian, dimana kalian tidak punya kemampuan menghadapinya." Ketika Balqis mendengar Sulaiman tidak menerima hadiah-hadiah yang begitu banyak, ia langsung tersenyum dan melihat ke arah jauh. Para utusannya dengan keheranan bertanya, "Mungkinkah kami bertanya, apakah yang membuat Ratu gembira?" Balqis menjawab, "Sekarang saya memahami bahwa Sulaiman seorang pria yang benar dan hatinya suci. Sekarang kita harus segera menemuinya dan memahami agama barunya."

Hud Hud kemudian mengabarkan kepada Sulaiman bahwa Balqis akan menemuinya. Sulaiman berkata kepada mereka yang ada di sekelilingnya, "Balqis adalah seorang wanita yang cerdas. Saya harus menunjukkan kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya dan ia merasa yakin akan kejujurannku dalam urusan kenabian. Siapa yang dapat membawa singgasananya, sebelum ia sampai di sini. Singgasana yang merupakan contoh dari kebesaran kekuasaannya?"

Asif ibn Barkhiya yang menguasai ilmu kitab berkata, "Saya akan membawanya kepadamu dalam hitungan kedipan mata." Ketika Sulaiman melihat singgasana itu, beliau langsung tertunduk dan berkata, "Ini merupakan anugerah Allah agar mengujiku apakah aku bersyukur atau justru mengingkarinya. Barangsiapa yang bersyukur, maka kesyukuran itu akan kembali kepadanya dan menguntungkannya."

Setelah itu Sulaiman berkata, "Ubahlah singgasana Balqis agar kita bisa mengetahui apakah ia memahami ataukah ia orang yang tidak akan mendapat hidayah." Ketika Balqis dan rombongannya tiba, mereka takjub akan keagungan Sulaiman. Pada waktu itu, Sulaiman bertanya kepadanya, "Apakah singgasanamu seperti ini?" Balqis yang masih dipenuhi keheranan mengatakan, "Sepertinya ini milikku." Sulaiman kemudian mengantarnya ke istana kaca.

Ketika Balqis memasuki istana kaca, ia menyingkap kain yang menutupi kakinya agar dapat melewati air. Sulaiman mengatakan, "Ini bukan air, tapi fatamorgana yang transparan dari kaca. Pada waktu itu juga Balqis menepis tirai kelalaian dan menangkap keagungan ilahi. Setelah itu ia berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-Naml: 34)

Dengan demikian, Balqis dengan pemahamannya menyingkirkan kekuguran dan kembali pada fitrahnya. Balqis dengan segala kepribadian dan posisi khusus yang dimilikinya ternyata lebih memilih iman dan hidayah ketimbang lahiriah materi dan tanpa kesombongan ia segera menyampaikan penjelasan indah akan manifestasi ilahi.

Setiap kali jalan hidayah telah menyala dan jelas, para perempuan menjadi yang terdepan mengikuti dan menaati perintah ilahi dan terlibat penuh cinta dan jujur. Kenyataan seperti ini juga dapat ditemukan dalam kehidupan para nabi seperti Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad Saw. Di abad terakhir, upaya para perempuan mengeyahkan kezaliman dan menciptakan sistem berdasarkan kebenaran dan ilahi telah membangkitkan pujian semua manusia.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa al-Quran mampu menggambarkan perempuan sebagai manusia bernilai dengan meletakkan dirinya di jalur fitrah menjadi elemen bermanfaat dan mampu menciptakan gerakan. Sebagaimana Balqis yang menjauhkan egoisme dan meletakkan dirinya di jalur normal dan sehat juga ikut memberi hidayah kaumnya. Ini merupakan risalah semua perempuan yang tidak menjadikan dirinya sebagai tampak lahiriah yang menipu dan dunia yang fana, dengan memahami tanggung jawabnya yang berharga dalam menididik generasi manusia dari cara pandang sederhana sehingga dapat tumbuh dan menyempurna.