کمالوندی

کمالوندی

Senin, 24 Februari 2014 19:55

Tafsir Al-Quran, Surat Hud Ayat 38-41

Ayat ke 38-39

 

┘ê┘Ä┘è┘ÄÏÁ┘Æ┘å┘ÄÏ╣┘ŠϺ┘ä┘Æ┘ü┘Å┘ä┘Æ┘â┘Ä ┘ê┘Ä┘â┘Å┘ä┘æ┘Ä┘à┘ÄϺ ┘à┘ÄÏ▒┘æ┘Ä Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘è┘Æ┘ç┘É ┘à┘Ä┘ä┘ÄÏú┘î ┘à┘É┘å┘Æ ┘é┘Ä┘ê┘Æ┘à┘É┘ç┘É Ï│┘ÄÏ«┘ÉÏ▒┘Å┘êϺ ┘à┘É┘å┘Æ┘ç┘Å ┘é┘ÄϺ┘ä┘Ä ÏÑ┘É┘å┘Æ Ï¬┘ÄÏ│┘ÆÏ«┘ÄÏ▒┘Å┘êϺ ┘à┘É┘å┘æ┘ÄϺ ┘ü┘ÄÏÑ┘É┘å┘æ┘ÄϺ ┘å┘ÄÏ│┘ÆÏ«┘ÄÏ▒┘Å ┘à┘É┘å┘Æ┘â┘Å┘à┘Æ ┘â┘Ä┘à┘ÄϺ Ϭ┘ÄÏ│┘ÆÏ«┘ÄÏ▒┘Å┘ê┘å┘Ä (38) ┘ü┘ÄÏ│┘Ä┘ê┘Æ┘ü┘Ä Ï¬┘ÄÏ╣┘Æ┘ä┘Ä┘à┘Å┘ê┘å┘Ä ┘à┘Ä┘å┘Æ ┘è┘ÄÏú┘ÆÏ¬┘É┘è┘ç┘É Ï╣┘ÄÏ░┘ÄϺϿ┘î ┘è┘ÅÏ«┘ÆÏ▓┘É┘è┘ç┘É ┘ê┘Ä┘è┘ÄÏ¡┘É┘ä┘æ┘Å Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘è┘Æ┘ç┘É Ï╣┘ÄÏ░┘ÄϺϿ┘î ┘à┘Å┘é┘É┘è┘à┘î (39)

 

Artinya:

Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). (11: 38)

 

Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal". (11: 39)

 

Pada pembahasan lalu, telah disebutkan bahwa Nabi Nuh as telah menyeru kaumnya selama 1000 tahun, namun mereka tetap tidak mau beriman kecuali segelintir orang saja. Allah Swt kemudian memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat sebuah bahtera atau perahu besar guna menyelamatkan orang-orang mukmin dari azab Allah. Kedua ayat yang baru kita baca tadi mengatakan, "Sewaktu Nabi Nuh as tengah sibuk membuat bahtera, orang-orang kafir dan para penentang beliau malah mengejek beliau. Mereka berkata, "Wahai Nuh, meski kau telah menghabiskan usiamu, tak akan ada orang yang mau berkumpul di sisimu, tidak juga ada orang yang mau bergabung dengan agamamu. Apalagi saat ini kamu menyibukkan diri sebagai tukang kayu dan membuat sebuah bahtera raksasa di sebidang tanah yang jauh dari lautan."

 

Dalam menjawab ejekan dan cemoohan kaumnya itu, Nabi Nuh mengatakan, "Pada suatu hari nanti kami akan naik bahtera ini, dan aku akan balik mengejek dan mencemooh kalian karena kalian telah mengingkari ayat-ayat Allah dan akhirnya terjebak dalam kesulitan dan kesengsaraan."

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Apabila kita tidak bisa memahami perbuatan para tokoh agama dan ilmuwan, maka janganlah kita mencemooh atau mengejek mereka, karena mengejek dan mencemooh adalah perbuatan orang-orang yang tidak berlogika.

2. Dalam menghadapi ejekan dan cemoohan musuh-musuh, kita tidak boleh terkecoh dan terpancing, akan tetapi hendaknya kita tetap kokoh dan komitmen dalam perbuatan kita.

 

Ayat ke 40

 

Ï¡┘ÄϬ┘æ┘Ä┘ë ÏÑ┘ÉÏ░┘ÄϺ ϼ┘ÄϺÏí┘Ä Ïú┘Ä┘à┘ÆÏ▒┘Å┘å┘ÄϺ ┘ê┘Ä┘ü┘ÄϺÏ▒┘Ä Ïº┘äϬ┘æ┘Ä┘å┘æ┘Å┘êÏ▒┘Å ┘é┘Å┘ä┘Æ┘å┘ÄϺ Ϻϡ┘Æ┘à┘É┘ä┘Æ ┘ü┘É┘è┘ç┘ÄϺ ┘à┘É┘å┘Æ ┘â┘Å┘ä┘æ┘ì Ï▓┘Ä┘ê┘ÆÏ¼┘Ä┘è┘Æ┘å┘É ÏºÏ½┘Æ┘å┘Ä┘è┘Æ┘å┘É ┘ê┘ÄÏú┘Ä┘ç┘Æ┘ä┘Ä┘â┘Ä ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ ┘à┘Ä┘å┘Æ Ï│┘ÄÏ¿┘Ä┘é┘Ä Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘è┘Æ┘ç┘É Ïº┘ä┘Æ┘é┘Ä┘ê┘Æ┘ä┘Å ┘ê┘Ä┘à┘Ä┘å┘Æ Ïó┘Ä┘à┘Ä┘å┘Ä ┘ê┘Ä┘à┘ÄϺ Ïó┘Ä┘à┘Ä┘å┘Ä ┘à┘ÄÏ╣┘Ä┘ç┘Å ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ ┘é┘Ä┘ä┘É┘è┘ä┘î (40)

 

Artinya:

Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman". Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (11: 40)

 

Setelah pembuatan bahtera tersebut selesai, dengan perintah Allah menyemburlah air dari perut bumi dan tercurah hujan lebat dari langit. Air pun membanjiri seluruh tempat dan bahtera itu pun mengapung di atas air. Nabi Nuh dan orang-orang mukmin menaiki bahtera itu agar terbebas dari gelombang air yang dahsyat. Demi menyelamatkan generasi binatang-binatang, Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya agar membawa sepasang dari setiap jenis binatang itu ke dalam bahtera. Keluarga Nabi Nuh yang beriman semua masuk ke dalam kapal itu, namun, isteri dan putra beliau yang bernama Kan'an tidak bisa menaiki bahtera itu karena mereka menolak untuk beriman.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Berpegang teguh pada ajaran agama (Islam) lebih utama daripada berpegang kepada hubungan keluarga atau kekerabatan. Isteri dan anak Nabi Nuh as tidak memiliki hak untuk naik ke dalam bahtera disebabkan karena kekufuran mereka.

2. Air yang biasanya merupakan sumber kehidupan, atas perintah Allah bisa berubah menjadi penyebab kehancuran sebuah generasi manusia dan binatang-binatang.

 

Ayat ke 41

 

┘ê┘Ä┘é┘ÄϺ┘ä┘Ä ÏºÏ▒┘Æ┘â┘ÄÏ¿┘Å┘êϺ ┘ü┘É┘è┘ç┘ÄϺ Ï¿┘ÉÏ│┘Æ┘à┘É Ïº┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É ┘à┘Äϼ┘ÆÏ▒┘ÄϺ┘ç┘ÄϺ ┘ê┘Ä┘à┘ÅÏ▒┘ÆÏ│┘ÄϺ┘ç┘ÄϺ ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä Ï▒┘ÄÏ¿┘æ┘É┘è ┘ä┘ÄÏ║┘Ä┘ü┘Å┘êÏ▒┘î Ï▒┘ÄÏ¡┘É┘è┘à┘î (41)

 

Artinya:

Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya". Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (11: 41)

 

Setelah tanda-tanda azab dan siksaan Allah terlihat jelas berupa semakin tingginya air banjir bandang, maka Nabi Nuh as memerintahkan orang-orang mukmin agar segera naik ke dalam bahtera. Nabi Nuh menyuruh orang-orang mukmin itu memohon rahmat dan ampunan Allah Swt, satu-satunya Zat yang memiliki kekuasaan untuk menyelamatkan mereka dari amukan banjir bandang raksasa itu. Nabi Nuh mengatakan, "Bahtera ini akan bergerak (berlayar) dengan nama Allah, dan dengan nama-Nya pula bahtera ini akan berlabuh, karena itu kendali ini bukan di tanganku."

 

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Ahlul Bait Nabi diumpamakan seperti bahtera (perahu) Nabi Nuh as, sebagaimana diriwayatkan "Abu Dzar" sahabat senior Nabi, Perumpamaan Ahlul Baitku seperti perahunya Nabi Nuh, maka barangsiapa yang naik ke dalamnya akan selamat, dan barangsiapa yang meninggalkannya akan tenggelam. Hadis ini juga diriwayatkan oleh para tokoh dan sahabat senior Nabi pada era Islam pertama, seperti Ibnu Abbas, Abdullah bin Zubair, Anas bin Malik, Abu Sa'id Al-Khudri dan yang lainnya, dan dimuat di dalam buku-buku dan tafsir yang mu'tabar.

 

Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Berupaya atau diamnya manusia haruslah dengan nama Allah dan dalam rangka mendapatkan ridha Allah Swt.

2. Menyebut nama Allah setiap memulai perbuatan merupakan suri teladan para nabi, sekaligus merupakan pesan dan anjuran mereka kepada para pengikut mereka.

3. Bahtera atau perahu tidak lebih dari sebuah alat belaka. Yang terpenting adalah kehendak Allah. Manusia disamping memperhatikan alat perantara juga tidak boleh lupa dari mengingat dan memohon pertolongan Allah, karena segala sesuatu ada di tangan-Nya.

Senin, 24 Februari 2014 19:55

Tafsir Al-Quran, Surat Hud Ayat 33-37

Ayat ke 33-34

 

┘é┘ÄϺ┘ä┘Ä ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä┘à┘ÄϺ ┘è┘ÄÏú┘ÆÏ¬┘É┘è┘â┘Å┘à┘Æ Ï¿┘É┘ç┘É Ïº┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Å ÏÑ┘É┘å┘Æ Ï┤┘ÄϺÏí┘Ä ┘ê┘Ä┘à┘ÄϺ Ïú┘Ä┘å┘ÆÏ¬┘Å┘à┘Æ Ï¿┘É┘à┘ÅÏ╣┘ÆÏ¼┘ÉÏ▓┘É┘è┘å┘Ä (33) ┘ê┘Ä┘ä┘ÄϺ ┘è┘Ä┘å┘Æ┘ü┘ÄÏ╣┘Å┘â┘Å┘à┘Æ ┘å┘ÅÏÁ┘ÆÏ¡┘É┘è ÏÑ┘É┘å┘Æ Ïú┘ÄÏ▒┘ÄÏ»┘ÆÏ¬┘Å Ïú┘Ä┘å┘Æ Ïú┘Ä┘å┘ÆÏÁ┘ÄÏ¡┘Ä ┘ä┘Ä┘â┘Å┘à┘Æ ÏÑ┘É┘å┘Æ ┘â┘ÄϺ┘å┘Ä Ïº┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Å ┘è┘ÅÏ▒┘É┘èÏ»┘Å Ïú┘Ä┘å┘Æ ┘è┘ÅÏ║┘Æ┘ê┘É┘è┘Ä┘â┘Å┘à┘Æ ┘ç┘Å┘ê┘Ä Ï▒┘ÄÏ¿┘æ┘Å┘â┘Å┘à┘Æ ┘ê┘ÄÏÑ┘É┘ä┘Ä┘è┘Æ┘ç┘É Ï¬┘ÅÏ▒┘ÆÏ¼┘ÄÏ╣┘Å┘ê┘å┘Ä (34)

 

Artinya:

Nuh menjawab: "Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. (11: 33)

 

Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan". (11: 34)

 

Sebelumnya, telah disebutkan bahwa para penentang Nabi Nuh as bersikap membangkang dan keras kepala di hadapan seruan tauhid yang disampaikan Nabi Nuh. Bahkan, mereka menantang Nabi Nuh agar menurunkan azab dan siksaan di dunia ini. Nabi Nuh as dalam menjawab permintaan mereka mengatakan, "Azab dan siksaan bukan di tanganku, akan tetapi ketahuilah bahwa bila Allah Swt menghendaki untuk menurunkan azab dan siksaan, maka kalian tidak akan mampu mengantisipasi atau bertahan dalam menghadapinya, kalian pasti akan hancur."

 

Nabi Nuh as juga mengingatkan kaumnya bahwa dirinya adalah urusan Allah untuk menyampaikan wahyu, membimbing, dan memberi petunjuk kepada umat manusia. Namun, hasil akhir dari segala jerih payahnya itu bukanlah urusannya. Tuas para Nabi hanya menyampaikan wahyu Ilahi. Namun, bila umatnya tetap membangkang, hal itu akan menjadi tanggung jawab umatnya sendiri. Kelak merekalah yang harus mempertanggung jawabkan kesesatan mereka di hadapan pengadilan Tuhan.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Para nabi selalu menyeru dan mengajak masyarakat kepada jalan kebaikan. Cara dakwah para Nabi adalah dengan mengajak dan menyeru umat melalui suri tauladan dan nasehat.

2. Jika selama hidup di dunia orang-orang kafir tidak mendapatkan azab dari Allah, mereka jangan berbesar hati dan menyangka bahwa mereka tidak tersentuh oleh murka Allah. Pada Hari Kiamat kelak mereka semua akan dikembalikan kepada Allah dan harus mempertanggungjawabkan semua kesesatan mereka.

 

Ayat ke 35

 

Ïú┘Ä┘à┘Æ ┘è┘Ä┘é┘Å┘ê┘ä┘Å┘ê┘å┘Ä Ïº┘ü┘ÆÏ¬┘ÄÏ▒┘ÄϺ┘ç┘Å ┘é┘Å┘ä┘Æ ÏÑ┘É┘å┘É Ïº┘ü┘ÆÏ¬┘ÄÏ▒┘Ä┘è┘ÆÏ¬┘Å┘ç┘Å ┘ü┘ÄÏ╣┘Ä┘ä┘Ä┘è┘æ┘Ä ÏÑ┘Éϼ┘ÆÏ▒┘ÄϺ┘à┘É┘è ┘ê┘ÄÏú┘Ä┘å┘ÄϺ Ï¿┘ÄÏ▒┘É┘èÏí┘î ┘à┘É┘à┘æ┘ÄϺ Ϭ┘Åϼ┘ÆÏ▒┘É┘à┘Å┘ê┘å┘Ä (35)

 

Artinya:

Malahan kaum Nuh itu berkata: "Dia cuma membuat-buat nasihatnya saja". Katakanlah: "Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat". (11: 35)

 

Salah satu cara yang dilakukan oleh para penentang dalam menghadapi seruan dan dakwah para nabi adalah dengan menuduh para utusan Allah itu berbohong. Mereka mengatakan, "Kalian (para nabi) menyatakan bahwa seruan dan ajakan kalian berasal dari sisi Tuhan, padahal sebenarnya dari diri kalian sendiri". Orang-orang kafir itu tidak menunjukkan dalil dan bukti atas tuduhan bohong yang mereka lemparkan kepada para nabi. Sebaliknya, para Nabi memiliki mukjizat-mukjizat yang membuktikan bahwa ajaran mereka berasal dari Allah. Dalam ayat ini disebutkan bahwa meskipun seandainya memang benar para nabi itu berbohong, tidaklah menjustifikasi kesyirikan dan kekufuran orang-orang kafir itu. Apabila para Nabi melakukan keslahan dan dosa, maka dosa itu akan mereka tanggung sendiri dan orang-orang kafir pun akan menanggung dosa mereka sendiri.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Ketika kaum muslimin sedang berdialog dengan para penentang, kaum muslimin harus tetap berbicara dengan bahasa yang baik serta menjauhkan diri dari perkataan kotor dan tidak pada tempatnya. Cara berdialog seperti inilah yang diajarkan oleh al-Quran.

2. Setiap orang bertanggungjawab terhadap amal perbuatannya sendiri. Kesalahan orang lain tidak bisa menjadi justifikasi bagi kesalahan yang kita perbuat.

 

Ayat ke 36-37

 

┘ê┘ÄÏú┘Å┘êÏ¡┘É┘è┘Ä ÏÑ┘É┘ä┘Ä┘ë ┘å┘Å┘êÏ¡┘ì Ïú┘Ä┘å┘æ┘Ä┘ç┘Å ┘ä┘Ä┘å┘Æ ┘è┘ÅÏñ┘Æ┘à┘É┘å┘Ä ┘à┘É┘å┘Æ ┘é┘Ä┘ê┘Æ┘à┘É┘â┘Ä ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ ┘à┘Ä┘å┘Æ ┘é┘ÄÏ»┘Æ Ïó┘Ä┘à┘Ä┘å┘Ä ┘ü┘Ä┘ä┘ÄϺ Ϭ┘ÄÏ¿┘ÆÏ¬┘ÄϪ┘ÉÏ│┘Æ Ï¿┘É┘à┘ÄϺ ┘â┘ÄϺ┘å┘Å┘êϺ ┘è┘Ä┘ü┘ÆÏ╣┘Ä┘ä┘Å┘ê┘å┘Ä (36) ┘ê┘ÄϺÏÁ┘Æ┘å┘ÄÏ╣┘É Ïº┘ä┘Æ┘ü┘Å┘ä┘Æ┘â┘Ä Ï¿┘ÉÏú┘ÄÏ╣┘Æ┘è┘Å┘å┘É┘å┘ÄϺ ┘ê┘Ä┘ê┘ÄÏ¡┘Æ┘è┘É┘å┘ÄϺ ┘ê┘Ä┘ä┘ÄϺ Ϭ┘ÅÏ«┘ÄϺÏÀ┘ÉÏ¿┘Æ┘å┘É┘è ┘ü┘É┘è Ϻ┘ä┘æ┘ÄÏ░┘É┘è┘å┘Ä Ï©┘Ä┘ä┘Ä┘à┘Å┘êϺ ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä┘ç┘Å┘à┘Æ ┘à┘ÅÏ║┘ÆÏ▒┘Ä┘é┘Å┘ê┘å┘Ä (37)

 

Artinya:

Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (11: 36)

 

Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (11: 37)

 

Berdasarkan ayat-ayat al-Quran yang lainnya Nabi Nuh as telah mengajak dan menyeru kaumnya untuk menyembah Allah Swt selama 1000 tahun, namun sangat sedikit sekali dari kaumnya yang beriman kepada Allah. Allah pun menurunkan wahyu kepada beliau bahwa tak akan ada lagi dari kaumnya yang mau menyatakan beriman. Karena itulah, Allah menetapkan azab terhadap orang-orang kafir tersebut, berupa angin topan dahsyat dan banjir raksasa yang menenggelamkan sebagian besar permukaan bumi. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari bencana itu adalah dengan menaiki bahtera Nabi Nuh as.

 

Berdasarkan ayat yang telah disebutkan tadi, Nabi Nuh as telah diperintahkan oleh Allah Swt untuk membuat sebuah bahtera sehingga sewaktu turunnya azab dan siksaan Allah, Nabi Nuh dan orang-orang mukmin dapat terselamatkan. Karena azab dan siksaan itu sudah ditetapkan Allah, maka tidak ada lagi yang bisa dilakukan Nabi Nuh as untuk menolong kaumnya yang sesat dan membangkang. Kaum kafir dan sesat itu pun sudah tidak punya jalan lagi untuk menyelamatkan diri mereka dari kemurkaan Allah.

 

Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Manusia terkadang jatuh ke dalam jurang kesesatan yang sedemikian dalam sehingga tidak ada lagi jalan untuk menyelamatkan mereka dan dakwah kebenaran tidak akan memberi manfaat apapun kepada mereka.

2. Para Nabi tidak hanya berusaha menyelamatkan manusia dengan cara memberi nasihat dan khutbah belaka, melainkan juga dengan bekerja membangun sarana yang diperlukan umatnya, contohnya seperti prahu yang dibuat Nabi Nuh demi menyelamatkan kaumnya.

3. Azab Allah akan diturunkan di tengah-tengah para pendosa dan pengingkar seruan Allah. Karena itu, sewaktu Allah menurunkan azab dan siksaan-Nya, Dia akan menyelamatkan orang-orang yang tak berdosa.

Senin, 24 Februari 2014 19:54

Tafsir Al-Quran, Surat Hud Ayat 29-32

Ayat ke 29-30

 

┘ê┘Ä┘è┘ÄϺ ┘é┘Ä┘ê┘Æ┘à┘É ┘ä┘ÄϺ Ïú┘ÄÏ│┘ÆÏú┘Ä┘ä┘Å┘â┘Å┘à┘Æ Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘è┘Æ┘ç┘É ┘à┘ÄϺ┘ä┘ïϺ ÏÑ┘É┘å┘Æ Ïú┘Äϼ┘ÆÏ▒┘É┘è┘Ä ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘ë Ϻ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É ┘ê┘Ä┘à┘ÄϺ Ïú┘Ä┘å┘ÄϺ Ï¿┘ÉÏÀ┘ÄϺÏ▒┘ÉÏ»┘É Ïº┘ä┘æ┘ÄÏ░┘É┘è┘å┘Ä Ïó┘Ä┘à┘Ä┘å┘Å┘êϺ ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä┘ç┘Å┘à┘Æ ┘à┘Å┘ä┘ÄϺ┘é┘Å┘ê Ï▒┘ÄÏ¿┘æ┘É┘ç┘É┘à┘Æ ┘ê┘Ä┘ä┘Ä┘â┘É┘å┘æ┘É┘è Ïú┘ÄÏ▒┘ÄϺ┘â┘Å┘à┘Æ ┘é┘Ä┘ê┘Æ┘à┘ïϺ Ϭ┘Äϼ┘Æ┘ç┘Ä┘ä┘Å┘ê┘å┘Ä (29) ┘ê┘Ä┘è┘ÄϺ ┘é┘Ä┘ê┘Æ┘à┘É ┘à┘Ä┘å┘Æ ┘è┘Ä┘å┘ÆÏÁ┘ÅÏ▒┘Å┘å┘É┘è ┘à┘É┘å┘Ä Ïº┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É ÏÑ┘É┘å┘Æ ÏÀ┘ÄÏ▒┘ÄÏ»┘ÆÏ¬┘Å┘ç┘Å┘à┘Æ Ïú┘Ä┘ü┘Ä┘ä┘ÄϺ Ϭ┘ÄÏ░┘Ä┘â┘æ┘ÄÏ▒┘Å┘ê┘å┘Ä (30)

 

Artinya:

Dan (dia berkata): "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui". (11: 29)

 

Dan (dia berkata): "Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran? (11: 30)

 

Pada penjelasan lalu telah disinggung bahwa Nabi Nuh as menyeru dan mengajak kaumnya agar menyembah Allah Swt selama ratusan tahun, namun hanya sedikit sekali di antara mereka yang beriman. Para pemuka dan pembesar kaum Nabi Nuh bahkan menghina dan mengejek para pengikut beliau yang kebanyakan terdiri dari orang-orang miskin. Kedua ayat yang baru dibacakan tadi adalah jawaban dari hinaan dan celaan orang-orang kafir itu.

 

Ayat ini mengatakan, "Nabi Nuh as sama sekali tidak meminta upah atau imbalan kedudukan dari kalian, jadi tidak ada alasan bagi kalian untuk membenci seruannya itu. Selain itu, sama sekali tidak ada alasan bagi Nabi Nuh untuk menjauhkan diri dari orang-orang miskin demi menarik hati kalian orang-orang kaya, karena di mata Allah, orang kaya tidaklah lebih baik dari orang miskin. Bila Nabi Nuh menjauhkan diri dari orang miskin, kelak di hari kiamat, dia tidak memiliki jawaban apapun untuk membela diri di hadapan pengadilan Allah."

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Para Nabi tidak pernah menginginkan harta benda dan kedudukan hal ini merupakan salah satu tanda atau dalil bagi kebenaran risalah mereka.

2. Pemerintahan yang lurus dan benar tidak boleh mengorbankan kaum fakir miskin demi menarik simpati dari orang-orang kaya. Pemerintahan yang benar malah harus mengabaikan tuntutan yang tidak sepatutnya dari warga yang sombong dan takabur.

 

Ayat ke 31

 

┘ê┘Ä┘ä┘ÄϺ Ïú┘Ä┘é┘Å┘ê┘ä┘Å ┘ä┘Ä┘â┘Å┘à┘Æ Ï╣┘É┘å┘ÆÏ»┘É┘è Ï«┘ÄÏ▓┘ÄϺϪ┘É┘å┘ŠϺ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É ┘ê┘Ä┘ä┘ÄϺ Ïú┘ÄÏ╣┘Æ┘ä┘Ä┘à┘ŠϺ┘ä┘ÆÏ║┘Ä┘è┘ÆÏ¿┘Ä ┘ê┘Ä┘ä┘ÄϺ Ïú┘Ä┘é┘Å┘ê┘ä┘Å ÏÑ┘É┘å┘æ┘É┘è ┘à┘Ä┘ä┘Ä┘â┘î ┘ê┘Ä┘ä┘ÄϺ Ïú┘Ä┘é┘Å┘ê┘ä┘Å ┘ä┘É┘ä┘æ┘ÄÏ░┘É┘è┘å┘Ä Ï¬┘ÄÏ▓┘ÆÏ»┘ÄÏ▒┘É┘è Ïú┘ÄÏ╣┘Æ┘è┘Å┘å┘Å┘â┘Å┘à┘Æ ┘ä┘Ä┘å┘Æ ┘è┘ÅÏñ┘ÆÏ¬┘É┘è┘Ä┘ç┘Å┘à┘ŠϺ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Å Ï«┘Ä┘è┘ÆÏ▒┘ïϺ Ϻ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Å Ïú┘ÄÏ╣┘Æ┘ä┘Ä┘à┘Å Ï¿┘É┘à┘ÄϺ ┘ü┘É┘è Ïú┘Ä┘å┘Æ┘ü┘ÅÏ│┘É┘ç┘É┘à┘Æ ÏÑ┘É┘å┘æ┘É┘è ÏÑ┘ÉÏ░┘ïϺ ┘ä┘Ä┘à┘É┘å┘Ä Ïº┘äÏ©┘æ┘ÄϺ┘ä┘É┘à┘É┘è┘å┘Ä (31)

 

Artinya:

Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): "Aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib", dan tidak (pula) aku mengatakan: "Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat", dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: "Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka". Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim. (11: 31)

 

Ayat ini menentukan jawaban Nabi Nuh as kepada kaumnya yang kaya dan menuntut banyak hal terhadap beliau. Sebagian umat Nabi Nuh meminta agar beliau memberikan harta karun berupa perhiasan emas kepada mereka, dan yang lainya meminta Nabi Nuh agar meramalkan masa depan mereka atau mengajarkan ilmu ghaib. Orang-orang Kafir itu bahkan mengira bahwa Nabi adalah semacam malaikat, yang tidak membutuhkan makan, minum, atau berbagai kebutuhan materil lainnya.

 

Nabi Nuh as dalam menjawab berbagai tuntutan kaumnya itu, mengatakan: "Aku adalah manusia biasa dan hidup sebagaimana kalian hidup. Namun yang membedakan antara aku dan kalian adalah aku diutus oleh Allah, aku mendapatkan wahyu dari Allah, dan Allah memerintahkanku untuk menyampaikan serta melaksanakan isi wahyu tersebut. Aku tidak memiliki harta karun ataupun ilmu ghaib. Aku menerima dari Allah apa-apa yang dianggap-Nya baik untukku dan aku bukanlah malaikat."

 

Nabi Nuh juga menegaskan, "Kalian salah jika berpikir bahwa hanya orang-orang kaya yang pantas menjadi pengikutku. Tuntutan kalian agar aku hanya memilih orang-orang kaya sebagai pengikut adalah tuntutan yang tidak pada tempatnya. Allah Maha Mengetahui apa yang terkandung di dalam benak manusia. Betapa banyaknya kebaikan yang dianugerahkan kepada mereka, namun tidak diberikan-Nya kepada kalian. Oleh karena itu, mengusir dan melenyapkan mereka merupakan kezaliman dan aku sama sekali tidak akan melakukan perbuatan semacam ini."

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Sejarah para Nabi as selalu dipenuhi dengan seruan yang berisi petunjuk dan bimbingan bagi masyarakat, bukan seruan yang semata-mata untuk menarik hati orang lain.

2. Kita tidak boleh menganggap para Nabi dan Auliya Allah sebagai Tuhan dan kita tidak boleh juga mensifati mereka secara berlebihan.

 

Ayat ke 32

 

┘é┘ÄϺ┘ä┘Å┘êϺ ┘è┘ÄϺ ┘å┘Å┘êÏ¡┘Å ┘é┘ÄÏ»┘Æ Ï¼┘ÄϺϻ┘Ä┘ä┘ÆÏ¬┘Ä┘å┘ÄϺ ┘ü┘ÄÏú┘Ä┘â┘ÆÏ½┘ÄÏ▒┘ÆÏ¬┘Ä Ï¼┘ÉÏ»┘ÄϺ┘ä┘Ä┘å┘ÄϺ ┘ü┘ÄÏú┘ÆÏ¬┘É┘å┘ÄϺ Ï¿┘É┘à┘ÄϺ Ϭ┘ÄÏ╣┘ÉÏ»┘Å┘å┘ÄϺ ÏÑ┘É┘å┘Æ ┘â┘Å┘å┘ÆÏ¬┘Ä ┘à┘É┘å┘Ä Ïº┘äÏÁ┘æ┘ÄϺϻ┘É┘é┘É┘è┘å┘Ä (32)

 

Artinya:

Mereka berkata "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar". (11" 32)

 

Orang-orang yang kafir dan enggan menerima kebenaran, bila sudah kehabisan daya upaya untuk berdebat secara logis biasanya akan melakukan debat kusir atau bahkan melakukan penghinaan. Para penentang Nabi Nuh as mengatakan, "Cukuplah segala perkataanmu itu. Apabila perkataanmu itu benar, maka turunkanlah azab Allah dan siksaan-Nya kepada kami." Padahal azab atau siksaan itu bukan di tangan para Nabi as, melainkan di tangan Allah Swt. Dia akan menurunkan azab tersebut bila diperlukan, namun azab yang sesungguhnya akan diterima orang-orang kafir pada Hari kiamat.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Waktu yang diberikan oleh Allah Swt di dunia merupakan kesempatan untuk menebus kesalahan dan kekhilafan pada masa lalu yang pernah dilakukan. Dengan kata lain, belum turunnya azab dan siksaan Allah kepada orang kafir atau orang yang sesat selama di dunia bukanlah berarti bahwa perilaku sesat seperti itu adalah perilaku yang benar.

2. Kutukan Nabi Nuh as terhadap kaumnya terjadi setelah orang-orang kafir itu menyatakan kesiapan dan keinginan mereka untuk menerima azab dan siksa Allah.

Senin, 24 Februari 2014 19:53

Tafsir Al-Quran, Surat Hud Ayat 25-28

Ayat ke 25-26

 

┘ê┘Ä┘ä┘Ä┘é┘ÄÏ»┘Æ Ïú┘ÄÏ▒┘ÆÏ│┘Ä┘ä┘Æ┘å┘ÄϺ ┘å┘Å┘êÏ¡┘ïϺ ÏÑ┘É┘ä┘Ä┘ë ┘é┘Ä┘ê┘Æ┘à┘É┘ç┘É ÏÑ┘É┘å┘æ┘É┘è ┘ä┘Ä┘â┘Å┘à┘Æ ┘å┘ÄÏ░┘É┘èÏ▒┘î ┘à┘ÅÏ¿┘É┘è┘å┘î (25) Ïú┘Ä┘å┘Æ ┘ä┘ÄϺ Ϭ┘ÄÏ╣┘ÆÏ¿┘ÅÏ»┘Å┘êϺ ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ Ϻ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Ä ÏÑ┘É┘å┘æ┘É┘è Ïú┘ÄÏ«┘ÄϺ┘ü┘Å Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘è┘Æ┘â┘Å┘à┘Æ Ï╣┘ÄÏ░┘ÄϺϿ┘Ä ┘è┘Ä┘ê┘Æ┘à┘ì Ïú┘Ä┘ä┘É┘è┘à┘ì (26)

 

Artinya:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu. (11: 25)

 

Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan". (11: 26)

 

Kedua ayat yang baru kita dengarkan tadi menyinggung risalah Nabi Nuh as serta seruan beliau untuk menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah Swt. Beliau adalah Nabi Ulul Azmi yang pertama, yang bangkit untuk memerangi perbuatan syirik dan penyembahan patung berhala. Akan tetapi meski beliau telah menyeru manusia selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, namun sangat sedikit manusia yang menyambut seruan tersebut. Nabi Nuh telah memperingatkan umatnya tentang azab Allah yang pedih, namun kebanyakan dari mereka tidak memperdulikannya. Akhirnya dengan kutukan beliau, terjadilah angin topan dahsyat yang melanda sebagian besar permukaan bumi. Hanya orang-orang yang beriman dan naik ke kapal yang dibuat Nabi Nuh yang selamat dalam bencana itu.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Masyarakat yang lalai selalu membutuhkan teguran dan peringatan, supaya mereka tersadar dari kelalaian dan kekhilafan.

2. Seruan dan ajakan seluruh Nabi adalah seruan agar manusia hanya menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga manusia dapat terbebaskan dari syirik dan penyelewengan.

 

Ayat ke 27

 

┘ü┘Ä┘é┘ÄϺ┘ä┘Ä Ïº┘ä┘Æ┘à┘Ä┘ä┘ÄÏú┘ŠϺ┘ä┘æ┘ÄÏ░┘É┘è┘å┘Ä ┘â┘Ä┘ü┘ÄÏ▒┘Å┘êϺ ┘à┘É┘å┘Æ ┘é┘Ä┘ê┘Æ┘à┘É┘ç┘É ┘à┘ÄϺ ┘å┘ÄÏ▒┘ÄϺ┘â┘Ä ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ Ï¿┘ÄÏ┤┘ÄÏ▒┘ïϺ ┘à┘ÉϽ┘Æ┘ä┘Ä┘å┘ÄϺ ┘ê┘Ä┘à┘ÄϺ ┘å┘ÄÏ▒┘ÄϺ┘â┘Ä ÏºÏ¬┘æ┘ÄÏ¿┘ÄÏ╣┘Ä┘â┘Ä ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ Ϻ┘ä┘æ┘ÄÏ░┘É┘è┘å┘Ä ┘ç┘Å┘à┘Æ Ïú┘ÄÏ▒┘ÄϺÏ░┘É┘ä┘Å┘å┘ÄϺ Ï¿┘ÄϺϻ┘É┘è┘Ä Ïº┘äÏ▒┘æ┘ÄÏú┘Æ┘è┘É ┘ê┘Ä┘à┘ÄϺ ┘å┘ÄÏ▒┘Ä┘ë ┘ä┘Ä┘â┘Å┘à┘Æ Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘è┘Æ┘å┘ÄϺ ┘à┘É┘å┘Æ ┘ü┘ÄÏÂ┘Æ┘ä┘ì Ï¿┘Ä┘ä┘Æ ┘å┘ÄÏ©┘Å┘å┘æ┘Å┘â┘Å┘à┘Æ ┘â┘ÄϺÏ░┘ÉÏ¿┘É┘è┘å┘Ä (27)

 

Artinya:

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". (11: 27)

 

Dalam sepanjang sejarah telah tercatat betapa para penentang utama seruan para Nabi adalah para kepala dan pembesar umat. Hal ini dikarenakan mereka menganggap risalah para Nabi akan menjadi ganjalan terhadap berbagai kepentingan mereka. Mereka juga merasa apabila masyarakat menerima seruan para Nabi, maka tidak ada lagi orang-orang yang akan taat dan tunduk kepada mereka, sehingga dengan demikian dominasi kekuasaan mereka akan lenyap.

 

Ayat tadi mengatakan, "Dalam menghadapi seruan dan peringatan Nabi Nuh as, para pemimpin orang-orang kafir itu berusaha mengecilkan Nabi Nuh dengan mengatakan bahwa Nabi Nuh hanyalah manusia biasa seperti mereka. Mereka juga merendahkan para pengikut Nabi Nuh dengan menyebutkannya sebagai orang-orang yang hina dan lekas percaya."

 

Dalam menanggapi celaan dan hinaan orang-orang kafir itu, para nabi mengatakan, "Memang benar, kami adalah manusia seperti kalian, bukan malaikat, bukan pula anak Tuhan. Perbedaan antara kami dan kalian adalah kami mendapatkan wahyu dari Allah, dan kami memiliki tugas untuk menyampaikan firman Allah itu kepada kalian, serta memberi peringatan kepada kalian."

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Menghina, menanggap kecil, atau meremehkan para pengikut kebenaran adalah metode yang dipakai oleh orang-orang yang tidak bersedia menerima hakikat dan kebenaran tersebut.

2. Orang-orang yang tidak banyak terbelenggu oleh kenikmatan dunia dan hidup sederhana biasanya akan lebih cepat menerima seruan para Nabi. Sebaliknya, orang-orang yang hidup bermewah-mewah dan sombong biasanya berada di barisan terdepan dalam menentang para Nabi as.

 

Ayat ke 28

 

┘é┘ÄϺ┘ä┘Ä ┘è┘ÄϺ ┘é┘Ä┘ê┘Æ┘à┘É Ïú┘ÄÏ▒┘ÄÏú┘Ä┘è┘ÆÏ¬┘Å┘à┘Æ ÏÑ┘É┘å┘Æ ┘â┘Å┘å┘ÆÏ¬┘Å Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘ë Ï¿┘Ä┘è┘æ┘É┘å┘ÄÏ®┘ì ┘à┘É┘å┘Æ Ï▒┘ÄÏ¿┘æ┘É┘è ┘ê┘ÄÏó┘ÄϬ┘ÄϺ┘å┘É┘è Ï▒┘ÄÏ¡┘Æ┘à┘ÄÏ®┘ï ┘à┘É┘å┘Æ Ï╣┘É┘å┘ÆÏ»┘É┘ç┘É ┘ü┘ÄÏ╣┘Å┘à┘æ┘É┘è┘ÄϬ┘Æ Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘è┘Æ┘â┘Å┘à┘Æ Ïú┘Ä┘å┘Å┘ä┘ÆÏ▓┘É┘à┘Å┘â┘Å┘à┘Å┘ê┘ç┘ÄϺ ┘ê┘ÄÏú┘Ä┘å┘ÆÏ¬┘Å┘à┘Æ ┘ä┘Ä┘ç┘ÄϺ ┘â┘ÄϺÏ▒┘É┘ç┘Å┘ê┘å┘Ä (28)

 

Artinya:

Berkata Nuh: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya?" (11: 28)

 

Dalam menghadapi para penentangnya, Nabi Nuh as mengatakan, "Sekalipun aku adalah manusia seperti kalian, akan tetapi aku memiliki dalil dan hujjah dari sisi Allah. Aku memiliki mukjizat yang membuktikan kebenaran seruan dan dakwaanku, selain argumen dan dalil-dalil yang jelas untuk menyeru dan mengajak kalian agar menyembah Tuhan Yang Maha Esa, dan menjauhkan diri dari perbuatan syirik. Setiap manusia yang berakal akan dapat menerima dan memahami argumen dan dalil-dalil tersebut. Apa yang kuserukan ini bukan dari sisiku sendiri, karena aku tidak mengajak kalian untuk menuju kepadaku, akan tetapi kepada jalan Allah Swt. Dia dengan anugerah dan kelembutan-Nya telah mengutus aku untuk mengemban risalah dan menyampaikan agama-Nya. Namun apabila kalian menungguku untuk memaksa kalian agar beriman kepada Allah, maka ketahuilah bahwa hal itu tidak benar, karena pemaksaan sama sekali tidak sesuai dengan hikmah Allah.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Dakwah dan seruan para Nabi senantiasa disertai dalil dan argumentasi yang jelas, dan bukan semata-mata pernyataan kosong yang tidak berdasar atau jauh dari logika.

2. Manusia bebas dalam memilih agama dan mazhab, tak seorangpun berhak memaksa manusia dalam beriman dan menentukan agama.

Senin, 24 Februari 2014 19:52

Tafsir Al-Quran, Surat Hud Ayat 20-24

Ayat ke 20

 

Ïú┘Å┘ê┘ä┘ÄϪ┘É┘â┘Ä ┘ä┘Ä┘à┘Æ ┘è┘Ä┘â┘Å┘ê┘å┘Å┘êϺ ┘à┘ÅÏ╣┘ÆÏ¼┘ÉÏ▓┘É┘è┘å┘Ä ┘ü┘É┘è Ϻ┘ä┘ÆÏú┘ÄÏ▒┘ÆÏÂ┘É ┘ê┘Ä┘à┘ÄϺ ┘â┘ÄϺ┘å┘Ä ┘ä┘Ä┘ç┘Å┘à┘Æ ┘à┘É┘å┘Æ Ï»┘Å┘ê┘å┘É Ïº┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É ┘à┘É┘å┘Æ Ïú┘Ä┘ê┘Æ┘ä┘É┘è┘ÄϺÏí┘Ä ┘è┘ÅÏÂ┘ÄϺÏ╣┘Ä┘ü┘Å ┘ä┘Ä┘ç┘Å┘à┘ŠϺ┘ä┘ÆÏ╣┘ÄÏ░┘ÄϺϿ┘Å ┘à┘ÄϺ ┘â┘ÄϺ┘å┘Å┘êϺ ┘è┘ÄÏ│┘ÆÏ¬┘ÄÏÀ┘É┘èÏ╣┘Å┘ê┘å┘Ä Ïº┘äÏ│┘æ┘Ä┘à┘ÆÏ╣┘Ä ┘ê┘Ä┘à┘ÄϺ ┘â┘ÄϺ┘å┘Å┘êϺ ┘è┘ÅÏ¿┘ÆÏÁ┘ÉÏ▒┘Å┘ê┘å┘Ä (20)

 

Artinya:

Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini, dan sekali-kali tidak adalah bagi mereka penolong selain Allah. Siksaan itu dilipat gandakan kepada mereka. Mereka selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihat(nya). (11: 20)

 

Pada pelajaran lalu, telah dipelajari bahwa barangsiapa yang mengabaikan dan menganggap enteng jalan Allah yang lurus, maka mereka akan terlilit kesulitan dan mendapatkan azab Allah baik di dunia maupun di akhirat. Pada ayat tadi disebutkan bahwa orang-orang yang mengabaikan jalan Allah itu jangan bermimpi dan menyangka dapat lari menyelamatkan diri dari kemurkaan Allah. Mereka juga jangan sekali-sekali bermimpi bisa melawan kekuasaan Allah, meskipun mereka memiliki pembantu atau pendukung yang banyak.

 

Lanjutan ayat tadi mengatakan, siksa dan azab bagi orang-orang semacam ini berlipat ganda, karena selain menyimpang dari jalan Allah, mereka juga telah menyeret orang lain ke arah penyelewengan dan kesesatan itu. Dengan demikian, dosa dan kesalahan mereka pun menjadi berlipat ganda. Dalam riwayat-riwayat Islam disebutkan bahwa balasan atau siksaan untuk para ulama yang menyebabkan kesesatan umat sedemikian berlipat gandanya dibandingkan dengan siksaan untuk orang-orang bodoh yang sesat.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Pada Hari kiamat kelak, tak seorang pun dari para penjahat dan pendosa yang dapat melarikan diri dari hukuman Allah, meski mereka adalah para penguasa kerajaan atau pemerintahan thaghut yang memiliki banyak pendukung dan pembantu.

2. Sikap ekstrim dan keras kepala telah menyebabkan mata dan telinga orang-orang kafir buta dan tuli, sehingga mereka tidak bisa mendengar dan melihat kebenaran.

 

Ayat ke 21-22

 

Ïú┘Å┘ê┘ä┘ÄϪ┘É┘â┘Ä Ïº┘ä┘æ┘ÄÏ░┘É┘è┘å┘Ä Ï«┘ÄÏ│┘ÉÏ▒┘Å┘êϺ Ïú┘Ä┘å┘Æ┘ü┘ÅÏ│┘Ä┘ç┘Å┘à┘Æ ┘ê┘ÄÏÂ┘Ä┘ä┘æ┘Ä Ï╣┘Ä┘å┘Æ┘ç┘Å┘à┘Æ ┘à┘ÄϺ ┘â┘ÄϺ┘å┘Å┘êϺ ┘è┘Ä┘ü┘ÆÏ¬┘ÄÏ▒┘Å┘ê┘å┘Ä (21) ┘ä┘ÄϺ ϼ┘ÄÏ▒┘Ä┘à┘Ä Ïú┘Ä┘å┘æ┘Ä┘ç┘Å┘à┘Æ ┘ü┘É┘è Ϻ┘ä┘ÆÏó┘ÄÏ«┘ÉÏ▒┘ÄÏ®┘É ┘ç┘Å┘à┘ŠϺ┘ä┘ÆÏú┘ÄÏ«┘ÆÏ│┘ÄÏ▒┘Å┘ê┘å┘Ä (22)

 

Artinya:

Mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan. (11: 21)

 

Pasti mereka itu di akhirat menjadi orang-orang yang paling merugi. (11: 22)

 

Pada ayat sebelumnya telah dijelaskan nasib para pemimpin sesat, sementara dua ayat ini mengatakan bahwa mereka itu benar-benar akan mengalami kerugian yang abadi. Dalam pandangan Islam, dunia adalah pasar di mana masyarakat akan memperdagangkan umur mereka. Sementara itu, pada pedagang yang siap melakukan jual-beli dengan umur manusia adalah Allah, setan, sesama manusia, dan juga hawa nafsu. Di antara mereka hanya Allah sajalah yang berani membeli dagangan kita dengan harga tinggi, dan janji pembayaran uangnya bersifat pasti. Karena itu, apabila kita menjual umur kita kepada selain Allah, maka pastilah perdagangan kita itu akan merugi.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Kehilangan harta benda dan kedudukan adalah sebuah kerugian. Namun, kerugian yang terbesar adalah kehilangan sifat-sifat kemanusiaan dalam diri kita.

2. Berbagai kerugian duniawi masih bisa kita tebus. Akan tetapi, berlalunya umur tidak akan bisa kita kembalikan dan hal ini merupakan kerugian luar biasa yang tidak bisa ditebus.

 

Ayat ke 23

 

ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä Ïº┘ä┘æ┘ÄÏ░┘É┘è┘å┘Ä Ïó┘Ä┘à┘Ä┘å┘Å┘êϺ ┘ê┘ÄÏ╣┘Ä┘à┘É┘ä┘Å┘êϺ Ϻ┘äÏÁ┘æ┘ÄϺ┘ä┘ÉÏ¡┘ÄϺϬ┘É ┘ê┘ÄÏú┘ÄÏ«┘ÆÏ¿┘ÄϬ┘Å┘êϺ ÏÑ┘É┘ä┘Ä┘ë Ï▒┘ÄÏ¿┘æ┘É┘ç┘É┘à┘Æ Ïú┘Å┘ê┘ä┘ÄϪ┘É┘â┘Ä Ïú┘ÄÏÁ┘ÆÏ¡┘ÄϺϿ┘ŠϺ┘ä┘ÆÏ¼┘Ä┘å┘æ┘ÄÏ®┘É ┘ç┘Å┘à┘Æ ┘ü┘É┘è┘ç┘ÄϺ Ï«┘ÄϺ┘ä┘ÉÏ»┘Å┘ê┘å┘Ä (23)

 

Artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (11: 23)

 

Manusia yang menyimpang dan menyeleweng dari jalan yang telah ditunjukkan Allah akan mengalami kerugian baik di dunia maupun di akhirat. Kelak di akhirat mereka akan dimasukkan ke dalam api neraka. Sebalinya, orang-orang mukmin yang saleh selalu taat, tunduk, dan khusyu di hadapan perintah-perintah Allah, mereka selalu mendapatkan keuntungan abadi, dan kelak mereka akan mendapatkan sorga yang penuh dengan rahmat dan kenikmatan dari Allah Swt.

 

Penekanan ayat tadi adalah terhadap semangat ketaatan, ketundukan, dan kekhusyukan di hadapan Allah yang merupakan indikasi kebersihan jiwa. Dengan kata lain, kaum mukmin harus mewaspadai sifat sombong, riya, dan berbangga diri yang sudah barang tentu tidak relevan dengan jiwa ibadah dan penghambaan diri terhadap Allah. Sementara itu, orang-orang kafir diliputi oleh jiwa dan semangat penentangan terhadap Allah dengan menunjukkan sikap acuh tak acuh dan keras kepala.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Kita tidak cukup mengandalkan dan menilai amal perbuatan secara lahiriah saja, karena kondisi-kondisi hati dan maknawiyat seseorang memiliki peran dan pengaruh dominan dalam meraih pahala Allah Swt.

2. Dalam pendidikan ilahi, ancaman dan berita gembira selalu disampaikan beriringan. Karena itu, orang-orang sesat selalu mendapatkan ancaman, sementara orang-orang yang lurus dan beramal saleh selalu mendapatkan dorongan dan berita gembira.

 

Ayat ke 24

 

┘à┘ÄϽ┘Ä┘ä┘ŠϺ┘ä┘Æ┘ü┘ÄÏ▒┘É┘è┘é┘Ä┘è┘Æ┘å┘É ┘â┘ÄϺ┘ä┘ÆÏú┘ÄÏ╣┘Æ┘à┘Ä┘ë ┘ê┘ÄϺ┘ä┘ÆÏú┘ÄÏÁ┘Ä┘à┘æ┘É ┘ê┘ÄϺ┘ä┘ÆÏ¿┘ÄÏÁ┘É┘èÏ▒┘É ┘ê┘ÄϺ┘äÏ│┘æ┘Ä┘à┘É┘èÏ╣┘É ┘ç┘Ä┘ä┘Æ ┘è┘ÄÏ│┘ÆÏ¬┘Ä┘ê┘É┘è┘ÄϺ┘å┘É ┘à┘ÄϽ┘Ä┘ä┘ïϺ Ïú┘Ä┘ü┘Ä┘ä┘ÄϺ Ϭ┘ÄÏ░┘Ä┘â┘æ┘ÄÏ▒┘Å┘ê┘å┘Ä (24)

 

Artinya:

Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)? (11: 24)

 

Pada ayat ini, al-Quran dengan jelas dan gamblang membandingkan kondisi orang-orang kafir dan mukmin dengan gambaran sebagai berikut. "Orang-orang kafir itu tidak bisa mendengar dan melihat kebenaran. Karena itu, mereka pantas disebut sebagai buta dan tuli. Sementara orang-orang mukmin dengan yang selalu mendengarkan kebenaran dan dengan ikhlas menerima kebenaran tersebut, benar-benar pantas disebut sebagai orang-orang yang melihat dan mendengar yang hakiki."

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Sebagaimana hewan-hewan, manusia dikarunia indera penglihatan dan pendengaran. Namun yang membedakan manusia dengan hewan adalah bahwa manusia mampu melihat dan mendengar hakikat maknawi di balik panca inderanya itu.

2. Salah satu metode atau cara al-Quran dalam mendidik umat manusia adalah cara pembandingan antara yang baik dan yang buruk, yang indah dan yang jelek, atau perbuatan yang baik dan perbuatan dosa.

Senin, 24 Februari 2014 19:50

Tafsir Al-Quran, Surat Hud Ayat 17-19

Ayat ke 17

 

Ïú┘Ä┘ü┘Ä┘à┘Ä┘å┘Æ ┘â┘ÄϺ┘å┘Ä Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘ë Ï¿┘Ä┘è┘æ┘É┘å┘ÄÏ®┘ì ┘à┘É┘å┘Æ Ï▒┘ÄÏ¿┘æ┘É┘ç┘É ┘ê┘Ä┘è┘ÄϬ┘Æ┘ä┘Å┘ê┘ç┘Å Ï┤┘ÄϺ┘ç┘ÉÏ»┘î ┘à┘É┘å┘Æ┘ç┘Å ┘ê┘Ä┘à┘É┘å┘Æ ┘é┘ÄÏ¿┘Æ┘ä┘É┘ç┘É ┘â┘ÉϬ┘ÄϺϿ┘Å ┘à┘Å┘êÏ│┘Ä┘ë ÏÑ┘É┘à┘ÄϺ┘à┘ïϺ ┘ê┘ÄÏ▒┘ÄÏ¡┘Æ┘à┘ÄÏ®┘ï Ïú┘Å┘ê┘ä┘ÄϪ┘É┘â┘Ä ┘è┘ÅÏñ┘Æ┘à┘É┘å┘Å┘ê┘å┘Ä Ï¿┘É┘ç┘É ┘ê┘Ä┘à┘Ä┘å┘Æ ┘è┘Ä┘â┘Æ┘ü┘ÅÏ▒┘Æ Ï¿┘É┘ç┘É ┘à┘É┘å┘Ä Ïº┘ä┘ÆÏú┘ÄÏ¡┘ÆÏ▓┘ÄϺϿ┘É ┘ü┘ÄϺ┘ä┘å┘æ┘ÄϺÏ▒┘Å ┘à┘Ä┘ê┘ÆÏ╣┘ÉÏ»┘Å┘ç┘Å ┘ü┘Ä┘ä┘ÄϺ Ϭ┘Ä┘â┘Å ┘ü┘É┘è ┘à┘ÉÏ▒┘Æ┘è┘ÄÏ®┘ì ┘à┘É┘å┘Æ┘ç┘Å ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä┘ç┘ŠϺ┘ä┘ÆÏ¡┘Ä┘é┘æ┘Å ┘à┘É┘å┘Æ Ï▒┘ÄÏ¿┘æ┘É┘â┘Ä ┘ê┘Ä┘ä┘Ä┘â┘É┘å┘æ┘Ä Ïú┘Ä┘â┘ÆÏ½┘ÄÏ▒┘Ä Ïº┘ä┘å┘æ┘ÄϺÏ│┘É ┘ä┘ÄϺ ┘è┘ÅÏñ┘Æ┘à┘É┘å┘Å┘ê┘å┘Ä (17)

 

Artinya:

Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (11: 17)

 

Di antara orang-orang yang tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad Saw adalah kaum Yahudi Madinah yang dengan berbagai alasan selalu menolak kebenaran al-Quran dan risalah Nabi Muhammad. Allah Swt dalam ayat ini berfirman kepada orang-orang Yahudi itu, "Apakah kalian tidak mengimani risalah Musa dan kebenaran Taurat? Lalu mengapa kini ketika Tuhan memberikan tanggung jawab risalah kepada orang lain, kalian merasa heran dan tidak mau mematuhinya? Apa dalil yang kamu punyai dengan menyakini bahwa setelah nabi Musa tidak ada lagi nabi yang lain? Bukankah kalian menantikan nabi selanjutnya, sebagaimana yang dijanjikan dalam Taurat? Apakah kalian tidak membaca ciri-ciri Nabi Muhammad yang tercantum dalam kitab Taurat itu? Jika kalian benar-benar beriman kepada Taurat, kalian pun seharusnya beriman kepada Muhammad dan al-Quran. Kalau tidak, kalian sebagaimana orang-orang kafir lainnya, akan ditempatkan di neraka."

 

Di dalam ayat ini, selain dari kesaksian Taurat terhadap kebenaran Nabi Muhammad, juga disebutkan tentang seorang saksi. Menurut berbagai riwayat, saksi yang dimaksud dalam ayat ini adalah Imam Ali as. Beliau adalah laki-laki pertama yang mengimani kenabian Muhammad Saw. Tentu saja, Imam Ali as dijadikan saksi bukan karena hubungan kekerabatannya dengan Nabi Muhammad, melainkan karena ketakwaan dan kejujurannya. Lanjutan ayat ini mengatakan kepada orang-orang beriman agar jangan pernah meragukan kebenaran al-Quran karena kitab ini benar-benar berisi wahyu dari Allah.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Adanya pengikut yang jujur, benar, dan layak, adalah salah satu tanda-tanda kebenaran para nabi utusan Allah.

2. Keyakinan yang benar adalah yang bersumber dari akal sehat atau bersumber dari wahyu. Pendapat mayoritas bukanlah ukuran dari kebenaran sebuah pemikiran atau keyakinan.

 

Ayat ke 18-19

 

┘ê┘Ä┘à┘Ä┘å┘Æ Ïú┘ÄÏ©┘Æ┘ä┘Ä┘à┘Å ┘à┘É┘à┘æ┘Ä┘å┘É Ïº┘ü┘ÆÏ¬┘ÄÏ▒┘Ä┘ë Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘ë Ϻ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É ┘â┘ÄÏ░┘ÉÏ¿┘ïϺ Ïú┘Å┘ê┘ä┘ÄϪ┘É┘â┘Ä ┘è┘ÅÏ╣┘ÆÏ▒┘ÄÏÂ┘Å┘ê┘å┘Ä Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘ë Ï▒┘ÄÏ¿┘æ┘É┘ç┘É┘à┘Æ ┘ê┘Ä┘è┘Ä┘é┘Å┘ê┘ä┘ŠϺ┘ä┘ÆÏú┘ÄÏ┤┘Æ┘ç┘ÄϺϻ┘Å ┘ç┘ÄÏñ┘Å┘ä┘ÄϺÏí┘É Ïº┘ä┘æ┘ÄÏ░┘É┘è┘å┘Ä ┘â┘ÄÏ░┘ÄÏ¿┘Å┘êϺ Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘ë Ï▒┘ÄÏ¿┘æ┘É┘ç┘É┘à┘Æ Ïú┘Ä┘ä┘ÄϺ ┘ä┘ÄÏ╣┘Æ┘å┘ÄÏ®┘ŠϺ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘ë Ϻ┘äÏ©┘æ┘ÄϺ┘ä┘É┘à┘É┘è┘å┘Ä (18) Ϻ┘ä┘æ┘ÄÏ░┘É┘è┘å┘Ä ┘è┘ÄÏÁ┘ÅÏ»┘æ┘Å┘ê┘å┘Ä Ï╣┘Ä┘å┘Æ Ï│┘ÄÏ¿┘É┘è┘ä┘É Ïº┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É ┘ê┘Ä┘è┘ÄÏ¿┘ÆÏ║┘Å┘ê┘å┘Ä┘ç┘ÄϺ Ï╣┘É┘ê┘Äϼ┘ïϺ ┘ê┘Ä┘ç┘Å┘à┘Æ Ï¿┘ÉϺ┘ä┘ÆÏó┘ÄÏ«┘ÉÏ▒┘ÄÏ®┘É ┘ç┘Å┘à┘Æ ┘â┘ÄϺ┘ü┘ÉÏ▒┘Å┘ê┘å┘Ä (19)

 

Artinya:

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: "Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka". Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim. (11: 18)

 

(yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat. (11: 19)

 

Pengingkaran terhadap risalah salah satu nabi sama artinya dengan melakukan kebohongan terhadap Tuhan. Mereka mengatakan apa yang tidak pernah dikatakan oleh Tuhan, namun mereka mengaku-aku bahwa perkataan itu datang dari Tuhan. Ayat ini mengatakan, "Setiap orang yang berbohong atas nama Tuhan, kelak akan menghadapi pengadilan di Hari Kiamat dan mereka harus mempertanggungjawabkan kebohongan itu di hadapan Tuhan. Pada hari pengadilan itu, mereka tidak bisa lagi mengingkari perbuatan mereka itu karena selain Tuhan yang mengetahui segala amal perbuatan manusia, juga akan dihadirkan saksi-saksi lainnya."

 

Berdasarkan ayat-ayat ini, pada pengadilan Hari Kiamat, para nabi dan auliya Allah akan menjadi saksi bagi segala perbuatan umat mereka. Selain itu, malaikat yang selalu mendampingi manusia, anggota badan manusia, dan juga bumi yang selama ini diinjak oleh manusia, akan bersaksi atas perbuatan manusia. Tentu saja, dengan sedemikian banyak saksi, di pengadilan hari kiamat, tidak akan ada tempat untuk menghindar. Selain dari hukuman di akhirat, di dunia pun para pendusta itu juga akan mendapatkan laknat Allah dan akan dijauhkan dari rahmat-Nya.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Para penulis dan pembicara haruslah berhati-hati dalam menulis dan berbicara agar tidak melakukan satu kebohongan pun atau menyesatkan pemikiran orang-orang.

2. Jalan Allah adalah jalan yang terang dan lurus, namun musuh-musuh Allah selalu berusaha membuat orang-orang tersesat dan terjauhkan dari jalan yang terang dan lurus ini.

Senin, 24 Februari 2014 19:48

Tafsir Al-Quran, Surat Hud 13-16

Ayat ke 13-14

 

Ïú┘Ä┘à┘Æ ┘è┘Ä┘é┘Å┘ê┘ä┘Å┘ê┘å┘Ä Ïº┘ü┘ÆÏ¬┘ÄÏ▒┘ÄϺ┘ç┘Å ┘é┘Å┘ä┘Æ ┘ü┘ÄÏú┘ÆÏ¬┘Å┘êϺ Ï¿┘ÉÏ╣┘ÄÏ┤┘ÆÏ▒┘É Ï│┘Å┘ê┘ÄÏ▒┘ì ┘à┘ÉϽ┘Æ┘ä┘É┘ç┘É ┘à┘Å┘ü┘ÆÏ¬┘ÄÏ▒┘Ä┘è┘ÄϺϬ┘ì ┘ê┘ÄϺϻ┘ÆÏ╣┘Å┘êϺ ┘à┘Ä┘å┘É ÏºÏ│┘ÆÏ¬┘ÄÏÀ┘ÄÏ╣┘ÆÏ¬┘Å┘à┘Æ ┘à┘É┘å┘Æ Ï»┘Å┘ê┘å┘É Ïº┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É ÏÑ┘É┘å┘Æ ┘â┘Å┘å┘ÆÏ¬┘Å┘à┘Æ ÏÁ┘ÄϺϻ┘É┘é┘É┘è┘å┘Ä (13) ┘ü┘ÄÏÑ┘É┘å┘Æ ┘ä┘Ä┘à┘Æ ┘è┘ÄÏ│┘ÆÏ¬┘Äϼ┘É┘èÏ¿┘Å┘êϺ ┘ä┘Ä┘â┘Å┘à┘Æ ┘ü┘ÄϺÏ╣┘Æ┘ä┘Ä┘à┘Å┘êϺ Ïú┘Ä┘å┘æ┘Ä┘à┘ÄϺ Ïú┘Å┘å┘ÆÏ▓┘É┘ä┘Ä Ï¿┘ÉÏ╣┘É┘ä┘Æ┘à┘É Ïº┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É ┘ê┘ÄÏú┘Ä┘å┘Æ ┘ä┘ÄϺ ÏÑ┘É┘ä┘Ä┘ç┘Ä ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ ┘ç┘Å┘ê┘Ä ┘ü┘Ä┘ç┘Ä┘ä┘Æ Ïú┘Ä┘å┘ÆÏ¬┘Å┘à┘Æ ┘à┘ÅÏ│┘Æ┘ä┘É┘à┘Å┘ê┘å┘Ä (14)

 

Artinya:

Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar". (11: 13)

 

Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? (11: 14)

 

Pada pertemuan kita yang lalu, kami telah menyampaikan bahwa orang-orang Kafir bersikap keras kepala terhadap Nabi Muhammad. Ayat ini juga mengisyaratkan salah satu di antara sikap orang-orang kafir itu. Ayat ini mengatakan, "Mereka menisbatkan al-Quran kepada Nabi Muhammad dan mengklaim bahwa al-Quran adalah buatan Nabi Muhammad. Jawaban dari tuduhan ini adalah kalimat yang logis, kalau al-Quran ini adalah buatan seorang manusia yang tidak pernah belajar membaca-menulis, maka tentunya kalian pun bisa membuat kitab semacam al-Quran ini. Karena itu, cobalah kalian membuat ayat-ayat yang menyerupai ayat al-Quran.

 

Hal yang menarik di dalam ayat ini adalah bahwa Allah Swt memberikan keringanan. Ayat ini mengatakan, "Tidak perlu kalian membuat 114 surat seperti al-Quran, melainkan cukup 10 surat saja." Selain itu, ayat ini juga menyuruh orang-orang kafir itu untuk saling menolong satu sama lain dalam membuat ayat-ayat yang menyerupai al-Quran. Namun kini setelah 14 abad berlalu, terbukti tidak ada orang yang mampu membuat satu surat pun yang menyerupai surat dalam al-Quran. Hal ini merupakan salah satu dalil bahwa al-Quran adalah benar-benar wahyu ilahi.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. al-Quran bukanlah hasil dari ilmu filsafat atau ilmu pengetahuan alam manusia, melainkan berasal dari ilmu tak berhingga yang dimiliki Allah Swt. Oleh karena itulah kandungan isinya tidak terbatas oleh masa, tempat, ras, atau generasi.

2. Kekafiran dan keragu-raguan yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam jangan sampai membuat kita meragukan kebenaran al-Quran dan risalah Nabi Muhammad Saw.

 

Ayat ke 15-16

 

┘à┘Ä┘å┘Æ ┘â┘ÄϺ┘å┘Ä ┘è┘ÅÏ▒┘É┘èÏ»┘ŠϺ┘ä┘ÆÏ¡┘Ä┘è┘ÄϺϮ┘Ä Ïº┘äÏ»┘æ┘Å┘å┘Æ┘è┘ÄϺ ┘ê┘ÄÏ▓┘É┘è┘å┘ÄϬ┘Ä┘ç┘ÄϺ ┘å┘Å┘ê┘Ä┘ü┘æ┘É ÏÑ┘É┘ä┘Ä┘è┘Æ┘ç┘É┘à┘Æ Ïú┘ÄÏ╣┘Æ┘à┘ÄϺ┘ä┘Ä┘ç┘Å┘à┘Æ ┘ü┘É┘è┘ç┘ÄϺ ┘ê┘Ä┘ç┘Å┘à┘Æ ┘ü┘É┘è┘ç┘ÄϺ ┘ä┘ÄϺ ┘è┘ÅÏ¿┘ÆÏ«┘ÄÏ│┘Å┘ê┘å┘Ä (15) Ïú┘Å┘ê┘ä┘ÄϪ┘É┘â┘Ä Ïº┘ä┘æ┘ÄÏ░┘É┘è┘å┘Ä ┘ä┘Ä┘è┘ÆÏ│┘Ä ┘ä┘Ä┘ç┘Å┘à┘Æ ┘ü┘É┘è Ϻ┘ä┘ÆÏó┘ÄÏ«┘ÉÏ▒┘ÄÏ®┘É ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ Ϻ┘ä┘å┘æ┘ÄϺÏ▒┘Å ┘ê┘ÄÏ¡┘ÄÏ¿┘ÉÏÀ┘Ä ┘à┘ÄϺ ÏÁ┘Ä┘å┘ÄÏ╣┘Å┘êϺ ┘ü┘É┘è┘ç┘ÄϺ ┘ê┘ÄÏ¿┘ÄϺÏÀ┘É┘ä┘î ┘à┘ÄϺ ┘â┘ÄϺ┘å┘Å┘êϺ ┘è┘ÄÏ╣┘Æ┘à┘Ä┘ä┘Å┘ê┘å┘Ä (16)

 

Artinya:

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. (11: 15)

 

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (11: 16)

 

Kedua ayat ini menjelaskan tentang salah satu akar terpenting dari penentangan terhadap Rasulullah, yaitu masalah duniawi. Kedua ayat ini mengatakan, "Mereka mengejar kehidupan duniawiah dan ingin melakukan segala hal untuk mencari kelezatan hidup di dunia. Untuk itulah, mereka tidak mau mematuhi aturan-aturan Ilahi," Sangat wajar jika orang-orang seperti itu kemudian melangkahkan kakinya keluar dari batas-batas yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Demi kenikmatan hidup di dunia, mereka mau melakukan berbagai dosa dan kezaliman.

 

Tentu saja, sangat mungkin orang-orang pengejar dunia itu melakukan berbagai kebaikan. Banyak kita temui orang-orang yang dikenal dermawan dan sering melakukan amal kebajikan, namun di saat yang sama mereka pun melakukan korupsi atau melanggar hak-hak orang lain. Motivasi orang-orang pengejar dunia dalam melakukan kebaikan bukanlah keridhaan Allah melainkan keuntungan duniawiah semata. Namun, amal kebaikan mereka itu tidak akan disia-siakan Allah dan Allah tetap memberi mereka balasan, namun terbatas di dunia saja. Kelak di hari akhirat, amal ibadah mereka tidak akan ada artinya.

 

Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Nilai amal ibadah kita tergantung dari motivasi dan tujuannya. Sebuah perbuatan baik, jika tidak diniatkan untuk mencari ridha, tidak ada artinya di mata Allah.

2. Tuhan itu adil dan amal baik orang-orang pengejar dunia tidak akan sia-sia saja. Namun, pahala yang diberikan Allah kepada mereka hanya terbatas di dunia yang singkat dan tak bernilai ini. Amal-amal baik tanpa niat demi keridhaan Allah, tidak akan bisa menyelamatkan manusia di alam akhirat kelak.

3. Para pengejar dunia akan datang ke alam akhirat dengan tangan kosong dan tempat mereka adalah di neraka.

Senin, 24 Februari 2014 19:47

Tafsir Al-Quran, Surat Hud Ayat 9-12

Ayat ke 9-10

 

┘ê┘Ä┘ä┘ÄϪ┘É┘å┘Æ Ïú┘ÄÏ░┘Ä┘é┘Æ┘å┘ÄϺ Ϻ┘ä┘ÆÏÑ┘É┘å┘ÆÏ│┘ÄϺ┘å┘Ä ┘à┘É┘å┘æ┘ÄϺ Ï▒┘ÄÏ¡┘Æ┘à┘ÄÏ®┘ï Ͻ┘Å┘à┘æ┘Ä ┘å┘ÄÏ▓┘ÄÏ╣┘Æ┘å┘ÄϺ┘ç┘ÄϺ ┘à┘É┘å┘Æ┘ç┘Å ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä┘ç┘Å ┘ä┘Ä┘è┘ÄϪ┘Å┘êÏ│┘î ┘â┘Ä┘ü┘Å┘êÏ▒┘î (9) ┘ê┘Ä┘ä┘ÄϪ┘É┘å┘Æ Ïú┘ÄÏ░┘Ä┘é┘Æ┘å┘ÄϺ┘ç┘Å ┘å┘ÄÏ╣┘Æ┘à┘ÄϺÏí┘Ä Ï¿┘ÄÏ╣┘ÆÏ»┘Ä ÏÂ┘ÄÏ▒┘æ┘ÄϺÏí┘Ä ┘à┘ÄÏ│┘æ┘ÄϬ┘Æ┘ç┘Å ┘ä┘Ä┘è┘Ä┘é┘Å┘ê┘ä┘Ä┘å┘æ┘Ä Ï░┘Ä┘ç┘ÄÏ¿┘Ä Ïº┘äÏ│┘æ┘Ä┘è┘æ┘ÉϪ┘ÄϺϬ┘Å Ï╣┘Ä┘å┘æ┘É┘è ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä┘ç┘Å ┘ä┘Ä┘ü┘ÄÏ▒┘ÉÏ¡┘î ┘ü┘ÄÏ«┘Å┘êÏ▒┘î (10)

 

Artinya:

Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. (11: 9)

 

Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: "Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku"; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga. (11: 10)

 

Kedua ayat tadi menyinggung kondisi psikologis umat manusia pada umumnya, yaitu ketika kenikmatan yang mereka miliki terlepas dari tangan, mereka akan bersedih dan berputus asa. Sebaliknya, bila mereka mendapatkan nikmat itu kembali, mereka akan menjadi sombong. Padahal, kenikmatan adalah ujian dari Allah Swt kepada manusia. Nikmat tidak selalu merupakan kebaikan dari Allah, dan bencana tidak pula selalu berarti kemarahan dari Allah. Nikmat adalah ujian yang akan memperlihatkan bagaimana sikap manusia dalam berbagai macam kondisi.

 

Ayat ini juga memberitahukan kekhasan kehidupan di dunia ini. Kehidupan di dunia tidaklah monoton dan selalu saja ada perubahan yang terjadi di sana-sini. Kenikmatan di dunia tidak akan selalu datang, melainkan akan hadir silih berganti dengan musibah dan kesusahan. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat, "Perjalanan nasib memiliki dua wajah, kadang-kadang nasib akan berpihak kepadamu, dan kadang bertentangan denganmu. Karena itu, ketika nasib berpihak kepadamu, janganlah sombong, dan ketika nasib tidak bersamamu, bersabarlah. Kedua kondisi itu merupakan ujian bagimu."

 

Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Manusia seringkali lemah. Ketika ia harus melepaskan nikmat yang selama ini dimilikinya, dia akan berputus asa dari rahmat Allah Yang Mahaluas.

2. Nikmat ilahi adalah kemurahan hati dari Allah Swt, bukan hak atau sesuatu yang bisa dituntut oleh manusia. Karena itu, ketika manusia mendapat nikmat, sudah sepatutnya ia berterima kasih kepada Allah.

3. Kesulitan dan kebahagiaan di dunia akan cepat berlalu. Karena itu kita haruslah lebih memikirkan kehidupan di alam akhirat yang abadi.

 

Ayat ke 11

 

ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ Ϻ┘ä┘æ┘ÄÏ░┘É┘è┘å┘Ä ÏÁ┘ÄÏ¿┘ÄÏ▒┘Å┘êϺ ┘ê┘ÄÏ╣┘Ä┘à┘É┘ä┘Å┘êϺ Ϻ┘äÏÁ┘æ┘ÄϺ┘ä┘ÉÏ¡┘ÄϺϬ┘É Ïú┘Å┘ê┘ä┘ÄϪ┘É┘â┘Ä ┘ä┘Ä┘ç┘Å┘à┘Æ ┘à┘ÄÏ║┘Æ┘ü┘ÉÏ▒┘ÄÏ®┘î ┘ê┘ÄÏú┘Äϼ┘ÆÏ▒┘î ┘â┘ÄÏ¿┘É┘èÏ▒┘î (11)

 

Artinya:

Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (11: 11)

 

Ayat ini menyatakan bahwa hanya orang-orang yang sabar sajalah yang akan mendapatkan kebahagiaan hakiki. Tentu saja, sabar yang dimaksud dalam hal ini adalah sabar dalam naungan iman kepada Allah Swt. Jika tidak diiringi oleh keimanan, maka sabar hanya akan berupa penderitaan dan kesengsaraan. Dalam berbagai ayat al-Quran, kata saleh dan iman selalu berada berdampingan. Hal ini menunjukkan peran iman dalam menghantarkan manusia kepada kesabaran dan kesetiaan. Tentu saja sabar yang tumbuh dari iman ini tidak hanya bermanfaat dalam menghadapi kesulitan hidup. Dalam keadaan suka cita pun kita harus bersabar agar tidak terjebak dalam kesombongan dan dosa.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Manusia yang beriman akan selalu sabar dalam menghadapi segala macam situasi, baik itu dalam kesempitan, maupun dalam kemakmuran.

2. Kesabaran yang berlandaskan iman akan menjadi manis dan indah, karena manusia yang demikian mengetahui bahwa ada pahala besar yang menantinya.

 

Ayat ke 12

 

┘ü┘Ä┘ä┘ÄÏ╣┘Ä┘ä┘æ┘Ä┘â┘Ä Ï¬┘ÄϺÏ▒┘É┘â┘î Ï¿┘ÄÏ╣┘ÆÏÂ┘Ä ┘à┘ÄϺ ┘è┘Å┘êÏ¡┘Ä┘ë ÏÑ┘É┘ä┘Ä┘è┘Æ┘â┘Ä ┘ê┘ÄÏÂ┘ÄϺϪ┘É┘é┘î Ï¿┘É┘ç┘É ÏÁ┘ÄÏ»┘ÆÏ▒┘Å┘â┘Ä Ïú┘Ä┘å┘Æ ┘è┘Ä┘é┘Å┘ê┘ä┘Å┘êϺ ┘ä┘Ä┘ê┘Æ┘ä┘ÄϺ Ïú┘Å┘å┘ÆÏ▓┘É┘ä┘Ä Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘è┘Æ┘ç┘É ┘â┘Ä┘å┘ÆÏ▓┘î Ïú┘Ä┘ê┘Æ Ï¼┘ÄϺÏí┘Ä ┘à┘ÄÏ╣┘Ä┘ç┘Å ┘à┘Ä┘ä┘Ä┘â┘î ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä┘à┘ÄϺ Ïú┘Ä┘å┘ÆÏ¬┘Ä ┘å┘ÄÏ░┘É┘èÏ▒┘î ┘ê┘ÄϺ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Å Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘ë ┘â┘Å┘ä┘æ┘É Ï┤┘Ä┘è┘ÆÏí┘ì ┘ê┘Ä┘â┘É┘è┘ä┘î (12)

 

Artinya:

Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu. (11: 12)

 

Ayat ini melanjutkan ayat sebelumnya yang menyinggung kelemahan manusia dalam menerima berbagai kesusahan. Dalam ayat ini Allah Swt berfirman, "Jika Nabi tidak diberi kekuatan dan kelapangan dada oleh Allah Swt, niscaya iapun akan seperti manusia pada umumnya, yang tidak sanggup menerima berbagai cercaan dan hinaan dari kaumnya. Jika Nabi berlemah hati, tentulah da tidak akan bisa menyampaikan risalah Allah dengan baik kepada kaumnya dan akan mengatakan, "Mereka tidak akan mau melaksanakan perintah Allah ini, jadi lebih baik aku tidak menyampaikan ayat ini".

 

Karena itu, Allah menegaskan di ayat ini bahwa Nabi hanya bertugas untuk menyampaikan risalah Allah semata. Apapun yang dilakukan oleh umatnya, baik mereka patuh atau membangkan, itu adalah urusan mereka dengan Allah. Allah akan selalu mengawasi setiap orang dan seluruh alam semestan ini. Nabi tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang sikap orang lain. Bila mereka beriman, mereka akan mendapat pahala, dan sebaliknya, bila mereka membangkang, Allah akan menghukum mereka.

 

Singkat kata, ayat ke-12 surat Hud ini ditujukan kepada Rasulullah. Allah Swt berfiman kepada Rasulullah, "Penyampaian wahyu haruslah secepat mungkin dan jangan ditunda-tunda dengan pertimbangan apapun. Janganlah menunda-nunda penyampaian ayat hanya karena kekhawatiran bahwa ayat itu tidak akan diterima oleh orang-orang yang keras kepala dan para penentang Islam."

 

Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Penyampaian ajaran agama haruslah dilakukan secara tegas dan jangan memperdulikan kata-kata para penentang.

2. Masing-masing kita bertanggung jawab untuk melaksanakan apa yang menjadi kewajiban kita. Lakukan apa yang harus kau lakukan, dan serahkan urusan selanjutnya kepada Allah Swt.

3. Kewajiban para nabi adalah menyampaikan wahyu Ilahi kepada mereka, bukan memaksa mereka untuk beriman.

Senin, 24 Februari 2014 19:36

Tafsir Al-Quran, Surat Hud Ayat 6-8

Ayat ke 6

 

┘ê┘Ä┘à┘ÄϺ ┘à┘É┘å┘Æ Ï»┘ÄϺϿ┘æ┘ÄÏ®┘ì ┘ü┘É┘è Ϻ┘ä┘ÆÏú┘ÄÏ▒┘ÆÏÂ┘É ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘ë Ϻ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É Ï▒┘ÉÏ▓┘Æ┘é┘Å┘ç┘ÄϺ ┘ê┘Ä┘è┘ÄÏ╣┘Æ┘ä┘Ä┘à┘Å ┘à┘ÅÏ│┘ÆÏ¬┘Ä┘é┘ÄÏ▒┘æ┘Ä┘ç┘ÄϺ ┘ê┘Ä┘à┘ÅÏ│┘ÆÏ¬┘Ä┘ê┘ÆÏ»┘ÄÏ╣┘Ä┘ç┘ÄϺ ┘â┘Å┘ä┘æ┘î ┘ü┘É┘è ┘â┘ÉϬ┘ÄϺϿ┘ì ┘à┘ÅÏ¿┘É┘è┘å┘ì (6)

 

Artinya:

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (11: 6)

 

Ayat ini menyinggung dua masalah penting, yaitu rizki Allah yang berlimpah ruah, dan pengetahuan Allah yang mencakup segala sesuatu. Berdasarkan ayat tadi dan ayat-ayat yang serupa dengannya dalam kitab suci al-Quran, Allah Swt bukan hanya Pencipta seluruh makhluk yang ada di jagad ini, akan tetapi Allah Swt juga Pemberi rizki semua mereka itu. Artinya bahwa Allah Swt menyediakan berbagai fasilitas hidup mereka. Hal ini tidak terbatas hanya pada manusia, tapi setiap binatang baik kecil atau besar, tercakup dalam undang-undang ilahi ini.

 

Sementara dari satu sisi, Allah Swt menciptakan segala apa yang diperlukan semua makhluk hidup ciptaan-Nya, termasuk air, makanan, oksigen, cahaya, panas dan selainnya; dari sisi lain Allah juga mengajarkan kepada makhluk-makhluk tersebut, tata cara pemanfaatannya. Seorang bayi yang baru lahir ke dunia akan mendapatkan makanan yang diperlukannya, berupa air susu yang telah Allah ciptakan pada ibu bayi tersebut; dan Allah pun telah memberikan kemampuan kepada si bayi untuk menghisap air susu tersebut, sehingga dengan demikian bayi yang lemah dan tidak berdaya itu dapat memperoleh makanannya.

 

Pemberian rizki secara umum dan meluas seperti ini, sudah barang tentu memerlukan pengetahuan yang luas tentang semua makhluk hidup dan keperluan-keperluan mereka. Di antara tuntutan mahkluk hidup yang bergerak ialah berpindah-pindah tempat, dari satu tempat ke tempat lain. Sifat berpindah-pindah tempat ini juga diberikan oleh Allah Swt kepada sebagian makhluknya sebagai salah satu cara pemberian rizki. Dan semua keberadaan makhluk, rizki dan cara-cara mereka memperoleh riski tersebut, baik dengan bergerak ke sana ke mari, atau dengan diam di tempat tertentu, semua itu telah tercantum dengan jelas dan terang dalam kitab-Nya.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Allah Swt telah menjamin rizki semua makhluk-Nya, karena hal itu merupakan salah satu hak makhluk yang ada di sisi Kholiq-nya.

2. Rizki setiap makhluk yang telah dijamin oleh Allah, sama sekali tidak bertentangan dengan usaha dan upaya kita. Bahkan pada dasarnya, tanpa usaha seseorang tidak mungkin memperoleh rizki.

 

Ayat ke 7

 

┘ê┘Ä┘ç┘Å┘ê┘Ä Ïº┘ä┘æ┘ÄÏ░┘É┘è Ï«┘Ä┘ä┘Ä┘é┘Ä Ïº┘äÏ│┘æ┘Ä┘à┘ÄϺ┘ê┘ÄϺϬ┘É ┘ê┘ÄϺ┘ä┘ÆÏú┘ÄÏ▒┘ÆÏÂ┘Ä ┘ü┘É┘è Ï│┘ÉϬ┘æ┘ÄÏ®┘É Ïú┘Ä┘è┘æ┘ÄϺ┘à┘ì ┘ê┘Ä┘â┘ÄϺ┘å┘Ä Ï╣┘ÄÏ▒┘ÆÏ┤┘Å┘ç┘Å Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘ë Ϻ┘ä┘Æ┘à┘ÄϺÏí┘É ┘ä┘É┘è┘ÄÏ¿┘Æ┘ä┘Å┘ê┘Ä┘â┘Å┘à┘Æ Ïú┘Ä┘è┘æ┘Å┘â┘Å┘à┘Æ Ïú┘ÄÏ¡┘ÆÏ│┘Ä┘å┘Å Ï╣┘Ä┘à┘Ä┘ä┘ïϺ ┘ê┘Ä┘ä┘ÄϪ┘É┘å┘Æ ┘é┘Å┘ä┘ÆÏ¬┘Ä ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä┘â┘Å┘à┘Æ ┘à┘ÄÏ¿┘ÆÏ╣┘Å┘êϽ┘Å┘ê┘å┘Ä ┘à┘É┘å┘Æ Ï¿┘ÄÏ╣┘ÆÏ»┘É Ïº┘ä┘Æ┘à┘Ä┘ê┘ÆÏ¬┘É ┘ä┘Ä┘è┘Ä┘é┘Å┘ê┘ä┘Ä┘å┘æ┘Ä Ïº┘ä┘æ┘ÄÏ░┘É┘è┘å┘Ä ┘â┘Ä┘ü┘ÄÏ▒┘Å┘êϺ ÏÑ┘É┘å┘Æ ┘ç┘ÄÏ░┘ÄϺ ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ Ï│┘ÉÏ¡┘ÆÏ▒┘î ┘à┘ÅÏ¿┘É┘è┘å┘î (7)

 

Artinya:

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): "Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati", niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata". (11: 7)

 

Dari ayat ini dan ayat-ayat al-Quran yang lainnya dapat dipahami, bahwa bahan baku utama dunia ini adalah air atau bahan semacam air, dan Allah Swt menciptakan jagat raya ini dengan bahan tersebut. Kemudian Allah menciptakan alam wujud ini di atasnya, itu pun bukan diciptakan dalam satu waktu, tetapi sepanjang 6 masa yang panjang. Adapun tujuan penciptaan jagat raya ini, terutama penciptaan manusia, adalah untuk pengembangan dan penyempurnaan manusia itu, yang dapat terealisasi melalui sistim pemberian ujian-ujian. Sebagaimana dewasa ini dalam berbagai sistim pendidikan, diberlakukan pula berbagai ujian yang terus menerus, baik mingguan, bulanan dan tahunan, untuk memotivasi usaha para pelajar dalam menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan mereka.

 

Dalam sistim pendidikan ilahi pun, setiap orang yang melakukan amal perbuatan yang lebih baik, maka dia akan mendapatkan kedudukan yang lebih baik pula. Tolok ukur kelulusan dalam ujian ilahi ialah amal perbuatan yang dilakukan atas dasar pengetahuan dan keikhlasan. Sudah barang tentu setiap ujian, akan berakhir dengan lulusnya sejumlah orang dan gagalnya sejumlah lain. Hasil ujian hidup ini akan diumumkan di dunia yang lain, dan sesuai dengan hasil tersebut, setiap orang akan menerima hadiah amal baiknya atau menerima balasan amal buruknya.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Sekalipun dengan kekuasaan-Nya, Allah mampu menciptakan segala sesuatu dalam sekejap dan satu waktu, akan tetapi hikmah Allah menuntut penciptaan secara bertahap.

2. Kualitas dan mutu amal perbuatan lebih penting dari pada kuantitas dan jumlahnya. Dengan kata lain, amal perbuatan yang sedikit tapi bermutu dan bernilai tinggi, lebih berharga daripada amal yang banyak tapi semuanya rendah dan tidak bernilai.

 

Ayat ke 8

 

┘ê┘Ä┘ä┘ÄϪ┘É┘å┘Æ Ïú┘ÄÏ«┘æ┘ÄÏ▒┘Æ┘å┘ÄϺ Ï╣┘Ä┘å┘Æ┘ç┘Å┘à┘ŠϺ┘ä┘ÆÏ╣┘ÄÏ░┘ÄϺϿ┘Ä ÏÑ┘É┘ä┘Ä┘ë Ïú┘Å┘à┘æ┘ÄÏ®┘ì ┘à┘ÄÏ╣┘ÆÏ»┘Å┘êÏ»┘ÄÏ®┘ì ┘ä┘Ä┘è┘Ä┘é┘Å┘ê┘ä┘Å┘å┘æ┘Ä ┘à┘ÄϺ ┘è┘ÄÏ¡┘ÆÏ¿┘ÉÏ│┘Å┘ç┘Å Ïú┘Ä┘ä┘ÄϺ ┘è┘Ä┘ê┘Æ┘à┘Ä ┘è┘ÄÏú┘ÆÏ¬┘É┘è┘ç┘É┘à┘Æ ┘ä┘Ä┘è┘ÆÏ│┘Ä ┘à┘ÄÏÁ┘ÆÏ▒┘Å┘ê┘ü┘ïϺ Ï╣┘Ä┘å┘Æ┘ç┘Å┘à┘Æ ┘ê┘ÄÏ¡┘ÄϺ┘é┘Ä Ï¿┘É┘ç┘É┘à┘Æ ┘à┘ÄϺ ┘â┘ÄϺ┘å┘Å┘êϺ Ï¿┘É┘ç┘É ┘è┘ÄÏ│┘ÆÏ¬┘Ä┘ç┘ÆÏ▓┘ÉϪ┘Å┘ê┘å┘Ä (8)

 

Artinya:

Dan sesungguhnya jika Kami undurkan azab dari mereka sampai kepada suatu waktu yang ditentukan. niscaya mereka akan berkata: "Apakah yang menghalanginya?" lngatlah, diwaktu azab itu datang kepada mereka tidaklah dapat dipalingkan dari mereka dan mereka diliputi oleh azab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokkannya. (11:8)

 

Para nabi selalu memberi peringatan kepada manusia, bahwa pelanggaran dan perbuatan dosa akan mengundang kemurkaan Allah di dunia ini. Akan tetapi para pendosa yang dikuasai oleh kebodohan dan kesombongan, bukannya memperhatikan semua peringatan tersebut, mereka justru mentertawakan dan meremehkannya. Dalam ayat ini Allah Swt berkata bahwa jika Dia menunda kedatangan azab oleh karena rahmat dan kasih sayang-Nya, bukan berarti azab tersebut tidak ada. Tapi para pendosa ini pasti akan tertimpa azab di dunia ini, dan sesuatu yang mereka lecehkan itulah yang akan menimpa mereka.

 

Tentu saja penundaan turunnya azab memberi kesempatan kepada para pendosa untuk bertaubat dan sebagian dari mereka mendapat kesempatan emas tersebut melalui jalan ini. Sementara sebagian yang lain tetap saja dalam kebodohan dan kesombongan, sehingga mengabaikan kesempatan yang diberikan. Karena bagaimanapun, kesempatan bertaubat ini terbatas dan jika waktunya sudah habis maka pintu-pintu taubat pun akan tertutup dengan rapat.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Kesempatan dan batas waktu yang diberikan oleh Allah Swt merupakan suatu kesempatan bagi para pendosa untuk menebus kesalahan dan dosa-dosa masa lalu.

2. Menghina, mengejek dan memperolok-olok merupakan cara yang ditempuh oleh orang-orang kafir dalam menghadapi akidah dan keyakinan Islam. Karena orang-orang Kafir tidak akan mampu menghadapi logika  dan argumen orang-orang Mukmin yang kokoh.

Senin, 24 Februari 2014 19:35

Tafsir Al-Quran, Surat Hud Ayat 1-5

Surat Hud diturunkan pada tahun-tahun terakhir kehadiran Nabi Saw di Mekah. Ayat-ayat surat ini menjelaskan dengan gamblang sejarah para Nabi terdahulu, khususnya Nabi Nuh as dan Nabi Muhammad Saw, serta para pengikutnya yang diseru untuk tetap teguh dan istiqamah dalam menghadapi para penentang dan orang-orang kafir. Setelah Nabi Nuh as, Nabi Hud as diutus ke tengah-tengah kaum Aad. Beliau juga menyeru umatnya untuk menyembah Allah Swt dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa, sebagaimana yang telah dijelaskan pada ayat 50  hingga 60 surat Hud. Kemudian dalam surat ini juga ada catatan dialog yang terjadi antara Nabi Hud as dan kaumnya, serta dijelaskan pula akibat yang ditanggung oleh Kaum Aad tersebut.

 

Ayat ke 1-2

 

Ϻ┘äÏ▒ ┘â┘ÉϬ┘ÄϺϿ┘î Ïú┘ÅÏ¡┘Æ┘â┘É┘à┘ÄϬ┘Æ Ïó┘Ä┘è┘ÄϺϬ┘Å┘ç┘ŠϽ┘Å┘à┘æ┘Ä ┘ü┘ÅÏÁ┘æ┘É┘ä┘ÄϬ┘Æ ┘à┘É┘å┘Æ ┘ä┘ÄÏ»┘Å┘å┘Æ Ï¡┘Ä┘â┘É┘è┘à┘ì Ï«┘ÄÏ¿┘É┘èÏ▒┘ì (1) Ïú┘Ä┘ä┘æ┘ÄϺ Ϭ┘ÄÏ╣┘ÆÏ¿┘ÅÏ»┘Å┘êϺ ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ Ϻ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Ä ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä┘å┘É┘è ┘ä┘Ä┘â┘Å┘à┘Æ ┘à┘É┘å┘Æ┘ç┘Å ┘å┘ÄÏ░┘É┘èÏ▒┘î ┘ê┘ÄÏ¿┘ÄÏ┤┘É┘èÏ▒┘î (2)

 

Artinya:

Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. (11: 1)

 

Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya. (11:2)

 

Surat Hud seperti 28 surat al-Quran yang lainnya, dimulai dengan huruf-huruf muqath-tha'ah yakni huruf-huruf terpotong, yang menjelaskan dengan sempurna bahwa al-Quran itu mukjizat Allah yang abadi. Seolah-olah dengan menggunakan huruf muqatha-tha'ah ini, Allah Swt menyatakan, "Aku menggunakan huruf hijaiyah yang kalian pakai dalam berbicara. Akan tetapi meski huruf-huruf tersebut telah kalian pakai untuk berbicara dan menulis, tak seorang pun dari kalian yang mampu mendatangkan satu surat pun yang seperti surat al-Quran."

 

Pada seluruh ayat-ayat al-Quran terdapat ruh dan semangat tauhid yang mendominasi dan termanifestasikan dalam berbagai ayat kitab suci ini. Al-Quran juga mengandung pengetahuan, suri tauladan, dan hukum-hukum secara terperinci. Ayat-ayat al-Quran tidak akan bisa disimpangkan dan diselewengkan, sehingga tidak ada jalan untuk meragukan tentang kebenaran isi seluruh ayat-ayatnya yang jelas, tegas, dan kokoh.

 

Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Al-Quran adalah kitab undang-undang Allah. Al-Quran telah menjelaskan hakikat kebenaran dan Allah Swt berdasarkan kekuasaan dan pengetahuan-Nya yang tak terbatas telah menetapkan undang-undang ini untuk manusia.

2. Filsafat turunnya kitab-kitab samawi adalah dalam rangka menyeru dan membersihkan masyarakat dari syirik menuju kepada tauhid.

3. Metode tabligh yang dilakukan oleh para Nabi adalah memberi peringatan dan berita gembira, atau memberi kabar tentang harapan dan hukuman.

 

Ayat ke 3-4

 

┘ê┘ÄÏú┘Ä┘å┘É ÏºÏ│┘ÆÏ¬┘ÄÏ║┘Æ┘ü┘ÉÏ▒┘Å┘êϺ Ï▒┘ÄÏ¿┘æ┘Ä┘â┘Å┘à┘Æ Ï½┘Å┘à┘æ┘Ä Ï¬┘Å┘êÏ¿┘Å┘êϺ ÏÑ┘É┘ä┘Ä┘è┘Æ┘ç┘É ┘è┘Å┘à┘ÄϬ┘æ┘ÉÏ╣┘Æ┘â┘Å┘à┘Æ ┘à┘ÄϬ┘ÄϺÏ╣┘ïϺ Ï¡┘ÄÏ│┘Ä┘å┘ïϺ ÏÑ┘É┘ä┘Ä┘ë Ïú┘Äϼ┘Ä┘ä┘ì ┘à┘ÅÏ│┘Ä┘à┘æ┘ï┘ë ┘ê┘Ä┘è┘ÅÏñ┘ÆÏ¬┘É ┘â┘Å┘ä┘æ┘Ä Ï░┘É┘è ┘ü┘ÄÏÂ┘Æ┘ä┘ì ┘ü┘ÄÏÂ┘Æ┘ä┘Ä┘ç┘Å ┘ê┘ÄÏÑ┘É┘å┘Æ Ï¬┘Ä┘ê┘Ä┘ä┘æ┘Ä┘ê┘ÆÏº ┘ü┘ÄÏÑ┘É┘å┘æ┘É┘è Ïú┘ÄÏ«┘ÄϺ┘ü┘Å Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘è┘Æ┘â┘Å┘à┘Æ Ï╣┘ÄÏ░┘ÄϺϿ┘Ä ┘è┘Ä┘ê┘Æ┘à┘ì ┘â┘ÄÏ¿┘É┘èÏ▒┘ì (3) ÏÑ┘É┘ä┘Ä┘ë Ϻ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É ┘à┘ÄÏ▒┘ÆÏ¼┘ÉÏ╣┘Å┘â┘Å┘à┘Æ ┘ê┘Ä┘ç┘Å┘ê┘Ä Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘ë ┘â┘Å┘ä┘æ┘É Ï┤┘Ä┘è┘ÆÏí┘ì ┘é┘ÄÏ»┘É┘èÏ▒┘î (4)

 

Artinya:

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. (11: 3)

 

Kepada Allah-lah kembalimu, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (11: 4)

 

Di samping mengajak manusia kepada tauhid, para Nabi juga menyeru mereka untuk bertaubat kepada Allah atas dosa-dosa masa lalu mereka. Dengan bertaubat, akan terbuka jalan bagi mereka untuk memperoleh anugerah dan kemuliaan dari Allah. Pengaruh iman dan taubat yang dimiliki oleh orang-orang Mukmin tidak hanya berguna pada Hari Kiamat, melainkan juga akan mereka rasakan di dunia ini. Orang-orang yang bertaubat akan mendapatkan kehidupan yang baik, sejahtera, dan bahagia di dunia. Sebaliknya, mereka yang keras kepala dan acuh tak acuh terhadap kebenaran, menolak untuk bertaubat atas kesalahan dan dosa-dosa masa lalu mereka akan selalu dirundung kekhawatiran dan kegelisahan. Mungkin saja secara sepintas terlihat bahwa mereka itu hidup senang dan bermewah-mewah, namun sesungguhnya mereka tengah tersiksa dan kelak di Hari Kiamat mereka juga akan mendapati siksa dan balasan yang sangat menyakitkan.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Bimbingan dan pendidikan terhadap orang-orang yang menyeleweng merupakan salah satu tugas para nabi utusan Allah.

2. Kehidupan yang baik dan sejahtera tetap menjadi perhatian Islam, sehingga dengan demikian akan memudahkan orang untuk bertaubat dan memperkokoh tauhid.

 

Ayat ke 5

 

Ïú┘Ä┘ä┘ÄϺ ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä┘ç┘Å┘à┘Æ ┘è┘ÄϽ┘Æ┘å┘Å┘ê┘å┘Ä ÏÁ┘ÅÏ»┘Å┘êÏ▒┘Ä┘ç┘Å┘à┘Æ ┘ä┘É┘è┘ÄÏ│┘ÆÏ¬┘ÄÏ«┘Æ┘ü┘Å┘êϺ ┘à┘É┘å┘Æ┘ç┘Å Ïú┘Ä┘ä┘ÄϺ Ï¡┘É┘è┘å┘Ä ┘è┘ÄÏ│┘ÆÏ¬┘ÄÏ║┘ÆÏ┤┘Å┘ê┘å┘Ä Ï½┘É┘è┘ÄϺϿ┘Ä┘ç┘Å┘à┘Æ ┘è┘ÄÏ╣┘Æ┘ä┘Ä┘à┘Å ┘à┘ÄϺ ┘è┘ÅÏ│┘ÉÏ▒┘æ┘Å┘ê┘å┘Ä ┘ê┘Ä┘à┘ÄϺ ┘è┘ÅÏ╣┘Æ┘ä┘É┘å┘Å┘ê┘å┘Ä ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä┘ç┘Å Ï╣┘Ä┘ä┘É┘è┘à┘î Ï¿┘ÉÏ░┘ÄϺϬ┘É Ïº┘äÏÁ┘æ┘ÅÏ»┘Å┘êÏ▒┘É (5)

 

Artinya:

Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (11: 5)

 

Kemunafikan merupakan salah satu aksi dan gerakan yang dapat mengancam kaum Muslimin. Sikap bermuka dua atau berbeda antara yang ada di dalam hati dengan apa yang diucapkan atau dilakukan, dapat menghantarkan umat manusia kepada jurang kesesatan. Ayat kelima surat Hud ini menyinggung perbuatan orang-orang Munafik itu. Ayat ini menceritakan bagaimana gerak-gerik mereka untuk menutup-nutupi jati diri mereka yang sesungguhnya penuh dendam kepada kaum Mukminin. Secara lahiriah, mereka menampakkan diri sebagai orang baik dan penuh persahabatan terhadap kaum orang-orang mukmin. Namun, Allah Swt Maha Mengetahui. Allah Swt melalui ayat ini mengatakan, "Sesungguhnya di sisi Allah segala yang terang dan tersembunyi tidak ada bedanya, bahkan Allah telah mengetahui dengan gamblang apa yang ada dalam pikiran dan hati mereka.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:ÔÇÄ

1. Orang-orang yang melakukan konspirasi terhadap agama Islam dan ajaran suci Allah ini, tidak akan mampu menyembunyikan sesuatu pun dari pandangan Allah Yang Maha Mengetahui.

2. Allah Swt Maha Mengetahui segala urusan yang gaib. Kita umat manusia tidak bisa mengetahui apa yang tersembunyi pada jalan pikiran dan hati orang lain, namun Allah Swt selalu Mengetahuinya.